Ambeien atau juga disebut wasir, seringkali membawa pasien untuk memeriksakan diri di poli bedah. Keluhan yang dirasakan pasien berupa perdarahan atau benjolan yang muncul saat BAB, sampai dengan sensasi gatal atau nyeri yang dirasakan terus-menerus sehingga menggangu aktifitas sehari-hari. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah keluhan tersebut memerlukan tindakan pembedahan atau dapat diobati?

Secara medis ambeien atau wasir merupakan pembengkakan dari bantalan dubur yang berisi pembuluh darah hemorroidal (hemoroid). Ā Terdapat tiga bantalan (arah jam 3-5-11) yang membantu menahan feses di dalam dubur sampai saat pasien ingin BAB. Ketika pasien sudah merasa ingin BAB, darah yang berada di dalam bantalan akan kempes dan memungkinkan pengosongan dubur. Ketika terjadi peradangan atau kelemahan pembuluh darah tersebut, proses pengempesan bantalan terhambat. Penghambatan tersebut kemudian memunculkan sensasi nyeri, gatal, munculnya benjolan sampai dengan perdarahan atau keluhan yang disebut ambeien, wasir atau hemorroid.
Faktor resiko utama terjadinya perlebaran pembuluh darah pada bantalan dubur berupa menigkatnya tekanan pada area rektum (bagian terakhir usus) atau dubur itu sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mendukung peningkatan tekanan:
- Konstipasi: BAB yang memerlukan usaha mengedan lebih dari 15menit
- Duduk lebih dari 2jam : meningkatkan tekanan pada area dubur
- Kehamilan: meningkatnya tekanan dalam perut yang disebabkan oleh janin, dapat mendukung pembengkakan hemoroid
- Kelebihan berat badan: peningkatan tekanan pada panggul yang menyebabkan perbesaran hemoroid
- Pekerja keras atau kuli angkut: mengangkat beban berat meningkatkan tekanan pada area rektum
- Bakat genetik : pada orang dengan bakat kelemahan dinding vena, dapat terjadi pembengkakan pembuluh darah hemoroid
- Usia tua : berkurangnya jaringan penyokong rektum melemah bahkan sampai dengan hilang, menyebabkan kelonggaran area rektum
- Batuk kronik : meningkatkan tekanan dalam perut
- Penyakit lemah jantung atau penyakit sirosis hati : melemahkan aliran darah balik, sehingga darah terkumpul di vena, khususnya vena pada bantalan dubur
Kembali pada pertanyaan awal, apakah semua kasus pembengkakan hemoroid harus dioperasi? Menurut pedoman hemoroid yang disusun 2021, terapi pada penyakit hemoroid sangat tergantung pada tingkat keparahannya. Berdasarkan klasifikasi Goligher terdapat empat kelas terjadinya penyakit hemorroid.

Derajat 1:
Hemoroid membesar, namun masih beradadi dalam dubur dan tidak tampak dari luar
Gejala: hanya gejala ringan seperti terkadang muncul sensasi gatal, atau perdarahan ringan saat BAB

Derajat 2:
Hemoroid keluar dubur saat BAB (prolaps), namun masuk kembali dengan sendiri
Gejala: Perdarahan, sensasi gatal dan kesulitan pada saat BAB. Bisa muncul nyeri

Derajat 3:
Hemoroid keluar dubur saat BAB dan hanya dapat dikembalikan dengan dorongan jari
Gejala: perdarahan yang lebih berat dan sering, nyeri, gatal dan keluarnya lendir dari dubur. Ā Prolaps sering kambuh dan menyebabkan keluhan.

Derajat 4:
Hemoroid menetap di luar dubur dan tidak dapat didorong masuk ke dalam dubur.
Gejala: nyeri berat, perdarahan terus menerus, gatal, lendir pada dubur dan peradangan. Resiko terjadinya trombosis dan infeksi
berapapun tingkat keparahan penyakit, pasien sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika sudah mulai terasa gejala tertera di atas untuk menentukan penatalaksanaan selanjutnya. Perlu diingat, tidak semua keluhan memerlukan tindakan operasi dan keluhan tidak hanya disebabkan oleh pembengkakan hemoroid. Sensasi gatal juga dapat disebabkan oleh robekan pada pinggir dubur ( fissura ani), alergi, ekzem kulit atau bahkan jamur. Terkadang perdarahan juga merupakan tanda adanya keganasan usus, dimana pasien terselamatkan oleh pengakan diagnosis yang sedini mungkin.
Penegakkan diagnosis hemorroid dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang pertama tentu dari pemeriksaan fisik dengan perabaan area dubur, kemudian dapat didukung pemeriksaan dengan alat canggih perupa teropong. Alat tersebut dapat dimasukkan melalui dubur hingga 15cm pada proktoskopi atau hingga 30cm pada rektoskopi. Jika pada pemeriksaan teropong tidak terdapat temuan penyakit maka disarankan dilakukan koloskopi.
Jika ditemukan pelebaran hemoroid derajat 1 dan 2 dapat dilakukan pengubahan pola hidup sehat yang disertai observasi dengan terapi obat. Pada keluhan yang memberat dapat dilanjutkan pengikatan dengan karet, suntik obat sklerotik, pembakaran dengan teknik laser, atau pengikatan arteri. Pada pembengkakan derajat 3 dan 4 sudah wajib dilakukan operasi pemotongan hemorroid secara stapler ataupun konvensional (terbuka) karena sudah terjadi penyesuaian jaringan lunak disekitar pembuluh darah yang membengkak, sehingga harus dikurangi jaringan yang sudah mulai mengalami perubahan struktur.
Disclaimer: artikel ini hanya menyampaikan informasi umum, yang tidak dapat digunakan untuk penegakan diagnosis sendiri. Kami anjurkan tetap mengunjungi dokter jika terdapat keluhan, artikel ini tidak dapat mengganti pemeriksaan dokter ahli.
Artikel ditulis oleh :
dr. Ariane Yudhianti, Sp.B
(Dokter Spesialis Bedah Umum RS Panti Rapih Yogyakarta)
Referensi:
Joos, A.K., Jongen, J. S3-Leitlinie HƤmorrhoidalleiden.Ā coloproctologyĀ 43, 381ā404 (2021). https://doi.org/10.1007/s00053-021-00555-zĀ (akses pada 24.03.25)
Pschyrembel: HƤmorrhoiden . Online:Ā https://www.pschyrembel.de/…Ā (Abkses pada 24.03.2025)
Song, S.-G., & Kim, S.-H. (2011). Optimal treatment of symptomatic hemorrhoids. Journal of the Korean Society of Coloproctology, 27(6), 277. https://doi.org/10.3393/jksc.2011.27.6.277
Website: https://www.surgeonthings.com/treatment/piles-or-haemorrhoids/Ā (akses pada 24.03.2025)
Informasi lebih lanjut :
Klinik Bedah
Lantai 4, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih
Pendaftaran :
Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006
Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)