Bahayakah Hernia Pada Bayi dan Anak?

Sebagai orang tua, tentu bapak dan ibu sekalian sangat memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan buah hati kita. Dalam prosesnya orang tua pasti mengamati tanda-tanda atau perubahan yang muncul pada tubuh bayi kita, baik itu adanya perubahan secara normal maupun keadaan yang abnormal. Beberapa kondisi yang dapat membuat orang tua khawatir adalah tiba-tiba munculnya benjolan pada daerah perut buah hati kita, dan pasti membuat bapak dan ibu ingin mengetahui lebih lanjut mengenai apa penyebabnya dan penanganannya.

Kondisi yang paling sering terjadi pada bayi dan anak dengan adanya benjolan di sekitar perut dan alat kelamin adalah Hernia. Hernia pada bayi dan anak muncul dengan ditandai oleh benjolan atau tonjolan yang terjadi di daerah perut (khususnya pusar) dan daerah sekitar alat kelamin, namun bisa saja kejadian hernia ini muncul di lain tempat sekitar perut, tergantung jenis dan dimana lokasi spesifik terjadinya benjolan tersebut.

Hernia tersebut terjadi karena adanya organ atau jaringan tubuh (dalam hal ini organ usus) keluar atau mendesak lapisan jaringan lunak dan otot yang lemah, yang seharusnya jaringan lunak dan otot tersebut mampu menahan organ atau jaringan tersebut dalam posisinya.

Jenis Hernia yang sering terjadi pada bayi dan anak adalah hernia umbilikalis (yang terjadi pada daerah pusar) dan hernia inguinalis (yang terjadi pada daerah sekitar alat kelamin).

Pada kondisi hernia inguinalis yang ringan, massa organ atau jaringan tubuh tersebut bisa keluar masuk , jika massa organ atau jaringan tubuh keluar maka terjadi benjolan (biasanya akan terjadi saat anak menangis, mengedan dan beraktifitas. Sedangkan dalam saat anak tenang benjolan akan berkurang atau menghilang. Sedangkan pada kondisi yang berat atau lanjut, benjolan akan menetap (ireponibilis), dapat menyebabkan sumbatan pada organ atau jaringan (organ usus) terjepit (inkarserata), atau bahkan sampai kepada kondisi tersumbatnya aliran darah ke bagian organ atau jaringan yang menyebabkan kematian jaringan organ (strangulata).

Pada kondisi yang berat ini anak akan menangis, rewel karena nyeri perut, muntah, tidak bisa buang air besar atau buang air besar bercampur darah, tidak bisa kentut, demam, tidak mau makan, perut akan kembung atau menjadi besar. Jika terjadi kondisi ini bayi atau anak harus segera diperiksa dan ditangani karena usus yang terjepit akan kekurangan aliran darah yang akan membuat jaringan usus menjadi mati (nekrosis), infeksi pada seluruh rongga perut dan usus mengalami kebocoran (perforasi).

Dalam penegakan diagnosis hernia pada bayi atau anak ini dapat dilakukan dengan anamnesis (keluhan yang diberitahukan kepada dokter), pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter dan pemeriksaan penunjang radiologi untuk mendapatkan gambaran pencitraan usus atau organ yang mengalami gangguan seperti ultrasonografi (USG) dan lainnya.

Penatalaksanaan Hernia Pada Bayi dan Anak

Jika bapak ibu sekalian menemukan tanda yang telah disebutkan diatas, segara bapak ibu dapat memeriksakan buah hatinya ke rumah sakit, dengan bertemu dokter spesialis bedah anak. Tindakan yang akan dilakukan adalah dengan metode operasi.

Metode operasi yang dilakukan adalah operasi herniotomi, yang bertujuan untuk mengembalikan organ atau jaringan ke tempat semula dan mencegah resiko sumbatan pada organ atau jaringan (organ usus) terjepit (inkarserata) atau bahkan strangulasi yang pada akhirnya menyebabkan rusaknya organ atau jaringan usus tersebut.

Pada umumnya dengan kondisi tanpa penyulit dan atau komorbid, tingkat keberhasilan tindakan operasi ini tinggi dengan tingkat residif (berulang) yang rendah.

Artikel ini ditulis oleh: dr. I Dewa Gde Rainey Chrisananta Putra
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kunjungi Klinik Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Transcranial Doppler (TCD) Mengintip Aliran Darah di Dalam Otak dan Cegah Stroke

Sistem pembuluh darah di dalam otak kita sangatlah penting, sistem ini mendukung distribusi nutrisi dan oksigen ke sel-sel otak sehingga metabolismenya dapat tetap berlangsung. Otak kita bertanggung jawab memberikan perintah kepada organ-organ penting dalam tubuh, hal ini dapat berlangsung apabila metabolisme otak berlangsung dengan baik.

Pembuluh darah pada manusia dibagi menjadi dua yaitu, pembuluh darah arteri yang membawa oksigen dan nutrisi dan pembuluh darah bali (vena) yang membawa karbondioksida. Pembuluh darah arteri memiliki dinding yang kenyal karena dindingnya dibangun dari otot sehingga pembuluh darah ini dapat berkontraksi. Sedangkan pembuluh darah vena tidak mampu berkontraksi, untuk dapat mengembalikan darah menuju jantung pembuluh darah ini menggunakan sistem katub.

Arteri akan membawa darah yang kaya oksigen dan nutrisi ke sel, maka apabila arteri ini tersumbat maka sel akan kekurangan oksigen, bila keadaan ini terjadi di pembuluh darah otak maka disebut dengan Stroke, bila sumbatan arteri terjadi di jantung akan disebut dengan Penyakit Jantung Koroner dan bila terjadi di kaki maka disebut dengan Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) atau Peripheral Arterial Disease (PAD).

Saat ini aliran darah di pembuluh darah darah arteri dapat dilihat dari luar, sehingga dapat dilihat apakah terjadi perubahan pada aliran darah yang mengarah pada suatu sumbatan pada pembuluh darah atau keadaan lainnya. Transcranial Doppler (TCD) dapat digunakan untuk melihat aliran darah di dalam pembuluh darah otak dengan  menggunakan teknologi ultrasound. Teknologi ultrasound dalam dunia kedokteran sudah sering digunakan yaitu pada alat USG. Pada pemeriksaan TCD, gelombang ultrasound yang dihasilkan akan membentur sel-sel darah yaitu eritrosit dan dipantulkan kembali ke alat TCD kemudian diolah sebagai data sehingga dapat ditentukan kecepatan aliran darah, index pulsasi dari arteri dan irama aliran darah di otak.

Pengertian Pemeriksaan TCD
Pemeriksaaan sederahana, murah, non invasif dan real time. Pemeriksaan ini tidak membutuhkan persiapan khusus sehingga pasien dapat menjalani pemeriksaan ini kapan saja, bila dibandingkan pemeriksaan CT Scan atau MRI tentunya pemeriksaan lebih murah. TCD bukan suatu pemeriksaan invasif hanya cukup menempelkan probe TCD di atas kulit di area kepala dan pasien tidak merasakan sakit, hanya suara berdenging saja yang terdengar oleh pasien yang merupakan suara ultrasound, karena non invasif maka pemeriksaan ini dapat diulang berkali-kali.

Transcranial Doppler akan memberikan gambaran aliran darah di otak secara real time artinya keadaan aliran darah di otak pada saat itu langsung dapat terlihat. Semua alat memiliki kelebihan dan kekurangan, TCD memiliki keterbatasan apabila pasien memiliki tulang kepala yang tebal sehingga gelombang ultrasound tidak dapat menembus masuk, TCD menentukan fungsional aliran darah sehingga alat ini tidak dapat melihat struktur jaringan otak, sehingga pada kondisi tertentu memerlukan kombinasi pemeriksaan dengan CT Scan atau MRI kepala bahkan pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA). 

Kapan Seseorang Harus Menjalani Pemeriksaan TCD?

TCD dilakukan pada pasien Stroke, Penyakit Sikle Cell, Malformasi Arteri-vena, Mati Batang Otak, Vasospasme pada kasus perdarahan Subaraknoid, Defek Septum Jantung dan masih banyak kasus lain.  TCD dapat dilakukam sebagai pemeriksaan preventif yaitu pada orang yang memiliki risiko vaskuler seperti diabetes, hipertensi, merokok, dislipidemia, obesitas maka TCD dapat dilakukan untuk skrining dan deteksi dini kondisi aliran darah di otak, apabila didapatkan kondisi aliran darah yang tidak baik maka faktor-faktor risiko vaskuler harus segera diperbaiki sehingga dapat mencegah terjadinya stroke.

Yuk baca artikel lainnya: https://pantirapih.or.id/rspr/?s=saraf

Kunjungi Klinik Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Perawatan Gigi pada Anak

Gigi susu (gigi decidui) seperti halnya gigi permanen mempunyai beberapa fungsi yaitu fungsi pengunyahan (mastikasi), fungsi pengucapan (fonetik), fungsi kecantikan (estetik), fungsi mempertahankan ruang dalam lengkung gigi (space maintainer).

Mengingat pentingnya fungsi dari gigi susu bila terdapat penyakit/kelainan pada gigi susu harus segera dirawat karena kondisi gigi susu saat ini sangat menentukan keadaan gigi-gigi permanen penggantinya. Beberapa kelainan gigi dan mulut yang sering terjadi pada anak-anak adalah:
1. Gigi berlubang (karies gigi)
Proses terjadinya karies gigi dipengaruhi oleh 4 faktor penyebab utama yang terjadi dalam waktu bersamaan.
Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Kuman. Secara normal kuman ada dan diperlukan di rongga mulut, tetapi apabila terdapat sisa makan yang melekat pada gigi, maka kuman akan menfermentasi sisa makanan tersebut menjadi asam.
b. Sisa makanan, terutama golongan karbohidrat seperti gula dan roti. Sisa makanan yang melekat pada gigi akan diubah oleh kuman menjadi asam yang dapat melarutkan email (lapisan terluar) gigi.
c. Gigi. Dengan bentuk anatomi yang berlekuk (pit dan fissure dalam) kadang sulit untuk dapat membersihkan seluruh permukaan gigi secara sempurna.
d. Waktu. Dari ke 3 faktor diatas diperlukan proses dalam waktu yang bersamaan.

● Jika kedalaman lubang gigi pada permukaan email/dentin maka biasanya hanya diperlukan satu/dua kali kunjungan untuk dapat ditambal secara permanen.
● Jika kedalaman lubang gigi sudah mengenai saraf gigi (pulpa) maka perlu dilakukan perawatan untuk mematikan saraf gigi (devitalisasi) dan dilanjutkan dengan perawatan saluran akar yang akan memerlukan beberapa kali kunjungan sebelum dapat ditambal secara permanen.

2. Pembengkakan gusi
Infeksi yang terjadi pada gigi dapat menjalar menjadi pembengkakan pada gusi bahkan dapat sampai ke pipi/dagu. Perawatan yang dapat dilakukan adalah menghilangkan pembengkakan tersebut dengan pemberian antibiotik dan anti radang, kemudian dilanjutkan dengan perawatan saluran akar pada gigi tersebut.

3. Kesundulan (persistensi gigi susu)
Yaitu kondisi dimana gigi susu belum tanggal, sementara gigi permanen penggantinya telah tumbuh. Hal ini mengakibatkan gigi permanen tumbuh pada posisi di luar lengkung gigi, sehingga susunan gigi geligi menjadi tidak teratur. Perawatan yang dapat dilakukan adalah melakukan pencabutan pada gigi susu tersebut.

4. Gigi susu tanggal sebelum waktunya (premature loss)
Gigi susu yang tanggal sebelum waktunya dikhawatirkan menyebabkan gigi disampingnya akan mundur/maju menempati ruang yang kosong sehingga gigi permanen pengganti akan kehilangan ruang atau juga dapat mengakibatkan gigi permanen pengganti kehilangan arah ketika akan tumbuh. Perawatan yang dapat dilakukan adalah pembuatan space maintainer.

Mengingat pentingnya peran gigi susu dan akibat yang mungkin ditimbulkan dari kelainan gigi susu yang tidak dirawat maka orang tua dapat mengkonsultasikan keadaan gigi anaknya ke dokter gigi sedini mungkin. Kontrol ke dokter gigi diharapkan dilakukan setiap 6 bulan. Dokter gigi akan melakukan pencegahan terjadinya karies gigi dengan Dental Health Education, fissure sealant (melapisi lekukan gigi yang dalam dengan bahan tambal), pemberian fluor pada gigi anak-anak dan pencegahan terjadinya kesundulan gigi dengan melakukan pencabutan pada gigi susu yang sudah goyah atau dengan usia dan foto rontgen dokter gigi dapat memperkirakan waktu tanggalnya gigi susu.

Pendaftaran via PantiRapihKu: https://pantirapih.or.id/rspr/jadwalkan-kunjungan-anda-dengan-aplikasi-pantirapihku/

Artikel ini ditulis oleh: drg. Julie Christine Limantara, Sp.KGA.
(Dokter Spesialis Kedokteran Gigi Anak  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kunjungi Klinik Gigi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Kenapa Gigi yang Sakit Tidak Bisa Langsung di Cabut atau di Tambal?

Rasa sakit pada gigi yang berlubang merupakan hal yang paling sering dikeluhkan pasien saat datang ke dokter gigi untuk memeriksakan giginya. Kerapkali pasien sangat ingin menghilangkan rasa sakit tersebut dengan cara mencabut atau menambal gigi yang berlubang tersebut. Tetapi, dokter gigi seringkali tidak bisa langsung mencabut atau menambal gigi tersebut dan hal tersebut sering membuat pasien bingung. Berikut ini adalah beberapa alasan kenapa dokter gigi tidak bisa langsung mencabut atau menambal gigi yang sedang sakit tersebut.

  1. Syaraf Gigi yang Terbuka

Pada gigi berlubang dan terasa sangat sakit biasanya disebabkan oleh kondisi syaraf gigi yang terbuka. Kondisi tersebut akan membuat syaraf gigi menjadi over reaktif, juga menyebabkan syaraf membuka lebih banyak reseptor rasa sakit, sehingga rasa sakit menjadi lebih kuat dan akan membutuhkan pembiusan yang lebih banyak daripada biasanya saat akan dicabut. Selain itu, kondisi syaraf yang terbuka tersebut justru akan terasa semakin sakit bila langsung dilakukan penambalan, karena bahan tambal yang mengandung berbagai bahan kimia akan langsung bersentuhan pada syaraf yang terbuka. Itu sebabnya seringkali dokter gigi akan memberikan obat terlebih dahulu atau mematikan syaraf gigi tersebut agar rasa sakit berkurang, sehingga akan memudahkan saat perawatan berikutnya untuk mempertahankan gigi atau saat akan dilakukan pencabutan.

  1. Kondisi Gigi yang Sedang Infeksi

Gigi yang sakit bisa disebabkan oleh kondisi infeksi yang sedang terjadi pada gigi tersebut. Kondisi infeksi juga bisa merubah tingkat keasaman (pH) rongga mulut menjadi lebih asam. Pada saat akan dilakukan pencabutan maka diperlukan pembiusan, sedangkan bius tersebut tidak dapat bekerja dengan baik pada kondisi pH yang asam. Bila tetap dipaksa dicabut, bisa-bisa pencabutan akan terasa sakit karena bius yang tidak bekerja dengan baik. Selain itu, pada gigi yang sedang infeksi, banyak mengandung produk-produk yang dihasilkan oleh bakteri penyebab infeksi. Bila dalam kondisi tersebut dilakukan penambalan, produk-produk bakteri tersebut akan terjebak di dalam gigi dan akan mencari jalan keluar, sehingga akan membentuk pembengkakan pada sekitar gigi. Itu sebabnya dokter gigi biasanya menunda pencabutan atau penambalan dan mengobati infeksi tersebut terlebih dahulu, agar lebih mudah saat akan dilakukan perawatan untuk mempertahankan gigi atau pencabutan gigi.

Beberapa faktor di atas merupakan alasan kenapa gigi yang sakit tidak bisa langsung dilakukan penambalan atau pencabutan. Adapun kondisi gigi yang sakit tetap harus diperiksakan ke dokter gigi untuk bisa diketahui penyebab sakitnya dan bisa dirawat sesuai dengan penyebab sakit tersebut, sehingga rasa sakit akan segera hilang. Tetap lakukan pemeriksaan gigi secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, agar dapat mengetahui dan merawat kondisi kesehatan gigi dan mulut sebelum terlambat dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

 

Artikel ini ditulis oleh: drg. Rizka Dindarini, Sp.Perio.
(Dokter Spesialis Gigi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kunjungi Klinik Gigi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Cacar Monyet

Monkeypox (cacar monyet) disebabkan oleh virus monkeypox, anggota genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae adalah penyakit zoonosis virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat.

Cacar monyet biasanya memiliki gejala klinis demam, ruam kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis. Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu. Kasus yang parah dapat terjadi dengan rasio kasus kematian meningkat sekitar 3-6%. Apa yang mencemaskan?

Manifestasi klinis cacar monyet mirip dengan cacar, infeksi orthopoxvirus  yang telah dinyatakan dapat diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980. Cacar monyet kurang menular daripada cacar dan menyebabkan penyakit yang kurang parah. Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi rentan terhadap virus cacar monyet, yaitu tupai tali, tupai pohon, tikus, dormice, primata non-manusia dan spesies lainnya. Cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di wilayah di mana cacar telah dieliminasi pada tahun 1968. Sejak itu, kasus cacar monyet telah dilaporkan pada manusia di 11 negara Afrika, yaitu Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, Sierra Leone, dan Sudan Selatan.

Pada tahun 2003, wabah cacar monyet pertama di luar Afrika terjadi di Amerika Serikat dan dikaitkan dengan kontak dengan anjing padang rumput peliharaan yang terinfeksi. Hewan peliharaan ini telah ditempatkan dengan tikus berkantung Gambia dan dormice yang telah diimpor ke negara itu dari Ghana. Wabah ini menyebabkan lebih dari 70 kasus cacar monyet di AS. Cacar monyet juga telah dilaporkan pada pelancong dari Nigeria ke Israel pada September 2018, ke Inggris pada September 2018, Desember 2019, Mei 2021 dan Mei 2022, ke Singapura pada Mei 2019, dan ke Amerika Serikat pada bulan Juli dan November 2021. Pada Mei 2022, beberapa kasus cacar monyet diidentifikasi di beberapa negara non-endemik.

Penularan dari hewan ke manusia (zoonotik) dapat terjadi dari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa dari hewan yang terinfeksi. Makan daging yang tidak dimasak dengan baik dan produk hewani lainnya dari hewan yang terinfeksi merupakan faktor risiko yang mungkin. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekret pernapasan, lesi kulit orang yang terinfeksi, atau benda yang baru saja terkontaminasi. Penularan melalui partikel pernapasan biasanya memerlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan, yang menempatkan petugas kesehatan, anggota rumah tangga dan kontak dekat lainnya dari kasus aktif pada risiko yang lebih besar. Penularan juga dapat terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin (yang dapat menyebabkan cacar monyet bawaan) atau selama kontak dekat selama dan setelah kelahiran.

Masa inkubasi cacar monyet biasanya dari 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertama disebut periode invasi berlangsung antara 0-5 hari yang ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang hebat (kekurangan energi). Limfadenopati adalah ciri khas cacar monyet dibandingkan dengan penyakit lain yang awalnya mungkin tampak serupa (cacar air, campak, cacar). Periode kedua disebut periode erupsi kulit biasanya dimulai dalam 1-3 hari setelah munculnya demam. Ruam cenderung lebih terkonsentrasi di wajah dan ekstremitas daripada di badan. Ini mempengaruhi wajah (dalam 95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus). Juga terkena adalah selaput lendir mulut (dalam 70% kasus), alat kelamin (30%), dan konjungtiva (20%), serta kornea. Ruam berkembang secara berurutan dari makula (lesi dengan dasar rata) menjadi papula (lesi keras yang sedikit terangkat), vesikel (lesi berisi cairan bening), pustula (lesi berisi cairan kekuningan), dan krusta yang mengering dan rontok. Jumlah lesi bervariasi dari beberapa hingga beberapa ribu. Dalam kasus yang parah, lesi dapat menyatu sampai sebagian besar kulit terkelupas.

Pengelolaan medis untuk monkeypox harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Diperlukan pemberian cairan dan makanan bergizi untuk mempertahankan status gizi yang memadai. Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Obat antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar atau smallpox, dilisensikan oleh European Medical Association (EMA) untuk cacar monyet pada tahun 2022, tetapi sampai sekarang obat ini belum tersedia secara luas. Pada Juli tahun 2018, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah memberikan persetujuan kepada SIGA Technology untuk TPOXX (Tecovirimat), obat anti cacar pertama yang disetujui FDA. TPOXX (Tecovirimat) adalah obat penghambat protein pembungkus amplop ortopoxvirus VP37 dengan memblok interaksinya dengan seluler Rab9 GTPase dan TIP47, sehingga mencegah pembentukan bentuk ortopoxvirus kompoten yang diperlukan dalam penyebaran virus di dalam tubuh.

Pengobatan Tecovirimat diindikasikan pada orang dewasa dan pasien anak-anak dengan berat setidaknya 13 kg. Obat ini poten, spesifik, aman, mudah dibuat, stabil, tersedia secara oral, memiliki rejimen dosis langsung yang tidak memerlukan pengawasan medis dan tidak mengganggu vaksin. Sediaan dibuat oral dalam kapsul gelatin padat yang berisi zat aktif kristal tecovirimat monohidrat dan bahan tambahan lainnya.

Vaksinasi cacar dalam beberapa penelitian observasional sekitar 85% efektif dalam mencegah cacar monyet dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih ringan. Bukti vaksinasi sebelumnya terhadap cacar biasanya dapat ditemukan sebagai bekas luka di lengan atas. Saat ini, vaksin cacar (generasi pertama) yang asli tidak lagi tersedia untuk masyarakat umum. Vaksin yang masih lebih baru berdasarkan virus vaccinia yang dilemahkan dan dimodifikasi (strain Ankara) telah disetujui untuk pencegahan monkeypox pada tahun 2019. Ini adalah vaksin dua dosis yang ketersediaannya masih terbatas. Meningkatkan kesadaran akan faktor risiko dan mendidik masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk mengurangi paparan virus adalah strategi pencegahan utama cacar monyet.

Jumat, 20 Mei 2022 terjadi wabah cacar monyet yang dilaporkan di 11 negara yang tidak biasa, karena terjadi di negara-negara non-endemik di Eropa, Amerika dan Australia. Ada sekitar 80 kasus yang dikonfirmasi dan 50 kasus sedang dalam penyelidikan. Lebih banyak kasus kemungkinan akan dilaporkan saat pengawasan meluas.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Artikel ini ditulis oleh: DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kunjungi Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Cara Menyikat Gigi yang Baik & Benar

Kesehatan mulut dan gigi harus selalu kita jaga untuk menghindari terjadinya beberapa penyakit mulut dan gigi. Gigi yang jarang dibersihkan juga dapat memicu timbulnya bau mulut, sariawan, gusi bengkak dan bahkan yang lebih parah bisa memicu terjadinya penyakit pada gigi dan rongga mulut. Oleh karena itu, membersihkan gigi dan mulut sudah menjadi sebuah keharusan.

Salah satu cara untuk menjaga kebersihan mulut yaitu, dengan menggososk gigi secara teratur. Namun tahukah anda, meskipun kebiasaan ini hampir dilakukan setiap orang diseluruh dunia namun hanya sekitar 20% saja yang mengetahui cara menyikat gigi yang baik dan benar, akibatnya meskipun anda rajin menggosok gigi namun tetap saja timbul masalah seperti bau mulut.

Berikut Cara Menyikat Gigi yang Benar

  1. Pegang sikat gigi senyaman mungkin, oleskan pasta gigi. Sikat atau sapukan sikat gigi depan secara naik turun dan pelan-pelan. Menyikat gigi dengan cara yang kasar atau terlalu keras bisa menipiskan lapisan gusi dan gigi menjadi sensitif. Pelan-pelan saja dan pastikan semua kotoran bagian-bagian mulut telah dibersihkan dengan baik
  2. Setelah bagian depan selesai, pindah ke bagian gigi kanan kemudian gigi kiri, cara menyikatnya sama seperti di bagian depan yaitu, dengan cara naik turun dari atas ke bawah
  3. Setelah bagian depan, kanan dan kiri sudah selesai dibersihkan sekarang menuju ke bagian gigi geraham. Sapukan secara pelan-pelan dan pastikan semua kotoran tersapu bersih oleh bulu sikat dan tidak ada kotoran yang tertinggal
  4. Setelah gigi geraham selesai dibersihkan, kita menuju gigi bagian dalam atas dan bawah. Sikat secara pelan dan merata
  5. Selain membersihkan gigi, jangan lupa juga bersihkan lidah dan langit-langit lidah serta bagian pipi samping kanan dan kiri. Lakukan dengan pelan saja. Memberihkan gigi dan lidah ini juga bisa mengurangi bau mulut hingga 80%
  6. Dalam menyikat gigi sebaiknya gunakan sikat yang berbulu lembut, tangkai lurus, kepala sikat kecil agar dapat menjangkau seluruh permukaan gigi dan jangan dengan tekanan yang keras karena dapat mengikis email dan gusi, terutama untuk gigi yang sensitif.
  7. Ritme menggosok gigi yang baik adalah dari 8-10 gosokan dan jeda waktunya 2-3 menit
  8. Untuk hasil yang maksimal juga bisa menggunakan obat kumur bilamana perlu untuk membersihkan secara menyeluruh bakteri yang menempel di gigi dan gusi
  9. Simpan sikat gigi di tempat yang bersih untuk menghindari sikat yang terinfeksi bakteri luar. Jangan lupa ganti juga sikat gigi setiap 3 bulan sekali. Gunakan sikat gigi untuk satu orang saja dan jangan bergantian karena dapat menyebabkan perpindahan bakteri dari orang satu ke orang yang lainnya
  10. Untuk pasien yang sedang dalam perawatan merapikan gigi (orthodonsi) dapat menggunakan sikat gigi khusus
  11. Gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sisa makanan yang terselip pada sela-sela gigi. Tidak dianjurkan menggunakan tusuk gigi karena dapat mengiritasi gusi

Informasi lebih lanjut hubungi:
Klinik Gigi
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telp 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Kita dan HIV

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan epidemi HIV/AIDS tercepat di Asia. Kasus pertama di Indonesia dilaporkan tahun 1987, dan sejak itu sampai tahun 2009, 3.492 orang meninggal karena penyakit ini. Tahun 2006, epidemi HIV/AIDS di Indonesia paling banyak terdapat di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun) sehingga penanganan utama saat itu adalah bagaimana mengurangi dampak buruk pada penasun.

Awal tahun 2007 dilaksanakan pengurangan dampak buruk penularan melalui jarum suntik. Pada tahun 2010 prevalensi penasun sudah mulai menurun secara bermakna, namun mulai muncul kasus HIV pada ibu rumah tangga sehingga mulai diintensifkan upaya pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS). Sementara itu, tahun 2011, mulai terjadi peningkatan penularan dari Ibu positif HIV kepada bayi-bayi yang dilahirkan. Tahun 2012, ditegaskan agar penanggulangan HIV/AIDS tidak boleh dipisahkan dari prioritas nasional pencapaian Millenium Development Goals ke-6 (MDGs-6). Sejak itulah, mulai dikembangkan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) di tingkat Puskesmas. Dimana pelayanan HIV/AIDS mulai dari upaya pencegahan, tes HIV sedini mungkin, sampai kepada pengobatan dapat dilaksanakan di tingkat Puskesmas. Data dari Ditjen PP & PL Kemenkes RI, sejak 1 April 1987 sampai dengan 30 September 2014 tercatat kasus HIV 150.296 dengan kasus AIDS 55.799. Dan jumlah ini terus meningkat. Strategic Use of ARV (SUFA) adalah terobosan terkini yang di perkenalkan pada pertengahan 2013. Dengan kebijakan baru ini, setiap orang yang rentan atau berisiko terinfeksi HIV ditawarkan untuk melakukan tes. Bila hasilnya positif akan langsung ditawarkan untuk pengobatan dengan ARV. Dalam implementasinya, SUFA menekankan pada TOP (Temukan, Obati dan Pertahankan).

Temukan artinya menawarkan tes HIV kepada semua orang yg memiliki perilaku berisiko, penawaran tes HIV rutin kepada ibu hamil, pasien TB, Hepatitis, Infeksi Menular Seksual (IMS), pasangan ODHA. Untuk populasi kunci yang status HIV nya masih negatif, dilakukan tes ulang minimal setiap 6 bulan. Obati yang Ditemukan, yaitu memberikan pengobatan bagi mereka yang sudah memenuhi kriteria yaitu: memulai pengobatan Antiretroviral (ARV) secara dini. Pertahankan yang diobati. Artinya, memastikan pasien patuh minum obat seumur hidup dengan memberikan pendampingan terutama pada awal pengobatan, serta memberikan dukungan yang tepat dari keluarga, komunitas, kelompok dukungan sebaya dan layanan kesehatan.

Upaya-upaya yang dilakukan kementrian kesehatan Indonesia untuk penanggulangan HIV sangat bermakna. Menteri Kesehatan RI yang pada saat itu dijabat oleh Ibu dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH mendapat apresiasi tingkat global pada kegiatan International Conference on AIDS 2014 di Australia. Peserta pertemuan terharu saat Ibu Menkes RI menyatakan sebuah kalimat, “Do we want to kill them or save them? Because the easiest thing is to kill them”.

Apakah HIV Itu?
HIV adalah singkatan dari human immunodeficiency virus, merupakan virus yang dapat menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome atau AIDS. HIV menyerang sel pada sistem imun yang disebut sel CD4 atau sel T. Selanjutnya HIV merusak banyak sel CD4 sehingga kemampuan tubuh mengatasi infeksi menurun, namun sampai sekarang para ahli masih berjuang keras untuk mendapatkan obatnya dan masih memberikan harapan. Sementara itu dengan perawatan medis yang tepat, HIV dapat dikontrol. Antiretroviral therapy (ART) yang mulai digunakan sejak pertengahan 1990, secara dramatis dapat memperpanjang usia penderita HIV dan memperkecil risiko penularan. Sebelum era ART, orang yang terinfeksi HIV lebih cepat masuk ke stadium AIDS.

Tahapan HIV
HIV adalah penyakit yang progresif. Bila tidak ditangani penderita akan cepat masuk ke stadium AIDS. Terapi akan memperlama atau mencegah progresi dari satu tahapan ke
tahapan selanjutnya.

Cara Penularan HIV
Hanya cairan tertentu dari penderita yang terinfeksi HIV yang dapat menularkan virus ini, yaitu darah, semen (cum-ejakulasi), pre-seminal fluid (pre-cum), cairan rectum (anus), cairan vagina dan ASI (breast milk). Cairan ini harus kontak dengan membran mukosa atau jaringan yang rusak atau langsung masuk melalui jarum suntik (needle or syringe). Membran mukosa dapat dijumpai di rektum (anus), vagina penis dan mulut.

Apakah HIV bisa bertahan di luar tubuh?
HIV tidak bertahan lama bila di luar tubuh dan tidak bisa berreproduksi. HIV juga tidak menular melalui air atau udara, serangga termasuk nyamuk atau kutu, air liur, air mata atau keringat. Belum pernah ada laporan HIV tertular melalui ludah. Kontak biasa seperti bersalaman atau bebagi piring atau melalui dudukan toilet (toilet seats) juga tidak menularkan HIV.

Gejala Infeksi HIV
Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah terkena infeksi HIV atau tidak adalah dengan menjalani tes HIV. Hal ini disebabkan penderita HIV tidak selalu memiliki gejala, bahkan bisa sampai 10 tahun atau lebih tanpa gejala. Beberapa penderita HIV dilaporkan mengalami flu-like symptoms namun dengan derajat yang sangat berat (“the worst flu ever”) pada 2 sampai 4 minggu setelah paparan. Gejala yang muncul bisa berupa demam, pembesaran kelenjar limfe, sakit tenggorokan, dan kulit kemerahan. Gejala ini akan hilang dengan kisaran beberapa hari sampai beberapa minggu. Selama tahap ini, penderita HIV sangat infeksius dan dapat menularkannya ke orang lain.

Bagaimana Risiko Pekerja Kesehatan Tertular HIV Selama Bekerja?
Risiko pekerja kesehatan tertular virus HIV selama bekerja sangat kecil. Risiko utama penularan HIV adalah bila tertusuk jarum atau instrumen tajam lain yang terkontaminasi HIV, walaupun sebenarnya risiko ini juga kecil. Para ahli berpendapat, risiko tertular melalui jarum kurang dari 1%.

Pengobatan HIV
Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi. It can’t be cured but can be treated. Antiretroviral therapy (ART), secara dramatis dapat memperpanjang usia dan menurunkan risiko penularan. Sangat penting untuk dilakukan test HIV terutama orang yang berisiko sehingga terapi akan memberikan outcome yang baik. Tentu saja hal terpenting dan terbaik adalah menghindari risiko tertular.

Baca juga tautan berikut ini:
https://pantirapih.or.id/rspr/klinik-carlo-rs-panti-rapih-bagi-pasien-hiv-aids/

Artikel ini ditulis oleh: dr. Dian Pratiwi, M.Sc., Sp.PD-KHOM
(Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi dan Onkologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kunjungi Klinik Penyakit Darah & Kanker Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Empty Sella Syndrome

Sahabat Panti Rapih pasti akhir-akhir ini mengikuti berita dari seorang artis tanah air yang didiagnosis dengan Empty Sella Syndrome, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Empty Sella Syndrome?

Untuk memahaminya kita berawal dari mengenal otak kita, otak kita memiliki beberapa komponen salah satu komponen terpenting dikenal dengan kelenjar hipofise yang terletak dibagian dasar otak dan berbentuk seperti tonjolan bertangkai.

Kelenjar hipofise ini merupakan kelenjar super, Hipofise memiliki peran sangat penting dalam kontrol dalam hormonal dalam tubuh manusia, yang dikenal dengan Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis (HPA axis). Hipofise ini berperan dalam produksi hormon-hormon penting seperti hormon kortisol, hormon prolaktin, dan hormon pertumbuhan (growth hormone).

Hipofise yang sangat penting ini memiliki tempat untuk duduk di tulang tengkorak kita yang dikenal dengan Sella Turcica, Sella Turcica ini berbentuk seperti pelana cekung yang merupakan tempat kelenjar hipofise, dengan kata lain Sella Turcica tidak pernah kosong karena merupakan tempat duduk bagi kelenjar hipofise.

Syndrome memiliki arti kumpulan gejala maka Empty Sella Syndrome berarti kumpulan berbagai gejala karena kosongnya Sella Turcica atau tidak tampaknya hipofise. Empty Sella Syndrome dapat ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan CT Scan atau MRI otak. Seseorang dengan Empty Sella Syndrome mungkin tidak bergejala atau mungkin memiliki gejala akibat hilangnya sebagian atau seluruh fungsi hipofisis (contohnya sakit kepala, libido seks yang  rendah, dan impotensi)

Terdapat dua jenis Empty Sella Syndrome yaitu primer dan sekunder. Pada Empty Sella Syndrome primer terjadi bila terdapat kebocoran disekitar kelenjar pituitari sehingga cairan tulang belakang untuk mengisi sebagian atau seluruhnya sella tursika yang menyebabkan kelenjar mendatar di sepanjang dinding interior rongga sella tursika dapat mengganggu fungsi normal testis dan ovarium.

Empty Sella Syndrome sekunder disebabkan oleh gangguan kelenjar pituitari akibat cedera, pembedahan, atau radiasi. Gejala yang muncul mencerminkan hilangnya fungsi hipofisis, misalnya berhentinya periode menstruasi, infertilitas dan kelelahan

Pengobatan untuk disfungsi endokrin yang terkait dengan malfungsi hipofisis bersifat simtomatik dan suportif, pada beberapa kasus yang  menyebabkan masalah medis lainnya maka terapi pembedahan mungkin diperlukan.

Artikel ini ditulis oleh: dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kunjungi Klinik Penyakit Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Nutrisi Tepat, Anak Tumbuh Sehat dan Kuat

Pertumbuhan (growth) adalah perubahan dan pematangan fungsi fisik meliputi pertambahan tinggi, berat badan, volume darah, pertumbuhan tulang, perubahan sistem saraf, dan perubahan-perubahan fisik lainnya. Sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dengan pola teratur, menyangkut diferensiasi sel-sel tubuh, organ dan sistem organ sehingga dapat menjalankan fungsinya masing-masing, serta perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Terdapat 3 faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:

  1. Faktor keturunan atau herediter, yaitu sifat atau kondisi bawaan yang diturunkan dari orang tua.
  2. Pertumbuhan dan pematangan fisik, yang sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi, perawatan kesehatan dan perawatan anak secara umum.
  3. Stimulasi lingkungan, berpengaruh terhadap aspek psikososial atau proses pembelajaran yang mendorong perkembangan anak. Keadaan gizi pada usia bayi dan anak memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan, pertumbuhan, serta perkembangan bayi dan anak pada waktu sekarang dan kelak setelah dewasa. Pada masa kanak kanak, proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat cepat.

Apabila asupan nutrisi tidak mencukupi kebutuhan maka akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak yang menyebabkan ketidakmampuan otak berfungsi secara normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan nutrisi menyebabkan pertumbuhan badan tergangggu, diikuti dengan ukuran otak yang juga kecil, jumlah sel darah otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan dan ketidaksempurnaan organisasi biokimia dalam otak yang dapat menimbulkan kelainan-kelainan fisik maupun mental. Oleh sebab itu, bayi dan anak-anak sangat membutuhkan nutrisi yang tepat untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya agar berjalan dengan sempurna. Sumber nutrisi yang paling tepat untuk bayi pada kehidupan pertamanya adalah ASI (Air Susu Ibu), karena memiliki nutrisi yang paling tinggi dan lengkap dibandingkan dengan makanan yang dibuat oleh manusia ataupun susu yang dihasilkan oleh hewan seperti sapi, kerbau, atau kambing. Menurut Depkes (2003), ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa diberi makanan dan minuman lain sejak dari lahir hingga usia 6 bulan, kecuali pemberian obat dan vitamin. Adapun nutrisi yang terkandung dalam ASI adalah sebagai berikut:

1. Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa (jumlahnya dua kali lipat daripada susu formula). Di dalam usus, laktosa akan mengalami fermentasi menjadi asam laktat yang memberikan keadaan yang menguntungkan bagi kesehatan saluran cerna bayi. Kandungan karbohidrat yang lain adalah glukosa, galaktosa, dan glukosamin. Galaktosa penting untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang untuk pembentukan system saraf. Glukosamin mampu memacu pertumbuhan Lactobacillus bifidus yang akan memberikan keuntungan bagi kesehatan bayi.

2. Protein
Protein dalam ASI lebih banyak mengandung whey dan lactalbumin yang lebih mudah diserap oleh usus bayi. Sedangkan protein susu sapi lebih banyak mengandung chasein yang lebih sukar dicerna oleh usus bayi.

3. Lemak
Lemak utama ASI adalah omega-3, omega-6, AA, dan DHA, merupakan komponen penting pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf. Pencernaan lemak secara baik dilakukan oleh lipase yang juga banyak terkandung di dalam ASI sehingga mampu menyediakan cukup energi untuk pertumbuhan bayi.

4. Vitamin
ASI juga kaya akan vitamin A dan beta karoten yang berfungsi menjaga kesehatan mata, mendukung pembelahan sel, meningkatkan sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, dan mendukung pertumbuhan. Selain itu, ASI juga mengandung vitamin B, C, D, E dan K dalam jumlah yang sesuai dengan perkembangan, kondisi, dan kebutuhan bayi.

5. Mineral
ASI memiliki mineral yang lengkap dan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan bayi. Mineral yang dikandung antara lain kalsium, magnesium, zink, Cu, zat besi, pospor, mangan, dan sebagainya sangat berperan dalam meningkatkan system daya tahan tubuh, menunjang pertumbuhan tulang, pembentukan sel darah merah, dan sebagainya.

6. Elektrolit
ASI mengandung elektrolit (natrium, kalium, dan klorida) dalam jumlah yang lebih rendah dibandingkan susu sapi sehingga tidak memberatkan kerja ginjal.

7. Enzim dan Hormon, serta Faktor Kekebalan
Hormon dan enzim dalam ASI sangat penting untuk sistem pencernaan dan proses pertumbuhan bayi. ASI juga mengandung faktor kekebalan yang berfungsi sebagai anti inflamasi, anti bakteri, anti virus, anti bakteri, dan anti parasit. Setelah melewati usia 6 bulan, ASI sudah tidak mampu lagi memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi sehingga bisa mulai dikenalkan dengan berbagai bahan makanan yang disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dengan tetap memberikan ASI hingga berusia 2 tahun. Usia 6-12 bulan merupakan titik awal bagi kemampuan bayi untuk mengkonsumsi berbagai bahan makanan untuk periode usia selanjutnya.

Pemberian makanan pada bayi harus bertahap, disesuaikan dengan perkembangan, kemampuan, dan ketrampilannya agar tidak menimbulkan masalah makan dimasa mendatang. Bayi dikatakan sudah siap menerima makanan pendamping  bila sudah mampu menggerakkan lidah dari depan ke belakang, mampu menahan kepalanya dengan stabil, mulai tertarik pada makanan dengan memasukkan apa saja ke dalam mulutnya, dan masih tampak lapar walaupun sudah minum ASI.

Agar MP-ASI untuk bayi dapat diberikan dengan tepat, maka harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Berikan sedikit demi sedikit dan bertahap sesuai dengan perkembangan ketrampilan dan perkembangan bayi.
2. Berbahan dasar bahan makanan lokal yang mudah didapat, misalnya beras merah, tepung beras, kentang, pisang, dan sebagainya. Mulai perkenalkan dengan aneka sayur dan buah segar.
3. Jangan menambahkan gula atau garam, agar bayi mengenali rasa asli dari setiap bahan makanan.
4. Jangan terlalu banyak mencampur bahan makanan dalam sekali pemberian. Amati tanda-tanda yang terjadi pada bayi jika ada gejala alergi makanan.
5. Perhatikan tekstur makanan dan jenis bahan makanan, berikan sesuai dengan perkembangan dan kemampuan bayi.
6. Usahakan memilih bahan makanan yang alami daripada instan. Hal ini untuk meminimalkan adanya bahan-bahan kimia sepertipengawet, penguat rasa, pewarna, pengental, dan sebagainya.
7. Perhatikan kebersihan bahan makanan dan alat yang digunakan untuk mengolah dan menyajikannya.

Anak adalah anugrah yang dititipkan Tuhan kepada orangtua. Oleh sebab itu, anak harus dirawat dan dijaga sebaik-baiknya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Salah satu caranya adalah dengan memberikan nutrisi dengan jumlah, jenis, dan cara yang tepat.

Artikel ini ditulis oleh: Therecya Wulandari, S.Gz.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Instalasi Pelayanan Gizi
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Pekan Menyusui Dunia

Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) 1 sampai 8 Agustus 2022 mengangkat tema: Melangkah Maju untuk Menyusui. Mendidik dan Mendukung (Step up for Breastfeeding, Educate and Support). Pada pekan tersebut akan fokus pada penguatan kapasitas semua pihak yang harus berperan melindungi, mempromosikan dan mendukung proses menyusui di berbagai lapisan masyarakat.

Para pihak atau aktor yang terkait dengan proses menyusui harus membentuk rantai dukungan yang hangat (warm chain of support for breastfeeding). Aktor yang menjadi sasaran dalam hal ini termasuk pemerintah, sistem kesehatan, tempat kerja, keluarga, dan masyarakat luas, akan diberi informasi, dididik, dan diberdayakan untuk memperkuat kapasitas mereka, dalam menyediakan dan mempertahankan lingkungan yang ramah menyusui bagi ibu, di seluruh dunia pasca pandemi COVID-19.

Menyusui adalah kunci untuk strategi pembangunan berkelanjutan pasca-pandemi COVID-19, karena mampu meningkatkan pemenuhan gizi, memastikan ketahanan pangan dan mengurangi ketidaksetaraan antar dan di setiap wilayah dalam sebuah negara. Tema tersebut menyoroti hubungan antara menyusui dan nutrisi yang baik, ketahanan pangan dan pengurangan kesenjangan. Kampanye Rantai Hangat menempatkan pasangan ibu-bayi sebagai inti kegiatan. Program ini berusaha menghubungkan berbagai aktor di sektor kesehatan, komunitas, dan tempat kerja ibu untuk memberikan perawatan yang berkesinambungan selama 1.000 hari pertama bayi.

Mempromosikan praktik perawatan kesehatan yang mendukung keberhasilan menyusui selalu menjadi fokus kita semua, terutama di bidang peningkatan kapasitas dan cakupan menyusui secara eksklusif. Sejak 2009, WABA mempromosikan Inisiatif Ramah Bayi yang Diperluas atau ‘the Expanded Baby Friendly Initiative’ (EBFHI) yang diluncurkan oleh WHO/UNICEF dan ini kemudian menjadi dasar konseptual untuk Rantai Dukungan Hangat untuk Menyusui.

Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI (The International Code of Marketing of Breastmilk Substitutes) atau Kode dibuat untuk melindungi dan mempromosikan menyusui dengan memastikan penggunaan yang tepat dari susu formula sebagai pengganti ASI bila diperlukan, dan praktik pemasaran yang etis. Untuk menghidupkan kembali dan memperkuat pemantauan berkelanjutan dan penilaian berkala terhadap Kode tersebut, Jaringan untuk Pemantauan Global atau ‘the Network for Global Monitoring and Support for Implementation of the International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes and Subsequent relevant World Health Assembly Resolutions’ (NetCode) telah mengembangkan perangkat berisi protokol, panduan, dan alat yang relevan. Salah satunya adalah untuk melindungi rantai dukungan yang hangat untuk menyusui (the warm chain of support for breastfeeding).

Pada Jumat, 28 April 2022 WHO melaporkan tingkat yang mengejutkan dari pemasaran susu formula, yang ditujukan sebagai pengganti ASI. Laporan yang merinci praktik pemasaran eksploitatif yang digunakan oleh industri susu formula bayi senilai US$ 55 miliar, menunjukkan orang tua, terutama ibu, secara diam-diam dan terus-menerus menjadi sasaran ‘marketing online’.

Laporan WHO tersebut berjudul ‘cakupan dan dampak strategi pemasaran digital untuk mempromosikan pengganti ASI’ (scope and impact of digital marketing strategies for promoting breast-milk substitutes), telah menguraikan teknik pemasaran digital yang dirancang untuk mempengaruhi keputusan yang dibuat keluarga baru, tentang cara memberi makan bayi mereka. Melalui perangkat aplikasi, kelompok pendukung virtual atau ‘klub bayi’, influencer media sosial berbayar, program promosi dan kompetisi, serta forum atau layanan konsultasi, perusahaan susu formula telah membeli atau mengumpulkan informasi pribadi, dan mengirimkan promosi yang bersifat personal kepada ibu hamil dan ibu baru.

Negara harus meningkatkan langkah yang lebih luas dalam mendukung ibu untuk menyusui secara eksklusif. Komponen aktor hangat lainnya, yaitu sistem kesehatan, tempat kerja, keluarga, dan masyarakat luas juga wajib berperan serta, dalam mendukung ibu menyusui dan mengatasi hebatnya pemasaran susu formula sebagai pengganti ASI. Susu formula adalah bagian dari produk berisiko lainnya seperti tembakau, alkohol atau barang tidak sehat yang mengutamakan omset penjualan, di atas pertimbangan kesehatan dan kesejahteraan bayi.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Artikel ini ditulis oleh: DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

🏥 Kunjungi Klinik Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)