Dilema Anak Telat Bicara

Apakah anak Anda agak terlambat bicaranya? Apakah bicaranya tidak beraturan walau kita tahu maksudnya?

Zaman sekarang memang sering kita menjumpai anak yang terlambat bicaranya dibanding teman-teman seusianya. Kira-kira apa penyebabnya? Mengapa zaman semakin maju namun malah banyak anak dengan kasus speech delay? Perlu kita lihat kembali sewaktu mereka masih bayi, sewaktu mereka baru lahir sampai sekarang yang sudah bisa lari ke sana sini namun bicara malah belum lancar. Apakah dulu mereka sering kita kasih liat gadget? handphone, tv, tab, dan sejenisnya atau Anda sebagai orang tua terlalu sibuk kerja sehingga anak tak ada teman bermain? Atau tinggal dengan baby sitter yang tidak cerewet di rumah? Atau di rumah kita sering memakai lebih dari satu jenis bahasa? Faktor ini juga menjadi salah satu penyebab anak Anda dapat menjadi telat bicara seperti sekarang ini.

Memang tidak mudah untuk mengasuh anak tanpa fasilitas-fasilitas yang sudah maju di zaman ini. Tuntutan ekonomi juga sering mengharuskan untuk kedua orang tua mempunyai penghasilan. Apalagi ditambah anak yang susah makan, tidak mau tenang ketika disuapin, tetapi ketika diberikan gadget langsung diam, suapan ini itu masuk mulut dengan lancar. Jika anak kita rewel, menangis dan berteriak, orangtua akan memberikan gadget supaya anak bisa lebih tenang. Memang solusi-solusi itu kelihatan sangat mudah dan instan namun itu, justru mengorbankan kemampuan anak untuk berkembang dalam hal berbicara. Bahkan banyak juga yang menjadi sulit untuk dipanggil, sering asik sendiri dan tidak peduli dengan orang sekitar. Hp, tv atau gadget lainnya yang memiliki gambar bergerak sering menjadi masalah utama dalam kasus speech delay (terlambat bicara). Kalau anak sudah terlanjur telat bicara karena ini, kita harus bagaimana? Sebetulnya tidak sulit untuk membantu anak kita untuk mengejar keterlambatan bicaranya. Hanya tidak boleh gadget lagi, temani dia bermain serta gunakan cukup satu bahasa dulu. “Kalau anak nangis gamau makan tanpa gadget gimana?” mencari aktivitas lain atau mainan anak anak selain gadget. Bahkan buku gambar juga boleh yang penting tidak boleh gadget dulu. “Tapi saya kerja, suami / istri juga kerja, pembantu di rumah juga pendiam gimana?”. Mencari Day Care, penitipan anak atau paud. Di sana banyak anak seusianya malah lebih bagus karena anak akan belajar untuk bersosialisasi. Bahkan ketika anak sudah mendapat kenalan teman yang cepat akrab dan sudah pintar bicara, anak kita pasti ketularan bicaranya dalam kata lain, dia terpancing untuk belajar berbicara. Sebagai orangtua hanya perlu siapkan hati kita untuk meninggalkan solusi instan pakai gadget untuk menghibur anak. Karena kita sebagai orang tua, juga berkewajiban untuk “mendidik” anak.

Dalam hal mendidik anak pun harus diperhatikan, ketegasan kita dan kekompakan pasangan hidup kita. Terkadang sang ibu tegas, tapi sang ayah tidak tegaan atau sebaliknya. Tegas di sini bukan berarti keras namun tegas itu konsisten, iya ya iya. tidak ya tidak. Lalu dalam hal bahasa yang digunakan juga penting. Jangan pakai dua atau lebih bahasa dalam keseharian di rumah dengan sang anak. Beri anak satu bahasa dulu sampai anak pandai bicara baru boleh belajar bahasa selanjutnya.  Dan berikan aturan kepada anak untuk no gadget, no tv. Kalau udah pandai bicara, dapat diberikan lagi. Jika masih kurang yakin dengan perkembangan sang anak, silakan konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak, Psikolog Anak, Terapis Wicara atau Terapis Okupasi.

Informasi lebih lanjut hubungi:

Instalasi Rehabilitasi Medik
Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telp 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam) ext 1012

Senam Kaki Diabetes

Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah, memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki (deformitas).

Langkah-langkah Senam Kaki Diabetes sebagai berikut:
1. Latihan senam kaki dapat dilakukan dengan posisi berdiri, duduk, dan tidur
2. Senam kaki dapat dilakukan dengan cara menggerakan kaki dan sendi-sendi kaki misalnya berdiri dengan kedua tumir diangkat, mengangkat kaki dan menurunkan kaki
3. Gerakan dapat berupa gerakan menekuk, meluruskan, mengangkat memutar keluar atau kedalam. Selain itu, gerakan mencengkram dan meluruskan jari-jari kaki juga menjadi bagian dari senam kaki diabetes
4. Latihan senam kaki diabetes, dapat dilakukan setiap hari secara teratur, dimana saja. Bisa sambil bersantai bersama keluarga maupun menonton televisi. Ketika kaki terasa dingin, lakukan senam kaki diabetes

 

 

Informasi lebih lanjut hubungi:

Instalasi Rehabilitasi Medik
Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telp 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam) ext 1012

Menekan Angka Kematian Bayi

Data kematian anak terbaru mengungkapkan bahwa, kita masih berada di luar jalur untuk memenuhi target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) terkait kesehatan anak. Laporan United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation (IGME) Rabu, 22 Desember 2021 mengungkapkan kebutuhan mendesak untuk berinvestasi dalam perbaikan data dan layanan medis untuk menekan kematian bayi baru lahir dan anak. Apa yang harus diperbaiki?

Menurut laporan tersebut, lebih dari 50 negara tidak akan memenuhi target kematian balita pada tahun 2030, dan lebih dari 60 negara akan kehilangan target kematian neonatal. Pada sepanjang tahun 2020 terdapat kematian pada lebih dari 5 juta anak sebelum ulang tahun kelima mereka dan 2,2 juta anak dan remaja berusia 5 hingga 24 tahun. Dunia masih kehilangan terlalu banyak nyawa anak karena penyebab yang sebagian besar dapat dicegah, seringkali karena sistem kesehatan yang belum tertata dan kekurangan dana apalagi selama pandemi COVID-19.

Laporan IGME PBB juga menekankan bahwa data terbaru dan dapat diandalkan tentang kematian anak dan remaja tetap tidak tersedia untuk sebagian besar negara di dunia, terutama untuk negara berpenghasilan rendah, dengan pandemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan tambahan untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas data. Hanya sekitar 60 negara, terutama yang berpenghasilan tinggi, yang memiliki Sistem Pencatatan dan Statistik yang berfungsi dengan baik, yang menghasilkan data kematian berkualitas tinggi yang tepat waktu.

Peningkatan kematian bayi saat pandemi COVID-19 terjadi di lebih dari 80 negara, setengahnya adalah negara berpenghasilan rendah atau menengah. Diperlukan data yang berkualitas lebih baik, agar pemantauan dapat lebih lengkap tentang faktor apapun yang terkait dengan kematian bayi dan anak. Laporan tersebut memperingatkan bahwa karena data yang tersedia berkategori buruk, karakteristik dasar bayi, anak dan remaja pada tahun 2021 tetap tidak diketahui secara detail dan pasti. Misalnya, hipotesis bahwa pandemi COVID-19 dapat memengaruhi kematian anak secara berbeda menurut kelompok usia dan status sosial ekonomi. Data yang tepat waktu dan akurat serta pemantauan ketat, harus tersedia untuk menjawab hipotesis tersebut dan memahami dampak jangka panjang dari COVID-19 pada bayi, anak dan remaja.

Saat pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, semua anak terus menghadapi krisis yang sama seperti yang mereka alami selama beberapa dekade sebelumnya, yaitu tingkat kematian yang sangat tinggi dan peluang hidup yang buruk, tetapi terjadi sangat tidak adil. Pada tren saat ini, lebih dari 48 juta anak di bawah 5 tahun akan meninggal sebelum tahun 2030, setengah dari mereka adalah bayi baru lahir. Lebih dari setengah dari kematian ini (57%) terjadi di sub-Sahara Afrika (28 juta), dengan 25 persen lainnya terjadi di Asia Selatan (12 juta). Memenuhi target SDG di 54 negara yang keluar jalur akan mencegah 8 juta kematian balita antara tahun 2021 dan 2030 dan mengurangi jumlah tahunan kematian balita menjadi 2,5 juta pada tahun 2030.

Secara global, penyebab kematian bayi baru lahir adalah prematuritas, berat lahir rendah, infeksi berat (sepsis), asfiksia (tidak mampu segera bernapas spontan saat lahir), dan trauma kelahiran, yang mencapai hampir 80% kematian bayi. Pada hal, dua pertiga dari kematian bayi tersebut, sebenarnya dapat dicegah. Terdapat 4 buah intervensi medis untuk bayi prematur yang murah, mudah dan sangat efektif, tetapi belum umum digunakan di banyak negara berkembang yaitu, steroid, Kangaroo Mother Care (KMC), antibiotika, dan kunjungan rumah.

Suntikan steroid yang diberikan pada ibu dalam persalinan sebelum waktunya (prematur), dapat membantu mempercepat pengembangan paru-paru janin dalam rahim. Dengan biaya hanya US $ 1, dua dosis suntikan steroid dapat menyelamatkan bayi prematur, dari risiko terjadinya gangguan pernapasan beberapa hari setelah mereka lahir. Penyakit membran hyalin, karena ketidakmatangan paru-paru bayi yang dapat dicegah dengan suntikan steroid, adalah penyebab tersering gangguan pernapasan dan kematian pada bayi prematur. Suntikan steroid secara global pada ibu dalam persalinan prematur, diperkirakan dapat mencegah 400.000 kematian bayi prematur setiap tahunnya. Di negara berpenghasilan tinggi, steroid telah digunakan sejak tahun 1990-an dan diperkirakan 95% ibu dalam persalinan prematur telah menerima suntikan steroid. Sebaliknya, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperkirakan hanya 5% ibu yang telah menerima suntikan steroid ini.

Kangaroo Mother Care (KMC) adalah sebuah metode yang terinspirasi dari kanguru, binatang asli Australia yang melompat sambil menggendong anaknya di depan perut. Dengan menggunakan teknik ini, bayi prematur yang mungil ditempelkan lekat kulit-ke-kulit di dada ibu, bapak, atau nenek. Hal ini membuat bayi hangat dan terlindungi. Termoregulasi atau menjaga kehangatan sangat penting untuk mencegah tubuh bayi yang mungil, kehilangan panas badan dengan cepat. Hipotermi (penurunan suhu tubuh) tersebut, membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit, infeksi, dan kematian. Selain itu, metode ini juga dapat memudahkan memberikan ASI ekslusif dan secara global diprediksi dapat mencegah 450.000 kematian bayi prematur setiap tahun. KMC digagas sebagai solusi karena keterbatasan jumlah inkubator di Kolombia, Amerika Latin sehingga banyak bayi dipaksa untuk berbagi inkubator yang tersedia. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematian bayi yang mendapatkan KMC sama atau lebih rendah, dibandingkan bayi dalam inkubator. Meskipun KMC sudah dikembangkan sejak tahun 1967, tetapi penyebaran informasinya sangat lambat, meskipun efektivitas, keamanan, dan manfaatnya telah terbukti.

Antibiotika dapat menyelamatkan nyawa bayi, misalnya amoksisilin untuk mengobati pneumonia. Pneumonia pada bayi baru lahir, dapat diatasi dengan amoksisilin dosis terbagi dalam 5 hari, dengan biaya juga hanya sekitar US $ 1. Selain itu, antibiotika lainnya yang diberikan sejak dini, dapat digunakan untuk melawan sepsis neonatal atau infeksi bakteri serius. Pneumonia dan sepsis adalah penyebab kematian bayi baru lahir di banyak negara berkembang.

Kunjungan rumah oleh petugas kesehatan yang terampil segera setelah lahir, merupakan strategi kesehatan yang dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup bayi. Kunjungan rumah harus dilakukan pada hari pertama dan ketiga kehidupan bayi baru lahir, dan jika mungkin, kunjungan ketiga harus dilakukan sebelum akhir minggu pertama atau hari ketujuh kehidupan. Selama kunjungan rumah, petugas kesehatan harus mempromosikan ASI eksklusif, membantu menjaga bayi agar tetap hangat dengan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi, melakukan perawatan tali pusar dan kulit, menilai tanda klinis tentang masalah kesehatan bayi yang serius, dan membantu keluarga untuk mencari perawatan medis segera, jika diperlukan.

SDGs menyerukan diakhirinya kematian bayi baru lahir yang dapat dicegah, dengan target semua negara memiliki tingkat kematian neonatal 12 atau lebih sedikit per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Semoga kita mampu memberikan steroid, menerapkan Kangaroo Mother Care (KMC), menyuntikkan antibiotika, dan melakukan kunjungan rumah, untuk menekan kematian bayi di sekitar kita, meskipun pandemi COVID-19 belum juga usai.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Artikel ini ditulis oleh: DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

🏥 Kunjungi Klinik Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Tes DNA HPV untuk Deteksi Virus HPV Penyebab Kanker Serviks

Penyakit kanker serviks merupakan jenis kanker yang terjadi paling banyak kedua di Indonesia. Kondisi itu bisa disebabkan oleh infeksi virus HPV yang ditularkan dari pasangan seksual yang sudah terpapar terlebih dulu. Untuk mendeteksi kanker serviks, skrining pemeriksaan bisa dilakukan melalui pap smear dan tes DNA HPV.

Tes DNA HPV bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus HPV (Human Papilloma Virus) yang berisiko menyebabkan penyakit menular seksual (seperti kutil kelamin) serta kanker serviks. Namun, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya menderita infeksi HPV karena minimnya gejala.

Indikasi Pemeriksaan HPV DNA

Wanita berusia 30–65 tahun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Tes DNA HPV secara rutin setiap 3 sampai 5 tahun sekali, dikombinasikan dengan prosedur pap smear. Selain pada wanita dengan rentang usia tersebut, pemeriksaan DNA HPV juga dianjurkan pada wanita yang memiliki faktor risiko kanker serviks di bawah ini:

– Menderita HIV
– Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
– Terkena paparan diethylstilbestrol (DES) sebelum lahir
– Mendapatkan hasil abnormal (lesi prakanker) tingkat tinggi pada pemeriksaan pap smear

Umumnya, infeksi HPV tidak menimbulkan gejala atau tanda apa pun, sehingga penderita tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi HPV. Oleh karena itu, pemeriksaan HPV DNA perlu dilakukan secara rutin dengan tujuan sebagai berikut:

– Mendeteksi kelainan sel serviks dan infeksi HPV pada wanita usia 30 tahun ke atas
– Mendeteksi lebih jauh keberadaan HPV tipe risiko tinggi pada pasien dengan hasil pap smear yang menunjukkan sel serviks abnormal
– Memeriksa ada tidaknya sel-sel serviks abnormal setelah pengobatan terhadap infeksi HPV

Sebelum Pemeriksaan HPV DNA

Sebelum pemeriksaan HPV DNA dimulai, pasien akan diminta untuk buang air kecil guna mengosongkan kandung kemih. Hal ini dilakukan demi kenyamanan pasien saat pemeriksaan berlangsung dan kelancaran proses pemeriksaan.

Selain itu, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari selama 24 jam sebelum pemeriksaan HPV DNA, yaitu:

– Melakukan hubungan seksual
– Melakukan douching yaitu, membersihkan vagina menggunakan produk perawatan – kewanitaan yang disemprotkan ke vagina
– Menggunakan obat-obatan vagina, seperti krim atau sabun pembersih
– Memasukkan apapun ke dalam vagina, seperti menggunakan tampon

Liquid Based Cytologi (LBC)

Pap smear atau pemeriksaan rutin terhadap leher rahim sebagai tindak preventif kanker serviks umumnya dilakukan setiap 1 atau 2 kali setahun. Namun, seiring dengan kemajuan dibidang medis pap smear dapat di lakukan hingga 2 atau 3 tahun sekali. Metode ini dikenal dengan Liquid Based Cytologi (LBC) yang dikombinasikan dengan pemeriksaan Human Papilloma Virus (HPV).

Liquid Based Cytologi (LBC) memiliki beberapa keunggulan lain dibandingkan pap smear metode konvensional sebagai bahan yang dapat digunakan dalam studi molekuler, seperti deteksi infeksi HPV. Selain itu, dalam jangka panjang, LBC juga hemat biaya dalam skrining kanker serviks massal, karena LBC diperlukan lebih jarang daripada pap smear konvensional apabila digabung dengan pemeriksaan DNA HPV. Oleh karena itu, kami merekomendasikan penggunaan LBC secara luas untuk skrining kanker serviks pada populasi.

Pemeriksaan Liquid Based Cytologi (LBC) dan DNA HPV sudah dapat dilakukan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Pemeriksaan ini didukung oleh Dokter Spesialis Obgin, Dokter Spesialis Patologi Anatomi, dan tenaga medis yang profesional.

Sumber:
https://www.honestdocs.id/hpv-test
https://www.alodokter.com/pemeriksaan-hpv-dna-ini-yang-harus-anda-ketahui
https://health.detik.com/
https://isotekindo.com/article/details/60

Kunjungi Klinik Obgin Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Kateter Urine

Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan. Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik. Kateterisasi urine adalah tindakan memasukan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine.

Tujuan Kateter Urine

  • Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih
  • Untuk pengumpulan jumlah urine yang dilakukan pemantauan secara ketat
  • Untuk pengambilan specimen urine (pemeriksaan laborat)
  • Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan
  • Tujuan diagnostik dan terapi

Macam Kateter Urine
Kateter urine bisa terbuat dari karet atau silikon. Kateter dipasang menetap, terdapat balon yang dapat dikembangkan sesudah kateter berada kandung kemih.

Perawatan Kateter Menetap
Kateter merupakan benda asing pada uretra dan kandung kemih, bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan komplikasi serius. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk merawat kateter menetap:

– Banyak minum sehingga tidak terjadi kotoran yang bisa mengendap di dalam kateter
– Mengosongkan urine bag secara teratur
– Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh penderita agar urine tidak mengalir kembali ke kandung kemih
– Membersihkan, darah, nanah, sekret periuretra dan mengolesi kateter dengan antiseptik secara berkala
– Ganti kateter paling tidak 1 minggu sekali untuk karet, 1 bulan untuk silicon

Komplikasi Pemasangan Kateter
– Menyebabkan luka dan perdarahan uretra yang berakhir dengan struktur uretra seumur hidup
– Infeksi saluran kencing

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Kenali Sindrome Ramsay Hunt

Beberapa hari yang lalu muncul kabar sedih bagi para fans Justin Bieber, karena konser di Indonesia yang terancam dibatalkan karena sang superstar menderita sakit yang membuatnya tidak mungkin memaksakan dirinya untuk konser. Sang superstar menderita penyakit yang disebut dengan Sindrom Ramsay Hunt.

Justin Bieber terkena Sindrom Ramsay Hunt

Apa sebenarnya Sindrom Ramsay Hunt?

Ramsay Hunt merupakan suatu gangguan saraf yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella Zoster pada liang telinga atau sering juga disebut sebagai Herpes Zoster Oticus.

James Ramsay Hunt adalah seorang dokter saraf asal Amerika yang pertama kali mendiskripsikan penyakit ini pada tahun 1907 yaitu adanya nyeri telinga akibat adanya infeksi Varicella Zoster. Bila kita pernah mendengar tentang cacar air yang biasanya mengenai anak-anak maka virus Varicella Zoster inilah penyebabnya. Pada saat sembuh dari cacar air virus tersebut tidak mati hanya saja tidak aktif dan pada saat kondisi badan yang lemah atau status imunitas yang menurun maka virus itu akan aktif kembali dan aktivasi dari virus ini kita kenal dengan herpes zoster atau dalam bahasa lokal dikenal dengan istilah “Dompo”.

Virus ini akan menyerang kulit dan saraf di area yang terkena, tidak hanya di telinga, herpes zoster ini dapat juga dialami di area badan atau anggota gerak seperti tangan dan kaki. Tanda dan gejala yang muncul adalah adanya bintil-bintil berair pada kulit dengan dasar kemerahan disertai rasa nyeri seperti terbakar atau disayat-sayat pada area tersebut. Beberapa saat yang lalu saya menuliskan sebuah artikel mengenai “Apa itu Neuropati?” maka Sindrom Ramsay Hunt (Herpes Zoster Oticus) inilah salah satu contoh kasus neuropati.

Mengapa Sindrom Ramsay Hunt lebih berat dibandingkan Herpes Zoster biasa?

Infeksi virus pada Sindrom Ramsay Hunt berada di liang telinga dan mengenai saraf wajah yang ada di dalam liang tersebut, yang berakibat ada gangguan saraf wajah pada sisi telinga yang mengalami infeksi, sehingga menyebabkan kelumpuhan setengah wajah berupa sulit menutup mata pada sisi yang terdampak, perot, dan sulit mengerakkan bibir. Sindrom Ramsay Hunt memiliki tanda dan gejala yang  khas yaitu nyeri telinga, bintil-bintil merah pada telinga yang nyeri, dan gangguan otot wajah pada sisi telinga yang nyeri.

Lalu Apakah Ramsay Hunt itu adalah gejala stroke?

Ramsay Hunt tidak ada hubungannya dengan Stroke karena Ramsay Hunt merupakan infeksi virus sedangkan stroke berhubungan dengan gangguan aliran darah di otak. Bagaimana dengan Bell Palsy? Bell palsy juga berbeda dengan Ramsay Hunt karena Bell palsy hanya memiliki gejala gangguan otot pada separuh wajah tanpa disertai nyeri maupun gangguan kulit yang paling sering disebabkan oleh iritasi udara. Jadi tanda dan gejala Sindrom Ramsay Hunt merupakan kombinasi antara Herpes Zoster dan Bell Palsy.

Sindrom Ramsay Hunt membutuhkan penanganan pemberian antivirus segera, untuk mencegah infeksi virus yang lebih luas yang dapat menimbulkan kerusakan saraf yang besar dan permanen. Nyeri pada Sindrom Ramsay Hunt merupakan suatu keluhan yang sangat dominan, karena nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan saraf akan sangat luar biasa sering kali ditandai dengan rasa nyeri terbakar, tersayat, tersengat petir atau disayat-sayat sehingga penanganan nyeri pada kasus ini membutuhkan perhatian khusus. Kelumpuhan otot wajah pada Sindrom Ramsay Hunt memerlukan tindakan fisioterapi yang intensif, sehingga fungsional otot dapat dikembalikan seperti semula, dan fisioterapi ini dapat memakan waktu 2-3 bulan bahkan lebih.

Artikel ini ditulis oleh: dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kunjungi Klinik Penyakit Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Gizi Pada Ginjal Kronik dengan Hemodialisis (Cuci Darah)

Penyakit Gagal Ginjal Kronik / Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan suatu keadaan saat ginjal mengalami percepatan kehilangan fungsi ekskresi, hormonal, dan metabolik yang sifatnya tidak bisa dikembalikan. Fungsi ekskesi ginjal adalah melakukan pengeluaran produk akhir metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh, seperti urea. Fungsi endokrin ginjal adalah memproduksi enzim dan hormon, seperti renin untuk pengaturan tekanan darah, eritopoitein untuk sintesis eritrosit, dan mengatur metabolisme kalsium (Ramayulis, 2016). Penurunan fungsi ginjal pada CKD berlangsung perlahan, mulai dari CKD tahap 1 sampai dengan tahap 5.

Menurut Almatsier (2008), pada CKD tahap 5, pasien dianjurkan untuk menerima terapi dialisis. Dialisis dilakukan dimana ginjal tidak mampu lahi mengeluarkan produk-produk sisa metabolisme, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta memproduksi hormon-hormon. Dialisis dilakukan apabila hasil Glomerular Filtration Rate (GFR) < 15ml/menit. Dialisis yang paling banyak dilakukan adalah hemodialisis.

Apa itu Hemodialisis?

Hemodialisa didefiniskan sebagai pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermiabel (dializer) ke dalam dialisat (Nuari dan Dhina, 2017). Pada proses hemodialisis, aliran darah ke ginjal dialihkan melalui membran semipermiabel dari mesin cuci ginjal sehingga produk-produk sisa metabolisme dapat dikeluarkan dari tubuh. Menurut Sitasari, dkk (2017), hemodialisis menggantikan fungsi ekskresi dari ginjal. Fungsi metabolik dan hormonal dapat digantikan dengan terapi farmakologik dan terapi gizi.

Pada saat hemodialisis, terjadi kehilangan darah, vitamin larut air. Kehilangan 4-9 gram asam amino, dan 2-3 gram peptida terbuang setiap satu sesi hemodialisis yaitu sekitar 4-5 jam. Hemodialisis dapat menyebabkan terjadinya suatu peradangan, menyebabkan pemecahan protein tubuh, sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan status gizi.

Pengaturan Makan / Diet pada Pasien Hemodialisis

Pada pasien dengan hemodialisis, diharpakan mengkonsumsi makanan yang cukup energi dan mengkonsumsi makanan tinggi protein untuk menggantikan kehilangan asam amino dan zat gizi lain yang hilang selama proses hemodialisis. Anjuran diet didasarkan pada frekuensi dialisis, sisa fungsi ginjal, dan ukuran tubuh.

Tujuan diet yang diberikan untuk pasien dengan hemodialisis menurut Cornelia (2013), yaitu:

  1. Mengurangi penumpukan sampah uremi
  2. Mengurangi penumpukan cairan dan elektrolit di luar waktu dialisis
  3. Memperbaiki status gizi
  4. Mencegah defisiensi protein, asam amino, dan vitamin

Secara umum, pedoman diet untuk pasien CKD dengan hemodialisis adalah sebagai berikut (Cornelia, 2013):

  1. Energi diberikan cukup yaitu 35 kkal/kg BBI/hari untuk usia < 60 th, dan 30 kkal/kg BBI/hari untuk usia ≥ 60 th.
  2. Protein diberikan tinggi, untuk mengganti protein yang telah hilang selama proses hemodialisis dan mempertahankan keseimbangan nitrogen yaitu sebesar 1,0-1,2 gr/kg BB ideal/ hari. Sebaiknya konsumsi protein terdiri dari 50% protein hewani dan 50% protein nabati.
  3. Lemak diberikan 15 -30% dari kebutuhan energi total. 10% lemak jenuh dan kolestrol < 300 mg.
  4. Karbohidrat cukup, yaitu sebesar 55-75 % dari energi total.
  5. Kalium,pada pasien CKD dengan dialisis berisiko mengalami hiperkalemia (tingginya kadar kalium dalam darah). Kebutuhan kalium yang dianjurkan adalah 2000-3000 mg/hari. Untuk itu diharapkan pasien CKD dengan dialisis menghindari makanan yang mengandung tinggi kalium.
  6. Natrium (garam) diberikan sesuai dengan jumlah urin 24 jam, yaitu 1 gram ditambah penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 gram untuk tiap ½ liter urin.
  7. Kalsium tinggi yaitu, 1000 mg/hari.
  8. Fosfor dibatasi yaitu, < 17 mg/kg BB ideal/hari.
  9. Cairan dibatasi yaitu, sebanyak jumlah urin sehari ditambah ± Kelebihan cairan akan menyebabkan bengkak, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru.

Makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan untuk pasien CKD dengan dialisis:

Makanan yang dianjurkan:

  1. Makanan sumber energi, seperti: nasi, roti, mie, makaroni, spageti, lontong, bihun, madu, permen. Makanan sumber energi berguna menjaga atau memperbaiki status gizi pasien.
  2. Makanan sumber protein, seperti: telur, ayam, daging, ikan, kacang-kacangan termasuk tahu dan tempe dalam jumlah yang terbatas disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan gizi. Pada pasien dengan hemodialisis, protein berfungsi untuk mejaga kekuatan otot dan daya tahan tubuh pasien.

Makanan yang harus diperhatikan:

  1. Makanan Sumber Natrium

Kelebihan konsumsi garam akan meyebbakan pasien mudah merasa haus sehingga banyak minumdan dapat mengakibatkan pembengkakan, sesak nafas, tekanan darah meningkat, dan penyakit jantung.

Bahan makanan tinggi natrium yaitu makanan instan, keju, margarin, dan mentega. Bumbu yang mengandung tinggi natrium juga harus diperhatikan, seperti garam, terasi, kecap, MSG, saos.

  1. Makanan Tinggi Kalium

Asupan kalium dalam jumlah cukup dibutuhkan untuk menjaga agar jantung berdetak dengan kecepatan normal.  Namun apabila konsumsi kalium terlalu berlebihan dapat berbahaya untuk jantung.

  • Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium < 100mg): misoa, beras, roti putih, semangka, manggis, rambutan, blewah, sari apel, keju, es krim, kopi, margarin, jam.
  • Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium 100-200mg) : bihun, beras merah, terigu, makaroni, biskuit, roti bakar, telur ayam, tahu, ketimun, anggur, apel hijau, jambu biji, jeruk, sawo, blimbing, melon, yoghurt.
  • Bahan makanan diperbolehkan maksimal 100gr/hari 9kadar kalium 200-300mg : ubi putih, jagung, beras ketan, ikan, buncis, kol, wortel, tomat, selada, apel merah, alpukat, duku, pepaya , salak, sirsak, klengkeng, madu.
  • Bahan makanan dibatasi maksimal 50gr/hari (kadar kalium 300-400 mg) : kentang, havermout, singkong, ubi kuning, tepung tapioka, kapri, ikan mas, udang, ayam, kembang kol, bit, seledri, nangka, santan.
  • Bahan makanan yang TIDAK dianjurkan (kadar kalium (> 400 mg) : sarden, tongkol, kacang-kacangan kering (kacang hiaju, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah, dll), pisang, durian, bayam, daun pepaya, coklat, teh, kelapa, saos tomat.
  1. Makanan Tinggi Fosfor

Pada pasien dengan hemodialisis biasanya akan mengalami hiperfosfatemia (tingginya kadar fosfor dalam darah), maka dari itu makanan yang mengandung tinggi fosfor sebaiknya dihindari seperti: produk susu, kacang-kacangan, cereal berbahan gandum, dan minuman kemasan.

  1. Makanan Sumber Kalsium

Pada pasien dengan hemodialisis, kebutuhan kalsium yang disarankan harus tinggi karena apabila kalsium dan vit D rendah di dalam darah maka akan dilepas dari tulang yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi susu rendah fosfor setiap hari.

  1. Makanan yang Mengandung Serat

Pasien dengan hemodialisis dianjurkan untuk mengkonsumsi serat dalam jumlah yang cukup agar feses menjadi lembek dan tidak susah buang air besar. Makanan yang dianjurkan yaitu,  sayur, buah, kacang-kacangan, sereal, dan hasil olahannya yang mengandung rendah fosfor.

Bagaimana mengatur cairan bagi pasien hemodialis?

  1. Hindari makan dengan rasa pedas dan asin, batasi penggunaan garam
  2. Makanlah es batu agar dapat memberikan sensasi sejuk di mulut
  3. Menjaga kebersihan gigi dan mulut
  4. Gunakan gelas kecil pada saat minum
  5. Makannlah permen rasa asam untuk merangsang pengeluaran air liur
  6. Cara memasak makanan sebaiknya ditumis, dikukus, dipanggang, dan digoreng
  7. Contoh sayur dan buah yang kandungan airnya dapat diabaikan: kol, brokoli, cherry, blueberry, terong, selada, seledri

Bagaimana cara mengurangi kalium dari bahan makanan?

  1. Mencuci sayuran, buah, dan bahan makanan lain yang telah dikupas dan dipotong-potong
  2. Rendam bahan makanan dalam air hangat yang banyak selama 2 jam. Dengan perbandingan air sekitar 1:10
  3. Setelah 2 jam, kemudian air dibuang dan bahan makanan dicuci dalam air mengalir selama beberapa menit
  4. Setelah itu, bahan makanan, sayur, dan buah siap dimasak. Sebaiknya air yang digunakan untuk memasak 5x lebih banyak dari bahan makanan

DAFTAR PUSTAKA:

Almatsier, Sunita. 2008. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Cornelia, dkk. 2013. Konseling Gizi. Jakarta : Penebar swadaya Grup

www.gizi.depkes.go.id

Kresnawan, dkk. 2017. Diet untuk Pasien Dialisis. Jakarta : Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI)

Nuari, Nian Afrian dan Dhina Widayati. 2017. Gangguan Pada Sistem Perkemihan dan Penatalaksanaan keperawatan. Yogyakarta : Deepublish

Ramayulis, Rita. 20016. DIET Untuk Penyakit Komplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya Grup

Artikel ini ditulis oleh: Yashinta Arum Perwita, S. Gz
Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telp 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Kenali Gejala Sakit Ginjal

Ginjal adalah organ utama dalam tubuh kita untuk menyaring dan membersihkan racun-racun dalam tubuh. Maka perlu kita ketahui gejala-gejala ketika ginjal mulai mengalami masalah.

Gejala awal dari penyakit ginjal memang tidak nampak tanda-tanda yang spesifik. Namun, jika sudah menunjukkan gejala yang khas, seseorang bisa sampai harus cuci darah. Gejala awal ditandai dengan rasa nyeri, bisa salah satu ginjal maupun keduanya.

Kerusakan ginjal total dan tak dapat disembuhkan disebut dengan End Stage Renal Disease (ESRD) atau Gagal Ginjal Tahap Akhir (GGTA). Pasien dengan GGTA menderita kondisi permanen jika fungsi ginjalnya hilang maka tidak dapat disembuhkan.

Saat ginjal berhenti berfungsi, tubuh akan mengalami kondisi keracunan karena terisi oleh kelebihan air dan limbah produk. Kondisi ini disebut uremia, ditandai dengan pembengkakan dibagian tangan dan kaki serta pasien akan merasa letih dan lemas. Dalam kasus yang kronis, uremia dapat mengakibatkan kejang-kejang atau koma, dan berakhir dengan kematian. Dalam hal ini, pasien harus menjalani perawatan dialisis atau transplantasi ginjal, karena strategi manajemen konservatif tidak cukup untuk menyelamatkan nyawa.

Gejala-Gejala Sakit Ginjal

  • Nyeri
    Pada awal mula biasanya penderita mengalami nyeri. Lalu kalau sudah terdapat batu biasanya nyeri saat buang air kecil
  • Kaki Bengkak
    Dalam kasus yang lebih berat, kaki akan bengkak. Kondisi ini akan menetap meski sudah berbaring
  • Kesadaran Menurun
    Seseorang yang mengalami gagal ginjal kesadarannya menurun, gampang lemas, dan wajahnya pucat
  • Sesak Napas
    Gejala tahap selanjutnya adalah mengalami sesak napas, karena cairan di dalam tubuh tak bisa keluar bahkan menumpuk didalam paru-paru
  • Meracau
    Cairan seperti urine harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Cairan tersebut banyak mengandung racun yang harus disaring oleh ginjal. Jika ginjal rusak berarti tidak dapat menyaring racun dan tetap ada di dalam darah. Akibatnya racun tersebut bisa masuk ke pembuluh darah yang di otak. Pada tahap ini seseorang bisa meracau atau bicara serta bertindak tak beraturan. Kondisi ini sudah parah dan harus ditangani dengan cuci darah

Mari kita jaga ginjal kita dengan pola hidup sehat, dapat dilakukan dengan banyak minum air putih, aktif bergerak, mengatur pola makan yang sehat, jauhi alkohol dan hindari merokok, menghindari stress, rutin berolahraga dan jaga berat badan ideal. Konsultasi ke dokter jika mengalami gejala awal sakit ginjal.

 Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telp 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Hari Keamanan Pangan Sedunia

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 adalah gerakan memobilisasi tindakan untuk mencegah, mendeteksi dan mengelola risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan meningkatkan derajat kesehatan manusia. Tema peringatan adalah makanan yang lebih aman, kesehatan yang lebih baik (safer food, better health). 

Makanan yang aman adalah salah satu penjamin paling penting untuk kesehatan yang baik. Makanan yang tidak aman adalah penyebab banyak penyakit (foodborne illnesses), gangguan pertumbuhan dan perkembangan, defisiensi mikronutrien, penyakit tidak menular atau menular dan penyakit mental. Secara global, satu dari sepuluh orang terkena penyakit bawaan makanan setiap tahunnya. Diperkirakan 600 juta (hampir 1 dari 10 orang di dunia) jatuh sakit setelah makan makanan yang terkontaminasi dan 420.000 meninggal setiap tahun, mengakibatkan hilangnya 33 juta tahun hidup sehat (DALYs). Bahkan dana sebesar US$ 110 miliar hilang setiap tahun dalam produktivitas dan biaya pengobatan akibat makanan yang tidak aman, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada anak balita menyebabkan 40% dari beban penyakit bawaan makanan, dengan 125.000 kematian setiap tahun.

Penyakit bawaan makanan biasanya bersifat menular atau beracun dan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau zat kimia yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi. Bakteri Salmonella, Campylobacter dan enterohaemorrhagic Escherichia coli adalah beberapa patogen bawaan makanan yang paling umum yang mempengaruhi jutaan orang setiap tahun, kadang-kadang dengan derajat klinis yang parah dan fatal. Gejala klinisnya dapat berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut dan diare. Bakteri tersebut sering berada pada telur, daging unggas dan produk lain yang berasal dari hewan, susu mentah, daging unggas mentah atau setengah matang, dan air minum, susu yang tidak dipasteurisasi, daging yang kurang matang, serta buah dan sayuran segar yang terkontaminasi.

Infeksi bakteri Listeria dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil atau kematian bayi baru lahir. Listeria ditemukan dalam produk susu yang tidak dipasteurisasi dan berbagai makanan siap saji dan dapat tumbuh pada suhu dingin. Bakteri Vibrio cholerae dapat menginfeksi orang melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Gejala klinisnya adalah sakit perut, muntah dan diare berair yang banyak, yang dengan cepat menyebabkan dehidrasi parah dan bahkan kematian. Beras, sayuran, bubur millet dan berbagai jenis makanan laut telah terkait dengan wabah kolera.

Beberapa virus dapat ditularkan melalui konsumsi makanan. Norovirus dan Virus Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan dan dapat menyebabkan penyakit hati dan menyebar biasanya melalui makanan laut mentah atau setengah matang, atau produk mentah yang terkontaminasi. Beberapa parasit, seperti trematoda, cacing pita seperti Echinococcus spp, atau Taenia spp, Ascaris, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica atau Giardia, memasuki tubuh melalui makanan atau kontak langsung dengan hewan air atau tanah dan produk tanaman segar.

Beban penyakit bawaan makanan (foodborne illnesses) terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi sering kali diremehkan karena pelaporan yang kurang. Selain itu, juga adanya kesulitan untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara kontaminasi makanan dan penyakit atau kematian yang diakibatkannya. Laporan WHO tahun 2015 tentang perkiraan beban global penyakit bawaan makanan menyajikan perkiraan pertama beban penyakit yang disebabkan oleh 31 agen bawaan makanan (bakteri, virus, parasit, racun, dan bahan kimia) di tingkat global. Ternyata lebih dari 600 juta kasus penyakit bawaan makanan dan 420.000 kematian dapat terjadi dalam setahun. Beban penyakit bawaan makanan menimpa secara tidak proporsional pada kelompok dalam situasi rentan dan terutama pada anak balita, dengan beban tertinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Laporan Bank Dunia 2019 tentang beban ekonomi penyakit bawaan makanan menunjukkan bahwa, total kerugian produktivitas yang terkait dengan penyakit bawaan makanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperkirakan mencapai US$ 95,2 miliar per tahun. Selain itu, biaya tahunan untuk mengobati penyakit bawaan makanan diperkirakan mencapai US$ 15 miliar.

Pasokan makanan yang aman mendukung kesehatan ekonomi nasional, berkontribusi pada ketahanan pangan dan gizi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Pada hal, urbanisasi dan perubahan kebiasaan konsumen telah meningkatkan jumlah orang yang membeli dan makan makanan yang disiapkan di tempat umum. Selain itu, globalisasi telah memicu meningkatnya permintaan konsumen akan variasi makanan yang lebih luas, mengakibatkan rantai makanan global yang semakin kompleks dan panjang. Perubahan iklim juga diprediksi berdampak pada keamanan pangan.

Setiap pemerintah harus menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas kesehatan masyarakat, dengan menyusun kebijakan dan menerapkan sistem keamanan pangan yang efektif. Momentum Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 mengingatkan kita akan peran penting negara dalam menjamin ketersediaan makanan yang aman dan sehat.

Sumber: https://dokterwikan.com/

 

Artikel ini ditulis oleh: DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

🏥 Kunjungi Klinik Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Obesitas

Obesitas atau kegemukan merupakan keadaan bertambahnya lemak tubuh yang ditandai oleh kenaikan berat badan dan peningkatan penumpukan lemak pada bagian tertentu khususnya di daerah perut. Obesitas atau kegemukan terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar, sehingga terjadi peningkatan rasio lemak dan lean body tissue yang terlokalisir atau merata di seluruh tubuh.

Bagaimana Cara Menentukan Obesitas?

  1. Menghitung Indeks Massa Tubuh

Perhitungan umum yang sering digunakan tanpa mempetimbangkan berat otot adalah IMT  (Indeks Massa Tubuh) atau  BMI ( Body Mass Index ).

Rumus IMT = Berat badan (kg) / Tinggi badan x tinggi badan (m)

Bila berat badan seseorang adalah  68 kg dengan tinggi badan 155 cm, maka IMT -nya adalah  28, 3 kg/m2, artinya berdasarkan IMT termasuk obesitas.

2. Menghitung Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP)

Rasio lingkar pinggang dan panggul merupakan salah satu cara pengukuran antropometri yang dapat menilai obesitas sentral dan juga menilai risiko terkena penyakit kardiovaskuler. Cara mengukur lingkar pinggang yang paling mudah adalah dengan meletakkan satu jari di atas pusar Anda, setelah itu lingkari meteran pada daerah tersebut. Untuk mengukur lingkar panggul dapat dilakukan dengan cara menentukan daerah panggul yang paling menonjol dan gunakan metlin untuk mengukur.

Rumus RLPP = lingkar pinggang (cm) / lingkar panggul (cm)

Contoh: bila seorang laki-laki mempunyai lingkar pinggang 100 cm dengan lingkar pinggul 90 cm, maka RLPP-nya adalah 100 : 90 = 1,1. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa laki-laki ini mengalami obesitas sentral dan berisiko untuk menderita penyakit kardiovaskuler, sesuai dengan hasil penelitian prospektif yang menunjukkan bahwa rasio lingkar pinggang dan panggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler (Supariasa, 2002).

Tipe-tipe Obesitas

  1. Tipe Android (Tipe buah Apel)

Tipe android menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak yang terdapat pada bagian visceral dan bagian atas tubuh, seperti yang terlihat pada buah apel. Tipe ini banyak terjadi pada pria dan wanita yang telah mengalami menopause karena hormon estrogen tidak lagi diproduksi.

Jenis timbunan lemak pada bagian atas tubuh adalah asam  lemak jenuh. Seseorang dengan timbunan lemak jenuh tinggi dalam tubuh beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan metabolisme glukosa dan lemak seperti penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, stroke dan tekanan darah tinggi. Orang dengan tipe kegemukan seperti ini mempunyai kemungkinan terkena kanker payudara enam kali lebih besar dibandingkan orang yang memiliki berat tubuh normal. Lemak jenuh  merupakan lemak yang lebih  mudah dibakar. Bila seseorang memiliki timbunan lemak lebih banyak pada bagian atas ( lengan atas, belakang bra, pinggang dan perut) dianjurkan untuk segera melakukan diet dan olahraga secara teratur.

  1. Tipe Ginoid (Tipe buah Pir)

Tipe ginoid menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak pada bagian bawah tubuh yaitu, di daerah panggul dan paha. Tipe ini banyak terdapat pada wanita.

Jenis lemak yang tertimbun pada daerah panggul dan paha jenisnya adalah lemak tidak jenuh yang lebih sulit untuk dibakar. Kegemukan tipe ini lebih aman terhadap risiko penyakit kardiovaskuler. Pada kegemukan tipe ini, perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah lemak tubuh bagian atas sudah normal atau belum. Jika normal, untuk penurunan berat badan tidak dianjurkan untuk diet ketat karena akan semakin menghabiskan lemak bagian atas tubuh, yang kemungkinan akan menyebabkan antara lain pipi menjadi kempot dan payudara mengecil. Yang penting untuk dilakukan adalah, melatih otot-otot di sekitar panggul dan paha. Jika massa otot lebih besar dari lemak, penampilan panggul dan paha akan terkesan lebih langsing.

  1. Tipe Hiperplastik

Tipe ini biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe hiperplastik menunjukkan sel lemak berlebih, tetapi ukurannya sesuai dengan ukuran sel lemak normal. Jumlah sel lemak yang banyak pada anak-anak akan sulit untuk diturunkan ketika masa pertumbuhan telah berakhir. Anak-anak yang gemuk harus ditingkatkan aktifitas fisiknya secara teratur untuk menyeimbangkan dengan sel lemak yang banyak tadi dengan pertambahan tinggi badan.

  1. Tipe Hipertropik

Obesitas tipe ini biasanya terjadi pada orang dewasa, terutama pada wanita setelah hamil dan melahirkan atau pada pria yang mulai mapan dengan makan tidak terkontrol. Tipe hipertropik menunjukkan ukuran sel lemak tidak normal (berukuran besar), tetapi dengan jumlah sel lemak normal.

Ukuran sel lemak yang membesar dapat dikecilkan dengan meningkatkan penggunaan sel lemak sebagai energi, yaitu dengan mengurangi asupan energi total dan meningkatkan aktifitas fisik dan latihan fisik secara teratur.

Pengaturan Makan pada Obesitas

Pengaturan makan  dengan tujuan penurunan berat  badan, sebaiknya dapat menurunkan berat badan secara bertahap tanpa mengganggu keseimbangan metabolisme atau sampai menyiksa diri sendiri. Bahkan, diharapkan pengaturan  makan ini bisa menjadi suatu gaya hidup yang baik. Pengaturan makan yang bisa diterapkan untuk penurunan berat badan  adalah dengan diet rendah energi, seimbang dan teratur (REST). Diet REST ini dikembangkan oleh Rita Ramayulis DCN.,M.Kes.

Pada prinsipnya diet ini adalah menurunkan asupan energi total dengan tetap mengenyangkan. Seseorang dengan kegemukan, tetap dapat mengonsumsi makanan dengan volume yang sesuai, mengandung zat gizi lengkap dan seimbang, serta frekuensi makan minimal 3 kali sehari. Diet ini mengutamakan pemilihan bahan makanan dengan densitas energi rendah (DER). Densitas energi rendah adalah jumlah energi pada suatu hidangan makanan dalam berat atau volume tertentu. Suatu hidangan makanan dengan densitas energi rendah akan menyediakan energi relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang berdensitas energi lebih tinggi dalam berat yang sama. Konsumsi makanan dengan DER, telah dimasukkan dalam Dietary Guidelines for Americans 2005, sebagai strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Konsumsi makanan denagn DER dapat menurunkan berat badan secara bermakna. Penelitian dari Dewi, dkk (2013), menjelaskan bahwa kelompok yang mengonsumsi lebih  banyak makanan berdensitas energi rendah memiliki kualitas bahan makanan yang lebih baik dan indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi makanan berdensitas energi tinggi.

Pengelompokkan bahan makanan berdasarkan nilai densitas energi adalah sebagai berikut:

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sangat rendah. (0-60 kkal/100 gr)

Contoh: sari kedelai, telur ayam bagian putih, lobak, oyong, pare, terong, tomat, semangka, pepaya

  1. Bahan makanan dengan densitas energi rendah ( > 60 -150 kkal/100 gr)

Contoh: kentang, tahu, tempe, ikan bawal, ikan kakap, daun pepaya, pisang ambon, sirsak

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sedang ( > 150 – 400 kcal/100 gr)

Contoh: havermut,jagung, belut, daging sapi, ikan pindang, keju, selai, kopi, madu

  1. Bahan makanan dengan densitas energi tinggi ( > 400 – 900 kcal/100 gr)

Contoh: kacang tanah,ayam dengan kulit, kuning telur ayam, mentega, margarin, minyak kelapa

Sumber: Ramayulis R, 2014 Analisis Densitas Energi berdasarkan DKBM, Kemenkes 1996

 

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menurunkan berat badan adalah sebagai berikut:

  1. Gizi Seimbang

Dalam diet gizi seimbang tidak ada larangan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Dianjurkan  untuk mengonsumsi aneka ragam makanan sesuai kebutuhan dan bervariasi baik untuk kelompok makanan sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur dan buah.

  1. Cukup Minum

Dalam sehari kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter (8 gelas), tetapi saat menjalankan diet penurunan berat badan, kebutuhan air meningkat 50 cc untuk setiap kilogram berat badan.

  1. Aktifitas Fisik dan Lakukan Olahraga secara Teratur

Pada tahun 2002, WHO mencanangkan gerakan Move for Health, yang berisi rekomendasi utama untuk melakukan minimal 30 menit aktifitas fisik secara reguler dalam 5 hari seminggu. Jika seseorang melatih otot, setiap saat otot juga akan mempunyai kemampuan lebih untuk membakar lemak.

  1. Kelola Emotional Eating

Emotional Eating  yaitu. suatu kebiasaan makan berlebihan dalamjumlah  besar hanya karena nafsu dan perasaan yang disebabkan oleh emosi, bukan karena lapar. Seseorang yang mengalami emotional eating cenderung untuk makan dalam jumlah berlebihan dan banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, garam dan minyak.

 

Referensi

Ramayulis  R. 2014.   Slim is Easy.  Jakarta : Penebar Plus +

Sudargo, Toto, dkk. 2014.  Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta

Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta : Graha Ilmu

 

Artikel ini ditulis oleh: Bernadeth Dwi Wahyunani, AMG, RD

 Instalasi Pelayanan Gizi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)