Mengenal Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit yang timbul akibat adanya gangguan pada salah satu pusat di otak yang mengatur pergerakan tubuh atau pusat motorik. Pusat motorik tersebut bernama substansia nigra pars compacta dan disertai kekurangan salah satu senyawa kimia yaitu dopamin.

Parkinson lebih sering dialami oleh laki-laki dan berusia lanjut atau di atas 60 tahun. Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam kejadian Parkinson. Penyakit ini mulai banyak dikenal setelah salah satu petinju professional terkenal mengalami penyakit ini, yaitu Muhammad Ali. Faktor risiko utama Muhammad Ali mengalami PP adalah adanya riwayat benturan kepala berulang.

Riwayat paparan terhadap pestisida dan herbisida jangka panjang juga meningkatkan risiko PP. Selain itu, faktor genetik juga memiliki peranan penting dalam kejadian PP khususnya apabila PP muncul pada usia dini. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan PP akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami PP di kemudian hari.

Penyakit parkinson memiliki tanda dan gejala yang khas. Oleh karena bagian otak yang terganggu adalah bagian motorik, maka sebagian besar tanda dan gejala PP melibatkan otot dan tampak pada anggota gerak. Tremor adalah gejala yang paling sering dikeluhkan pertama kali oleh pasien. Tremor tersebut biasa muncul pada satu tangan terlebih dahulu dan tampak jelas saat pasien sedang diam (resting tremor). Tremor juga dapat muncul pada wajah dan tungkai.

Gejala PP yang lain meliputi; kekakuan tubuh, gerakan tubuh semakin melambat dan gangguan keseimbangan tubuh. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan pasien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Cara berjalan pasien akan tampak tidak normal. Saat berjalan, tangan pasien tampak tidak mengayun dengan leluasa, tidak dapat mengangkat kaki tinggi dan langkah kaki menjadi pendek-pendek sehingga menimbulkan kesan berjalan seperti diseret atau seperti robot.

Ekspresi wajah pasien juga menurun atau tidak banyak berekspresi sehingga memberikan kesan seperti wajah topeng. Kondisi ini disebut sebagai hipomimia. Ketika pasien diminta untuk menulis, tulisan pasien menjadi semakin kecil. Hal ini disebut sebagai mikrografia.

Saat berbicara, volume suara pasien semakin lama semakin mengecil yang disebut sebagai hipofonia dan terdengar monoton (nada suara terdengar sama). Pasien juga mudah kehilangan keseimbangan dan mengalami penurunan reflex sehingga mudah terjatuh.

Pada kondisi lain, pasien dengan PP dapat mengalami gangguan mental seperti depresi, demensia, gangguan berkemih seperti retensi urine, gangguan pencernaan seperti konstipasi, gangguan fungsi seksual (disfungsi ereksi), dan gangguan tidur atau insomnia.

Pada kondisi tertentu pasien juga dapat mengalami gangguan pada sistem indera berupa penurunan fungsi penciuman yang disebut sebagai hiposmia, rasa kesemutan dan penurunan fungsi penglihatan.

Gejala dari PP muncul secara perlahan dan semakin lama semakin memberat seiring waktu. Oleh karena itu, pasien biasanya tidak menyadari kapan awal mulanya timbul gejala PP dan datang dalam kondisi yang sudah lanjut. Penegakan diagnosis PP adalah secara klinis, yaitu dengan melakukan pengkajian riwayat penyakit pada pasien dan dengan pemeriksaan fisik.

PP tidak dapat disembuhkan. Tujuan utama dari penanganan PP adalah untuk mengendalikan tanda dan gejala PP agar tidak semakin memberat. Obat yang biasa diberikan pada pasien PP adalah obat yang mengandung levodopa, agonis dopamin,  monoamine oxidase B inhibitor, contohnya selegilin dan rasagilin, serta obat antikolinergik (triheksifenidil).

Penanganan lain yang dapat diberikan kepada pasien PP melalui operasi dengan deep brain stimulation. Penanganan ini diberikan kepada pasien dengan PP yang tidak menunjukkan respons yang baik terhadap obat.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Pelayanan Geriatri RS Panti Rapih

Keberadaan lanjut usia (lansia) memegang peranan penting bagi pembangunan Indonesia. Hal ini mengingat bahwa salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup maka menyebabkan jumlah penduduk lansia semakin besar. Penduduk lansia sebagai modal pemerintah untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta menuntaskan target dan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015. Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia mengemukakan bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah penduduk lansia tahun 2013 sebesar 13,56% dari keseluruhan penduduk (BPS, 2013). Pemerintah mencatat Yogyakarta merupakan kota yang memiliki jumlah penduduk lanjut usia (lansia) tertinggi di Indonesia. Dari total penduduk di kota pelajar tersebut, diperkirakan, lansia mencapai 13,4 persen pada 2015, meningkat 14,7 persen (2020), dan 19,5 persen (2030).Besarnya jumlah penduduk lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta perlu menjadi perhatian tersendiri, mengingat di satu sisi semakin meningkatnya penduduk lansia berarti kualitas hidup semakin baik seiring semakin baiknya akses untuk mendapatkan fasilitas kesehatan sehingga usia harapan hidup meningkat.

Berbagai upaya harus dipersiapkan oleh lansia sendiri maupun keluarganya agar ke depan lansia tetap sehat, aktif, mandiri, dan produktif. Kesiapan lansia untuk tetap peduli pada masa depan dapat dilihat dari 5 (lima) dimensi, yaitu dimensi fisik, psikologis, mental spiritual, sosial kemasyarakatan, dan pengembangan potensi. Keluarga memiliki peranan penting dalam membina kesiapan lansia untuk tetap peduli masa depan, harapannya agar terwujud kualitas keluarga yang sejahtera lahir dan batin. Rumah Sakit Panti Rapih sebagai rumah sakit yang terus berinovasi juga merasa perlu adanya pelayanan kesehatan terpadu yang secara khusus berorientasi kepada pasien-pasien lanjut usia. Menurut survey di RS 7,9% pasien Rumah Sakit Panti Rapih adalah pasien lansia.

Peningkatan populasi lansia ini juga berimbas pada pembentukan kebijakan Permenkes nomor 79 tahun 2014 untuk menyelanggarakan pelayanan geriatri terpadu di Rumah Sakit dengan pendekatan multidisiplin yang bekerja secara interdisiplin yang bertujuan :

  1. Meningkatkan kualitas hidup, kualitas pelayanan dan keselamatan pasien lanjut usia di Rumah Sakit Panti Rapih.
  2. Rumah Sakit memiliki regulasi pelayanan untuk lanjut usia secara terpadu sesuai dengan tingkat pelayanan lanjut usia tingkat sempurna
  3. Rumah Sakit Panti Rapih mampu menyediakan layanan lanjut usia terpadu dengan pendekatan multi disiplin yang bekerja sama secara interdisiplin.
  4. Rumah Sakit Panti Rapih memberikan pelayanan secara bersahabat dengan lanjut usia di rawat jalan, rawat inap dan di masyarakat.
  5. Melaksanakan system monitoring dan evaluasi pelaksanaan pelayanan kepada lanjut usia secara terpadu.

Anggota tim inti dalam pelaksanaannya akan didukung oleh anggota terkait yang terdiri atas ahli berbagai bidang terait seperti Penyakit dalam, neurologi,gigi mulut, THT, kulit, orthopedi, bedah umum, bedah vaskuler, mata, obstetri dan gynekologi, urologi.

Pelayanan rawat jalan mengedepankan layanan one stop service, sehingga pasien usia lanjut akan mendapatkan pelayanan pada satu atap yang nyaman. Pelayanan rawat jalan ini akan ditunjang dengan beberapa pelayanan penunjang seperti radiologi, farmasi, dan laboratorium.

Produk layanan unggulan di RS Panti Rapih adalah Rawat jalan/poliklinik geriatri yang meliputi klinik assesment geriatri, klinik penyakit dalam geriatri, klinik rehabilitasi medik geriatri.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Pelayanan Geriatri Golden Care lantai 1 Gedung Lukas RS Panti Rapih Yogyakarta.

Mempersiapkan Generasi Anak Hebat Indonesia

Pada bulan September 2020 ini, RS Panti Rapih menghadirkan pelayanan terbaru Poliklinik Yacinta. Apa itu Poliklinik Yacinta? Apa bedanya dengan klinik tumbuh kembang dan klinik anak sakit? Poliklinik Yacinta adalah poliklinik yang ditujukan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak dari sejak dalam kandungan sampai dengan anak-anak. Tujuannya untuk menjadikan generasi penurus bangsa yang hebat. Jadi bukan anak sakit saja yang harus ke rumah sakit, tetapi anak yang sehat sangat perlu dipantau pertumbuhan dan perkembangannya agar lebih optimal dan menjadi generasi anak hebat.

Mempersiapkan generasi bangsa anak sehat, dikelola sejak dalam kandungan, dan terus dikawal selama tumbuh kembang anak. Sejak dalam kandungan, pertumbuhan bayi dipantau dengan melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara rutin, sehingga dari sejak dini sudah terdeteksi apabila ada kelainan pada bayi. Pemeriksaan kehamilan juga bertujuan untuk mempersiapkan ibu dalam proses pemberian ASI eksklusif, perawatan bayi, dan pemberian stimulasi pada bayi sejak dini.

Poliklinik Yacinta sudah mempersiapkan 9 dokter spesialis anak, dan sub spesialis anak, serta berkolaborasi dengan tim medis yang lain, serta fasilitas penunjang lain untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila anak ada gangguan dalam perkembangannya, akan dikonsultasikan dengan dokter spesialis yang lain, melalui Poliklinik Anak Hebat. Poliklinik Yacinta menempati Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta, lantai 3 sisi sebelah Timur.

Untuk fasilitas penunjang Poliklinik Yacinta, antara lain:

  1. Klinik Laktasi

Klinik laktasi RS Panti Rapih memiliki konselor ASI terlatih, untuk membantu para ibu untuk memberikan ASI pada bayinya. Ibu boleh berkunjung ke Klinik Laktasi sejak hamil untuk mempersiapkan pemberian ASI eksklusif, dilanjutkan setelah bayi lahir, dan apabila ibu mempunyai keluhan selama proses laktasi.

 

  1. Hypnobirthing

Hypnobrithing adalah layanan untuk ibu hamil untuk mempersiapkan kelahiran buah hati. Tujuannya untuk mempersiapkan mental ibu hamil, memberikan rasa nyaman dan tenang dalam proses persalinannya.

  1. Klinik Anak Sehat

Klinik dokter spesialis anak, khusus untuk memantau bertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila ada gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, dokter spesialis anak akan kolaborasi dengan dokter spesialis lain untuk memberikan treatment pada anak.

  1.  Baby Spa

Baby spa pada bayi dilakukan sejak bayi baru lahir, tujuannya memberikan rangsangan motorik anak. Rangkaian baby spa terdiri dari baby gym, baby swim, dan baby massage. Diberikan oleh tenaga kesehatan terlatih.

  1. Klinik Vaksinasi

Klinik vaksinasi khusus untuk pemberian vaksin pada anak. Saat ini, klinik vaksinasi dilayani setiap hari Senin sampai dengan hari Minggu.

  1. Fisioteraphy

Apabila ada gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, dokter spesialis anak akan bekerjasama dengan fisioteraphis untuk memberikan treatment pada anak yang membutuhkan tindakan fisiotheraphy.

Lalu, bagaimana kalau anak jatuh sakit? Bapak/ibu/saudara jangan khawatir, anak jatuh sakit adalah kondisi yang wajar dalam pertumbuhannya. Untuk anak sakit tetap diarahkan ke poliklinik anak sakit, apabila sudah kembali sehat, maka anak akan diarahkan kembali ke Klinik Anak Hebat. Untuk situasi pandemi saat ini, apabila ada faktor resiko terhadap paparan covid-19, maka akan diarahkan ke klinik gabriel, dan dokter di sana akan berkolaborasi denngan dokter spesialis anak yang berjaga.

Klinik Yacinta menyediakan layanan yang berbeda dengan klinik reguler, pelayanan lebih lengkap,terpadu, dan ada potongan harga untuk tindakan vaksin. Pasien tidak perlu mendaftar, pasien langsung ke customer service, kemudian akan dipandu customer service. Ada paket yang bisa dipilih yaitu paket gold dan platinum. Layanan akan dilakukan seperti pasien VIP. Layanan teradu antara lain: pemeriksaan dokter, pemeriksaan fisik, THT, mata, Psikologi, Ahli Gizi, Klinik Laktasi, Baby Spa, Imunisasi, Cukur, dan Tindik. Ada fasilitas tambahan yaitu, fasilitas makan sesuai paket yang diambil dan makan akan disiapkan di lounge.

Informasi tambahan untuk jadwal Poliklinik Tumbuh Kembang dan layanan yang lain

Klinik Tumbuh Kembang setiap hari Minggu:  Pk 10.00 – pk 11.00 WIB dan pk 16.00-17.00 WIB (jadwal dokter bergantian)

Hypnobrithing, setiap hari Kamis : pk 08.00 pk. 10.00 WIB

Baby Spa, setiap hari Sabtu-Minggu  : pk 08.00 – 12.00 WIB

Klinik Laktasi, setiap hari Senin-Sabtu : pk 07.00- 12.00 WIB

Stroke: Kenali dan Cegah Sejak Dini

Stroke merupakan penyakit dengan gejala gangguan fungsi saraf otak yang disebabkan gangguan pembuluh darah otak. Gejala stroke ini yang berlangsung lebih dari 24 jam dan bukan disebabkan oleh sebab lain seperti tumor otak, infeksi otak atau trauma. Berdasarkan penyebabnya, stroke dibedakan menjadi 2 jenis yaitu stroke penyumbatan dan stroke perdarahan. Delapan puluh persen penderita stroke merupakan stroke penyumbatan, sedangkan stroke perdarahan sebanyak 20%. Selain itu, kita mungkin mengenal istilah TIA (transient iskemic attack) atau stroke mini. Walaupun gejalanya serupa dengan stroke, TIA ini tidak masuk dalam penyakit stroke karena gejalanya bisa pulih kembali dalam waktu 24 jam.

Angka kejadian stroke di Indonesia adalah sekitar 10,9 individu per 1000 individu. Angka kejadian stroke paling tinggi terdapat di provinsi Kalimantan Timur dengan 14,7 per 1000 individu. Di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, prevalensi stroke berdasarkan Riskesdas 2018 ini cukup tinggi yakni 14,6 per 1000 individu. Data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian utama dari seluruh penyebab kematian untuk semua kelompok umur yakni sebesar 21,1%.  Di samping itu, stroke juga menyebabkan kecacatan yang akan menurunkan status kesehatan dan kualitas hidup serta menambah beban biaya kesehatan yang ditanggung oleh keluarga dan negara.

Beberapa penelitian menunjukkan penderita stroke datang pertama kali ke klinik umum atau praktik rawat jalan. Bahkan, ada sebagian penderita yang sampai menunda ke rumah sakit apabila gejalanya tidak berat. Akibatnya, penanganan stroke spesifik pada masa hiperakut menjadi terlambat. Sebagian orang juga belum bisa mengenali gejala stroke sejak dini. Berikut ini adalah tips mudah untuk mengenali gejala dan tanda-tanda stroke yaitu dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yaitu

  • Senyum tidak simetris/moncong ke satu sisi, tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba,
  • Gerak anggota tubuh melemah tiba-tiba
  • BicaRapelo/tiba-tiba tidak dapat bicara/tidak mengerti berkata-kata/bicara tidak nyambung
  • Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuh
  • Rabun pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba,
  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah di rasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit di koordinasi.

Setelah mengenali gejala stroke di atas, apabila kita menjumpai orang yang mengalami gejala di atas secara tiba-tiba maka harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat rumah sakit.

Stroke merupakan kasus emergensi yang memerlukan penanganan segera. Penderita stroke akut harus mendapatkan penanganan secepat mungkin karena ada periode emas penanganan stroke agar penderita dapat tertolong dan risiko kematian atau kecacatan permanen dapat dikurangi. Periode emas ini merupakan waktu yang sangat berharga dalam penanganan stroke, yakni kurang dari 4,5 jam sejak gejala dan tanda stroke pertama kali muncul sampai dilakukan penanganan stroke di rumah sakit. Karena proses pemeriksaan sampai pengobatan membutuhkan waktu maksimal lebih kurang 2,5 jam maka penderita diharapkan sudah harus tiba di rumah sakit dalam waktu kurang dari 2 jam.

Lalu apakah stroke dapat dicegah?

Ya, Sembilan puluh persen stroke yang terkait dengan sepuluh perilaku berisiko yang dapat dicegah. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan stroke:

  • Kontrol tekanan darah
  • Lakukan olahraga ringan minimal selama 30 menit lima kali seminggu
  • Makan makanan yang seimbang dan sehat (kurangi garam, perbanyak buah dan sayuran)
  • Kontrol kadar kolesterol
  • Pertahankan berat badan yang seimbang
  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol
  • Periksa dan obati penyakit jantung
  • Kurangi risiko penyakit diabetes
  • Dapatkan pengetahuan tentang stroke

Bagaimana jika sudah terkena stroke?

Penderita stroke memiliki kemungkinan terkena stroke kedua, ketiga atau kesekian kalinya. Stroke berulang seringkali lebih berat dibandingkan dengan setroke yang terjadi sebelumnya karena kerusakan otak yang semakin banyak. Oleh karena itu, penderita stroke harus tetap berperilaku sehat dengan mengendalikan faktor-faktor risiko, modifikasi gaya hidup sehat, dan melakukan fisioterapi rutin.

Tanggal 29 Oktober 2020 kemarin merupakan hari stroke sedunia. Hari stroke sedunia tahun ini mengusung tema “Join the Movement”. Melalui tema ini, kita diingatkan untuk senantiasa tetap aktif bergerak walaupun dalam masa pandemi ini. Tetap aktif di sini dimaksudkan tidak hanya terkait olahraga saja, namun cukup di rumah saja dengan melakukan peregangan ringan minimal 30 menit sehari. Dengan melakukan hal itu, dapat menurunkan risiko terjadinya stroke pada satu dari empat orang. Untuk mengurangi risiko terkena stroke dianjurkan untuk setiap individu meningkatkan gaya hidup sehat dengan perilaku “CERDIK”, yaitu dengan Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Sudahkah kita melakukannya?

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Baruno Adi Christiantoro, Sp.S (Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Adaptasi Kebiasaan Baru

Sampai saat ini pandemi COVID-19 masih belum ada kepastian kapan akan berakhir. Pemerintah mulai menghimbau masyarakat untuk hidup ‘berdamai’ dengan COVID-19. Harapannya masyarakat tidak hanya dapat tetap produktif tetapi juga tetap aman dari penyakit ini. Dalam rangka mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang dapat “berdamai” dengan COVID-19 itulah mulai digaungkan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Apa itu Adaptasi Kebiasaan Baru?

Masyarakat mungkin sudah sangat familiar jika mendengar istilah ‘New Normal’. Tetapi saat ini, pemerintah Republik Indonesia tidak lagi menggunakan istilah yang sudah sangat sering digunakan selama pandemi COVID-19 tersebut. Istilah ‘New Normal’ sekarang diganti dengan istilah ‘Adaptasi Kebiasaan Baru’ (AKB) agar lebih mudah diinternalisasikan oleh masyarakat.

Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru

Selama pandemi ini masyarakat tentu membutuhkan cara agar dapat tetap beraktivitas dan atau bepergian keluar rumah demi keberlangsungan hidup, tidak mungkin terus hanya tinggal di dalam rumah dengan tipe perekonomian yang mayoritas mengharuskan masyarakat untuk beraktifitas di luar rumah. Dalam masa pandemi ini, masyarakat ini bisa mulai beraktivitas kembali secara produktif dengan menerapkan AKB. Kebiasaan baru ini harus dilakukan secara disiplin dan terus-menerus agar tetap dapat mencegah penularan COVID-19.

AKB ini diterapkan terutama ketika harus bepergian atau beraktivitas ke luar rumah. Masyarakat diharapkan terlebih dahulu memastikan kondisi kesehatannya masing-masing. Jika sedang kurang sehat, sebaiknya jangan bepergian dahulu, karena dengan kondisi kurang sehat, rentan tertular penyakit yang lain termasuk COVID-19. Selain itu, untuk lansia dan balita juga sebisa mungkin menghindari bepergian ke tempat umum karena juga lebih rentan tertular penyakit. Hanya masyarakat dengan kondisi tubuh sehat dan tidak memiliki faktor resiko yang diperbolehkan untuk beraktivitas ke luar rumah dengan tetap menerapkan langkah-langkah pencegahan COVID-19.

Apa Saja Adaptasi Kebiasaan Baru Yang Harus Dilakukan?

  1. Menjaga kebersihan tangan

Menjaga kebersihan tangan dapat dilakukan dengan mencuci tangan setelah menyentuh barang-barang yang penggunaannya secara bersama-sama dengan orang lain. Hindari menyentuh bagian wajah sebelum mencuci tangan. Dapat juga dengan menggunakan handsanitizer jika kesulitan melakukan cuci tangan di area publik..

  1. Menggunakan masker

Masyarakat wajib menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Anda mungkin tidak menyadari jika sedang membawa virus, sehingga penggunaan masker dapat mencegah anda menulari orang lain. Penggunaan masker juga mencegah anda tertular virus dari orang lain. Sehingga dalam keadaan sehat maupun sakit, semua orang wajib menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

  1. Menjaga jarak (physical distancing)

Menurut penelitian yang sudah dilakukan, virus COVID-19 dapat menular dalam bentuk droplet dan mungkin juga dalam bentuk aerosol. Masyarakat dihimbau menjaga jarak satu dengan yang lainnya untuk mencegah terkena cipratan droplet maupun aerosol tersebut. Jarak yang dianjurkan adalah 1-2 meter.

Hindari berada dalam keramaian yang tidak memungkinkan anda untuk menjaga jarak.

Pada sebagian besar area publik juga sudah dinerapkan langkah pencegahan penularan COVID-19 antara lain :

  1. Pengukuran suhu tubuh pada masyarakat yang akan masuk ke area publik
  2. Pembatasan jumlah orang yang masuk ke tempat tertentu
  3. Penerapan physical distancing pada area publik
  4. Pengaturan sirkulasi udara pada ruangan
  5. Melakukan kebersihan area publik dengan prosedur desinfeksi

Selain hal-hal yang sudah disebutkan, masyarakat juga dihimbau untuk melakukan beberapa hal berikut ini :

  1. Menghindari bersentuhan dengan orang lain
  2. Menghindari penggunaan barang secara bergantian dengan orang lain
  3. Segera mandi sesampainya di rumah setelah beraktivitas di luar rumah
  4. Makan makanan bergizi seimbang
  5. Istirahat cukup dan olahraga
  6. Jika memungkinkan, gunakan uang elektronik dalam bertransaksi

Mari kita bersama-sama mulai menerapkan Adaptasi Kebiasaan Baru agar tetap aman dan sehat dalam melakukan aktivitas kita. Semoga pandemi ini segera berlalu.

 

Ditulis oleh: Christina Ika Sindudisastra

 

 

Peranan Gizi Dalam Menangani Pasien Stroke

Stroke adalah kematian jaringan otak yang terjadi ketika pasokan darah ke otak berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemoragik). Tanpa darah, otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel otak akan mati. Kondisi ini menyebabkan bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak yang rusak tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik.

Pada awal terjadinya stroke, umumnya pasien akan mengalami kesulitan menelan (disfagia) dan beberapa faktor lainnya seperti penurunan kesadaran, disabilitas fungsional, depresi, kesulitan berbicara yang menyebabkan menurunnya asupan gizi dan dehidrasi. Kesulitan menelan (disfagia) ditandai pasien tersedak/batuk pada saat menelan air liur/minuman/makanan, yang menandakan masuknya cairan/makanan ke paru-paru, mengakibatkan pasien berisiko terkena infeksi paru. Dengan asupan gizi yang kurang, dehidrasi serta risiko terjadinya infeksi akan memperburuk kondisi pasien stroke.

Ada beberapa jalur/teknik pemberian makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi sehubungan dengan adanya beberapa faktor penyulit pada pasien stroke. Pemberian makanan pada pasien stroke dapat melalui mulut, selang NGT (selang yang dimasukkan melalui lubang hidung sampai ke lambung) dan infus, dengan diutamakan pemberian nutrisi melalui mulut/selang NGT terlebih dahulu sebelum pemberian nutrisi melalui infus. Pasien stroke dengan penurunan kesadaran, kesulitan menelan, atau pasien dgn kondisi malnutrisi sebelumnya, memerlukan selang NGT untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diberikan kurang dari 72 jam sejak pasien mendapat perawatan. Pemberian makanan melalui selang NGT segera setelah pasien stabil memberikan dampak yang positif seperti menjaga mukosa usus tetap baik dan mengurangi angka kejadian infeksi.

Makanan apa saja yang diperlukan pasien stroke? Pasien stroke tetap memerlukan gizi seimbang yang terdiri dari karbohidrat (nasi, kentang, oat, roti), protein (daging ayam, sapi, ikan, telur, tahu, tempe dan kacang-kacangan), lemak/minyak, vitamin dan mineral (sayur dan buah) serta air. Jumlah makanan tersebut pastinya akan berbeda untuk setiap pasien, tergantung dari usia, jenis kelamin, ada tidaknya penyakit penyerta selain stroke (darah tinggi, diabetes) dan fungsi organ (fungsi hati, ginjal, jantung). Jalur pemberian makanan dapat melalui mulut, dengan konsistensi seperti nasi, tim atau bubur, tergantung daya terima pasien. Pemberian makanan melalui NGT dapat berupa makanan rumah yang diblender dan disaring atau dapat berupa makanan cair (susu formula), sedangkan pemberian makanan melaui infus dari makanan yang diproses pabrikan dalam kemasan khusus dan dipastikan steril karena masuk melalui pembuluh darah.

Mengapa diperlukan pemantauan asupan gizi untuk pasien stroke? Dengan diberikannya gizi yang sesuai dengan kebutuhan untuk masing-masing pasien, diharapkan tersedianya bahan baku untuk pemulihan sel, mengurangi kejadian infeksi (dengan meningkatnya sistem imunitas dan mengurangi risiko tersedak), tersedianya energi untuk fisioterapi, meningkatkan kualitas hidup pasien serta memperpendek lama perawatan di rumah sakit.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr Noviani, Sp.GK (Dokter Spesialis Gizi Klinis Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Cara dan Alur Pelayanan Vaksin di RS Panti Rapih

RS Panti Rapih sejak Kamis, 14 Januari sudah menyediakan tempat dan melayani vaksinasi untuk tenaga kesehatan di sekitar Yogyakarta, yang mempercayakan vaksinasinya dilakukan oleh tenaga terlatih di RS Panti Rapih. Area yang disediakan untuk pelayanan vaksinasi ada di Klinik Vaksinasi COVID 19, Lantai 4 sayap timur, Gedung Rawat Jalan Terpadu, Jl Colombo Yogyakarta.

Apa yang harus disiapkan?  Untuk sementara ini, tenaga kesehatan yang sudah terdaftar dan mendapatkan sms tiket. Dimohon untuk membawa kartu pengenal diri, KTP atau sejenisnya dan bukti tiket yang sudah diprint, atau bukti SMS 1199  atau print screen tiket yang berada di dalam perangkat gadget / Hp anda, untuk dilakukan validasi atau pencocokkan  vaksinasi pada tanggal, tempat dan jam yang sudah disepakati.

Silahkan anda masuk ke Gedung Rawat Jalan Terpadu dengan tetap patuh pada protokol kesehatan yaitu selalu Memakai masker di area rumah sakit, Mencuci tangan dengan air sabun atau hand sanitizer di tempat yang sudah ditempatkan, dan Menjaga jarak satu dengan yang lain. Berjalankah dengan lift atau tangga yang sudah disediakan.

Sebelum memulai masuk klinik vaksinasi, ada baiknya anda akan diukur suhu lagi, dan disarankan untuk melakukan cuci tangan dengan handsanitizer yang telah disediakan.

Area 1  – Area Pendaftaran :  Peserta akan diverifikasi antara kartu pengenal diri, e-ticket, kartu vaksinasi dan aplikasi PCare.

Area 2 – area Skrining : Petugas akan melakukan tanya jawab dan pemeriksaan fisik sederhana untuk melihat kondisi kesehatan dan mengidentifikasi kondisi penyerta (komorbid).  Skrining dilakukan dengan menggunakan aplikasi PCare. Sasaran yang ditunda akan dijadwalkan ulang oleh system

Area 3 – Area Vaksinasi : Petugas akan melakukan vaksinasi di lengan atas secara intra muscular. Petugas akan mencatat merk/jenis, no batch vaksin yang diberikan kepada peserta

Area 4 – Area Pencatatan dan observasi : Petugas akan mencatat hasil pelayanan vaksinasi ke dalam aplikasi PCare. Sasaran akan diobservasi selama 30 menit untuk memonitor KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Petugas akan memberikan penyuluhan tentang protocol kesehatan 5M. Setelah 30 menit tidak ada kejadian KIPI, Peserta mendapatkan kartu vaksinasi dan pesan untuk 14 hari kemudian vaksin ulang yang ke 2.

Kemungkinan reaksi yang terjadi paska pemberian imunisasi COVID 19

Reaksi Lokal :

– Nyeri atau bengkak pada tempat suntikan

– Timbul area kemerahan di sekitar tempat suntik

– Abses atau benjolann pada tempat suntikan

– Pembesaran kelenjar getah bening / Limfadenitis

– Reaksi lokal lain yang berat seperti selulitis, peradangan dan kulit merah yang meluas

Reaksi Sistemik :

– Demam

– Nyeri otot seluruh tubuh

– Badan lemah

– Pusing

– Diare

Reaksi lain :

– Reaksi alergi, urtikaria, dermatitis, oedem

– Syok anafilaksis

– Sindrom Syok Toksik

– Atralgia, radang sendi

– Syncope (pingsan)

Jika kejadian ini terjadi  saat di Rumah Sakit, petugas kami, perawat dan dokter akan segera membantu memberi pertolongan untuk meredakan gejala  dan memberi rasa nyaman.  Jika gejala ini terjadi di rumah atau terjadi 28 hari, silahkan melaporkan untuk di catat dan diberikan pengobatannya, bisa di poliklinik atau IGD.

Jangan takut untuk di vaksin, vaksin ini sudah dijamin pemerintah tentang mutu dan  keamanannya. Dengan vaksin kita akan terjaga dari virus COVID, termasuk keluarga dan masyarakat serta ikut ambil bagian dalam mempercepat COVID 19 berakhir.

Materi sejenis ini pernah ditayangkan di Webinar RS Panti Rapih, Hari Rabu, 20 Januari 2021, Sosialisasi Vaksinasi COVID 19, Alur Pemberian Vaksinasi COVID-19, narasumber dr. Levina Prima R., Sp. PD

Untuk materi edukasi vaksin covid19 dapat dibuka di channel youtube RS Panti Rapih, atau pada video berikut.

Link terkait:

https://www.instagram.com/rspantirapihyogyakarta/

https://pantirapih.or.id/rspr/cara-dan-alur-pelayanan-vaksin-di-rs-panti-rapih/

 

Mulai 6 Juni 2021 Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta melayani Vaksin Covid-19 untuk kelompok Pra Lansia, Lansia dan Kelompok Pelayan Publik Kota Yogyakarta. Bagi Sahabat Sehat Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta yang memenuhi ketentuan tersebut dapat melakukan Pendaftaran minimal H-1, dengan menghubungi nomor RS Panti Rapih 0274-514004, 514006 atau datang langsung ke Bagian Pendaftaran Lantai 2 Gedung Rawat Jalan Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-563333 ext 1116 (pada hari kerja)

Bersatu Melawan COVID-19

AKU SUDAH DIVAKSIN, DAN SIAP MELAYANI

Pelaksanaan Covid di negara kita, Indonesia, sudah dimulai Rabu, tanggal  13 Januari 2021. Vaksinasi dikedepankan agar laju kesakitan dan kematian akibat COVID-19 bisa ditekan seminimal mungkin, bisa timbul kekebalan kelompok (herd imunity) untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat,  serta produktivitas perekonomian diharap akan semakin menjadi lebih baik.

Periode awal Januari 2021 ini, prioritas  vaksinasi akan dimulai pada tenaga kesehatan dahulu, secara bertahap akan disuntikkan juga kepada tenaga kerja yang berhubungan dengan masyarakat seperti polisi, TNI, petugas pemerintahan / public, kemudian lansia, masyarakat kelompok rentan, serta akhirnya ke seluruh masyarakat secara luas dan umum.

Vaksin yang disuntikkan pada periode awal ini adalah vaksin yang sudah mendapatkan Persetujuan Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM, di mana dan sudah dipastikan mencakup kriteria aspek keadaruratan, kemanfaatan yang lebih besar dari resiko, khasiat dan mutu serta keamanan dan keselamatan pengguna.

Sebagai informasi, Vaksin awal yang disuntikkan adalah vaksin produksi SINOVAC, vaksin yang berbasis inactivated virus, di mana disuntikkan di otot lengan, dan diulang 14 hari ke depan.

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta mendukung program vaksinasi yang dicanangkan oleh pemerintah dengan mempersiapkan tempat yang aman, akses / alur yang nyaman dan tenaga yang terlatih untuk melakukan vaksinasi. Tenaga kesehatan RS Panti Rapih sudah bersedia divaksin, siap divaksin, dan sudah divaksin secara bertahap.

Dengan di vaksin, kami siap melayani anda lebih optimal, sebab your safety is number one priority, keselamatan anda adalah prioritas pertama kami.

Frozen Shoulder

Apakah itu?

Frozen shoulder disebut juga adhesive capsulitis adalah gangguan berupa rasa nyeri dan kaku di area bahu kadang menjalar sampai ke lengan; lengan sangat berat saat diangkat. Kondisi ini menyebabkan terbatasnya pergerakan bahu hingga terkadang tidak dapat digerakkan sama sekali. Nyeri bisa timbul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas dan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Bahkan hanya untuk menggaruk punggung atau merogoh kantong belakang, menyisir rambut, mengaitkan tali bra, menggosok badan saat mandi penderita akan sangat kesulitan. Pada beberapa orang, gejala akan cenderung memburuk, terutama di malam hari.

Frozen shoulder umumnya muncul dan memburuk secara bertahap, serta dapat berlangsung selama 1-3 tahun. Frozen shoulder juga diketahui merupakan kondisi dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Kondisi ini ditandai dengan proses bertahap terjadinya keterbatasan pergerakan bahu secara aktif maupun pasif. Padahal, disisi lain, tidak ditemukan adanya gangguan pada pemeriksaan radiologi.

Frozen shoulder dapat berkembang ketika kita berhenti menggunakan sendi karena sakit, cedera atau kondisi kesehatan kronis. Setiap masalah bahu dapat menyebabkan frozen shoulder jika tidak melatih lingkup gerak sendi.

Gejala frozen shoulder umumnya berkembang perlahan dalam tiga tahapan, yang setiap tahapannya bisa berlangsung selama beberapa bulan, yaitu

  1. Tahap pertama atau freezing stage yaitu bahu mulai terasa nyeri tiap digerakkan dan pergerakan bahu mulai terbatas. Periode ini bisa berlangsung 2-9 bulan.
  2. Tahap kedua atau frozen stage yaitu nyeri mulai berkurang, namun bahu menjadi semakin kaku atau tegang sehingga sulit digerakkan. Periode ini bisa berlangsung selama 4 bulan hingga 1 tahun.
  3. Tahap ketiga atau stawing stage yaitu gerakan bahu mulai membaik. Tahap ini umumnya terjadi dalam 1 hingga 3 tahun.

 

Apa penyebab frozen shoulder?

Bahu memiliki kapsul pelindung berupa jaringan yang saling berhubungan. Kapsul ini melindungi tulang, ligamen dan tendon pada bahu. Frozen shoulder terjadi karena jaringan parut membuat kapsul pelindung menebal dan menempel di sekitar sendi bahu, sehingga membatasi pergerakan bahu. Namun demikian, belum diketahui apa yang menyebabkan jaringan parut tersebut terbentuk. Penyebabnya kemungkinan karena tidak bergerak untuk waktu yang lama, seperti cedera, setelah operasi, atau patah lengan. Frozen shoulder juga lebih mungkin terjadi pada orang yang mengidap diabetes.

Beberapa kondisi yang bisa meningkatkan faktor resiko frozen shoulder:

  1. Usia: orang berusia 40 th atau lebih tua, terutama wanita lebih rentan terhadap frozen shoulder.
  2. Bahu tidak digerakkan/immobilisasi: terlalu lama istirahat di tempat tidur karena cedera bahu, berkurangnya mobilitas sendi bahu karena cedera, patah lengan, stroke, pasca operasi.
  3. Punya penyakit lain seperti diabetes, masalah kelenjar thyroid, TBC, parkinson atau stroke
  4. Trauma, misalnya karena pembedahan pada bahu, robekan tendon atau patah tulang lengan atas.

Bagaimana pengobatan frozen shoulder?

Penderita frozen shoulder umumnya diobati dengan fisioterapi, yang bertujuan untuk meregangkan otot bahu dan mengembalikan jangkauan gerakan lengan. Selama sesi fisioterapi dapat dilakukan TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation).  Apa itu TENS? TENS adalah terapi yang dilakukan dengan mengantarkan arus listrik kecil melalui elektroda yang ditempelkan pada kulit. Arus listrik tersebut akan merangsang pelepasan molekul penghambat nyeri (endorfin) sehingga menghalangi timbulnya nyeri. Fisioterapis biasanya juga akan memberikan latihan-latihan yang akan membantu untuk mengurangi nyeri dan menambah luas jangkauan gerak sendi bahu. Prinsip latihan untuk nyeri bahu adalah dengan selalu berusaha menggerakkan lengan meski sedang dalam proses pemulihan. Selalu gerakkan lengan meskipun gerakan terbatas tetapi jangan dengan beban. Hindari cedera dan menghindari aktifitas yang membebani sendi bahu secara berlebihan agar tidak memperberat keluhan. Latihan mandiri juga dapat dilakukan di rumah. Untuk meredakan nyeri bisa juga dilakukan kompres dingin saat di rumah. Pasien dapat meletakkan kompres dingin pada bahu selama 10 menit, beberapa kali dalam sehari. Selain fisioterapi, dokter biasanya akan memberikan obat pereda nyeri yang berguna untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Bila diperlukan, dokter akan memberi suntikan kortikosteroid langsung pada bahu.

Kunci untuk pemulihan frozen shoulder adalah mempertahankan gerakan bahu. Fisioterapi dan latihan di rumah dapat membantu mengurangi rasa sakit dan mempertahankan gerakan lengan.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: Arie Widuri, AMF  (Fisioterapis  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk!

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD (Dokter  Bedah Konsultan Bedah Digestif  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)