Suntik Botox Untuk Penyakit Saraf. Memang Bisa? 5/5 (3)

Sahabat Sehat, apakah pernah mendengar tentang botox? Saat ini, suntikan botox banyak digunakan untuk kecantikan. Tetapi, tahukah Sahabat Sehat bahwa awal mulanya botox lebih banyak digunakan untuk menangani berbagai penyakit daripada untuk kecantikan? Yuk, kita bahas!

Mengenal Botox

Botox, atau botulinum toxin, merupakan zat yang diekstrak dari bakteri Clostridium botulinum.  Bakteri ini pertama kali dikenal pada tahun 1700-an saat terjadi keracunan massal di Eropa dan Amerika Serikat, setelah banyak orang mengonsumsi makanan kaleng. Bakteri ini menyerang sistem saraf sehingga terjadi kelumpuhan otot di seluruh tubuh.

Namun, seiring perjalanan waktu, para peneliti menemukan bahwa zat racun yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum tersebut dapat diekstrak dan digunakan untuk menangani beberapa penyakit. Banyak penelitian dilakukan pada hewan uji coba hingga akhirnya botox dapat digunakan pada manusia.

Manfaat Botox pada Penyakit Saraf

Botox bekerja dengan cara mencegah kontraksi otot. Setelah disuntikkan, botox memerlukan durasi sekitar 1  minggu untuk dapat menunjukkan hasilnya. Suntikan botox bersifat lokal dan sementara, yang berarti botox hanya bekerja di area yang disuntik dan hanya bertahan selama beberapa bulan. Umumnya efek dari pemberian botox dapat bertahan selama 3 – 6 bulan. Apabila efek botox telah berkurang atau menghilang, pasien dapat menjalani proses penyuntikan botox ulang,

Pasien pascastroke yang menderita kekakuan (spastisitas) pada tangan dan kaki sering mengalami nyeri yang membuat pasien semakin sulit bergerak. Pemberian suntikan botox dapat dilakukan untuk mengurangi kekakuan tersebut, sehingga nyeri berkurang, otot menjadi lebih lentur, dan sekaligus dapat mempermudah proses fisioterapi.

 

Botox juga bermanfaat untuk berbagai penyakit gangguan gerak. Pernahkah Sahabat Sehat melihat seseorang yang mengalami “kedutan” atau kontraksi di satu sisi wajah? Kedutan tersebut muncul terus-menerus dan tidak bisa dihentikan. Kondisi ini disebut spasme hemifasial atau hemifacial spasm. Spasme hemifasial ini dapat dikurangi dengan menyuntikkan botox pada beberapa otot wajah. Selain itu, gangguan gerak lain seperti distonia dan tremor juga dapat berkurang setelah pemberian botox.

Pemberian suntikan botox harus dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Setiap pasien memerlukan dosis yang berbeda dan lokasi penyuntikan yang berbeda pula. Dokter juga harus memantau efek samping dan respon pasca penyuntikkan.

Efek Samping Botox

Pemberian suntikan botox relatif aman dengan efek samping minimal. Efek samping yang paling sering muncul adalah rasa nyeri dan lebam di area penyuntikan. Suntikan botox yang dilakukan pada satu sisi wajah dapat memicu bentuk wajah yang tidak simetris. Kelemahan otot juga dapat muncul. Efek samping lain seperti infeksi dan reaksi alergi jarang terjadi.

Efek dari botox tidak permanen. Oleh karena itu, setiap efek samping yang muncul setelah penyuntikan juga tidak permanen. Apabila muncul wajah yang tidak simetris atau kelemahan otot pascasuntikan, setelah 3 – 6 bulan akan kembali seperti semula.

Botox tidak hanya digunakan untuk mempercantik wajah, tetapi juga dapat mengatasi berbagai penyakit, termasuk penyakit saraf. Jika Sahabat Sehat mengalami kekakuan otot, kontraksi atau gerakan otot yang tidak normal, berkonsultasilah dengan dokter spesialis saraf terlebih dahulu. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani Sahabat Sehat yang memerlukan tindakan botox.

 

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N, RPSGT

(Dokter Spesialis Neurolog RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

SERANGAN TIDUR MENDADAK? WASPADA NARKOLEPSI 5/5 (14)

Sahabat Sehat, pernahkah merasa sangat ngantuk sampai mendadak tertidur, padahal sedang ngobrol atau kerja? Atau, pernahkah merasa “lumpuh” beberapa detik, padahal sadar penuh? Kalau iya, itu bukan cuma capek biasa. Bisa jadi itu tanda narkolepsi loh!

Mengenal Narkolepsi

Narkolepsi adalah gangguan neurologis kronis yang membuat otak tidak bisa mengatur siklus tidur-bangun dengan normal. Penderita narkolepsi bisa “masuk mode tidur” kapan saja dan dimana saja, bahkan saat mereka sedang beraktivitas. Kondisi ini bukan disebabkan oleh rasa malas atau kurang tidur, tetapi karena adanya gangguan pada sistem saraf yang disebut orexin. Kondisi ini cenderung lebih sering dialami oleh perempuan pada usia remaja atau dewasa muda.

 

Gejala Narkolepsi

Penderita narkolepsi memiliki beberapa gejala utama, yaitu :

  1. Excessive Daytime Sleepiness, rasa ngantuk yang sangat berat dan sulit untuk dilawan hingga dapat menimbulkan “serangan tidur mendadak”.
  2. Katapleksi, hilangnya kekuatan otot di seluruh tubuh secara mendadak hingga membuat penderitanya jatuh. Kondisi ini dapat muncul selama beberapa detik – menit. Biasanya katapleksi dipicu oleh peningkatan emosi, seperti tertawa terbahak-bahak, marah, atau sedih.
  3. Halusinasi hipnagogik, halusinasi yang muncul saat masa transisi antara tidur dan bangun. Orang Indonesia sering menyebut kondisi ini sebagai “tindihan”.

Oleh karena keluhan tersebut muncul sewaktu-waktu, kualitas hidup dan aktivitas dari penderitanya sangat terganggu. Sering kali penderita narkolepsi sulit bekerja, sulit berinteraksi sosial, dan bahkan mengalami kecelakaan. Stigma dari masyarakat juga semakin membuat penderita narkolepsi kesulitan dalam menjalani hidup sehari-hari.

 

 

Pemeriksaan dan Penanganan Narkolepsi

Pemeriksaan baku untuk mendeteksi narkolepsi secara pasti adalah PSG + MSLT, yaitu pemeriksaan polisomnografi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan Multiple Sleep Latency Test. Pasien tidur selama satu malam di rumah sakit untuk diamati gelombang tidurnya. Kemudian, keesokan harinya, pasien akan diberikan serangkaian instruksi dan pemeriksaan untuk mendeteksi serangan tidur mendadak yang sesuai dengan kriteria narkolepsi.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter spesialis saraf baru dapat menegakkan diagnosis dengan pasti apakah pasien benar-benar mengalami narkolepsi atau tidak. Jika pasien memang mengalami narkolepsi, pasien harus menjalani pengobatan rutin dengan dokter spesialis saraf.

 

 

Narkolepsi yang tidak ditangani dapat membahayakan penderitanya. Jika Sahabat Sehat merasa memiliki gejala narkolepsi atau mengenal seseorang yang mengalami hal tersebut, jangan ragu untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis saraf. Rumah Sakit Panti Rapih selalu siap mendampingi penderita narkolepsi.

 

 

Ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N, RPSGT

(Dokter Spesialis Neurolog RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Penyakit Parkinson dalam Rangka World Parkinson Day 2026 5/5 (8)

Tubuh yang kaku, tangan yang tremor, dan gerakan yang melambat. Itulah kondisi yang sering kita jumpai pada pasien dengan Penyakit Parkinson. Tetapi, apa itu Penyakit Parkinson?

Apa itu Penyakit Parkinson?

Penyakit Parkinson, atau lebih dikenal dengan “buyutan”, adalah salah satu jenis penyakit yang terjadi pada sistem saraf. Kerusakan terjadi pada pusat koordinasi gerakan otot yang disebut ganglia basalis. Penyakit ini bersifat progresif, yang artinya semakin lama akan semakin memburuk.

Penyakit Parkinson tidak menular, namun cenderung lebih sering dijumpai pada usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, memiliki riwayat penyakit saraf lain seperti stroke dan benturan kepala berulang. Pada umumnya Penyakit Parkinson muncul pada usia 40-70 tahun, rata-rata di atas usia 55 tahun. Di Indonesia, diperkirakan 10 orang dari setiap tahunnya mengalami Penyakit Parkinson. Penderita Parkinson sampai saat ini sekitar 200.000-400.000 dan diperkirakan akan menyerang 876.665 orang di Indonesia dari total jumlah penduduk sebesar 238.452.952 (Sumber : Buku Panduan Tatalaksana Penyakit Parkinson Indonesia, 2024).

 

 

Tanda dan Gejala Penyakit Parkinson

Awal mula seseorang menderita Penyakit Parkinson sering kali tidak diketahui dengan tepat. Rata-rata penyakit Parkinson terdiagnosis pada usia 60 tahun. Namun, gejala Penyakit Parkinson mungkin sudah dimulai jauh sebelum seseorang terdiagnosis Penyakit Parkinson. Tahapan tersebut disebut dengan tahap pre-diagnosis, dimana pasien mengalami gejala-gejala tertentu yang tidak disadari hal itu merupakan bagian dari Penyakit Parkinson, antara lain: gangguan buang air, hipotensi dengan perubahan posisi tubuh dari duduk menjadi berdiri (hipotensi ortostatik), gangguan mata, gangguan penciuman, gangguan tidur, depresi dan gangguan fungsi luhur/kognitif.

Lama kelamaan, tanda dan gejala khas Penyakit Parkinson akan muncul yang disebut sebagai gejala motorik. Gejala motorik dari Penyakit Parkinson meliputi gerakan yang semakin melambat, gangguan keseimbangan, kekakuan pada tangan dan kaki, tremor, postur/posisi badan yang semakin membungkuk, gangguan menelan, dan ekspresi wajah yang semakin datar. Seluruh tanda dan gejala ini akan semakin memberat seiring waktu. Sering kali, pasien berobat ke dokter pada saat gejala motorik ini sudah dirasakan.

Tanda dan Gejala Penyakit Parkinson

 

Penanganan Penyakit Parkinson

Hingga saat ini, belum ada obat atau alat yang bisa menyembuhkan Penyakit Parkinson sepenuhnya. Obat yang diberikan pada pasien dengan Penyakit Parkinson bertujuan untuk meringankan gejala dan memperlambat perburukan kondisi. Beberapa tindakan operasi dapat dilakukan pada pasien yang memenuhi kriteria. Oleh karena itu, pasien yang diduga mengalami Penyakit Parkinson harus memeriksakan diri ke dokter spesialis neurologi agar dapat memeroleh penanganan yang tepat.

Pasien dengan Penyakit Parkinson yang juga mengalami berbagai penyakit lain, seperti stroke, hipertensi, atau diabetes melitus, juga harus menjalani pengobatan untuk penyakit-penyakit tersebut. Apabila penyakit penyerta tidak ditangani dengan baik, maka Penyakit Parkinson akan lebih cepat memburuk.

Menghadapi Penyakit Parkinson bukanlah suatu hal yang mudah. Pasien dan keluarga pasien sering mengalami frustasi dan lelah menjalani pengobatan. Oleh karena itu, dukungan sosial dan kondisi mental yang stabil juga sangat dibutuhkan. Makan makanan dengan gizi seimbang serta olahraga rutin terbukti dapat membantu memperlambat perburukan Penyakit Parkinson. Fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi juga perlu dilakukan secara rutin. Kombinasi dari seluruh tindakan tersebut akan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan Penyakit Parkinson.

 

Menderita Penyakit Parkinson bukanlah akhir dari segalanya. Penderita penyakit ini tetap dapat bekerja, berkarya, dan beraktivitas dengan baik. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani para pasien dengan Penyakit Parkinson.

 

 

Artikel ditulis oleh


dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N, FAAN, DFIDN, MHPM

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurologi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mendengkur dan Stroke: Apa Hubungannya? 5/5 (13)

Mendengkur adalah kondisi umum yang bisa dialami siapa saja, tetapi tahukah Sahabat Sehat bahwa mendengkur bisa memicu stroke? Mitos atau fakta? Mari kita kenali lebih dalam.

Apa itu Mendengkur?

Mendengkur terjadi ketika saluran napas terhambat selama tidur, sehingga aliran udara yang keluar-masuk selama bernapas menyebabkan getaran dan menghasilkan suara. Hambatan saluran napas muncul karena otot di saluran pernapasan bagian atas (termasuk langit-langit mulut dan lidah) menjadi lemas selama tidur. Sumbatan tersebut akan cenderung lebih berat jika seseorang tidur dalam posisi terlentang.

Mendengkur sering dialami oleh orang obesitas, memiliki pembesaran amandel, leher pendek, dan kelainan rongga mulut. Semakin keras suara mendengkur, berarti semakin berat sumbatan saluran napas yang terjadi. Sebagian orang yang mendengkur akan mengalami periode berhenti bernapas. Kondisi ini disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Pasien yang mengalami OSA dapat mengalami beberapa keluhan seperti merasa mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan nyeri kepala.

OSA merupakan kondisi yang sering dijumpai. Akan tetapi, banyak penderitanya tidak terdiagnosis dan tidak tertangani dengan baik. Padahal kondisi ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan pembuluh darah dan jantung.

 

 

Hubungan Mendengkur dengan Stroke

OSA merupakan faktor risiko untuk penyakit pembuluh darah dan jantung, termasuk stroke. Semakin berat OSA, maka akan semakin tinggi risiko terserang stroke. Pada OSA, episode henti napas (apnea) dan/atau napas dangkal (hipopnea) memicu proses peradangan di seluruh tubuh. OSA juga memicu penurunan kadar oksigen dalam darah dan mengganggu irama tidur, sehingga pasien sering terbangun dan metabolisme tubuh terganggu. Kombinasi dari berbagai mekanisme ini akan merusak lapisan dalam pembuluh darah, memicu gangguan irama jantung, dan diabetes melitus. Pada akhirnya, OSA akan memicu stroke.

 

 

Bagaimana cara mencegah stroke akibat OSA?

Langkah pertama dan yang utama untuk mencegah stroke akibat OSA adalah dengan mendeteksi OSA terlebih dahulu. Pemeriksaan polisomnografi (PSG) adalah pemeriksaan baku emas (gold standard) untuk mendeteksi OSA. Pada pemeriksaan PSG, pasien tidur selama satu malam di rumah sakit. Beberapa alat akan dipasang di kepala, leher, dada, perut, dan kaki pasien. Dokter spesialis neurologi akan membaca hasil rekaman PSG. Dari hasil rekaman tersebut, kita dapat mengetahui secara objektif apakah pasien benar-benar mengalami OSA atau tidak. Kita juga dapat mengetahui seberapa parah OSA yang dialami pasien dan dapat mendeteksi apakah terdapat gangguan tidur lainnya.

 

 

Setelah menegakkan diagnosis OSA dengan menggunakan PSG, dokter spesialis neurologi dapat menentukan tindakan apa yang paling tepat bagi pasien. Setiap pasien OSA bisa memiliki penanganan yang berbeda-beda. Mendeteksi dan menangani OSA sedini mungkin dapat mencegah kemunculan berbagai penyakit, khususnya stroke. Penanganan OSA juga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien menjadi lebih bugar, tidak mudah lelah, tidak mudah mengantuk, dan performa kerja meningkat.

Oleh karena itu, pemeriksaan PSG penting untuk dilakukan.  Yuk, jaga kesehatan tidurmu!
Mau info lebih lanjut? Sahabat Sehat dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi di Rumah Sakit Panti Rapih.

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurolog RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Mengapa Saya Mudah Mengantuk? 5/5 (8)

Sudah tidur semalaman, tetapi merasa tidak bugar di pagi hari. Sudah minum kopi, tetapi masih mengantuk terus sepanjang hari. Tidak banyak kegiatan, tetapi merasa letih dan lesu. Pernahkah Sahabat Sehat mengalami hal tersebut? Apa sih yang salah?

 

Mengenal Excessive Daytime Sleepiness

Excessive daytime sleepiness (EDS) adalah rasa mengantuk yang disertai dorongan untuk tidur di waktu yang seharusnya tetap terjaga. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, performa kerja, dan kualitas hidup secara signifikan. EDS itu sendiri bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala dari kondisi atau penyakit lain.

EDS dapat disebut sebagai gejala yang normal apabila muncul pada seseorang yang terlalu lelah dan tidak memiliki tidur yang cukup. EDS tersebut akan menghilang jika mereka sudah beristirahat atau mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas. Apabila menetap, berarti EDS tersebut merupakan gejala dari penyakit lain seperti gangguan pernapasan saat tidur (sleep-related breathing disorder), gangguan gerak saat tidur (sleep related movement disorder), gangguan irama tidur (irama sirkadian), dan gangguan hipersomnia. Selain itu, EDS juga bisa menjadi gejala dari gangguan mental/psikiatri seperti depresi. EDS juga dapat muncul pada berbagai penyakit lain seperti demensia, pasca stroke, dan penyakit jantung kongestif.

 

 

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Mengalami EDS?

Penyebab munculnya EDS sangat bervariasi. Oleh karena itu, pasien yang mengalami EDS perlu berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kebiasaan tidur, mendeteksi gangguan fisik, atau gangguan psikiatri. Apabila dokter mencurigai pasien mengalami EDS akibat gangguan psikiatri, maka pasien perlu berkonsultasi dan berobat ke dokter spesialis kejiwaan. Apabila dokter mencurigai pasien mengalami EDS akibat gangguan tidur lainnya, maka pasien perlu menjalani pemeriksaan polisomnografi (PSG).

Pemeriksaan Polisomnografi pada Penderita EDS

Pemeriksaan PSG merupakan pemeriksaan baku emas (gold standard) untuk mendeteksi berbagai gangguan tidur yang memicu EDS, seperti gangguan pernapasan saat tidur (obstructive sleep apnea dan central sleep apnea), gangguan gerak saat tidur (restless legs syndrome dan periodic limb movement), serta hipersomnolen (misalnya narkolepsi). Beberapa alat akan dipasang di tubuh pasien. Alat tersebut berguna untuk mendeteksi gelombang otak, kontraksi otot, gerakan mata, detak jantung, hembusan napas, gerakan dada, gerakan perut, dan kadar oksigen dalam darah selama pasien tidur. Pasien harus tidur selama satu malam di rumah sakit sambil dilakukan monitoring oleh petugas yang telah terlatih.

 

 

Dokter spesialis neurologi akan menilai hasil pemeriksaan PSG tersebut. Dokter akan menganalisis jenis gangguan tidur yang dialami oleh pasien dan tindakan apa yang harus dilakukan. Setiap gangguan tidur akan memiliki penanganan yang berbeda.

Pasien dengan gangguan tidur yang disertai dengan EDS tidak boleh minum obat sembarangan. Oleh karena itu, Sahabat Sehat jangan ragu untuk berkonsultasi jika mengalami keluhan di atas. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani Sahabat Sehat untuk menangani berbagai gangguan tidur.

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih)

 

Mohon dapat memberikan rating

Mendengkur Saat Tidur, Wajar atau Tidak? 5/5 (13)

Sahabat Sehat pasti pernah mendengar orang yang mendengkur saat tidur. Atau justru Sahabat Sehat sendiri yang mengalaminya? Mendengkur atau mengorok adalah suara kasar yang terdengar saat seseorang sedang tidur. Banyak orang yang menganggap mendengkur adalah hal yang wajar dan tidak berbahaya. Benarkah demikian?

Mengapa Seseorang Bisa Mendengkur?

Mendengkur terjadi karena saluran pernapasan bagian atas bergetar saat seseorang bernapas. Ketika tidur, otot di rongga mulut, lidah, dan tenggorokan akan menjadi rileks. Udara yang berhembus saat bernapas akan menggetarkan otot-otot di daerah tersebut dan suara mendengkur akan terdengar.

Tidak semua orang bisa mendengkur. Biasanya, seseorang dengan kelainan bentuk rongga mulut, leher yang pendek, dan obesitas akan lebih mudah mendengkur. Mendengkur juga lebih sering dijumpai ketika seseorang sedang tidur pulas/tidur dalam.

 

Apakah Mendengkur Berbahaya?

Pernahkah Sahabat Sehat melihat orang yang tampak berhenti bernapas setelah mendengkur? Beberapa saat kemudian, orang tersebut akan kembali bernapas atau bahkan sampai terbangun. Mendengkur bukan hal yang wajar meskipun sedang lelah dan dapat menjadi suatu kondisi yang berbahaya, karena sering terkait dengan suatu penyakit yang disebut sebagai Obstructive Sleep Apnea (OSA). Penderita OSA akan mendengkur saat tidur dan disertai dengan berhentinya napas sementara. OSA dapat terjadi secara berulang dalam satu malam. Semakin sering dan semakin lama durasi henti napas, maka semakin berat derajat keparahan penyakit OSA.

OSA sering tidak terdiagnosis. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kondisi ini membuat penderita OSA tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Padahal, kejadian OSA berhubungan dengan berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke. Selain itu, OSA juga dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan diabetes melitus.

Penderita OSA cenderung mengantuk di pagi dan siang hari meskipun sudah tidur semalaman. Sehingga, kemampuan mereka untuk berkonsentrasi dan performa kerja akan menurun. Penderita OSA yang berat dapat berisiko mengalami kecelakaan atau cedera karena mengalami microsleep. Microsleep adalah kondisi dimana seseorang mendadak tertidur sesaat di tengah kegiatan mereka.

Bagaimana Cara Mendeteksi Obstructive Sleep Apnea Secara Objektif?

Polisomnografi (PSG) merupakan pemeriksaan yang harus dilakukan pada penderita OSA.  Pada pemeriksaan PSG, beberapa alat akan dipasang di tubuh pasien. Alat tersebut berguna untuk mendeteksi gelombang otak, kontraksi otot, gerakan mata, detak jantung, hembusan napas, gerakan dada, gerakan perut, dan kadar oksigen dalam darah selama pasien tidur. Pasien harus tidur selama satu malam di rumah sakit sambil dilakukan monitoring oleh petugas yang telah terlatih.

Dengan melakukan pemeriksaan ini, kita dapat mengetahui tingkat keparahan OSA secara objektif. Kita juga dapat mengetahui posisi tubuh yang sering memicu OSA dan mendeteksi gangguan tidur lain yang menyertai OSA.

 

 

Bagaimana Penanganan Obstructive Sleep Apnea?

Penanganan OSA tergantung dari derajat keparahan OSA. Setiap derajat keparahan OSA memiliki penanganan yang berbeda. OSA derajat berat bahkan memerlukan alat khusus untuk membantu pernapasan selama tidur. Pemicu OSA juga harus dideteksi. Pasien OSA dengan obesitas, kelainan rongga hidung, kelainan rongga mulut, atau kelainan bentuk rahang memiliki penanganannya tersendiri.

Apabila Sahabat Sehat merasa memiliki kondisi di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter spesialis neurologi. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani Sahabat Sehat demi tidur yang lebih berkualitas.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih)

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Insomnia atau bukan ya? 5/5 (8)

Sahabat Sehat, pernahkah kalian sulit untuk mulai tidur? Atau, mudah terbangun saat tidur dan akhirnya tidak bisa kembali tidur? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami insomnia. Sebetulnya, apa sih insomnia itu? Yuk, kita pelajari sama-sama!

Definisi Insomnia

Insomnia merupakan salah satu jenis gangguan tidur yang ditandai dengan :

  • Sulit mulai tidur
  • Sulit mempertahankan tidur (sering terbangun di tengah tidur)
  • Terbangun lebih awal dan sulit kembali tidur
  • Kualitas tidur buruk(non restorative)

Kondisi di atas akan menimbulkan berbagai dampak di siang hari. Penderitanya akan merasa tubuh tidak bugar, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, performa kerja menurun, dan masih banyak lagi. Insomnia jangka panjang yang tidak tertangani bisa memicu gangguan kecemasan dan depresi.

Jenis Insomnia

Insomnia bisa dibedakan berdasarkan durasinya. Insomnia jangka pendek (short-term insomnia) ditandai dengan munculnya gejala insomnia yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Insomnia jangka pendek biasa muncul pada seseorang yang baru saja mengalami stres, perubahan kebiasaan, atau perubahan lingkungan. Insomnia kronik ditandai dengan munculnya gejala insomnia selama setidaknya 3 kali per minggu selama 3 bulan atau lebih. Insomnia kronik biasa muncul pada seseorang yang memiliki penyakit medis, gangguan sistem saraf, atau gangguan mental.

Pemicu Insomnia

Ada banyak faktor yang dapat memicu insomnia. Penyalahgunaan obat dan alkohol, perubahan lingkungan, serta sleep hygiene yang buruk dapat memicu insomnia. Penyakit mental maupun fisik (gangguan jantung, nyeri, dll) juga dapat memicu timbulnya insomnia. Untuk dapat mengatasi insomnia secara efektif, pemicu insomnia ini harus segera diketahui terlebih dahulu.

Cara Mendeteksi Insomnia Secara Objektif

Banyak orang yang mengaku mengalami insomnia dan sering mendiagnosis diri sendiri (self diagnosis). Padahal belum tentu gejala yang dialaminya termasuk dalam kriteria insomnia. Ada beberapa cara untuk mendeteksi insomnia secara objektif, yaitu :

  • Mengisi kuesioner tentang insomnia

Ada beberapa kuesioner yang bisa digunakan untuk mendeteksi gangguan tidur, termasuk insomnia. Dengan mengisi kuesioner tersebut, Sahabat Sehat dapat mengetahui kualitas tidur dan juga bisa mengetahui apakah telah mengalami insomnia derajat ringan, sedang, atau berat.

  • Pemeriksaan Polisomnografi (PSG)

PSG adalah pemeriksaan untuk mendeteksi berbagai gangguan tidur. Beberapa alat akan ditempelkan di kepala, dada, perut, dan kaki Sahabat Sehat. Alat ini akan merekam aktivitas selama tidur, seperti gelombang otak, gelombang mata, gelombang otot, pola napas, posisi tubuh, kadar oksigen dalam darah, serta detak jantung. PSG dapat digunakan untuk memeriksa insomnia, apabila dokter mencurigai adanya kondisi lain yang memicu insomnia. Misalnya, gangguan pernapasan selama tidur (sleep related breathing disorder) dan gangguan kontraksi kaki selama tidur (periodic limb movement disorder).

Penanganan Insomnia

Penanganan insomnia sangat individual. Mencari penyebab utama insomnia sangatlah penting karena pengobatan insomnia harus sesuai dengan penyebabnya. Penyebab insomnia dibagi menjadi primer dan sekunder. Primer berarti tidak ada pemicu yang jelas, sedangkan sekunder berarti ada pemicu yang jelas, seperti penyakit mental, gangguan saraf, penyalahgunaan obat, atau perubahan lingkungan. Untuk menanganinya, pasien dapat diberikan tata laksana yang sesuai dengan kondisi dan memperbaiki sleep hygiene.

Sleep hygiene, atau kebersihan tidur, adalah serangkaian tindakan yang dapat meningkatkan kualitas tidur. Sleep hygine harus dilakukan oleh semua orang, tidak hanya dilakukan oleh penderita insomnia saja. Sleep hygiene ini meliputi :

  • Menjaga kamar tidur tetap bersih, rapi, dan tenang. Kamar tidur sebaiknya hanya digunakan untuk tidur dan aktivitas seksual saja. Bagi Sahabat Sehat yang tinggal dalam 1 kamar kos tanpa sekat, biasakan untuk menggunakan kasur hanya untuk tidur dan menata barang di sekitar kasur.
  • Hindari pajanan sinar berlebih sebelum jam tidur. Hal ini termasuk scrolling handphone, menonton TV, laptop, dan komputer.
  • Hindari banyak makan menjelang jam tidur. Sebaiknya Sahabat Sehat tidak makan sekitar 3 jam sebelum jam tidur.
  • Hindari konsumsi kafein berlebih terutama menjelang jam tidur.
  • Biasakan tidur dan bangun tidur di jam yang sama.
  • Kelola stres.
  • Rutin berolahraga

Nah, bagaimana Sahabat Sehat? Apakah Sahabat Sehat benar-benar mengalami insomnia? Kalau masih ragu, Sahabat Sehat bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi di Rumah Sakit Panti Rapih. Yuk tingkatkan kualitas tidur kita untuk hidup yang lebih baik!

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih)

 

Info lebih lanjut :

Klinik Saraf RS Panti Rapih

Lantai 5, Gedung Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran 24 jam :

Telepon ; 0274 – 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Gangguan Tidur dan Polisomnografi 4.93/5 (14)

Pernahkah Sahabat Sehat merasa tidak segar meski telah tidur semalaman? Atau mungkin mengalami nyeri kepala dan kantuk berlebihan di siang hari? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami gangguan tidur lho!

Gangguan tidur sering kali tidak terdeteksi. Sebagian orang bahkan mengabaikan gangguan tidur tersebut dan menganggapnya sebagai kondisi yang tidak berbahaya. Padahal faktanya, gangguan tidur dapat mengganggu fungsi pembuluh darah, otak, jantung, dan menurunkan kualitas hidup dari penderitanya. Lalu, bagaimana cara kita mendeteksi gangguan tidur?

 

 

Pemeriksaan Polisomnografi

Polisomnografi (PSG) adalah alat untuk memeriksa kondisi seseorang saat tidur. Dengan menggunakan PSG, kita dapat menilai kualitas tidur dan mendeteksi gangguan tidur secara objektif. Beberapa alat akan dipasang di area kepala dan badan Anda. Alat tersebut akan merekam gelombang otak, otot, dan pernapasan selama Anda tidur. Setelah itu, dokter spesialis neurologi akan memeriksa apakah gelombang-gelombang tersebut normal atau tidak normal.

Ilustrasi Pemeriksaan PSG

 

Bagaimana pola tidur yang normal?

Ketika tidur, kita dapat mengalami beberapa fase, yaitu fase non – rapid eye movement (non-REM) dan fase REM.  Fase non-REM masih bisa dibedakan menjadi fase non-REM tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3.

Saat mengantuk dan mulai tertidur, kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 1. Apabila kita tidur tetapi masih mudah terbangun (tidur dangkal), kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 2. Sedangkan ketika kita tidur dan lebih sulit dibangunkan (tidur dalam), kita sudah masuk ke dalam fase non-REM tingkat 3. Fase non-REM tingkat 3 sering diikuti dengan fase REM, dimana pada fase ini kita dapat bermimpi. Seluruh fase tersebut merupakan 1 siklus tidur. Ketika 1 siklus sudah selesai, maka kita bisa masuk ke dalam siklus yang baru.

 

Siklus Tidur Normal

 

Apa saja jenis gangguan tidur?

Gangguan tidur ada banyak jenisnya. Menurut International Classification of Sleep Disorder III (ICSD III) , gangguan tidur dapat dibagi menjadi : insomnia, gangguan bernapas saat tidur, hipersomnia, gangguan irama tidur, parasomnia, gangguan gerak saat tidur, dan gangguan tidur lainnya.  Dari berbagai jenis gangguan tidur tersebut, Anda pasti lebih familiar dengan insomnia dan gangguan bernapas saat tidur (seperti mengorok).

Insomnia adalah gangguan tidur dimana penderitanya mengalami kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terjaga terlalu dini. Insomnia ini lebih sering dijumpai pada perempuan, memiliki gangguan psikiatri, atau sering mengonsumsi kopi dan rokok. Apabila insomnia tidak didiagnosis dengan tepat dan tidak ditangani, maka dapat menurunkan fungsi memori, memicu depresi, dan menurunkan performa dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda dan Gejala Insomnia

 

Pernahkah Anda melihat orang yang mengorok saat tidur, kemudian tampak berhenti bernapas sesaat? Kondisi itu disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Mengorok lebih sering dijumpai pada seseorang dengan obesitas, jenis kelamin laki-laki, usia lanjut, memiliki kelainan struktur anatomi hidung, rahang, dan dagu, memiliki pembesaran tonsil/amandel, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan rokok. Mengorok sering kali danggap sebagai hal yang wajar oleh banyak orang. Padahal kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung, seperti hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Ilustrasi OSA

 

Apa yang harus kita lakukan jika mengalami gangguan tidur?

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui jenis gangguan tidur dengan mengisi kuesioner terkait gangguan tidur dan/atau menjalani pemeriksaan PSG. Setiap jenis gangguan tidur memiliki penanganan yang berbeda-beda. Apabila tidak diperiksa secara objektif, kita tidak bisa menentukan penanganan yang sesuai. Penanganan gangguan tidur tidak hanya dengan pemberian obat, tetapi dapat berkolaborasi dengan psikolog/psikiater, dokter spesialis THT, dokter spesialis paru, rehabilitasi medik, dan ahli gizi. Konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dan hasil PSG Anda dengan dokter spesialis neurologi, agar bisa menentukan penanganan yang tepat.

Tidur yang berKualitas adalah kebutuhan bagi semua orang. Tidur yang berkualitas bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus mencegah berbagai penyakit. Jangan sepelekan gangguan tidur yang Anda alami. Yuk, periksa PSG di Rumah Sakit Panti Rapih!

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, AIFO-K, Sp.N

(Dokter Spesialis Saraf RS Panti Rapih)

 

Sumber :

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. In brief: What is “normal” sleep? [Updated 2024 Aug 1]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279322/

Islamiyah WR (ed.). 2018. Panduan Tatalaksana Gangguan Tidur. Jakarta : Sagung Seto.

Sleep Apnea: Types, Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment

Sleepapnea.sleep-disorders.net/types

Insomnia: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Mengobati Nyeri Otot Dengan Teknik Dry Needling No ratings yet.

Nyeri pada otot merupakan nyeri yang sangat sering terjadi, nyeri otot akibat aktivitas harian dan olah raga dapat mengenai semua orang. Nyeri otot ini dapat dikenal dengan nyeri miofasial/Miofacial Pain Syndrome. Proses kimiawi pelepasan ion kalsium pada akhiran otot akan menyebabkan terjadinya gangguan berupa pemendekan pada serat otot yang dikenal sebagai Taut band.

 

Taut band adalah kondisi abnormal dari otot yang berupa otot yang memendek dan mengeras (mrongkol) sehinga pada saat diraba akan terasa keras dan nyeri saat ditekan. Penekanan pada Taut band akan menimbulkan rasa sakit pada area tekanan, nyeri menjalar ke area sekitar atau menimbulkan kejutan otot sesaat (twitching).

 

Nyeri Miofasial dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab usia tua, trauma, kurangnya olah raga, postur tubuh yang kurang baik saat aktivitas harian, kecemasan, depresi, defisiensi vitamin B atau D, kurang tidur, gangguan sendi dan aktivitas fisik yang berlebihan.

 

Penanganan Sindrom Nyeri Miofasial sangat beragam tergantung kondisi pasien, Pemberian obat-obatan antiinflamasi oral maupun suntikan, terapi fisik/fisioterapi, pelenturan aktif/pasif, tapping untuk drainase limfatik, hot/coldpack, dan Teknik Dry Needling

 

Dry needling merupakan teknik penusukkan dengan jarum monofilamen tipis pada otot yang mengalami gangguan atau Taut band. Jarum yang digunakan sama dengan jarum akupuntur sehingga tidak ada obat yang disuntikkan kedalam otot. Berbeda dengan akupuntur, Dry Needling merupakan Teknik pengobatan Western yang fokus pada pelepasan ketegangan otot yang menimbulkan nyeri dengan melakukan penusukan pada fasia dan otot yang terganggu.

Dry needling biasanya digunakan pada berbagai gejala nyeri yang melibatkan saraf, otot dan tulang rangka, pada kasus nyeri tungkai, bokong, punggung belakang, pundak, bahu, leher belakang serta untuk nyeri kepala. Beberapa kondisi pasien memang tidak dapat dilakukan dry needling seperti ibu hamil, kondisi Immunocompromised, dan anak kurang dari 12 tahun.

Prosedur Dry Needle dapat dilakukan di klinik tanpa memerlukan waktu yang panjang, jarum akan ditusukkan dan dilakukan stimulasi pada otot yang nyeri. Stimulasi dengan jarum akan merangsang otot yang menyebabkan otot berkontraksi atau berkedut dan hal ini membantu menghilangkan rasa sakit serta meningkatkan fleksibilitas gerakan otot.

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Esdras Ardi Pramudita, DFIFN, M.Sc, Sp.N, FAAN.

(Dokter Spesialis Saraf RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Transcranial Doppler (TCD) Mengintip Aliran Darah di Dalam Otak dan Cegah Stroke 5/5 (4)

Sistem pembuluh darah di dalam otak kita sangatlah penting, sistem ini mendukung distribusi nutrisi dan oksigen ke sel-sel otak sehingga metabolismenya dapat tetap berlangsung. Otak kita bertanggung jawab memberikan perintah kepada organ-organ penting dalam tubuh, hal ini dapat berlangsung apabila metabolisme otak berlangsung dengan baik.

Pembuluh darah pada manusia dibagi menjadi dua yaitu, pembuluh darah arteri yang membawa oksigen dan nutrisi dan pembuluh darah bali (vena) yang membawa karbondioksida. Pembuluh darah arteri memiliki dinding yang kenyal karena dindingnya dibangun dari otot sehingga pembuluh darah ini dapat berkontraksi. Sedangkan pembuluh darah vena tidak mampu berkontraksi, untuk dapat mengembalikan darah menuju jantung pembuluh darah ini menggunakan sistem katub.

Arteri akan membawa darah yang kaya oksigen dan nutrisi ke sel, maka apabila arteri ini tersumbat maka sel akan kekurangan oksigen, bila keadaan ini terjadi di pembuluh darah otak maka disebut dengan Stroke, bila sumbatan arteri terjadi di jantung akan disebut dengan Penyakit Jantung Koroner dan bila terjadi di kaki maka disebut dengan Penyakit Arteri Perifer Oklusi (PAPO) atau Peripheral Arterial Disease (PAD).

Saat ini aliran darah di pembuluh darah darah arteri dapat dilihat dari luar, sehingga dapat dilihat apakah terjadi perubahan pada aliran darah yang mengarah pada suatu sumbatan pada pembuluh darah atau keadaan lainnya. Transcranial Doppler (TCD) dapat digunakan untuk melihat aliran darah di dalam pembuluh darah otak dengan  menggunakan teknologi ultrasound. Teknologi ultrasound dalam dunia kedokteran sudah sering digunakan yaitu pada alat USG. Pada pemeriksaan TCD, gelombang ultrasound yang dihasilkan akan membentur sel-sel darah yaitu eritrosit dan dipantulkan kembali ke alat TCD kemudian diolah sebagai data sehingga dapat ditentukan kecepatan aliran darah, index pulsasi dari arteri dan irama aliran darah di otak.

Pengertian Pemeriksaan TCD
Pemeriksaaan sederahana, murah, non invasif dan real time. Pemeriksaan ini tidak membutuhkan persiapan khusus sehingga pasien dapat menjalani pemeriksaan ini kapan saja, bila dibandingkan pemeriksaan CT Scan atau MRI tentunya pemeriksaan lebih murah. TCD bukan suatu pemeriksaan invasif hanya cukup menempelkan probe TCD di atas kulit di area kepala dan pasien tidak merasakan sakit, hanya suara berdenging saja yang terdengar oleh pasien yang merupakan suara ultrasound, karena non invasif maka pemeriksaan ini dapat diulang berkali-kali.

Transcranial Doppler akan memberikan gambaran aliran darah di otak secara real time artinya keadaan aliran darah di otak pada saat itu langsung dapat terlihat. Semua alat memiliki kelebihan dan kekurangan, TCD memiliki keterbatasan apabila pasien memiliki tulang kepala yang tebal sehingga gelombang ultrasound tidak dapat menembus masuk, TCD menentukan fungsional aliran darah sehingga alat ini tidak dapat melihat struktur jaringan otak, sehingga pada kondisi tertentu memerlukan kombinasi pemeriksaan dengan CT Scan atau MRI kepala bahkan pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA). 

Kapan Seseorang Harus Menjalani Pemeriksaan TCD?

TCD dilakukan pada pasien Stroke, Penyakit Sikle Cell, Malformasi Arteri-vena, Mati Batang Otak, Vasospasme pada kasus perdarahan Subaraknoid, Defek Septum Jantung dan masih banyak kasus lain.  TCD dapat dilakukam sebagai pemeriksaan preventif yaitu pada orang yang memiliki risiko vaskuler seperti diabetes, hipertensi, merokok, dislipidemia, obesitas maka TCD dapat dilakukan untuk skrining dan deteksi dini kondisi aliran darah di otak, apabila didapatkan kondisi aliran darah yang tidak baik maka faktor-faktor risiko vaskuler harus segera diperbaiki sehingga dapat mencegah terjadinya stroke.

Yuk baca artikel lainnya: https://pantirapih.or.id/rspr/?s=saraf

Lokasi Pelayanan :
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (4)

Mohon dapat memberikan rating