Mewujudkan Kesejahteraan Bayi Melalui ASI Eksklusif 5/5 (8)

Air Susu Ibu (ASI) telah dikenal sebagai makanan terbaik bagi bayi baru lahir, menjadi sumber energi dan zat gizi penting. Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh pemberian ASI. ASI eksklusif dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayi hingga usia sekitar enam bulan. Untuk mencapai keberhasilan dalam menyusui, dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan.

Mengacu pada Standar Emas Makanan Bayi (WHA no 55.25 tahun 2002), proses menyusui sebaiknya dimulai sesegera mungkin (IMD). Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi diikuti dengan pemberian makanan pendamping ASI setelah usia enam bulan. ASI dianjurkan untuk diteruskan hingga bayi mencapai usia dua tahun.

Berikut merupakan bebepara point penting dalam teknik sukses menyusui:

Posisi Menyusui :

  1. Posisi Badan Ibu
  2. Posisi Badan Ibu dan Bayi
  3. Posisi Mulut Bayi dan Payudara Ibu (pelekatan)

Posisi Benar :

  1. Perut dan dada bayi menempel pada perut dan dada ibu
  2. Seluruh badan bayi menghadap ke badan ibu, puting berhadapan dengan hidung bayi
  3. Telinga bayi pada garis lurus dengan lengan bayi, dan leher bayi lurus
  4. Pegang atau topang belakang bahu bayi bukan kepala bayi

Posisi Kurang Tepat :

  1. Kepala bayi terletak di siku, hingga bayi menundu
  2. Badan bayi tidak menghadap badan ibu
  3. Hanya bahu yang ditopang oleh tangan ibu
  4. Leher bayi terputar
  5. Badan ibu condong ke depan

Tanda-tanda Pelekatan Benar :

  1. Aerola bagian atas terlihat lebih banyak dari bagian bawah.
  2. Mulut terbuka lebar.
  3. Bibir atas terputar keluar arah atas dan bibir bawah terputar keluar ke arah bawah.
  4. Dagu bayi melekat pada payudara ibu.

 

Pelekatan “Kunci Keberhasilan Menyusui”

  1. Bayi datang dari arah bawah.
  2. Hidung bayi berhadapan dengan puting.
  3. Dagu bayi merupakan bagian terdepan yang melekat pada payudara (contact point).
  4. Puting diarahkan ke atas ke arah langit-langit bayi.
  5. Telusuri langit-langit bayi dengan puting sampai berada di antara uvula dan pangkal lidah.
  6. Puting susu hanya 1/3 atau 1/4 dari bagian “dot” jaringan payudara yang terbentuk.

Mengisap :

  1. Refleks mengisap: Bayi akan mengisap jika ada sesuatu yang menyentuh langit-langit bayi.
  2. Dengan menggunakan tekanan negatif menyedot payudara, akan terbentuk “dot” dari payudara.

Kunci keberhasilan menyusui adalah pelekatan yang benar. Posisi yang benar menjadi kunci utama dalam mencapai pelekatan yang optimal. Dengan menerapkan teknik-teknik ini, ibu dapat memberikan ASI eksklusif dengan nyaman dan mendukung pertumbuhan optimal bayi. Dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjamin keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

 

Artikel ditulis oleh :

Bidan Y. Tri Murtini, A.Md.Keb

(Konselor Laktasi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Lokasi Pelayanan :
Klinik Laktasi
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Informasi & Pendaftaran :
Telepon : 0274 – 514014, 514845, 563333 ext 1204
Whatsapp Klinik Anak Terpadu Yacinta: 0811-2848-446

Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Sehat Bugar Pasca Melahirkan: Masa Nifas dan Tindakan Perawatan yang Tepat 5/5 (20)

Masa nifas adalah periode setelah persalinan hingga 6 minggu berikutnya, yang menjadi kunci bagi ibu untuk pulih dan kembali ke kondisi sehat. Namun, selama masa ini, ibu nifas perlu memahami tanda-tanda bahaya yang dapat mengancam kesehatannya. Gejala seperti pendarahan berlebihan, demam, atau nyeri yang hebat perlu mendapat perhatian medis segera.

Beberapa praktik tradisional mungkin harus dihindari oleh ibu nifas, termasuk di antaranya:

  1. Membebat perut terlalu kencang.
  2. Menempelkan daun-daunan pada alat kemaluan.
  3. Duduk di atas bara api.
  4. Membuang ASI pertama kali keluar.
  5. Membersihkan payudara dengan alkohol/obat merah/betadine.
  6. Minum jamu bersalin yang tidak direkomendasikan.

Beberapa mitos seputar ibu nifas perlu diperjelas:

  1. Tidak benar bahwa ibu nifas tidak boleh makan makanan yang berkuah.
  2. Makan ikan tetap diperbolehkan, asalkan ikan yang dikonsumsi aman dan higienis.
  3. Meskipun istirahat adalah penting, mitos bahwa ibu nifas tidak boleh keluar rumah selama 40 hari perlu dicermati, sejauh itu tidak mengganggu pemulihan.

Depresi Pasca Melahirkan: Jenis dan Gejalanya

Depresi pasca melahirkan adalah masalah serius yang dapat mempengaruhi kesehatan mental ibu. Jenis depresi pasca melahirkan meliputi:

  1. Baby Blues:
    Gejala meliputi suasana perasaan tidak stabil, mudah menangis, sulit tidur, mudah cemas, dan mudah tersinggung.
  2. Depresi Pasca Melahirkan:
    Gejala termasuk perasaan sangat sedih, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, dan pikiran merugikan terhadap diri sendiri atau bayi.
  3. Depresi Terjadi Cepat:
    Gejala mencakup mudah tersinggung, perubahan perasaan, perilaku yang tidak sesuai, dan mungkin mengalami halusinasi atau delusi.

Penanganan Depresi pada Ibu Nifas
Untuk mengatasi depresi pasca melahirkan, beberapa tindakan dapat diambil, termasuk:

  1. Dukungan Keluarga
    Pentingnya dukungan keluarga dan suami dalam mengatasi perubahan suasana hati.
  2. Bantuan Perawatan Bayi
    Membantu dalam mengasuh bayi untuk mengurangi beban ibu.
  3. Konseling oleh Tenaga Kesehatan
    Melakukan konseling oleh tenaga kesehatan untuk membahas perasaan dan emosi secara terstruktur.

Ibu Pasca Melahirkan Sehat dan Bugar: Tindakan Pencegahan dan Perawatan
Beberapa langkah untuk memastikan ibu tetap sehat setelah melahirkan meliputi:

  1. Makanan Tambahan untuk Ibu Menyusui
    Nutrisi yang cukup untuk mendukung produksi ASI.
  2. Istirahat yang Cukup
    Pentingnya istirahat yang memadai untuk pemulihan.
  3. Komunikasi dengan Bayi
    Membangun ikatan emosional melalui komunikasi yang baik.
  4. Kebersihan Diri dan Lingkungan
    Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.
  5. Aktivitas Fisik
    Melakukan aktivitas fisik ringan seperti senam nifas, kegel, dan latihan ringan.
  6. Konsultasi Rutin dengan Dokter atau Bidan
    Memastikan kunjungan rutin untuk konsultasi kesehatan dan keluarga berencana.
  7. Tanggapan Cepat terhadap Keluhan
    Secepatnya menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika ada keluhan atau gejala yang mencemaskan.

Dengan memahami dan menerapkan tindakan perawatan yang tepat, ibu pasca melahirkan dapat memastikan kesehatan dan kesejahteraan mereka selama masa nifas dan seterusnya.

Artikel ditulis oleh :

Bidan Respati Dwiwidyaningtyas S, S.Tr.Keb

(Konselor Laktasi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Lokasi Pelayanan :
Klinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Menggali Lebih Dalam tentang Leukimia pada Anak-Anak 5/5 (1)

Pada Tanggal 15 Februari, diberikan sebagai hari Kanker Anak Sedunia. Kanker merupakan suatu penyakit tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan di dunia. Diperkirakan, setiap tahunnya 400.000 anak dan remaja berusia 0-19 tahun menderita kanker. Data dari Global Cancer Statistic (GLOBOCAN) pada tahun 2020, diestimasikan terdapat 11.156 kasus baru kanker anak pada usia 0-19 tahun di Indonesia. Leukemia merupakan keganasan terbanyak pada anak, yakni sekitar 30% sampai dengan 40 % dari seluruh pasien kanker anak, dimana kanker ini memiliki puncak kejadian pada anak dengan usia 2- 5 tahun.

Leukemia sendiri merupakan kanker darah yang berasal dari sumsum tulang belakang, yang ditandai dengan proliferasi (proses pembentukan sel yang disebabkan oleh pembelahan sel) secara berlebihan dari sel darah yang abnormal, sehingga terjadi gangguan produksi sel darah normal. Pendeteksian dini pada kasus kanker anak serta menghindari keterlambatan dalam perawatan menjadi salah satu kunci penting dalam penanggulangan kanker pada anak .

Leukemia sendiri dibagi menjadi dua yaitu Leukemia akut ( AML dan ALL) dan leukemia kronis (CML). Gejala dan tanda awal yang dapat dikenali oleh orang tua adalah sebagai berikut : anak pucat, lemah, rewel, terjadi penurunan nafsu makan, demam berulang atau demam lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas, adanya perdarahan, nyeri tulang, pembesaran kelenjar getah bening dan bagian perut, serta nyeri tulang. Apabila orang tua menemukan tanda-tanda tersebut, makan anak dianjurkan untuk dibawa ke dokter spesialis anak, untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pada pemeriksaan fisik pasien anak dapat ditemukan tanda-tanda seperti anemia, pembengkakan kelenjar getah bening, tanda perdarahan (seperti bintik-bintik perdarahan pada kulit, perdarahan gusi, mimisan, bab berdarah, maupun bak berdarah), pembesaran organ hati dan limpa, serta pembesaran testis. Setelah itu, akan dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium darah, pencitraan, dan pemeriksaan sumsum tulang guna menegakkan diagnosis. Setelah terdiagnosis, makan pasien akan diberikan tatalaksana berupa kemoterapi dan penanganan suportif yang berupa pemberian transfusi komponen darah yang diperlukan, pemberian nutrisi yang baik dan memadai, pemberian antibiotik, anti jamur, dan anti virus bila diperlukan, serta pendekatan psikososial serta dukungan keluarga.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Natasha

(Dokter Umum RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Mohon dapat memberikan rating

Menjaga Masa Depan yang Lebih Baik : Mengenal dan Mengatasi Polio 5/5 (1)

Poliomyelitis, atau yang lebih dikenal dengan sebutan polio, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio. Penyakit ini dapat menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal dalam waktu singkat. Meskipun kasus polio telah berhasil ditekan sejak ditemukannya vaksin, namun masih ada beberapa wilayah yang rentan terhadap wabah penyakit ini.

Poliomyelitis terutama mengincar anak-anak di bawah usia lima tahun yang belum mendapatkan imunisasi polio secara lengkap. Pada awal abad ke-20, polio merupakan salah satu penyakit paling ditakuti yang melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahunnya. Oleh karena itu, imunisasi polio menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan anak-anak dan mencegah penyebaran penyakit ini.

Gejala Polio :

  • Gejala awal polio meliputi demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher, dan nyeri di tungkai.
  • Munculnya gejala biasanya terjadi 7-10 hari setelah terinfeksi virus, namun bisa juga dalam rentang waktu 4-35 hari.
  • Selanjutnya jika gejala memberat dapat terjadi kelumpuhan yang bersifat lemas (bukan kaku) pada anggota gerak. Karena itu, jika ada anak usia di bawah 15 tahun yang mengalami lumpuh layuh mendadak, segera bawa anak tersebut ke puskesmas atau RS terdekat.

 

 

Penularan Polio :

Polio dapat menyebar melalui kontak langsung dengan feses orang yang terinfeksi atau melalui percikan dahak dan lendir. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan merupakan langkah penting untuk mencegah penularan polio.

 

Cara Pencegahan Melalui Imunisasi :

  • Pencegahan polio hanya dapat dilakukan melalui imunisasi
  • Vaksin aman dan efektif
  • Vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio yang tidak aktif (IPV)

Kementerian Kesehatan menyediakan imunisasi polio secara gratis di seluruh fasilitas kesehatan pemerintah. Terdapat dua jenis vaksin polio yang digunakan, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio yang tidak aktif (IPV). Anak-anak diimbau untuk menerima vaksin polio tetes (OPV) sebanyak 4 kali, pertama kali pada usia 0-1 bulan, dan 3 kali di usia 2 sampai 4 bulan. Vaksin polio suntik (IPV) diberikan satu kali pada usia 4 bulan. Penting bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi polio atau terlambat mendapatkannya untuk segera melengkapi status imunisasi hingga usia 5 tahun.

Outbreak Response Immunization (ORI)

Outbreak Response Immunization (ORI) merupakan strategi pemberian imunisasi dalam menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit, termasuk polio. Tujuan dari ORI adalah mencapai kekebalan individu dan komunitas sebesar 90-95%, membantu menghentikan penyebaran virus, dan melindungi yang rentan terhadap penyakit.

Dalam memerangi polio, kunci utamanya adalah kesadaran akan pentingnya imunisasi dan kebersihan lingkungan. “Mari Kita Berantas Polio Demi Masa Depan yang Lebih Baik”. Pemberantasan polio adalah tanggung jawab bersama dengan imunisasi polio sesuai jadwal serta menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan masa depan yang lebih baik. Mari bersama-sama mendukung program imunisasi pemerintah dan berperan aktif dalam upaya pemberantasan polio.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Anastasia Ratnaningsih, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Keterlambatan Bicara (Speech Delayed) pada Anak No ratings yet.

Bicara dapat di artikan sebagai suatu bentuk komunikasi dengan artikulasi verbal dalam menyampaikan maksud. Oleh sebab itu, diperlukan segenap komponen organ anak yang berperan dalam membentuk suara, lewat komponen respirasi, fonasi dan artikulasi. Kejadian kasus keterlambatan bicara anak di Indonesia tercatat 5-8% pada rentang usia 2-4,5 tahun (2006).  Keterlambatan berbicara dalam fase perkembangan anak akan berdampak pada pola komunikasi anak.

Keterlambatan bicara sendiri juga erat kaitannya dengan bahasa, dimana perkembangannya sangat tergantung dengan faktor perkembangan fungsi anatomis fisiologis sistem saraf, organ audio visual, kemampuan atensi anak serta stimulus dari lingkungan anak (orangtua / caregiver). Pemantauan tumbuh kembang anak, deteksi dini faktor resiko terkait fungsi bicara ini akan menjadi pintu awal yang penting dalam mencegah ataupun meminimalisir dan mengkoreksi gangguan bicara pada anak-anak.

 

Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara Anak sesuai Usia

0-2 bulan

bayi merespon dengan menangis

2-3 bulan

bayi mulai membuat suara seperti aaah, uuu , eee, ooo (cooing)

3-6 bulan

bayi mulai babbling, dimanan mulai menggunakan suku kata tunggal yang diulang, misal papapapapap, dadadadadada, mamamamamama

6-9 bulan

mulai muncul mama, papa, meski kadang tanpa arti, mulai memahami konsep sederhana seperti ya/tidak, habis

9-12 bulan

panggilan lebih spesifik untuk orangtua atau yang caregiver utamanya,merespon panggilan namanya, serta mulai memahami perintah sederhana, serta mulai menggunakan isyarat (gerakan tangan) untuk meminta sesuatu. Bayi mulai membeo, menirukan kata-kata yang familiar

12-18 bulan

mulai membentuk kalimat 2 kata, memahami anggota tubuhnya, dapat menggeleng atau menganggukan kepala, melambaikan tangan, suara yang ditirukan menjadi lebih akurat, serta semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata.

18-24 bulan

dalam usia emas pertumbuhan ini, penambahan kosakata sangat pesat , berbicara dengan kalimat 2 kata dengan jelas, 50% bicaranya dapat dipahami,  dan dapat mengikuti perintah 2 langkah, serta anak senang mendengarkan cerita

2-3 tahun

semua kata-kata anak jelas dan dimengerti, serta mulai membuat kalimat tanya, mengenali benda-benda dan fungsinya, mengenal warna dan senang dengan nyanyian

3-4 tahun

mulai bercerita, bernyanyi, mulai membentuk kalimat 3-5 kata

4-5 tahun

memahami konsep arah (atas, belakang, kanan, kiri), memahami konsep lawan kata, mampu diarahkan untuk tugas terstruktur setidaknya 30 menit

 

Tanda-Tanda Deteksi Awal Adanya Gangguan Keterlambatan Bicara pada Anak bagi Orang Tua

Usia 0-6 bulan

  • Respon terhadap stimulus suara yang kurang (pertimbangkan gangguan pendengaran pada anak)
  • Tidak munculnya cooing, babbling serta terbatasnya suara konsonan anak
  • Anak kurang mampu menirukan bunyi atau suara dan selalu bergantung dengan perintah

Usia 6-12 bulan

  • Kurangnya gestur interaksi
  • Kurangnya atensi anak
  • Tidak merespon panggilan nama
  • Tidak memahami perintah sederhana

Usia 1-2 tahun

  • Perkembangan kosakata yang minim
  • Tidak terbentuk kalimat 2 kata
  • Tidak mampu menunjuk atau menyebutkan anggota tubuhnya

 

Peran Rehabilitasi Medik pada Gangguan Keterlambatan Bicara Anak

Deteksi dini menjadi penting agar dapat mengenali penyebab utama timbulnya keterlambatan bicara anak. Skrining tumbuh kembang anak yang akurat akan mendeteksi tanda-tanda keterlambatan, selain itu pemeriksaan medis mampu mendeteksi kelainan anatomis ataupun fungsi organ yang berdampak pada kemampuan bicara anak. Program Terapi Rehabilitasi Medik akan disesuaikan dengan faktor penyebab keterlambatan bicara yang ditemukan.

Beberapa kondisi medis yang erat kaitannya dengan keterlambatan bicara pada anak adalah Autisme, Gangguan pendengaran (otitis), Gangguan kognisi anak. Selain itu, faktor lingkungan juga perlu dideteksi sebagai penyebab, seperti pola asuh orang tua dengan bilingual (monolingual, keterikatan dengan gadget/ screen time anak (tidak boleh pada usia < 2 tahun).

Pada gangguan kondisi fungsi anatomis, tatalaksana dengan terapi Fisik oleh Fisioterapis dapat diprogramkan, seperti memperbaiki postur atau memperbaiki kemampuan respirasi anak akan membantu dalam memproduksi suara anak.

Faktor gangguan atensi, atau gangguan sensorik pada anak seperti halnya pada kasus Autisme anak, program rehabilitasi medik melibatkan terapi okupasi dalam memberikan koreksi dan stimulus sensorik. Dengan perbaikan di faktor ini, anak diharapkan mampu menangkap stimulus sensorik (visual, audio) dengan lebih baik dan fokus, sehingga dapat merangsang peningkatan interaksi dan kemampuan bicaranya.

Terapi wicara berperan dalam memberikan stimulasi dan koreksi pada gangguan keterlambatan bicara anak, dengan kolaborasi yang baik dan simultan bersama komponen terapi Rehabilitasi Medik lainnya (Terapi Fisik dan/ Terapi Okupasi), target terapi pada anak dengan keterlambatan bicara anak dapat lebih maksimal dalam hal fonasi, artikulasi, pengayaan kosakata, stimualsi oromotor, kemampuan sintaks (membentuk kalimat) sampai dengan semantic (pemahaman makna kata).

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. John Hartono, Sp.KFR
(Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi  :

Klinik Rehabilitasi Medik

Lantai 4, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus

Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1204

Pendaftaran 24 jam : 0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

Mohon dapat memberikan rating

Pneumonia pada Anak di Tiongkok No ratings yet.

Belum genap setahun status pandemi COVID-19 yang berasal dari Wuhan, Hubei Tiongkok tengah dicabut oleh WHO, sekarang terjadi lagi lonjakan kasus pneumonia atau radang paru-paru pada anak di Tiongkok utara. Apa yang perlu dicemaskan?

Sejak pertengahan Oktober 2023, Tiongkok bagian utara, terutama di Beijing dan Liaoning, telah melaporkan peningkatan penyakit mirip influenza dibandingkan periode yang sama pada tiga tahun sebelumnya. Sebulan kemudian pada Selasa, 21 November 2023, media massa dan jurnal ilmiah ProMED melaporkan pneumonia yang tidak terdiagnosis (undiagnosed pneumonia) pada anak di Tiongkok utara. Hari berikutnya, yaitu Rabu, 22 November 2023, WHO secara resmi meminta informasi epidemiologi dan data klinis tambahan, serta hasil laboratorium dari anak yang dilaporkan ini, melalui mekanisme resmi (the International Health Regulations).

Data menunjukkan peningkatan kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap anak karena pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma Pneumoniae (MP) sejak Mei 2023, dan RSV, adenovirus, dan virus influenza sejak Oktober 2023. Tidak ada perbedaan dalam gambaran klinis penyakit yang baru dilaporkan dengan yang selama ini terjadi, belum ada bukti patogen yang tidak biasa atau baru. Namun demikian, hanya terjadi peningkatan kejadian penyakit pernafasan yang disebabkan oleh beberapa patogen yang telah diketahui, tetapi tidak mengakibatkan jumlah pasien sampai melebihi kapasitas rumah sakit.

Sejak pertengahan Oktober 2023, selain meningkatkan pengawasan penyakit di fasilitas layanan kesehatan dan lingkungan masyarakat, pihak berwenang Tiongkok telah menekankan perlunya memperkuat kapasitas sistem kesehatan dalam menangani pasien. Tiongkok mempunyai sistem untuk mendapatkan informasi tentang tren influenza, penyakit mirip influenza (influenza-like illness atau ILI), RSV, SARS-CoV-2, pneumonia, dan infeksi saluran pernapasan akut parah lainnya (severe acute respiratory infections atau SARI), dan melaporkan deteksi influenza ke platform global (the Global Influenza Surveillance and Response System atau GISRS).

Mensikapi kejadian di Tiongkok tersebut, telah dikeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Nomor : PM.03.01/C/4732/2023, Tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia Di Indonesia. Terkait adanya peningkatan kasus pneumonia di Tiongkok sejak Mei 2023, ¾ pasien di diagnosis sebagai infeksi MP, sedangkan lainnya adalah influenza, SARS COV-2 dan lain-lain. MP merupakan bakteri penyebab paling umum terjadinya infeksi jalan napas sebelum pandemi COVID-19, dengan insidensi 8,6% dan pernah turun menjadi 0,7% di tahun 2021-2022. Bakteri patogen ini memiliki periode inkubasi yang cukup lama dan penyebaran memerlukan waktu yang juga lama, sehingga disebut sebagai ‘Walking Pneumonia’. MP merupakan salah satu penyebab penyakit pneumonia di masyarakat, yang paling banyak menyerang anak.

Gambaran klinis pada pneumonia akibat MP sering mirip dengan pneumonia akibat patogen atipik lainnya, khususnya bakteri Chlamydia pneumonia. Pneumonia akibat MP dapat terjadi bersamaan dengan patogen lain, atau bahkan mendahului infeksi pernapasan akibat virus dan bakteri termasuk Streptococcus pyogenes serta Neisseria meningitidides. Infeksi MP biasanya dapat sembuh sendiri dan jarang fatal. Infeksi ini dapat melibatkan infeksi saluran napas atas maupun bawah, dengan gambaran klinisnya dapat bervariasi pada berbagai kelompok usia. Pasien anak usia di bawah 2 tahun cenderung terjadi infeksi saluran napas atas, sedangkan pada usia 6 sampai 9 tahun cenderung terjadi infeksi saluran napas bawah, yaitu pneumonia.

Masa inkubasi infeksi MP sekitar 2-4 minggu dan karakteristik pada pneumonia akibat MP adalah usia yang lebih muda, lebih sedikit faktor komorbidnya, lebih pendek masa rawat di rumah sakit dan angka kematian yang lebih rendah, dibanding kelompok pasien pneumonia akibat patogen lain. Gejala awitan infeksi pneumonia akibat MP terjadi secara bertahap, mulai dari batuk, demam, sakit kepala dan lemah atau malaise. Beberapa kasus tertentu batuk kering terjadi selama fase awal pneumonia MP, namun tetap ada untuk waktu yang lama sebagai gejala atipik. Suhu tubuh rata-rata pada pneumonia MP adalah 37,7 0C dan sekitar 29,2% pasien suhu tubuhnya tidak lebih dari 37,0 0C atau tidak demam sama sekali.

Pada pemeriksaan fisik dengan stetoskop menunjukan bahwa lebih dari separoh pasien dengan pneumonia MP tidak terdengar ronki, atau kemungkinan besar terdengar ronki pada akhir inspirasi, bila dibandingkan dengan pasien yang terinfeksi patogen khas (pneumonia tipik). Japanese Respiratory Society (JRS) mengusulkan enam tanda dan gejala pneumonia MP yang dapat membedakan dengan pneumonia akibat patogen lain. Keenam tanda dan gejala tersebut adalah usia kurang dari 15 tahun, tidak terdapat atau hanya sebagian kecil terdapat penyakit yang mendasari, batuk yang persisten, terdapat bunyi napas tambahan pada saat auskultasi dengan stetoskop, tidak terdapat produksi dahak atau sputum, ditemukannya patogen penyebab melalui uji diagnostik dan jumlah lekosit tidak meningkat, bahkan kurang dari 10.000/μL. Jika terdapat empat dari enam tanda dan gejala tersebut, maka dapat dicurigai ke arah pneumonia akibat MP, maka penggunaan obat antibiotik golongan makrolid dan obat lama tetrasiklin dapat disarankan. Namun demikian, jika kriteria tersebut ridak terpenuhi maka dapat dicurigai infeksi yang terjadi akibat bakteri Streptococcus pneumonia dan disarankan menggunakan antibiotik golongan beta laktam sebagai terapinya. MP adalah bakteri patogen pernapasan yang umum, penyebab umum pneumonia pada anak, dan cukup mudah diobati dengan antibiotik.

Setiap dokter yang menangani pasien pneumonia anak wajib berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Rujukan, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan dalam pengelolaan spesimen (pengambilan dan pengiriman spesimen) kasus MP. Juga melaksanakan surveilans ketat dengan melaporkan penemuan kasus melalui Pelaporan rutin ISPA dan ILI-SARI melalui link: https://bit.ly/ILISARI dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) melalui link https://skdr.surveilans.org atau nomor WhatsApp (WA) Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC) : 0877-7759-1097 atau email: poskoklb@yahoo.com, dan ditembuskan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.

Vaksin adalah tindakan pencegahan pneumonia paling penting bagi anak, agar juga membantu keluarga terhindar dari biaya pengobatan dan beban keuangan lainnya akibat anak sakit. Pneumonia memiliki banyak patogen penyebab, tetapi sebagian besar yang paling mematikan sudah dapat dicegah dengan vaksin terhadap patogen ganas Streptococcus pneumoniae (vaksin pneumokokus), Haemophilus influenzae tipe b (vaksin Hib), pertusis (vaksin DPT), dan campak (MR). Semua vasin tersebut sudah tersedia di Indonesia, dan direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bahkan masuk dalam program imunisasi dasar nasional.

Obat antibiotik amoksisilin saat ini merupakan satu-satunya pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk pneumonia secara umum, kalau MP belum dipastikan. Obat ini dapat menyelamatkan nyawa dalam kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri, dan dapat mencegah sebagian besar kematian akibat pneumonia, dengan biaya hanya sekitar USD $ 0,21-0,42 per paket pengobatan. Tablet dispersi amoksisilin adalah obat yang terjangkau dan sesuai untuk digunakan pada anak kecil. Namun waktu adalah esensi, karena pengobatan yang tertunda mungkin tidak memadai untuk mencegah dampak yang menghancurkan dari pneumonia, yaitu kematian anak. Perang melawan pneumonia harus dipertimbangkan juga untuk memerangi resistensi antimikroba. Pemberian antibiotik secara tepat untuk mengobati infeksi bakteri yang didiagnosis dengan benar, dapat membantu mengatasi pneumonia agar tidak menjadi masalah global. Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa lebih banyak anak meninggal karena kurangnya akses ke antibiotik, daripada karena resistensi antibiotik.

Perubahan musim dan pelonggaran aktivitas masyarakat pasca pandemi COVID-19 seperti di Tiongkok utara, mengingatkan kita akan pentingnya meningkatkan kewaspadaan akan pneumonia karena MP dan cakupan imunisasi pneumokokus, Hib, DPT, dan MR dalam melawan pneumonia sebagai penyakit infeksi mematikan yang tersering pada anak.

Sudahkah kita bijak mendampingi anak dari bahaya pneumonia?

 

Artikel Edukasi ditulis oleh :

DR. dr. Fx. Wikan Indrarto, Sp.A. (Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

 

Informasi :
Klinik Vaksin Dewasa di Medical Check Up
Lantai 2 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1125
WhatsApp MCU: 0811-2945-893 (pk 07.30 – 14.00 WIB)

Klinik Vaksin Anak di Klinik Tumbuh Kembang
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1204

Pendaftaran 24 jam :

0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Adenovirus 5/5 (1)

Rayyanza Malik Ahmad, putra bungsu Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, pernah menjalani rawat inap di rumah sakit dengan gejala awal demam tinggi. Awalnya, Rayyanza yang biasa disapa Cipung diduga mengidap penyakit pneumonia yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Akhirnya dokter memberikan antibiotik kepada adik Rafathar. Namun setelah mendapat hasil serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan Cipung mengidap virus di tubuhnya. Putra bungsu Raffi Ahmad dikabarkan terjangkit adenovirus.

 

“ADENOVIRUS

Adenovirus dapat menyebabkan berbagai infeksi sistem pernapasan dengan gejala seperti pilek, demam atau flu, baik yang bersifat ringan, maupun yang berat. Infeksi adenovirus paling sering terjadi pada anak balita. Dari sekitar 50 jenis adenovirus yang dapat menginfeksi manusia, yang paling umum adalah Adenovirus tipe 3, 4 dan 7.

Perlu diketahui bahwa adenovirus dapat menyebar melalui beberapa cara. Misalnya kontak dekat, udara, permukaan benda dan air. Virus dapat menyebar dari orang ke orang melalui berjabat tangan, berciuman, atau berpelukan. Virus dapat juga menyebar melalui droplet (percikan air liur) yang dikeluarkan saat bersin dan batuk. Setelah menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi, seseorang bisa terpapar virus ini dengan menyentuh mata, hidung, atau mulutnya sebelum mencuci tangan. Virus juga dapat menyebar melalui tinja orang yang terinfeksi dan air yang tidak mengandung klorin di kolam renang. Gejala klinis infeksi adenovirus adalah mirip dengan pilek atau flu biasa. Juga terjadi batuk, demam, pilek, sakit tenggorokan, mata merah muda, sakit pada telinga, pembengkakan kelenjar getah bening leher, sulit bernapas dan radang paru-paru. Selain itu, juga sakit perut, diare, mual dan muntah.

Diagnosis Infeksi adenovirus berat memerlukan beberapa jenis tes laboratorium dan radiologi. Meliputi tes darah rutin, urine rutin, tes swab lendir dari hidung, tes feses, dan rontgen dada. Pengobatan infeksi adenovirus bersifat simtomatik dan suportif, bukan pemberian obat antivirus.

Beberapa cara berikut penting untuk meredakan gejala. Konsumsi banyak cairan, termasuk jus buah dan elektrolit, untuk mencergah dan mengatasi dehidrasi. Atasi hidung mampet dengan mengajari anak etika membuang ingus atau cairan lendir dari hidung. Untuk bayi dapat diberikan semprotan beberapa tetes air garam ke hidungnya dan kemudian disedot lendir dengan spuit. Kelembaban udara yang baik dapat meredakan hidung mampet dan membantu bernapas lebih mudah. Turunkan demam dengan obat turun demam yang sesuai. Pencegahan penyebaran infeksi adenovirus dilakuan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan air, atau membersihkan tangan dengan hand sanitizer berbasis alkohol yang mengandung minimal 60 persen etanol.

Hindari menyentuh mulut, hidung, atau mata jika belum mencuci tangan. Jauhkan dari orang yang sedang sakit dan menghindari kerumunan. Bersihkan dan disinfeksi mainan anak sesering mungkin. Bersihkan meja, bak cuci dan permukaan keras lainnya dengan campuran pemutih dan air. Jika gejala infeksi adenovirus pulih dalam beberapa hari, sebenarnya anak tidak perlu diperiksakan ke dokter. Namun demikian, jika gejala yang dirasa seperti batuk, demam, pilek, dan sakit tenggorokan semakin parah, segeralah periksakan anak ke dokter, karena perawatan di rumah sakit atau opname kadang diperlukan untuk membantu proses pemulihan dengan tindakan medis yang tepat, seperti yang dijalani oleh Rayyanza Malik Ahmad.

 

Artikel ditulis oleh :

Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

 

Informasi :

Klinik Anak Sakit

Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pelayanan dilakukan setiap hari, termasuk hari Minggu dan libur nasional

Pendaftaran dokter 24 jam :

0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

 

Mohon dapat memberikan rating

Menjaga Kesehatan Jantung Sejak Usia Muda No ratings yet.

Jantung merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh kita dengan tugas utama memompa darah untuk mengirimkan oksigen dan nutrisi ke seluruh bagian tubuh. Kondisi di mana terjadi gangguan pada komponen-komponen jantung yang memengaruhi fungsi normalnya disebut sebagai penyakit jantung. Jenis-jenis penyakit jantung dapat meliputi penyakit jantung koroner, gagal jantung, aritmia, dan kelainan jantung bawaan. Adanya penyakit jantung dapat menyebabkan gangguan kemampuan jantung dalam memompa darah secara efisien dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi kesehatan individu.

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, dan jumlah kasusnya menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Semakin banyak kasus penyakit jantung juga muncul sejak usia muda. Selaras dengan tema Hari Jantung Sedunia tahun 2023 ini yaitu “Use Heart, Know Heart”, penting bagi kita untuk memahami berbagai faktor risiko yang dapat membahayakan kesehatan jantung antara lain tekanan darah tinggi, kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan gula darah puasa tinggi, kelebihan berat badan atau obesitas, rendahnya aktivitas fisik, merokok, dan polusi udara. Berita baiknya, banyak dari faktor risiko penyakit jantung dapat dikendalikan atau dicegah dengan langkah-langkah yang tepat. Gaya hidup sehat, terutama jika dimulai sejak usia muda, dapat berperan penting dalam mencegah penyakit jantung.

  1. Menjaga Berat Badan Ideal

Salah satu faktor risiko utama penyakit jantung adalah berat badan berlebih. Kondisi kelebihan berat badan (overweight) atau obesitas ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dari kondisi normal, yaitu >25–27,0 kg/m2 untuk kelebihan berat badan atau gemuk dan >27,0 kg/m2 untuk obesitas. Untuk mencapai berat badan yang dianggap normal, penting untuk menjaga IMT dalam kisaran 18,5 hingga 25 kg/m2. IMT dapat diukur dengan rumus berikut:

Selain IMT, lingkar perut juga dapat menandakan adanya obesitas yang dapat memicu berbagai masalah untuk jantung. Untuk laki-laki, batas aman lingkar perut adalah 90 cm. Sedangkan batas aman lingkar perut untuk perempuan adalah 80 cm. Berat badan yang sehat dan ideal dapat dicapai dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang teratur.

  1. Pola Makan Sehat

Makanan adalah salah satu faktor kunci dalam menjaga kesehatan jantung. Makan makanan dengan gizi seimbang yang kaya akan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan sumber protein yang rendah lemak dapat membantu mengontrol berat badan, tekanan darah, dan kadar kolesterol. Hindarilah makanan olahan yang tinggi garam, gula, dan lemak jenuh hingga makanan cepat saji yang tidak sehat.

Penting juga untuk memahami berapa banyak asupan kalori yang seharusnya Anda konsumsi untuk menjaga berat badan Anda. Biasanya, informasi tentang gizi dan kalori pada label makanan didasarkan pada kebutuhan energi harian sekitar 2.150 kalori. Namun, kebutuhan kalori Anda dapat berbeda, tergantung pada berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik Anda.

  1. Aktivitas Fisik Teratur

Aktivitas fisik adalah kunci lainnya dalam menjaga kesehatan jantung. Untuk mencapai manfaat aktivitas fisik yang optimal, penting untuk menerapkan prinsip BBTT yaitu Baik, Benar, Terukur, dan Teratur. Ini mencakup pemilihan aktivitas fisik aerobik dengan intensitas sedang-berat yang dilakukan dengan durasi minimal 150–300menit/minggu atau idealnya minimal 30 menit/hari dalam 5 hari/minggu. Jenis aktivitas fisik aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau latihan kardiovaskular lainnya dapat dilakukan. Aktivitas fisik yang dilakukan secara benar dan rutin dapat membantu menjaga berat badan yang sehat, meningkatkan sirkulasi darah, mengontrol tekanan darah, memperkuat jantung, dan mengurangi risiko penyakit jantung.

  1. Hindari Merokok dan Minuman Beralkohol Berlebihan

Merokok adalah salah satu kebiasaan yang paling berbahaya bagi kesehatan jantung Anda. Rokok—baik rokok konvensional, vape, maupun produk tembakau atau nikotin lainnya—mengandung berbagai zat kimia beracun yang dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan meningkatkan risiko pembentukan plak aterosklerosis yang dapat menyumbat arteri jantung. Merokok juga mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah dengan efisien dan menurunkan kadar oksigen dalam darah. Selain itu, konsumsi alkohol berlebihan juga dapat memperbesar risiko terkena penyakit jantung. Oleh karena itu, langkah terbaik yang dapat Anda ambil untuk menjaga kesehatan jantung Anda adalah dengan menghindari merokok sepenuhnya atau berhenti merokok jika Anda seorang perokok serta untuk mengonsumsi alkohol secara bijak.

  1. Kelola Stres dengan Baik

Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan darah, meningkatkan peradangan dalam tubuh, dan memicu perilaku yang tidak sehat seperti merokok atau konsumsi makanan tidak sehat sehingga berdampak negatif pada kesehatan jantung Anda. Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan baik melalui teknik-teknik seperti meditasi, yoga, olahraga, atau bahkan hanya menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga dan teman-teman. Stres yang terkontrol akan membantu menjaga tekanan darah Anda tetap stabil, menjaga kesehatan jantung, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

  1. Periksakan Kesehatan Secara Rutin

Terakhir, penting untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin oleh tenaga medis profesional. Pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi faktor risiko jantung seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak seimbang, atau diabetes secara dini. Dengan pemantauan yang tepat, Anda dapat mengidentifikasi masalah kesehatan jantung lebih awal dan mengambil tindakan preventif yang diperlukan. Berkonsultasilah dengan dokter Anda untuk melakukan pemeriksaan jantung dan penilaian risiko kardiovaskular Anda, serta untuk mendiskusikan gaya hidup dan kebiasaan makan sehat yang sesuai.

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Vita Yanti, M.SC., PH.D., Sp.PD.,Sp.JP

(Dokter Spesialis Jantung RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Lokasi Pelayanan :
Klinik Jantung
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Mitos dan Fakta Tentang Rabies: Memahami Penyakit yang Berbahaya ini 5/5 (1)

Rabies atau yang lebih kita kenal dengan penyakit “anjing gila” merupakan penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies (Lyssavirus), dan seringkali dianggap sebagai salah satu penyakit mematikan bagi manusia dan hewan. Virus ini dapat menginfeksi otak dan sistem saraf, sehingga harus ditangani dengan cepat agar tidak berakibat fatal. Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang penyakit rabies, gejala, penyebaran, pencegahan, dan pengobatannya.

Penyebab dan Penyebaran

Rabies disebabkan oleh virus rabies yang termasuk dalam genus Lyssavirus. Virus ini biasanya ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, dengan anjing dan kelelawar sering menjadi penyebab utama penularan rabies pada manusia. Virus juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka atau selaput lendir. Begitu masuk ke dalam tubuh, virus menyebar melalui saraf tepi menuju sistem saraf pusat, yang pada akhirnya menyebabkan gejala neurologis yang parah.

Gejala

Setelah terinfeksi virus rabies, gejala awalnya mirip dengan flu atau infeksi virus lainnya. Namun, setelah beberapa hari hingga berminggu-minggu, gejalanya berkembang menjadi lebih serius. Gejala rabies bisa dibagi menjadi 4 fase yaitu:

  1. Stadium Permulaan (Prodormal) ditandai dengan keluhan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, sulit tidur, demam, muntah, sakit kepala yang berat, nyeri di tenggorokan dan mual.
  2. Stadium Rangsangan (Sensoris) ditandai dengan rasa nyeri dan panas disertai kesemutan pada luka gigitan, cemas,dan reaksi berlebih terhadap rangsang sensorik.
  3. Stadium Gila (ekstasi) ditandai dengan berteriak-teriak, menjambak-jambak rambut, berlari-lari dan melompat-lompat, takut air, takut cahaya, takut suara, berlebihan air liur, dan berlebihan air mata
  4. Stadium Lumpuh (paralisis) ditandai dengan mulut menganga, lumpuh mulai dari kaki, dan kelumpuhan otot-otot pernafasan (susah bernafas)

Pencegahan dan Perawatan Luka Rabies

Pencegahan merupakan Langkah paling efektif, sebab tidak ada pengobatan yang efektif untuk rabies setelah gejala muncul. Beberapa langkah pencegahan termasuk vaksinasi memegang peranan penting.

  • Profilaksis pra pajanan (PrEP) dengan vaksin rabies direkomendasikan untuk individu yang berisiko tinggi terpapar, seperti dokter hewan, petugas hewan, dan wisatawan yang tinggal di wilayah dimana rabies sering terjadi.
  • Profilaksis Paska Pajanan (PEP): Jika digigit atau terkena hewan yang diduga mengidap rabies, perhatian medis segera diperlukan. PEP melibatkan serangkaian vaksinasi rabies dan, dalam beberapa kasus diperlukan immunoglobulin rabies untuk menetralisir virus.

Perawatan luka gigitan rabies harus sangat serius dan segera. Langkah-langkah perawatan termasuk:

  1. Bersihkan luka: Segera cuci luka dengan air bersih dan sabun selama setidaknya 15 menit. Gunakan air mengalir jika mungkin. Ini membantu menghilangkan kotoran, bakteri, dan potensi virus rabies.
  2. Desinfeksi luka: Setelah dicuci, gunakan antiseptik seperti betadine atau nacl untuk membersihkan luka. Ini membantu mengurangi risiko infeksi.
  3. Berhentikanluka berdarah (jika ada): Jika luka mengeluarkan darah, gunakan kain bersih atau kasa steril untuk menekan perdarahan. Hindari menggunakan perban yang terlalu ketat.
  4. Tutup luka: Tutup luka dengan perban steril atau kasa bersih setelah membersihkan dan mendesinfeksi luka. Ini membantu mencegah infeksi sekunder.
  5. Konsultasi medis segera: Segera cari bantuan medis profesional. Dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut, memberikan vaksinasi rabies, dan mungkin imunoglobulin rabies. Pengobatan harus dimulai sesegera mungkin untuk mencegah penularan rabies yang mematikan.

Kesimpulan

Rabies tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di daerah yang tidak memiliki akses yang memadai ke vaksinasi hewan peliharaan dan perawatan medis. Pengetahuan akan penyakit ini, vaksinasi hewan peliharaan yang rutin, dan tindakan cepat setelah paparan dapat membantu mengurangi risiko rabies pada manusia.

Memahami penyebab, gejala, dan tindakan pencegahan sangatlah penting dalam menjaga kesehatan manusia dan hewan. Melalui pendidikan, vaksinasi, dan pengendalian hewan yang bertanggung jawab, kita dapat berupaya mengurangi kejadian rabies dan pada akhirnya menghilangkan virus mematikan ini.

 

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Andreas Avellini Krishnaputra Tandelilin, Ph.D., Sp. B

(Dokters Spesialis Bedah Umum RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

IGD RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon : 0274 – 552118

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Gigi Berlubang dan Cara Menjaga Kebersihan Rongga Mulut 5/5 (1)

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, jumlah penduduk di Indonesia kini telah mencapai sebanyak 278,69 juta jiwa pada pertengahan 2023. Hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia memiliki permasalah gigi dan mulut. Sebanyak 45,3% penduduk Indonesia memiliki keluhan gigi rusak/berlubang/sakit (Riskesdas, 2018). Sedangkan masalah kesehatan mulut yang mayoritas dialami penduduk Indonesia adalah gusi bengkak dan atau keluar bisul (abses) sebesar 14%.

Permasalahan gigi tersebut tidak lepas dari faktor tingkat kebersihan rongga mulut tiap orang. Masih banyak orang yang mengabaikan pentingnya menyikat gigi dan pemeriksaan rutin ke dokter gigi. Sudah banyak edukasi mengenai cara menyikat dan waktu menyikat gigi yang benar, tetapi masih banyak diabaikan oleh sebagian orang.

Sikat gigi dilakukan sehari 2 kali, yakni pagi setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. Banyak orang yang keliru tentang waktu menyikat gigi, biasanya setelah mandi sore dan dilanjutkan dengan makan malam tetapi setelah itu tidak menyikat gigi lagi. Padahal kuman yang ada pada rongga mulut sangat menyukai suasana asam pada rongga mulut setelah makan, apabila suasana asam tersebut tidak dinetralkan dengan menyikat gigi lama-kelamaan asam tersebut akan menempel pada permukaan gigi dan menyebabkan gigi berlubang.

Asam plak gigi akan turun dari pH normal sampai mencapai pH 5 dalam waktu 3-5 menit sesudah makan makanan yang mengandung karbohidrat. pH saliva sudah menjadi normal (pH 6-7) 25 menit setelah makan atau minum. Menyikat gigi dapat mempercepat proses kenaikan pH 5 menjadi normal (pH 6-7) sehingga dapat mencegah proses pembentukan karies.

Selain itu cara menyikat gigi yang benar juga merupakan faktor penting dalam menjaga kebersihkan gigi dan rongga mulut. Ada beberapa teknik menyikat gigi yang telah disarankan oleh para ahli, seperti teknik horizontal, teknik roll, teknik charter, teknik stillman, teknik kombinasi.  Beberapa teknik tersebut sama-sama baik, namun belum dapat membuktikan bahwa metode yang satu lebih baik dari yang lain, metode manapun yang dipakai dari sekian banyak metode yang dianjurkan, yang paling penting adalah mengusahakan agar permukaan gigi selalu bebas dari plak gigi.

Dalam menyikat gigi yang harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Teknik penyikatan gigi harus dapat membersihkan semua permukaan gigi dan gusi secara efesien terutama daerah interdental (sela gigi). b) Pergerakan dari sikat gigi tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan gusi atau abrasi gigi.  c) Teknik penyikatan harus sederhana, tepat dan efesiensi dalam waktu (Panjaitan, Monang, 2007).

Gigi memiliki alur-alur gigi yang sangat sempit dan dalam. Apabila bakteri dan sisa makanan menempel pada alur gigi, meskipun sudah rajin menyikat gigi tetapi bulu sikat gigi tidak dapat masuk sampai bagian alur gigi yang sempit, sehingga dapat terbentuk karies atau luabng gigi.

Gigi memiliki 3 lapisan yakni email, dentin dan pulpa. Lubang gigi baru mencapai lapisan email, biasanya orang tidak akan merasakan keluhan apapun. Jika tidak ditangani maka lubang akan semakin masuk ke dalam hingga mencapai lapisan dentin. Dentin merupakan lapisan gigi kedua yang permukaannya menyerupai tabung-tabung dan berpori-pori. Apabila lubang sudah mencapai dentin biasanya akan ada keluhan seperti gigi ngilu saat makan dan minum dingin serta manis. Jika sudah memiliki keluhan sakit berdenyut, bertahan beberapa menit hingga jam, sakit hebat dimalam hari, itu tanda bahwa lubang gigi sudah mencapai lapisan pulpa. Di dalam pulpa berisi syaraf dan pembuluh darah. Jika sudah mencapai lapisan pulpa, gigi tersebut harus dilakukan perawatan syaraf atau dicabut.

Untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya dilakukan pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali untuk melihat apakah ada karies atau lubang kecil yang dapat ditambal. Jangan menunggu sakit gigi dulu baru di dokter gigi, karena jika sudah sakit atau bengkak pada gusi, kondisi gigi tersebut tidak dapat ditambal biasa tetapi butuh perawatan gigi yang membutuhkan waktu beberapa kali kunjungan dan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, perlu ditanamkan sejak dini bahwa pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut dan rutin ke dokter gigi untuk mencegah gigi berlubang.

 

Artikel ditulis oleh:

drg. Agnes Tri Puspitasari

(Dokter Spesialis Gigi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gigi
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store

Mohon dapat memberikan rating