Gizi Pada Ginjal Kronik dengan Hemodialisis (Cuci Darah)

Penyakit Gagal Ginjal Kronik / Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan suatu keadaan saat ginjal mengalami percepatan kehilangan fungsi ekskresi, hormonal, dan metabolik yang sifatnya tidak bisa dikembalikan. Fungsi ekskesi ginjal adalah melakukan pengeluaran produk akhir metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh, seperti urea. Fungsi endokrin ginjal adalah memproduksi enzim dan hormon, seperti renin untuk pengaturan tekanan darah, eritopoitein untuk sintesis eritrosit, dan mengatur metabolisme kalsium (Ramayulis, 2016). Penurunan fungsi ginjal pada CKD berlangsung perlahan, mulai dari CKD tahap 1 sampai dengan tahap 5.

Menurut Almatsier (2008), pada CKD tahap 5, pasien dianjurkan untuk menerima terapi dialisis. Dialisis dilakukan dimana ginjal tidak mampu lahi mengeluarkan produk-produk sisa metabolisme, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta memproduksi hormon-hormon. Dialisis dilakukan apabila hasil Glomerular Filtration Rate (GFR) < 15ml/menit. Dialisis yang paling banyak dilakukan adalah hemodialisis.

Apa itu Hemodialisis?

Hemodialisa didefiniskan sebagai pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermiabel (dializer) ke dalam dialisat (Nuari dan Dhina, 2017). Pada proses hemodialisis, aliran darah ke ginjal dialihkan melalui membran semipermiabel dari mesin cuci ginjal sehingga produk-produk sisa metabolisme dapat dikeluarkan dari tubuh. Menurut Sitasari, dkk (2017), hemodialisis menggantikan fungsi ekskresi dari ginjal. Fungsi metabolik dan hormonal dapat digantikan dengan terapi farmakologik dan terapi gizi.

Pada saat hemodialisis, terjadi kehilangan darah, vitamin larut air. Kehilangan 4-9 gram asam amino, dan 2-3 gram peptida terbuang setiap satu sesi hemodialisis yaitu sekitar 4-5 jam. Hemodialisis dapat menyebabkan terjadinya suatu peradangan, menyebabkan pemecahan protein tubuh, sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan status gizi.

Pengaturan Makan / Diet pada Pasien Hemodialisis

Pada pasien dengan hemodialisis, diharpakan mengkonsumsi makanan yang cukup energi dan mengkonsumsi makanan tinggi protein untuk menggantikan kehilangan asam amino dan zat gizi lain yang hilang selama proses hemodialisis. Anjuran diet didasarkan pada frekuensi dialisis, sisa fungsi ginjal, dan ukuran tubuh.

Tujuan diet yang diberikan untuk pasien dengan hemodialisis menurut Cornelia (2013), yaitu:

  1. Mengurangi penumpukan sampah uremi
  2. Mengurangi penumpukan cairan dan elektrolit di luar waktu dialisis
  3. Memperbaiki status gizi
  4. Mencegah defisiensi protein, asam amino, dan vitamin

Secara umum, pedoman diet untuk pasien CKD dengan hemodialisis adalah sebagai berikut (Cornelia, 2013):

  1. Energi diberikan cukup yaitu 35 kkal/kg BBI/hari untuk usia < 60 th, dan 30 kkal/kg BBI/hari untuk usia ≥ 60 th.
  2. Protein diberikan tinggi, untuk mengganti protein yang telah hilang selama proses hemodialisis dan mempertahankan keseimbangan nitrogen yaitu sebesar 1,0-1,2 gr/kg BB ideal/ hari. Sebaiknya konsumsi protein terdiri dari 50% protein hewani dan 50% protein nabati.
  3. Lemak diberikan 15 -30% dari kebutuhan energi total. 10% lemak jenuh dan kolestrol < 300 mg.
  4. Karbohidrat cukup, yaitu sebesar 55-75 % dari energi total.
  5. Kalium,pada pasien CKD dengan dialisis berisiko mengalami hiperkalemia (tingginya kadar kalium dalam darah). Kebutuhan kalium yang dianjurkan adalah 2000-3000 mg/hari. Untuk itu diharapkan pasien CKD dengan dialisis menghindari makanan yang mengandung tinggi kalium.
  6. Natrium (garam) diberikan sesuai dengan jumlah urin 24 jam, yaitu 1 gram ditambah penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 gram untuk tiap ½ liter urin.
  7. Kalsium tinggi yaitu, 1000 mg/hari.
  8. Fosfor dibatasi yaitu, < 17 mg/kg BB ideal/hari.
  9. Cairan dibatasi yaitu, sebanyak jumlah urin sehari ditambah ± Kelebihan cairan akan menyebabkan bengkak, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru.

Makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan untuk pasien CKD dengan dialisis:

Makanan yang dianjurkan:

  1. Makanan sumber energi, seperti: nasi, roti, mie, makaroni, spageti, lontong, bihun, madu, permen. Makanan sumber energi berguna menjaga atau memperbaiki status gizi pasien.
  2. Makanan sumber protein, seperti: telur, ayam, daging, ikan, kacang-kacangan termasuk tahu dan tempe dalam jumlah yang terbatas disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan gizi. Pada pasien dengan hemodialisis, protein berfungsi untuk mejaga kekuatan otot dan daya tahan tubuh pasien.

Makanan yang harus diperhatikan:

  1. Makanan Sumber Natrium

Kelebihan konsumsi garam akan meyebbakan pasien mudah merasa haus sehingga banyak minumdan dapat mengakibatkan pembengkakan, sesak nafas, tekanan darah meningkat, dan penyakit jantung.

Bahan makanan tinggi natrium yaitu makanan instan, keju, margarin, dan mentega. Bumbu yang mengandung tinggi natrium juga harus diperhatikan, seperti garam, terasi, kecap, MSG, saos.

  1. Makanan Tinggi Kalium

Asupan kalium dalam jumlah cukup dibutuhkan untuk menjaga agar jantung berdetak dengan kecepatan normal.  Namun apabila konsumsi kalium terlalu berlebihan dapat berbahaya untuk jantung.

  • Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium < 100mg): misoa, beras, roti putih, semangka, manggis, rambutan, blewah, sari apel, keju, es krim, kopi, margarin, jam.
  • Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium 100-200mg) : bihun, beras merah, terigu, makaroni, biskuit, roti bakar, telur ayam, tahu, ketimun, anggur, apel hijau, jambu biji, jeruk, sawo, blimbing, melon, yoghurt.
  • Bahan makanan diperbolehkan maksimal 100gr/hari 9kadar kalium 200-300mg : ubi putih, jagung, beras ketan, ikan, buncis, kol, wortel, tomat, selada, apel merah, alpukat, duku, pepaya , salak, sirsak, klengkeng, madu.
  • Bahan makanan dibatasi maksimal 50gr/hari (kadar kalium 300-400 mg) : kentang, havermout, singkong, ubi kuning, tepung tapioka, kapri, ikan mas, udang, ayam, kembang kol, bit, seledri, nangka, santan.
  • Bahan makanan yang TIDAK dianjurkan (kadar kalium (> 400 mg) : sarden, tongkol, kacang-kacangan kering (kacang hiaju, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah, dll), pisang, durian, bayam, daun pepaya, coklat, teh, kelapa, saos tomat.
  1. Makanan Tinggi Fosfor

Pada pasien dengan hemodialisis biasanya akan mengalami hiperfosfatemia (tingginya kadar fosfor dalam darah), maka dari itu makanan yang mengandung tinggi fosfor sebaiknya dihindari seperti: produk susu, kacang-kacangan, cereal berbahan gandum, dan minuman kemasan.

  1. Makanan Sumber Kalsium

Pada pasien dengan hemodialisis, kebutuhan kalsium yang disarankan harus tinggi karena apabila kalsium dan vit D rendah di dalam darah maka akan dilepas dari tulang yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi susu rendah fosfor setiap hari.

  1. Makanan yang Mengandung Serat

Pasien dengan hemodialisis dianjurkan untuk mengkonsumsi serat dalam jumlah yang cukup agar feses menjadi lembek dan tidak susah buang air besar. Makanan yang dianjurkan yaitu,  sayur, buah, kacang-kacangan, sereal, dan hasil olahannya yang mengandung rendah fosfor.

Bagaimana mengatur cairan bagi pasien hemodialis?

  1. Hindari makan dengan rasa pedas dan asin, batasi penggunaan garam
  2. Makanlah es batu agar dapat memberikan sensasi sejuk di mulut
  3. Menjaga kebersihan gigi dan mulut
  4. Gunakan gelas kecil pada saat minum
  5. Makannlah permen rasa asam untuk merangsang pengeluaran air liur
  6. Cara memasak makanan sebaiknya ditumis, dikukus, dipanggang, dan digoreng
  7. Contoh sayur dan buah yang kandungan airnya dapat diabaikan: kol, brokoli, cherry, blueberry, terong, selada, seledri

Bagaimana cara mengurangi kalium dari bahan makanan?

  1. Mencuci sayuran, buah, dan bahan makanan lain yang telah dikupas dan dipotong-potong
  2. Rendam bahan makanan dalam air hangat yang banyak selama 2 jam. Dengan perbandingan air sekitar 1:10
  3. Setelah 2 jam, kemudian air dibuang dan bahan makanan dicuci dalam air mengalir selama beberapa menit
  4. Setelah itu, bahan makanan, sayur, dan buah siap dimasak. Sebaiknya air yang digunakan untuk memasak 5x lebih banyak dari bahan makanan

DAFTAR PUSTAKA:

Almatsier, Sunita. 2008. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Cornelia, dkk. 2013. Konseling Gizi. Jakarta : Penebar swadaya Grup

www.gizi.depkes.go.id

Kresnawan, dkk. 2017. Diet untuk Pasien Dialisis. Jakarta : Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI)

Nuari, Nian Afrian dan Dhina Widayati. 2017. Gangguan Pada Sistem Perkemihan dan Penatalaksanaan keperawatan. Yogyakarta : Deepublish

Ramayulis, Rita. 20016. DIET Untuk Penyakit Komplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya Grup

Artikel ini ditulis oleh: Yashinta Arum Perwita, S. Gz
Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telp 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Posted in Artikel Kesehatan and tagged .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *