Deteksi Dini dengan Tumor Marker

Penanda Tumor adalah senyawa yang ditemukan diatas jumlah normal di dalam darah, urin, atau cairan tubuh lainnya, apabila terdapat kanker tertentu didalam tubuh. Mayoritas sebagai penanda tumor adalah berupa protein, namun pada beberapa jenis tumor yang terbaru dapat berupa gen atau senyawa lain. Ada banyak sekali penanda tumor yang saat ini digunakan oleh para dokter untuk menunjang diagnosis dan juga dapat digunakan untuk pemantauan pasien pada penderita kanker. Sebagian penanda tumor hanya spesifik ditemukan pada satu jenis kanker tertentu, namun sebagian lain dapat ditemukan pada beberapa jenis tumor.

Manfaat pemeriksaan penanda tumor adalah :

  1. Penunjang diagnosis
  2. Pemantauan terapi atau pengobatan penderita
  3. Pemantauan kekambuhan

Ada sejumlah Penanda tumor spesifik, antara lain :

ALPHA – FETOPROTEIN (AFP)
Sangat berguna untuk mengertahui responds terapi pada kanker hati ( Karsinoma Hepatoseluler ). Kadar normal AFP biasanya kurang dari 20 ng/mL. Kadar AFP akan meningkat pada 2 dan 3 pasien dengan kanker hati. Kadar AFP meningkat bersama membesarnya tumor. Pada kebanyakan pasien dengan kanker hati, kadar AFP meningkat lebih dari 500 ng/mL. AFP meningkat pula pada hepatitis akut dan kronis, tapi jarang lebih dari 100 ng/mL. AFP juga meningkatk pada kanker testis tertentu (jenis sel embryonal dan endodermal sinus) dan digunakan untuk follow – up kanker tersebut. Peningkatan kadar AFP juga pada Kanker ovarium jenis tertentu yang jarang dan kanker testis yang disebut yolk sac tumor atau mixed germ cell cancer.

BETA-2-MICROGLOBULIN (B2M).
Kadar B2M akan meningkat pada multiple myeloma, chronic lymphocytic leukimia ( CLL ) dan beberapa limfoma. Kadar normal kurang dari 2,5 ug/mL. Pasien dengan kadar B2M tinggi menunjukan prognosis jelek.

CA 15-3
Terutama untuk monitoring kanker payudara. Peningkatan kadar Ca 15-3 darah dijumpai pada kurang dari 10 % pasien dengan stadium awal dan sekitar 70 % pasien dengan stadium lanjut. Kadar biasanya turun seiring keberhasilan terapi. Kadar normal biasanya kurang dari 25 U/mL, tapi kadar sampai 100 U/mL kadang dijumpai pada wanita sehat.

Ca 125 
Merupakan penanda tumor standar untuk memonitoring selama / setelah terapi kanker epitel ovarium. Kadar normal biasanya kurang dari 30 – 35 U/mL. Lebih 90 % dengan kanker stadium lanjut memiliki kadar Ca 125 tinggi.

Ca 72-4
Suatu penanda Tumor baru yang masih dalam penelitian untuk tumor ovarium, pankreas, dan saluran cerna.

Ca 19-9
Walaupun pada awalnya dikembangkan untuk deteksi kanker colorectal, tapi ternyata lebih sensitif terhadap kanker pankreas. Kadar normal kurang dari 37 U/mL. Kadar yang tinggi pada awal diagnosis menunjukan stadium lanjut dari kanker. Calcitonin adalah hormon yang diproduksi sel tertentu (parafollicular C Cells) pada glandula tiroid yang secara normal membantu regulasi kadar kalsium darah. Kanker pada Parafollicular C Cells yang disebut medullary thyroid carcinoma ( MTC ) menyebabkan peningkatan kadar hormon calcitonin dalam darah.

Carcinoembryonic Antigen (CEA)
Penanda tumor untuk memonitoring pasien dengan kanker colorectal selama / setelah terapi, tetapi tidak bisa dipakai untuk skreening atau diagnosis. Kadar normalnya sangat bervariasi antar laboratorium, tapi kadar lebih dari 5 ng/mL dikatakan Abnormal.

Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
Juga dikenal sebagai Beta – HCG. Kadarnya meningkat pada pasien dengan beberapa jenis kanker testis dan ovarium (tumor germ cell) dan penyakit gestational trophoblastic, terutama Choriocarcinoma.

Neuron – Specific Enolase (NSE)
Seperti Chromogranin A, merupakan penanda untuk tumor neuroendocrine seperti small cell lung cancer, neuroblastoma, dan tumor karsinoid. Tidak digunakan untuk skreening tapi terutama sangat berguna bagi pasien dengan small cell lung cancer atau neuroblastomoa. Kadar abnormal NSE lebih dari 9 ug/mL.

Prostate-Specific Antigen (PSA)
Adalah penanda tumor untuk kanker prostat, satu-satunya marker untuk skreening kanker jenis umum. Suatu protein yang dibuat sel grandula prostat yang dibuat sel glandula prostat pada laki – laki yang berfungsi yang berfungsi membuat cairan semen. Kadar PSA meningkat pada kanker prostat. Pasien dengan benign prostate hyperplasia ( BPH ) kadang menunjukan peningkatan kadar PSA. Kadar PSA bukan kanker kurang dari 4 ng/mL, kadar lebih dari 10 ng/mL diindikasi kanker, sedang kadar antara 4 – 10 ng/mL merupakan daerah abu – abu (grey zone) dan biasanya dokter akan melakukan biopsi.

Pemeriksaan penanda tumor yang ada di Rumah Sakit Panti Rapih :

1. Pemeriksaan Serologi (Patologi Klinik)

Meliputi : CEA, AFP, CA125, CA199, CA153, PSA

2. Pemeriksaan Patologi Anatomi

Meliputi : Sitologi (pengecatan Giemsa dan Papanicolou), Histologi  (pengecatan Papanicolou)

 

Artikel ini ditulis oleh: Agatha Wahyu Widowati M.S.

Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi

Sampai  saat ini stigma negatif tentang epilepsi atau ayan masih melekat di masyarakat. Sebagian  besar  masyarakat  masih menganggap epilepsi adalah penyakit menular dan tak bisa disembuhkan.

“Dengan stigma itu, masyarakat cenderung menjauhi penderita  epilepsi, dengan alasan takut tertular. Stigma masyarakat bahwa epilepsi  bisa menular lewat air liur. Sehingga pada  kasus  penderita  epilepsi saat terjadi  serangan atau kejang orang  takut mendekat atau memberi pertolongan  dengan alasan takut tertular.   Stigma tersebut berdampak pada keluarga dari penderita epilepsi  yang menutup-nutupi keadaan, sehingga penderita  epilepsi tidak bisa  tertangani secara optimal . Banyak penderita  epilepsi yang dikucilkan oleh lingkungan, terhambat karir dan kehidupan berumah tangganya.

Apa itu Epilepsi ?

Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf tertua, ditemukan pada semua umur dan dapat menyebabkan hendaya serta mortalitas. Penyakit Epilepsi atau  ayan  adalah suatu gangguan fungsi listrik otak yang ditandai oleh cetusan listrik secara berlebihan pada sekelompok atau sebagian besar sel-sel otak, sehingga  bisa timbul kejang, perubahan perilaku sesaat dan berulang. Pada umumnya serangan atau bangkitan epilepsi ditandai dengan pingsan dan/ atau kejang secara berulang kali. Bangkitan lain selain kejang bisa tiba-tiba penderita bengong atau hilang kesadaran sesaat, mulut yang bergumam atau komat-kamit, sampai penderita  berteriak sendiri.  Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi karena beberapa hal. Baik karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, ataupun kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut.

Menurut data  yang dikeluarkan International  League Against Epilepsy (ILAE) tahun 2016  jumlah penderita epilepsi di dunia mencapai 60 juta orang.

Di Negara berkembang, jumlahnya diperkirakan lebih tinggi dibandingkan di negara maju . Insiden epilepsi umumnya tinggi pada kelompok usia anak –anak  dan lanjut usia, cenderung lebih tinggi pada pria daripada wanita. Data epidemiologi epilepsi di Indonesia masih terbatas. Estimasi penderita epilepsi di Indonesia adalah 1,5 juta dengan prevalesi 0,5-0,6% dari penduduk Indonesia. Frekuensi terjadinya epilepsi menurut usia di Indonesia juga sangat terbatas. Namun pada umumnya di negara berkembang sebaran penderita epilepsi banyak pada anak dan dewasa muda dibandingkan kelompok umur lainnya.

Kapan Seseorang didiagnosis Epilepsi ?

Seseorang  dikatakan atau   diagnosis epilepsi  berdasarkan riwayat gejala klinis yang dialami oleh penderita. Hal ini diperoleh dari keterangan yang disampaikan oleh penderita sendiri, keluarga, atau orang terdekat yang menyaksikan saat penderita  epilepsi  mengalami bangkitan atau  kejang. Epilepsi didiagnosis setelah seseorang mengalami sedikitnya dua kali bangkitan atau kejang-kejang yang tidak terkait dengan kondisi medis apa pun sebelumnya .Walaupun demikian tidak semua kejang dapat dikatakan sebagai epilepsi. Diagnosis epilepsi baru dapat ditegakkan setelah dilakukan wawancara medis lengkap, pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti ct scan kepala atau MRI kepala . Pemeriksaan  EEG atau rekam otak dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pada impuls atau aktivitas listrik / elektrik di dalam otak yang menjadi penyebab terjadinya kejang. Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala bertujuan untuk mengetahui adanya kelainan  pada struktur otak sebagai penyebab epilepsi, ataupun penyebab sekundernya misalnya pada kasus  tumor otak, stroke, infeksi otak, paska cedera kepala.

Apa Penyebab Epilepsi?

Epilepsi bisa terjadi pada semua usia, baik wanita atau pria. Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dapat digolongkan menjadi:

  • Epilepsi idiopatik, yaitu epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui.
  • Epilepsi simptomatik, yaitu epilepsi yang terjadi akibat suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan pada otak.

Pada sebagian besar kasus epilepsi, tidak diketahui penyebab pastinya. Epilepsi jenis ini dikenal sebagai epilepsi idiopatik atau epilepsi primer. Pada epilepsi  jenis ini tidak ditemukan kelainan di otak yang dapat menyebabkan epilepsi.

Berbeda dengan epilepsi idiopatik, epilepsi simptomatik atau epilepsi sekunder merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi simptomatik, di antaranya adalah cedera kepala, stroke, tumor otak, infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis.

Apa saja Faktor Pencetus Kejang ?

Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kejang pada penderita epilepsi. Di antaranya adalah tidak mengonsumsi obat anti epilepsi (OAE) secara teratur, kurang tidur, kelelahan, terlambat makan, stress mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat anti-epilepsi, demam tinggi, mengonsumsi minuman beralkohol atau NAPZA, saat menstruasi pada wanita, maupun kilatan cahaya.

Pengobatan  Epilepsi

Tujuan utama pengobatan pada epilepsi adalah mengupayakan penderita epilepsi dapat hidup normal dan tercapai kualitas hidup optimal. Harapannya adalah penderita epilepsi bisa bebas kejang. Dengan pemberian obat anti anti epilepsi (OAE) dapat mencegah terjadinya kejang sehingga penderita  dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman. Banyak penderita Penyakit yang mengalami penurunan frekuensi kejang atau bahkan tidak mengalami kejang sama sekali selama bertahun-tahun setelah menjalani pengobatan dengan obat anti epilepsi (OAE). Setiap penderita epilepsi perlu selalu diingatkan tentang pentingnya pengobatan yang disiplin dan teratur .

Masih banyak presepsi  di masyarakat  bahwa penyakit epilepsi tidak bisa disembuhkan. Padahal, penyakit epilepsi bisa diobati atau bisa terkontrol   dengan obat anti epilepsi (OAE). Keluarga penderita  epilepsi atau penderita epilepsi masih sering menanyakan apakah anak saya atau saya bisa sembuh? Dengan pengobatan tepat  dan sesuai, penyakit epilepsi dapat terkontrol dengan obat anti epilepsi  (OAE) dan bahkan sebagian bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. Penderita  epilepsi akan mendapatkan obat rutin berupa obat anti epilepsi (OAE) yang harus diminum setiap hari. Sehingga  sering timbul banyak  pertanyaan  sampai kapan obat harus diminum? Obat anti epilepsi (OAE) harus diminum rutin dan  bisa dihentikan dengan syarat tertentu. Penghentian obat anti epilepsi (OAE) dilakukan  secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah 3-5 tahun bebas kejang dan hasil rekam otak atau EEG normal.

Pembedahan Otak/ Bedah epilepsi

Penelitian di pelbagai negara menunjukkan bahwa 60-80% epilepsi dapat diatasi dengan pemberian obat anti epilepsy (OAE).  Sehingga masih  ada sekitar 20-40% pennderita  epilepsi yang sulit dikendalikan dengan  obat anti epilepsi (OAE) . Penderita epilepsi yang sulit  dikendalikan dengan obat anti epilepsi  disebut sebagai epilepsi  intractable atau refrakter atau kebal terhadap obat anti epilepsi (OAE). Penderita sudah diberikan beberapa kombinasi  obat anti epilepsi lebih dari 2 macam dan dosis sudah maksimal,  tetapi kejangnya masih belum bisa terkontrol, maka terapi bedah epilepsi  dapat dijadikan pilihan  pengobatan. Tindakan pembedahan otak atau bedah epilepsi dikerjakan oleh seorang dokter spesialis bedah saraf. Sebelum pelaksanaan  tindakan pembedahan, seorang penderita epilepsi akan   dilakukan serangkaian tes untuk menilai layak atau tidaknya penderita dilakukan tindakan pembedahan. Tidak  semua penderita epilepsi  bisa dilakukan pembedahan otak atau bedah epilepsi.

Bedah Epilepsi terbukti memberi manfaat berupa bebas kejang pada 70% orang dengan epilepsi  refrakter, dan hanya 20% lainnya mengalami perbaikan dan berubahnya bentuk serangan menjadi lebih ringan. Selain itu  setelah dilakukan bedah epilepsi obat yang diminum bisa dikurangi  atau lebih minimal.

Bahaya Dari Penyakit Epilepsi

Epilepsi perlu penanganan  dengan tepat untuk menghindari terjadinya situasi yang dapat membahayakan jiwa.  Serangan atau kejang pada penderita  epilepsi dapat terjadi kapanpun dan di  manapun, di tempat-tempat yang tidak terduga sehingga  dapat membuat penderita berisiko mengalami  cedera kepala  atau patah tulang akibat terjatuh saat kejang atau tenggelam. Selain bahaya cedera, penderita epilepsi dapat mengalami komplikasi seperti kejang  yang lama  atau status epileptikus dan kematian mendadak.

Pertolongan Pertama Pada Kejang

Apa yang dapat  kita lakukan  apabila kebetulan kita berada dekat penderita  epilepsi yang sedang mengalami kejang :

  • Posisikan pasien  yang kejang di tempat aman  dan datar, jauhkan benda-benda keras yang dapat  melukai pasien
  • Minta pertolongan orang sekitar untuk menghubungi tenaga kesehatan terdekat
  • Pakaian atau  baju dilonggarkan agar memudahkan pernafasan
  • Badan  pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairan dari mulut
  • Jangan menahan  gerakan pasien saat kejang
  • Hindari posisi tubuh telungkup karena akan menghambat pasien bernapas
  • Dampingi penderita sampai kejang berhenti
  • Hindari memberikan  makan atau minum
  • Hindari menaruh sendok atau benda lain ke dalam mulut pasien

Hari Epilepsi  Sedunia

Purple Day for Epilepsy Awareness Day atau Hari Epilepsi Sedunia merupakan suatu gerakan internasional yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyakit epilepsi ke seluruh dunia, yang dirayakan setiap tanggal 26 Maret setiap tahunnya dengan memakai atribut berwarna ungu. Kenapa purple? Karena warna ungu adalah refleksi dari bunga lavender yang menjadi lambang internasional untuk epilepsi. Bunga lavender juga memiliki simbol kesendirian, yang mewakili para penyandang epilepsi yang seringkali merasa terisolasi karena kondisi mereka.

Perayaan Purple Day untuk memperingati Hari Epilepsi Sedunia, sebagai tanda menumbuhkan rasa kepedulian kita terhadap penderita epilepsi.  Perayaan Purple Day diharapkan  bisa menyadarkan masyarakat untuk tidak mengucilkan penderita epilepsi dan menghapus stigma negatif tentang epilepsi, yang selama ini beredar di masyarakat.  Selain itu kegiatan ini untuk mendorong para penyandang epilepsi dan keluarga untuk berani tampil dan mengembangkan potensi terbaik mereka.

Selamat Hari Epilepsi Sedunia!

 

 

Artikel ini ditulis oleh: dr. Michael Agus, SpS

(Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Plantar Faciitis

Apakah anda pernah mengeluh nyeri di tumit setiap pagi saat bangun tidur? Jika pernah, mungkin banyak informasi yang sudah coba anda cari tahu ke dokter atau mungkin mencari tahu sendiri lewat berbagai sumber. Seringkali pendapat awam ataupun dari medis langsung mengarah ke arah penyakit asam urat, padahal masih banyak kemungkinan lain yang menimbulkan nyeri pada tumit, salah satunya kasus Plantar Fasciitis.

Insidensi penyakit Plantar Fasciitis tertinggi ditemukan pada wanita, usia 40 – 60 tahun, meski beragam varian usia juga masih dapat ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, hal ini dapat sebagai gambaran awal bahwa penyakit ini kemungkinan dapat dipengaruhi oleh faktor aktivitas yang lebih tinggi.

Definisi dan Penyebab

Plantar fasciitis sendiri merupakan penyakit yang timbul akibat proses peradangan/inflamasi yang timbul pada plantar fascia di bagian telapak kaki, dengan area yang menimbulkan nyeri berasal dari titik pelekatan dengan calcaneus (tulang tumit). Penyebab proses radangnya sendiri dapat dipengaruhi oleh banyak hal; ketegangan otot daerah betis yang mengurangi kemampuan gerak flexi sendi ankle, obesitas juga menjadi salah satu faktor resiko seringnya kasus ini timbul, kondisi kelainan anatomi Flat Foot serta aktivitas berdiri, berjalan atau berlari yang lama juga dipandang berkontribusi menimbulkan kondisi penyakit ini.

Gejala Klinis

Plantar Fasciitis memiliki gejala utama berupa rasa nyeri di area kalkaneus (tumit) penderitanya, dengan beberapa kondisi khas seperti nyeri yang dirasakan di telapak kaki saat baru bangun tidur / setelah istirahat, yang agak lama yang dapat dirasakan pada beberapa langkah pertama yang dilakukan, selain itu, sifat nyeri juga dapat semakin dirasakan setelah (bukan saat) aktivitas fisik.

Pemeriksaan Medis

  • Harus mengkaji dari aktivitas fisik yang dilakukan penderita lewat anamnesa yang lengkap, serta menangkap semua gejala yang dikeluhkan penderita terutama yang muncul di area sendi ankle (khususnya telapak kaki)
  • Profil fisik, menilai adakah faktor resiko obesitas yang dapat menjadi pemicu timbulnya plantar fasciitis
  • Profil anatomi kaki pasien, apakah ada kelainan anatomi seperti Flat Foot atau High Arch foot
  • Sifat nyeri yang ditemukan umumnya dapat memberat saat kaki didorsofleksikan dan akan mereda saat ujung kaki di arahkan ke depan (seperti gerakan menjinjit).
  • Pemeriksaan radiodiagnostik penunjang seperti rontgen dan MRI dapat digunakan, dimana pada rontgen polos, dapat digunakan untuk menilai kondisi tulang dan sendi ankle, apakah ada tanda fraktur atau tanda-tanda inflamasi, serta dapat ditemukannya heel bone. Pada MRI, kita dapat megkaji jaringan-jaringan lunak disekitar sendi ankle yang mungkin terdapat kelainan, seperti adakah tanda timbulnya arthritis pada sendi ankle yang terkena plantar fasciiis.

Pengobatan

Terapi Non Bedah

Mayoritas kasus Plantar Fasciitis yang membaik dengan beberapa jenis terapi non bedah, baik fisioterapi (latihan fisik, alat-alat orthotik) maupun terapi medikamentosa.

Beberapa pilihan terapi non bedah yang disarankan adalah :

  1. Mengistirahatkan kaki yang sedang sakit, dalam hal ini, yang dimaksud adalah mengurangi/menghentikan aktivitas yang dapat memperberat kondisi nyeri yang timbul, seperti aktivitas olahraga (lari, lompat, aerobik, dll)
  2. Kompress dingin pada kaki yang sakit selama 20 menit 3 sampai dengan 4 kali dalam sehari.
  3. Obat-obatan Anti Inflamasi Non Steroid dapat membantu mengatasi nyeri yang timbul dari Plantar Fasciitis. Tetapi perlu diperhatikan untuk kasus penggunaan jangka panjang dari jenis obat-obatan ini
  4. Obat injeksi steroid juga dapat menjadi pilihan untuk mengatasi reaksi radang yang timbul, suntikan diberikan langsung ke area nyeri (fascia plantaris), sebagai catatan, penggunaan obat injeksi steorid juga harus dikontrol  karena dalam jangka panjang dapat membuat fascia mudah robek yang mana dapat menimbulkan kondisi Flat Foot atau nyeri kronis.
  5. Latihan peregangan / stretching dari otot betis dan kaki akan membantu meringankan dan bahkan mengatasi nyeri yang timbul dari Plantar Fasciitis, hanya perlu dilakukan dengan rutin dengan gerakan sebagai berikut :

a. Otot betis : dilakukan dengan posisi berdiri dan menghadap ke dinding, bertumpu pada kedua tangan, dengan meluruskan salah satu lutut ke belakang dengan lutut lainnya dalam posisi sedikit fleksi (lakukan bergantian), untuk mendapatkan efek peregangan yang maksimal, gerakan panggul ke arah depan, sehingga efek regangan di betis dan juga di plantar fascia dirasakan.

b. Plantar Fascia : dilakukan pada posisi duduk, silangkan salah satu kaki yang akan dilakukan peregangan sampai bertumpu pada lutut kaki sebelahnya, lalu dilakukan gerakan memijat pada permukaan telapak kaki di area jari jempol kaki dengan tangan, dimana plantar fascia akan dirasakan seperti selaput yang tegang, beri penekanan 10 detik, ulangi masing-masing kaki 20 menit. Disarankan dilakukan pada pagi hari sebelum mulai berjalan.

  1. Sepatu khusus / insole Orthotik juga menjadi pilihan terapi, dimana kontur alas sepatu yang dibuat menyangga dengan baik telapak kaki, akan mengurangi tekanan pada plantar fascia.
  2. Splints / external fixasi pada kaki juga dapat digunakan mengurangi keluhan terutama dipakai saat beristirahat / tidur, dimana kaki cenderung akan berada pada posisi relaks, sedikit ekstensi, yang mana akan menimbulkan nyeri tumit pada pagi hari, dengan adanya splint akan memfixasi pada posisi plantar fascia yang meregang, dan digunakan sampai nyeri sudah tidak dirasakan.
  3. Extraxorporeal Shockwave Therapy (ESWT) adalah metode menggunakan gelombang akustik energi tinggi dengan alat khusus yang dapat menstimulasi penyembuhan jaringan plantar fascia yang sedang meradang. Metode ini belum menjadi pilihan utama karena durasi terapi dan efek yang ditimbulkan masih sangat bervariasi, meski demikian , ESWT dapat menjadi pilihan sebelum pilihan terapi bedah dilakukan.

Terapi Surgical / Pembedahan

Pembedahan menjadi pilihan jika kasus Plantar Fasciitis tidak dapat dikontrol dengan baik melalui terapi jenis non surgical.

Beberapa prosedur pembedahan yang menjadi pilihan terapi untuk kasus Plantar Fasciitis adalah :

a. Release Partial Plantar Fascia

Teknik pembedahan dengan target mengurangi / membebaskan tekanan di area nyeri dari plantar fascia dengan memotong partial dari ligamentum plantar fascia sehingga nyeri peradangan baik karena penekanan pada plantar fascia maupun oleh Bone Spur dapat dihilangkan (Bone Spur dapat ikut diangkat pada prosedur ini).

b. Rescession Gastrocnemius /pemanjangan otot gastrocnemius

Seperti kita ketahui di atas, bahwa otot betis/Gastrocnemius yang tegang juga akan berdampak pada ketegangan Plantar Fascia, maka  prosedur ini menjadi pilihan untuk kasus-kasus dimana pasien sulit melakukan prosedur peregangan otot betis (terbentuk dari gastrocnemius dan soleus). Teknik pembedahan dilakukan dengan pemanjangan satu dari dua otot yang membentuk otot betis (i.e gastrocnemius) melalui prosedur insisi terbuka ataupun insisi yang lebih kecil secara endoskopis. Tendon otot yang di potong akan sembuh dengan posisi yang telah diatur lebih panjang dari sebelumnya.

 

Artikel ini ditulis oleh: dr. John Hartono
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Gangguan Sensory Integrasi (SI) pada Anak

Apakah anak anda susah untuk fokus saat diajak bicara, terlalu aktif (banyak gerak), cuek dengan lingkungan sekitar, sulit mengikuti pelajaran disekolah. Jika pernah, kemungkinan anak anda mengalami gangguan Sensory Integrasi. Apa itu gangguan Sensory Integrasi ?

Sensory Integrasi merupakan suatu proses neurologi dalam mengatur dan menterjemahkan input sensorik, untuk dapat memberikan respon yang sesuai dengan input tersebut. Dikarenakan adanya gangguan dalam fungsi otak yang menghambat kemampuan mengatur dan menterjemahkan informasi sensori motor. Mungkin menjadi penyebab dari adanya masalah seperti kesulitan bicara, kesulitan konsentrasi, kekacauan sosial emosional, gangguan perilaku, gangguan koordinasi, dan masalah lainnya. Ada beberapa gangguan Sensory Integrasi yang terlihat disekitar kita, diantaranya :

  • Gangguan vestibular (keseimbangan)
  • Gangguan tactil (raba)
  • Gangguan propioseptif (sendi)
  • Gangguan visual (penglihatan)
  • Gangguan auditory (pendengaran)
  • Gangguan olfactory (penciuman)
  • Gangguan gustatory (rasa)

Bila proses Sensory Integrasi ini berfungsi dengan baik, maka otak dapat berkembang dengan baik, sehingga pada usia sekolah anak mampu :

  1. Memberikan reaksi yang baik terhadap berbagai informasi sensorik yang biasa diterima oleh anak
  2. Menunjukkan tingkat perkembangan sensori motor , kognitif, emosi, dan sosialisasi yang sesuai dengan umurnya
  3. Menghadapi berbagai tuntutan akademis yang selalu bertambah sejalan dengan bertambahnya usia anak

Dilain pihak, anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan Sensory Integrasi, biasanya menunjukan berbagai masalah dalam belajar dan atau perilaku. Anak-anak ini mungkin memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala dibawah ini :

  • Hambatan prestasi sekolah
  • Kurang percaya diri
  • Masalah emosi sosial
  • Tampak terlalu aktif atau pendiam
  • Perhatiannnya mudah teralih
  • Kurang dapat mengontrol diri
  • Terlalu peka atau kurang peka terhadap sentuhan, gerakkan, suara, dsb
  • Gerakkannya tampak kikuk (tidak luwes) tampak serampangan
  • Hambatan pada perkembangan ketrampilan motorik, bicara, dan pengertian bahasa
  • Kadang-kadang tidak peduli dengan orang disekitarnya

Ada beberapa kondisi anak dengan gangguan Sensory Integrasi seperti :

  1. Autism Spectrum Disorder (ASD)
  2. Down Syndrome (DS)
  3. Attention Deficit / Hyperactivity Disorder (ADD / ADHD)
  4. Asperger’s Syndrome (AS)
  5. Retardasi Mental (RM)
  6. Learning Disability (LD)
  7. Speech Delay (SD)
  8. Cerebral Palsy (CP)
  9. Developmental Delay (DD) dll

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan perkembangan Sensory Integrasi diatas,  segera konsultasi ke dokter anak atau bisa langsung datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi:
Instalasi Rehabilitasi Medik
Telepon : (0274) 563333 ext 1116
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006, 521409 (24 jam)

Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Layanan Rehabilitasi Medik RS Panti Rapih

Pelayanan Rehabilitasi Medik adalah pelayanan kesehatan yang mengupayakan peningkatan kemampuan fungsional pasien sesuai dengan potensi yang dimiliki untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup.

Rehabilitasi medik RS Panti Rapih memberikan pelayanan :

  1. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik
  2. Fisioterapi
  3. Terapi Okupasi
  4. Terapi Wicara
  5. Memiliki dokter spesialis rehabilitasi medik, tenaga fisioterapis, terapis okupasi dan terapis wicara

Pelayanan Fisioterapi

Adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis) pelatihan fungsi, komunikasi.

Jenis layanan tindakan fisioterapi yang ada di RS Panti Rapih meliputi:

  1. Diathermy ( SWD/MWD)
  2. Ultrasound Terapi
  3. Traksi Cervical/Lumbal
  4. Stimulasi Faradik/Galvanik
  5. Interferential Terapi
  6. Infra Red Radiation/Sollux
  7. Manual Therapy
  8. Nebulizer
  9. CPM (Continuous Passive Movement)
  10. Tilting table
  11. TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation)
  12. Exercise Therapy : Latihan pasif, penguluran otot, ROM, Latihan aktif, Latihan jalan (NWB, PWB, FWB)
  13. Cold Therapy
  14. Chest Therapy
  • Postural drainage
  • Breathing exercise

 

Mulai tgl 1 Desember 2017 fisioterapi RS Panti Rapih ada layanan baru berupa pemasangan kinesio tape/taping.

Apa itu kinesio tape /taping?

Kinesio taping adalah sebuah modalitas terapi yang berdasarkan pada pendekatan penyembuhan secara alami dengan bantuan pemberian plester elastis. Kinesio taping dirancang untuk memfasilitasi proses penyembuhan alami tubuh dengan menyangga dan menstabilkan otot dan sendi tanpa membatasi gerak sendi.

Mekanisme kerja kinesio taping yaitu efek mengangkat kulit sehingga membebaskan daerah subcutan dari penekanan dan dapat mengurangi pembengkakan atau inflamasi, meningkatkan sirkulasi sehingga aliran darah kaya oksigen meningkat, terjadi regenerasi area yang diterapi,perlengketan berkurang, mengurangi sakit dengan mengambil tekanan dari reseptor rasa sakit ( mengurangi iritasi nociceptor), terjadi peningkatan fleksibilitas kolagen yang secara mekanis menyebabkan gerakan menjadi lebih leluasa.

Indikasi kinesio taping adalah :

  1. Stimulasi otot yang hipotonus
  2. Inhibisi otot yang hipertonus
  3. Melindungi otot agar tidak terjadi cedera
  4. Melindungi sendi
  5. Mengurangi inflamasi
  6. Mengurangi oedema
  7. Mempengaruhi peningkatan luas gerak sendi
  8. Meningkatkan sensori propioseptif
  9. Koreksi postur

Kontraindikasi kinesio taping adalah :

Trauma akut dengan tanpa disertai diagnosa yang jelas, seperti :

  1. Demam
  2. Keluhan –keluhan dengan pola yang abnormal/tidak jelas
  3. Luka terbuka

 

Pelayanan Okupasi Terapi

Banyak dari kita belum begitu mengenal profesi yang satu ini.

Sebenarnya apa itu okupasi terapi? Apakah sama dengan fisioterapi?

Mari kita ketahui lebih lanjut apa itu okupasi terapi.

Okupasi terapi adalah bentuk pelayanan kesehatan kepada pasien/klien dengan kelainan fisik dan atau mental yang mempunyai gangguan pada kinerja okupasional, dengan menggunakan aktifitas bermakna (okupasi) untuk mengoptimalkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktifitas dan pemanfaatan waktu luang (PERMENKES no 23 th 2013).

Dalam memberikan pelayanan kepada individu, terapi okupasi memperhatikan aset (kemampuan) dan limitasi (kelemahan/keterbatasan yang dimiliki klien, dengan memberikan manajemen aktifitas yang purposeful (bertujuan) dan meaningful (bermakna). Dengan demikian klien diharapkan dapat mencapai kemandirian dlam aktifitas produktifitas (pekerjaan), kemampuan perawatan diri (self care), dan kemampuan penggunaan waktu luang (leisure) sehingga dapat berkembang secara optimal.

Siapa saja yang memerlukan Okupasi terapi?

Okupasi terapi bisa menangani

  1. Pediatri/anak-anak , antara lain :
  • Anak dengan gangguan perilaku
  • Autis
  • Down Syndrom
  • ADD/ADHD (gangguan konsentrasi/hyperaktif)
  • Asperger,s syndrom
  • Kesulitan belajar
  • Keterlambatan perkembangan (developmental delayed)
  • Cerebral palsy dan keterlambatan lainnya

2. Geriatri (orangtua) dan dewasa

  • Osteoarthritis (OA)
  • Pasca Craniotomy
  • Frozen shoulder (kaku sendi bahu)
  • Pasca stroke
  • Kelemahan fungsi tangan
  • Gangguan keseimbangan
  • Gangguan koordinasi gerak
  • Post amputasi
  • Multiple sclerosis, dll

3. Neurologi (saraf)

  • Stroke
  • Bell,s palsy
  • Parkinson
  • Unilateral neglect (hanya memperhatikan satu sisi tubuh), dll

4. Orthopedi

Gangguan-gangguan yang disebabkan pasca patah tulang pada anggota gerak tubuh

5. Psikososial

Ditujukan untuk individu yang mengalami gangguan jiwa, misalnya ketakutan berhadapan dengan banyak                    orang, depresi, dll

 

Pelayanan Terapi Wicara

Kebanyakan dari kita mengetahui terapi wicara sebatas melatih pasien yang mempunyai gangguan bicara. Padahal peran terapi wicara dalam menangani pasien bisa lebih dari sekedar melatih pasien untuk bicara.

Lalu timbul pertanyaan, sebenarnya apa itu terapi wicara?

Terapi wicara adalah suatu ilmu/kiat yang mempelajari perilaku komunikasi normal/abnormal yang dipergunakan untuk memberikan terapi pada penderita gangguan komunikasi, yaitu kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara,irama/kelancaran, dan gangguan menelan sehingga penderita mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar.

Gangguan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran terjadi karena adanya penyakit, gangguan fisik, psikis ataupun sosial.

Kelainan ini dapat timbul pada masa prenatal (sebelum kelahiran), natal (pada saat proses kelahiran), maupun post natal (setelah masa kelahiran).

Selain itu penyebab bisa dari herediter (keturunan), congenital (sejak lahir), maupun acquired (perolehan).

Kasus-kasus apa saja yang bisa ditangani oleh terapi wicara?

a. Disaudia

Gangguan bicara/articulasi yang berhubungan dengan adanya kesulitan/gangguan feedback auditory, dapat terjadi karena gangguan pendengaran.

b. Dislogia

Kelainan berkomunikasi yang disertai kerusakan mental intelektual. Rendahnya kecerdasan menyebabkan kesulitan dalam mengamati serta mengolah dalam pembentukan konsep dan pengertian bahasa.

c. Disartria

Kelainan bicara akibat gangguan koordinasi otot-otot organ bicara sehubungan adanya kerusakan/gangguan sistem saraf pusat maupun perifer.

d. Disglosia

Kelainan bicara akibat adanya kelainan bentuk dan atau struktur organ bicara, khususnya organ articulator.

e. Dislalia

Gangguan Artikulasi yang disebabkan ketaknormalan di luar organ wicara dan bukan dikarenakan kerusakan sistem sistem saraf pusat maupun perifer dan psikologis tapi merupakan gangguan fungsi artikulasi.

f. Disfagia

Gangguan kemampuan menelan. Dapat terjadi pada fase oral (saat makanan baru masuk mulut langsung tersedak atau sangat sulit untuk menelan), fase faringeal (saat makanan mau ditelan langsung  tersedak),   fase esofageal (saat makanan sudah ditelan namun tiba-tiba makanan dimuntahkan kembali).

Layanan terapi wicara meliputi :

  1. Stimulasi alat elktromedis untuk kasus gangguan menelan dan gangguan oral
  2. Hitop metabol
  3. Vocastim
  4. Massage oral untuk  kasus gangguan menelan dan gangguan oral
  5. Latihan artikulasi pada kasus gangguan bicara
  6. Pengenalan konsep bahasa pada kasus gangguan bahasa

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi:
Instalasi Rehabilitasi Medik
Telepon : (0274) 563333 ext 1116
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006, 521409 (24 jam)

Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

MRI : Magnetic Resonance Imaging RS Panti Rapih

Sesuai dengan namanya, alat canggih MRI ini menggunakan magnit untuk mendeteksi organ tubuh manusia, tidak menggunakan sinar radioaktif seperti yang digunakan pada alat roentgen atau CT Scan.

Kandungan ion H+ pada masing-masing organ tubuh akan memberikan gambar yang berbeda pada hasil MRI, sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan dalam tubuh.

Alat MRI yang dipergunakan di RS Panti Rapih berkekuatan 1.5 Tesla,R sudah menyamai alat MRI di kota besar lain ataupun di Negara tetangga.

MRI banyak digunakan untuk:

  1. Deteksi kelaianan di tulang belakang dan sumsum tulang belakang(spine MRI), sebelumnya kelaianan di diskus intervertebralis (HNP) ataupun didalam canalis spinalis (tumor/lesi lain) tidak dapat divisualisasikan dengan baik.
  2. Deteksi kelainan di intra cranial : sangat sensitive untuk deteksi stroke akut/awal, awal yang pada CT Scan masih normal.

Untuk deteksi kelainan lain : tumor, infeksi cerebral dsb.

  1. Deteksi kelainan didalam rongga perut : khususnya kantong empedu dan salurannya yang disebut dengan MRCP (magnetic resonance cholangio-pancreatography). Pemeriksaan dengan CT Scan.
  2. Deteksi kelainan sendi/jaringan lunak sekitarnya : sangat membantu pada pemeriksaan rupture ligament atau meniscus sendi lutu, kelainan sekitar sendi bahu ataupun ankle.

Meskipun banyak keunggulan tetapi pemeriksaan MRI ada juga kelemahannya dibandingkan dengan CT Scan, yaitu : waktu pemeriksaan yang relative lama 3 – 5 menit untuk satu bidang potongan, untuk 1 sequence pemeriksaan sehingga 1 pasien akan membutuhkan waktu sekitar 20 – 30 menit. Pada saat pemeriksaan berlangsung, pasien tidak boleh bergerak-gerak.

Pasien yang takut masuk ketempat yang sempit seperti lorong (claustrophobia) tidak dapat diperiksa dengan MRI ini.

Kontra indikasi lain : pasien dengan pace maker, pasien dengan pace maker, pasien dengan logam yang mengandung besi (plate yang mengandung besi/klip vaskules yang ferromagnetis).

Pasien dengan plate berbahan titanium, pasien dengan stent arteri coronaria dapat dilakukan pemeriksaan MRI tanpa hambatan.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi:
Instalasi Radiologi 
Telepon : (0274) 563333
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006, 521409 (24 jam)

Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Artikel ini ditulis oleh: dr Simeon Budi Mulyo, Sp.Rad

(Dokter Spesialis Radiologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Obesitas

Obesitas atau kegemukan merupakan keadaan bertambahnya lemak tubuh yang ditandai oleh kenaikan berat badan dan peningkatan penumpukan lemak pada bagian tertentu khususnya di daerah perut. Obesitas atau kegemukan terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar, sehingga terjadi peningkatan rasio lemak dan lean  body tissue yang terlokalisir atau merata di seluruh tubuh.

Bagaimana cara menentukan obesitas?

  1. Menghitung Indeks Massa Tubuh

Perhitungan umum yang sering digunakan tanpa mempetimbangkan berat otot adalah IMT  (Indeks Massa Tubuh) atau  BMI ( Body Mass Index ).

Rumus IMT =        Berat badan ( kg ) : Tinggi badan x tinggi badan (m)

IMT ( kg/m2) Klasifikasi

Risiko Kesakitan

< 18,5 Kurang Rendah
18,5 – 22,9 Normal Rata-rata
> 23 Overweight (kelebihan berat badan)
23,0 – 26,9 Pra obesitas Meningkat
≥ 27,0 Obesitas Tinggi

Sumber : WHO, 2004

Bila berat badan seseorang adalah  68 kg dengan tinggi badan 155 cm, maka IMT -nya adalah  28, 3 kg/m2, artinya berdasarkan IMT termasuk obesitas.

  1. Menghitung Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP)

Rasio lingkar pinggang dan panggul merupakan salah satu cara pengukuran antropometri yang dapat menilai obesitas sentral dan juga menilai risiko terkena penyakit kardiovaskuler. Cara mengukur lingkar pinggang yang paling mudah adalah dengan meletakkan satu jari di atas pusar Anda, setelah itu lingkari meteran pada daerah tersebut. Untuk mengukur lingkar panggul dapat dilakukan dengan cara menentukan daerah panggul yang paling menonjol dan gunakan metlin untuk mengukur.

Rumus RLPP =           lingkar pinggang (cm)  : lingkar panggul (cm)

Parameter Rasio Lingkar Pinggang  Panggul (RLPP)

Jenis kelamin Tidak Obes

Obes

Laki-laki ≤ 0,90 >0,90
Perempuan ≤ 0,80 >0,80

Sumber : Eston et al.,2009

Contoh : bila seorang laki-laki mempunyai lingkar pinggang 100 cm dengan lingkar pinggul 90 cm, maka RLPP-nya adalah 100 : 90 = 1,1. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa laki-laki ini mengalami obesitas sentral dan berisiko untuk menderita penyakit kardiovaskuler, sesuai dengan hasil penelitian prospektif yang menunjukkan bahwa rasio lingkar pinggang dan panggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler (Supariasa, 2002)

Tipe-tipe Obesitas

  1. Tipe Android (Tipe buah Apel)

Tipe android menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak yang terdapat pada bagian visceral dan bagian atas tubuh, seperti yang terlihat pada buah apel. Tipe ini banyak terjadi pada pria dan wanita yang telah mengalami menopause karena hormon estrogen tidak lagi diproduksi.

Jenis timbunan lemak pada bagian atas tubuh adalah asam  lemak jenuh. Seseorang dengan timbunan lemak jenuh tinggi dalam tubuh beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan metabolisme glukosa dan lemak seperti penyakit diabetes mellitus,penyakit jantung koroner, stroke dan tekanan darah tinggi. Orang dengan tipe kegemukan seperti ini mempunyai kemungkinan terkena kanker payudara enam kali lebih besar dibandingkan orang yang memiliki berat tubuh normal. Lemak jenuh  merupakan lemak yang lebih  mudah dibakar. Bila seseorang memiliki timbunan lemak lebih banyak pada bagian atas ( lengan atas, belakang bra, pinggang dan perut) dianjurkan untuk segera melakukan diet dan olah raga secara teratur.

  1. Tipe Ginoid ( Tipe buah Pir )

Tipe ginoid menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak pada bagian bawah tubuh, yaitu di daerah panggul dan paha. Tipe ini banyak terdapat pada wanita.

Jenis lemak yang tertimbun pada daerah panggul dan paha jenisnya adalah lemak tidak jenuh yang lebih sulit untuk dibakar. Kegemukan tipe ini lebih aman terhadap risiko penyakit kardiovaskuler. Pada kegemukan tipe ini,perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah lemak tubuh bagian atas sudah normal atau belum. Jika normal, untuk penurunan berat badan tidak dianjurkan untuk diet ketat karena akan semakin menghabiskan lemak bagian atas tubuh, yang kemungkinan akan menyebabkan antara lain pipi menjadi kempot dan payudara mengecil. Yang penting untuk dilakukan adalah, melatih otot-otot di sekitar panggul dan paha.Jika massa otot lebih besar dari lemak, penampilan panggul dan paha akan terkesan lebih langsing.

  1. Tipe Hiperplastik

Tipe ini biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe hiperplastik menunjukkan sel lemak berlebih, tetapi ukurannya sesuai dengan ukuran sel lemak normal. Jumlah sel lemak yang banyak pada anak-anak akan sulit untuk diturunkan ketika masa pertumbuhan telah berakhir. Anak-anak yang gemuk harus ditingkatkan aktifitas fisiknya secara teratur untuk menyeimbangkan dengan sel lemak yang banyak tadi dengan pertambahan tinggi badan.

  1. Tipe Hipertropik

Obesitas tipe ini biasanya terjadi pada orang dewasa, terutama pada wanita setelah hamil dan melahirkan atau pada pria yang mulai mapan dengan makan tidak terkontrol. Tipe hipertropik menunjukkan ukuran sel lemak tidak normal ( berukuran besar), tetapi dengan jumlah sel lemak normal.

Ukuran sel lemak yang membesar dapat dikecilkan dengan meningkatkan penggunaan sel lemak sebagai energi, yaitu  dengan mengurangi asupan energi total dan meningkatkan aktifitas fisik dan latihan fisik secara teratur.

 

Pengaturan Makan pada Obesitas

Pengaturan makan  dengan tujuan penurunan berat  badan, sebaiknya dapat menurunkan berat badan secara bertahap tanpa mengganggu keseimbangan metabolisme atau sampai menyiksa diri sendiri. Bahkan, diharapkan pengaturan  makan ini bisa menjadi suatu gaya hidup yang baik. Pengaturan makan yang bisa diterapkan untuk penurunan berat badan  adalah dengan diet rendah energi, seimbang dan teratur (REST). Diet REST ini dikembangkan oleh Rita Ramayulis DCN.,M.Kes.

Pada prinsipnya diet ini adalah menurunkan asupan energi total dengan tetap mengenyangkan,. Seseorang dengan kegemukan, tetap dapat mengonsumsi makanan dengan volume yang sesuai, mengandung zat gizi lengkap dan seimbang, serta frekuensi makan minimal 3 kali sehari. Diet ini mengutamakan pemilihan bahan makanan dengan densitas energi rendah (DER). Densitas energi rendah adalah jumlah energi pada suatu hidangan makanan dalam berat atau volume tertentu. Suatu hidangan makanan dengan densitas energi rendah akan menyediakan energi relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang berdensitas energi lebih tinggi dalam berat yang sama. Konsumsi makanan dengan DER, telah dimasukkan dalam Dietary Guidelines for Americans 2005, sebagai strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Konsumsi makanan denagn DER dapat menurunkan berat badan secara bermakna. Penelitian dari Dewi, dkk (2013), menjelaskan bahwa kelompok yang mengonsumsi lebih  banyak makanan berdensitas energi rendah memiliki kualitas bahan makanan yang lebih baik dan indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi makanan berdensitas energi tinggi.

Pengelompokkan bahan makanan berdasarkan nilai densitas energi

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sangat rendah. (0-60 kkal/100 gr)

Contoh sari kedelai, telur ayambagian putih, lobak,oyong, pare, terong, tomat, semangka, pepaya.

  1. Bahan makanan dengan densitas energi rendah ( > 60 -150 kkal/100 gr)

Contoh kentang, tahu, tempe, ikan bawal, ikan kakap, daun pepaya, pisang ambon, sirsak

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sedang ( > 150 – 400 kcal/100 gr)

Contoh : havermut,jagung, belut, daging sapi, ikan pindang, keju, selai, kopi, madu

  1. Bahan makanan dengan densitas energi tinggi ( > 400 – 900 kcal/100 gr)

Contoh : kacang tanah,ayam dengan kulit, kuning telur ayam, mentega,margarin, minyak kelapa

Sumber  : Ramayulis R, 2014 Analisis Densitas Energi berdasarkan DKBM, Kemenkes 1996

 

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menurunkan berat badan adalah :

  1. Gizi seimbang

Dalam diet gizi seimbang tidak ada larangan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Dianjurkan  untuk mengonsumsi aneka ragam makanan sesuai kebutuhan dan bervariasi baik untuk kelompok makanan sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur dan buah

  1. Cukup minum

Dalam sehari kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter ( 8 gelas ), tetapi saat menjalankan diet penurunan berat badan, kebutuhan air meningkat 50 cc untuk setiap kilogram berat badan.

  1. Aktifitas fisik dan lakukan olah raga secara teratur

Pada tahun 2002, WHO mencanangkan gerakan Move for Health, yang berisi rekomendasi utama untuk melakukan minimal 30 menit aktifitas fisik secara reguler dalam 5 hari seminggu. Jika seseorang melatih otot, setiap saat otot juga akan mempunyai kemampuan lebih untuk membakar lemak.

  1. Kelola emotional eating

Emotional Eating  yaitu suatu kebiasaan makan berlebihan dalamjumlah  besar hanya karena nafsu dan perasaan yang disebabkan oleh emosi, bukan karena lapar. Seseorang yang mengalami emotioal eating cenderung untuk makan dalam jumlah berlebihan , dan banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, garam dan minyak

 

Referensi 

Ramayulis  R. 2014.   Slim is Easy.  Jakarta : Penebar Plus +

Sudargo, Toto, dkk. 2014.  Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta

Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta : Graha Ilmu

 

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Bernadeth Dwi Wahyunani, AMG, RD

(Kepala Instalasi Pelayanan Gizi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Membedakan Varicella dan Herpes Zoster

Varicella atau cacar air adalah suatu penyakit kulit yang sudah cukup dikenal di masyarakat dan masih sering ditemukan di sekitar kita. Demikian pula dengan istilah herpes, juga cukup popular di masyarakat. Namun pemahaman tentang herpes belum sepopuler istilahnya. Sering kali berbagai keluhan kulit dianggap sebagai herpes. Perlu diketahui ada dua macam herpes, yaitu Herpes Zoster yang disebabkan oleh virus Varicella-Zoster (VZV) dan Herpes Simpleks yang disebabkan oleh virus Herpes Simpleks (HSV).

Ulasan ini akan membahas mengenai dua penyakit berbeda yang saling terkait, yakni Varicella (cacar air) dan Herpes Zoster, yang disebabkan oleh virus yang sama, yaitu virus Varicella-Zoster (VZV).

Cacar Air

Varicella atau cacar air disebabkan oleh virus Varicella-Zoster (VZV). Penyakit ini sangat mudah menular, dimulai sejak tiga sampai empat hari sebelum ruam muncul hingga seluruh ruam kering dan berkerak.

Cara penularan cacar air adalah melalui udara dan kontak langsung. Pada anak-anak biasanya tidak didahului gejala awal. Sedangkan pada dewasa, ruam baru akan muncul setelah didahului demam dua sampai tiga hari, rasa tidak enak badan, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan nyeri tenggorokan.

Ruam awal biasanya muncul di wajah dan kepala, menyebar ke seluruh tubuh. Penyebaran ini berlangsung cepat dalam 12 jam pertama. Ruam awal akan muncul sebagai bintil kemerahan, berlanjut menjadi bintil berair, bintil bernanah, diakhiri dengan luka berkerak.

Kerak ini akan berangsur-angsur lepas dalam satu sampai tiga minggu, meninggalkan bekas cekungan merah muda, yang dapat menghilang sediri bila tidak terlalu dalam. Demam masih akan ada bila masih muncul ruam baru. Bila demam berkepanjangan, menandakan adanya infeksi bakteri atau komplikasi yang lain.

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita Varicella, adalah munculnya infeksi bakteri sekunder pada kulit atau dalam kondisi yang lebih berat, pada organ dalam. Pada dewasa, demam dan gejala umum lainnya, lebih berat dan lebih lama. Ruam muncul lebih banyak dan komplikasi terjadi lebih sering. Pada kehamilan, dapat menimbulkan risiko pada ibu dan janin.

Herpes Zoster (HZ)

Banyak muncul pada usia lanjut, dengan sifat penularan yang rendah. HZ muncul akibat dari reaktivasi dan perkembangbiakan virus yang sudah berada di dalam ganglion (simpu saraf) serabut saraf, setelah dulunya pernah sakit cacar air.

Reaktivasi ini berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, stress emosional dan beberapa kondisi yang lain. Bertambahnya usia sangat berpengaruh pada daya tahan tubuh merespons virus Varicella-Zoster (VZV).

Ruam pada HZ akan muncul berkelompok sepanjang permukaan kulit yang dilewati oleh saraf yang terinfeksi. Nyeri terasa beberapa hari sebelum munculnya ruam. Nyeri ini dapat dirasakan terus menerus atau hilang timbul, disertai dengan peningkatan kepekaan kulit di area yang dilewati serabut saraf yang terinfeksi. Nyeri hebat yang muncul ini adalah akibat dari kerusakan pada serabut saraf dan peradangan berat yang terjadi.

Ciri khas ruam yang muncul adalah bintil-bintil yang berkelompok memanjang hanya pada satu sisi, sebatas area kulit yang dilalui oleh serabut saraf yang terinfeksi. Permasalahan utama adalah nyeri hebat yang berlangsung selama masa akut hingga 30 hari. Pada umumnya, HZ hanya terjadi sekali seumur hidup, keculai pada orang-orang dengan daya tahan tubuh yang sangat buruk.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi:
Klinik Kulit dan Kelamin atau Klinik Estetika Lucia
Telepon : (0274) 563333 ext 1116
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006, 521409 (24 jam)

Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Artikel ini ditulis oleh: dr. Radijanti Anggraheni, Sp.KK
(Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Nutrisi Penting bagi Pasien Ginjal Kronis

Dewasa ini sedikit sekali informasi mengenai pengaturan makanan di Indonesia pada pasien penyakit ginjal kronis, padahal pengaturan makanan penting bagi pengelolaan kebutuhan kalori dan gizi pasien. Dengan begitu pasien tak sampai mengalami malnutrisi yang pada akhirnya bisa menekan angka kematian pasien penyakit ginjal kronis, memperlambat progresivitas penyakit ginjal dan meminimalkan toksisitas uremic.

Ginjal memiliki fungsi penting dalam proses pengeluaran zat racun tubuh melalui air seni. Proses ini akan berjalan terus  menerus selama fungsi ginjal dalam keadaan baik. Apabila terjadi penurunan fungsi maka sistem pengeluaran zat sisa dan hormonal akan terganggu. Akan tetapi, pasien tidak perlu putus ada karena masih banyak yang dapat dilakukan untuk mempertahankan fungsi ginjal yang masih ada.

Penyakit ginjal kronis adalah kondisi di mana ginjal yang mengalami kelainan struktur atau menurunnya fungsi lebih dari tiga bulan. Penurunan fungsi ini mengakibatkan kemampuan ginjal untuk menyaring darah dan mengeluarkan zat-zat sisa tubuh melalui air seni berkurang, sehingga menumpuk di dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti mual, muntah, letih, dan gangguan kesadaran hingga koma. Penyakit ginjal kronis bersifat semakin lama semakin memburuk (kronis). Pada tahap awal penurunan fungsi ginjal belum menimbulkan gejala dan fungsi ginjal dapat dipertahankan, tetapi pada tahap lebih lanjut penurunan fungsi ginjal ini bersifat menetap.

Untuk mengetahui kerusakan ginjal dapat dikertahui dengan mengukur Laju Filtrasi Glomerulous (LFG) dimana ada beberapa stadium kerusakan ginjal yang bisa dipantau.

Stadium I, kerusakan ginjal dengan LFG normal atau turun dan belum menunjukkan gejala. Di stadium ini kadar LFG adalah sekitar 90 ml per menit. Stadium II, kerusakan ginjal dengan penurunan LFG ringan yang dapat menimbulkan gejala atau tidak. Di tahap, ini kadar 60-89 ml/menit.

Stadium III, LFG menurun sedang. Tahap ini pasien mulai menunjukkan gejala-gejala seperti letih, mual, pusing, nafsu makan berkurang. Di stadium ini kadar LFG berkisar 30-59 ml/menit. Stadium IV, LFG menurun berat sehingga terjadi penurunan fungsi ginjal yang berat. Gejala tersebut makin memberat seperti pada stadium III, bahkan disertai sesak napas dan pembengkakan di seluruh tubuh. Di stadium ini, kadar LFG 15-29 ml/menit.

Stadium V atau stadium akhir merupakan tahapan di mana pasien memerlukan terapi pengganti ginjal (TPG) seperti  hemodialisis, peritoneal dialysis, atau transplantasi ginjal. Kepada pasien yang  mengalami penyakit ginjal kronis hendaknya tidak perlu putus asa. Pasalnya masih ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa.

Beberapa di antaranya adalah pengobatan rutin agar mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut serta memelihara fungsi ginjal yang tersisa. Pemeriksaan laboratorium minimal satu bulan sekali dapat memantau tingkat kemajuan atau kemunduran fungsi ginjal dan organ lainnya.

Selain itu, bisa juga dengan mematuhi diet yang dianjurkan. Pasien dengan penurunan  fungsi ginjal harus  mematuhi anjuran diet sesuai dengan stadiumnya.

Pasien yang belum mendapatkan terapi pengganti ginjal khususnya hemodialisis harus menjalani diet rendah protein untuk mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa agar tidak makin memburuk. Kebutuhan protein yang boleh dikonsumsi adalah 0,6-0,75 gram per berat badan per hari, sedangkan untuk kalori diberikan 35 kilokalori per berat badan per hari.

Selain pembatasan asupan protein, pasien penyakit ginjal kronis juga harus memperhatikan asupan lain dan cairan tubuh, yakni natrium, kalium, dan kalsium. Tah hanya itu, cairan juga harus dibatasi agar tidak terjadi penumpukan cairan di dalam tubuh. Jumlah cairan yang boleh dikonsumsi selama 24 jam adalah 500 ml.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Putri Risqi Septy Amelia (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Nyeri Pascaherpes

“Dokter, kulit saya sudah bersih tidak ada herpes lagi, tapi mengapa rasanya masih sakit?”. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang kerap diutarakan oleh pasien yang pernah mengalami herpes zoster di kulit. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana cara menanganinya? Artikel ini akan membahas secara khusus tentang nyeri pasca herpes atau dikenal pula dengan istiah pastherpetic neuralgia (PHN).

Virus Varicellazoster merupakan salah satu jenis virus yang sering menginfeksi manusia. Pasien yang terinfeksi virus Varicella zoster untuk pertaa kalinya akan mengalami penyakit varicela atau biasa disebut ‘cacar air’ oleh orang awam.

Penyakit tersebut ditandai dengan adanya benjolan di kulit yang berisi carian, tersebar diseluruh tubuh, disertai oleh keluhan lain seperti demam dan lemas. Penyakit ‘cacar air’ ini bisa muncul pada anak. Dengan penanganan yang tepat, penyakit ‘cacar air’ akan membaik dalam waktu kurang lebih 7 hari. Meski demikian, virus Varicella zoster sebagai penyebab dari penyakit tersebut tidak mati, melainkan ‘bersembunyi’ di dalam selaput saraf sensoris (serabut saraf penerima rangsang) penderitanya.

Pada saat kekebalan tubuh penderita menurun, virus Varicella zoster yang “bersembunyi” tersebut akan kembali menginfeksi tubuh untuk kedua kalinya dan menimbulkan penyakit yang disebut dengan herpes zoster atau biasa disebut sebagai “dompo” oleh masyarakat Jawa. Rentang waktu dari serangan infeksi pertama dengan serangan infeksi kedua ini sangat bervariasi, dapat mencapai belasan hingga puluhan tahun. Wujud kelainan kulit pada penyakit herpes zoster mirip dengan penyakit “cacar air” yaitu adanya benjolan di kulit yang berisi cairan.

Perbedaannya adalah pada herpes zoster benjolan tersebut bergerombol di area tertentu tergantung dari lokasi serabut saraf yang terinfeksi, sedangkan pada “cacar air” benjolan tersebut tersebar di seluruh tubuh. Daerah yang sering mengalami herpes zoster adalah daerah dada dan pinggang.

Penderita herpes zoster juga akan mengalami rasa nyeri pada bagian tubuh yang terserang. Sebagian pasien mendeskripsikan nyeri yang dirasakan sebagai rasa perih, seperti tertusuk-tusuk, atau sensasi panas. Nyeri akan muncul terus menerus dalam jangka waktu yang lama (3 bulan atau lebih) meski permukaan kulit sudah sembuh. Kondisi inilah yang disebut sebagai PHN. Dengan kata lain, PHN merupakan komplikasi dari herpes zoster.

Nyeri pada PHN termasuk nyeri dengan intensitas sedang hingga berat sehingga sangat menganggu aktivitas, dapat menimbulkan gangguan tidur, dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Beberapa pasien bahkan dapat mengalami depresi aktivitas PHN. Penyakit herpes zoster dan PHN dialami oleh orang dewasa. Semakin tua usia seseorang dan semakin rendah daya kekebalan tubuh seseorang, maka risiko untuk mengalami herpes zoster dan PHN akan semakin meningkat.

Derajat keparahan PHN dapat diturunkan dengan pengobatan yang adekuat serta sedini mungkin saat pasien masih mengalami herpes zoster. Pemberian obat antivirus seperti asiklovir, tamsiklovir dan valasiklovir adalah obat pilihan dalam menangani herpes zoster. Pada pasien yang telah mengalami PHN, tujuan utama dari pengobatan adalah untuk menurunkan derajat keparahan nyeri sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik. Peanganan yang diberikan dapat berupa kombinasi dari beberapa obat seperti obat anti depresan, obat anti kejang, obat antiperadangan, dan obat anti nyeri lainnya.

Penyakit herpes zoster biasa ditangani oleh dokter spesialis kulit, sedangkan PHN biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Apabila Anda mengalami kondisi seperti tersebut di atas, segeralah berkonsultasi dan mencari pengobatan dari dokter yang tepat. Penanganan herpes zoster sedini mungkin dan penanganan PHN yang tepat akan menurunkan derajat keparahan nyeri dan memperbaiki hidup penderita.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Rosa De Lima (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)