Cara dan Alur Pelayanan Vaksin di RS Panti Rapih

RS Panti Rapih sejak Kamis, 14 Januari sudah menyediakan tempat dan melayani vaksinasi untuk tenaga kesehatan di sekitar Yogyakarta, yang mempercayakan vaksinasinya dilakukan oleh tenaga terlatih di RS Panti Rapih. Area yang disediakan untuk pelayanan vaksinasi ada di Klinik Vaksinasi COVID 19, Lantai 4 sayap timur, Gedung Rawat Jalan Terpadu, Jl Colombo Yogyakarta.

Apa yang harus disiapkan?  Untuk sementara ini, tenaga kesehatan yang sudah terdaftar dan mendapatkan sms tiket. Dimohon untuk membawa kartu pengenal diri, KTP atau sejenisnya dan bukti tiket yang sudah diprint, atau bukti SMS 1199  atau print screen tiket yang berada di dalam perangkat gadget / Hp anda, untuk dilakukan validasi atau pencocokkan  vaksinasi pada tanggal, tempat dan jam yang sudah disepakati.

Silahkan anda masuk ke Gedung Rawat Jalan Terpadu dengan tetap patuh pada protokol kesehatan yaitu selalu Memakai masker di area rumah sakit, Mencuci tangan dengan air sabun atau hand sanitizer di tempat yang sudah ditempatkan, dan Menjaga jarak satu dengan yang lain. Berjalankah dengan lift atau tangga yang sudah disediakan.

Sebelum memulai masuk klinik vaksinasi, ada baiknya anda akan diukur suhu lagi, dan disarankan untuk melakukan cuci tangan dengan handsanitizer yang telah disediakan.

Area 1  – Area Pendaftaran :  Peserta akan diverifikasi antara kartu pengenal diri, e-ticket, kartu vaksinasi dan aplikasi PCare.

Area 2 – area Skrining : Petugas akan melakukan tanya jawab dan pemeriksaan fisik sederhana untuk melihat kondisi kesehatan dan mengidentifikasi kondisi penyerta (komorbid).  Skrining dilakukan dengan menggunakan aplikasi PCare. Sasaran yang ditunda akan dijadwalkan ulang oleh system

Area 3 – Area Vaksinasi : Petugas akan melakukan vaksinasi di lengan atas secara intra muscular. Petugas akan mencatat merk/jenis, no batch vaksin yang diberikan kepada peserta

Area 4 – Area Pencatatan dan observasi : Petugas akan mencatat hasil pelayanan vaksinasi ke dalam aplikasi PCare. Sasaran akan diobservasi selama 30 menit untuk memonitor KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Petugas akan memberikan penyuluhan tentang protocol kesehatan 5M. Setelah 30 menit tidak ada kejadian KIPI, Peserta mendapatkan kartu vaksinasi dan pesan untuk 14 hari kemudian vaksin ulang yang ke 2.

Kemungkinan reaksi yang terjadi paska pemberian imunisasi COVID 19

Reaksi Lokal :

– Nyeri atau bengkak pada tempat suntikan

– Timbul area kemerahan di sekitar tempat suntik

– Abses atau benjolann pada tempat suntikan

– Pembesaran kelenjar getah bening / Limfadenitis

– Reaksi lokal lain yang berat seperti selulitis, peradangan dan kulit merah yang meluas

Reaksi Sistemik :

– Demam

– Nyeri otot seluruh tubuh

– Badan lemah

– Pusing

– Diare

Reaksi lain :

– Reaksi alergi, urtikaria, dermatitis, oedem

– Syok anafilaksis

– Sindrom Syok Toksik

– Atralgia, radang sendi

– Syncope (pingsan)

Jika kejadian ini terjadi  saat di Rumah Sakit, petugas kami, perawat dan dokter akan segera membantu memberi pertolongan untuk meredakan gejala  dan memberi rasa nyaman.  Jika gejala ini terjadi di rumah atau terjadi 28 hari, silahkan melaporkan untuk di catat dan diberikan pengobatannya, bisa di poliklinik atau IGD.

Jangan takut untuk di vaksin, vaksin ini sudah dijamin pemerintah tentang mutu dan  keamanannya. Dengan vaksin kita akan terjaga dari virus COVID, termasuk keluarga dan masyarakat serta ikut ambil bagian dalam mempercepat COVID 19 berakhir.

Materi sejenis ini pernah ditayangkan di Webinar RS Panti Rapih, Hari Rabu, 20 Januari 2021, Sosialisasi Vaksinasi COVID 19, Alur Pemberian Vaksinasi COVID-19, narasumber dr. Levina Prima R., Sp. PD

Untuk materi edukasi vaksin covid19 dapat dibuka di channel youtube RS Panti Rapih, atau pada video berikut

Bersatu Melawan COVID-19

AKU SUDAH DIVAKSIN, DAN SIAP MELAYANI

Pelaksanaan Covid di negara kita, Indonesia, sudah dimulai Rabu, tanggal  13 Januari 2021. Vaksinasi dikedepankan agar laju kesakitan dan kematian akibat COVID-19 bisa ditekan seminimal mungkin, bisa timbul kekebalan kelompok (herd imunity) untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat,  serta produktivitas perekonomian diharap akan semakin menjadi lebih baik.

Periode awal Januari 2021 ini, prioritas  vaksinasi akan dimulai pada tenaga kesehatan dahulu, secara bertahap akan disuntikkan juga kepada tenaga kerja yang berhubungan dengan masyarakat seperti polisi, TNI, petugas pemerintahan / public, kemudian lansia, masyarakat kelompok rentan, serta akhirnya ke seluruh masyarakat secara luas dan umum.

Vaksin yang disuntikkan pada periode awal ini adalah vaksin yang sudah mendapatkan Persetujuan Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM, di mana dan sudah dipastikan mencakup kriteria aspek keadaruratan, kemanfaatan yang lebih besar dari resiko, khasiat dan mutu serta keamanan dan keselamatan pengguna.

Sebagai informasi, Vaksin awal yang disuntikkan adalah vaksin produksi SINOVAC, vaksin yang berbasis inactivated virus, di mana disuntikkan di otot lengan, dan diulang 14 hari ke depan.

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta mendukung program vaksinasi yang dicanangkan oleh pemerintah dengan mempersiapkan tempat yang aman, akses / alur yang nyaman dan tenaga yang terlatih untuk melakukan vaksinasi. Tenaga kesehatan RS Panti Rapih sudah bersedia divaksin, siap divaksin, dan sudah divaksin secara bertahap.

Dengan di vaksin, kami siap melayani anda lebih optimal, sebab your safety is number one priority, keselamatan anda adalah prioritas pertama kami.

Frozen Shoulder

Apakah itu?

Frozen shoulder disebut juga adhesive capsulitis adalah gangguan berupa rasa nyeri dan kaku di area bahu kadang menjalar sampai ke lengan; lengan sangat berat saat diangkat. Kondisi ini menyebabkan terbatasnya pergerakan bahu hingga terkadang tidak dapat digerakkan sama sekali. Nyeri bisa timbul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas dan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Bahkan hanya untuk menggaruk punggung atau merogoh kantong belakang, menyisir rambut, mengaitkan tali bra, menggosok badan saat mandi penderita akan sangat kesulitan. Pada beberapa orang, gejala akan cenderung memburuk, terutama di malam hari.

Frozen shoulder umumnya muncul dan memburuk secara bertahap, serta dapat berlangsung selama 1-3 tahun. Frozen shoulder juga diketahui merupakan kondisi dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Kondisi ini ditandai dengan proses bertahap terjadinya keterbatasan pergerakan bahu secara aktif maupun pasif. Padahal, disisi lain, tidak ditemukan adanya gangguan pada pemeriksaan radiologi.

Frozen shoulder dapat berkembang ketika kita berhenti menggunakan sendi karena sakit, cedera atau kondisi kesehatan kronis. Setiap masalah bahu dapat menyebabkan frozen shoulder jika tidak melatih lingkup gerak sendi.

Gejala frozen shoulder umumnya berkembang perlahan dalam tiga tahapan, yang setiap tahapannya bisa berlangsung selama beberapa bulan, yaitu

  1. Tahap pertama atau freezing stage yaitu bahu mulai terasa nyeri tiap digerakkan dan pergerakan bahu mulai terbatas. Periode ini bisa berlangsung 2-9 bulan.
  2. Tahap kedua atau frozen stage yaitu nyeri mulai berkurang, namun bahu menjadi semakin kaku atau tegang sehingga sulit digerakkan. Periode ini bisa berlangsung selama 4 bulan hingga 1 tahun.
  3. Tahap ketiga atau stawing stage yaitu gerakan bahu mulai membaik. Tahap ini umumnya terjadi dalam 1 hingga 3 tahun.

 

Apa penyebab frozen shoulder?

Bahu memiliki kapsul pelindung berupa jaringan yang saling berhubungan. Kapsul ini melindungi tulang, ligamen dan tendon pada bahu. Frozen shoulder terjadi karena jaringan parut membuat kapsul pelindung menebal dan menempel di sekitar sendi bahu, sehingga membatasi pergerakan bahu. Namun demikian, belum diketahui apa yang menyebabkan jaringan parut tersebut terbentuk. Penyebabnya kemungkinan karena tidak bergerak untuk waktu yang lama, seperti cedera, setelah operasi, atau patah lengan. Frozen shoulder juga lebih mungkin terjadi pada orang yang mengidap diabetes.

Beberapa kondisi yang bisa meningkatkan faktor resiko frozen shoulder:

  1. Usia: orang berusia 40 th atau lebih tua, terutama wanita lebih rentan terhadap frozen shoulder.
  2. Bahu tidak digerakkan/immobilisasi: terlalu lama istirahat di tempat tidur karena cedera bahu, berkurangnya mobilitas sendi bahu karena cedera, patah lengan, stroke, pasca operasi.
  3. Punya penyakit lain seperti diabetes, masalah kelenjar thyroid, TBC, parkinson atau stroke
  4. Trauma, misalnya karena pembedahan pada bahu, robekan tendon atau patah tulang lengan atas.

Bagaimana pengobatan frozen shoulder?

Penderita frozen shoulder umumnya diobati dengan fisioterapi, yang bertujuan untuk meregangkan otot bahu dan mengembalikan jangkauan gerakan lengan. Selama sesi fisioterapi dapat dilakukan TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation).  Apa itu TENS? TENS adalah terapi yang dilakukan dengan mengantarkan arus listrik kecil melalui elektroda yang ditempelkan pada kulit. Arus listrik tersebut akan merangsang pelepasan molekul penghambat nyeri (endorfin) sehingga menghalangi timbulnya nyeri. Fisioterapis biasanya juga akan memberikan latihan-latihan yang akan membantu untuk mengurangi nyeri dan menambah luas jangkauan gerak sendi bahu. Prinsip latihan untuk nyeri bahu adalah dengan selalu berusaha menggerakkan lengan meski sedang dalam proses pemulihan. Selalu gerakkan lengan meskipun gerakan terbatas tetapi jangan dengan beban. Hindari cedera dan menghindari aktifitas yang membebani sendi bahu secara berlebihan agar tidak memperberat keluhan. Latihan mandiri juga dapat dilakukan di rumah. Untuk meredakan nyeri bisa juga dilakukan kompres dingin saat di rumah. Pasien dapat meletakkan kompres dingin pada bahu selama 10 menit, beberapa kali dalam sehari. Selain fisioterapi, dokter biasanya akan memberikan obat pereda nyeri yang berguna untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Bila diperlukan, dokter akan memberi suntikan kortikosteroid langsung pada bahu.

Kunci untuk pemulihan frozen shoulder adalah mempertahankan gerakan bahu. Fisioterapi dan latihan di rumah dapat membantu mengurangi rasa sakit dan mempertahankan gerakan lengan.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: Arie Widuri, AMF  (Fisioterapis  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk!

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD (Dokter  Bedah Konsultan Bedah Digestif  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Mengetahui 5 Pilar Pengelolaan Dermatitis Atopic

Menggaruk-garuk saat gatal adalah suatu yang nyaman tapi akan beresiko pada penampilan kulit kita, jika kita menggaruknya berlebihan akan menimbulkan luka dan bekas pada kulit. Kulit jadi tak menarik karena timbul ruam merah, bersisik, berdarah, nanah juga koreng. Gatal-gatal juga akan mengganggu kita saat melakukan aktifitas kerja dan saat istirahat tidur, sehingga kualitas tidur kita tak optimal. Dermatitis Atopic (eksim) ini bisa terjadi pada semua usia dari bayi hingga dewasa.

Dermatitis Atopik adalah salah satu jenis dermatitis kulit yang ditandai kulit yang memerah, kering, bersisik dan pecah-pecah akibat adanya peradangan kulit yang berlangsung lama – kronis di area pipi, kulit kepala dan area lipatan di tangan, selangkangan dan kaki. Penyebabnya bisa diakibatkan oleh keturunan, lingkungan, imunologi-alergi, stress dan infeksi.

Cara mencegah agar tidak bertambah parahnya Dermatitis Atopic adalah dengan memahami 5 pilar pengelolaan, yaitu:

  1. Pendidikan akan pengetahuan dermatitis atopic yang benar
  2. Mengubah gaya hidup agar tidak memicu factor pencetusnya seperti alergi, stress atau lingkungan
  3. Menjaga dan merawat kulit agar tetap segar, sehat dan cantik ; kebersihan diri dan lingkungan dan makanan yang tidak menyebabkan alergi kulit seperti ; kacang-kacangan, telur, safood dll
  4. Penanganan peradangan kulit dengan mencegah kulit kering dengan pelembab kulit ataupun pemberian obat–obat topical kulit golongan kortikosteroid sesuai dengan rekomendasi dokter umum atau dokter spesialis kulit
  5. Mengontrol dan mengurangi dengan sadar untuk tidak menggaruk saat gatal

Pengelolaan Dermatitis Atopik dengan menggunakan obat-obatan baik obat minum atau zalf-oles agar memberikan hasil yang optimal, sebaiknya pasien paham dan patuh mengenai :

  1. Dosis pengobatan yang tepat
  2. Frekuensi pengobatan
  3. Bagaimana meningkatkan dan menurunkan pengobatan
  4. Pengobatan jika eksim menjadi lebih parah

Biasakan pada saat mandi untuk mengevaluasi kulit anda dari rambut kepala sampai ujung kaki, kenalilah perubahan kulit yang terjadi, sekiranya semakin bertambah tidak nyaman, segeralah konsultasi ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Materi sejenis ini pernah ditayangkan di Webinar RS Panti Rapih, Hari Sabtu, 19 Desember 2020, Corticosteroids : Use Benefit, Harm, Recent Developments in Atopic Dermatitis, narasumber dr. Radijanti Anggraheni, Sp.KK

Artikel video tentang kesehatan kulit dengan judul Mengenal Lebih Dekat Tentang Jerawat, Flek dan Pigmentasi dapat Anda kunjungi di link berikut. Kunjungi.

Kunjungi Klinik Estetika Lucia untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan kulit dan rambut.

Jantung Anak

Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 September. Bertujuan untuk menciptakan sebuah komunitas global pahlawan jantung (Heart Heroes). Pahlawan ini adalah setiap orang dari semua lapisan masyarakat, yang bertindak untuk hidup lebih lama, lebih nyaman dan lebih baik, karena memiliki jantung yang lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat berbagai janji. Pertama, janji untuk keluarga kita masing-masing, yaitu akan memasak dan makan yang lebih sehat. Kedua janji untuk anak, yaitu akan mendampingi berolahraga lebih banyak dan lebih aktif, untuk mengatakan tidak kepada rokok dan membantu orang yang kita cintai untuk berhenti. Ketiga janji sebagai seorang profesional kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok dan menurunkan kadar kolesterol. Semuanya adalah sebuah janji sederhana untuk jantung kita.

Penyakit jantung terutama karena pola hidup yang tidak sehat adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini, tetapi pada bayi dan anak sedikit berbeda. Dr. Nikmah Salamiah, SpA (K), PhD dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap insan, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak. Sayangnya, 7 hingga 8 bayi per 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan struktur tersebut dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut dengan PJB biru (sianotik), yaitu jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB. Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter (non-bedah).

Sejauh ini, penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Paparan rokok saat kehamilan (baik ibu perokok aktif maupun pasif), konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat Ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

Nyeri dada adalah keluhan klinik tersering yang terkait dengan kelainan jantung, biasanya dipicu atau bertambah berat dengan aktivitas fisik (exertional chest pain), disertai keluhan jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur. Anak agak besar sering melaporkan sebagai nyeri seperti ditekan, atau terdapat beban di atas dada dan mungkin menjalar, atau diikuti gejala pingsan atau hampir pingsan, dan pusing yang disertai mata berkunang-kunang. Untuk menyingkirkan kelainan jantung, pada umumnya dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung (elektrokardiografi atau EKG) dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis, untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2019 mengingatkan kita, akan peran besar para pahlawan jantung (Heart Heroes), termasuk untuk Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A (Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kenali Penyebab Demam Berdarah Dengue pada Anak

Demam berdarah dengue (DBD) masih jadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Kasus DBD meningkat di berbagai daerah khususnya di wilayah DIY. Ini artinya, orang tua diharapkan dapat lebih waspada untuk dapat mengenali tanda dan gejala penyakit ini.

DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Infeksi virus ini dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut. Secara teoritis, seseorang dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, karena virus ini mempunyai empat serotipe.

Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi dan bersifat terus menerus, hal ini yang sering kali dikuatirkan orangtua karena demam sulit turun meskipun sudah diberikan penurun panas.

Fase ini biasanya berlangsung selama 3-5 hari yang disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, serta kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing).

Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual dan muntah sering ditemukan. Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan DBD maupun antara penyakit berat dan tidak berat.

Bila dicek di laboratorium, biasanya terlihat penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan jumlah trombosit dan nilai hematrokit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal.

Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4 sampai ke-6. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan kondisi perburukan sampai kematian. Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Mendadak Dingin

Pada fase ini, badan terutama pada ujung lengan dan kaki mendadak dingin dan terlihat lemas. Hal ini merupakan bentuk tanda syok. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit (kekentalan darah) yang nyata.

Fase ini terjadi pada saat tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal. Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan.

Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

Fase pemulihan berlangsung secara bertahap 24-48 jam setelah melalui fase kritis, biasanya terjadi pada hari ke-7. Keadaan umum dan nafsu makan mulai membaik, evaluasi laboratorium mulai terjadi perbaikan, hematokrit (kekentalan darah) mulai stabil dan jumlah trombosit mulai terjadi peningkatan secara bertahap. Pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam (kemerahan) di tangan dan kaki yang akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan mengenali gejala-gejala tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami salah satu atau lebih dari gejala tersebut.

Pencegahan

DBD dapat dicegah dengan penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti-nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan jentik nyamuk di bak mandi, penyemprotan cairan insektisida (fogging), dan gerakan 3M (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi). Pada prinsipnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Maria Rulina YA, M.Sc., Sp.A (Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kusta / Lepra

Kusta atau lepra adalah suatu penyakit infeksi kronik menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae atau M.leprae, dan menyerang kulit, selaput lendir  serta syaraf tepi. Penanganan yang buruk pada kasus kusta dapat menyebabkan kusta menjadi progresif sehingga terjadi kerusakan permanen pada kulit, syaraf dan mata,yang dapat menyebabkan berbagai masalah kompleks, baik medis, psikologis, sosial dan budaya.

Penyakit kusta atau lepra diperkirakan sudah mulai dikenal sejak 300 tahun sebelum masehi dengan ditemukannya bukti-bukti dari peninggalan sejarah kuno Mesir, India, Tiongkok dan Mesopotamia serta tertulis dalam kitab-kita keagamaan, di mana penderita diasingkan atau mengasingkan diri. Di abad pertengahan dibangunlah tempat-tempat pengasingan penderita kusta atau lepra yang disebut Leprosaria. Hingga akhirnya, di jaman modern, Gerhard A. Hansen menemukan Mycobacterium leprae sebagai penyebab penyakit kusta atau lepra ini.

Gejala yang timbul pada penderita kusta atau lepra sangat bervariasi/ dapat menyerupai berbagai gangguan kulit yang lain. Gejala dan tanda yang utama adalah adanya bercak merah atau putih yang berkurang rasa/mati rasa. Bila terjadi kerusakan syaraf, akan menimbulkan mati rasa disertai dengan kelemahan otot. Komplikasi lebih lanjut meliputi gangguan di mata, tulang, otot dan jaringan lainnya, dengan deformitas (gangguan bentuk) dan disabilitas. Facies leonina/wajah singa terjadi karena terbentuknya banyak lipatan akibat dari infiltrasi/timbunan kuman pada kulit wajah.

Diagnosis penyakit kusta atau lepra, ditegakkan berdasarkan tanda kardinal :

  1. Gejala klinis yang khas (ujud kelainan kulit dan gangguan sensorik/mati rasa)
  2. Pembesaran syaraf
  3. Usap/kerokan kulit dengan temuan BTA (bakteri tahan asam) +

Cara penularan belum diketahui secara pasti. Berdasarkan asumsi klasik, yaitu kontak langsung antara kulit dan kulit atau melalui udara yang dihisap (inhalasi). Masa inkubasi berkisar 40 hari hingga 40 tahun, dengan rata-rata 2 – 5 tahun. Penyakit kusta atau lepra bukanlah penyakit keturunan.M. Leprae dapat ditemukan di kulit, akar rambut, kelenjar keringat dan ASI. Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya penyakit kusta adalah patogenesis kuman, cara penularan, kondisi sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang terkai dengan kerentanan, perubahan kekebalan tubuh dan kemungkinan reservoir di luar manusia (binatang armadillo).

Penyakit kusta atau lepra diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu :

  1. Pausibasiler (PB)

Didapatkan 2 – 5 bercak putih atau merah di kulit, asimetris, dengan hilang/mati rasa dan disertai kerusakan satu serabut syaraf.

  1. Multibasiler (MB)

Didapatkan lebih dari 5 bercak, penyebaran lebih simetris, disertai hilang/mati rasa dan disertai kerusakan banyak serabut syaraf.

Pengobatan pada penyakit kusta atau lepra disebut MDT (Multi Drug Therapy) atau kombinasi yang terdiri dari Rifampisin, Klofasimin dan Dapson, (telah tersedia dalam kemasan dosis per bulan) serta Ofloksasin atau Minoksiklin. MDT tersedia dalam 2 kemasan berbeda, sesuai golongan penyakit kusta, MB dan PB. Untuk kusta MB, penderita diharuskan minum 12 dosis dalam waktu 12 – 18 bulan, sedangkan untuk kusta PB, penderita diharuskan minum 6 dosis dalam waktu 6 – 9 bulan. Penderita dinyatakan sembuh, apabila sudah menyelesaikan jumlah dosis dalam waktu yang telah ditentukan berdasarkan golongan kustanya, meski pun masih ada gejala sisa.

Pada penyakit kusta atau lepra, dikenal suatu kondisi yang disebut sebagai reaksi. Reaksi lepra adalah suatu episode aktivitas penyakit yang meningkat secara mendadak, berupa hipersensitivitas akut terhadap antigen M. Leprae, oleh karena adanya gangguan pada keseimbangan imunologis/perubahan status imunitas penderita. Keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan syaraf dan kecacatan. Terdapat 2 macam reaksi lepra :

  1. Reaksi tipe 1 (reaksi reversal)
  • Bercak kulit memerah dan bengkak
  • Nyeri dan bengkak pada serabut syaraf
  • Tanda kerusakan syaraf : Mati rasa dan lemah otot
  • Demam dan malaise (lemah, letih, lesu)
  • Bengkak pada kaki & tangan
  1. Reaksi tipe 2 (eritema nodosum leprosum)
  • Benjolan-benjolan merah dan nyeri di kulit
  • Demam, nyeri sendi dan malaise
  • Terkadang disertai nyeri dan bengkak di serabut syaraf
  • Gangguan di mata

Gejala sisa atau kecacatan yang dapat timbul pada penyakit kusta atau lepra, meliputi kondisi impairment (kerusakan struktur dan fungsi psikologis, fisiologis dan anatomis), disability (keterbatasan untuk melakukan kegiatan sehari-hari) dan handicap (ketidakmampuan yang membatasi kehidupan dalam masyarakat dan pekerjaan). Kecacatan tersebut mengenai tangan atau kaki dalam bentuk mati rasa, dengan atau tanpa deformitas (gangguan bentuk) atau kerusakan, dan pada mata berupa gangguan penglihatan, peradangan, lagoftalmus, dsb.

Kusta atau lepra masih memiliki stigma negatif di masyarakat dan kalangan petugas kesehatan sendiri. Hal ini karena kurangnya pengetahuan atau pemahaman serta keyakinan yang salah tentang kusta dan cacat yang diakibatkan. Mari hapus stigma dan hilangkan diskriminasi pada penderita kusta. Kita dukung dan wujudkan Indonesia eliminasi Kusta di tahun 2021.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Radijanti Anggraheni, Sp.KK (Dokter Spesialis Kulit Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Nyeri Kepala

Nyeri kepala adalah salah satu jenis nyeri yang sering dirasakan dan membuat seseorang mencari pertolongan medis atau pengobatan. Masyarakat menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk menyebut nyeri kepala, seperti: pening, pusing, cekot-cekot, kliyengan, dll. Deskripsi dari nyeri kepala yang dirasakan sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan menentukan pengobatan karena setiap jenis nyeri kepala memiliki karakteristik dan pengobatan yang berbeda.

Jenis Nyeri Kepala

Secara garis besar, nyeri kepala dapat dibedakan menjadi nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. Nyeri kepala primer adalah jenis nyeri kepala yang lebih sering dijumpai. Nyeri kepala primer meliputi nyeri kepala tipe tegang/tension type headache, migraine, dan nyeri kepala tipe kluster. Karakteristik dari nyeri kepala tipe tegang adalah sensasi kencang atau tegang pada seluruh kepala, terkadang menjalar ke tengkuk, dan nyeri yang dialami tidak diperberat dengan aktivitas fisik. Nyeri kepala pada migraine sering kali terjadi pada satu sisi kepala, diperberat dengan aktivitas fisik, dapat disertai keluhan lain seperti mual, muntah, dan lebih sensitif terhadap cahaya atau suara (mudah merasa silau atau bising). Nyeri kepala tipe kluster muncul pada satu sisi di area sekeliling mata atau wajah dan dapat disertai keluhan lain seperti mata berair dan merah, kelopak mata bengkak, hidung tersumbat, atau wajah berkeringat. Derajat nyeri pada tipe kluster ini sering kali berat hingga sangat berat sehingga pasien akan tampak tampak kesakitan dan gelisah.Nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang muncul akibat adanya penyakit lain yang mendasari, seperti infeksi otak, tumor otak, perdarahan otak, sumbatan pembuluh darah otak (trombosis vena serebral), dan peradangan pembuluh darah arteri (temporal arteritis). Karakteristik nyeri kepala sekunder akan berbeda-beda, menyesuaikan dari penyakit yang mendasari.

Apakah Nyeri Kepala Berbahaya?

Pada umumnya, nyeri kepala tidak berbahaya dan dapat ditangani dengan mudah. Namun, ada beberapa tanda dan gejala yang menjadi red flags atau tanda bahaya pada nyeri kepala, yaitu: keluhan nyeri kepala yang amat hebat yang pernah dirasakan, nyeri kepala di pagi hari yang persisten dan disertai mual, nyeri kepala pada pasien dengan riwayat penurunan imunitas tubuh (infeksi HIV) atau dengan riwayat kanker, nyeri kepala progresif/semakin lama semakin memberat, nyeri kepala yang pertama kali dirasakan pada usia lanjut (>50 tahun), dan nyeri kepala yang disertai dengan gangguan fungsi saraf lain, contoh: kelemahan anggota gerak. Apabila seseorang mengalami nyeri kepala dengan tanda dan gejala seperti tersebut di atas, maka diperlukan pemeriksaan dan penanganan khusus.

Penanganan Nyeri Kepala

Nyeri kepala sering kali terjadi berulang. Apabila tidak ditangani dengan baik, nyeri kepala dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penanganan nyeri kepala berbeda-beda tergantung dari jenis nyeri kepala yang dialami. Penanganan ini meliputi penanganan dengan obat dan tanpa obat. Nyeri kepala tipe tegang dapat diatasi dengan pemberian obat golongan anti inflamasi non steroid seperti asam mefenamat, ibuprofen, dan ketoprofen. Relaksasi dengan meditasi, pijat, dan akupunktur juga dapat dilakukan untuk mengatasi sekaligus mencegah nyeri kepala tipe tegang. Pada serangan migraine akut, obat sumatriptan, ergotamin, dan anti inflamasi non steroid menjadi pilihan. Pemberian oksigen adalah salah satu hal yang harus diberikan pada nyeri kepala tipe kluster dengan ditambah dengan pemberian obat sumatriptan atau ergotamin. Penanganan nyeri kepala sekunder akan menyesuaikan dengan penyakit yang mendasari.

Nyeri kepala adalah hal yang dapat terjadi pada siapapun tanpa memandang usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan status sosial. Nyeri kepala, terutama pada nyeri kepala berulang atau nyeri kepala dengan red flags, memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kenali jenis nyeri kepala yang Anda alami. Diagnosis yang tepat akan membawa pada penanganan yang tepat.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Penanganan Demam pada Anak di masa COVID-19

Anak dengan kondisi tak fit, cuaca yang ekstrem dan adanya pencetus mempermudah anak menjadi sakit influenza terlebih demam. Demam ini jika di tambah dengan adanya penurunan daya tubuh di masa COVID, akan mempermudah timbulnya kejang demam atau komplikasi infeksi organ tubuh terlebih jika ada riwayat sakit asma atau alergi.

Demam adalah kondisi suhu panas tubuh melebihi angka normal, bayi 36,5-37,5 C sedang anak 36,0-37,0 C di thermometer suhu. Penyebab demam sangat banyak dari non infeksi seperti tumbuh gigi, paska infeksi, dehidrasi, dll, infeksi oleh virus, bakteri, parasit dll juga penyebab tidak jelas karena terganggunya komunikasi anak, hanya rewel, , menangis terus. Pola demam dan tanda /gejala lain yang menyertai akan membantu menegakkan diagnosa penyakit pada anak.


Pastikan anak diukur suhu dengan benar menggunakan thermometer suhu tubuh, bisa di ketiak, di mulut di bawah lidah, di anus atau dengan sensor di telinga atau infra merah di dahi. Pertolongan pertama adalah pastikan anak mendapatkan cairan yang cukup, kompres dengan air hangat / gel plester kompres di dahi dan bagian lipatan tubuh, longgarkan pakaian agar lebih nyaman jika panas tinggi, berikan obat penurun panas sesuai dosis dan umur, jika panas tidak ada perubahan lebih 2 hari, sebaiknya bawa segera ke dokter terlebih jika panas lebih dari 39 C, dan ada tanda gejala kejang demam atau kegawatan lain seperti mulai tidak sadar dan ada gangguan nafas.
Harapannya di masa COVID ini, anak perlu diperhatikan kesehatannya dengan membandingkan perilaku kesehariannya, cukup makan minum yang bergizi, gerak yang cukup aktif, jika perlu diberikan suplemen vitamin tambahan


Materi sejenis ini pernah ditayangkan di Webinar RS Panti Rapih, Hari Jumat, 18 Desember 2020, Penanganan Demam pada Anak di Era Pandemi COVID-19, narasumber dr. Maria Rulina Y.A.,M.Sc.,Sp. A

Dapat dibuka di link Youtube