Leptospirosis: Waspadai Infeksi dari Air dan Tikus

Apa Itu Leptospirosis?

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Bakteri Leptospira hidup di ginjal hewan terinfeksi dan dikeluarkan melalui urin. Di lingkungan lembab seperti air tawar, lumpur, atau tanah basah, bakteri ini bisa bertahan hidup hingga satu bulan.

Penularan pada manusia terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui kulit yang luka, atau lewat selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut. Terkadang, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi urin tikus juga dapat menjadi jalur masuk bakteri ini ke tubuh manusia.

Siapa yang Berisiko?

Risiko tertular leptospirosis meningkat pada musim hujan, terutama di daerah banjir atau wilayah dengan populasi tikus tinggi. Kelompok yang rentan meliputi:
– Petani dan pekerja kebun
– Pekerja rumah potong hewan
– Dokter hewan
– Orang yang berenang di sungai atau danau
– Warga yang tinggal di lingkungan padat dan sanitasi buruk

Masa Inkubasi dan Gejala

Lepto 4Gejala leptospirosis biasanya muncul dalam 2 hingga 30 hari setelah terpapar, dengan rata-rata 7–10 hari. Keluhan awal mirip flu, yaitu:
– Demam
– Nyeri otot, terutama di betis
– Mata merah
– Mual dan muntah

Pada kasus berat, gejala dapat berkembang menjadi:
– Penyakit kuning (jaundice)
– Gangguan ginjal
– Sesak napas akibat gangguan paru
– Perdarahan
– Radang jantung, bahkan gagal jantung

Jika tidak ditangani, leptospirosis berat bisa menyebabkan kematian.

 

Bagaimana Diagnosis dan Pengobatannya?

Diagnosis awal didasarkan pada gejala dan riwayat paparan. Pada pemeriksaan laboratorium bisa didapatkan sel darah putih yang meningkat, jumlah trombosit yang turun, fungsi ginjal yang terganggu, serta kadar bilirubin yang tinggu dalam darah. Pemeriksaan konfirmasi dilakukan dengan mikroskop lapangan gelap atau deteksi antibodi terhadap Leptospira.

 

Pengobatan utamanya adalah antibiotik, seperti penisilin dan turunannya. Kasus berat perlu dirawat di rumah sakit, dan pada kondisi gagal ginjal bisa membutuhkan cuci darah (hemodialisis).

 

Bagaimana Mencegahnya?

Pencegahan utama adalah dengan menjaga kebersihan dan menghindari kontak dengan air atau lingkungan yang berisiko tercemar urin hewan:
– Gunakan pelindung seperti sepatu boots dan sarung tangan saat bekerja di tempat basah
– Cuci tangan dan tubuh setelah berkegiatan di luar rumah
– Simpan makanan dan minuman di wadah tertutup
– Hindari genangan air dan kebersihan lingkungan
– Kendalikan populasi tikus

Kesimpulan

Leptospirosis adalah penyakit yang bisa dicegah dan diobati, namun bisa fatal bila terlambat dikenali. Jika Anda mengalami demam setelah kontak dengan air banjir atau tempat tercemar, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan umum. Untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut, tetap konsultasikan dengan tenaga medis profesional.

 

Artikel oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih)

 

Referensi

  1. Terpstra WJ, Adler B, Ananyina B, AndreFontaine G, Ansdell V, Ashford DA, et al. Human leptospirosis: guidance for diagnosis, surveillance and control. Geneva; World Health Organization/ International Leptospirosis Society, 2003; p. 1-9; 21-3.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Leptospirosis: Kenali dan waspadai. 2015.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Leptospirosis – About. Available at: https://www.cdc.gov/leptospirosis/about/index.html

 

Mohon dapat memberikan rating

Posted in Artikel Kesehatan, Kesehatan Penyakit Dalam and tagged , , , , .

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *