Patuh Minum Obat, Untuk Kualitas Hidup Yang Lebih Baik

Siapa yang ingat kalimat tersebut tertulis di mana? Betul, tertulis pada plastik klip obat sejak tahun dua ribu awal. Lalu mengapa kepatuhan obat bisa meningkatkan kualitas hidup? Bagaimana cara meningkatkan kepatuhan penggunaan obat? Apa sajakah faktor-faktor yang bisa mengurangi kepatuhan penggunaan obat dan bagaimana kita menghindari dan mengatasi faktor-faktor tersebut?

Di dalam memberikan terapi pengobatan, seorang dokter berprinsip Rational Use of Medicine sesuai definisi WHO pada tahun 1985, berupa pengobatan yang rasional, yaitu pasien menerima obat sesuai dengan keadaan klinisnya, dengan dosis yang memenuhi kebutuhan individualnya selama jangka waktu tertentu, serta biaya yang terjangkau bagi pasien dan juga komunitasnya.

Beberapa indikator untuk menilai rasionalitas pengobatan, antara lain: 1) Tepat pasien, 2) Tepat indikasi, 3) Tepat Obat, 4) Tepat dosis, cara pemberian, dan lama penggunaan obat, serta 5) Waspada terhadap efek samping obat. Sebenarnya bahkan bisa dijabarkan lebih banyak lagi misalnya tepat waktu pemberian (pagi, siang, malam atau sebelum, sewaktu, sesudah makan).

Dalam mewujudkan praktek pengobatan yang rasional ini, kepatuhan pasien menjadi bagian yang penting, artinya dengan peresepan yang sudah tepat pasien, tepat indikasi, dan tepat obat pun, apabila pasien tidak menggunakan obat tersebut sebagaimana mestinya, maka keberhasilan terapi akan sulit dicapai.

Bagaimana menilai keberhasilan terapi?

Tergantung pada tujuan terapi yang diberikan, obat bisa memberikan efek mengurangi rasa sakit, mengurangi gejala, menyembuhkan penyakit, mengendalikan penyakit, mencegah penyakit, dan lain sebagainya. Kita bisa menilai keberhasilan terapi apabila tujuannya tercapai, dan keberhasilan ini selain peran dokter, pasienpun memiliki peran yang tidak kalah besarnya dalam menunjang keberhasilan pengobatan.

Dampak Ketidakpatuhan Pasien dalam Proses Terapi

Ketidakpatuhan pasien menjadi permasalahan tidak hanya di negara maju namun juga di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Angka kepatuhan yang rendah terbukti menimbulkan masalah seperti peningkatan angka penyakit kronis beserta komplikasinya, penurunan kualitas hidup pasien, biaya pengobatan yang membengkak dan tidak efisien, bahkan peningkatan angka mortalitas (kematian).

Beberapa hal yang dapat dikategorikan sebagai ketidakpatuhan pasien dalam menggunakan obat antara lain:

  1. Tidak menebus obat yang telah diresepkan oleh dokter
  2. Dosis yang tidak sesuai (under dose ataupun over dose)
  3. Menghentikan pengobatan sebelum waktunya
  4. Mengonsumsi obat pada waktu yang tidak tepat
  5. Mengonsumsi obat yang diresepkan untuk orang lain
  6. Mengonsumsi obat bersamaan dengan makanan, minuman, cairan ataupun obat lain yang berinteraksi
  7. Mengonsumsi obat yang sudah melewati masa kadaluwarsa
  8. Mengonsumsi obat yang sudah rusak
  9. Menyimpan obat-obatan tidak sesuai dengan aturan penyimpanannya
  10. Menggunakan obat yang tidak sesuai dengan cara penggunaannya (misalnya: tablet antibiotik digerus kemudian ditaburkan pada luka)

Berbagai bentuk ketidakpatuhan tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi pasien sendiri, maupun bagi tenaga/sarana kesehatan. Bagi pasien, ketidakpatuhan minum obat dapat berakibat penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh, semakin parah, maupun mengalami efek samping seperti halnya apabila pasien mengonsumsi obat bersamaan dengan makanan atau minuman atau obat lain yang tidak diperbolehkan, dan biaya terapi yang menjadi tidak efisien. Sementara itu, bagi tenaga/sarana kesehatan, ketidakpatuhan pasien bisa saja menghilangkan atau mengurangi kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan karena dianggap kurang tepat dalam memberikan obat sehingga kondisi pasien tidak membaik, padahal sebenarnya hal tersebut terjadi akibat ketidakpatuhan dalam menggunakan obat yang diberikan.

Faktor Penyebab Ketidakpatuhan

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan rendahnya tingkat kepatuhan pasien dalam menggunakan obat, antara lain: faktor penyakit, faktor pasien, faktor tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan serta pemerintah.

Penyakit, terutama penyakit kronis (hipertensi, diabetes mellitus, dsb) harus mengkonsumsi obat dalam jangka panjang atau mungkin seumur hidupnya, sehingga tingkat kepatuhannya lebih rendah dibandingkan penderita penyakit atau gangguan kesehatan akut. Jumlah dan macam obat yang diterima pasien terkait dengan kondisinya juga berpengaruh terhadap kepatuhan, terlebih apabila obat-obat tersebut memiliki jadwal pemakaian yang berbeda-beda ataupun perlu digunakan dengan cara yang rumit (terutama terjadi pada pasien lanjut usia).

Sementara dari sisi pasien, ada cukup banyak faktor yang bisa berpengaruh pada tingkat kepatuhan pasien dalam menggunaan obat, misalnya:

  1. Persepsi pasien terhadap penyakit yang dideritanya
  2. Tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang penyakit dan kesehatan
  3. Kurangnya kepercayaan terhadap efektivitas pengobatan modern
  4. Pengalaman atau ketakutan akan efek samping obat, seperti misalnya pada penggunaan obat-obatan diuretik untuk menurunkan tekanan darah tinggi, pasien merasa terganggu dengan efek samping obat yang menyebabkan pasien sering buang air kecil
  5. Faktor lupa
  6. Kondisi sosial ekonomi pasien sehingga pasien tidak memperoleh obat yang diperlukannya karena harga obat yang tidak terjangkau
  7. Kondisi cacat fisik
  8. Faktor lain seperti takut mengalami ketergantungan pada obat
  9. Kurangnya kesadaran untuk melakukan modifikasi gaya hidup untuk menunjang keberhasilan terapi

Tenaga kesehatan sepeti dokter, bidan, apoteker, perawat, dan ahli gizi, memiliki tanggung jawab untuk membantu pasien agar terapi yang dilakukan berhasil. Faktor yang berasal dari tenaga kesehatan yang dapat mengurangi tingkat kepatuhan pasien antara lain:

  1. Kurangnya komunikasi dua arah yang antara pasien dengan tenaga kesehatan terkait penyakit, obat (mencakup jenis, jumlah, kegunaan, dosis, cara pakai obat), diet dan perubahan gaya hidup yang diperlukan pasien, maupun mengetahui hambatan yang dihadapi pasien dalam menjalankan terapi
  2. Kurangnya kolaborasi interprofesi antara satu tenaga kesehatan dengan tenaga kesehatan yang lain untuk mewujudkan praktek pengobatan yang ideal dan mendukung kesembuhan pasien

Melihat banyaknya faktor yang menjadi penyebab rendahnya kepatuhan pasien dalam menggunakan obat, maka bagaimanakah pendekatan dan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien?

Hal yang dapat diupayakan antara lain:

Pasien

Faktor yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat menerima kondisi klinis tertentu yang mengharuskan pasien menjalani terapi. Dengan demikian pasien termotivasi untuk sembuh dengan cara menggunakan obat-obatan yang diterimanya secara patuh serta melakukan perubahan gaya hidup untuk mendukung kesembuhan. Faktor psikologis lain seperti ketakutan akan peralatan medis atau takut mengalami ketergantungan obat dapat diatasi dengan pemberian informasi yang cukup dan pendampingan dari keluarga dan tenaga kesehatan. Pendamping Minum Obat (PMO) memegang peranan penting bagi peningkatan kepatuhan pasien terutama pasien-pasien lanjut usia dan pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, TBC, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan faktor lupa, yang konon dianggap tidak dapat dimodifikasi? Sebenarnya selain orang-orang terdekat/keluarga diharapkan dapat mendampingi, namun demikian ada beberapa cara yang dapat dilakukan, misalnya:

  1. Menggunakan kotak pengingat minum obat, terutama untuk obat-obatan yang diminum dalam jangka panjang dan kontinu
  2. Memasang jam alarm atau pengingat (reminder) pada telepon genggam
  3. Membuat poster kecil yang diletakkan di tempat yang selalu didatangi pasien setiap hari, contoh: kaca wastafel, di sudut tempat tidur, atau di meja kantor

Faktor biaya terapi yang sering menjadi hambatan bagi pasien yang berasal dari kalangan ekonomi tertentu untuk mendapatkan obat yang dibutuhkan saat ini sudah tersedia solusinya, antara lain dengan adanya program Obat Generik Berlogo (OGB) dari pemerintah, ataupun menggunakan fasilitas BPJS.

Tenaga kesehatan

Untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam minum obat, seluruh tenaga kesehatan harus berkolaborasi sesuai dengan keahlian masing-masing. Praktek kolaborasi ini terbukti dapat meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas kesehatan secara komprehensif, karena pasien mendapatkan pemeriksaan, menerima obat, mendapatkan perawatan dan pendampingan dari tenaga yang kompeten.

Disarikan dari Serial Patient Compliance dan sumber-sumber lain

 

Artikel ini ditulis oleh: Dra. AM. Wara Kusharwanti, M.Si

(Apoteker Farmasi Klinis RS Panti Rapih)

Perlukah Saya di Vaksin Hepatitis?

WHO – World Health Organization atau Organisasi kesehatan dunia, masih menjadikan negara Indonesia sebagai daerah endemisitas hepatitis kategori sedang hingga tinggi.  Hal ini disebabkan karena jumlah pasien penderita hepatitis di Indonesia masih sangat banyak. Berdasarkan Riskesdas – Riset kesehatan dasar Indonesia tahun 2013 ada peningkatan prevalensi hepatitis sebesar 1,2% atau hampir 2 kali dibanding tahun 2007 sebesar 0,6%. Prevalensi semakin meningkat pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Jenis hepatitis yang sering menginfeksi adalah Hepatitis B (21,8%), Hepatitis A (19,35%), Hepatitis C (2,5%) dan Hepatitis lainnya (1,85%).

Vaksinasi atau imunisasi adalah upaya untuk memberikan vaksin (zat atau senyawa yang mengandung bagian atau rekayasa bakteri atau virus penyebab lain yang telah dilemahkan atau dimatikan), sehingga saat di masukkan ke tubuh, vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi agar dapat melawan saat penyakit tersebut masuk ke tubuh kita agar tubuh tidak menjadi sakit.

Vaksin hepatitis untuk dewasa sangat dianjurkan kepada :

  1. Orang yang pasangannya atau keluarga satu rumah menderita Hepatitis
  2. Orang yang akan bepergian di daerah endemis hepatitis
  3. Petugas kesehatan (Medis: dokter, perawat, bidan, laboratorium, kesehatan lingkungan, laundry, dll)  atau publik yang beresiko tinggi terkena paparan cairan penderita
  4. Petugas gizi atau pekerja yang menyiapkan makanan-minuman dari bahan mentah sampai menjadi matang, penyajian dan pembersihan
  5. Orang yang beresiko dengan penyalahgunaan narkoba dan seks bebas, tattoo dll
  6. Orang dengan penyakit menahun yang bersiko terkena komplikasi seperti penyakit ginjal, diabetes, infeksi HIV atau gangguan imunitas
  7. Orang atau siapapun yang ingin terlindung dari hepatitis

Apakah anda termasuk salah satu yang termasuk di kriteria di atas?

Jika anda termasuk, maka persiapkan diri untuk vaksin hepatitis.

Di Indonesia vaksin yang tersedia baru vaksin untuk hepatitis A dan B, belum tersedia vaksin untuk hepatitis C,D dan E. Negara kita sudah mempunyai program nasional vaksinasi dasar untuk hepatitis. (lihat tabel Rekomendasi IDAI 2020 dan PAPDI 2017).

Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI 2020 adalah:

Vaksin Hepatitis B, di berikan 4 x yaitu saat bayi baru lahir, dilanjutkan usia 2, 3 dan 4 bulan dan 1x saat usia 18 tahun.

Vaksin Hepatitis A diberikan 2 x antara umur 12 tahun sampai usia 18 tahun dengan rentang interval 6 bulan – 36 bulan.

Jadwal imunisasi Dewasa  rekomendasi PAPDI 2017 adalah:

Vaksin Hepatitis B 3x , saat pertama kali, 1 bulan dan 6 bulan berikutnya.

Vaksin Hepatitis A 2x  rentang 6 bulan.

 

Saya Mau Vaksin Apa?

Vaksinlah sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan yang ada sekarang, Janganlah di tunda!

Pilihan vaksin ditentukan oleh kebutuhan anda dan keluarga saat itu.

Vaksin hepatitis A, dianjurkan jika anda dalam waktu dekat melakukan perjalanan ke daerah endemis hepatitis. Vaksin Hepatitis A diberikan 2x dengan rentang waktu 6 bulan,

Vaksin hepatitis B, dianjurkan jika anda petugas kesehatan di klinik atau rumah sakit baik dokter, perawat, bidan, penunjang medis, laboratorium, radiologi, farmasi, gizi , medical record atau tenaga kesehatan lainnya seperti petugas kesehatan lingkungan, kendaraan dan keamanan, laundry serta petugas administrasi rumah sakit. Vaksin hepatitis B diberikan 3 x dengan rentang 0 bulan, 1 bulan dan 6 bulan dari saat penyuntikan 1.

Sebaiknya jika anda mempunyai putra-putri yang dilahirkan saat itu atau akan melahirkan di waktu yang dekat, pertimbangkan untuk melakukan vaksinasi dasar hepatitis B.

Saat ini masih belum tersedia vaksin hepatitis C, D dan E.

Pastikan jadwal jangan sampai terlambat atau diluar jadwalnya, agar hasil menjadi maksimal. Dengan vaksin anda terlindungi, keluarga yang anda terkasihi terlindungi, sahabat anda di instansi juga terlindungi akhirnya masyarakat sekitar menjadi lebih aman dan sehat,

RS Panti Rapih melayani vaksinasi Hepatitis di Poliklinik Vaksin Non COVID, setiap hari di jam kerja, di Poliklinik Medical Check Up, Lt 2 Gedung Rawat Jalan Borromeus.

 

Artikel sebelumnya …  Tahukah Anda? Pentingnya vaksin Hepatitis

Dapat dilihat pada tautan berikut ini: https://pantirapih.or.id/rspr/tahukah-anda-pentingnya-vaksin-hepatitis/

Bersambung ke artikel selanjutnya…   3 Cara vaksin Hepatitis yang Aman, Mudah dan Akurat

Medical Check Up merupakan pemeriksaan komprehensif terhadap diri seseorang untuk menentukan status kesehatan dan/atau menemukan penyakit secara dini. Manfaat Medical Check Up itu sendiri untuk mengetahui adanya penyakit secara dini sehingga penyakit tersebut dapat ditanggulangi seawal mungkin.

Segera deteksi kesehatan Anda sekarang juga di Medical Check Up RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh:  dr. Tandean Arif Wibowo, MPH

Dokter Medical Check Up – Home Care Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

🏥 Kunjungi Medical Check Up RS Panti Rapih Yogyakarta
Senin – Sabtu pukul 07.00-14.00. Hari Minggu & Tgl Merah Tutup.
Lantai 2 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-563333 ext 1135

Waspadai dan Cegah Kanker Serviks

Salah satu penyakit yang menjadi perhatian bagi kaum wanita adalah kanker serviks. Di Indonesia, diperkirakan lebih dari satu wanita meninggal dunia karena kanker serviks setiap jamnya. Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel kanker di leher rahim bagian bawah yang menghubungkan ke vagina. Kanker serviks bermula saat sel yang sehat yang berada di mulut rahim mengalami perubahan dan bermutasi menjadi sel-sel abnormal dan selanjutnya menjadi Atumor dan dapat menyebar ke organ atau jaringan lain.

Human Papillomavirus (HPV) merupakan salah satu penyebab utama dari kanker serviks. HPV merupakan virus umum yang bisa ada pada setiap orang dan mudah menular. Umumnya, orang tidak menyadari jika memiliki HPV sebelum terjadi masalah kesehatan serius. HPV juga dapat menyebabkan penyakit lain, salah satunya adalah kutil kelamin baik pada wanita maupun pria.

Masa inkubasi virus ini adalah 10-20 tahun. Pada seseorang dengan daya tahan tubuh rendah, misalnya pada pasien HIV dan tuberkulosis masa inkubasi bisa menjadi lebih singkat. Ada sekitar 130 tipe HPV dan empat diantaranya paling sering menginfeksi manusia, yaitu tipe 6, 11, 16, dan tipe 18. Kanker serviks atau leher rahim, adalah jenis kanker yang disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18. Sekitar 70% atau tujuh dari 10 pria dan wanita terpapar HPV, jadi tanpa disadari HPV ada di sekitar kita semua, pasangan, bahkan keluarga kita.

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan dengan pemberian vaksin HPV dan deteksi dini. Deteksi dini kanker bisa membuat penderitanya berpotensi untuk mendapatkan keberhasilan terapi dan tingkat kesembuhan lebih tinggi serta memiliki usia lebih panjang. Dokter akan menyarankan Deteksi dini pada usia 21 tahun atau sudah pernah berhubungan seksual. Beberapa pemeriksaan yang dianjurkan adalah pap smear, tes IVA dan tes HPV DNA.

Pencegahan kanker serviks juga dapat dilakukan dengan pemberian vaksin HPV. Pemberian vaksin HPV bagi wanita dianjurkan sebanyak dua atau tiga dosis tergantung usia. Vaksin HPV saat ini direkomendasikan diberikan pada anak-anak mulai usia sembilan tahun. Jenis vaksin HPV ada tiga, yang pertama adalah bivalent yang digunakan untuk mencegah kanker serviks dan infeksi HPV-16 juga HPV-18, vaksin ini dikhususkan bagi wanita.

Selanjutnya ada Quadrivalent yang digunakan untuk mencegah kanker dan pra kanker serviks, vulva, vagina, dan anus. Yang terakhir adalah Vaksin HPV yang dapat melindungi dari sembilan strain virus yang memiliki cakupan pencegahan virus HPV lebih luas serta dapat digunakan oleh pria.

Untuk mendeteksi kesehatan Anda atau pasangan Anda sejak dini, dapat melakukan pemeriksaan dan konsultasi di Medical Check Up RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh:  dr. Bambang Triono Cahyadi, Sp.OG, M.Kes

Dokter Spesialis Obgin Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

🏥 Kunjungi Medical Check Up RS Panti Rapih Yogyakarta
Senin – Sabtu pukul 07.00-14.00. Hari Minggu & Tgl Merah Tutup.
Lantai 2 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-563333 ext 1135

Patahkah Tulang Saya?

Kejadian trauma/benturan pada kasus kecelakaan lalu lintas banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di era padatnya lalu lintas, dengan jumlah kendaraan bermotor yang cenderung semakin meningkat yang digunakan masyarakat. Selain itu, bahkan setiap pilihan kegiatan tubuh kita semua memiliki risiko untuk terjadinya trauma dari yang ringan sampai ke yang berat, apalagi jika dilakukan dengan tidak tepat/aman.

Dalam hal ini, banyak sekali asumsi awal dari penderita/korban yang merasakan gejala pertama dari benturan berupa sakit/ nyeri yang timbul pasca sebuah benturan terjadi. Hampir rata-rata cepat untuk berpikir bahwa sudah timbul patah pada tulang di area benturan yang terjadi di tubuhnya, sehingga tidak sedikit pasien atau korban yang cenderung akan “mendesak” dokternya untuk keperluan pemeriksaan pencitraan/ imaging tulang untuk “membuktikan” rasa takut akan patah tulang pada dirinya.

Definisi Patah Tulang / Fraktur

Fraktur/patah tulang sendiri dapat diartikan sebagai proses terhentinya kontinuitas jaringan tulang yang disebabkan oleh proses trauma, meski begitu, tulang juga dapat menjadi lebih rentan patah dari biasanya karena gangguan lain /penyakit lain baik yang berasal dari tulang itu sendiri maupun merupakan kasus penyebaran dari penyakit di lokasi lain.

Mekanisme trauma/ sebuah benturan dapat menimbulkan patahnya sebuah tulang jika mampu melampaui ambang batas flexibilitas sebuah tulang, oleh sebab itu, sangatlah bervariasi terkait varibel usia, jenis tulang, lokasi benturan serta kekuatan mekanisme trauma, di mana semua menjadi faktor utama bagi seorang dokter memperkirakan risiko timbulnya fraktur.

Penyakit lain yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan tulang, misal osteoarthritis, osteoporosis, rheumathoid arthritis, osteomyelitis, sampai dengan penyakit keganasan/ neoplasma/ tumor/ kanker pada tulang tersebut, ataupun merupakan penyebaran/metastase dari keganasan di regio yang lain, juga dapat menjadi faktor pencetus terjadinya sebuah mekanisme patah tulang yang lebih dikaitkan dengan menurunnya flexibilitas tulang serta turunnya komposisi kepadatan/densitas sel tulang.

Tanda Patah Tulang
Paska sebuah benturan/trauma yang berpotensi patah tulang, tanda-tanda yang utama harus diperhatikan meliputi perubahan atau kelainan bentuk/ deformitas di regio yang dicurigai, rasa nyeri, gangguan fungsi/ gerak, bunyi krepitus tulang. Tiga dari empat tanda utama ini pasti dapat ditemukan pada kasus yang dicurigai Fraktur pada tulang.

Tanda-tanda lain, lebih cenderung digunakan oleh pada tenaga kesehatan untuk memprediksi lebih lanjut tingkat beratnya fraktur, ataupun gambaran kondisi jaringan di sekitar lokasi yang dicurigai patah tulang, misalnya, pada kecurigaan patah tulang iga, maka gerakan dinding dada pasien saat bernafas menjadi tanda khas yang harus diperhatikan oleh dokter, contoh lain, tanda terganggunya aliran darah ke tepi-tepi ekstremitas seperti nadi tangan dan nadi di kaki dapat menjadi indikasi beratnya sebuah kecurigaan Fraktur sehingga berpotensi melukai pembuluh darah yang berada di sekitarnya.

Perlu dibedakan antara timbulnya deformitas pada beberapa lokasi yang dapat saja tidak terkait dengan patah tulang misal pada daerah sendi mata kaki yang terkilir/ jatuh pada posisi yang tidak sempurna/baik, maka perlu dilakukan pemeriksaan medis dengan baik meliputi gerak pasif dan aktif sendi, nyeri yang timbul, palpasi
atau perabaan terhadap krepitasi atau nyeri yang timbul pada tulang-tulang yang membentuk sendi tersebut. Deformitas yang terjadi di area-area tersebut dapat saja hanya berupa gangguan jaringan lunak seperti tendo otot, otot ataupun kapsul sendi, serta hanya bekuan darah / hematoma yang muncul akibat pecahnya pembuluh darah dan terakumulasinya darah tersebut di bawah kulit tetapi tidak melibatkan jaringan tulang di regio tersebut.

Pemeriksaan Penunjang Fraktur
Seharusnya dengan sebuah pemeriksaan radiologi sederhana berupa rontgen / X Ray tulang sudah dapat menegakkan diagnosa fraktur, pada kasus khusus yang dicurigai bahwa sumber timbulnya kerapuhan tulang sehingga timbul Fraktur Patologis (Fraktur yang dipengaruhi kondisi sakit yang lain), maka modalitas pemeriksaan radiologi/pencitraan dapat bervariasi dari CT Scan tanpa/dengan kontras, dan MRI, umumnya tahapan pemeriksaan ini juga digunakan sebagai pelacakan terhadap sumber penyakit yang menimbulkan rapuhnya jaringan tulang, atau pelacakan tingkat penyebaran penyakit tersebut.

Penggunaan sinar X pada rontgen polos/ dasar,sebetulnya sudah pada takaran yang aman bagi tubuh manusia, sehingga dalam hal khusus memang dapat saja dilakukan serial pemeriksaan rontgen, misal pada fraktur beberapa ruas tulang iga yang berpotensi juga mengganggu paru-paru, sehingga jika pasien timbul gejala yang lebih lanjut, dokter dapat meminta dilakukan kembali evaluasi rontgen dada, bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam. Hanya saja, dunia kedokteran/medis itu juga menganut prinsip pemeriksaan fisik dasar yang sampai saat ini masih menjadi pemeriksaan utama, dibandingkan pemeriksaan yang sifatnya menunjang (tidak harus selalu dilakukan) seperti halnya pemeriksaan radiologi. Sehingga seorang petugas medis wajib melakukan pemeriksaan fisik dasar di area yang dicurigai potensial patah tulang tersebut dengan baik dan benar serta menyeluruh.

Dalam menentukan sebuah kecurigaan kasus fraktur, sebetulnya tanda-tanda yang dapat diobservasi mayoritas sudah dapat menunjukkan arah diagnosa tersebut, pada tahap ini, sebaiknya mempercayakan pada pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter, dalam hal keragu-raguan atau pembuktian kecurigaan patah tulang yang berdasarkan temuan pemeriksaan fisik seperti di atas, maka foto X-Ray sederhana/polos sudah cukup dalam membantu menegakkan diagnosa Fraktur sebagai pemeriksaan penunjang awal.

 

Artikel terkait: https://pantirapih.or.id/rspr/mri-magnetic-resonance-imaging/

 

Artikel ini ditulis oleh: dr.  John Hartono

Dokter Umum RS Panti Rapih Yogyakarta 

🏥 Kunjungi Klinik Orthopedi & Traumatologi
Berlokasi di lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521409

Cara membuat LUPUS terlihat

Setiap tanggal 10 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia/World Lupus Day. Tahun  2021, mengangkat tema dan pesan Make Lupus Visible” yang berarti “membuat Lupus terlihat”. 

LUPUS, Sistemic Lupus Eritematosus (SLE) adalah suatu penyakit autoimun yang kronis/berlangsung lama, di mana penderita menjadi sakit karena sistem imunitas yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi, kuman atau cedera, namun sistem autoimun tak mampu mengenali antara infeksi atau kuman dengan sel atau jaringan tubuh sendiri sehingga berbalik menyerang tubuhnya sendiri. Beberapa bagian yang dikenai bisa kulit, sendi, ginjal, saluran cerna, syaraf sampai otak. Penyebabnya belum diketahui secara pasti tetapi faktor keturunan di anggap berperan penting di samping, faktor lingkungan dan faktor hormonal. Pencetus timbulnya sakit juga bermacam–macam seperti penyakit infeksi, obat-obat tertentu, paparan sinar matahari berlebih, merokok, bekerja berat/ terlalu capai,  beban pikiran/stress atau penghentian obat Lupus tanpa seijin dokter. Banyak dapatkan pada wanita, usia 15-45 tahun.

Gejala Lupus bisa sangat bervariasi, hilang timbul dan berbeda dari setiap penderita, dikarenakan peradangan yang terjadi bisa terjadi di berbagai bagian tubuh yang dikenai dan mirip gejala dengan penyakit lain karena itu Lupus kadang disebut sebagai “penyakit seribu wajah”. Inilah yang kadang menjadi kesulitan dalam mengenai penyakit Lupus secara dini.

Perlu diingat Lupus bukanlah penyakit menular !

MARI dukung dan sebarkan edukasi dan informasi tentang LUPUS kepada semua masyarakat, agar penyakit LUPUS semakin dikenali dan untuk dapat ditemukan dini dan segera mendapatkan pengobatan sebelum berlarut-larut menjadi kronis.

Konsultasikan dan jika perlu lakukan Medical Check Up awal LUPUS untuk memastikan diagnosa LUPUS:

  • Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
  • Darah Lengkap
  • Urin Lengkap
  • Pemeriksaan Antibody ANA (antinuclear antibody) dan Anti ds-DNA
  • Pemeriksaan Ro thorak/dada

Untuk menurunkan resiko terkena Lupus dan mencegah kekambuhan Lupus menjadi berat (flare) maka perlu menerapkan gaya hidup sehat, dari kebersihan diri dan lingkungan, makan-minum yang sehat dan bergizi, istirahat yang cukup, olahraga rutin dan menghindari kecemasan/stress berlebih.

Kenali dan Hindari Pencetus LUPUS serta Latihlah dan Kuasai Penanganan Gejala Awal yang muncul untuk setiap penderita (odapus), keluarga, relawan dan komunitas serta masyarakat yang peduli Lupus.

 

 

Artikel ini ditulis oleh:  dr. Tandean Arif Wibowo, MPH

Dokter Medical Check Up – Home Care Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

🏥 Kunjungi Medical Check Up RS Panti Rapih Yogyakarta
Senin – Sabtu pukul 07.00-14.00. Hari Minggu & Tgl Merah Tutup.
Lantai 2 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-563333 ext 1135

Tahukah Anda? Pentingnya Vaksin Hepatitis

Hepatitis atau peradangan hati adalah salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyebab yang umum dan paling sering disebabkan oleh virus hepatitis. Selain virus faktor lain yang berpengaruh adalah penggunaan obat atau zat kimia yang sensitif dan berkepanjangan seperti alkohol, obat-obat tertentu, serta aflatoksin pada jamur dan penyakit autoimun. Ada 5 tipe virus hepatitis yaitu tipe A, B, C, D, dan E.

Seorang jika terkena virus hepatitis akan beresiko menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis atau menjadi kanker hati, jika terlambat diketahui atau penanganannya tak maksimal. Selain  fisik yang sakit akan memberi dampak juga pada psikis, sosial dan finansial karena pengobatan yang akut  dan parah atau lama berkepanjangan, bahkan memungkinkan kematian. Tipe B dan C adalah penyebab umum dari sirosis hati dan kanker hati.

Cara penularan hepatitis ke tubuh orang bisa melalui kontak dengan darah  atau cairan tubuh atau kotoran yang terinfeksi di makanan dan minuman yang tak bersih dari sanitasi yang tak baik (fecal oral), pemakaian jarum suntik yang tak steril dan berulang untuk pemberian obat kepada pasien yang berbeda, tindik, tattoo, tranfusi darah serta penularan dari ibu ke janinnya saat kehamilan (parenteral). Penularan virus hepatitis A dan E melalui fecal oral, Hepatitis B, C dan D melalui parenteral.

Hepatitis atau peradangan hati adalah salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyebab yang umum dan paling sering disebabkan oleh virus hepatitis. Selain virus faktor lain yang berpengaruh adalah penggunaan obat atau zat kimia yang sensitive dan berkepanjangan seperti alcohol, obat-obat tertentu, serta aflatoksin pada jamur dan penyakit autoimun. Ada 5 tipe virus hepatitis yaitu tipe A, B, C, D, dan E.

Seorang jika terkena virus hepatitis akan beresiko menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis atau menjadi kanker hati, jika terlambat diketahui atau penanganannya tak maksimal. Selain  fisik yang sakit akan memberi dampak juga pada psikis, sosial dan finansial karena pengobatan yang akut  dan parah atau lama berkepanjangan, bahkan memungkinkan kematian. Tipe B dan C adalah penyebab umum dari sirosis hati dan kanker hati.

Cara penularan hepatitis ke tubuh orang bisa melalui kontak dengan darah  atau cairan tubuh atau kotoran yang terinfeksi di makanan dan minuman yang tak bersih dari sanitasi yang tak baik (fecal oral), pemakaian jarum suntik yang tak steril dan berulang untuk pemberian obat kepada pasien yang berbeda, tindik, tattoo, tranfusi darah serta penularan dari ibu ke janinnya saat kehamilan (parenteral). Penularan virus hepatitis A dan E melalui fecal oral, Hepatitis B, C dan D melalui parenteral.

Gejala

Masa inkubasi adalah masa atau periode di mana paparan virus hepatitis masuk ke dalam tubuh hingga timbul tanda/gejala pertama yang di rasakan. Virus hepatitis A dan E  yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang terinfeksi karena sanitasi yang tak baik mempunyai masa inkubasi antara 2 sampai 6 minggu atau menyebabkan penyakit yang akut, sedangkan hepatitis B dan C yang ditularkan melalui darah akan memiliki masa inkubasi yang lebih panjang, 2 sampai 6 bulan, ini nanti yang akan menyebabkan fibrosis, sirosis, kanker hati, dan gagal hati karena bertahan lama/kronis di tubuh.

Adapun gejala hepatitis yang sering diraskan adalah Flu like syndrome artinya gejala seperti orang Flu saja tetapi berkepanjangan lebih dari 2 minggu, mudah cepat lelah, demam, mual dan muntah, urin akan berwarna gelap seperti air teh dan yang khas timbul warna kuning di conjungtiva mata, mukosa  dan kulit, sehingga dikenal sebagi “sakit Kuning”, jika tak terdeteksi dengan cepat akan bisa menimbulkan kerusakan  dan kegagalan fungsi hati dengan gejala khronis berupa perut membuncit, pembengkakan kaki, pelebaran pembuluh darah pada permukaan kulit.

 

Cara Pencegahan

A. Promosi kesehatan

  • Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang apa itu hepatitis dan mengetahui cara penularannya
  • Menghilangkan stigma/pandangan negative terhadap pasien hepatitis

B. Perlindungan khusus pada petugas, pasien dan keluarga dengan menggunakan alat pelindung diri APD saat bertugas, penggunaan jarum sekali pakai, penggunaan pengaman kondom saat berhubungan, tidak berbagi alat makan atau mandi dengan penderita.

C. Pengendalian Faktor Resiko

  • Tingkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan
  • Meningkatkan stamina tubuh dengan makan minum yang sehat dan higienis, istirahat cukup dan olahraga teratur
  • Screening terhadap darah donor dan organ transplantasi
  • Kebersihan dan sterilisasi terhadap alat-alat kesehatan yang berpotensi menularkan
  • Deteksi dini dan Medical Check Up rutin untuk mengendalikan resiko pencetus

D. Pemberian vaksinasi untuk mencegah virus hepatitis

Untuk saat ini di Indonesia baru tersedia vaksin untuk hepatitis A dan B baik untuk bayi, anak dan dewasa, sementara vaksin untuk tipe  C, D dan E masih dalam proses pengembangan.

Penderita yang terjangkit hepatitis akan mudah menularkan kepada orang-orang di sekitarnya, mulai dari janin sampai lanjut usia, dari suami, istri, anak, cucu, ayah, ibu, saudara-saudara dalam lingkungan keluarga,  sahabat-sahabat dalam satu pekerjaan atau instansi bahkan mungkin masyarakat disekeliling penderita hepatitis. Jadi kenali gejala hepatitis, hindari dan sekiranya memungkinkan, cegahlah dengan melakukan vaksinasi hepatitis.

 

Bersambung ke artikel selanjutnyaPerlukah Saya di Vaksin Hepatitis?

Dapat dilihat pada artikel berikut ini https://pantirapih.or.id/rspr/perlukah-saya-di-vaksin-hepatitis/

Medical Check Up merupakan pemeriksaan komprehensif terhadap diri seseorang untuk menentukan status kesehatan dan/atau menemukan penyakit secara dini. Manfaat Medical Check Up itu sendiri untuk mengetahui adanya penyakit secara dini sehingga penyakit tersebut dapat ditanggulangi seawal mungkin.

Segera deteksi kesehatan Anda sekarang juga di Medical Check Up RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh:  dr. Tandean Arif Wibowo, MPH

Dokter Medical Check Up – Home Care Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

🏥 Kunjungi Medical Check Up RS Panti Rapih Yogyakarta
Senin – Sabtu pukul 07.00-14.00. Hari Minggu & Tgl Merah Tutup.
Lantai 2 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-563333 ext 1135

Ruptur ACL & PCL Lutut

Rupturligamentum regio lutut cukup sering kita dengar, baca, menyaksikan ataupun mungkin pernah mengalami kejadian ini. Kegiatan olahraga yang highimpact sering menjadi penyebab dari kasus cidera daerah lutut ini. Basket, Lari, Sepakbola, Beladiri adalah beberapa contohnya olahraga yang banyak peminatnya, tetapi dengan resiko tinggi kasus rupturligamentum daerah lutut.

 

Anatomi

Seperti kita ketahui, komponen utama sendi lutut manusia terdiri dari:

  • komponen tulang : tulangpatella (tempurung lutut), permukaan distal tulang femur (paha), permukaan proximal dari tulang tibia (tulang kering), permukaan proximal tulang fibula (betis)
  • komponen jaringan penunjang : ligamentum (patellae, cruciatum anterior dan posterior, ligamentumcollateral
    medial dan lateral), bagian meniscus (lateral dan medial), synovialmembrane dan cairan synovial (sendi), komponen musculatum (otot), subcutis (lemak bawah kulit) dan cutis (kulit)

Penyebab
Beberapa kondisi dari aktifitas-aktifitas yang kita sebutkan di atas bersumbangsih dalam menimbulkan suatu kejadian rupturligamentum lutut, seperti : kurangnya pemanasan, gerakan yang salah, jatuh/ mendarat dengan posisi yang tidak sempurna, struktur anatomi penunjang lutut yang tidak diperkuat, gerakan memutar (pivot), melompat, berhenti secara mendadak, gerakan eksplosif lainnya, sampai dengan benturan/ trauma langsung di daerah lutut yang cukup banyak terjadi. Secara spesifik, kita akan menyoroti pada ruptur Anterior Cruciatum Ligamen (ACL) dan Posterior Cruciatum Ligamen (PCL) yang lebih sering kasusnya ditemukan. Ruptur ACL merupakan kasus yang lebih sering dibahas, dikarenakan prevalensinya yang lebih sering ditemukan, sedang ruptur PCL lebh sedikit ditemukan, tetapi keduanya memberikan dampak yang signifikan pada stabilitas lutut, terutama untuk mengembalikan fungsinya untuk gerakan-gerakan kompleks yang banyak dalam olahraga. Struktur PCL yang lebih tebal dari ACL kemungkinan besar bersumbangsih pada lebih sedikitnya kasus robekan pada PCL dibandingkan ACL.

Gejala dan Tanda
Ruptur ACL lebih memberikan gambaran gejala klinis yang nyata dibandingkan PCL, dimana gejala bengkakan sendi dan rasa nyeri lebih mudah ditemukan pada kasus-kasus ruptur ACL. Perbedaan lain yang timbul pada gejala dan tanda ruptur ACL atau PCL adalah sensasi suara “pop” yang biasanya lebih sering ditemukan pada pasien dengan ruptur ACL dibandingkan PCL. Pemeriksaan fisik yang akan dilakukan oleh dokter untuk kasus ruptur ACL dapat meliputi tes Lachman, Anterior Drawer Test dan tes Pivot Shift. Tes Lachman merupakan tes yang dilakukan untuk menilai instabilitas gerak sendi lutut dengan menilai gerakan abnormal ke arah depan dari tibia. Anterior Drawertest merupakan pemeriksaan yang menyerupai Lachmantest dengan perbedaan pada sudut flexi lutut yang berada pada 90°. Tes Pivot Shift lebih sulit dilakukan, dengan memposisikan lutut pada posisi ekstensi, valgus dan rotasi 20-30°, dimana tes ini berusaha membuktikan gerakan abnormal sendi lutut jika dicurigai ruptur ACL. Lelli’s test juga digunakan untuk menilai ACL, dengan memberikan bantalan di bawah betis pasien, lalu memberikan tekanan di bagian depan distal femur, test positif(curiga rupptur ACL) jika ujung kaki ikut bergerak dengan ke atas saat diberikan penekanan tadi. Pada ruptur PCL, tes yang dapat dilakukan adalah tes Posterior Drawer, yang merupakan kontra dari tes Lachman, dimana pemeriksa mengecek instabilitas lutut dengan menekan tibia ke arah posterior untuk menilai fungsi PCL. Tes lain adalah tes Posterior Sag, yaitu mengecek kestabilan lutut dengan membandingkan kedua lutut dari arah samping dengan posisi flexi 90°.

Macam Pemeriksaan Fisik Ruptur ACL dan PCL:

  1. Lachman Test
  2. Anterior Drawer Test
  3. Pivot Test
  4. Posterior Drawer Test
  5. Posterior Sag Test
  6. Lelli’s Test

A. Rontgen
Rontgen/Xray polos pada lutut lebih bermanfaat dalam menilai struktur tulang, sehingga baik untuk menilai adakah fraktur pada tulang, sekaligus dapat digunakan untuk menilai struktur stabilitas anatomi dari tulang-tulang yang membentuk sendi lutut serta menjadi marker untuk prosedur repairrupturligamentum yang akan direncanakan lebih lanjut. Salah satu indikator yang dapat digunakan sebagai petanda adanya ruptur ACL adalah SegondFracture (fraktur avulsi pada bagian aspek plataeu/condyluslateralistibia). Sedang pada ruptur PCL, dapat dicurigai dengan menilai ada tidaknya peningkatan posterior sag dengan posisi stressed knee position xray.

B. MRI
MRI saat ini menjadi modalitas pemeriksaan yang paling valid dalam menilai kondisi jaringan lunak / penunjang di daerah lutut. Kita dapat menilai ligamentum, meniscus serta jaringan kartilago yang ada di area injury dari lutut. Pada kasus injury ACL, dapat digunakan beberapa petanda untuk melihat sebuah kondisi robekan ACL, yaitu, diskontinuitas jaringan ACL, irregularitas sinyal MRI pada ACL, perubahan sudut ACL, penebalan (buckling) PCL, memar pada tulang (lateral femoralcondylus, lateral tibiaplateau). Sedang tanda seperti lesi/edema subchondral dapat menjadi petanda sebuah robekan yang kronik

Tata Laksana
Tatalaksana non operatif umumnya pada ruptur parsial. Lutut yang ligamentumnya terkena pada fase akut,
disarankan untuk dilakukan pembebatan dengan perban elastik, serta menghindari gerakan-gerakan yang dapat
memacu nyeri timbul karena dikhawatirkan dapat memperberat cidera yang ada. Tindakan operatif sering menjadi pilihan dikarenakan memang dapat memberikan hasil keluaran dari fungsi lutut dan ligametum yang kembali baik, terutama pada kasus rupture total ACL ataupun PCL. Proses pergantian ligamentum ACL/PCL diawali dengan mengambil pengganti ligamentum yang putus dari tendon hamstring ataupun tendon pattelar.

 

Artikel terkait: https://pantirapih.or.id/rspr/mri-magnetic-resonance-imaging/

 

Artikel ini ditulis oleh: dr.  John Hartono

Dokter Umum RS Panti Rapih Yogyakarta 

🏥 Kunjungi Klinik Orthopedi & Traumatologi
Berlokasi di lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521409

Minum 8 Gelas Air Perhari di Bulan Puasa

Air putih bukan hanya berfungsi untuk membuat tubuh tetap terhidrasi, tetapi minum air putih yang cukup sangat bermanfaat bagi tubuh.

Apa saja manfaat minum air 8 gelas sehari? Yuk simak manfaatnya:

  • Dapat memelihara fungsi ginjal
  • Menghindari dehidrasi
  • Mengurangi risiko kanker kandung kemih
  • Memperlancar pencernaan
  • Perawatan kulit
  • Mengontrol kalori

Lalu, saat apa saja kita harus minum air putih supaya selama bulan puasa konsumsi air kita dapat terpenuhi?

  • 1 Gelas Setelah Bangun Sahur
  • 1 Gelas Selepas Sahur
  • 1 Gelas Saat Berbuka Puasa
  • 1 Gelas Setelah Sholat Maghrib
  • 1 Gelas Setelah Makan Malam
  • 1 Gelas Setelah Sholat Isya
  • 1 Gelas Setelah Sholat Tarawih
  • 1 Gelas Sebelum Tidur

Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan. Semoga Ibadah Puasa tahun ini membawa berkah bagi kita semua.

 

Artikel ini bersumber dari: Kementrian Kesehatan dan Germas

 

Agar Puasa Tetap Sehat di Saat Pandemi COVID-19

Halo Sahabat Sehat RS Panti Rapih!

Taukah anda menjaga kesehatan tubuh selama Pandemi COVID-19 sangat diperlukan untuk mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh kita lho. Yuk simak tips agar badan tetap sehat dan prima selama Pandemi COVID-19 berikut ini:

  • Waktu Sahur. Perbanyak konsumsi makanan berserat (sayur dan buah) yang kaya vitamin, mineral, serta lauk pauk sumber protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh
  • Pagi, Siang sampai Sore. Batasi aktivitas di luar rumah, bekerja, belajar dan olahraga, beribadah dilakukan di rumah
  • Waktu Berbuka Puasa. Mulai dengan segelas air hangat dan makanan manis alami dan berserat.
    Tidak merokok
  • Puasa Bukan Menambah Porsi Makan. Makan malam sesuai porsi dan bergizi seimbang, batasi makanan manis, asin dan berlemak, istirahat cukup untuk bersiap bangun sahur esok hari
  • Tidur Lebih Cepat. Coba untuk mengatur waktu tidur satu jam lebih awal karena kita akan bangun lebih awal dari biasanya
  • Perhatikan Lingkungan Sekitar. Untuk memastikan kualitas tidur, pastikan kamar dalam kondisi tenang dan minim cahaya. Jika diperlukan gunakan earplug atau masker mata
  • Mencoba Power Nap. Power nap adalah tidur selama 20 menit di sela kegiatan untuk mengembalikan stamina. Sebaiknya tidak lebih dari 20 menit karena tidur berisiko lebih nyenyak
  • Perhatikan Pola Makan. Saat berbuka sebaiknya hindari makanan yang kaya kalori, gula, terlalu pedas, atau digoreng dengan minyak terlalu banyak

Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan. Semoga Ibadah Puasa tahun ini membawa berkah bagi kita semua.

 

Artikel bersumber dari: Kementrian Kesehatan dan Germas

Cegah Diare

Diare adalah penyebab utama kematian pada anak balita secara global yang mencapai sekitar 525.000 anak setiap tahunnya. Di Indonesia diare merupakan penyakit endemis dan juga merupakan penyakit potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sering disertai dengan kematian. Apa yang dapat kita lakukan?

Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare yang tersebar di 11 provinsi, 18 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 1. 213 orang dan kematian 30 orang. KLB diare sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, terlihat bahwa ‘Case Fatality Rate’ (CFR) masih cukup tinggi (>1%), bahkan tahun 2015 CFR diare mencapai 2,47%. Diare dapat berlangsung beberapa hari, dan dapat menyebabkan tubuh anak kehilangan air dan mineral atau garam yang diperlukan untuk bertahan hidup dan disebut dehidrasi. Di masa lalu, dehidrasi berat karena kehilangan cairan tubuh adalah penyebab utama kematian pada diare. Sekarang, penyebab lain seperti infeksi bakteri hebat atau septikemia akan menyebabkan peningkatan proporsi kematian terkait diare.

Diare didefinisikan sebagai buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja cair. Di negara berpenghasilan rendah, anak di bawah tiga tahun mengalami rata-rata tiga episode diare setiap tahunnya. Penyebab diare pada anak yang tersering adalah infeksi oleh bakteri, virus dan parasit, yang sebagian besar disebarkan oleh air yang terkontaminasi tinja. Infeksi lebih sering terjadi, bila sanitasi dan kebersihan lingkungan tidak memadai. Rotavirus dan bakteri Escherichia coli, adalah dua penyebab paling umum diare di negara berpenghasilan rendah. Selain infeksi, malnutrisi juga sering menyebabkan diare. Setiap episode diare berdampak menghilangkan nutrisi yang diperlukan anak untuk pertumbuhan. Akibatnya, diare merupakan penyebab utama malnutrisi, dan anak kurang gizi lebih cenderung jatuh sakit karena diare. Setiap episode diare pada gilirannya membuat malnutrisi mereka semakin parah dan diare adalah penyebab utama malnutrisi pada anak balita. Di Indonesia ditemukan sebanyak 26.518 balita gizi buruk secara nasional pada tahun 2015. Kasus gizi buruk yang dimaksud ditentukan berdasarkan perhitungan berat badan menurut tinggi badan balita Zscore < -3 standardeviasi atau balita sangat kurus. Sedangkan menurut hasil Riskesdas 2013 prevalensi gizi sangat kurus pada balita sebesar 5,3%. Jika diestimasikan terhadap jumlah balita 21.436.940 anak, maka perkiraan jumlah balita gizi buruk, sangat kurus, dan berisiko diare sebanyak sekitar 1,1 juta anak.

Langkah kunci dalam pengelolaan diare adalah lima langkah menuntaskan diare atau Lintas Diare. Pertama adalah rehidrasi dengan larutan gula garam rehidrasi oral atau oralit, berupa campuran air bersih, garam dan gula. Cairan akan diserap di usus halus anak dan segera menggantikan air dan elektrolit yang hilang selama diare. Rehidrasi mungkin diperlukan dengan cairan infus intravena, jika terjadi dehidrasi berat atau syok. Kedua adalah suplemen zinc 10-20 mg selama 10 hari yang akan mengurangi durasi episode diare sebesar 25% dan pengurangan 30% volume tinja. Ketiga adalah makanan kaya gizi, karena lingkaran setan malnutrisi dan diare dapat dipatahkan dengan terus memberi makanan kaya nutrisi, termasuk ASI, selama sebuah episode diare. Keempat adalah menghindari penggunaan antibiotika pada diare, kecuali ada indikasi medis yang kuat. Dan kelima adalah edukasi kepada orangtua anak balita dan rujukan kasus diare kepada dokter, terutama diare persisten, ada darah dalam tinja, atau ada tanda dehidrasi.

Intervensi medis untuk mencegah diare, termasuk penggunaan air minum yang aman, sanitasi yang lebih baik, dan cuci tangan memakai sabun, dapat mengurangi risiko penyakit. Selain itu, perlu penghindaran atas sumber air yang terkontaminasi kotoran manusia, misalnya dari septic tank dan jamban, atau kotoran hewan yang mengandung mikroorganisme penyebabkan diare. Penyebab diare lainnya adalah karena menyebar dari orang ke orang, yang dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Juga menghindari makanan yang merupakan penyebab utama diare, karena disiapkan atau disimpan dalam kondisi tidak higienis. Pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan bayi, berperan penting untuk pencegahan diare. Selain itu, juga pendidikan kesehatan kepada orangtua anak balita tentang bagaimana penyebaran infeksi penyebab diare dan vaksinasi rotavirus. Vaksin rotavirus tetes mulut diindikasikan untuk pencegahan diare yang disebabkan oleh Rotavirus serotipe G1 dan non-G1 (seperti G2, G3, G4, G9).

Pemberian vaksin ini yang bersamaan dengan vaksin polio tetes, tidak mempengaruhi respon imun dari antigen polio, namun menurunkan respon imun vaksin rotavirus. Oleh sebab itu, pemberian kedua jenis vaksin tersebut sebaiknya dalam jarak 2 minggu. Namun demikian, tidak akan terdapat interaksi apapun, jika vaksin rotavirus diberikan bersamaan dengan vaksin monovalen atau vaksin kombinasi lainnya, termasuk vaksin heksavalen (DTPa-HBV-IPV/Hib), vaksin difteri-tetanus-pertusis aselular (DTPa), vaksin Haemophillus influenza tipe b (Hib), vaksin polio yang dilemahkan (IPV), vaksin hepatitis B (HBV), dan vaksin pneumococcal. Dosis pemberian vaksin rotavirus yang hanya diberikan melalui mulut, satu paket terdiri dari dua dosis vaksin. Dosis pertama dapat diberikan sejak bayi berumur 6 minggu, dosis selanjutnya berjarak setidaknya 4 minggu setelah dosis pertama. Sebaiknya dosis vaksin diberikan secara lengkap sebelum bayi berusia 16 minggu, atau paling lama sudah lengkap pada saat bayi berusia 24 minggu. Dengan melakukan berbagai langkah pencegahan diare, diharapkan anak balita akan semakin terlindungi dari malnutrisi dan kematian terkait diare. Pemberian ASI eksklusif dan imunisasi rotavirus, adalah tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan.

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan yang mengindikasikan diare,  segera konsultasi ke dokter spesialis anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Artikel ini ditulis oleh:  dr. Wikan Indrarto, SpA

Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta