Kenali Faktor Risiko dan Cara Mengatasi Perlemakan Hati (Fatty Liver) 5/5 (1)

Perlemakan hati atau fatty liver adalah kondisi ketika lemak menumpuk berlebihan di dalam sel-sel hati. Dalam dunia medis, kondisi ini sering disebut sebagai fatty liver disease atau steatotic liver disease. Hati sebenarnya memang mengandung sedikit lemak, tetapi jika jumlahnya terlalu banyak maka fungsi hati dapat terganggu. Perlemakan hati cukup sering ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak. Namun, orang dengan berat badan normal pun tetap bisa mengalami kondisi ini.

 

Pada tahap awal, perlemakan hati sering tidak menimbulkan gejala sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Sebagian penderita hanya merasa cepat lelah, perut kanan atas terasa tidak nyaman, atau tubuh terasa kurang bugar. Karena gejalanya samar, kondisi ini sering baru diketahui saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin atau USG abdomen. Meski tampak ringan, perlemakan hati tidak boleh dianggap sepele karena pada sebagian orang dapat berkembang menjadi peradangan hati, kerusakan jaringan hati, bahkan sirosis atau gagal hati dalam jangka panjang.

Selain merusak hati, perlemakan hati juga berkaitan erat dengan gangguan metabolik lainnya. Orang dengan fatty liver memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Oleh karena itu, perlemakan hati bukan hanya masalah pada hati saja, tetapi juga menjadi tanda bahwa metabolisme tubuh sedang tidak sehat. Semakin dini kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika seseorang memiliki faktor risiko seperti obesitas, lingkar perut besar, diabetes, kolesterol atau trigliserida tinggi, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan. Pemeriksaan juga dianjurkan bila hasil tes fungsi hati meningkat tanpa penyebab yang jelas. Dokter biasanya akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes darah, dan USG hati. Pada kondisi tertentu, mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk menilai apakah sudah terjadi peradangan atau kerusakan hati yang lebih lanjut.

Kabar baiknya, perlemakan hati sering kali dapat membaik dengan perubahan gaya hidup. Penanganan utama bukanlah obat khusus, melainkan memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik. Penurunan berat badan secara bertahap terbukti dapat mengurangi kadar lemak di hati. Mengurangi konsumsi minuman manis, makanan cepat saji, gorengan, dan karbohidrat berlebihan juga sangat membantu. Selain itu, olahraga rutin minimal 30 menit sebanyak 3–5 kali seminggu dapat memperbaiki kesehatan hati dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Bagi orang yang sudah mengalami perlemakan hati, ada beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari. Perbanyak konsumsi sayur, buah, protein sehat, dan air putih. Hindari kebiasaan begadang karena kualitas tidur juga berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Batasi konsumsi alkohol dan hindari penggunaan obat atau suplemen tanpa anjuran dokter karena beberapa zat dapat memperberat kerja hati. Jika memiliki diabetes atau kolesterol tinggi, usahakan penyakit tersebut terkontrol dengan baik karena sangat memengaruhi kondisi hati.

Pencegahan perlemakan hati sebenarnya dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menjaga berat badan ideal, aktif bergerak, makan dengan pola seimbang, dan membatasi gula berlebih merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Pemeriksaan kesehatan rutin juga membantu mendeteksi masalah lebih awal sebelum muncul kerusakan yang serius. Dengan gaya hidup yang lebih sehat, hati dapat tetap bekerja optimal dan risiko berbagai penyakit metabolik pun ikut menurun.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rendhy Wisnugroho Santoso, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Virus Nipah: Gejala, Cara Penularan, dan Langkah Pencegahannya 5/5 (1)

Belakangan ini, kewaspadaan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular kembali meningkat di berbagai wilayah. Salah satu yang menjadi sorotan dunia kesehatan adalah Virus Nipah. Meski kasusnya jarang ditemukan, virus ini memiliki tingkat keparahan yang tinggi dan dapat menyebar melalui kontak erat. Edukasi yang tepat sangat penting agar kita tetap waspada tanpa harus panik berlebihan.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah adalah virus zoonosis, artinya virus ini berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia. Pertama kali ditemukan di Asia Tenggara, virus ini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat hingga saat ini. Inang alami dari virus ini adalah kelelawar pemakan buah.

Bagaimana Virus Ini Menular?

Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur utama:

Dari Kelelawar ke Manusia: Melalui konsumsi buah atau minuman (seperti air nira) yang telah terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran kelelawar.

Melalui Inang Perantara (Babi): Manusia dapat tertular melalui kontak langsung dengan babi yang sakit, mengolah daging mentah, atau mengonsumsi daging yang tidak dimasak hingga matang.

Antar Manusia: Penularan terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi.

Mengenali Gejala: Dari Flu hingga Gejala Berat

Gejala virus Nipah sering kali tidak khas pada tahap awal, sehingga terkadang sulit disadari.

1. Gejala Awal (Mirip Flu)

Pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, nyeri tenggorokan, dan tubuh terasa lemas.

2. Gejala Berat

Jika infeksi memburuk, virus dapat menyerang organ vital seperti otak dan paru-paru:

  • Terjadi radang otak (meningoensefalitis).
  • Penurunan kesadaran, kejang, hingga sesak napas.
  • Kondisi ini memerlukan perawatan intensif di rumah sakit karena dapat menyebabkan kematian.

Diagnosis dan Pengobatan

Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk menyembuhkan infeksi virus Nipah. Penanganan yang dilakukan dokter bersifat perawatan suportif dan intensif untuk meredakan gejala yang muncul.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, melihat riwayat paparan, dan melakukan tes laboratorium khusus seperti PCR atau serologi. Sampel laboratorium tersebut nantinya dikirimkan ke Puslitbang BTDK di Jakarta untuk hasil yang akurat.

Langkah Pencegahan Mandiri

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan:

  • Kebersihan Makanan: Selalu cuci dan kupas buah sebelum dimakan. Hindari buah yang tampak ada bekas gigitan hewan atau jatuh di tanah.
  • Masak Hingga Matang: Pastikan daging diolah sampai benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
  • Hindari Risiko: Jangan mengonsumsi minuman mentah yang berisiko terkontaminasi, seperti air nira.
  • Proteksi Diri: Rajin mencuci tangan, menggunakan masker, dan hindari kontak langsung dengan hewan yang tampak sakit.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Diabetes Gestasional: Waspadai Kenaikan Gula Darah Selama Kehamilan 5/5 (3)

Apa Itu Diabetes Gestasional?

Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang muncul selama kehamilan dan biasanya menghilang setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi ketika tubuh ibu hamil tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan selama masa kehamilan, sehingga kadar gula darah meningkat.

Perubahan hormon yang terjadi saat hamil dapat membuat tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, dan pada sebagian wanita, hal ini menyebabkan gula darah naik hingga menimbulkan gejala atau komplikasi.

Siapa yang Berisiko?

Setiap ibu hamil berpotensi mengalami diabetes gestasional, namun risikonya lebih tinggi pada mereka yang memiliki faktor-faktor berikut:

  • – Usia di atas 25 tahun
  • – Berat badan berlebih atau obesitas sebelum hamil
  • – Riwayat keluarga dengan diabetes
  • – Pernah mengalami diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
  • – Melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4 kg
  • – Riwayat keguguran berulang atau bayi lahir mati
  • – Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Gejala dan Waktu Terjadi

Sebagian besar ibu hamil tidak merasakan gejala khas, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting. Namun, pada beberapa kasus dapat timbul keluhan seperti:

  • – Sering haus dan sering buang air kecil
  • – Cepat lelah
  • – Penglihatan kabur
  • – Berat badan bayi meningkat berlebihan pada pemeriksaan USG

Diabetes gestasional biasanya terdeteksi pada trimester kedua atau ketiga, saat tubuh mengalami perubahan metabolik yang lebih besar.

Bagaimana Diagnosisnya?

Pemeriksaan skrining awal dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar gula darah pada usia kehamilan 24-28 minggu. Apabila didapatkan hasil yang tidak normal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Pemeriksaan ini dilakukan di laboratorium, di mana pasien diminta meminum larutan gula, kemudian kadar glukosa darah diperiksa pada waktu tertentu. Kriteria diagnosis mengikuti panduan dari WHO atau Kementerian Kesehatan RI. Bila kadar glukosa melebihi batas normal, maka ibu hamil dinyatakan mengalami diabetes gestasional.

Dampak bagi Ibu dan Janin

  • – Bayi besar (makrosomia), sehingga berisiko saat persalinan
  • – Kelahiran prematur
  • – Hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) pada bayi setelah lahir
  • – Risiko bayi mengalami obesitas dan diabetes di kemudian hari
  • – Tekanan darah tinggi dan preeklampsia pada ibu
  • – Peningkatan resiko diabetes tipe 2 setelah melahirkan

Bagaimana Penanganannya?

Sebagian kasus dapat dikendalikan tanpa obat, dengan cara:

  • – Mengatur pola makan: makan lebih sering dengan porsi kecil, hindari makanan tinggi gula sederhana
  • – Aktivitas fisik ringan: seperti jalan kaki atau senam hamil sesuai anjuran dokter
  • – Pemantauan kadar gula darah secara teratur

Bila kadar gula darah tetap tinggi, dokter dapat memberikan insulin untuk menjaga agar kadar gula darah tetap aman. Obat oral biasanya tidak direkomendasikan selama kehamilan.

Bagaimana Mencegahnya?

  • – Menjaga berat badan ideal
  • – Mengonsumsi makanan sehat dan seimbang
  • – Rutin berolahraga
  • – Melakukan pemeriksaan kadar gula darah bila memiliki faktor risiko
  • – Kontrol antenatal secara teratur

Kesimpulan

Diabetes gestasional adalah kondisi serius namun dapat dikendalikan dengan baik bila terdeteksi dini. Pemeriksaan kehamilan rutin, pola makan sehat, dan gaya hidup aktif sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Setelah melahirkan, pemeriksaan gula darah tetap perlu dilakukan, karena sebagian wanita berisiko mengalami diabetes tipe 2 di masa depan.

Disclaimer

Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan umum. Untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis profesional.

Artikel ditulis oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

Referensi

  1. American Diabetes Association. Standards of Medical Care in Diabetes – 2025. Diabetes Care.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Gestasional. 2021.
  3. World Health Organization. Diagnostic criteria and classification of hyperglycaemia first detected in pregnancy. 2013.

 

Info Selanjutnya :

Klinik Penyakit Dalam

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Waspada Hipoglikemia pada Penderita Diabetes Melitus 5/5 (2)

Apa itu Hipoglikemia?

Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah seseorang turun di bawah normal, umumnya di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini sering terjadi pada penderita diabetes melitus, terutama mereka yang menggunakan obat penurun gula darah atau insulin. Walau terlihat sepele, hipoglikemia bisa berbahaya jika tidak segera ditangani karena otak dan tubuh membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama.

Penyebab Hipoglikemia pada Penderita Diabetes

Beberapa hal yang dapat menyebabkan kadar gula darah turun terlalu rendah antara lain:
– Dosis obat atau insulin berlebih
– Terlambat makan atau melewatkan waktu makan setelah minum obat diabetes
– Aktivitas fisik berat tanpa penyesuaian asupan karbohidrat
– Konsumsi alkohol, terutama saat perut kosong
– Kombinasi beberapa obat yang meningkatkan efek penurunan gula darah.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Tanda-tanda awal hipoglikemia bisa muncul secara mendadak. Waspadai gejala berikut:
– Rasa lemas, gemetar, atau berkeringat dingin
– Jantung berdebar atau terasa cemas tanpa sebab
– Pusing, sulit konsentrasi, atau pandangan kabur
– Lapar berlebihan
– Pada kasus berat: bingung, kejang, bahkan penurunan kesadaran

Jika gejala-gejala ini muncul, penderita diabetes harus segera memeriksa kadar gula darah dan melakukan tindakan pertolongan pertama.

Pertolongan Pertama Saat Hipoglikemia

Langkah cepat untuk mengatasi hipoglikemia adalah dengan aturan 15–15:
1. Konsumsi 15 gram karbohidrat cepat serap, misalnya:
– 3–4 tablet glukosa
– 1 sendok makan gula pasir
– ½ gelas (120 ml) jus buah atau minuman manis
2. Tunggu 15 menit, lalu periksa kembali kadar gula darah.
3. Jika masih rendah, ulang langkah tersebut.
4. Setelah kadar gula darah kembali normal, lanjutkan makan atau camilan sehat untuk mencegah gula darah turun kembali.

Jika penderita tidak sadar, jangan dipaksa makan atau minum. Segera bawa ke unit gawat darurat terdekat untuk penanganan medis.

Cara Mencegah Hipoglikemia

Penderita diabetes dapat mencegah hipoglikemia dengan langkah-langkah berikut:
– Makan secara teratur sesuai jadwal dan tidak melewatkan waktu makan
– Menyesuaikan dosis obat/insulin dengan aktivitas harian
– Selalu membawa camilan manis atau tablet glukosa
– Menghindari konsumsi alkohol
– Rutin memeriksa kadar gula darah, terutama sebelum dan sesudah aktivitas berat

Kesimpulan

Hipoglikemia adalah kondisi serius yang dapat terjadi pada penderita diabetes melitus, namun bisa dicegah dengan pengaturan makan, obat, dan gaya hidup yang baik. Penting bagi pasien dan keluarga untuk mengenali gejala sejak dini dan tahu cara menanganinya. Bila  mengalami hipoglikemia, segera konsultasikan dengan dokter penyakit dalam atau klinik diabetes untuk evaluasi pengobatan.

Artikel ditulis oleh:

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Sumber: American Diabetes Association (ADA), 2024; PERKENI, 2023.

 

Info Selanjutnya :

Klinik Penyakit Dalam

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Leptospirosis: Waspadai Infeksi dari Air dan Tikus 5/5 (1)

Apa Itu Leptospirosis?

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Bakteri Leptospira hidup di ginjal hewan terinfeksi dan dikeluarkan melalui urin. Di lingkungan lembab seperti air tawar, lumpur, atau tanah basah, bakteri ini bisa bertahan hidup hingga satu bulan.

Penularan pada manusia terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui kulit yang luka, atau lewat selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut. Terkadang, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi urin tikus juga dapat menjadi jalur masuk bakteri ini ke tubuh manusia.

Siapa yang Berisiko?

Risiko tertular leptospirosis meningkat pada musim hujan, terutama di daerah banjir atau wilayah dengan populasi tikus tinggi. Kelompok yang rentan meliputi:
– Petani dan pekerja kebun
– Pekerja rumah potong hewan
– Dokter hewan
– Orang yang berenang di sungai atau danau
– Warga yang tinggal di lingkungan padat dan sanitasi buruk

Masa Inkubasi dan Gejala

Lepto 4Gejala leptospirosis biasanya muncul dalam 2 hingga 30 hari setelah terpapar, dengan rata-rata 7–10 hari. Keluhan awal mirip flu, yaitu:
– Demam
– Nyeri otot, terutama di betis
– Mata merah
– Mual dan muntah

Pada kasus berat, gejala dapat berkembang menjadi:
– Penyakit kuning (jaundice)
– Gangguan ginjal
– Sesak napas akibat gangguan paru
– Perdarahan
– Radang jantung, bahkan gagal jantung

Jika tidak ditangani, leptospirosis berat bisa menyebabkan kematian.

 

Bagaimana Diagnosis dan Pengobatannya?

Diagnosis awal didasarkan pada gejala dan riwayat paparan. Pada pemeriksaan laboratorium bisa didapatkan sel darah putih yang meningkat, jumlah trombosit yang turun, fungsi ginjal yang terganggu, serta kadar bilirubin yang tinggu dalam darah. Pemeriksaan konfirmasi dilakukan dengan mikroskop lapangan gelap atau deteksi antibodi terhadap Leptospira.

 

Pengobatan utamanya adalah antibiotik, seperti penisilin dan turunannya. Kasus berat perlu dirawat di rumah sakit, dan pada kondisi gagal ginjal bisa membutuhkan cuci darah (hemodialisis).

 

Bagaimana Mencegahnya?

Pencegahan utama adalah dengan menjaga kebersihan dan menghindari kontak dengan air atau lingkungan yang berisiko tercemar urin hewan:
– Gunakan pelindung seperti sepatu boots dan sarung tangan saat bekerja di tempat basah
– Cuci tangan dan tubuh setelah berkegiatan di luar rumah
– Simpan makanan dan minuman di wadah tertutup
– Hindari genangan air dan kebersihan lingkungan
– Kendalikan populasi tikus

Kesimpulan

Leptospirosis adalah penyakit yang bisa dicegah dan diobati, namun bisa fatal bila terlambat dikenali. Jika Anda mengalami demam setelah kontak dengan air banjir atau tempat tercemar, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan umum. Untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut, tetap konsultasikan dengan tenaga medis profesional.

 

Artikel oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih)

 

Referensi

  1. Terpstra WJ, Adler B, Ananyina B, AndreFontaine G, Ansdell V, Ashford DA, et al. Human leptospirosis: guidance for diagnosis, surveillance and control. Geneva; World Health Organization/ International Leptospirosis Society, 2003; p. 1-9; 21-3.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Leptospirosis: Kenali dan waspadai. 2015.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Leptospirosis – About. Available at: https://www.cdc.gov/leptospirosis/about/index.html

 

Mohon dapat memberikan rating

DIABETES MELITUS 5/5 (1)

Apa yang dimaksud dengan Diabetes Melitus?

Diabetes melitus adalah penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi batas normal (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020), sedangkan menurut Perkeni 2021 diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (Perkeni, 2021)

Faktor risiko diabetes melitus

Faktor risiko diabetes mellitus menurut Kemenkes (2019) dibagi menjadi dua yaitu

1) Faktor risiko yang tidak bisa diubah

  1. Usia ≥ 40 tahun.
  2. Mempunyai riwayat keluarga penderita DM.
  3. Kehamilan dengan gula darah tinggi.
  4. Ibu dengan riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir > 4 kg.
  5. Bayi yang memiliki berat badan lahir < 2,5 kg

2) Faktor risiko yang bisa diubah

  1. Kegemukan (IMT > 23 kg/m2 ) dan lingkar perut laki-laki > 90 cm dan perempuan > 80 cm.
  2. Kurang aktivitas fisik.
  3. Hipertensi (> 140/90 mmHg).
  4. Dislipidemia (kolesterol HDL laki-laki ≤ 35 mg/dl dan perempuan ≤ 45 mg/dl, trigliserida ≥ 250 mg/dl).
  5. Riwayat penyakit jantung.
  6. Diet tidak seimbang.
  7. Merokok atau terpapar asap rokok

(Perkeni 2019)

Gejala pada Daibetes Mellitus

Gejala khas yang sering terjadi yaitu :

  • Sering haus dari biasanya
  • Sering kencing
  • Cepat lapar
  • Penurunan berat badan tanpa sebab

Selain itu bisa juga didapatkan gejala lainnya yaitu :

  • Mudah mengantuk dan lelah
  • Pandangan kabur
  • Luka susah sembuh
  • Kesemutan
  • Bisul yang hilang timbul
  • Impotensi
  • Gatal pada area kewanitaan

Kriteria Diagnosis Diabetes Mellitus (Perkeni 2019)

  • Pemeriksaan glukosa plasma puasa>126 mg/dl, puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam

Atau

  • Pemeriksaan glukosa plasma>200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram

Atau

  • Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu>200 mg/dl dengan keluhan klasik atau krisis hiperglikemia

Atau

  • Pemeriksaan Hb A1c > 6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP) dan Diabetes Control and Complications Trial assay (DCCT)

 

(Perkeni 2019)

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan kedalam kelompok prediabetes yang mreliputi toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT)

  • Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100 – 125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2-jam < 140 mg/dl
  • Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2-jam setelah TTGO antara 140 – 199 mg/dl dan glukosa plasma puasa < 100 mg/dl
  • Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
  • Diabetes prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan Hb A1c yang menunjukkan angka 5,7 – 6,4%

 

Cara Pelaksanaan TTGO (WHO, 1994)

  • Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien tetap makan (dengan karbohidrat yang cukup) dan melakukan kegiatan jasmani seperti kebiasaan sehari-hari
  • Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa glukosa tetap diperbolehkan
  • Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa
  • Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 g/kg BB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum dalam waktu 5 menit
  • Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai
  • Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa
  • Selama proses pemeriksaan, subjek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Tri Djoko Endro Susilo, Sp.PK

(Dokter Spesialis Patologi Klinik RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA USIA MUDA 5/5 (1)

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Dari data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003, terdapat sekitar 29,1 juta penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun menderita DM, dan pada tahun 2030 diperkirakan jumlah penderita DM sebesar 41,9 juta orang.

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMTipe 2) adalah bentuk diabetes yang paling sering ditemui, terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif (resistensi insulin) atau tidak memproduksi cukup insulin untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal.Insulin adalah hormon yang diperlukan untuk membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa dari darah. DM tipe 2 biasanya berkembang pada usia yang lebih tua, namun, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan signifikan prevalensi DM tipe 2 pada individu usia muda, termasuk anak-anak dan remaja. Peningkatan kasus DM tipe 2 di kalangan usia muda sangat berkaitan dengan perubahan gaya hidup, pola makan yang buruk, serta kurangnya aktivitas fisik. Hal ini menjadi perhatian besar karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan jangka panjang jika tidak terkontrol dengan baik.

 

Faktor RisikoDM Tipe 2 pada usia muda antara lain:

  1. Obesitas

Salah satu faktor risiko utama untuk DM Tipe 2 adalah obesitas. Lemak tubuh yang berlebih, terutama obesitas sentral, dapat menyebabkan resistensi insulin, dimana sel-sel tubuh tidak dapat merespon insulin dengan baik.

  1. Pola Makan yang Tidak Sehat

Diet tinggi gula, makanan cepat saji, dan karbohidrat olahan yang banyak dikonsumsi oleh anak muda dapat berkontribusi pada penambahan berat badan dan gangguan metabolisme glukosa.

  1. Kurangnya Aktivitas Fisik

Gaya hidup yang kurang aktif, termasuk banyak duduk dan kurangnya olahraga, dapat menyebabkan obesitas dan penurunan sensitivitas insulin.

  1. Faktor Genetik

Riwayat keluarga yang mengidap DM Tipe 2 juga meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap penyakit ini. Jika orangtua atau saudara dekat memiliki diabetes tipe 2, kemungkinan terkena diabetes pada usia muda meningkat.

Beberapa kelompok etnis, seperti orang Asia, Hispanik, dan Afrika-Amerika cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita DM Tipe 2.

  1. Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi medis yang terjadi bersamaan, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung,stroke danDM. Yang termasuk sindrom metabolik adalah Obesitas sentral, kenaikan trigliserida, kolesterol HDL rendah, hipertensi, dan kadar gula darah puasa terganggu. Meskipun sering terkait dengan usia lanjut, sindrom ini kini mulai ditemukan pada remaja dan anak-anak.

  1. Stres dan Faktor Psikologis

Stres yang berkepanjangan dapat memengaruhihormon yang berperan dalam pengaturan gula darah, seperti kortisol. Selain itu, masalah psikologis seperti depresi dapat berhubungan dengan kebiasaan makan yang buruk dan pola hidup yang tidak sehat.

 

Gejala Diabetes Tipe 2 pada Usia Muda

DM Tipe 2 sering kali berkembang secara perlahan, dan banyak individu yang mungkin tidak merasakan gejala-gejala yang jelas. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Sering merasa haus dan lapar
  • Sering buang air kecil
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Penglihatan kabur
  • Mudah lelah
  • Luka atau infeksi yang sulit sembuh
  • Kaki atau tangan yang terasa kesemutan atau mati rasa

 

Pencegahan dan pengelolaan DM Tipe 2 pada Usia Muda

Diabetes tipe 2 pada usia muda dapat dicegah atau dikelola dengan menerapkan perubahan gaya hidup sehat. Berikut beberapa langkah penting untuk mencegah atau mengelola DM Tipe 2:

  1. Penurunan Berat Badan

Pada individu yang obesitas, penurunan berat badan yang sehat dengan kombinasi diet sehat dan olahraga dapat memperbaiki sensitivitas insulin dan membantu menjaga gula darah stabil.

  1. Perbaikan Pola Makan

Menerapkan pola makan sehat dengan lebih banyak konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian serta batasi konsumsi gula, makanan tinggi lemak jenuh, dan makanan olahan. Mengatur porsi makan dan memilih makanan dengan indeks glikemik rendah juga bermanfaat.

  1. Aktivitas Fisik

Melakukan olahraga teratur, seperti berjalan kaki, berlari, bersepeda, atau berenang, setidaknya 30 menit per hari dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu tubuh memanfaatkan glukosa lebih efisien.

  1. Pengelolaan Stres

Mengelola stres dengan cara yang sehat, seperti meditasi, yoga, pernapasan dalam  atau berkegiatan yang menyenangkan, dapat membantu mencegah gangguan metabolisme.

  1. Pemeriksaan Rutin

Pada individu yang berisiko tinggi, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi DM Tipe 2 pada tahap awal.

  1. Pendidikan Kesehatan

Pemberian pendidikan tentang pentingnya gaya hidup sehat kepada remaja dan orangtua sangat penting untuk pencegahan dan pengelolaan DM tipe 2 di usia muda.

7, Terapi medikamentosa (obat antidiabetik dan insulin)

 

Dampak Jangka Panjang DM Tipe 2 pada Usia Muda

DM Tipe 2 yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti:

  1. Masalah Kardiovaskular (penyakit jantung dan stroke)
  2. Kerusakan pada ginjal (nefropati)
  3. Kerusakan Saraf (Neuropati)
  4. Gangguan penglihatan (retinopati)
  5. Masalah Kulit dan Penyembuhan Luka

 

Karena DM Tipe 2 cenderung berkembang perlahan dan bisa tidak terdeteksi pada tahap awal, sangat penting untuk melakukan upaya pencegahan dengan gaya hidup sehat sejak dini.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Maheswara Wisnubhuana, Sp. PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Info Selanjutnya :

Klinik Penyakit Dalam

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran 24 jam :

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Penyakit Antraks 5/5 (1)

Penyakit antraks merupakan salah satu penyakit zoonotik yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Antraks (Bacillus anthracis). Bakteri ini dapat membentuk spora yang tahan terhadap perubahan lingkungan dan dapat bertahan hidup selama 60 tahun di dalam tanah, sehingga sulit untuk dimusnahkan. Sumber penularan antraks pada manusia adalah hewan pemamah biak (ruminansia) dan herbivora lainnya seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba yang terinfeksi oleh bakteri Antraks.

Antraks telah menimbulkan dampak seperti masalah kesehatan dan kepanikan masyarakat serta kerugian ekonomi yang cukup besar pada masyarakat peternak karena penyakit ini mengakibatkan kematian pada hewan ternak ruminansia dalam waktu yang singkat. Selain itu upaya pengendaliannya cukup sulit, mengingat spora antraks yang tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit ini akan berulang apabila tanah yang mengandung spora terangkat ke permukaan akibat tindakan manusia atau kejadian alam.

Meskipun laporan kasus antraks pada manusia tidak terlalu banyak, namun jumlah kematian hewan ternak akibat antraks cukup besar. Sebagian besar kasus antraks pada manusia merupakan antraks tipe kulit akibat kontak langsung dengan hewan atau produk hewan yang sakit/mati karena antraks. Beberapa penderita antraks yang meninggal merupakan antraks tipe pencernaan akibat memakan daging hewan terinfeksi bakteri antraks yang tidak dimasak secara sempurna.

Kesadaran masyarakat terhadap bahaya antraks masih kurang, sehingga dapat menjadi penyebab terjadinya penularan antraks pada manusia serta penyebaran antraks ke wilayah lainnya. Beberapa investigasi yang dilakukan terhadap kejadian antraks baik pada hewan maupun manusia diperoleh informasi masih banyaknya masyarakat yang menyembelih, menjual dan bahkan mengonsumsi hewan yang sakit atau mati dengan gejala antraks.

Antraks adalah suatu penyakit zoonotik, oleh karena itu penularan dapat terjadi di antara hewan dan dapat menular juga kepada manusia. Cara penularan yang sering terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Penularan dari Hewan ke Hewan atau ke manusia.

Penularan dapat terjadi bila hewan atau manusia terpapar dengan cairan tubuh yang mengandung bakteri antraks atau oleh spora yang ada disekelilingnya. Kondisi tanah dengan keasaman netral atau tanah berkapur alkalis dapat menyebabkan bakteri antraks berkembang biak dan membentuk spora dalam jumlah yang lebih banyak.

  1. Penularan melalui spora

Bakteri antraks akan dikeluarkan dari tubuh hewan melalui sekresi dan ekskresi selama sakit atau menjelang kematiannya. Bila hewan tersebut mati di ladang maka spora yang keluar melalui lubang-lubang kumlah spora dengan cepat akan terbentuk dan mencemari tanah atau obyek lain di sekitarnya. Bila sudah terjadi hal demikian maka sulit untuk memusnahkan spora yang sudah terlanjur terbentuk sehingga tersebar mencemari lingkugan. Spora antraks juga ikut terbongkar pada saat petani melakukan pengolahan tanah dan selanjutnya terbawa oleh aliran air di musim hujan atau terbawa oleh limbah cair ke tempat lain. Spora di permukaan tanah juga dapat terkikis oleh gerusan aliran air hujan ke parit di sekitar lokasi dan terbawa ke tempat yang cukup jauh.

  1. Penularan melalui hewan dan pakan ternak

Rumput yang dipangkas untuk pakan ternak sangat berpotensi membawa spora dan berisiko menularkan antraks dari satu daerah ke daerah lainnya. Selain itu juga akibat dari hewan ternak yang digembalakan di daerah tercemar spora antraks, dan merumput sampai pangkal batang yang berdekatan dengan tanah pada saat mulai musim penghujan dimana rumput masih pendek.

  1. Penularan melalui konsentrat atau bahan pakan dari hewan

Penularan melalui konsentrat protein yang terkontaminasi oleh spora antraks ini pernah terjadi di Inggris dan Amerika Serikat. Indonesia telah melarang pemberian tepung tulang kepada ruminansia untuk menghindari penularan antraks dan sapi gila (BSE).

  1. Penularan dari bahan produk industri asal hewan

Penularan antraks pada orang yang disebabkan oleh secara tidak sengaja terpapar dengan spora yang terbawa oleh produk ternak misalnya penyamakan kulit, pembuatan wool

Masa inkubasi dari penyakit antraks adalah 7 hari, tetapi umumnya berkisar antara 2 – 5 hari. Bakteri antraks dapat menginfeksi manusia melalui tiga cara yaitu melalui kulit yang lecet, abrasi atau luka, melalui saluran pernapasan karena inhalasi spora antraks dan melalui saluran pencernaan karena mengkonsumsi bahan makanan yang tercemar bakteri antraks misalnya daging hewan terinfeksi yang dimasak kurang sempurna.

Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk menunjang diagnosis penyakit antraks, yaitu mengenali dan mengetahui karakteristik bacillus anthracis sebagai agen penyebab penyakit:

  1. Secara morfologis (melalui pemeriksaan mikroskopis preparat apus).
  2. Secara kultur – isolasi dan identifikasi agen penyebab (melalui pemeriksaan kultur bakterologik).
  3. Secara serodiagnostik (melalui uji Ascoli)
  4. Tingkat keganasan isolate (melalui uji patogenitas/ biologik)
  5. Dengan cara mengukur kadar antibody yang ada dalam serum penderita, yaitu dengan teknik ELISA antibody

Pemeriksaan darah rutin pada umumnya menunjukkan lekosit yang normal pada batas atasnya(misalnya:9.500/ mm3), dengan pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran ke kiri. Namun dapat juga terjadi lekositosis. Hemokonsentrasi sering dijumpai, dan pada umumnya hematocrit lebih dari 50%.

Sediaan apus dari spesimen klinis dengan pewarnaan Gram menunjukkan batang gram-positif dan tampak seperti ruas bambu. Pemeriksaan gram dari sputum biasanya negatif, kecuali jika timbul pneumonia antraks. Pada pengecatan dengan Methilen Blue Polikromatik dapat dilihat kapsul dan spora dari bakteri antraks.

Untuk diagnosis pasti dilakukan kultur dari specimen klinis. B.anthracis mudah dibiakkan dengan menggunakan media mikrobiologi standar. Pemrosesan spesimen klinis ini diwajibkan pada laboratorium Rumah Sakit kelas A dengan Biosafety Level (BDSL) 2 atau laboratorium rujukan.

Untuk membantu konfirmasi diperlukan Polymerase Chain Reaction (PCR), Gamma Phage Lysis, Direct Fluorescent Antibody, atau pemeriksaan immunohistokimia dengan menggunakan reagen, yang terdapat di laboratorium rumah sakit kelas A/B atau laboratorium rujukan. Bahan yang dapat diambil untuk kultur adalah cairan vesikel dari lesi kulit, sputum, feses, darah, cairan spinal, dan efusi pleura atau bahan biopsi dari setiap tempat di tubuh.

Pada pemeriksaan serologis, yaitu tes penyaring untuk mendeteksi antibody IgG (ELISA) memprlihatkan sensitivitas sebesar 98,6% tetapi spesivisitas hanya 79%.

Kabar terbaru mengenai kejadian di Gunung Kidul

Sedikit berbicara mengenai fakta Penyakit Antraks, jangan sampai muncul atau terhasut oleh berita tidak benar mengenai penyakit ini.

Mendengar tentang penyakit Antraks yang sedang booming hari ini, penyakit ini termasuk Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di Indonesia. Berikut Fakta Penyakit Antraks yang perlu diketahui:

  1. Disebabkan oleh Bakteri Bacillus anthracis
  2. Dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis)
  3. Jika ada ternak sakit segera laporkan ternak yang sakit tersebut atau jika mati ke petugas kesehatan hewan
  4. Ternak tertular antraks dilarang ya untuk dipotong.
  5. Jika ternak tertular antraks dipotong maka bakteri antraks akan menjadi sprora yang tahan hingga 100 tahun, yang akan menjadi sumber penularan.
  6. Penyakit antraks dapat diobati dengan antibotik asalkan penanganan segera
  7. Untuk pencegahan dilakukan vaksinasi antraks pada hewan beresiko
  8. Jika sudah ada kasus positif, Dinas terkait segera harus menginvestigasi dan melakukan langkah segera untuk menanggulangi kasus supaya tidak spreading atau menyebar.

Artikel ditulis oleh :
dr Stephanus Yoanito, Sp.PK
(Dokter Spesialis Patologi Klinik)

 

IGD RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon : 0274 – 552-118

Mohon dapat memberikan rating

Tips Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar Setelah Begadang 4.93/5 (28)

Gemar Nonton Bola Malam hingga Dini Hari? Simak Tips Berikut ini :

  1. Perbanyak minum air putih
    Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi dan membantu untuk mengurangi kelelahan serta membantu lebih fokus.
  2. Luangkan waktu untuk tidur siang
    Luangkan waktu untuk tidur siang pada jam istirahat selama 15–20 menit akan membantu tubuh menjadi lebih segar. Sahabat Sehat Panti Rapih tidak dianjurkan tidur terlalu lama karena akan merusak ritme tidur.
  3. Lakukan olahraga ringan
    Lakukan olahraga ringan seperti jalan cepat, naik-turun tangga, lari di tempat, atau sedikit peregangan yang bisa membuat tubuh bergerak. Aktivitas ini dapat meningkatkan kinerja otak dan membuat tubuh tetap terjaga.
  4. Mengkonsumsi vitamin
    Selain dari makanan asupan gizi juga didapatkan dari vitamin. Untuk itu, Sahabat Sehat Panti Rapih perlu mengkonsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  5. Mengkonsumsi makanan tinggi protein
    Memilih cemilan sehat yang dapat memberikan tenaga ekstra tanpa perlu khawatir obesitas. Cemilan sehat dapat kita jumpai seperti yogurt plain, buah-buahan seperti apel, alpukat, dan jenis buah lainnya.
  6. Berjemur dibawah sinar matahari
    Pastikan mendapatkan cahaya matahari agar tubuh tetap sehat dan dapat memproduksi hormon melatonin serta Vitamin D.

Walau bagaimanapun begadang juga punya efek yang tidak baik untuk tubuh, maka istirahat cukup merupakan hal yang penting

 Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.93/5 (28)

Mohon dapat memberikan rating

Peranan Senam Diabetes dan Prevensi Primer 5/5 (1)

Diabetes Mellitus (kencing manis) merupakan penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah baik puasa maupun setelah makan yang kadarnya melebihi nilai normal. Sebagai penyakit metabolik kronik, dapat diartikan bahwa selama metabolisme berlangsung maka akan selalu ada penyakit ini. Penyakit ini dapat diderita seumur hidup, atau tidak dapat dikatakan sembuh tetapi dapat dikontrol dengan baik tergantung pada penderitanya sendiri. Dokter, perawat, ahli gizi, edukator diabetes hanya memfasilitasi dan memotivasi agar pasien dapat mengelola diabates dengan baik sehingga terhindar dari komplikasi.

Patofisiologi atau perjalanan penyakit diabates ini pada dasarnya akibat dari berkurangnya pengeluaran insulin dari sel beta pankreas dan gangguan pada reseptor insulin di jaringan hati dan otot. Dengan demikian gula tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga kadarnya didapatkan meningkat dalam darah. Penyakit ini kadang tidak disertai dengan gejala, dan banyak kasus yang ditemukan secara kebetulan pada waktu periksa di pusat layanan kesehatan.

Gejala klasik yang sering didapatkan adalah banyak kencing, terutama malam hari yang disebut poliuria, merasa lapar dan ingin makan terus yang disebut polifagia dan selalu merasa haus disebut polidipsia. Jumlah penderita yang ini semakin banyak ditemukan dan kejadiannya dicenderung muncul di usia yang lebih muda. Perubahan pola hidup dan pola makan sangat besar pengaruhnya. Di jaman yang serba digitalisasi aktivitas fisik cenderung berkurang, sedangkan keinginan makan cenderung meningkat. Ketidakseimbangan antara asupan karbohidrat dan aktivitas fisik inilah yang memicu munculnya penyakit diabetes.

Prinsip pengelolaan diabetes adalah dengan diet atau pengelolaan makan, exercise atau olahraga  yang teratur minimal 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu, dan minum obat atau memakai insulin secara teratur. Banyak pengertian yang sering kali tidak tepat di masyakarat seperti misalnya penggunaan insulin, dianggap penyakitnya sudah parah atau akan ketergantungan seumur hidup, kemudian adanya diabetes tipe kering dan tipe basah serta penggunakan obat kimiawi yang akan mempercepat kerusakan ginjal. Informasi tersebut perlu diluruskan agar pasien mendapatkan informasi yang benar. Penggunaan insulin diperlukan apabila pasien dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi, perawatan luka diabetes pada kaki, atau pada penderita diabetes yang kurus. Ketergantungan pada insulin dari luar hanya didapatkan pada penderita diabetes tipe 1 dimana sel beta pankreas penghasil insulin rusak secara total. Berbeda dengan tipe diabetes tipe 2, yang kerusakannya hanya sebagian, sehingga pada diabetes tipe 2 dapat menggunakan obat penurun gula darah, insulin atau kombinasi keduanya.

Pada diabetes yang terjadi  pada saat kehamilan juga diperlukan insulin untuk mengendalikan gula darah. Kerusakan pada ginjal yang sering dianggap karena kebanyakan obat, sebenarnya akibat kerusakan pembuluh darah kecil pada ginjal (mikroangiopati) karena tingginya kadar gula darah. Hal yang sama juga bisa terjadi pada mata yang disebut retinopati. Apabila kerusakan pembuluh darah terjadi pada pembuluh yang besar (makroangiopati), maka bisa muncul komplikasi stroke, penyakit jantung koroner maupun penyakit kaki diabetes.

Mengingat begitu banyak komplikasi dari diabetes, maka upaya pencegahan primer maupun promotif perlu ditingkatkan. Edukasi secara kelompok maupun mandiri, penggunaan media sosial baik tulis maupun audiovisual sangat bermanfaat dalam upaya tersebut. Olahraga atau senam diabetes sudah lama dikenal dan semakin banyak masyarakat yang turut aktif. Senam diabetes bermanfaat karena dapat menurunkan kadar gula darah, menaktifkan reseptor insulin pada otot, memperbaiki keluhan pada muskoloskeletal atau otot dan sendi serta mengurangi kebutuhan obat maupun insulin. Olahraga atau senam diabetes sebaiknya memenuhi unsur-unsur, Continuos yang berarti dilakukan secara terus menerus, rhythmical yang berarti berirama dimana otot melakukan konstraksi dan relaksasi, internal yang berarti kadang cepat kadang lambat secara kontinyu, progresif yang artinya beban ditingkatkan secara bertahap dan endurance yang artinya dapat meningkatkan ketahanan dan kebugaran tubuh.

 

Lokasi Pelayanan :
Klinik Endokrin
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (1)

Mohon dapat memberikan rating