Diet Sahur dan Buka Puasa Sehat selama Bulan Ramadhan 5/5 (7)

Puasa merupakan salah satu hal yang wajib dilaksanakan bagi Umat Muslim selama bulan Ramadhan, dengan rentang waktu dari mulainya salat Subuh hingga Maghrib. Praktik puasa selama Ramadhan yang dilakukan oleh Umat Muslim meliputi abstinensi atau menahan diri dari makan, minum, merokok, ataupun melakukan aktivitas merugikan yang dapat menjadi pembatal puasa. Di Indonesia, rentang waktu puasa Ramadhan tersebut berkisar antara 13-14 jam setiap harinya.

Puasa juga merupakan hal yang mulai banyak diteliti dalam dunia kesehatan. Puasa Ramadhan merupakan salah satu bentuk intermittent fasting, yaitu metode pengaturan pola makan yang dilakukan dengan berpuasa selama kurun waktu tertentu. Selama bulan Ramadhan, pola asupan makanan harian akan mengalami perubahan bila dibandingkan dengan hari-hari lainnya, di mana frekuensi makan berubah, dan konsumsi makanan berlangsung secara nokturnal (pada malam hari), sehingga perubahan pada berat badan dan penurunan lemak tubuh dapat terjadi.

Karena perubahan-perubahan tersebut, perlu untuk memperhatikan jenis dan jumlah asupan makanan selama bulan Ramadhan, yaitu pada saat makan Sahur, berbuka puasa, maupun saat makan malam. Berikut merupakan beberapa tips pola makan yang dapat dilakukan untuk menjaga tubuh agar tetap dalam kondisi yang bugar selama bulan Ramadhan :

Pola makan sahur

  • Porsi diusahakan dalam jumlah sedang, tidak terlalu banyak.
  • Perbanyak konsumsi makanan yang memiliki kandungan serat yang tinggi, seperti buah-buahan dan sayur.
  • Konsumsi biji-bijian (whole grains), makanan dengan kandungan protein, semisal protein hewani berupa daging, telur, ikan, dapat membantu menunda lapar lebih lama.

Pola makan untuk berbuka puasa

  • Makan makanan secukupnya secara bertahap, dimulai dengan konsumsi air putih dan sedikit makanan manis, semisal kurma, buah-buahan.
  • Jus buah asli dan teh dapat dijadikan sebagai alternatif untuk minuman buka puasa.
  • Pastikan konsumsi air putih mencukupi, untuk mencegah dehidrasi.

Rekomendasi pola dan jenis makanan yang sebaiknya dihindari:

  • Hindari konsumsi makanan dalam jumlah yang terlalu banyak, karena akan menyebabkan perut menjadi sesak, meningkatkan asupan kalori secara berlebihan dan memicu peningkatan berat badan, serta meningkatkan risiko obesitas.
  • Hindari makanan-makanan olahan yang mengandung karbohidrat olahan (refined carbohydrates), semisal tepung, gula pasir, sirup jagung tinggi fruktosa, konsentrat jus buah,gorengan, ataupun makanan dengan kadar gula dan minyak yang tinggi, karena meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah, risiko Diabetes Mellitus (DM), dan menyebabkan kantuk pada saat siang hari.
  • Hindari konsumsi kopi dan minuman bersoda karena dapat menyebabkan sulit tidur dan menimbun banyak lemak.

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Noviani, Sp. GK (Dokter Spesialis Gizi Klinik) RS Panti Rapih Yogyakarta

&

dr. Vincentius Shandy Irawan (Dokter Umum) RS Panti Rapih Yogyakarta

 

Referensi:

  1. Lessan N, Ali T. Energy Metabolism and Intermittent Fasting: The Ramadan Perspective. Nutrients. 2019 May 1;11(5). Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31137899/
  2. Attinà A, Leggeri C, Paroni R, Pivari F, Cas MD, Mingione A, et al. Fasting: How to Guide. Nutrients. 2021 May 1;13(5). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8151159/
  3. Sadeghirad B, Motaghipisheh S, Kolahdooz F, Zahedi MJ, Haghdoost AA. Islamic fasting and weight loss: a systematic review and meta-analysis. Public Health Nutr. 2014;17(2):396–406. Available from: https://www.cambridge.org/core/journals/public-health-nutrition/article/islamic-fasting-and-weight-loss-a-systematic-review-and-metaanalysis/3791BAE2A6C52218994B3BEF291BF6EE
  4. Fernando HA, Zibellini J, Harris RA, Seimon R V., Sainsbury A. Effect of Ramadan Fasting on Weight and Body Composition in Healthy Non-Athlete Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis. Nutrients. 2019 Feb 1;11(2). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6412279/
  5. Wang Y, Wu R. The Effect of Fasting on Human Metabolism and Psychological Health. Dis Marker. 2022;2022. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8754590/
  6. Osman F, Haldar S, Henry CJ. Effects of Time-Restricted Feeding during Ramadan on Dietary Intake, Body Composition and Metabolic Outcomes. Nutrients. 2020 Aug 1;12(8):1–25. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7468808/
  7. Rafie C, Sohail M. Fasting During Ramadan: Nutrition and Health Impacts and Food Safety Recommendations. Virginia Cooperative Extension. 2016.

Lokasi Pelayanan :
Klinik Gizi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Ahli Gizi untuk Dewasa – Senin s/d Sabtu, pk 10.00 – 13.00 WIB
dr. Noviani, Sp. GK – Senin s/d Rabu, pk 09.00 – 13.00 WIB

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Nutrisi Tepat, Anak Tumbuh Sehat dan Kuat No ratings yet.

Pertumbuhan (growth) adalah perubahan dan pematangan fungsi fisik meliputi pertambahan tinggi, berat badan, volume darah, pertumbuhan tulang, perubahan sistem saraf, dan perubahan-perubahan fisik lainnya. Sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dengan pola teratur, menyangkut diferensiasi sel-sel tubuh, organ dan sistem organ sehingga dapat menjalankan fungsinya masing-masing, serta perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Terdapat 3 faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:

  1. Faktor keturunan atau herediter, yaitu sifat atau kondisi bawaan yang diturunkan dari orang tua.
  2. Pertumbuhan dan pematangan fisik, yang sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi, perawatan kesehatan dan perawatan anak secara umum.
  3. Stimulasi lingkungan, berpengaruh terhadap aspek psikososial atau proses pembelajaran yang mendorong perkembangan anak. Keadaan gizi pada usia bayi dan anak memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan, pertumbuhan, serta perkembangan bayi dan anak pada waktu sekarang dan kelak setelah dewasa. Pada masa kanak kanak, proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat cepat.

Apabila asupan nutrisi tidak mencukupi kebutuhan maka akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak yang menyebabkan ketidakmampuan otak berfungsi secara normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan nutrisi menyebabkan pertumbuhan badan tergangggu, diikuti dengan ukuran otak yang juga kecil, jumlah sel darah otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan dan ketidaksempurnaan organisasi biokimia dalam otak yang dapat menimbulkan kelainan-kelainan fisik maupun mental. Oleh sebab itu, bayi dan anak-anak sangat membutuhkan nutrisi yang tepat untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya agar berjalan dengan sempurna. Sumber nutrisi yang paling tepat untuk bayi pada kehidupan pertamanya adalah ASI (Air Susu Ibu), karena memiliki nutrisi yang paling tinggi dan lengkap dibandingkan dengan makanan yang dibuat oleh manusia ataupun susu yang dihasilkan oleh hewan seperti sapi, kerbau, atau kambing. Menurut Depkes (2003), ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa diberi makanan dan minuman lain sejak dari lahir hingga usia 6 bulan, kecuali pemberian obat dan vitamin. Adapun nutrisi yang terkandung dalam ASI adalah sebagai berikut:

1. Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa (jumlahnya dua kali lipat daripada susu formula). Di dalam usus, laktosa akan mengalami fermentasi menjadi asam laktat yang memberikan keadaan yang menguntungkan bagi kesehatan saluran cerna bayi. Kandungan karbohidrat yang lain adalah glukosa, galaktosa, dan glukosamin. Galaktosa penting untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang untuk pembentukan system saraf. Glukosamin mampu memacu pertumbuhan Lactobacillus bifidus yang akan memberikan keuntungan bagi kesehatan bayi.

2. Protein
Protein dalam ASI lebih banyak mengandung whey dan lactalbumin yang lebih mudah diserap oleh usus bayi. Sedangkan protein susu sapi lebih banyak mengandung chasein yang lebih sukar dicerna oleh usus bayi.

3. Lemak
Lemak utama ASI adalah omega-3, omega-6, AA, dan DHA, merupakan komponen penting pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf. Pencernaan lemak secara baik dilakukan oleh lipase yang juga banyak terkandung di dalam ASI sehingga mampu menyediakan cukup energi untuk pertumbuhan bayi.

4. Vitamin
ASI juga kaya akan vitamin A dan beta karoten yang berfungsi menjaga kesehatan mata, mendukung pembelahan sel, meningkatkan sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, dan mendukung pertumbuhan. Selain itu, ASI juga mengandung vitamin B, C, D, E dan K dalam jumlah yang sesuai dengan perkembangan, kondisi, dan kebutuhan bayi.

5. Mineral
ASI memiliki mineral yang lengkap dan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan bayi. Mineral yang dikandung antara lain kalsium, magnesium, zink, Cu, zat besi, pospor, mangan, dan sebagainya sangat berperan dalam meningkatkan system daya tahan tubuh, menunjang pertumbuhan tulang, pembentukan sel darah merah, dan sebagainya.

6. Elektrolit
ASI mengandung elektrolit (natrium, kalium, dan klorida) dalam jumlah yang lebih rendah dibandingkan susu sapi sehingga tidak memberatkan kerja ginjal.

7. Enzim dan Hormon, serta Faktor Kekebalan
Hormon dan enzim dalam ASI sangat penting untuk sistem pencernaan dan proses pertumbuhan bayi. ASI juga mengandung faktor kekebalan yang berfungsi sebagai anti inflamasi, anti bakteri, anti virus, anti bakteri, dan anti parasit. Setelah melewati usia 6 bulan, ASI sudah tidak mampu lagi memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi sehingga bisa mulai dikenalkan dengan berbagai bahan makanan yang disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dengan tetap memberikan ASI hingga berusia 2 tahun. Usia 6-12 bulan merupakan titik awal bagi kemampuan bayi untuk mengkonsumsi berbagai bahan makanan untuk periode usia selanjutnya.

Pemberian makanan pada bayi harus bertahap, disesuaikan dengan perkembangan, kemampuan, dan ketrampilannya agar tidak menimbulkan masalah makan dimasa mendatang. Bayi dikatakan sudah siap menerima makanan pendamping  bila sudah mampu menggerakkan lidah dari depan ke belakang, mampu menahan kepalanya dengan stabil, mulai tertarik pada makanan dengan memasukkan apa saja ke dalam mulutnya, dan masih tampak lapar walaupun sudah minum ASI.

Agar MP-ASI untuk bayi dapat diberikan dengan tepat, maka harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Berikan sedikit demi sedikit dan bertahap sesuai dengan perkembangan ketrampilan dan perkembangan bayi.
2. Berbahan dasar bahan makanan lokal yang mudah didapat, misalnya beras merah, tepung beras, kentang, pisang, dan sebagainya. Mulai perkenalkan dengan aneka sayur dan buah segar.
3. Jangan menambahkan gula atau garam, agar bayi mengenali rasa asli dari setiap bahan makanan.
4. Jangan terlalu banyak mencampur bahan makanan dalam sekali pemberian. Amati tanda-tanda yang terjadi pada bayi jika ada gejala alergi makanan.
5. Perhatikan tekstur makanan dan jenis bahan makanan, berikan sesuai dengan perkembangan dan kemampuan bayi.
6. Usahakan memilih bahan makanan yang alami daripada instan. Hal ini untuk meminimalkan adanya bahan-bahan kimia sepertipengawet, penguat rasa, pewarna, pengental, dan sebagainya.
7. Perhatikan kebersihan bahan makanan dan alat yang digunakan untuk mengolah dan menyajikannya.

Anak adalah anugrah yang dititipkan Tuhan kepada orangtua. Oleh sebab itu, anak harus dirawat dan dijaga sebaik-baiknya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Salah satu caranya adalah dengan memberikan nutrisi dengan jumlah, jenis, dan cara yang tepat.

Artikel ini ditulis oleh:
Therecya Wulandari, S.Gz.

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gizi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Gizi Pada Ginjal Kronik dengan Hemodialisis (Cuci Darah) 4.94/5 (36)

Penyakit Gagal Ginjal Kronik / Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan suatu keadaan saat ginjal mengalami percepatan kehilangan fungsi ekskresi, hormonal, dan metabolik yang sifatnya tidak bisa dikembalikan. Fungsi ekskesi ginjal adalah melakukan pengeluaran produk akhir metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh, seperti urea. Fungsi endokrin ginjal adalah memproduksi enzim dan hormon, seperti renin untuk pengaturan tekanan darah, eritopoitein untuk sintesis eritrosit, dan mengatur metabolisme kalsium (Ramayulis, 2016). Penurunan fungsi ginjal pada CKD berlangsung perlahan, mulai dari CKD tahap 1 sampai dengan tahap 5.

Menurut Almatsier (2008), pada CKD tahap 5, pasien dianjurkan untuk menerima terapi dialisis. Dialisis dilakukan dimana ginjal tidak mampu lahi mengeluarkan produk-produk sisa metabolisme, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta memproduksi hormon-hormon. Dialisis dilakukan apabila hasil Glomerular Filtration Rate (GFR) < 15ml/menit. Dialisis yang paling banyak dilakukan adalah hemodialisis.

Apa itu Hemodialisis?

Hemodialisa didefiniskan sebagai pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermiabel (dializer) ke dalam dialisat (Nuari dan Dhina, 2017). Pada proses hemodialisis, aliran darah ke ginjal dialihkan melalui membran semipermiabel dari mesin cuci ginjal sehingga produk-produk sisa metabolisme dapat dikeluarkan dari tubuh. Menurut Sitasari, dkk (2017), hemodialisis menggantikan fungsi ekskresi dari ginjal. Fungsi metabolik dan hormonal dapat digantikan dengan terapi farmakologik dan terapi gizi.

Pada saat hemodialisis, terjadi kehilangan darah, vitamin larut air. Kehilangan 4-9 gram asam amino, dan 2-3 gram peptida terbuang setiap satu sesi hemodialisis yaitu sekitar 4-5 jam. Hemodialisis dapat menyebabkan terjadinya suatu peradangan, menyebabkan pemecahan protein tubuh, sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan status gizi.

Pengaturan Makan / Diet pada Pasien Hemodialisis

Pada pasien dengan hemodialisis, diharpakan mengkonsumsi makanan yang cukup energi dan mengkonsumsi makanan tinggi protein untuk menggantikan kehilangan asam amino dan zat gizi lain yang hilang selama proses hemodialisis. Anjuran diet didasarkan pada frekuensi dialisis, sisa fungsi ginjal, dan ukuran tubuh.

Tujuan diet yang diberikan untuk pasien dengan hemodialisis menurut Cornelia (2013), yaitu:

  1. Mengurangi penumpukan sampah uremi
  2. Mengurangi penumpukan cairan dan elektrolit di luar waktu dialisis
  3. Memperbaiki status gizi
  4. Mencegah defisiensi protein, asam amino, dan vitamin

Secara umum, pedoman diet untuk pasien CKD dengan hemodialisis adalah sebagai berikut (Cornelia, 2013):

  1. Energi diberikan cukup yaitu 35 kkal/kg BBI/hari untuk usia < 60 th, dan 30 kkal/kg BBI/hari untuk usia ≥ 60 th.
  2. Protein diberikan tinggi, untuk mengganti protein yang telah hilang selama proses hemodialisis dan mempertahankan keseimbangan nitrogen yaitu sebesar 1,0-1,2 gr/kg BB ideal/ hari. Sebaiknya konsumsi protein terdiri dari 50% protein hewani dan 50% protein nabati.
  3. Lemak diberikan 15 -30% dari kebutuhan energi total. 10% lemak jenuh dan kolestrol < 300 mg.
  4. Karbohidrat cukup, yaitu sebesar 55-75 % dari energi total.
  5. Kalium,pada pasien CKD dengan dialisis berisiko mengalami hiperkalemia (tingginya kadar kalium dalam darah). Kebutuhan kalium yang dianjurkan adalah 2000-3000 mg/hari. Untuk itu diharapkan pasien CKD dengan dialisis menghindari makanan yang mengandung tinggi kalium.
  6. Natrium (garam) diberikan sesuai dengan jumlah urin 24 jam, yaitu 1 gram ditambah penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 gram untuk tiap ½ liter urin.
  7. Kalsium tinggi yaitu, 1000 mg/hari.
  8. Fosfor dibatasi yaitu, < 17 mg/kg BB ideal/hari.
  9. Cairan dibatasi yaitu, sebanyak jumlah urin sehari ditambah ± Kelebihan cairan akan menyebabkan bengkak, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru.

Makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan untuk pasien CKD dengan dialisis:

Makanan yang dianjurkan:

  1. Makanan sumber energi, seperti: nasi, roti, mie, makaroni, spageti, lontong, bihun, madu, permen. Makanan sumber energi berguna menjaga atau memperbaiki status gizi pasien.
  2. Makanan sumber protein, seperti: telur, ayam, daging, ikan, kacang-kacangan termasuk tahu dan tempe dalam jumlah yang terbatas disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan gizi. Pada pasien dengan hemodialisis, protein berfungsi untuk mejaga kekuatan otot dan daya tahan tubuh pasien.

Makanan yang harus diperhatikan:

  1. Makanan Sumber Natrium

Kelebihan konsumsi garam akan meyebbakan pasien mudah merasa haus sehingga banyak minumdan dapat mengakibatkan pembengkakan, sesak nafas, tekanan darah meningkat, dan penyakit jantung.

Bahan makanan tinggi natrium yaitu makanan instan, keju, margarin, dan mentega. Bumbu yang mengandung tinggi natrium juga harus diperhatikan, seperti garam, terasi, kecap, MSG, saos.

  1. Makanan Tinggi Kalium

Asupan kalium dalam jumlah cukup dibutuhkan untuk menjaga agar jantung berdetak dengan kecepatan normal.  Namun apabila konsumsi kalium terlalu berlebihan dapat berbahaya untuk jantung.

  • Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium < 100mg): misoa, beras, roti putih, semangka, manggis, rambutan, blewah, sari apel, keju, es krim, kopi, margarin, jam.
  • Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium 100-200mg) : bihun, beras merah, terigu, makaroni, biskuit, roti bakar, telur ayam, tahu, ketimun, anggur, apel hijau, jambu biji, jeruk, sawo, blimbing, melon, yoghurt.
  • Bahan makanan diperbolehkan maksimal 100gr/hari 9kadar kalium 200-300mg : ubi putih, jagung, beras ketan, ikan, buncis, kol, wortel, tomat, selada, apel merah, alpukat, duku, pepaya , salak, sirsak, klengkeng, madu.
  • Bahan makanan dibatasi maksimal 50gr/hari (kadar kalium 300-400 mg) : kentang, havermout, singkong, ubi kuning, tepung tapioka, kapri, ikan mas, udang, ayam, kembang kol, bit, seledri, nangka, santan.
  • Bahan makanan yang TIDAK dianjurkan (kadar kalium (> 400 mg) : sarden, tongkol, kacang-kacangan kering (kacang hiaju, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah, dll), pisang, durian, bayam, daun pepaya, coklat, teh, kelapa, saos tomat.
  1. Makanan Tinggi Fosfor

Pada pasien dengan hemodialisis biasanya akan mengalami hiperfosfatemia (tingginya kadar fosfor dalam darah), maka dari itu makanan yang mengandung tinggi fosfor sebaiknya dihindari seperti: produk susu, kacang-kacangan, cereal berbahan gandum, dan minuman kemasan.

  1. Makanan Sumber Kalsium

Pada pasien dengan hemodialisis, kebutuhan kalsium yang disarankan harus tinggi karena apabila kalsium dan vit D rendah di dalam darah maka akan dilepas dari tulang yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi susu rendah fosfor setiap hari.

  1. Makanan yang Mengandung Serat

Pasien dengan hemodialisis dianjurkan untuk mengkonsumsi serat dalam jumlah yang cukup agar feses menjadi lembek dan tidak susah buang air besar. Makanan yang dianjurkan yaitu,  sayur, buah, kacang-kacangan, sereal, dan hasil olahannya yang mengandung rendah fosfor.

Bagaimana mengatur cairan bagi pasien hemodialis?

  1. Hindari makan dengan rasa pedas dan asin, batasi penggunaan garam
  2. Makanlah es batu agar dapat memberikan sensasi sejuk di mulut
  3. Menjaga kebersihan gigi dan mulut
  4. Gunakan gelas kecil pada saat minum
  5. Makannlah permen rasa asam untuk merangsang pengeluaran air liur
  6. Cara memasak makanan sebaiknya ditumis, dikukus, dipanggang, dan digoreng
  7. Contoh sayur dan buah yang kandungan airnya dapat diabaikan: kol, brokoli, cherry, blueberry, terong, selada, seledri

Bagaimana cara mengurangi kalium dari bahan makanan?

  1. Mencuci sayuran, buah, dan bahan makanan lain yang telah dikupas dan dipotong-potong
  2. Rendam bahan makanan dalam air hangat yang banyak selama 2 jam. Dengan perbandingan air sekitar 1:10
  3. Setelah 2 jam, kemudian air dibuang dan bahan makanan dicuci dalam air mengalir selama beberapa menit
  4. Setelah itu, bahan makanan, sayur, dan buah siap dimasak. Sebaiknya air yang digunakan untuk memasak 5x lebih banyak dari bahan makanan

DAFTAR PUSTAKA:

Almatsier, Sunita. 2008. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Cornelia, dkk. 2013. Konseling Gizi. Jakarta : Penebar swadaya Grup

www.gizi.depkes.go.id

Kresnawan, dkk. 2017. Diet untuk Pasien Dialisis. Jakarta : Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI)

Nuari, Nian Afrian dan Dhina Widayati. 2017. Gangguan Pada Sistem Perkemihan dan Penatalaksanaan keperawatan. Yogyakarta : Deepublish

Ramayulis, Rita. 20016. DIET Untuk Penyakit Komplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya Grup

Artikel ini ditulis oleh:
Yashinta Arum Perwita, S. Gz
(Ahli Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gizi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.94/5 (36)

Mohon dapat memberikan rating

Hari Keamanan Pangan Sedunia No ratings yet.

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 adalah gerakan memobilisasi tindakan untuk mencegah, mendeteksi dan mengelola risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan meningkatkan derajat kesehatan manusia. Tema peringatan adalah makanan yang lebih aman, kesehatan yang lebih baik (safer food, better health). 

Makanan yang aman adalah salah satu penjamin paling penting untuk kesehatan yang baik. Makanan yang tidak aman adalah penyebab banyak penyakit (foodborne illnesses), gangguan pertumbuhan dan perkembangan, defisiensi mikronutrien, penyakit tidak menular atau menular dan penyakit mental. Secara global, satu dari sepuluh orang terkena penyakit bawaan makanan setiap tahunnya. Diperkirakan 600 juta (hampir 1 dari 10 orang di dunia) jatuh sakit setelah makan makanan yang terkontaminasi dan 420.000 meninggal setiap tahun, mengakibatkan hilangnya 33 juta tahun hidup sehat (DALYs). Bahkan dana sebesar US$ 110 miliar hilang setiap tahun dalam produktivitas dan biaya pengobatan akibat makanan yang tidak aman, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada anak balita menyebabkan 40% dari beban penyakit bawaan makanan, dengan 125.000 kematian setiap tahun.

Penyakit bawaan makanan biasanya bersifat menular atau beracun dan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau zat kimia yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi. Bakteri Salmonella, Campylobacter dan enterohaemorrhagic Escherichia coli adalah beberapa patogen bawaan makanan yang paling umum yang mempengaruhi jutaan orang setiap tahun, kadang-kadang dengan derajat klinis yang parah dan fatal. Gejala klinisnya dapat berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut dan diare. Bakteri tersebut sering berada pada telur, daging unggas dan produk lain yang berasal dari hewan, susu mentah, daging unggas mentah atau setengah matang, dan air minum, susu yang tidak dipasteurisasi, daging yang kurang matang, serta buah dan sayuran segar yang terkontaminasi.

Infeksi bakteri Listeria dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil atau kematian bayi baru lahir. Listeria ditemukan dalam produk susu yang tidak dipasteurisasi dan berbagai makanan siap saji dan dapat tumbuh pada suhu dingin. Bakteri Vibrio cholerae dapat menginfeksi orang melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Gejala klinisnya adalah sakit perut, muntah dan diare berair yang banyak, yang dengan cepat menyebabkan dehidrasi parah dan bahkan kematian. Beras, sayuran, bubur millet dan berbagai jenis makanan laut telah terkait dengan wabah kolera.

Beberapa virus dapat ditularkan melalui konsumsi makanan. Norovirus dan Virus Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan dan dapat menyebabkan penyakit hati dan menyebar biasanya melalui makanan laut mentah atau setengah matang, atau produk mentah yang terkontaminasi. Beberapa parasit, seperti trematoda, cacing pita seperti Echinococcus spp, atau Taenia spp, Ascaris, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica atau Giardia, memasuki tubuh melalui makanan atau kontak langsung dengan hewan air atau tanah dan produk tanaman segar.

Beban penyakit bawaan makanan (foodborne illnesses) terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi sering kali diremehkan karena pelaporan yang kurang. Selain itu, juga adanya kesulitan untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara kontaminasi makanan dan penyakit atau kematian yang diakibatkannya. Laporan WHO tahun 2015 tentang perkiraan beban global penyakit bawaan makanan menyajikan perkiraan pertama beban penyakit yang disebabkan oleh 31 agen bawaan makanan (bakteri, virus, parasit, racun, dan bahan kimia) di tingkat global. Ternyata lebih dari 600 juta kasus penyakit bawaan makanan dan 420.000 kematian dapat terjadi dalam setahun. Beban penyakit bawaan makanan menimpa secara tidak proporsional pada kelompok dalam situasi rentan dan terutama pada anak balita, dengan beban tertinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Laporan Bank Dunia 2019 tentang beban ekonomi penyakit bawaan makanan menunjukkan bahwa, total kerugian produktivitas yang terkait dengan penyakit bawaan makanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, diperkirakan mencapai US$ 95,2 miliar per tahun. Selain itu, biaya tahunan untuk mengobati penyakit bawaan makanan diperkirakan mencapai US$ 15 miliar.

Pasokan makanan yang aman mendukung kesehatan ekonomi nasional, berkontribusi pada ketahanan pangan dan gizi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Pada hal, urbanisasi dan perubahan kebiasaan konsumen telah meningkatkan jumlah orang yang membeli dan makan makanan yang disiapkan di tempat umum. Selain itu, globalisasi telah memicu meningkatnya permintaan konsumen akan variasi makanan yang lebih luas, mengakibatkan rantai makanan global yang semakin kompleks dan panjang. Perubahan iklim juga diprediksi berdampak pada keamanan pangan.

Setiap pemerintah harus menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas kesehatan masyarakat, dengan menyusun kebijakan dan menerapkan sistem keamanan pangan yang efektif. Momentum Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) pada Selasa, 7 Juni 2022 mengingatkan kita akan peran penting negara dalam menjamin ketersediaan makanan yang aman dan sehat.

Sumber: https://dokterwikan.com/

 

Artikel ini ditulis oleh:
DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gizi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Obesitas No ratings yet.

Obesitas atau kegemukan merupakan keadaan bertambahnya lemak tubuh yang ditandai oleh kenaikan berat badan dan peningkatan penumpukan lemak pada bagian tertentu khususnya di daerah perut. Obesitas atau kegemukan terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar, sehingga terjadi peningkatan rasio lemak dan lean body tissue yang terlokalisir atau merata di seluruh tubuh.

Bagaimana Cara Menentukan Obesitas?

  1. Menghitung Indeks Massa Tubuh

Perhitungan umum yang sering digunakan tanpa mempetimbangkan berat otot adalah IMT  (Indeks Massa Tubuh) atau  BMI ( Body Mass Index ).

Rumus IMT = Berat badan (kg) / Tinggi badan x tinggi badan (m)

Bila berat badan seseorang adalah  68 kg dengan tinggi badan 155 cm, maka IMT -nya adalah  28, 3 kg/m2, artinya berdasarkan IMT termasuk obesitas.

2. Menghitung Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP)

Rasio lingkar pinggang dan panggul merupakan salah satu cara pengukuran antropometri yang dapat menilai obesitas sentral dan juga menilai risiko terkena penyakit kardiovaskuler. Cara mengukur lingkar pinggang yang paling mudah adalah dengan meletakkan satu jari di atas pusar Anda, setelah itu lingkari meteran pada daerah tersebut. Untuk mengukur lingkar panggul dapat dilakukan dengan cara menentukan daerah panggul yang paling menonjol dan gunakan metlin untuk mengukur.

Rumus RLPP = lingkar pinggang (cm) / lingkar panggul (cm)

Contoh: bila seorang laki-laki mempunyai lingkar pinggang 100 cm dengan lingkar pinggul 90 cm, maka RLPP-nya adalah 100 : 90 = 1,1. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa laki-laki ini mengalami obesitas sentral dan berisiko untuk menderita penyakit kardiovaskuler, sesuai dengan hasil penelitian prospektif yang menunjukkan bahwa rasio lingkar pinggang dan panggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler (Supariasa, 2002).

Tipe-tipe Obesitas

  1. Tipe Android (Tipe buah Apel)

Tipe android menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak yang terdapat pada bagian visceral dan bagian atas tubuh, seperti yang terlihat pada buah apel. Tipe ini banyak terjadi pada pria dan wanita yang telah mengalami menopause karena hormon estrogen tidak lagi diproduksi.

Jenis timbunan lemak pada bagian atas tubuh adalah asam  lemak jenuh. Seseorang dengan timbunan lemak jenuh tinggi dalam tubuh beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan metabolisme glukosa dan lemak seperti penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, stroke dan tekanan darah tinggi. Orang dengan tipe kegemukan seperti ini mempunyai kemungkinan terkena kanker payudara enam kali lebih besar dibandingkan orang yang memiliki berat tubuh normal. Lemak jenuh  merupakan lemak yang lebih  mudah dibakar. Bila seseorang memiliki timbunan lemak lebih banyak pada bagian atas ( lengan atas, belakang bra, pinggang dan perut) dianjurkan untuk segera melakukan diet dan olahraga secara teratur.

  1. Tipe Ginoid (Tipe buah Pir)

Tipe ginoid menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak pada bagian bawah tubuh yaitu, di daerah panggul dan paha. Tipe ini banyak terdapat pada wanita.

Jenis lemak yang tertimbun pada daerah panggul dan paha jenisnya adalah lemak tidak jenuh yang lebih sulit untuk dibakar. Kegemukan tipe ini lebih aman terhadap risiko penyakit kardiovaskuler. Pada kegemukan tipe ini, perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah lemak tubuh bagian atas sudah normal atau belum. Jika normal, untuk penurunan berat badan tidak dianjurkan untuk diet ketat karena akan semakin menghabiskan lemak bagian atas tubuh, yang kemungkinan akan menyebabkan antara lain pipi menjadi kempot dan payudara mengecil. Yang penting untuk dilakukan adalah, melatih otot-otot di sekitar panggul dan paha. Jika massa otot lebih besar dari lemak, penampilan panggul dan paha akan terkesan lebih langsing.

  1. Tipe Hiperplastik

Tipe ini biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe hiperplastik menunjukkan sel lemak berlebih, tetapi ukurannya sesuai dengan ukuran sel lemak normal. Jumlah sel lemak yang banyak pada anak-anak akan sulit untuk diturunkan ketika masa pertumbuhan telah berakhir. Anak-anak yang gemuk harus ditingkatkan aktifitas fisiknya secara teratur untuk menyeimbangkan dengan sel lemak yang banyak tadi dengan pertambahan tinggi badan.

  1. Tipe Hipertropik

Obesitas tipe ini biasanya terjadi pada orang dewasa, terutama pada wanita setelah hamil dan melahirkan atau pada pria yang mulai mapan dengan makan tidak terkontrol. Tipe hipertropik menunjukkan ukuran sel lemak tidak normal (berukuran besar), tetapi dengan jumlah sel lemak normal.

Ukuran sel lemak yang membesar dapat dikecilkan dengan meningkatkan penggunaan sel lemak sebagai energi, yaitu dengan mengurangi asupan energi total dan meningkatkan aktifitas fisik dan latihan fisik secara teratur.

Pengaturan Makan pada Obesitas

Pengaturan makan  dengan tujuan penurunan berat  badan, sebaiknya dapat menurunkan berat badan secara bertahap tanpa mengganggu keseimbangan metabolisme atau sampai menyiksa diri sendiri. Bahkan, diharapkan pengaturan  makan ini bisa menjadi suatu gaya hidup yang baik. Pengaturan makan yang bisa diterapkan untuk penurunan berat badan  adalah dengan diet rendah energi, seimbang dan teratur (REST). Diet REST ini dikembangkan oleh Rita Ramayulis DCN.,M.Kes.

Pada prinsipnya diet ini adalah menurunkan asupan energi total dengan tetap mengenyangkan. Seseorang dengan kegemukan, tetap dapat mengonsumsi makanan dengan volume yang sesuai, mengandung zat gizi lengkap dan seimbang, serta frekuensi makan minimal 3 kali sehari. Diet ini mengutamakan pemilihan bahan makanan dengan densitas energi rendah (DER). Densitas energi rendah adalah jumlah energi pada suatu hidangan makanan dalam berat atau volume tertentu. Suatu hidangan makanan dengan densitas energi rendah akan menyediakan energi relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang berdensitas energi lebih tinggi dalam berat yang sama. Konsumsi makanan dengan DER, telah dimasukkan dalam Dietary Guidelines for Americans 2005, sebagai strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Konsumsi makanan denagn DER dapat menurunkan berat badan secara bermakna. Penelitian dari Dewi, dkk (2013), menjelaskan bahwa kelompok yang mengonsumsi lebih  banyak makanan berdensitas energi rendah memiliki kualitas bahan makanan yang lebih baik dan indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi makanan berdensitas energi tinggi.

Pengelompokkan bahan makanan berdasarkan nilai densitas energi adalah sebagai berikut:

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sangat rendah. (0-60 kkal/100 gr)

Contoh: sari kedelai, telur ayam bagian putih, lobak, oyong, pare, terong, tomat, semangka, pepaya

  1. Bahan makanan dengan densitas energi rendah ( > 60 -150 kkal/100 gr)

Contoh: kentang, tahu, tempe, ikan bawal, ikan kakap, daun pepaya, pisang ambon, sirsak

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sedang ( > 150 – 400 kcal/100 gr)

Contoh: havermut,jagung, belut, daging sapi, ikan pindang, keju, selai, kopi, madu

  1. Bahan makanan dengan densitas energi tinggi ( > 400 – 900 kcal/100 gr)

Contoh: kacang tanah,ayam dengan kulit, kuning telur ayam, mentega, margarin, minyak kelapa

Sumber: Ramayulis R, 2014 Analisis Densitas Energi berdasarkan DKBM, Kemenkes 1996

 

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menurunkan berat badan adalah sebagai berikut:

  1. Gizi Seimbang

Dalam diet gizi seimbang tidak ada larangan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Dianjurkan  untuk mengonsumsi aneka ragam makanan sesuai kebutuhan dan bervariasi baik untuk kelompok makanan sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur dan buah.

  1. Cukup Minum

Dalam sehari kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter (8 gelas), tetapi saat menjalankan diet penurunan berat badan, kebutuhan air meningkat 50 cc untuk setiap kilogram berat badan.

  1. Aktifitas Fisik dan Lakukan Olahraga secara Teratur

Pada tahun 2002, WHO mencanangkan gerakan Move for Health, yang berisi rekomendasi utama untuk melakukan minimal 30 menit aktifitas fisik secara reguler dalam 5 hari seminggu. Jika seseorang melatih otot, setiap saat otot juga akan mempunyai kemampuan lebih untuk membakar lemak.

  1. Kelola Emotional Eating

Emotional Eating  yaitu. suatu kebiasaan makan berlebihan dalamjumlah  besar hanya karena nafsu dan perasaan yang disebabkan oleh emosi, bukan karena lapar. Seseorang yang mengalami emotional eating cenderung untuk makan dalam jumlah berlebihan dan banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, garam dan minyak.

 

Referensi

Ramayulis  R. 2014.   Slim is Easy.  Jakarta : Penebar Plus +

Sudargo, Toto, dkk. 2014.  Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta

Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta : Graha Ilmu

 

Artikel ini ditulis oleh:

Bernadeth Dwi Wahyunani, AMG, RD

(Kepala Instalasi Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 Instalasi Gizi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Senin – Jumat, pk 07.00 – 14.00 WIB
Hari Minggu & tanggal merah tutup
Telepon : 0274 – 563333 ext 238

Mohon dapat memberikan rating

Cegah Kegemukan No ratings yet.

Lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia mengalami obesitas. Jumlah ini masih terus bertambah, bahkan WHO memperkirakan pada tahun 2025, sekitar 167 juta orang, baik dewasa dan anak, akan jadi sakit karena kelebihan berat badan atau obesitas. 

Obesitas adalah penyakit yang mempengaruhi sebagian besar sistem dan organ tubuh, dari jantung, hati, ginjal, sendi, sampai sistem reproduksi. Dampaknya berupa penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, hipertensi dan stroke, kanker, serta masalah kesehatan mental. Orang dengan obesitas juga tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Kunci untuk mencegah obesitas adalah bertindak sejak dini, idealnya bahkan sebelum bayi lahir. Nutrisi yang baik selama kehamilan, diikuti dengan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan terus menyusui sampai usia 2 tahun, adalah langkah yang terbaik untuk semua bayi dan anak.

Kegemukan dan obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Indeks massa tubuh (BMI) adalah indeks sederhana dari berat badan-untuk-tinggi yang umum digunakan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas. Untuk anak balita kelebihan berat badan adalah berat badan untuk tinggi badan lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO, dan obesitas lebih besar dari 3. Pada anak dan remaja berusia antara 5-19 tahun kelebihan berat badan adalah BMI lebih besar dari 1 standar deviasi di atas median Pertumbuhan WHO dan obesitas lebih besar dari 2.

Penyebab mendasar dari obesitas dan kelebihan berat badan adalah ketidakseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori yang dikeluarkan. Secara global, hal tersebut telah terjadi karena pertama, adanya peningkatan asupan makanan padat energi yang tinggi lemak dan gula. Kedua, penurunan aktivitas fisik karena semakin banyak bentuk pekerjaan yang menetap, perubahan moda transportasi, dan peningkatan urbanisasi. Keduanya, yaitu perubahan pola makan dan aktivitas fisik seringkali merupakan hasil dari perubahan lingkungan dan sosial yang terkait dengan pembangunan dan kurangnya kebijakan yang mendukung pada sektor kesehatan, pertanian, transportasi, perencanaan kota, lingkungan, pengolahan makanan, distribusi, pemasaran, dan pendidikan.

Obesitas pada anak dikaitkan dengan kemungkinan obesitas, kematian dini, dan kecacatan yang lebih tinggi di masa dewasa. Namun selain peningkatan risiko di masa depan, anak obesitas mengalami kesulitan bernapas, peningkatan risiko patah tulang, hipertensi, penanda awal penyakit kardiovaskular, resistensi insulin dan efek psikologis. Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah. Lingkungan dan masyarakat yang mendukung sangat penting dalam membentuk pilihan masyarakat, dengan menjadikan pilihan makanan yang lebih sehat dan aktivitas fisik yang teratur sebagai pilihan yang paling mudah diakses, tersedia dan terjangkau.

Pada tingkat keluarga, orang tua dapat dapat melakukan pembatasan asupan energi dari total lemak dan gula pada anak. Juga meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, serta kacang-kacangan, biji-bijian. Dan jangan lupa untuk mendorong anak melakukan aktivitas fisik secara teratur (60 menit sehari untuk anak-anak dan 150 menit dalam seminggu untuk remaja dan orang dewasa).

Di tingkat masyarakat, penting untuk mendukung individu dalam mengikuti rekomendasi di atas, melalui implementasi berkelanjutan dari kebijakan berbasis bukti dan berbasis populasi yang membuat aktivitas fisik teratur dan pilihan makanan yang lebih sehat tersedia, terjangkau dan mudah diakses oleh semua orang, terutama bagi yang termiskin. individu. Contoh dari kebijakan tersebut adalah pajak atas minuman manis dengan gula.

Industri makanan dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan diet sehat dengan mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam makanan olahan. Juga memastikan bahwa pilihan yang sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi semua konsumen. Regulasi negara harus mencakup pembatasan pemasaran makanan tinggi gula, garam dan lemak, terutama makanan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Selain itu, juga memastikan ketersediaan pilihan makanan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik secara teratur di tempat kerja.

Pada kesempatan Hari Obesitas Sedunia 4 Maret 2022, semua negara harus berbuat lebih banyak untuk membalikkan krisis kesehatan yang dapat diprediksi dan dicegah ini. Langkah efektif harus segera diambil, termasuk membatasi pemasaran makanan dan minuman tinggi lemak, gula dan garam kepada anak, mengenakan pajak pada minuman manis, dan menyediakan akses yang lebih baik ke makanan sehat yang terjangkau. Setiap kota perlu menyediakan ruang bagi semua warganya, termasuk anak untuk berjalan kaki ke sekolah, bersepeda, dan rekreasi yang aman, dan guru di sekolah perlu mengajarkan kebiasaan sehat kepada anak sejak dini.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Artikel ini ditulis oleh:
DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Klinik Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

5 Makanan Wajib Konsumsi Penderita Hipertensi 4.9/5 (10)

Hipertensi, atau penyakit darah tinggi, adalah suatu keadaan yang tidak boleh disepelekan. Penurunan darah tinggi, tidak hanya dibantu oleh obat dokter, namun juga memerlukan perhatian pada makanan yang dikonsumsi. Modifikasi gaya hidup dan kontrol asupan makanan, telah terbukti dalam berbagai penelitian dapat membantu penurunan tekanan darah.

Untuk mengoptimalkan terapi dalam hipertensi, pasien sebaiknya mengonsumsi makanan yang dapat membantu penurunan tekanan darah.

Apa saja makanan itu? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Susu Skim & Yogurt
Susu skim atau susu rendah lemak mengandung kalsium yang tinggi dapat berfungsi sebagai penurun tekanan darah. Selain kandungan kalsium yang tinggi, komponen lain dalam susu rendah lemak seperti senyawa peptida juga berperan dalam menurunkan tekanan darah. Susu skim juga dapat diganti dengan yogurt sebagai alternatif.

Sayuran Hijau
Sayuran hijau seperti brokoli, sawi, bayam, dan lainnya mengandung berbagai serat, antioksidan, kalium, kalsium, magnesium, hingga potassium. Nutrisi ini cukup dibutuhkan untuk membantu penurunan tekanan darah.

Salmon
Ikan salmon merupakan ikan yang kaya akan kandungan asam lemak omega-3. Kandungan lemak sehat ini dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan menekan peradangan dalam tubuh serta menurunkan kadar senyawa oxylipin yang dapat berdampak pada penyempitan pembuluh darah. Selain asam lemak omega-3, ikan salmon juga mengandung Vitamin D yang baik untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Pisang
Pisang memiliki kandungan potassium atau kalium yang cukup tinggi. Potassium dapat membantu menurunkan tekanan darah secara alami. Satu pisang mengandung sekitar 420 miligram potassium dan jumlah ini setara dengan 11 persen dari konsumsi 4.700 miligram yang direkomendasikan American Heart Association setiap harinya.

Oatmeal
Oatmeal memiliki serat tinggi, rendah lemak, dan rendah natrium yang memenuhi kriteria untuk menurunkan tekanan darah dalam tubuh. Mengonsumsi oatmeal pada pagi hari dapat membantu pengisian energi untuk menjalani aktivitas Anda. Oatmeal dapat dikonsumsi lebih nikmat dalam bentuk overnight oatmeal, yakni sajian oatmeal yang disimpan selama semalam dengan merendamnya menggunakan bahan cair pilihan seperti susu untuk disimpan dalam kulkas semalaman. Beberapa jenis oatmeal pun tidak perlu dimasak untuk membuat overnight oatmeal.

Agar pemenuhan nutrisi sesuai dengan kondisi tubuh, Sahabat Sehat Panti Rapih juga dapat berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik dan tim ahli gizi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, atau berlangganan katering diet bagi penderita Hipertensi dari NutriEatery.

Sumber:
Schwingshackl, L., Chaimani, A., Hoffmann, G., Schwedhelm, C., & Boeing, H. (2017). Impact of different dietary approaches on blood pressure in hypertensive and prehypertensive patients: protocol for a systematic review and network meta-analysis. BMJ open, 7(4), e014736.
https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-014736
https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/12/180300023/hipertensi-berikut-13-makanan-penurun-darah-tinggi?page=all
https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3621427/makanan-penurun-tekanan-darah-tinggi-alami-dan-efektif
https://www.alodokter.com/makanan-penakluk-tekanan-darah-tinggi

Klinik Gizi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.9/5 (10)

Mohon dapat memberikan rating

Petunjuk Diet Jantung No ratings yet.

Apakah Tujuan Diet Jantung?
1. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan pekerjaan jantung
2. Menurunkan berat badan bila penderita terlalu gemuk
3. Mencegah/ menghilangkan penimbunan garam / air

Bagaimana Syarat-Syarat Diet Jantung?
1. Kalori rendah, terutama bagi penderita yang terlalu gemuk
2. Protein dan lemak sedang
3. Cukup vitamin dan mineral
4. Mudah dicerna

Bahan Makanan Apa Yang Boleh Diberikan?
1. Sumber Hidratarang
Beras, bulgur, singkong, tales, kentang, makaroni, mie, bihun, roti, biskuit, tepung-tepungan
2. Sumber Protein Hewani
Daging ayam, daging sapi kurus, bebek, ikan, putih telur, susu skim
3. Sumber Protein Nabati
Kacang-kacangan kering maksimum 25 gram sehari, tahu, tempe, oncom
4. Sumber lemak
Minyak, margarine, mentega, sedapat mungkin tidak digunakan untuk menggoreng: kelapa, santan encer dalam jumlah terbatas
5. Sayuran
Sayuran yang tidak mengandung gas: baya, kangkung, buncis, kacang panjang, tauge, labu siam, oyong, tomat, wortel, dsbnya

Bahan Makanan Apa Yang Tidak Boleh Diberikan?
1. Sumber Hidratarang
Kue-kue yang terlalu manis dan gurih seperti: cake, tarcis, dodol, dsbnya
2. Sumber Protein Hewani
Semua daging berlemak, jerohan, sosis, ham
3. Sumber Lemak
Goreng-gorengan, santan kental
4. Sayuran
Sayuran yang menimbulkan gas seperti: kol, sawi, lobak
5. Bumbu
Cabe dan bumbu lain yang merangsang
6. Minuman
Kopi, teh kental, minuman yang mengandung soda dan alkohol

Bagaimana Cara Memasak Yang Terbaik?
1. Cara memasak yang baik adalah : menumis, memanggang, membakar, mengungkep, merebus dan mengukus
2. Minyak digunakan dalam jumlah terbatas dan pilihlah dari jenis lemak tak jenuh, seperti: minyak jagung, minyak kedelai, minyak zaitun dll
3. Hindarkan menggoreng

Hal-hal Lain Apakah Yang Perlu Diperhatikan?
1. Untuk mengimbangi diet yang anda jalani, dianjurkan melakukan olahraga ringan jenis aerobik menurut petunjuk dokter
2. Batasi pekerjaan yang terlalu banyak membutuhkan tenaga dan melelahkan
3. Cukup istirahat
4. Hindari kebiasaan merokok
5. Usahakan untuk melakukan medical check up secara rutin, untuk mengetahui perkembangan Anda

Klinik Gizi RS Panti Rapih
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Atasi Stunting No ratings yet.

Stunting atau kerdil pada anak disebabkan oleh kekurangan asupan nutrisi secara kronis. Hal ini karena akses terhadap makanan bergizi seimbang belum merata, terutama pada ibu hamil. Padahal faktor utama terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak janin sampai anak usia 2 tahun. Apa yang perlu dilakukan?

Wilayah dengan stunting tertinggi berada di kawasan tengah dan timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota pada 153.228 balita, angka stunting secara nasional mengalami penurunan sebesar 1,6 persen per tahun dari 27,7 persen tahun 2019 menjadi 24,4 persen tahun 2021. Hanya 5 provinsi yang menunjukkan kenaikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa implementasi dari kebijakan pemerintah mendorong percepatan penurunan stunting di Indonesia telah memberi hasil yang cukup baik. Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia lebih baik dibandingkan Myanmar (35%), tetapi masih lebih tinggi dari Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%) dan Singapura (4%).

Secara individual, terdapat 6 langkah pencegahan stunting oleh seorang ibu hamil dan bayinya, yaitu pemeriksaan kehamilan secara rutin, penuhi asupan nutrisi, penambahan konsumsi zat besi, asam folat dan yodium, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, pemberian ASI dan MP-ASI sesuai usia bayi, dan kontrol tumbuh kembang bayi secara teratur. Setiap ibu perlu mendapatkan perhatian khusus melalui strategi intervensi nutrisi. Sejak seorang anak perempuan memasuki masa remaja sampai saat terjadi kehamilan, diperlukan peningkatan penggunaan makanan menu lokal seperti telur dan ikan air tawar, harus lebih ditingkatkan guna mencegah ibu terkena malnutrisi.

Kemudian setelah bayi dilahirkan, perlu adanya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam satu jam kelahiran, termasuk memberikan kolostrum (makanan pertama untuk bayi baru lahir yang keluar dari payudara ibu sebelum ASI). Pemberian ASI eksklusif sangat penting untuk memastikan bahwa bayi selama enam bulan pertama kehidupannya terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Kontrol teratur tumbuh kembang bayi, adalah hal penting untuk mengenali dan mengatasi stunting sejak awal. Sebaiknya setiap bulan pada bayi 0 sampai 12 bulan, setiap 3 bulan ketika anak berusia 1 sampai 3 tahun, dan setiap 6 bulan ketika anak berusia 3 sampai 6 tahun. Selain pemantauan tumbuh kembang itu, juga dengan pemberian imunisasi dasar sesuai  jadwal dan kemudian pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia bayi, keduanya adalah hal penting lainnya untuk mencegah dan mengatasi stunting.

Gejala stunting yang perlu dicermati meliputi berat badan anak tidak naik, cenderung turun, atau lebih rendah dibanding anak seusianya. Tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya. Pertumbuhan tulang tertunda, perkembangan tumbuh terhambat dan anak lebih mudah terkena infeksi. Anak stunting berisiko tidak mampu mencapai potensi idealnya, termasuk dalam aspek akademik, lebih mungkin mengalami kemunduran intelektual, dan kelak akan mengidap penyakit degeneratif, seperti kanker dan diabetes. Hal ini disebabkan karena kebutuhan zat gizi mikro dan makro dalam tubuh anak tidak terpenuhi secara maksimal, sehingga pembentukan fungsi sel tubuh dan lainnya tidak sempurna.

Secara komunal non individual, untuk masyarakat luas diperlukan formula program percepatan dalam penurunan stunting, dengan intervensi berbasis keluarga berisiko stunting. Fokusnya adalah penyiapan kehidupan berkeluarga, pemenuhan asupan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, juga peningkatan akses air minum dan sanitasi.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita. Saat ini di beberapa daerah capaian prevalensi sudah dibawah 20% namun masih belum memenuhi target dari RPJMN tahun 2024 sebesar 14%. Bahkan seandainyapun sudah tercapai 14% bukan berarti Indonesia sudah bebas stunting tetapi target selanjutnya adalah menurunkan angka stunting sampai kategori rendah atau dibawah 2,5 persen. Prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, Presiden RI Joko Widodo menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Untuk mencapai target 14 persen, maka setiap tahunnya perlu terjadi penurunan sekitar 3 persen. Diperlukan upaya inovasi, agar terjadi penurunan sekitar 3 sampai 3,5 persen per tahun. Sehingga tercapai target 14 persen tahun 2024 sesuai dengan target Presiden berdasarkan RPJMN bisa tercapai.

Pemerintah akan memperkuat percepatan penurunan stunting melalui langkah-langkah intervensi kesehatan masyarakat melalui Puskesmas dan Posyandu, pada ibu sejak sebelum hamil sampai sesudah melahirkan. Untuk sebelum kelahiran akan dilakukan program pendistribusian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri, program tambahan asupan gizi untuk bu hamil kurang gizi kronik, melengkapi puskesmas dengan alat USG untuk mempertajam identifikasi ibu hamil. Kemudian untuk pasca kelahiran juga dilakukan program untuk mendukung pemenuhan konsumsi protein hewani balita, merevitalisasi proses rujukan balita weight faltering dan stunting ke puskesmas dari rumah sakit, serta merevitalisasi, melengkapi, mendegitalisasi alat ukur di seluruh Posyandu di Indonesia yang jumlahnya sekitar 240 ribu. Selain itu juga dilakukan revitalisasi proses rujukan balita weight faltering dan stunting ke Puskesmas dari rumah sakit, penambahan dana bantuan operasional kesehatan (BOK) Puskesmas untuk terapi gizi, perubahan aturan BPJS mengenai stunting di RS agar dapat diberikan penjaminan biaya layanan, serta peningkatan imunisasi dasar dari 12 menjadi 14 jenis imunisasi.

Sumber: https://dokterwikan.com/
Baca juga link terkait: https://pantirapih.or.id/rspr/klinik-anak-terpadu/
https://pantirapih.or.id/rspr/layanan-klinik-ibu-dan-anak-rs-panti-rapih/

Artikel ini ditulis oleh:
DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Klinik Tumbuh Kembang
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Bersahabat dengan Diabetes Mellitus dengan Pengaturan Makan yang Tepat No ratings yet.

Saat ini masyarakat sudah sering mendengar tentang penyakit Diabetes Melitus (DM) yang memang prevalensinya di Indonesia mulai meningkat.

Meningkatnya prevalensi diabetes melitus di beberapa negara berkembang akibat dari peningkatan kemakmuran di negara bersangkutan. Di Indonesia penyandang DM tipe I sangat jarang. Kasus DM tipe 1 mempunyai latar belakang berupa kurangnya insulin secara absolut akibat proses autoimun. Lain halnya dengan DM tipe 2 yang meliputi lebih 90% dari semua populasi diabetes. Pada tipe ini umumnya mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin.

Banyak pasien yang telah terdiagnosis diabetes tidak mengetahui apa yang harus dilakukan agar diabetes ini terkelola dengan baik dan kualitas hidup tetap terjaga. Yang banyak terjadi adalah pasien hanya mengandalkan sepenuhnya pada obat berkhasiat hipoglikemik, tanpa memperhatikan pilar lain yang juga berpengaruh
pada pengelolaan DM. Menurut konsensus PERKENI (Perhimpunan Endokrinologi Indonesia) tahun 2006, penanganan diabetes terdiri dari 4 pilar utama yaitu perencanaan makan, latihan jasmani, obat berkhasiat hipoglikemi, dan penyuluhan/edukasi.

Bagaimana merencanakan makan bagi diabetisi (penderita diabetes mellitus)?
Untuk merencanakan makan pada diabetisi, pasien dapat berkonsultasi gizi dengan ahli gizi yang mereka temui. Ahli Gizi akan memandu pasien mengatur makanan sesuai dengan kebutuhan gizi masing-masing individu. Sebelum merencanakan makan bagi diabetisi, pasien harus mengetahui tujuan dari perencanaan makan pada diabetisi. Tujuan dari perencanaan makan ini adalah mengendalikan atau mengatur kadar gula darah dan lipida darah pada kondisi normal sehingga dapat menghindari atau mengurangi resiko terjadinya komplikasi kronis, mendapatkan dan mempertahankan berat badan normal/ideal, dan mengusahakan status gizi yang baik. Ada 3 prinsip dalam merencanakan makan pada diabetisi yang biasa disebut prinsip tepat 3J yaitu, tepat Jadwal, tepat Jumlah, dan tepat Jenis.

1. Tepat Jadwal
Jadwal makan harus teratur yang terdiri dari 3 kali makanan utama dan 3 kali makanan selingan / cemilan dengan interval/ jarak waktu sekitar 3 jam. Jadwal makan ini
dapat bersifat fleksibel disesuaikan dengan kebiasaan pasien sehari-harinya.

2. Tepat Jumlah
Jumlah makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan energi masing-masing.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan energi adalah :
1) Jenis kelamin
Kebutuhan kalori basal untuk wanita adalah 25 kcal/kg BBI (berat badan ideal) dan untuk pria 30 kcal/kg BBI.
2) Umur
Ada penurunan kebutuhan kalori dari kalori basal sesuai umur,
yaitu umur 40-59 tahun dikurangi 5%, 60-69 tahun dikurangi 10%, dan ≥ 70 tahun dikurangi 20% dari kalori basal.
3) Aktivitas fisik atau pekerjaan
Ada penambahan kebutuhan kalori dari kalori basal sesuai jenis aktivitas, yaitu :
• Keadaan istirahat, ditambah 10%
• Aktivitas ringan seperti pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga, ditambah 20%
• Aktivitas sedang seperti pegawai di industri ringan, mahasiswa, militer yang tidak sedang perang, ditambah 30%
• Aktivitas berat seperti petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit, ditambah 40%
• Sangat berat seperti tukang becak, tukang gali, pandai besi, kebutuhan ditambah 50%
4) Kehamilan/menyusui
• Awal kehamilan ditambah 150 kcal/hari
• Pada trimester II dan III ditambah 350kcal/hari
• Menyusui ditambah 550 kcal/hari
5) Adanya komplikasi yang menyebabkan kenaikan suhu seperti demam memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat celsius.
6) Berat badan
Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambahan sekitar 20-30%. Untuk komposisi zat gizi dibagi menjadi 45-65 % dari karbohidrat, 10-20 % dari protein, dan 20-25% dari lemak.

3. Tepat Jenis
1) Jenis makanan yang dihindari adalah gula murni/sederhana seperti gula pasir (sukrosa), gula merah, gula aren, gula batu. Hindari juga makanan dan minuman yang dibuat dengan gula murni seperti selai, manisan, cake/bolu, wajik, sirup, susu kental manis, minuman mengandung gula. Sebagai pengganti gula murni dapat digunakan gula pengganti yang mengandung aspartam atau sukralose, tetapi penggunaannya tidak berlebihan.
Penggunaan gula murni sedikit dalam bumbu diperbolehkan yaitu tidak boleh lebih dari 5% energi.
2) Jenis makanan yang dibatasi seperti makanan pokok bisa bervariasi seperti nasi (lebih baik nasi beras tumbuk atau nasi beras merah karena kandungan serat tinggi), havermut, jagung rebus, roti gandum/bekatul, kentang, mie. Sumber karbohidrat ini dikonsumsi sesuai kebutuhan.
3) Pilih jenis cemilan atau selingan yang rendah kalori dan tinggi serat seperti cincau, camcau, agar-agar, puding, rumput laut, pisang rebus.
4) Sertakan rebusan sayuran dalam makanan seperti rebusan buncis, pare, labu siam atau sayur bening seperti terong, gambas/ oyong, karena tinggi serat larut airnya.
5) Pilih buah dan sayur yang mengandung air dan banyak serat seperti apel dan pear dengan kulitnya, jeruk dengan ampasnya, belimbing, melon, semangka (bagian putih dekat kulit disertakan, timun dan tomat.
6) Batasi asupan lemak dan kolesterol dengan membiasakan membuang lemak atau gajih pada daging sebelum dimasak. Gunakan minyak goreng dalam jumlah
terbatas dengan cara menghindari kebiasaan menggoreng makanan dengan minyak banyak tetapi biasakan memasak dengan cara menumis, memepes, mengukus,
merebus, dan memanggang. Setelah mengetahui prinsip 3 J tersebut, seorang diabetisi akan mudah menjalani diet DM. Tentu saja diabetisi masih harus rutin kontrol atau konsultasi gizi ulang mengenai diet yang sudah dijalankan. Melalui konsultasi gizi ini pasien dapat menjelaskan apa yang sudah dijalani dalam pengaturan diet ini, masalah apa yang timbul dalam menjalani diet ini, dan keberhasilan setelah menjalankan diet apakah sudah sesuai dengan tujuan dietnya. Ahli gizi akan mengevaluasi dan mendiskusikan kembali dengan pasien langkah atau komitmen selanjutnya agar masalah teratasi dan tujuan diet tercapai. Dengan pengaturan makan yang tepat, diabetisi akan lebih bersahabat dengan diabetesnya.

 

Artikel ini ditulis oleh:

E.Widi Risnawati, SST.
(Ahli Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta)

Info Pelayanan :
Klinik Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating