Mother Wound: Luka “Warisan” dari Ibu 4.8/5 (5)

“Saya sungguh mencintai ibu saya, tetapi….”

 

Sebelum membaca artikel ini, secara spontan dan jujur isilah titik-titik di atas sesuai kondisi anda, tanpa banyak berpikir.

Kita semua memiliki ikatan yang begitu mendalam secara emosional dengan ibu. Hal ini dikarenakan seorang anak menjalin interaksi yang intens dengan ibu sejak di dalam kandungan. Seiring berjalannya kehidupan, sebagian dari kita memiliki relasi yang kompleks, tidak konsisten dan terdiri dari benang-benang kusut, misalnya karena rasa kecewa dan tidak puas dengan perlakuan figur ibu. Disisi lain, kita menyadari bahwa figur ibu adalah sosok yang seharusnya bijaksana, patut dihargai dan dihormati atas pengorbanannya.

Di balik pintu ruang konseling yang tertutup, penulis sebagai Psikolog Klinis menyadari bagaimana beberapa dari kita mengalami emosi yang terperangkap dalam diri, rasa dendam dan menyalahkan  diri ataupun figur ibu atas perlakuan dan kasih sayang yang tidak diterima.

Ada yang tidak bisa berhenti menyalahkan hidup dan figur ibunya, ada juga yang menutupi hal tersebut karena tidak mau memberi cap negatif pada figur ibunya. Tanpa disadari, ini justru berdampak pada mental health dan kemampuan kita bertanggung jawab atas diri kita untuk menyembuhkan diri (self healing).

Sesuai judul tulisan ini, mother wound terdiri dari dua kata, mother yang artinya Ibu dan wound artinya luka, jadi diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah Luka Ibu. Mother wound adalah luka emosional yang disebabkan kurang dan hilangnya support dan kasih sayang dari figur ibu.

Mother wound adalah istilah konseling untuk luka psikologis yang didapat seseorang selama masa pengasuhan, jadi mother wound bukanlah suatu diagnosa. Luka pengasuhan adalah kenangan seseorang tentang masa kecil yang buruk, atau dapat dikatakan memiliki inner-child atau masa kecil menyakitkan (Mahmudah, 2020). Pengasuhan adalah proses membesarkan, menjaga dan membimbing anak melalui seluruh tahap perkembangannya (Martin dan Colbert, 1997). Lebih lanjut, figur ibu mempunyai dampak yang besar terhadap kemampuan anaknya dalam menyelesaikan masalah, ekspresi kasih sayang, kayakinan dan nilai diri.

Dampak Mother Wound

Menurut Baumrind, pengasuhan orang tua berdampak pada perilaku anak (dalam Santrock, 2012).  Mother wound dapat dialami oleh anak perempuan dan laki-laki dengan dampak diantaranya sebagai berikut:

  • Tidak nyaman bersama ibu, misal muncul rasa gelisah, gugup atautakut ketika bersama ibu
  • Menghindari interaksi dengan ibu, baik secara sadar maupun tidak sadar.
  • Tidak menjadikan ibu sebagai figur yang dapat dipercaya atau diandalkansaat membutuhkan bantuan
  • Ragu dan terus menerus mengharapkan penerimaan dari figur ibu, sehingga terus berusaha menjadi anak yang sempurna
  • Adanya perasaan ditinggalkan dan perasaan tidak aman
  • Kurang mampu mengendalikan emosi
  • Perasaan hampa, kesulitan membangun hubungan hangat dan bermakna

Faktor Penyebab Mother Wound

Pola asuh dan komunikasi yang kurang hangat, kurang terbuka, kekerasan secara verbal maupun fisik, ibu yang ketika ada konflik melakukan silent treatment (terus menerus mendiamkan anak untuk menghukum ketika ibu marah atau kecewa), absennya figur ibu, child neglect (menelantarkan anak), ibu yang manipulatif, gaya komunikasi ibu yang mengkritik dan menyindir berlebihan.

Selain itu, pendekatan ibu yang kurang suportif dan kurang empati di saat anak stress atau melakukan kesalahan, tidak memperbolehkan anak mengekspresikan emosi negatif, kondisi ibu yang tidak sehat mentalnya, baik yang terdiagnosis maupun tidak terdiagnosis dan ibu yang mengalami adiksi alkohol, merokok, judi, dsb.

Bagaimana Mengatasi Mother Wound?

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi mother wound:

  1. Mencari bantuan profesional dengan melakukankonseling dengan Psikolog Klinis
  2. Membentuk relasi baru antara anda yang sekarang sebagai seorang dewasa dan ibu anda sekarang di usianya.
  3. Berbicaralah dengan diri (self talk)dengan cara yang anda harapkan sebagaimana seorang ibu akan berkomunikasi dengan Anda, dengan style komunikasi yang tidak pernah anda dapatkan dari figur ibu anda.
  4. Sadarilah bahwa wajar jika anda bisa mempunyai perasaan cinta pada ibu anda, sekaligus mempunyai perasaan negatif (sedih, kecewa, malu, marah, dll) terhadapnya akibat konflik antara pikiran dan perasaan dalam diri.
  5. Berdamailah dengan mother wound Anda, caranya:
  • Di usia anda yang sudah dewasa sekarang ini, temukan semua dampak mother wound pada diri anda, tuliskan dalam buku journaling
  • Pahami perjalanan hidup ibu anda, dari masa kecilnya hingga usia mudanya dan sekarang: bagaimana relasi ibu anda dengan ibunya sendiri?, apakah masa kecilnya bahagia?, bagaimana perlakuan suaminya ke dirinya?, dsb
  • Terus ingatkan diri bahwa ibu anda adalah manusia, yang bisa dan pernah melakukan kesalahan, baik sengaja mapun tidak sengaja.
  • Perbolehkan diri ada merasa sedih akan hal-hal yang tidak anda dapatkan dari figur ibu anda di masa anak-anak. Tidak perlumelawan perasaan negatif tersebut karena justru akan berdampak pada mental health.
  • Selanjutnya, perasaan sedih tersebut direlakan, dilepas dan dikelola menjadi recovery journeyuntuk berdamai dengan mother wound.
  • Pada proses ini konseling akan sangat diperlukan

 

Artikel ini ditulis oleh :

Veenu, S.Psi., M.Psi., Psikolog

(Clinical Psychologist RS. Panti Rapih Yogyakarta)

 

Daftar Pustaka

Mahmudah, D. (2020). Membasuh Luka Pengasuhan. Bogor: Zenawa Media Digitama

Martin, C.A., & Colbert, K.K. (1997). Parenting: A life span perspective. New Yowk: McGraw-Hill

Santrock, J. W. (2012) Life span development. Alih bahasa: B. Widyasinta & N. I. Sallama. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Info Pelayanan :
Klinik Psikologi
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Senin, Rabu, Kamis, Jumat pk 14.00 – 15.00 WIB
Selasa pk 18.00 – 19.00 WIB
Sabtu pk 16.00 – 17.00 WIB

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Berdamai dengan Depresi 4.29/5 (7)

“You are not alone”

Ingat depresi dapat dialami oleh siapapun.

Menurut WHO (2021), depresi merupakan gangguan psikologis yang diperkirakan terjadi pada 5% penduduk dewasa di dunia. Depresi ditandai dengan adanya perasaan sedih, suasana hati kosong, disertai dengan perubahan somatik dan kognitif yang secara signifikan mempengaruhi kapasitas individu untuk berfungsi dengan baik (American Psychiatric Association, 2013).

Dari pengalaman penulis selama berpraktek sebagai Psikolog Klinis di Rumah Sakit Panti Rapih, pasien dengan depresi mengeluhkan rasa tidak nyaman, pada aspek pikiran, perasaan, perilaku dan muncul pertanyaan berulang mengganggu, seperti:

  1. kondisi tersebut akan berlangsung sampai kapan?
  2. jangan-jangan kondisi ini adalah permanen (selamanya)?
  3. “Rasa gelap” dan tidak pasti tentang kehidupan
  4. Rasa hidupku tidak normal, kapan hidupku akan kembali normal?
  5. Hilangnya arah dan kebermaknaan hidup
  6. Terbebani pola pikir black and white thinking(pola pikir hitam atau putih)– berpikir ekstrim, baik atau buruk, sukses atau gagal. Contoh: Kalau aku tidak diterima Universitas A maka hidupku gagal/ hancur.
  7. Gangguan tidur dan Gangguan Makan
  8. Ide atau dorongan mengakhiri hidup (suicidal ideation)

Perbedaan depresi dengan rasa sedih yang wajar

Perasaan sedih wajar terjadi ketika seseorang baru saja mengalami suatu peristiwa negatif atau sulit dalam masa hidupnya. Hal ini baru dikatakan menjadi tidak wajar dan mengarah pada gangguan depresi jika memenuhi kriteria diagnostik, diantaranya jika keluhan terjadi secara terus menerus dalam jangka waktu dua minggu atau lebih dan sampai mengganggu fungsi seseorang, misalnya dalam tugasnya menjalankan pendidikan, pekerjaan maupun hubungan sosial.

Contoh kasus: seorang mahasiswa sedang skripsi dengan diagnosa depresi mengalami hambatan untuk bangun dan berangkat ke kampus berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya, bahkan untuk sekedar membuka laptopnya, kamarnya berantakan, rawat diri menurun, mematikan HP-nya dan mengisolasi diri dari keluarga dan teman-temannya.

Gangguan depresi juga berhubungan dengan ketidakseimbangkan kimiawi dalam otak. Efek depresi bisa bertahan lama atau berulang, tergantung kasusnya.

Hal yang patut diperhatikan adalah tidak berarti semua perasaan sedih, berduka, kehilangan adalah depresi. Rasa sedih adalah respon yang normal dalam kondisi tertentu dan justru diperlukan untuk memproses keadaan dan meregulasi emosi/ perasaan.

Apakah tingkat depresi dapat diukur?

Ya. Depresi bervariasi gejalanya dari tingkat ringan, sedang hingga berat. Tersedia treatment yang efektif untuk setiap tingkatan depresi tersebut (WHO, 2021).

Salah satu alat tes psikometri yang populer digunakan adalah Beck Depression Inventory (BDI). BDI diterbitkan pertama kali tahun 1961 oleh Psikiater Amerika Serikat bernama Aaron T. Beck, bersama koleganya. Menurut Beck dan Alford (2009), depresi merupakan suatu gangguan psikologis yang ditandai adanya penyimpangan pikiran, perasaan dan perilaku. Individu yang mengalami gangguan depresi merasakan kesedihan, kesendirian, menurunnya konsep diri dan menunjukkan perilaku menarik diri dari lingkungan.

Stay hopeful – Depresi dapat dicegah dan diobati

Depresi adalah kondisi yang umum, namun cukup serius dan mengganggu fungsi atau peran seseorang jika dibiarkan tanpa bantuan dukungan sosial dari lingkungan (orangtua, keluarga, teman, guru, dosen, dsb) dan tanpa penanganan profesional, oleh Psikolog Klinis dan Psikiater.

 

Jika Anda sedang mengalami masa sulit atau depresi, pahami dengan pikiran tenang dan jernih bahwa kondisi Anda saat ini tidaklah permanen, meskipun peristiwa hidup yang anda alami adalah peristiwa merubah hidup yang permanen atau bersifat jangka panjang, misalnya seseorang yang anda cintai meninggal, kondisi penyakit kronis, ataupun kasus lainnya.

Walaupun peristiwa itu adalah hal yang tidak bisa diubah atau permanen, namun Anda sebagai manusia akan selalu bertumbuh dan berubah, tidak selamanya mind set Anda akan dalam kondisi sama dengan saat anda mengalami peristiwa negatif tersebut. Anda akan beradaptasi, berkembang dan mempunyai mindset dan kekuatan mental yang baru dan ter-update.

Kabar baiknya adalah manusia mempunyai kekuatan beradaptasi, hanya saja setiap manusia mempunyai kecepatan yang berbeda-beda dalam beradaptasi. Maklumi dan bersabarlah dengan diri Anda sendiri di masa tersebut. Perlakukan diri dengan penuh kesabaran, sebagaimana Anda mengharapkan orang tua dan sahabat anda memperlakukan diri anda dengan penuh rasa kasih dan empati di masa sulit.

Luangkan waktu untuk rutin journaling dengan menuliskan isi pikiran dan perasaan anda dalam buku yang bersifat private. Ini akan menjadi panduan bagi anda dalam memetakan masalah hidup, menemukan negative believe (keyakinan negatif) dan nantinya dikoreksi menjadi pola pikir yang lebih netral ataupun lebih konstruktif (bermanfaat).

Apa yang dapat Anda Lakukan jika keluarga atau teman Anda mengalami depresi?

Pahami depresi bukanlah disebabkan karena kurangnya bersyukur dan tidak juga berkaitan dengan kurang dekatnya seseorang pada Tuhan.

Depresi juga bukan dikarenakan yang bersangkutan enggan berpikir positif, lemah, mencari perhatian ataupun malas. Ini adalah beberapa miskonsepsi tentang depresi yang umum beredar.

Nasehat orangtua, keluarga, teman, dan lingkungan lainnya yang berotasi pada topik-topik tersebut justru akan membuat penderita depresi menutup diri dan berhenti untuk menceritakan kondisinya karena merasa tidak dimengerti dan merasa dihakimi.

Hindari pemberian nasehat semacam ini karena justru akan berefek negatif, bahkan merusak relasi Anda dengan anggota keluarga atau teman anda yang sedang mengalami depresi.

Lalu apa yang mesti Anda lakukan sebagai pendamping?

  • Edukasi diri Anda tentang depresi, ini akan menjadikan Anda lebih mampu mendampingi
  • Komunikasi empati dan jadilah pendengar yang baik, hadir baginya untuk memberikan dukungan.
  • Hindari menilai ringan atau beratnya peristiwa hidup yang memicu kondisi yang bersangkutan, ingat setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda.
  • Tawarkan bantuan untuk pekerjaan rumah tangga sederhana, seperti merapikan kamarnya, membantunya dengan laundry, urusan kampus dan hal lainnya atas ijin yang bersangkutan yang dapat meringankan beban/ tanggung jawabnya.
  • Ajak dan temani yang bersangkutan untuk mendapatkan pertolongan profesional dari Psikolog Klinis dan Psikiater untuk mendapatkan konseling dan pengobatan.

 

Akhir kata, penulis ingin menyampaikan salah satu quotes inspiratif bagi Anda yang sedang depresi atau melalui masa sulit “Don’t curse the darkness, light a candle” – Janganlah mengutuk kegelapan, melainkan nyalakanlah lilin” oleh Eleanor Roosevelt.

 

Daftar Pustaka

American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fifth Edition (DSM-V). Washington: American Psychiatric Publishing.

Beck, A.T. & Alford, B.A. 2009. Depression: Cause and Treatment (2nd ed). Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

World Health Organization. 2021. Depression. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/depression. Diakses 27 Januari 2023.

 

Artikel ini ditulis oleh :

Veenu, S.Psi., M.Psi., Psikolog

(Clinical Psychologist RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Info Pelayanan :
Klinik Psikologi
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Senin, Rabu, Kamis, Jumat pk 14.00 – 15.00 WIB
Selasa pk 18.00 – 19.00 WIB
Sabtu pk 16.00 – 17.00 WIB

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating