Snoezelen Therapy RS Panti Rapih

Snoezelen Therapy No ratings yet.

Apakah anak sering menutup telinga saat mendengar suara keras, sulit fokus, atau mudah tantrum? Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan integrasi sensori. Untuk membantu anak menghadapi tantangan tersebut, Snoezelen Therapy hadir sebagai solusi di RS Panti Rapih Yogyakarta.

Apa itu Snoezelen Therapy?
Metode terapi multisensori ini menggunakan cahaya lembut, suara alam, aroma menenangkan, dan berbagai rangsangan sensori. Terapi membantu anak merasa aman, nyaman, sekaligus mengurangi stres akibat terlalu sensitif terhadap rangsangan dari luar.

Snoezelen Therapy

Manfaat Terapi Multisensori untuk Anak
Layanan ini bermanfaat bagi anak yang sering mengalami kesulitan mengelola emosi, sulit fokus, atau hiperaktif tanpa arah. Beberapa manfaat yang bisa dirasakan, antara lain:

  • Membantu anak lebih tenang dan nyaman.

  • Mengurangi tantrum atau reaksi berlebihan terhadap suara, cahaya, atau bau.

  • Membantu konsentrasi dan fokus dalam beraktivitas.

  • Mendukung kemampuan anak dalam berinteraksi sosial.

Kapan Anak Membutuhkan Snoezelen Therapy?
Jika anak menunjukkan tanda seperti reaktif terhadap suara keras, kesulitan mengendalikan emosi, atau terlalu pendiam dan hiperaktif, segera konsultasikan dengan tenaga profesional. Dengan terapi ini, anak akan mendapatkan stimulasi sensori yang tepat untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Layanan di RS Panti Rapih
Layanan tersedia di Instalasi Rehabilitasi Medik, Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta. Prosedur ditangani tenaga medis berpengalaman dengan fasilitas nyaman dan sesuai standar keselamatan.

Snoezelen Therapy RS Panti Rapih

Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran:
☎️ (0274) 563333 ext 1012 (Nurse Station Rehabilitasi Medik)
📱 WhatsApp 08213337052 (chat only)

Selain itu, pendaftaran juga dapat dilakukan secara praktis melalui aplikasi PantiRapihKu yang tersedia di App Store & Google Play untuk kemudahan pendaftaran online.

Dengan Snoezelen Therapy, anak Anda dapat tumbuh lebih percaya diri, fokus, serta memiliki kendali emosi yang lebih baik.

Mohon dapat memberikan rating

Exercise Untuk Meningkatkan Kebugaran Pada Obesitas No ratings yet.

Obesitas adalah suatu kejadian di mana adanya penumpukan lemak secara berlebihan yang lebih dari batas normal, penumpukan lemak yang secara berlebihan pada seseorang akan menyebabkan terjadinya penyakit. (WHO)

Obesitas kelas I : Indeks Massa Tubuh (IMT)  25 – 29,9

Obesitas kelas II :  Indeks Massa Tubuh (IMT) > 30 (kelas II)

(Skala Asia – Pacific)

Untuk mencapai penurunan berat badan dan memperoleh kebugaran fisik yang optimal, maka individu dengan obesitas wajib melakukan :

  • Pembatasan jumlah serta pengaturan jenis dan pola makan
  • Menambah pengeluaran kalori dengan melakukan aktivitas fisik dan exercise
  • Manajemen stress yang baik
  • Cukup istirahat

Aktivitas Fisik & Exercise

Exercise (olahraga) : suatu bentuk aktivitas fisik yang terdiri dari gerakan tubuh yang terencana, terstruktur dan berulang yang dilakukan untuk meningkatkan dan atau memelihara kebugaran fisik

METs (Metabolic Equivalent) perkiraan kebutuhan energi yang diperlukan dalam melakukan aktivitas fisik dan exercise,

Semakin tinggi METs semakin banyak energi yang diperlukan sehingga memerlukan kebugaran fisik yang semakin tinggi pula.

Individu dengan obesitas seringkali memiliki kebugaran fisik yang rendah, sehingga diperlukan penilaian awal untuk menentukan exercise yang aman dan efektif.

Six Minute Walking Test

Uji latih enam menit (six minute walking test/6MWT) digunakan untuk menilai kapasitas fungsional dan kardiovaskular seseorang dengan cara mengukur jarak tempuh dalam waktu enam menit. Uji latih ini mudah dilakukan tanpa peralatan khusus dan dapat memberikan informasi mengenai status kesehatan dan kemampuan sehari-hari seseorang.

Uji latih ini dilakukan di dalam ruangan dengan permukaan lantai datar dan keras, serta membutuhkan lintasan sepanjang 30 meter (atau 15 meter dengan modifikasi) yang lurus dan bebas hambatan.

Sebelum dan setelah tes dilakukan dilakukan pengukuran tekanan darah, denyut nadi, saturasi oksigen dan keluhan yang dirasakan partisipan. Dan selama tes akan dilakukan pemantauan kondisi dan keluhan partisipan.

Hasil akhir tes ini berupa angka VO2 max dan METS yang dapat digunakan sebagai perkiraan intensitas exercise yang aman.

 

Exercise pada Obesitas

Sebaiknya exercise dipandu oleh trainer akan menentukan jumlah (volume Latihan) berdasarkan hasil uji latih dan kemampuan masing – masing individu.

 

Prinsip dalam Exercise :

(American College of Sports Medicine – ACSM)

 

Frekuensi :

  • Latihan aerobicintensitas sedang : 5 hari per minggu, intensitas berat : 3 hari per minggu
  • Latihan beban / resistensi : 2-3 kali per minggu
  • Latihan fleksibilitas : 2-3 kali per minggu
  • Latihan keseimbangan / neuromotor : 2-3 kali per minggu

 

Intensitas :

  • Intensitas Ringan :denyut jantung < 60 % dari denyut jantung maksimal sesuai usia
  • Intensitas Sedang : denyut jantung mencapai 60 – 80 % dari denyut jantung maksimal sesuai usia
  • Intensitas Berat : denyut jantung mencapai 80-90 % dari denyut jantung maksimal sesuai usia
  • Intensitas Sangat Berat :denyut jantung mencapai 90-100% dari denyut jantung maksimal sesuai usia

Intensitas exercise harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.

Hasil uji latih, misal nya six minute walking test atau treadmill dapat dijadikan patokan untuk menentukan intensitas exercise yang aman namun tetap efektif dalam penurunan berat badan.

Exercise work zones (Fox and Haskell formula between 20 and 70-year-old):

red zone (VO2Max), anaerobic, aerobic, weight control and warming up.

 

Durasi / waktu :

  • Latihan aerobic

intensitas sedang : 30-60 menit per hari  ( ≥ 150 menit/minggu),

intensitas berat : 20-60 menit (≥ 75 menit/minggu)

  • Latihan beban / resistensi : sesuai dengan repetisi dan set yang ditentukan
  • Latihan fleksibilitas : 10-20 menit
  • Latihan keseimbangan/neuromotor : 10-20 menit

Jenis exercise :

  • Latihan aerobic / cardio: jalan cepat, lari, sepeda statis, berenang
  • Latihan beban / kekuatan otot/ resistensi : calisthenics exercise, angkat beban, resistance band
  • Latihan flexibilitas : stretching, yoga, Pilates
  • Latihan neuromotor : keseimbangan, koordinasi, agility, prorioseptif

Kombinasi jenis exercise yang dilakukan akan lebih efektif dalam mencapai kebugaran fisik yang optimal.

 

Contoh Peresepan Exercise untuk Individu dengan Obesitas, usia 30 tahun, dengan Hasil Six Minutes Walking Test 6 METs

HariJenis Latihan
SeninSepeda statis / lari / berenang dengan intensitas sedang (60-80% denyut jantung maksimal yaitu 114 s.d 152 detak per menit) selama 30-60 menit
Calisthenic exercise
SelasaSepeda statis dengan intensitas sedang selama 30-60 menit
Pilates / yoga
RabuLatihan dengan barbell dan gym equipment
Latihan flexibilitas dan neuromotor
KamisLari dengan treadmill dengan intensitas sedang (kecepatan 7 s.d 10 km /jam meningkat bertahap, tanpa inklinasi) selama 30-60 menit
JumatBerenang dengan intensitas sedang selama 30-60 menit
Latihan dengan dumbbell dan resistance band
SabtuSepeda statis / lari / berenang dengan intensitas sedang selama 30-60 menit
Pilates / yoga
MingguIstirahat

 

Yang harus diperhatikan dalam melakukan exercise :

  • Peralatan olahraga yang sesuai
  • Awali dengan pemanasan (warming up)& akhiri dengan pendinginan (cooling down)
  • Pemantauan kondisi dan keluhan selama exercise
  • Kebutuhan cairan tubuh

 

Faktor kunci untuk mencapai keberhasilan exercise dalam penurunan berat badan :

(The U.S. Office of Disease Prevention and Health Promotion)

  • Enjoyment
  • Self-efficacy
  • Social Support
  • Accountability
  • Integration into Daily Life

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Amelia Kartika, Sp.KFR

(Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Katarina
WhatsApp: 0811-2847-276
Telepon: (0274) 563333 ext. 1512
Lokasi: Lantai 6 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus, RS Panti Rapih

Pendaftaran 24 jam :

Telepon 0274 – 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Playstore atau App store)

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Keterlambatan Bicara (Speech Delayed) pada Anak No ratings yet.

Bicara dapat di artikan sebagai suatu bentuk komunikasi dengan artikulasi verbal dalam menyampaikan maksud. Oleh sebab itu, diperlukan segenap komponen organ anak yang berperan dalam membentuk suara, lewat komponen respirasi, fonasi dan artikulasi. Kejadian kasus keterlambatan bicara anak di Indonesia tercatat 5-8% pada rentang usia 2-4,5 tahun (2006).  Keterlambatan berbicara dalam fase perkembangan anak akan berdampak pada pola komunikasi anak.

Keterlambatan bicara sendiri juga erat kaitannya dengan bahasa, dimana perkembangannya sangat tergantung dengan faktor perkembangan fungsi anatomis fisiologis sistem saraf, organ audio visual, kemampuan atensi anak serta stimulus dari lingkungan anak (orangtua / caregiver). Pemantauan tumbuh kembang anak, deteksi dini faktor resiko terkait fungsi bicara ini akan menjadi pintu awal yang penting dalam mencegah ataupun meminimalisir dan mengkoreksi gangguan bicara pada anak-anak.

 

Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara Anak sesuai Usia

0-2 bulan

bayi merespon dengan menangis

2-3 bulan

bayi mulai membuat suara seperti aaah, uuu , eee, ooo (cooing)

3-6 bulan

bayi mulai babbling, dimanan mulai menggunakan suku kata tunggal yang diulang, misal papapapapap, dadadadadada, mamamamamama

6-9 bulan

mulai muncul mama, papa, meski kadang tanpa arti, mulai memahami konsep sederhana seperti ya/tidak, habis

9-12 bulan

panggilan lebih spesifik untuk orangtua atau yang caregiver utamanya,merespon panggilan namanya, serta mulai memahami perintah sederhana, serta mulai menggunakan isyarat (gerakan tangan) untuk meminta sesuatu. Bayi mulai membeo, menirukan kata-kata yang familiar

12-18 bulan

mulai membentuk kalimat 2 kata, memahami anggota tubuhnya, dapat menggeleng atau menganggukan kepala, melambaikan tangan, suara yang ditirukan menjadi lebih akurat, serta semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata.

18-24 bulan

dalam usia emas pertumbuhan ini, penambahan kosakata sangat pesat , berbicara dengan kalimat 2 kata dengan jelas, 50% bicaranya dapat dipahami,  dan dapat mengikuti perintah 2 langkah, serta anak senang mendengarkan cerita

2-3 tahun

semua kata-kata anak jelas dan dimengerti, serta mulai membuat kalimat tanya, mengenali benda-benda dan fungsinya, mengenal warna dan senang dengan nyanyian

3-4 tahun

mulai bercerita, bernyanyi, mulai membentuk kalimat 3-5 kata

4-5 tahun

memahami konsep arah (atas, belakang, kanan, kiri), memahami konsep lawan kata, mampu diarahkan untuk tugas terstruktur setidaknya 30 menit

 

Tanda-Tanda Deteksi Awal Adanya Gangguan Keterlambatan Bicara pada Anak bagi Orang Tua

Usia 0-6 bulan

  • Respon terhadap stimulus suara yang kurang (pertimbangkan gangguan pendengaran pada anak)
  • Tidak munculnya cooing, babbling serta terbatasnya suara konsonan anak
  • Anak kurang mampu menirukan bunyi atau suara dan selalu bergantung dengan perintah

Usia 6-12 bulan

  • Kurangnya gestur interaksi
  • Kurangnya atensi anak
  • Tidak merespon panggilan nama
  • Tidak memahami perintah sederhana

Usia 1-2 tahun

  • Perkembangan kosakata yang minim
  • Tidak terbentuk kalimat 2 kata
  • Tidak mampu menunjuk atau menyebutkan anggota tubuhnya

 

Peran Rehabilitasi Medik pada Gangguan Keterlambatan Bicara Anak

Deteksi dini menjadi penting agar dapat mengenali penyebab utama timbulnya keterlambatan bicara anak. Skrining tumbuh kembang anak yang akurat akan mendeteksi tanda-tanda keterlambatan, selain itu pemeriksaan medis mampu mendeteksi kelainan anatomis ataupun fungsi organ yang berdampak pada kemampuan bicara anak. Program Terapi Rehabilitasi Medik akan disesuaikan dengan faktor penyebab keterlambatan bicara yang ditemukan.

Beberapa kondisi medis yang erat kaitannya dengan keterlambatan bicara pada anak adalah Autisme, Gangguan pendengaran (otitis), Gangguan kognisi anak. Selain itu, faktor lingkungan juga perlu dideteksi sebagai penyebab, seperti pola asuh orang tua dengan bilingual (monolingual, keterikatan dengan gadget/ screen time anak (tidak boleh pada usia < 2 tahun).

Pada gangguan kondisi fungsi anatomis, tatalaksana dengan terapi Fisik oleh Fisioterapis dapat diprogramkan, seperti memperbaiki postur atau memperbaiki kemampuan respirasi anak akan membantu dalam memproduksi suara anak.

Faktor gangguan atensi, atau gangguan sensorik pada anak seperti halnya pada kasus Autisme anak, program rehabilitasi medik melibatkan terapi okupasi dalam memberikan koreksi dan stimulus sensorik. Dengan perbaikan di faktor ini, anak diharapkan mampu menangkap stimulus sensorik (visual, audio) dengan lebih baik dan fokus, sehingga dapat merangsang peningkatan interaksi dan kemampuan bicaranya.

Terapi wicara berperan dalam memberikan stimulasi dan koreksi pada gangguan keterlambatan bicara anak, dengan kolaborasi yang baik dan simultan bersama komponen terapi Rehabilitasi Medik lainnya (Terapi Fisik dan/ Terapi Okupasi), target terapi pada anak dengan keterlambatan bicara anak dapat lebih maksimal dalam hal fonasi, artikulasi, pengayaan kosakata, stimualsi oromotor, kemampuan sintaks (membentuk kalimat) sampai dengan semantic (pemahaman makna kata).

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. John Hartono, Sp.KFR
(Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi  :

Klinik Rehabilitasi Medik

Lantai 4, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus

Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1204

Pendaftaran 24 jam : 0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

Mohon dapat memberikan rating

Bugar Saat Mudik 4/5 (2)

Seiring menjelang selesainya masa berpuasa pada Ramadan tahun ini, sobat-sobat sehat Panti Rapih yang menjalankan puasa pasti mulai bersiap menyambut hari  raya Idul Fitri. Kegiatan rutin yang biasanya menjadi agenda banyak orang yang berlebaran adalah mudik ke daerah asalnya agar dapat bersilahturahmi bersama keluarga besar.

Seringkali mudik merupakan perjalanan yang memerlukan waktu yang lama karena jarak tempuh yang jauh. Penggunaan moda transportasi umum dan pribadi dapat menjadi pilihan dalam melalukan perjalanan mudik.  Kondisi fisik yang prima harus dijaga, agar dapat menempuh perjalanan mudik dengan baik dan sampai ke tujuan serta mengikuti rangkaian kegiatan Idul Fitri bersama keluarga.

Beberapa poin penting dari segi kesiapan fisik yang harus diperhatikan pemudik adalah kondisi kesehatan dan penyakit yang mungkin sedang dalam pengobatan atau perlu kontrol rutin. Dalam menjadai kondisi kesehatan tubuh  agar tetap bugar dan prima selama perjalanan, beberapa komponen penting perlu diperhatikan pemudik agar dapat meminimalkan efek samping dari perjalanan yang lama.

Postur tubuh yang baik

Postur tubuh yang baik akan membuat kerja muskuloskeletal tubuh menjadi lebih berimbang pada kedua sisi tubuh, serta meringankan beban pada sendi-sendi tubuh. Dengan posisi duduk yang lama baik sebagai penumpang ataupun pengemudi, beban terbanyak akan dirasakan pada otot pinggang bawah kita sebagai titik tumpu. Postur tubuh yang baik saat duduk dapat meminimalkan resiko timbulnya spasme otot punggung bawah. Sebagai tambahan, pada pengemudi, karena dituntut agar awas dalam memperhatikan jalan dan fokus saat mengemudi, spasme pada otot-otot area leher juga dapat menjadi gangguan selama menjalani mudik.

Postur tubuh yang baik saat duduk sudut yang terbentuk di pinggang dan panggul 90 derajat, dengan posisi kepala yang tegak dan berada di midline tubuh dan bersandar pada tempat duduk. Poin penting adalah bagian bokong anda harus menyentuh bagian sudut kursi  dan menyentuh sandaran kursi.  Beberapa modifikasi dapat dilakukan, terutama pada posisi driver, sudut 100 derajat dapat digunakan tetapi perlu ditambahkan sandaran tambahan khususnya pada area pinggang bawah, karena cenderung tubuh akan sedikit melorot ke bawah sehingga akan terbentuk celah yang berpotensi meningkatkan beban pada area pinggang bawah (lumbal dan sacral area). Pengunaan bantal pinggang, atau foam berkontur dapat membantu meringankan beban.

Perengangan otot dan gerak sendi yang berkala

Banyak orang yang masih mengkaitkan dengan aktifitas ini hanya pada momen berolahraga. Dalam keseharian aktifitas, kedua jenis latihan ini sangatlah baik untuk dapat dilakukan disela-sela kegiatan rutin dan atau repetitif kita. Demikian juga selama perjalanan mudik, podidi duduk yang lama, atau berdiri, mengangkat/membawa beban (tas, koper, bawaan tangan dan bahkan posisi tubuh saat mengemudi maupun sebagai penumpang). Sama halnya dalam berolahraga, peregangan otot bersamaan dengan latihan luas gerak sendi bertujuan untuk mencegah spasme otot dan kekuan sendi yang dapat menimbulkan nyeri muskuloskeletal yang tidak nyaman selama perjalanan. Sebaiknya setiap 2 jam, kita dapat melakukan latihan peregangan ini 5-10 menit, sebelum kembali melanjutkan perjalanan atau dalam posisi duduk kembali. Berikut saya coba membahas berdasakan bagian tubuh kita dalam melakukan kedua jenis latihan ini.

    1. Kepala (mata)
      Kelelahan mata sering menjadi kondisi yang terabaikan saat timbul keluhan pada area kepala atau leher. Gejala berupa nyeri dibelakang mata, pengelihatan yang kurang nyaman, sampai dengan sakit kepala yang sering timbul diakibatkan dari suatu kondisi kelelahan mata. Paparan dari cahaya luar yang lama, gadget yang digunakan saat menemani perjalanan serta fokus dan konsentrasi saat mengemudi berpengaruh dalam timbulnya keluhan pada mata.  Latihan gerak bola mata serta mengistirahatkan mata penting untuk dapat dilakukan selama perjalan mudik yang cukup panjang.Gerakan bola mata dapat dilakukan secara singkat adalah gerakan atas, bawah, kanan-kiri, diagonal, serta gerakan rotasional bola mata, dapat memberikan perengangan dari otot-otot bola mata kita. Gerakan ini dapat dilakukan sembari mata dipejamkan agar menambah efek relaksasi dari bola mata.  Selain itu, relaksasi otot mata juga dapat dilakukan dengan mengalihkan pandangan ke objek yang lebih jauh disekitar kita, terutama bagi  pemudik yang lama memfokuskan matanya pada gadget atau buku digunakannya.
    2. Torso
      Leher, punggung dan pinggang sering menjadi pegal terutama saat perjalanan mudik dengan posisi duduk yang kurang ideal. Dalam postur duduk yang ideal yang dijelaskan di atas, ketegangan pada area leher, punggung dan pinggang tetap dapat muncul. Saat duduk, tetap ada beban yang timbul pada torso kita, terutama pada area Lumbal sebagai tumpuan, sehingga perubahan posisi sejenak akan membuat pinggang kita lebih nyaman dan tidak menjadi kaku.
      Bagian leher merupakan penopang bagi kepala kita dengan komponen otot yang lebih kecil dibandingkan dengan area torso lainnya. Kekuan leher lebih mudah timbul saat posisi kepala yang ditopang kurang ideal selama perjalanan mudik. Forward head position merupakan kondisi yang paling mudah terjadi dikarenakan faktor kebiasaan postur pasien, atau saat banyak memfleksikan (menundukkan) kepala untuk membaca atau melihat gadgetnya. Latihan seperti chin tuck dan stretching otot-otot leher (Sternocleidomastoideus, scalene, dll) akan membantu untuk meregangkan dan memberikan kenyamanan pada kondisi ketegangan leher. Penggunaan batal leher dapat menambahkan rasa nyaman setelah perengangan dilakukan.
      Bagian punggung memiliki lembaran otot yang cukup besar, trapezius, yang mana dapat ikut timbul rasa pegal saat otot-otot leher mulai timbul gangguan. Keluhannya biasanya pada area pundak yang bisa dirasakan juga sampai ke area tulang belikat (scapula). Beberapa gerakan peregangan pada otot-otot leher juga serupa dapat simultan meregangkan otot pundak (trapezius) ini.
    3. Ekstremitas
      Postur duduk, memegang gadget yang lama, suhu yang dingin di kabin, serta posisi menggengam kemudi mobil/motor yang lama saat mudik berperan dalam gangguan di area ini. Terkait bagian ekstremitas ini, target utama terletak pada sendi-sendi gerak yang cukup banyak. Bahu, siku, pergelangan tangan dan jari-jari pada anggota gerak atas dapat timbul kekakuan, dan berlanjut menjadi nyeri serta gangguan fungsi, jika tidak aktif digerakkan dan direngangkan.  Khalayak umum cenderung lebih familiar dengan latihan gerak sendi dan stretching pada area ini karena cukup mudah juga dilakukan.
      Pada ekstremitas inferior (anggota gerak bawah), peregangan dapat dilakukan lebih sederhana. Perubahan posisi duduk ke berdiri sudah cukup mengaktifkan sendi-sendi besar pada anggota gerak ini. Target lainnya dari latihan peregangan ini adalah melancarkan aliran darah balik dari ujung-unjung ekstremitas seperti pada gerakan ankle pumping yang cukup mudah dilakukan banyak orang dan bahkan dalam posisi duduk.  Latihan luas gerak sendi lutut, dan sendi ankle dapat aktif dilakukan setiap 1-2 jam selama duduk.
    4. Fungsi Kardirespirasi
      Terkait fungsi kardiorepsirasi, para pemudik sebaiknya dapat mempersiapkan diri beberapa waktu sebelum tiba saat perjalanan mudik, karena latihannya harus bersifat repetitif dan berkelanjutan. Latihan aerobik (jalan, sepeda, lari, renang, senam), latihan pengembangan dinding dada, latihan otot pernafasan sangat baik dalam membangun fungsi kardiorespirasi yang prima. Anjuran bagi komunitas yang sehat dalam berolahraga 3-5x/ minggu dengan durasi 45-60 menit, serta dibagi menjadi pemanasan, latihan inti dan pendinginan. Jadi sebaiknya jadikan kebiasaan dalam pola berolahraga agar kebugaran dapat selalu terjaga, dan dapat menjalani masa mudik dan lebaran seutuhnya.
    5. Hal-hal penting lainnya
      Sebagai pelengkap dalam menjaga kebugaran selama perjalnan mudik Anda, jangan lupa menjaga kecukupan cairan tubuh sehari-hari selama perjalanan. Penuhi kebutuhan cairan 1-2L/ hari dengan membawa bekal minum yang cukup saat mudik.Lengkapi diri dengan bantal penyangga seperti bantal leher, bantal pinggang, ataupun bantal duduk sesuai dengan kebutuhan perjalanan Anda. Selain dapat mensupport postur tubuh saat duduk/ beristirahat selama perjalanan, dapat juga memberikan rasa nyaman dan relaksasi yang cukup bagi tubuh saat mudik.

Demikian kiranya beberapa tips dari saya agar sobat sehat Panti Rapih yang melakukan perjalanan mudik dapat tetap bugar dan nyaman. Semoga ibadah puasanya berjalan lancar serta dapat berkumpul bersilaturahmi bersama keluarga tercinta pada momen Hari raya Idul Fitri tahun ini. Salam sehat dan bugar selalu.

Artikel ditulis oleh :
dr. John Hartono, Sp.K.F.R,
(Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Panti Rapih)

 

Lokasi Pelayanan :
KlinikRehabilitasi Medik
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Okupasi Terapi No ratings yet.

Okupasi Terapi
Profesi kesehatan yang menangani pasien / klien dengan gangguan fisik dan atau mental baik yang bersifat sementara atau menetap dengan menggunakan aktifitas terapeutik yang disesuaikan untuk membantu mempertahankan atau meningkatkan kemampuan fungsional pasien pada komponen kinerja okupasional (senso-motorik, persepsi, kognitif, social dan spiritual ) dan area kinerja okupasional (aktifitas sehari – hari /Activity Dailly Living/ADL, produktivitas/Productivity, dan pemanfaatan waktu luang/Leisure Activity) sehingga pasien/klien mampu meningkatkan kemandirian, derajat kesehatan dan partisipasi di masyarakat sesuai perannya.

Tujuan Okupasi Terapi
Membantu seseorang menjadi mandiri dalam beraktivitas baik dengan alat bantu ataupun tanpa alat bantu karena kemandirian sangat penting untuk pasien penca
terlebih bagi orang yang bukan penca dari lahir. Mereka harus belajar dari awal.
Okupasi Terapis dapat menerapi pasien kondisi:
a. Pediatri (Anak-anak) seperti Autis, ADHD (Attention Devisite Hiperactive Dysorder), Asperger Syndrome, Down Syndrome, Mental Retardasi, Keterlambatan Perkembangan (DD), Gangguan Belajar (Learning Disability),Cerebral Palsy (CP)
b. Kasus Neurologi seperti pasien pasca Stroke, Traumatic Brain Injury, Low Back Pain, Parkinson, GBS (Guillain – Barre Syndrome)
c. Kasus Muskuloskeletal antara lain Remathoid Arthitis, Scoliosis, Frozen Shoulder, Carpal Tunnel Syndrome, Trigger Finger, dsb
d.Kasus Orthopedi seperti rehabilitasi pasca operasi fraktur (patah tulang), dislokasi sendi, dsb
e. Geriatri (Orang tua) yang biasa menderita demensia, terganggunya pola makan atau tidur, masalah kesehatan, keseimbangan gerak, keseimbangan, baal/kesemutan, dsb


A. Aktivitas sehari-hari
Okupasi terapis melatih pasien agar dapat melakukan aktivitas sehari – hari secara mandiri seperti memakai/melepas/mengancingkan baju, transfer dari kursi roda ke toilet/kursi/tempat tidur, makan, minum, mandi, berhias, menggosok gigi, membersihkan setelah BAB/BAK dll
Contoh:
a. Okupasi terapis melatih bagaimana pasien post amputasi kedua tangan bisa makan minum sendiri. Jika diperlukan okupasi terapis akan mendesain alat bantu untuk makan agar pasien bisa makan sendiri
b. Melatih pasien stroke untuk transfer dari tempat tidur ke tempat lain, melatih pasien stroke untuk menerapi/melatih dirinya sendiri (tangan yang kuat untuk menggerakkan tangan yang lemah, melatih keseimbangan tubuh pasien, melatih pasien untuk meningkatkan kekuatan gerak otot-otot tangan dan kaki dengan melalui aktivitas, dilatih untuk menggerakkan jari – jari tangan dengan melalui aktivitas), melatih pasien

B. Aktivitas Produktif
Okupasi terapis melatih penyandang cacat untuk dapat melakukan kegiatan yang produktif, seperti sebelum mengalami kecacatan. Misalnya aktivitas menjahit untuk pasien dengan kecacatan satu tangan, pasien dilatih untuk memaksimalkan fungsi tangannya baik dengan alat bantu maupun tanpa alat bantu, dapat juga dengan memodifikasi alat kerja tersebut. Melatih pasien dalam melakukan aktivitas rumah tangga seperti mencuci, menyetrika baju, memasak, dsb dengan memaksimalkan kemampuannya dengan memodifikasi alat maupun tanpa modifikasi. Pada prinisipnya setiap pasien dilatih bagaimana ia bisa mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Yang dapat anda lakukan sebagai kader RBM membantu paca untuk tetap menggunakan kemampuan fisiknya secara optimal untuk melakukan aktivitas produktif, mendesain alat kerja paca kalau memang ada kesulitan dalam menggunakannya.

C. Aktivitas di Waktu Luang
Okupasi terapis juga memikirkan tentang kegiatan di waktu luang misalnya bermain/kegiatan yang sifatnya menyenangkan bagi pasien/hal yang bisa dilakukan oleh pasien yang bersifat rekreasi untuk mengisi waktu luang. Misalnya melukis, membuat kerajinan tangan, dll

D. Aksesibilitas Lingkungan
Bagi rumah yang aksesibilitasnya kurang memenuhi syarat bagi penyandang cacat, Okupasi Terapi akan mendesain lingkungan yang dapat diakses oleh penyandang cacat untuk menunjang kemandirian penyandang cacat dalam beraktivitas dirumah.
Yang dapat anda lakukan sebagai kader RBM adalah melihat lingkungan sekitar paca apakah sudah dapat dengan mudah diakses oleh paca atau belum? Kalau belum tentunya anda dapat memberi masukan/saran kepada anggota keluarga paca/paca untuk mendesain lingkungannya sehingga mudah untuk diakses.
Misalnya:
1. Bagaimana kamar mandi yang bisa digunakan / akses untuk penyandang cacat?desain yang ideal untuk kamar mandi adalah kursi roda dapat leluasa keluar masuk kamar mandi (cukup luas untuk paca dengan kursi roda)
2. Dikanan/ kiri terdapat handrail / pegangan, sehingga aman bagi paca
3. Kloset duduk (kalau tidak ada dapat dibuatkan kursi yang berlubang)
4. Shower (kalau tidak ada bak mandi diusahakan tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah), sehingga mudah dijangkau oleh paca tanpa merepotkan anggota keluarga lain
5. Kran air bertangkai panjang sehingga mudah digunakan oleh paca
6. Lantai kamar mandi terbuat dari bahan yang tidak licin sehingga aman untuk paca
7. Bagaimana kursi roda bisa masuk ke setiap ruangan? Usahakan lebar pintu cukup untuk keluar masuk kursi roda (± 100cm), sehingga memudahkan paca dalam bermobilitas tanpa mengganggu anggota keluarga lain
8. Untuk kondisi disekitar lingkungan rumah mungkin jalan menanjak/menurun, sebaiknnya untuk menjaga keselamatan penyandang cacat diberi handrail/pegangan ditempat – tempat yang sering dilalui oleh paca
9. Kondisi lantai juga tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, karena lantai yang terbuat dari bahan licin (keramik) akan lebih membahayakan paca
10. Pintu rumah / kamar / kamar mandi juga penting untuk diperhatikan, pilih desain pegangan pintu yang bertangkai dan terbuat dari bahan yang ringan sehingga paca dengan mudah dapat membuka / menutup pintu

Okupasi Terapi juga melibatkan keluarga dalam melatih penyandang cacat karena peran keluarga sangat penting dalam kehidupan penyandang cacat. Anda sebagai kader RBM tentu juga harus melibatkan keluarga paca dalam hal ini sehingga program dapat terlaksana. Semua ini dengan harapan dapat membantu kemandirian penyandang cacat dan meningkatkan rasa percaya diri karena dapat melakukan aktivitas secara mandiri tanpa tergantung orang lain.

 

 

Baca juga artikel:
https://pantirapih.or.id/rspr/layanan-rehabilitasi-medik-rs-panti-rapih/
https://pantirapih.or.id/rspr/dilema-anak-telat-bicara/
https://pantirapih.or.id/rspr/low-back-pain/
https://pantirapih.or.id/rspr/paket-fisioterapi-rs-panti-rapih/

Informasi Pelayanan : 
Instalasi Rehabilitasi Medik
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Senin – Sabtu, pk 07.00- 16.00 WIB
Hari Minggu dan tanggal merah tutup
Telepon : 0274 – 563333 ext 1012

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Low Back Pain No ratings yet.

Fisioterapi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari, mengembangkan dan menerapkan teknologi terkini untuk perkembangan, perbaikan, serta pemulihan kesehatan sehingga tercapai kondisi prima dan optimal untuk melakukan berbagai aktivitas yang mandiri. Dalam pelayanan kesehatan fisioterapi ditujukan kepada individu atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara, serta memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan. Pelayanan dilakukan baik secara manual untuk peningkatan gerak, maupun dengan peralatan yang bersifat fisik, pelatihan fungsi dan komunikasi.

Di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, layanan fisioterapi diberikan dengan kualitas global dan berorientasi pada problematika pasien. Layanan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta  menggunakan konsep fisioterapi terkini, didukung oleh alat-alat fisioterapi modern dan tenaga fisioterapis yang profesional.

Low Back Pain adalah suatu sindrome dengan manifestasi klinis berupa nyeri di daerah pinggang bawah bersifat local dengan atau tanpa gejala yang berasal dari organ dalam daerah lain.

Gambaran klinis berupa nyeri pinggang bawah disebabkan oleh:
– Cidera angkat barang / cidera olahraga dengan posisi yang tidak tepat (Muscle Back Strain)
– 
HNP lumbal
– Spondylolisthesis lumbal
– Spondylosis / spondyloarthrosis
– Syndrome myofascial
– Canalis stenosis medulla spinalis
– Compresi fraktur vertebra lumbal
– TBC tulang belakang
– Osteoporosis vertebra lumbal
– Tumor / varices spinalis

PEMERIKSAAN
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan khusus
3. Pemeriksaan penunjang

PENATALAKSANAAN
Fase Akut (kurang dari 48 jam setelah terjadi gangguan)
1. Bed rest total
2. Cold teraphy / Terapi dingin
3. Tens / Interferential terapi
4. Positioning
5. Stabilisasi lumbal

Fase Pemulihan:
1. Terapi hangat
2. Terapi stimulasi (Tens / Interferential terapi)
3. Terapi stabilisasi pasif (pasang korset)
4. Terapi stabilasi aktif (senam untuk meningkatkan kekuatan otot lumbal dan perut)
5. Lumbal traksi elektris jika memungkinkan sesuai dengan hasil MRI
6. Manual terapi lumbal

Fase Rehabilitasi:
1. Lifting teknik yang benar: cara mengangkat / dorong beban dll
2. Ergonomic saat beraktivitas (tidur, duduk, berdiri, jalan, posisi meja dan kursi saat bekerja dll)
3. Berenang

Baca juga artikel:
https://pantirapih.or.id/rspr/layanan-rehabilitasi-medik-rs-panti-rapih/
https://pantirapih.or.id/rspr/dilema-anak-telat-bicara/
https://pantirapih.or.id/rspr/paket-fisioterapi-rs-panti-rapih/

Informasi Pelayanan : 
Instalasi Rehabilitasi Medik
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Senin – Sabtu, pk 07.00 – 16.00 WIB
Hari Minggu dan tanggal merah tutup

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating