Peran Terapi Erythropoietin (EPO) Pada Tata Laksana Anemia Penyakit Ginjal Kronik

Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa dalam tubuh serta memiliki fungsi hormonal contohnya pengaturan tekanan darah oleh renin dan eritropoesis atau keseimbangan oksigen oleh eritropoetin (Daugirdas, 2001). Anemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronik disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab primernya adalah defisiensi hormon eritropoetin. Sedangkan penyebab sekundernya antara lain adalah defisiensi nutrisi (besi, asam folat, dan vitamin B12), peradangan, dan terganggunya kerja sumsum tulang. Selain itu, anemia pada pasien penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan beberapa hal yang merugikan bagi pasien antara lain meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler (K/DOQI National Kidney Foundation, 2006).

Menurut Konsensus Perkumpulan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) tahun 2011, tujuan tata laksana anemia pada penyakit ginjal kronik adalah meningkatkan hemoglobin (Hb) sehingga menurunkan kebutuhan transfusi darah, menghilangkan gejala yang ditimbulkan dari anemia, mencegah komplikasi kardiovaskuler, menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat anemia, dan meningkatkan kualitas hidup. Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah dengan penggantian produksi endogenous erythropoietin (EPO) yang tidak mencukupi. Pasien yang mendapatkan perhatian pada terapi EPO adalah  pasien dengan hipertensi tak terkendali (sistolik ³180 mmHg, diastolik ³ 110 mmHg), hiperkoagulasi, dan beban cairan berlebih. Kontra indikasi untuk terapi EPO adalah pasien yang hipersensitif terhadap EPO.

Jika anda mengalami gangguan kesehatan, segera konsultasikan kesehatan anda ke dokter RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh: Dra. A.M. Wara Kusharwanti, M.Si.,Apt, Chr. Asri Wulandadari, S.Farm.,Apt, M.Wulan Kurniasari, S.Farm.,Apt

Manfaat Kesehatan Jalan Kaki

Untuk menjaga kesehatan tubuh, jalan kaki merupakan salah satu kegiatan fisik yang disarankan, terutama di pagi hari karena pada saat tersebut udara masih segar, tidak ada polusi, tidak panas dan jalanan tidak macet. Namun sayangnya dengan berbagai alasan, sebagian besar diantara masyarakat kita masih banyak yang jarang melakukannya, misalnya saja karena susah bangun pagi, malas, dan sebagainya.

Ada sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa olahraga jalan kaki bisa memberikan banyak manfaat kesehatan selama dilakukan setidaknya 20 hingga 25 mil dalam 1 minggu, dimana mereka yang melakukannya cenderung memiliki usia yang lebih lama jika dibandingkan dengan mereka yang jarang berjalan kaki.

Berikut ini adalah Manfaat Kesehatan Jalan Kaki, diantaranya :

  • Mencegah osteoporosis

Untuk menjaga kesehatan tulang, tubuh tidak hanya membutuhkan vitamin D dan kalsium namun juga gerakan kaki yang dilakukan setidaknya 1.000 langkah dalam setiap hari dan tubuh yang terkena sinar matahari setidaknya 15 menit dalam setiap harinya. Bilamana anda rutin berjalan kaki maka tulang anda akan memiliki resiko yang kecil untuk terkena masalah osteoporosis.

  • Menguatkan otot

Ketika anda berjalan kaki, badan dan otot anda akan bergerak yang bisa memperkuat otot paha, kaki dan bokong.

  • Menurunkan Berat badan

Seseorang yang memiliki berat badan yang berlebihan selain bisa merusak penampilan tubuh juga bisa meningkatkan resiko yang tinggi untuk terkena penyakit. Untuk mencegah masalah tersebut anda bisa membiasakan diri untuk berjalan kaki setiap pagi dimana kebiasaan ini bisa membakar kalori.

  • Melancarkan sirkulasi darah

Ketika anda berjalan kaki, detak jantung anda akan berdetak lebih cepat yang akan memompa darah ke seluruh tubuh sehingga akibatnya akan membuat sirkulasi darah dalam tubuh tetap terjaga dengan baik.

  • Mengontrol gula darah

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Medical Association menyebutkan bahwa sering melakukan latihan jalan kaki setiap pagi hasilnya akan meningkatkan kemungkinan untuk menjaga kestabilan gula darah dalam tubuh.

  • Menjaga kesehatan jantung

Bila anda ingin supaya kesehatan jantung anda tetap terjaga dengan baik maka anda bisa mulai membiasakan diri untuk berjalan kaki setiap hari. Kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi disebutkan bisa mencegah serangan jantung. Dengan demikian anda tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk menjaga kesehatan jantung karena anda bisa melakukannya dengan hanya memiliki kebiasaan berjalan kaki.

  • Menyehatkan paru-paru

Berjalan kaki dengan irama yang cepat disebutkan baik untuk kesehatan fungsi organ paru-paru, terutama ketika dilakukan di pagi hari dimana udara masih segar dan masih bebas dari asap polusi.

  • Mencegah Diabetes

Dengan terjaganya kadar gula darah dalam tubuh maka secara tidak langsung akan mencegah resiko penyakit diabetes. Menurut hasil penelitian dari National Institute of Diabetes and Gigesive and Kidney Diseases, disebutkan bahwa berjalan kaki dengan kecepatan 6 km/ jam dan dilakukan selama 50 menit saja bisa menekan resiko penyakit diabetes.

  • Menurunkan Tekanan Darah

Berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi bisa membuat tekanan darah menjadi turun dan bisa mengurangi tingkat kepekatan darah.

Dengan demikian kebiasaan berjalan kaki bisa mencegah terjadinya penggumpalan darah yang bisa menyebabkan pembuluh darah menjadi tersumbat.

  • Menurunkan Kolesterol

Ketika anda berjalan kaki di pagi hari maka jenis kolesterol yang baik akan berfungsi sebagai penyerap jenis kolesterol yang jahat.

  • Mencegah Stroke

Dalam hasil penelitian yang terbaru disebutkan bahwa memiliki kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setidaknya 20 jam dalam 1 minggu bisa menurunkan resiko penyakit stroke sebanyak 2-3 kali. Dengan demikian wajar saja jika orang-orang pada jaman dahulu jarang ada yang memiliki penyakit stroke karena di masa tersebut sebagian besar masyarakat memiliki kebiasaan berjalan kaki ketika bepergian kemana-mana.

  • Menjaga kebugaran dan Kekebalan Tubuh

Memiliki kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setidaknya 3 kali dalam 1 minggu bisa meningkatkan kebugaran tubuh dan menjaga sistem pernapasan yang pada akhirnya bisa menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit.

  • Meningkatkan metabolisme tubuh

Seseorang yang terbiasa berjalan kaki setiap pagi cenderung memiliki peningkatan terhadap metabolisme meskipun dirinya tidak bergerak.

  • Membakar lemak dalam tubuh

Berjalan kaki setidaknya 20 menit dalam setiap harinya disebutkan bisa membakar setidaknya 7 pounds lemak dalam tubuh.

  • Membantu Otak melepaskan hormon endorfin

Endorfin merupakan hormon yang mengandung senyawa kimia yang bisa memicu seseorang untuk merasa bahagia. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituitary yang letaknya berada di bagian bawah otak. Endorfin disebutkan bisa memberikan efek yang setara dengan 200 kali dari efek yang diberikan oleh morfin, yaitu menimbulkan perasaan bahagia, nyaman dan memberikan energi tambahan.

  • Meningkatkan kekuatan konsentrasi

Dengan berjalan kaki maka anda akan menjadi lebih waspada sehingga akan mengoptimalkan kekuatan otak untuk semakin berkonsentrasi.

  • Seperti Melakukan Meditasi

Berjalan kaki yang dilakukan di pagi hari bisa memberikan manfaat yang setara dengan yoga dimana angin segar yang mengenai tubuh akan mengeluarkan energi positif dan bisa menghilangkan masalah yang berhubungan dengan mental, misalnya depresi.

  • Mencegah Pikun

Seseorang yang sudah memasuki usia lanjut di atas 65 tahun memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mudah mengalami pikun. Kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi bisa mengurangi resiko pikun sebesar 40% dan bahkan bisa menjaga fungsi otak.

  • Menjaga kualitas tidur yang baik

Penelitian yang dilakukan oleh Fred Hutchison Cancer Research Center di Seattle, menyebutkan bahwa olah raga yang dilakukan pada pagi hari seperti berjalan kaki bisa meningkatkan kemungkinan untuk tidur nyenyak pada malam hari.

Dengan demikian berjalan kaki bukan hanya suatu kegiatan interaksi serta aktivitas yang bisa mengantarkan anda ke suatu tempat tujuan, namun juga bisa membantu menjaga kesehatan.

 

Reaksi Transfusi

Reaksi transfusi adalah kejadian tidak diinginkan yang terjadi pada saat atau setelah transfusi. Reaksi transfusi untuk sebagian besar terjadi selama transfusi berlangsung atau sesaat sesudahnya, sedangkan sebagian lagi mamakan waktu lebih lama, dengan gejala-gejala yang tidak nyata dan efek terapeutik yang diharapkan tidak tercapai.

Berdasarkan waktu timbulnya gejala, reaksi transfusi dibedakan menjadi reaksi transfusi segera dan tertunda.

  • Reaksi transfusi segera adalah reaksi transfusi dengan gejala yang timbul selama transfusi sampai kira-kira 2 jam sesudahnya.
  • Reaksi transfusi tertunda apabila gejalanya timbul beberapa lama setelah transfusi selesai yaitu mulai dari beberapa hari, bulan sampai beberapa tahun berikutnya.

 

Pedoman untuk penegakan diagnosis dan penatalaksanaan reaksi transfusi yang segera.

Kategori 1 : Reaksi Ringan

  • Ditandai dengan reaksi kulit yang terbatas yaitu urtikaria atau ruam.
  • Gejalanya adalah pruritus atau gatal-gatal dengan kemungkinan penyebab hipersensitivitas (ringan).

Penatalaksanaan segera:

  • Perlambat transfusi.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen).
  • Jika dalam waktu 30 menit tidak tampak perbaikan klinis atau bila tanda dan gejalanya memburuk, lakukan penanganan seperti kategori 2.

 

Kategori 2 : Reaksi yang cukup berat

  • Ditandai dengan flusing, urtikaria, rigor, febris, gelisah dan takikardia.
  • Gejalanya adalah kecemasan, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan sakit kepala.
  • Kemungkinan penyababnya hipersinsitivitas (sedang-berat); reaksi transfusi febris non hemolitik (antibodi terhadap sel darah putih atau trombosit, antibodi terhadap protein termasuk Ig A) ; kemungkinan kontaminasi dengan pirogen dan/atau bakteri.

Penatalaksanaan segera:

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan dengan tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen) dan berikan preparat antipiretik oral atau rektal (misalnya parasetamol 10 mg/kg : 500 mg – 1 g pada pasien dewasa). Hindari pemakaian aspirin pada pasien yang mengalami trombositopenia.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Kumpulkan urin selama 24 jam berikutnya untuk bukti hemolisis dan kirimkan sampel urin tersebut ke laboratorium.
  • Jika terjadi perbaikan klinis, mulailah kembali transfusi secara perlahan-lahan dengan unit darah yang baru dan lakukan observasi yang cermat.
  • Jika tidak terjadi perbaikan dalam waktu 15 menit atau jika tanda dan gejalanya bertambah, lakukan penanganan seperti kategori 3.

 

Kategori 3 : Reaksi yang mengancam jiwa pasien

  • Ditandai dengan rigor, febris, gelisah, hipotensi (penurunan tekanan darah sistolik sebesar 20 %), takikardia (kenaikan frekwensi jantung sebesar 20%), hemoglobinuria (urin berwarna merah), perdarahan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (DIC).
  • Gejalanya adalah kecemasan, nyeri dada, nyeri di dekat tempat transfusi, gawat pernafasan/ sesak nafas, nyeri pada pinggang/punggung, sakit kepala, dipsnea.
  • Kemungkinan penyebabnya adalah hemolisis akut intravaskular, kontaminasi bakteri dan syok septik, kelebihan muatan cairan, anafilaksis, cidera paru akut yang berkaitan dengan cidera.

 

Penatalaksanaan segera :

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Berikan infus larutan salin normal (dosis inisial 20 – 30 ml/kgBB) untuk mempertahanankan tekanan darah sistolik. Jika pasien mengalami hipotensi, berikan infus tersebut selama lima menit dan tinggikan kedua tungkai pasien.
  • Pertahankan saluran nafas pasien dan berikan oksigen dengan kecepatan aliran yang tinggi lewat masker oksigen.
  • Suntikan adrenalin (dalam bentuk larutan 1 : 1000) dengan takaran 0,01 mg/kgBB secara intramuskular.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Berikan preparat diuretik: misalnya furosemid 1 mg / kgBB IV atau preparat yang ekuivalen.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin yang harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) yang diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan denban tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Lakukan pengecekan terhadap spesimen urin yang baru untuk menemukan tanda-tanda hemoglobinuria.
  • Mulai pengumpulan urin 24 jam dan mengisi kartu keseimbangan cairan serta mencatat semua asupan serta keluaran urin.
  • Pertahankan keseimbangan cairan.
  • Perhatikan perdarahan yang terjadi pada tempat tusukan atau luka. Jika terdapat bukti klinis atau laboratorium yang menunjukkan koagulasi intravaskular disseminata (DIC), berikan preparat konsentrat trombosit (disis dewasa 12 unit) atau plasma beku segar (dosis dewasa 3 unit).
  • Lakukan pengakajian ulang, jika pasien dalam keadaan hipotermia:
    • Ulangi pemberian infus larutan salin dengan takaran 20 – 30 ml / kgBB dalam waktu 5 menit.
    • Berikan inotrope jika preparat ini tersedia.
  • Jika keluaran urinnya menurun atau pemeriksaan laboratorium membuktikan adanya gagal ginjal akut (kadar kalium, ureum dan kreatinin meningkat):
    • Pertahankan keseimbangan cairan secara akurat.
    • Ulangi suntikan furosemid.
    • Pertimbangkan pemberian dopamin jika preparat ini tersedia.
    • Mintalah bantuan dokter spesialis karena pasien mungkin memerlukan dialisis renal.
  • Jika terdapat kecurigaan bakterimia (gejala rigor/menggigil, febris, kolap tanpa adanya bukti reaksi hemolitik), mulailah menyuntikan antibiotik berspektrum luas secara IV.

Beberapa penyakit yang dapat ditularkan lewat transfusi meliputi :

  • Hepatitis B
  • Hepatitis C
  • HIV/AIDS
  • Syphilis
  • Malaria
  • CMV
  • Epstein-Barr virus
  • Filariasis
  • Toxoplasmosis
  • Infeksi bakteri lainnya

 

Artikel ini ditulis oleh: Sapti Pudyandari FY

 

Pra-Analitik Pemeriksaan Cairan Otak

PENDAHULUAN

Cairan tubuh merupakan bahan pemeriksaan yang sering diminta untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit. Cairan otak adalah salah satu dari cairan tubuh selain urin, cairan serosa, cairan sendi, cairan tubulus seminalis atau semen. Cairan otak memiliki karakteristik yang berbeda dengan cairan tubuh yang lain, sehingga diperlukan persiapan, cara pengambilan dan penanganan bahan pemeriksaan yang berbeda juga dari cairan tubuh yang lain. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang benar dan dapat dipercaya, diperlukan tahap pra – analitik yang baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap pra – analitik adalah indikasi pemeriksaan, cara pengambilan, penyimpanan dan pengiriman bahan pemeriksaan. Di samping itu perlu diketahui juga hal – hal yang harus diperhatikan dan dicatat pada saat pengambilan bahan, yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan atau dapat memberi petunjuk awal terhadap hasil pemeriksaan. Diharapkan dengan pra – analitik yang baik, akan dapat memberikan hasil pemeriksaan yang benar dan dapat dipercaya.

FISIOLOGI

Otak dilindungi oleh tiga lapis membran dari luar ke dalam yaitu duramater, arachnoid dan piamater. Lapisan piamater melekat erat pada otak, sedangkan lapisan arachnoid  diliputi oleh banyak pembuluh darah otak. Cairan otak terletak dalam rongga/ruang subarachnoid yaitu antara lapisan arachnoid dan piamater. Cairan ini diproduksi oleh kapiler – kapiler pada piamater yang membentuk plexus choroideus. Cairan akan bersikulasi melingkari otak dan medula spinalis. Resorbsi dilakukan oleh villi pada membran arachnoid.

Fungsi cairan otak tersebut untuk membawa nutrisi bagi jaringan saraf, mengangkut sisa metabolisme dan sebagai pertahanan terhadap trauma bagi otak dan medula spinalis. Pada orang normal jumlah cairan otak 90 – 150 ml, pada anak 60 – 100 ml, dan neonatus 10 – 60 ml. Pada keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan resorbsi, jumlah cairan otak akan meningkat.

PRA – ANALITIK

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada tahap pra – analitik yaitu persiapan penderita, pengambilan bahan pemeriksaan berupa cairan otak, serta penanganan setelah bahan diambil termasuk penyimpanan dan pengiriman ke laboratorium.

1. Persiapan Penderita

Dalam pengambilan cairan otak, penjelasan harus diberikan dengan jelas dan baik, karena tindakan pungsi cairan otak merupakan tindakan yang invasif dan lebih beresiko jika dibandingkan dengan tindakan pengambilan darah. Selain itu, dokter yang merawat hendaknya juga memberitahukan kepada penderita dan keluarganya kapan tindakan akan dilakukan, karena bahan pemeriksaan yang sudah diambil harus segera dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.

2. Pengambilan Bahan

Sebelum dilakukan pengambilan bahan pemeriksaan, disiapkan dahulu formulir permintaan pemeriksaan, wadah/tabung penampung yang berlabel identitas penderita serta semprit/tabung dan jarum yang sesuai. Pada formulir diisi lengkap : identitas pasien (nama, nomor register, nomor rekam medis, ruangan), keterangan klinik/diagnosis, jenis cairan tubuh, dan pemeriksaan yang diminta.

Wadah/tabung penampung untuk cairan otak adalah 3 buah tabung yang diberi nomor urut sesuai dengan urutan yang digunakan. Tabung untuk pemeriksaan mikrobiologi harus steril. Antikoagulan yang digunakan untuk pemeriksaan cairan tubuh adalah K3EDTA cair atau sodium heparin.

Cairan otak diambil dengan cara pungsi. Daerah yang akan dipungsi dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian dilakukan pungsi menggunakan semprit/tabung dan jarum yang sesuai. Cairan otak diambil dengan pungsi lumbal pada L3 – L4 atau L4 – L5.

3. Penanganan Bahan

Untuk cairan otak setelah diambil dan ditampung dalam tabung yang telah disiapkan, pada masing – masing tabung dicantumkan tanggal dan jam saat pengambilan cairan. Hal ini sangat penting karena analisis cairan otak harus dilakukan segera setelah bahan diambil. Keterlambatan dalam pengiriman bahan pemeriksaan ke laboratorium akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Sebagai contoh, kadar glukosa akan menurun secara signifikan setelah 1 jam pengambilan, serta kadar protein akan meningkat akibat destruksi sel. Oleh sebab itu cairan otak sebaiknya dikirim ke laboratorium segera setelah dilakukan pengambilan.

Apabila cairan tidak dapat segera diperiksa, harus disimpan pada suhu 40C.

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Laksmita Wahyu Kurniawati

Pemeriksaan Kultur Darah dengan Alat Otomatis

Kultur mikrobiologi, adalah suatu metoda memperbanyak mikroba pada media kultur dengan pembiakan di laboratorium yang terkendali. Microbial cultures atau kultur mikrobiologi digunakan untuk menentukan jenis dari organisme tersebut, keberlimpahannya, atau keduanya. Ini adalah metode diagnostik utama dari mikrobiologi dan digunakan sebagai alat untuk menentukan penyebab dari penyakit infeksi dengan membiarkannya berkembangbiak di medium tertentu. Sebagai contoh, kultur tenggorokan mengambil contoh dengan menyapu bagian ujung dalam tenggorokan dengan cotton bud yang panjang dan membiakkannya pada cawan petri dengan agar, sehingga dapat diketahui mikroba yang berbahaya, misalnya Streptococcus pyogenes, yang menyebabkan penyakit strep throat. Selanjutnya, terma kultur lebih umum digunakan secara tak resmi untuk “pengembangbiakan secara selektif (selectively growing)” mikroba tertentu di laboratorium.

Untuk melakukan pemeriksaan kultur darah, dokter akan mengambil sampel darah dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Dimana hasilnya baru dapat diketahui dalam beberapa hari. Jika seorang sakit parah, dokter mungkin akan memulai perawatan sebelum mendapatkan hasil lengkap kultur darah, pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab infeksi.

yang paling mungkin atau kalau dirumah sakit memakai pedoman pola kuman. Kemudian setelah hasil kultur keluar pengobatannya dapat diubah disesuaikan dengan hasil pemeriksaan kultur dan sensitivitas.

Secara ideal untuk pemeriksaan kultur darah dibutuhkan dua atau lebih sampel darah yang diambil pada interval waktu tertentu dari tempat pengambilan yang terpisah (biasanya vena lengan yang berbeda). Hal ini dilakukan supaya pemeriksaan masih dapat mendeteksi mikroorganisme yang mungkin ada dalam jumlah yang sedikit dan atau dilepaskan ke dalam aliran darah secara intermiten, juga membantu memastikan bahwa mikroorganisme yang terdeteksi adalah yang menyebabkan infeksi dan bukan hanya sebagai kontaminan.

Tiga tujuan utama kultur darah yaitu :

  • Mengetahui penyebab dari infeksi
  • Mengidentifikasi agen penyebab
  • Menentukan pemberian terapi antibiotik

Kenapa dilakukan kultur darah?

Selama perjalanan penyakit, beberapa bakteri dan jamur penyebab infeksi dapat menyerang aliran darah dan menyebar ke bagian lain dari tubuh, jauh dari lokasi infeksi aslinya. Tujuan kultur darah adalah untuk mengungkapkan sejumlah infeksi atau adanya masalah, seperti endokarditis, masalah berat dan berpotensi mengancam nyawa yang terjadi ketika bakteri dalam aliran darah ke katup jantung.

Kultur darah mungkin juga mendeteksi organisme penyebab infeksi lain seperti osteomyelitis, infeksi tulang sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus, dan selulitis, suatu infeksi kulit yang melibatkan jaringan tepat di bawah permukaan kulit.

Bagaimana proses mengambil kultur darah?

Idealnya kulit harus dibersihkan dengan sabun dan dibilas dengan air steril yang diikuti pemberian cairan yodium berbasis solusi. Kemudian dicuci dengan larutan alkohol 70% dan dikeringkan sekitar 30 detik. Setiap usaha untuk menggunakan teknik aseptik harus dilakukan, misalnya Betadine dan / atau alkohol semprot dan sarung tangan. Beberapa studi menunjukkan tingkat kontaminasi mungkin tergantung pada jenis larutan antiseptik digunakan.

Sterilisasi kulit harus dilakukan dengan hati-hati karena penting untuk mencegah kontaminasi dari darah yang sedang ditarik. Dengan begini dapt membunuh bakteri yang mungkin berada di permukaan kulit sehingga mereka tidak muncul dalam kultur darah dan mengganggu identifikasi kuman penyebab infeksi.

Kadang-kadang terlihat seperti banyak darah diambil untuk dilakukan kultur, tetapi penting bahwa darah cukup untuk mendapatkan hasil yang akurat. Darah yang diambil mungkin kurang lebih 5 mL  pada bayi dan sekitar 5-10 mL pada anak-anak yang lebih tua. Jumlah darah yang diambil sangat kecil dibandingkan dengan jumlah darah dalam tubuh, dan itu akan diperbaharui dalam waktu 24-48 jam. Setelah kultur darah yang diambil, harus diberi label dan dikirim ke laboratorium tanpa penundaan. Kultur dasar diinkubasi selama 14 hari dan blind culture dilakukan setelah 3, 7 dan 14 hari atau segera setelah ada tandatanda pertumbuhan (misalnya kekeruhan, hemolisis, koloni di lereng agar dalam wadah. Cara pemeriksaan kultur darah dengan mencari hasil positif, dilakukan minimal dua kali sehari saat menggunakan sistem manual.

Sistem otomatis yang dipakai di laboratorium rumah sakit Panti Rapih adalah BacT/Alert Blood Culture System di mana pertumbuhan positif melepaskan CO2 yang dideteksi oleh sensor yang memberitahu staf laboratorium (wadah ditempatkan dalam lemari khusus dan terkait dengan barcode pasien). Jika dideteksi adanya pertumbuhan, wadah dilakukan subkultur dan stain Gram. Dari sini, sensitivitas yang relevan dapat ditentukan. Dalam beberapa kasus organisme dapat diidentifikasi dalam hitungan jam untuk mendeteksi hasil yang positif dengan menggunakan tes pewarnaan Gram dan tes lebih lanjut.

Pemeriksaan lebih lanjut yang mungkin dilakukan langsung pada biakan darah untuk mempercepat identifikasi seperti pengelompokan streptokokus, tes koagulasi, tes antigen untuk pneumococcus dan meningococcus, dll. Metode modern seperti di laboratorium dilakukan secara otomatic dengan alat Vitek telah membantu dalam mempercepat identifikasi organisme dan dapat dilakukan langsung dari wadah kaldu. Biasanya, jika harus ada pertumbuhan, umumnya hanya ada satu organisme, namun sangat jarang, mungkin ada lebih dari satu organisme dan laboratorium akan melakukan tes kepekaan dan tes lanjutan untuk semuanya.

Fitur dan Keuntungan dengan Alat Otomatic

  • Pengerjaannya sangat mudah digunakan, sehingga menghemat waktu, membantu mencegah kesalahan, sehingga bisa mengurangi lama rawat inap
  • Sistem ini menggunakan botol langsung, sehingga mengurangi kontaminasi pada pekerjanya atau menjaga keselamatan pada pekerja
  • Bisa dilakukan kontrol kualitas
  • Bisa mengeliminasi antibiotik yang sudah diberikan oleh dokter yang merawatnya sebelum dilakukan pemeriksaan mikrobiologi, sehingga angka kepositipannya lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan manual. Untuk neutralisasi antimikrobial disini digunakan Adsorbent Polymetric  Beads (APB)
  • Bisa mendeteksi beberpa mikroba secara langsung, misalnya bakteri dan jamur  bisa langsung diperiksa bersama-sama
  • Bisa sekalian memeriksa kuman salmonella typhi langsung bersamaan dengan kuman lain

Sampel yang digunakan:

  • Darah
  • Cairan tubuh yang steril

 

Artikel ditulis oleh: Ririn Maretawati

Produk Darah

Adalah setiap substansi terapeutik yang dibuat dari darah manusia.

Macam-macam produk darah:

  • Darah Lengkap
  • Komponen eritrosit
  • Komponen trombosit
  • Komponen plasma
  • Komponen granulosit

Darah Lengkap (WB):

Donor darah lengkap sebanyak 450 ml mengandung:

  • Volume total dapat mencapai 510 ml (volume bervariasi menurut kebijakan setempat).
  • 450 ml darah donor.
  • 63 ml pengawet antikoagulan.
  • Hemoglobin kurang lebih 12 g/ml
  • Hematokrit 35 – 45 %
  • Tidak ada faktor koagulasi yang labil.
  • Satuan pemberian : satu donor yang juga disebut sebagai “unit” atau “pak”.

Risiko infeksi:

Menularkan mikroorganisme yang belum terdeteksi oleh pemeriksaan skrining.

Penyimpanan :

  • Antara suhu 2 – 6 0C, selama penyimpanan pada suhu tersebut terjadi perubahan komposisi yang disebabkan oleh metabolisme sel darah merah.
  • Transfusi harus dimulai dalam waktu 30 menit setelah darah dikeluarkan dari lemari es.

Kerusakan komponen darah berhubung masa simpan WB dalam suhu 2-6oC dengan larutan ACD sebagai pengawet

Masa Simpan (hr) Kerusakan Komponen Darah
Terdapat kerusakan eritrosit 1-15% akibat proses pengambilan
1 Granulosit, kehilangan daya fagositosis
3 Trombosit
4 – 6 Faktor V dan Faktor VIII
21 30% protein
26 Plasma protein
21 – 28 Limfosit

Indikasi :

  • Penggantian sel darah merah pada kehilangan darah akut dan disertai hipovolemia.
  • Pasien yang memerlukan transfusi sel darah merah ketika tidak tersedia konsentrat atau suspensi sel darah merah.

Kontraindikasi :

Risiko kelebihan muatan volume pada pasien anemia kronis dan gagal jantung insipien.

Pemberian :

  • harus Rh D dan ABO kompatibel dengan resipien
  • jangan menambahkan obat dalam unit darah
  • transfusi harus sudah selesai dalam waktu empat jam sejak transfusi dimulai

Komponen Eritrosit

Tujuan :  meningkatkan kapasitas angkut oksigen darah

  1. Konsentrat Sel Darah Merah ( PRC / Darah Dengan Plasma Kurang)
  • Sel darah merah dengan volume 150 – 200 ml, sebagian besar plasmanya telah dikeluarkan.
  • Kadar Hb + 20 g / 100 ml (tidak kurang dari 45 g per unit)
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan sama seperti darah lengkap
  • Indikasi :

Anemia

  • Pemberian :

Sama seperti darah lengkap, dapat ditambahkan larutan salin normal (50 – 100 ml) dengan set infus berbentuk Y.

  1. Suspensi Sel Darah Merah
  • 150 – 200 ml sel darah merah dengan sisa plasma yang minimal dan ke dalamnya ditambahkan kurang lebih 100 ml larutan salin normal, adenin, glukosa, larutan manitol (SAG-M) atau larutan nutrien sel darah merah dengan jumlah yang sama.
  • Kadar Hb + 15 g / 100 ml (tidak < 45 g per unit)
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan:

Sama seperti darah lengkap.

  • Indikasi

Sama seperti PRC

  • Kontra indikasi :

Tidak dianjurkan untuk transfusi tukar pada neonatus.

  • Pemberian :

Sama seperti darah lengkap, dihasilkan kecepatan aliran darah yang lebih baik jika dibandingkan dengan konsentrat sel darah merah atau dengan darah lengkap.

  1. Sel Darah Merah yang telah dihilangkan Lekositnya
  • Suspensi atau konsentrat sel darah merah, mengandung < 5 x 106 ml sel darah putih per paknya, dipersiapkan dengan cara filtrasi melewati filter yang menyingkirkan lekosit.
  • Kadar Hb dan nilai Hmt tergantung apakah produk tersebut merupakan darah lengkap, konsentrasi sel darah merah ataukah suspensi sel darah merah.
  • Deplesi leukosit secara signifikan mengurangi risiko penularan sitomegalovirus (CMV).
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan :

Bergantung pada metode produksi, konsultasikan pada bank darah.

Indikasi:

  • Mengurangi immunisasi sel darah putih pada pasien yang mendapatkan transfusi berkali-kali; namun untuk menghasilkan keadaan ini, semua komponen darah yang diberikan kepada pasien harus bebas leukosit.
  • Mengurangi infeksi CMV pada situasi yang khusus.
  • Pasien yang pernah mengalami dua kali reaksi febris atau lebih terhadap transfusi sel darah merah.

Pemberiannya sama seperti darah lengkap.

  1. Eritrosit Cuci (Washed Red Cells)
  • Sajian eritrosit yang sudah dicuci dengan larutan garan fisiologik 2 – 3 kali untuk menyisihkan semua konstituen darah kecuali eritrosit.
  • Dengan pencucian ini ikut tersisihkan pula 93% lekosit.
  • Usia eritrosit hanya 24 jam setelah pencucian.

Indikasi :

  • Pasien yang masih menderita febris walaupun sudah mendapat sel darah merah yang telah dihilangkan Lekositnya.
  • Penderita penyakit alergi atau anafilaksi yang terpaksa harus ditransfusi, termasuk penderita asma bronkiale, penderita dengan defisiensi Ig A, hipersensitivitas terhadap protein plasma dan Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria.

Komponen Trombosit

Tujuan : Untuk pencegahan maupun pengobatan penderita trombositopenia atau trombositopatia.

  • Trombositopenia akibat kekurangan produksi trombosit yang paling sering adalah pada anemia aplastika, malignitas primer pada darah seperti lekemia, infiltrasi pada sumsum tulang misalnya limfoma atau carsinoma dan hipoplasi sumsum tulang baik yang sementara maupun yang menetap akibat kemoterapi atau radioterapi.
  • Untuk kasus-kasus tersebut seringkali memerlukan transfusi trombosit yaitu untuk pencegahan karena bila sudah terjadi perdarahan akan mempunyai angka kematian yang tinggi.
  • Transfusi pencegahan ini untuk mempertahankan jumlah trombosit antara 15.000 – 20.000 / ml. Biasanya diperlukan 4 – 6 unit.
  • Bila terjadi komplikasi febris, sepsis atau splenomegali maka diperlukan dosis yang lebih besar 12 – 16 unit.

Petunjuk menghadapi penderita trombositopenia dengan indikasi transfusi trombosit adalah :

    • Jumlah trombosit < 5.000 / ml dengan atau tanpa perdarahan adalah indikator mutlak.
    • Jumlah trombosit <20.000 / ml dengan disertai gejala perdarahan.
    • Jumlah trombosit <50.000 / ml pada operasi besar.
    • Penderita penyakit gangguan fungsi trombosit dengan perdarahan atau waktu perdarahan > 15 menit
    • Jumlah trombosit <100.000 / ml atau waktu perdarahan >15 menit, pada penderita pasca operasi cardiopulmonary bypass.
  1. Konsentrasi Trombosit (Trombosit Pekat / Platelet Concentrate)
  • Unit donor tunggal dalam volume 50 – 60 ml plasma, mengandung paling sedikit 55 x 109 trombosit, < 1,2 x 109 darah merah, < 1,2 x 109 lekosit.
  • Satuan pemberian dapat diberikan sebagai:
  • Unit donor tunggal, dibuat dari satu donor.
  • Unit yang dikumpulkan, dibuat dari 4 – 6 orang donor agar mengandung dosis dewasa, yaitu sedikitnya 240 x 109 trombosit.
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Dapat disimpan hingga 72 jam pada suhu 20 – 24 0C (dengan pengguncangan).
  • Penyimpanan yang lama akan meningkatkan risiko profilasi bakteri dan septikemia.

Indikasi :

  • Perdarahan akibat trombositopenia maupun efek fungsi trombosit
  • Pencegahan perdarahan akibat trombositopenia, seperti pada kegagalan sumsum tulang

Kontraindikasi :

  • Tidak digunakan untuk profilaksi pada pasien bedah, kecuali jika pasien tersebut menderita defisiensi trombosit prabedah yang signifikan.
  • Bukan merupakan indikasi pada :
  • ITP, TTP, DIC yang tidak ditangani
  • Trombositopenia yang menyertai septikemia sampai sesudah terapi dimulai atau pada kasus hipersplenisme

Dosis :

Satu unit konsentrat trombosit tiap 10 kg berat badan.

Pada orang dewasa dengan berat badan 60 – 70 kg, pemberian 4 – 6 unit donor tunggal yang mengandung sedikitnya 240 x 109 trombosit seharusnya menaikkan jumlah trombosit sebesar 20 – 40 x 109 /L.

Kenaikkan jumlah trombosit tidak begitu besar jika terdapat splenomegali, DIC, septikemia.

  1. Plasma Kaya Trombosit (Platelet Rich Plasma)

Adalah plasma yang masih mengandung trombosit. Diberikan untuk kasus-kasus trombositopenia yang juga memerlukan faktor-faktor lain yang terdapat di dalam plasma seperti faktor-faktro koagulasi dan protein plasma sendiri sebagai volume expander.

  1. Trombosit Mampat (Pooled/Packed Platelet)

Dari trombosit pekat, masih dipusingkan lagi 5000 RPM dalam 5 menit untuk memisahkan plasma sebanyak mungkin dan kemudian diencerkan lagi sehingga volume semula 30 ml menjadi 50 ml. Sajian ini diberikan khusus untuk anak-anak yang mampu menerima volume plasma yang banyak.

  1. Trombosit Cuci (Washet Platelet)

Sajian dari trombosit pekat yang dicuci dengan larutan garam fisiologik sehingga bebas dari protein plasma. Ditujukan untuk kasus-kasus yang pernah mengalami reaksi transfusi berat.

  1. Trombosit Miskin Monosit (Monocyte Poor Platelet)

Disajikan darai trombosit pekat setelah diputar lagi 750 RPM 3 menit, dan diambil suspensi trombosit yang bebas monosit. Diberikan pada kasus-kasus yang ada riwayat alloimmunisasi terhadap antigen lekosit.

  1. Trombosit beku (Frozen Platelet)
  • Berguna untuk masa-masa dimana donor trombosit sukar diperoleh.
  • Dapat juga dipakai untuk kasus-kasus yang telah refrakter terhadap pemberian trombosit.
  • Trombosit dari Donor Tunggal (Siple Donor Platelet)
  • Diperoleh dengan cara apheresis dan ditujukan untuk penderita trombositopenia yang memerlukan multi transfusi dan telah mengalami refrakter terhadap random donor. Keuntungan dari donor tunggal ini adalah disamping kemungkinan allo immunisasi dan tertular hepatitis lebih kecil.

Komponen Plasma

Plasma adalah bagian darah yang berbentuk cair dan telah tercampur dengan antikoagulan. Plasma digunakan untukkasus-kasus hipovolumia misalnya karena luka bakar, perdarahan karena koagulopati,  pada transfusi tukar dan penyakit immunitas.

Macam Sajian :

  1. Plasma Segar (Fresh Plasma)

Plasma dimana faktor pembekuan yang labil yaitu faktor V, faktor VIII, trombosit dan faktor pembekuan yang lain masih berfungsi. Dapat dipakai sebagai volume expander.

  1. Plasma Segar beku (Fresh Frozen Plasma)

Plasma segar yang dibekukan dalam waktu 6 jam setelah penyumbangan dan disimpan pada suhu – 20 0C, atau lebih baik pada < 30 0C. Dipakai untuk kasus-kasus koagulopati pada penyakit hati akut dan kronis, koagulopati pada DIC, transfusi masif dan kadang-kadang berhasil baik pada Thrombotic Thrombocytopenia Purpura.

  1. Plasma Beku (Frozen Plasma)

Plasma dibekukan setelah lebih dari 6 jam penyumbangan. Faktor-faktor pembekuan yang masih berfungsi tergantung lamanya waktu antara pengambilan dan pembekuan.

  1. Plasma Miskin Trombosit (Platelet Poor Plasma)

Plasma dimana trombosit telah dipisahkan sebelumnya. Dipergunakan pada kasus-kasus yang memang tidak memerlukan trombosit dan untuk mengurangi reaksi panas akibat antigen trombosit.

Komponen Granulosit

Konsentrat Granulosit

Konsentrat granulosit dapat dibuat dari darah lengkap yang dibuat buffy coat atau dengan separator sel (leukoferesis), dimana biaya cara pertama lebih rendah bila dibandingkan dengan cara kedua. Indikasi transfusi granulosit terbatas untuk kasus yang terpilih sekali; saat manfaat terjadi lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkan; misal pada neutropenia persisten dan infeksi berat, fungsi neutrofil abnormal dan infeksi persisten, sepsis neonatus. Efek yang merugikan yaitu: aloimmunisasi, penularan infeksi, infiltrasi paru.

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Sapti Pudyandari FY

Peran Procalsitonin dalam Diagnosa Sepsis

Sepsis adalah tanggap tubuh terhadap infeksi. Infeksi bisa disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh dan terbatas dibagian tubuh atau menyebar keseluruh peredaran darah.  Sepsis sering terjadi di rumah sakit, dimana sampai saat ini sepsis masih merupakan masalah di dunia medis dan sering menyebabkan kematian, karena itu perlu diketahui dan dipahami keberadaan petandanya yang bertujuan untuk menemukannya sedini mungkin. Petanda diagnosis sepsis yang ideal adalah: sangat khas dan peka, mudah penggunaanya, cepat dan murah serta berbanding lurus dengan kegawatannya. Sampai sekarang standart baku untuk diagnosis infeksi adalah kultur, tetapi ada beberapa kelemahan dari pemeriksaan kultur, yaitu dibutuhkannya waktu yang lama, sehingga diagnosis sepsis sering terlambat penentuannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, PCT (procalcitonin) telah diakui sebagai petanda sensitif dan spesifik yang membantu dokter dalam deteksi dan terapi pemantauan awal infeksi bakteri yang berat atau sepsis. Selain itu pemeriksaan ini dapat pula digunakan untuk memantau hasil pengobatan.
Procalcitonin merupakan protein fase akut yang konsentrasinya meningkat pada penderita sepsis. Procalcitonin meningkat juga pada keadaan Systemic Inflammantory Response Syndrome (SIRS) pada penderita trauma yang mengalami disfungsi organ, akan tetapi kadarnya jauh lebih rendah dari pada penderita SIRS dengan infeksi (sepsis).

Procalcitonin merupakan penanda yang memungkinkan diferensiasi secara spesifik antara infeksi bakteri dengan sebab-sebab lain dari reaksi inflamasi untuk diagnosis laboratorium.

PROCALSITONIN

Procalsitonin merupakan prohormon cakcitonin, mengandung 3 fragmen, yaitu:

  1. fragmen N terminal aminoprocalcitonin (57 asam amino)
  2. calcitonin (32asam amino) terletak pada pusat peptida
  3. calcitonin caarboxyterminal peptide-1 (CG-1) atau katacalcin (21 asam amino) pada ujung terminal karboksil.

 

Gambar 1. Struktur molekul procalcitonin

Sejak awal tahun 1990-an procalcitonin pertama kali digambarkan sebagai tanda spesifik infeksi bakteri. Kepekaan serum procalcitonin meningkat saat infeksi sistemik, khususnya ketika hal tersebut disebabkan oleh infeksi bakteri. Procalcitonin ialah prohormon calcitonin, kadarnya meningkat saat sepsis dan sudah dikenali sebagai petanda penyakit infeksi yang berat. Kadar procalcitonin dapat mencapai 1000 ng/ml saat sepsis berat dan syok sepsis. Pada keadaan fisiologis, kadar procalcitonin rendah dan bahkan tidak terdeteksi (dalam ng/ml), tetapi akan meningkat bila terjadi bakteriemia atau fungimia yang timbul sesuai dengan beratnya infeksi.

Pelepasan procalcitonin kedalam sirkulasi dengan kadar yang tinggi dalam berbagai keadaan penyakit tidak disertai dengan peningkatan kadar calcitonin secara bermakna. Waktu paruh procalcitonin adalah 25 sampai 35 jam dan secara signifikan tidak berubah pada gagal ginjal, oleh karena itu kadar dalam serum dapat digunakan untuk tujuan diagnostik pada penderita yang fungsi ginjalnya terganggu. Procalcitonin diinduksi oleh endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri selama terjadi infeksi sistemik. Infeksi yang disebabkan oleh protozoa, infeksi non bakteri  (virus) dan penyakit autoimun tidak menginduksi procalcitonin. Kadar procalcitonin muncul cepat dalam 2 jam setelah rangsangan, mencapai puncaknya setelah 12 sampai 48 jam dan secara perlahan menurun dalam waktu 48 sampai 72 jam.

Peran Procalcitonin terhadap sepsis adalah menghambat prostaglandin dan sintesis trmboksan pada limfosit in vitro dan mengurangi hubungan stimulasi LPS terhadap produksi TNF pada kultur darah. Menurut Whicher, pemberian rekombinan human procalcitonin terhadap sepsis pada tupai menghasilkan peningkatan mortalitas yang berbanding terbalik dengan pemberian netralisasi antibodi. Kemungkinan procalcitonin mempunyai peran dalam fisiologi sepsis yang didukung oleh untaian antara procalcitonin dan sitokin seperti TNF, IL-6 dan granulocyte colony-stimulaating factor.

Kegunaan Pemeriksaan Procalcitonin

  • Mendiagnosis sepsis lebih dini atau dapat mebedakan antara infeksi dan non infeksi pada SIRS. Karena seringkali diagnosis sepsis sulit ditetapkan karena tanda-tanda awal sulit dikenali dan serupa dengan berbagai proses non infeksi. Sulitnya penegakan diagnosis menyebabkan diagnosis menjadi terlambat, pemberian antibiotika menjadi tidak efektif, angka mortalitas dan kebutuhan biaya perawatan tetap tinggi serta lama perawatan (mondok) lebih lama.
  • Pengamatan kadar Procalcitonin bermanfaat untuk menilai perlu tidaknya biakan darah dilakukan serta penetapan penggunaan antibiotik.
  • Mengetahui prognosis dari sepsis
  • mengevaluasi hasil pengobatan.
  • Pemeriksaan Procalcitonin meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas dalam mendiagnosis sepsis akibat bakteri.

 

Waktu Pemeriksaan Procalcitonin
Pemerksaan Procalcitonin direkomendasikan sesegera mungkin dilakukan untuk semua pasien dengan dugaan SIRS atau sepsis.

Indikasi Pemeriksaan Procalcitonin

  • Pasien di rumah sakit baik di UGD, ICU maupun diruangan dengan kecurigaan SIRS atau sepsis.
  • Pasien Sepsis yang diterapi antibiotik, untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan juga mengetahui prognosis penyakit.

Informasi Teknis
Nama Pemeriksaan : Procalcitonin
Metode Pemeriksaan : Enzyme Linked
Jenis Sampel : Serum atau Plasma
Stabilitas : 48 jam pada 2-8°C atau 6 bulan pada -25 ± 6°C
Nilai Rujukan : <0,05 ng/mL

  • Pembekuan dan pencairan dari plasma atau serum yang disimpan/dibekukan difreezer pada pemeriksaan procalcitonin tidak mempengaruhi kadarnya, tetapi sesudah penyimpanan plasma selama 24 jam pada suhu ruang akan mengurangi kadarnya sampai 12,4% dan bila disimpan pada suhu 4o C akan mengurangi kadarnya sampai 6,3%.
  • Kepekatan kadar procalcitonin dari sampel darah arteri dan vena tidak ada perbedaan, paling baik menggunakan plasma EDTA. Untuk pemeriksaan procalcitonin ini sebaiknya dilakukan sebelum 4 jam setalah penngambilan sampel.
  • Pemeriksaan ini tidak dipengaruhi noleh kadar hemoglobin, bilirubin ataupun trigliserida, tetapi untuk kasus hemolisis berat tidak disarankan.

Keterangan Hasil dan Intepretasi

  • Hasil < 0,5 ng/mL menunjukan bukan sepsis, tetapi tidak menyingkirkan adanya infeksi lokal
  • Hasil 0,5-2 ng/mL harus diinterpretasi bersamaan dengan riwayat pasien
  • Pemeriksaan Procalcitonin harus diulang dalam 6-24 jam kemudian jika diperoleh hasil < 2 ng/mL
  • Hasil > 2 ng/mL menunjukkan risiko tinggi adanya sepsis
  • Hasil > 2 sampai dengan 10 menggambarkan adanya sepsis yang berat
  • Hasil > 10 kemungkinan sudah terjadi shock septic

Pada infeksi lokal, tidak ada peningkatan kadar procalcitonin, penurunan yang tajam terhadap terapi antibiotika tidak secara langsung menyatakan penghilangan infeksi, tetapi semata-mata merupakan reaksi sistemik yang terkendali

Artikel ini ditulis oleh dr Tri Djoko Endro Susilo, Sp.PK

 

Pemeriksaan Antinuclear Antibody Test (ANA Test) untuk Penyakit Autoimun

Kita secara normal mempunyai antibodi-antibodi dalam darah kita yang menolak/mengusir penyerbu-penyerbu kedalam tubuh kita, seperti mikroba-mikroba virus dan bakteri. Anti-nuklir antibodi (juga dikenal sebagai anti-nuclear factor atau ANF) adalah autoantibodi yang mempunyai kemampuan mengikat pada struktur-struktur tertentu didalam inti (nukleus) dari sel-sel lekosit. ANA yang merupakan imunoglobulin (IgM, IgG, dan IgA) bereaksi dengan inti lekosit menyebabkan terbentuknya antibodi, yaitu anti-DNA dan anti-D-nukleoprotein (anti-DNP). Anti-DNA dan anti-DNP hampir selalu dijumpai pada penderita SLE. Temuan anti-DNA akan berfluktuasi bergantung pada proses penyakit ini, yang disertai dengan remisi dan eksaserbasi. Anti-DNA 95% dapat ditemukan pada penderita nefritis lupus.

Uji ANA merupakan skrining untuk lupus eritematosus sistemik (SLE) dan penyakit kolagen lainnya. Kadar total ANA juga dapat meningkat pada penyakit skleroderma, rheumatoid arthritis, sirosis, leukemia, mononukleosis infeksiosa, dan malignansi. Untuk mendiagnosis lupus, temuan uji ANA harus dibandingkan dengan hasil uji lupus lainnya.


Masalah Klinis

Penyakit-penyakit autoimun adalah kondisi-kondisi dimana ada suatu kelainan dari sistim imun yang dikarakteristikan oleh produksi yang abnormal dari antibodi-antibodi (auto-antibodies) yang diarahkan terhadap jaringan-jaringan tubuh. Penyakit-penyakit autoimun secara khas mencirikan peradangan dari beragam jaringan-jaringan tubuh. ANAs ditemukan pada pasien-pasien dengan suatu jumlah dari penyakit-penyakit autoimun yang berbeda, seperti  systemic lupus erythematosus, Sjogren’s syndrome, rheumatoid arthritis, polymyositis, scleroderma, Hashimoto’s thyroiditis, juvenile diabetes mellitus, Addison disease, vitiligo, pernicious anemia, glomerulonephritis, dan pulmonary fibrosis.

ANAs dapat juga ditemukan pada pasien-pasien dengan kondisi-kondisi yang tidak dipertimbangkan sebagai penyakit-penyakit autoimun yang klasik, seperti infeksi-infeksi kronis dan kanker.
Banyak obat yang bisa merangsang produksi ANA, seperti prokainamid (Procan SR), antihipertensi (hidralazin), dilantin, antibiotik (penisilin, streptomisin, tetrasiklin), metildopa, anti-TB (asam p-aminosalisilat, isoniazid), diuretik (asetazolamid, tiazid), kontrasepsi oral, trimetadion, fenitoin. ANA yang dipicu oleh obat-obatan disebut sebagai drug-induced ANA.

Prosedur
Untuk mendeteksi ANA dapat menggunakan tes ANA. Tes ANA ini dapat mendeteksi auto-antibodies yang ada dalam serum darah penderita. Ada beberapa metode tes yang digunakan untuk mendeteksi dan menghitung banyaknya ANA dalam tubuh penderita, diantaranya immunoflurescence dan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Saat ini metode ELISA adalah metode yang paling sering digunakan, karena metode ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibanding immunoflurescence.

Metode ELISA melibatkan interaksi antibodi dalam serum penderita dengan antigen yang ada kemudian akan membentuk reaksi kompleks yang ditunjukkan dengan adanya perubahan warna. Hasil yang diperoleh adalah sebuah nilai Optical Density dari pengukuran fotometer. Pembacaan hasil akan dibaca sebagai positif, negative atau equivocal.

Tes ANA diakatakan negative apabila hasil yang didapat kurang dari 20 Unit, yang berarti tidak terdeteksi penyakit autoimun. Sebaliknya, tes ANA dikatakan positif apabila hasil yang didapat >60 Unit yang berarti adanya penyakit autoimun. Tes ANA yang positif tidak mendiagnosa penyakit secara spesifik, dikarenakan ada bebrapa kondisi yang membuat hasil tersebut menjadi positif, diantaranya SLE, chronic liver disease, rheumatoid arthtritis, collagen vascular disease, Sjogren syndrome, scleroderma, dan thyroid disease.

Tes ANA dapat ,menjadi suatu pilihan yang terutama dalam mendukung diagnose penyakit SLE. Sebab menurut According to the American College of Rheumatology, lenih dari 95% penderita penyakit SLE akan memberikan hasil positif pada tes ini. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua hasil tes ANA yang positif akan menunjukkan bahwa terdapat penyakit SLE, dan yidak smeua orang yang menderita penyakit SLE memberikan hasil yang positif. Oleh karena itu, tes ini tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya diagnosis untuk penyakit SLE, tetapi dapat menjadi penunjang yang utama untuk mendeteksi adanya penyakit autoimun.

Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium

• Obat-obatan tertentu yang mempengaruhi hasil pengujian (lihat pengaruh obat)
• Proses penuaan dapat menyebabkan peningkatan kadar ANA

 

Artikel ini ditulis oleh: Rosalina Dwi Astuti

Deteksi Dini dengan Tumor Marker

Penanda Tumor adalah senyawa yang ditemukan diatas jumlah normal di dalam darah, urin, atau cairan tubuh lainnya, apabila terdapat kanker tertentu didalam tubuh. Mayoritas sebagai penanda tumor adalah berupa protein, namun pada beberapa jenis tumor yang terbaru dapat berupa gen atau senyawa lain. Ada banyak sekali penanda tumor yang saat ini digunakan oleh para dokter untuk menunjang diagnosis dan juga dapat digunakan untuk pemantauan pasien pada penderita kanker. Sebagian penanda tumor hanya spesifik ditemukan pada satu jenis kanker tertentu, namun sebagian lain dapat ditemukan pada beberapa jenis tumor.

Manfaat pemeriksaan penanda tumor adalah :

  1. Penunjang diagnosis
  2. Pemantauan terapi atau pengobatan penderita
  3. Pemantauan kekambuhan

Ada sejumlah Penanda tumor spesifik, antara lain :

ALPHA – FETOPROTEIN (AFP)
Sangat berguna untuk mengertahui responds terapi pada kanker hati ( Karsinoma Hepatoseluler ). Kadar normal AFP biasanya kurang dari 20 ng/mL. Kadar AFP akan meningkat pada 2 dan 3 pasien dengan kanker hati. Kadar AFP meningkat bersama membesarnya tumor. Pada kebanyakan pasien dengan kanker hati, kadar AFP meningkat lebih dari 500 ng/mL. AFP meningkat pula pada hepatitis akut dan kronis, tapi jarang lebih dari 100 ng/mL. AFP juga meningkatk pada kanker testis tertentu (jenis sel embryonal dan endodermal sinus) dan digunakan untuk follow – up kanker tersebut. Peningkatan kadar AFP juga pada Kanker ovarium jenis tertentu yang jarang dan kanker testis yang disebut yolk sac tumor atau mixed germ cell cancer.

BETA-2-MICROGLOBULIN (B2M).
Kadar B2M akan meningkat pada multiple myeloma, chronic lymphocytic leukimia ( CLL ) dan beberapa limfoma. Kadar normal kurang dari 2,5 ug/mL. Pasien dengan kadar B2M tinggi menunjukan prognosis jelek.

CA 15-3
Terutama untuk monitoring kanker payudara. Peningkatan kadar Ca 15-3 darah dijumpai pada kurang dari 10 % pasien dengan stadium awal dan sekitar 70 % pasien dengan stadium lanjut. Kadar biasanya turun seiring keberhasilan terapi. Kadar normal biasanya kurang dari 25 U/mL, tapi kadar sampai 100 U/mL kadang dijumpai pada wanita sehat.

Ca 125 
Merupakan penanda tumor standar untuk memonitoring selama / setelah terapi kanker epitel ovarium. Kadar normal biasanya kurang dari 30 – 35 U/mL. Lebih 90 % dengan kanker stadium lanjut memiliki kadar Ca 125 tinggi.

Ca 72-4
Suatu penanda Tumor baru yang masih dalam penelitian untuk tumor ovarium, pankreas, dan saluran cerna.

Ca 19-9
Walaupun pada awalnya dikembangkan untuk deteksi kanker colorectal, tapi ternyata lebih sensitif terhadap kanker pankreas. Kadar normal kurang dari 37 U/mL. Kadar yang tinggi pada awal diagnosis menunjukan stadium lanjut dari kanker. Calcitonin adalah hormon yang diproduksi sel tertentu (parafollicular C Cells) pada glandula tiroid yang secara normal membantu regulasi kadar kalsium darah. Kanker pada Parafollicular C Cells yang disebut medullary thyroid carcinoma ( MTC ) menyebabkan peningkatan kadar hormon calcitonin dalam darah.

Carcinoembryonic Antigen (CEA)
Penanda tumor untuk memonitoring pasien dengan kanker colorectal selama / setelah terapi, tetapi tidak bisa dipakai untuk skreening atau diagnosis. Kadar normalnya sangat bervariasi antar laboratorium, tapi kadar lebih dari 5 ng/mL dikatakan Abnormal.

Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
Juga dikenal sebagai Beta – HCG. Kadarnya meningkat pada pasien dengan beberapa jenis kanker testis dan ovarium (tumor germ cell) dan penyakit gestational trophoblastic, terutama Choriocarcinoma.

Neuron – Specific Enolase (NSE)
Seperti Chromogranin A, merupakan penanda untuk tumor neuroendocrine seperti small cell lung cancer, neuroblastoma, dan tumor karsinoid. Tidak digunakan untuk skreening tapi terutama sangat berguna bagi pasien dengan small cell lung cancer atau neuroblastomoa. Kadar abnormal NSE lebih dari 9 ug/mL.

Prostate-Specific Antigen (PSA)
Adalah penanda tumor untuk kanker prostat, satu-satunya marker untuk skreening kanker jenis umum. Suatu protein yang dibuat sel grandula prostat yang dibuat sel glandula prostat pada laki – laki yang berfungsi yang berfungsi membuat cairan semen. Kadar PSA meningkat pada kanker prostat. Pasien dengan benign prostate hyperplasia ( BPH ) kadang menunjukan peningkatan kadar PSA. Kadar PSA bukan kanker kurang dari 4 ng/mL, kadar lebih dari 10 ng/mL diindikasi kanker, sedang kadar antara 4 – 10 ng/mL merupakan daerah abu – abu (grey zone) dan biasanya dokter akan melakukan biopsi.

Pemeriksaan penanda tumor yang ada di Rumah Sakit Panti Rapih :

1. Pemeriksaan Serologi (Patologi Klinik)

Meliputi : CEA, AFP, CA125, CA199, CA153, PSA

2. Pemeriksaan Patologi Anatomi

Meliputi : Sitologi (pengecatan Giemsa dan Papanicolou), Histologi  (pengecatan Papanicolou)

 

Artikel ini ditulis oleh: Agatha Wahyu Widowati M.S.

Purple Day, Hapus Stigma Negatif tentang Epilepsi

Sampai  saat ini stigma negatif tentang epilepsi atau ayan masih melekat di masyarakat. Sebagian  besar  masyarakat  masih menganggap epilepsi adalah penyakit menular dan tak bisa disembuhkan.

“Dengan stigma itu, masyarakat cenderung menjauhi penderita  epilepsi, dengan alasan takut tertular. Stigma masyarakat bahwa epilepsi  bisa menular lewat air liur. Sehingga pada  kasus  penderita  epilepsi saat terjadi  serangan atau kejang orang  takut mendekat atau memberi pertolongan  dengan alasan takut tertular.   Stigma tersebut berdampak pada keluarga dari penderita epilepsi  yang menutup-nutupi keadaan, sehingga penderita  epilepsi tidak bisa  tertangani secara optimal . Banyak penderita  epilepsi yang dikucilkan oleh lingkungan, terhambat karir dan kehidupan berumah tangganya.

Apa itu Epilepsi ?

Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf tertua, ditemukan pada semua umur dan dapat menyebabkan hendaya serta mortalitas. Penyakit Epilepsi atau  ayan  adalah suatu gangguan fungsi listrik otak yang ditandai oleh cetusan listrik secara berlebihan pada sekelompok atau sebagian besar sel-sel otak, sehingga  bisa timbul kejang, perubahan perilaku sesaat dan berulang. Pada umumnya serangan atau bangkitan epilepsi ditandai dengan pingsan dan/ atau kejang secara berulang kali. Bangkitan lain selain kejang bisa tiba-tiba penderita bengong atau hilang kesadaran sesaat, mulut yang bergumam atau komat-kamit, sampai penderita  berteriak sendiri.  Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi karena beberapa hal. Baik karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, ataupun kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut.

Menurut data  yang dikeluarkan International  League Against Epilepsy (ILAE) tahun 2016  jumlah penderita epilepsi di dunia mencapai 60 juta orang.

Di Negara berkembang, jumlahnya diperkirakan lebih tinggi dibandingkan di negara maju . Insiden epilepsi umumnya tinggi pada kelompok usia anak –anak  dan lanjut usia, cenderung lebih tinggi pada pria daripada wanita. Data epidemiologi epilepsi di Indonesia masih terbatas. Estimasi penderita epilepsi di Indonesia adalah 1,5 juta dengan prevalesi 0,5-0,6% dari penduduk Indonesia. Frekuensi terjadinya epilepsi menurut usia di Indonesia juga sangat terbatas. Namun pada umumnya di negara berkembang sebaran penderita epilepsi banyak pada anak dan dewasa muda dibandingkan kelompok umur lainnya.

Kapan Seseorang didiagnosis Epilepsi ?

Seseorang  dikatakan atau   diagnosis epilepsi  berdasarkan riwayat gejala klinis yang dialami oleh penderita. Hal ini diperoleh dari keterangan yang disampaikan oleh penderita sendiri, keluarga, atau orang terdekat yang menyaksikan saat penderita  epilepsi  mengalami bangkitan atau  kejang. Epilepsi didiagnosis setelah seseorang mengalami sedikitnya dua kali bangkitan atau kejang-kejang yang tidak terkait dengan kondisi medis apa pun sebelumnya .Walaupun demikian tidak semua kejang dapat dikatakan sebagai epilepsi. Diagnosis epilepsi baru dapat ditegakkan setelah dilakukan wawancara medis lengkap, pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti ct scan kepala atau MRI kepala . Pemeriksaan  EEG atau rekam otak dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pada impuls atau aktivitas listrik / elektrik di dalam otak yang menjadi penyebab terjadinya kejang. Pemeriksaan CT scan atau MRI kepala bertujuan untuk mengetahui adanya kelainan  pada struktur otak sebagai penyebab epilepsi, ataupun penyebab sekundernya misalnya pada kasus  tumor otak, stroke, infeksi otak, paska cedera kepala.

Apa Penyebab Epilepsi?

Epilepsi bisa terjadi pada semua usia, baik wanita atau pria. Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dapat digolongkan menjadi:

  • Epilepsi idiopatik, yaitu epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui.
  • Epilepsi simptomatik, yaitu epilepsi yang terjadi akibat suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan pada otak.

Pada sebagian besar kasus epilepsi, tidak diketahui penyebab pastinya. Epilepsi jenis ini dikenal sebagai epilepsi idiopatik atau epilepsi primer. Pada epilepsi  jenis ini tidak ditemukan kelainan di otak yang dapat menyebabkan epilepsi.

Berbeda dengan epilepsi idiopatik, epilepsi simptomatik atau epilepsi sekunder merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi simptomatik, di antaranya adalah cedera kepala, stroke, tumor otak, infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis.

Apa saja Faktor Pencetus Kejang ?

Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kejang pada penderita epilepsi. Di antaranya adalah tidak mengonsumsi obat anti epilepsi (OAE) secara teratur, kurang tidur, kelelahan, terlambat makan, stress mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat anti-epilepsi, demam tinggi, mengonsumsi minuman beralkohol atau NAPZA, saat menstruasi pada wanita, maupun kilatan cahaya.

Pengobatan  Epilepsi

Tujuan utama pengobatan pada epilepsi adalah mengupayakan penderita epilepsi dapat hidup normal dan tercapai kualitas hidup optimal. Harapannya adalah penderita epilepsi bisa bebas kejang. Dengan pemberian obat anti anti epilepsi (OAE) dapat mencegah terjadinya kejang sehingga penderita  dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman. Banyak penderita Penyakit yang mengalami penurunan frekuensi kejang atau bahkan tidak mengalami kejang sama sekali selama bertahun-tahun setelah menjalani pengobatan dengan obat anti epilepsi (OAE). Setiap penderita epilepsi perlu selalu diingatkan tentang pentingnya pengobatan yang disiplin dan teratur .

Masih banyak presepsi  di masyarakat  bahwa penyakit epilepsi tidak bisa disembuhkan. Padahal, penyakit epilepsi bisa diobati atau bisa terkontrol   dengan obat anti epilepsi (OAE). Keluarga penderita  epilepsi atau penderita epilepsi masih sering menanyakan apakah anak saya atau saya bisa sembuh? Dengan pengobatan tepat  dan sesuai, penyakit epilepsi dapat terkontrol dengan obat anti epilepsi  (OAE) dan bahkan sebagian bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. Penderita  epilepsi akan mendapatkan obat rutin berupa obat anti epilepsi (OAE) yang harus diminum setiap hari. Sehingga  sering timbul banyak  pertanyaan  sampai kapan obat harus diminum? Obat anti epilepsi (OAE) harus diminum rutin dan  bisa dihentikan dengan syarat tertentu. Penghentian obat anti epilepsi (OAE) dilakukan  secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah 3-5 tahun bebas kejang dan hasil rekam otak atau EEG normal.

Pembedahan Otak/ Bedah epilepsi

Penelitian di pelbagai negara menunjukkan bahwa 60-80% epilepsi dapat diatasi dengan pemberian obat anti epilepsy (OAE).  Sehingga masih  ada sekitar 20-40% pennderita  epilepsi yang sulit dikendalikan dengan  obat anti epilepsi (OAE) . Penderita epilepsi yang sulit  dikendalikan dengan obat anti epilepsi  disebut sebagai epilepsi  intractable atau refrakter atau kebal terhadap obat anti epilepsi (OAE). Penderita sudah diberikan beberapa kombinasi  obat anti epilepsi lebih dari 2 macam dan dosis sudah maksimal,  tetapi kejangnya masih belum bisa terkontrol, maka terapi bedah epilepsi  dapat dijadikan pilihan  pengobatan. Tindakan pembedahan otak atau bedah epilepsi dikerjakan oleh seorang dokter spesialis bedah saraf. Sebelum pelaksanaan  tindakan pembedahan, seorang penderita epilepsi akan   dilakukan serangkaian tes untuk menilai layak atau tidaknya penderita dilakukan tindakan pembedahan. Tidak  semua penderita epilepsi  bisa dilakukan pembedahan otak atau bedah epilepsi.

Bedah Epilepsi terbukti memberi manfaat berupa bebas kejang pada 70% orang dengan epilepsi  refrakter, dan hanya 20% lainnya mengalami perbaikan dan berubahnya bentuk serangan menjadi lebih ringan. Selain itu  setelah dilakukan bedah epilepsi obat yang diminum bisa dikurangi  atau lebih minimal.

Bahaya Dari Penyakit Epilepsi

Epilepsi perlu penanganan  dengan tepat untuk menghindari terjadinya situasi yang dapat membahayakan jiwa.  Serangan atau kejang pada penderita  epilepsi dapat terjadi kapanpun dan di  manapun, di tempat-tempat yang tidak terduga sehingga  dapat membuat penderita berisiko mengalami  cedera kepala  atau patah tulang akibat terjatuh saat kejang atau tenggelam. Selain bahaya cedera, penderita epilepsi dapat mengalami komplikasi seperti kejang  yang lama  atau status epileptikus dan kematian mendadak.

Pertolongan Pertama Pada Kejang

Apa yang dapat  kita lakukan  apabila kebetulan kita berada dekat penderita  epilepsi yang sedang mengalami kejang :

  • Posisikan pasien  yang kejang di tempat aman  dan datar, jauhkan benda-benda keras yang dapat  melukai pasien
  • Minta pertolongan orang sekitar untuk menghubungi tenaga kesehatan terdekat
  • Pakaian atau  baju dilonggarkan agar memudahkan pernafasan
  • Badan  pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairan dari mulut
  • Jangan menahan  gerakan pasien saat kejang
  • Hindari posisi tubuh telungkup karena akan menghambat pasien bernapas
  • Dampingi penderita sampai kejang berhenti
  • Hindari memberikan  makan atau minum
  • Hindari menaruh sendok atau benda lain ke dalam mulut pasien

Hari Epilepsi  Sedunia

Purple Day for Epilepsy Awareness Day atau Hari Epilepsi Sedunia merupakan suatu gerakan internasional yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyakit epilepsi ke seluruh dunia, yang dirayakan setiap tanggal 26 Maret setiap tahunnya dengan memakai atribut berwarna ungu. Kenapa purple? Karena warna ungu adalah refleksi dari bunga lavender yang menjadi lambang internasional untuk epilepsi. Bunga lavender juga memiliki simbol kesendirian, yang mewakili para penyandang epilepsi yang seringkali merasa terisolasi karena kondisi mereka.

Perayaan Purple Day untuk memperingati Hari Epilepsi Sedunia, sebagai tanda menumbuhkan rasa kepedulian kita terhadap penderita epilepsi.  Perayaan Purple Day diharapkan  bisa menyadarkan masyarakat untuk tidak mengucilkan penderita epilepsi dan menghapus stigma negatif tentang epilepsi, yang selama ini beredar di masyarakat.  Selain itu kegiatan ini untuk mendorong para penyandang epilepsi dan keluarga untuk berani tampil dan mengembangkan potensi terbaik mereka.

Selamat Hari Epilepsi Sedunia!

 

 

Artikel ini ditulis oleh: dr. Michael Agus, SpS

(Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)