Mengenal Virus Nipah: Gejala, Cara Penularan, dan Langkah Pencegahannya 5/5 (1)

Belakangan ini, kewaspadaan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular kembali meningkat di berbagai wilayah. Salah satu yang menjadi sorotan dunia kesehatan adalah Virus Nipah. Meski kasusnya jarang ditemukan, virus ini memiliki tingkat keparahan yang tinggi dan dapat menyebar melalui kontak erat. Edukasi yang tepat sangat penting agar kita tetap waspada tanpa harus panik berlebihan.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah adalah virus zoonosis, artinya virus ini berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia. Pertama kali ditemukan di Asia Tenggara, virus ini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat hingga saat ini. Inang alami dari virus ini adalah kelelawar pemakan buah.

Bagaimana Virus Ini Menular?

Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur utama:

Dari Kelelawar ke Manusia: Melalui konsumsi buah atau minuman (seperti air nira) yang telah terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran kelelawar.

Melalui Inang Perantara (Babi): Manusia dapat tertular melalui kontak langsung dengan babi yang sakit, mengolah daging mentah, atau mengonsumsi daging yang tidak dimasak hingga matang.

Antar Manusia: Penularan terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi.

Mengenali Gejala: Dari Flu hingga Gejala Berat

Gejala virus Nipah sering kali tidak khas pada tahap awal, sehingga terkadang sulit disadari.

1. Gejala Awal (Mirip Flu)

Pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, nyeri tenggorokan, dan tubuh terasa lemas.

2. Gejala Berat

Jika infeksi memburuk, virus dapat menyerang organ vital seperti otak dan paru-paru:

  • Terjadi radang otak (meningoensefalitis).
  • Penurunan kesadaran, kejang, hingga sesak napas.
  • Kondisi ini memerlukan perawatan intensif di rumah sakit karena dapat menyebabkan kematian.

Diagnosis dan Pengobatan

Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk menyembuhkan infeksi virus Nipah. Penanganan yang dilakukan dokter bersifat perawatan suportif dan intensif untuk meredakan gejala yang muncul.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, melihat riwayat paparan, dan melakukan tes laboratorium khusus seperti PCR atau serologi. Sampel laboratorium tersebut nantinya dikirimkan ke Puslitbang BTDK di Jakarta untuk hasil yang akurat.

Langkah Pencegahan Mandiri

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan:

  • Kebersihan Makanan: Selalu cuci dan kupas buah sebelum dimakan. Hindari buah yang tampak ada bekas gigitan hewan atau jatuh di tanah.
  • Masak Hingga Matang: Pastikan daging diolah sampai benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
  • Hindari Risiko: Jangan mengonsumsi minuman mentah yang berisiko terkontaminasi, seperti air nira.
  • Proteksi Diri: Rajin mencuci tangan, menggunakan masker, dan hindari kontak langsung dengan hewan yang tampak sakit.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Wujudkan Persalinan Minim Trauma, RS Panti Rapih Sukses Gelar Kelas Ibu “Hypnobirthing” 5/5 (1)

YOGYAKARTA, 13 Februari 2026 – Dalam upaya memberikan edukasi kesehatan bagi ibu hamil di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, Rumah Sakit Panti Rapih sukses menyelenggarakan kegiatan Kelas Ibu Edisi 038. Acara yang bertajuk “Bersalin Aman dan Nyaman dengan Hypnobirthing” ini berlangsung pada Jumat pagi di Ruang Senam Hamil, Gedung Rawat Jalan Borromeus.

Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta ibu hamil yang didampingi oleh 8 orang pendamping (suami/keluarga). Kehadiran pendamping ini diharapkan dapat memberikan dukungan emosional yang optimal bagi ibu saat menghadapi proses persalinan nanti.

Kelas ini menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya untuk memberikan pemahaman menyeluruh baik dari sisi medis maupun teknik relaksasi:

  1. dr. Lusiana Irine, Sp.OG (Dokter Spesialis Obsgin RS Panti Rapih), yang memaparkan materi mengenai indikator persalinan yang aman dan nyaman dari sudut pandang medis.
  2. Maria Nita Anggraeni, A.Md.Keb (Bidan & Praktisi Hypnobirthing RS Panti Rapih), yang memandu sesi praktik hypnobirthing untuk membantu ibu mengelola rasa sakit dan kecemasan melalui teknik relaksasi dan afirmasi positif.

 

Selain mendapatkan ilmu yang bermanfaat, para peserta juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas seperti:

  • Materi edukasi lengkap.
  • Konsumsi (snack dan minum).
  • Doorprize menarik bagi peserta yang aktif.
  • Voucher khusus dari Pigeon sebagai bentuk apresiasi bagi para ibu.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari edukasi tim Kebidanan dna Kandungan yang diusung oleh RS Panti Rapih melalui program RSSIB (Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi). Dengan adanya kelas ini, RS Panti Rapih berkomitmen untuk terus mendampingi para calon orang tua dalam mempersiapkan kelahiran buah hati dengan cara yang lebih tenang, minim trauma, dan penuh kebahagiaan.

 

Artikel ditulis oleh :

Humas RS Panti Rapih Yogyakarta

 

Mohon dapat memberikan rating

Mengenali Tanda Keganasan pada Anak Sejak Dini 5/5 (3)

Kanker pada anak merupakan masalah kesehatan serius yang sering kali terlambat dikenali. Meskipun jumlah kasusnya lebih kecil dibandingkan kanker pada orang dewasa, kanker termasuk salah satu penyebab kematian utama pada anak usia sekolah dan remaja. Permasalahan terbesar di Indonesia adalah sebagian besar anak dengan kanker datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan dan kualitas hidup menjadi jauh lebih rendah. Padahal, banyak jenis kanker pada anak memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi apabila ditemukan dan ditangani sejak dini.

Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, kanker pada anak tidak berkaitan dengan gaya hidup atau faktor perilaku. Penyebabnya sering kali tidak jelas dan gejalanya cenderung tidak khas. Anak, terutama usia kecil, juga belum mampu mengungkapkan keluhan secara baik. Oleh karena itu, peran orang tua, keluarga, guru, kader kesehatan, serta tenaga kesehatan di lini depan menjadi sangat penting dalam mengenali tanda-tanda awal keganasan pada anak.

Secara umum, keganasan pada anak dapat diawali oleh keluhan yang tampak ringan dan sering disalahartikan sebagai penyakit infeksi biasa. Anak dapat mengalami demam berulang atau berkepanjangan (> 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, tampak pucat, lemah, mudah lelah, dan kurang aktif dibandingkan biasanya. Penurunan nafsu makan dan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, keringat malam, serta nyeri tulang atau sendi yang menetap dan semakin memberat, khususnya bila mengganggu aktivitas berjalan, juga merupakan tanda yang perlu diwaspadai. Selain itu, perdarahan spontan seperti mimisan berulang, gusi berdarah, atau munculnya bintik merah pada kulit, serta pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri dan terus membesar (tidak mengecil setelah 4-6 minggu, ukuran >2.5 cm , keras tidak nyeri, terletak di daerah supraklavikula, dapat menjadi petunjuk adanya keganasan.

Beberapa jenis kanker anak memiliki tanda khas yang relatif mudah dikenali.

  • Leukemia, sebagai kanker tersering pada anak, sering ditandai dengan pucat, demam tanpa sebab jelas, perdarahan kulit atau mukosa, nyeri tulang hebat, serta pembesaran hati, limpa, atau testis.
  • Retinoblastoma, kanker mata pada anak, memiliki tanda khas berupa leukokoria, yaitu tampakan putih pada bagian hitam mata seperti mata kucing saat terkena cahaya, yang sering disadari pertama kali oleh orang tua. Retinablastoma juga berkaitan dengan faktor genetik.
  • Kanker tulang, terutama osteosarkoma, biasanya ditandai dengan nyeri tulang yang semakin berat pada malam hari, disertai pembengkakan lokal yang terasa hangat, bahkan dapat menyebabkan patah tulang setelah trauma ringan.
  • Neuroblastoma dapat muncul sebagai benjolan di perut, mata menonjol, atau lebam di sekitar mata tanpa riwayat cedera. Limfoma maligna sering menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau lipat paha yang tidak nyeri, disertai demam, keringat malam, dan penurunan berat badan.
  • Karsinoma nasofaring pada anak dapat diawali dengan hidung tersumbat lama, mimisan berulang, gangguan pendengaran satu sisi, atau benjolan di leher.

Keganasan pada sistem saraf pusat dapat berupa tanda sakit kepala yang baru muncul terutama pada pagi hari atau hingga membangunkan anak dari tidur, disertai muntah, gangguan penglihatan, kelemahan anggota gerak, penurunan prestasi sekolah, dan perubahan perilaku yang progresif. Dari tanda tanda tersebut kewaspadaan terhadap gejala yang menetap, progresif, tidak sesuai usia, atau tidak respons terhadap pengobatan perlu segera dievaluasi untuk adaya keganasan oleh tenaga medis.

Deteksi dini kanker pada anak sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Data menunjukkan bahwa keterlambatan diagnosis merupakan penyebab utama tingginya angka kematian kanker anak di Indonesia. Bila kanker dikenali pada stadium dini dan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai, peluang hidup anak meningkat secara signifikan dan komplikasi jangka panjang dapat diminimalkan

Sebagai penutup, penting untuk ditekankan bahwa kanker pada anak bukanlah penyakit yang selalu berakhir fatal. Kewaspadaan terhadap perubahan kondisi anak, terutama bila keluhan tidak membaik dengan pengobatan biasa, merupakan langkah awal yang sederhana namun sangat menentukan. Deteksi dini, rujukan tepat waktu, dan penanganan yang sesuai dapat menyelamatkan nyawa serta masa depan anak.

 

Sumber :

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak.2015

WHO. Childhood cancer. 2025. Diunduh dari : https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer-in-children

Frias VL, Lopez MH, Garcia IC, Navas PI. How to suspect cancer in Primary Care.Pediatr Integral 2021; XXV (6): 283 – 295

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Christo Darius Junendytya, Sp. A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mendengkur dan Stroke: Apa Hubungannya? 5/5 (13)

Mendengkur adalah kondisi umum yang bisa dialami siapa saja, tetapi tahukah Sahabat Sehat bahwa mendengkur bisa memicu stroke? Mitos atau fakta? Mari kita kenali lebih dalam.

Apa itu Mendengkur?

Mendengkur terjadi ketika saluran napas terhambat selama tidur, sehingga aliran udara yang keluar-masuk selama bernapas menyebabkan getaran dan menghasilkan suara. Hambatan saluran napas muncul karena otot di saluran pernapasan bagian atas (termasuk langit-langit mulut dan lidah) menjadi lemas selama tidur. Sumbatan tersebut akan cenderung lebih berat jika seseorang tidur dalam posisi terlentang.

Mendengkur sering dialami oleh orang obesitas, memiliki pembesaran amandel, leher pendek, dan kelainan rongga mulut. Semakin keras suara mendengkur, berarti semakin berat sumbatan saluran napas yang terjadi. Sebagian orang yang mendengkur akan mengalami periode berhenti bernapas. Kondisi ini disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Pasien yang mengalami OSA dapat mengalami beberapa keluhan seperti merasa mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan nyeri kepala.

OSA merupakan kondisi yang sering dijumpai. Akan tetapi, banyak penderitanya tidak terdiagnosis dan tidak tertangani dengan baik. Padahal kondisi ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan pembuluh darah dan jantung.

 

 

Hubungan Mendengkur dengan Stroke

OSA merupakan faktor risiko untuk penyakit pembuluh darah dan jantung, termasuk stroke. Semakin berat OSA, maka akan semakin tinggi risiko terserang stroke. Pada OSA, episode henti napas (apnea) dan/atau napas dangkal (hipopnea) memicu proses peradangan di seluruh tubuh. OSA juga memicu penurunan kadar oksigen dalam darah dan mengganggu irama tidur, sehingga pasien sering terbangun dan metabolisme tubuh terganggu. Kombinasi dari berbagai mekanisme ini akan merusak lapisan dalam pembuluh darah, memicu gangguan irama jantung, dan diabetes melitus. Pada akhirnya, OSA akan memicu stroke.

 

 

Bagaimana cara mencegah stroke akibat OSA?

Langkah pertama dan yang utama untuk mencegah stroke akibat OSA adalah dengan mendeteksi OSA terlebih dahulu. Pemeriksaan polisomnografi (PSG) adalah pemeriksaan baku emas (gold standard) untuk mendeteksi OSA. Pada pemeriksaan PSG, pasien tidur selama satu malam di rumah sakit. Beberapa alat akan dipasang di kepala, leher, dada, perut, dan kaki pasien. Dokter spesialis neurologi akan membaca hasil rekaman PSG. Dari hasil rekaman tersebut, kita dapat mengetahui secara objektif apakah pasien benar-benar mengalami OSA atau tidak. Kita juga dapat mengetahui seberapa parah OSA yang dialami pasien dan dapat mendeteksi apakah terdapat gangguan tidur lainnya.

 

 

Setelah menegakkan diagnosis OSA dengan menggunakan PSG, dokter spesialis neurologi dapat menentukan tindakan apa yang paling tepat bagi pasien. Setiap pasien OSA bisa memiliki penanganan yang berbeda-beda. Mendeteksi dan menangani OSA sedini mungkin dapat mencegah kemunculan berbagai penyakit, khususnya stroke. Penanganan OSA juga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien menjadi lebih bugar, tidak mudah lelah, tidak mudah mengantuk, dan performa kerja meningkat.

Oleh karena itu, pemeriksaan PSG penting untuk dilakukan.  Yuk, jaga kesehatan tidurmu!
Mau info lebih lanjut? Sahabat Sehat dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi di Rumah Sakit Panti Rapih.

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurolog RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Bekali Ibu Hamil dengan Pengetahuan dan Ketenangan, RS Panti Rapih Gelar Kelas Ibu: “Kenali Tanda Bahaya & Prenatal Gentle Yoga” No ratings yet.

YOGYAKARTA, 23 Januari 2026 – Masa kehamilan adalah perjalanan yang luar biasa sekaligus penuh tantangan bagi setiap calon ibu. Menyadari pentingnya edukasi kesehatan dan kesejahteraan mental selama masa ini, RS Panti Rapih Yogyakarta sukses menyelenggarakan Kelas Ibu pada Jumat (23/01) bertempat di Ruang Senam Hamil, Gedung Borromeus Lantai 3.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 – 11.00 WIB ini diikuti oleh 14 peserta yang sangat antusias. Dengan tema “Kenali Tanda Bahaya Selama Kehamilan dan Prenatal Gentle Yoga”, acara ini dirancang untuk memberikan keseimbangan antara pemahaman medis yang kritis dan relaksasi fisik.

Sesi pertama dibuka oleh dr. Yohanes Adhitya Prakasa Sukoco Putra, Sp.OG, yang memaparkan materi krusial mengenai tanda-tanda bahaya selama kehamilan. Beliau menekankan pentingnya bagi ibu hamil untuk mengenali sinyal tubuh sejak dini agar dapat melakukan langkah antisipasi medis yang tepat demi keselamatan ibu dan janin.

Melengkapi aspek medis tersebut, Bidan Ayu Noormalita Lillyandhini, A.Md.Keb, memandu sesi Prenatal Gentle Yoga. Tidak hanya teori, para peserta juga diajak langsung mempraktikkan gerakan yoga yang dirancang khusus untuk memperlancar proses persalinan, mengurangi kecemasan, dan menjaga kebugaran tubuh selama masa kehamilan.

Acara dipandu dengan hangat oleh Bidan Handayani Dian Pertiwi, A.Md.Keb, selaku MC dan moderator, yang menghidupkan suasana diskusi interaktif antara narasumber dan para ibu.

Melalui kegiatan ini, terdapat dua harapan utama yang ingin dicapai

Bagi Peserta: Diharapkan para ibu hamil menjadi lebih percaya diri, memiliki literasi kesehatan yang baik untuk menjaga kehamilannya, serta merasa lebih tenang secara mental melalui teknik yoga yang telah dipelajari.

Bagi RS Panti Rapih: Kegiatan ini diharapkan memperkuat komitmen rumah sakit dalam memberikan layanan yang holistik dan suportif bagi kesehatan ibu dan anak, serta menjadikan RS Panti Rapih sebagai mitra terpercaya bagi keluarga dalam menyambut kehadiran buah hati.

“Kami ingin setiap ibu yang datang ke sini merasa didampingi, tidak hanya secara klinis tapi juga secara emosional. Pengetahuan adalah kunci ketenangan selama hamil,” ujar tim penyelenggara.

 

 

 

Artikel ditulis oleh :

Humas RS Panti Rapih Yogyakarta

 

 

Untuk informasi lebih lanjut:
Klinik Kebidanan dan Kandungan – Lt. 3 RS Panti Rapih
WA Only: 0811-2848-446
(0274) 563333 ext. 1205

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Ancaman “Superflu” pada Anak: Lebih dari Sekadar Flu Biasa! 4.2/5 (5)

Pernah mendengar istilah Superflu? Belakangan ini, istilah “superflu” menjadi perbincangan hangat di kalangan orang tua. Istilah ini merujuk pada infeksi yang disebabkan oleh varian baru virus Influenza A subtipe H3N2, yaitu subclade K. Meskipun ada perubahan genetik dari virus H3N2 sebelumnya, data saat ini menunjukkan bahwa varian subclade K tidak lebih mematikan dari gejala sebelumnya. Namun, penyebarannya yang cepat tetap perlu kita waspadai. Pola penyebaran flu tahun ini di daerah tropis (termasuk Indonesia) menunjukkan bahwa aktivitas flu terjadi sepanjang tahun. Sejak September 2025, virus H3N2 mulai mendominasi dan menggeser jenis flu lainnya (H1N1).

Mengapa Anak Begitu Rentan?

Anak-anak menjadi sasaran empuk karena sistem kekebalan tubuh mereka belum memiliki “memori” kuat terhadap virus ini. Selain itu, lingkungan sekolah dan tempat bermain yang padat mempermudah virus ini berpindah inang.

Bagaimana Cara Penularannya?

Penularan H3N2 sama seperti flu pada umumnya, yaitu melalui:

  • Percikan (droplet): cairan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
  • Kontak fisik: bersamalam atau menyentuh tangan yang tekontaminasi virus.
  • Benda mati: memegang mainan, gagang pintu, atau peralatan makan yang terpapar virus, lalu anak menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Gejala yang Harus Orang Tua Kenali

Superflu H3N2 biasanya datang dengan “serangan mendadak”:

  • Demam tinggi: suhu tubuh bisa melonjak drastis hingga 39oC atau lebih dalam waktu singkat.
  • Nyeri tubuh hebat: anak akan mengeluh otot, sendi-sendi sakit atau badannya pegal (anak kecil biasanya menangis rewel).
  • Batuk kering, nyeri tenggorokan dan sesak: tenggorokan terasa nyeri serta gatal hingga susah menelan, batuk yang terdengar “dalam” dan mengganggu pernapasan.
  • Kelelahan ekstrem: anak tampak sangat lemas, lunglai, dan tidak mau makan atau bermain.
  • Gangguan perut: anak juga bisa mengeluh mual, muntah, atau diare.

Langkah Pencegahan

  • Vaksinasi: lakukan vaksinasi influenza tahunan. Ini adalah cara yang paling efektif.
  • Kebersihan tangan: ajarkan anak mencuci tangan dengan air dan sabun selama 20 detik.
  • Etika batuk: ajarkan anak menutup mulut dengan siku bagian dalam saat bersin/ batuk.
  • Gunakan masker: ajarkan anak (terutama usia > 5 tahun) menggunakan masker saat berada di tempat umum atau transportasi publik.
  • Jaga jarak: hindari kontak dengan orang yang sakit flu.
  • Nutrisi seimbang: perkuat daya tahan tubuh anak dengan makanan bergizi, minum dan istirahat yang cukup.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Sakit?

Jika anak menunjukkan gejala superflu, jangan panik. Lakukan langkah-langkah penanganan awal berikut:

  • Istirahat total: pastikan anak tidur cukup agar sistem imun bekerja maksimal
  • Cukupi cairan: berikan banyak minum ASI/susu, air putih, sup hangat, oralit atau jus buah (anak usia > 1 tahun) untuk mencegah dehidrasi akibat demam.
  • Obat penurun panas: berikan paracetamolsesuai dosis berat badan untuk meredakan demam dan nyeri.
  • Isolasi mandiri: batasi kontakanak yang sedang sakit dari saudara kandung atau teman agar tidak menular lebih luas.
  • Pantau gejala bahaya: segera bawa ke Rumah Sakit atau periksakan ke dokter bila anak mengalami dehidrasi (urin sedikit, malas minum dan tampak sangat lemas) serta sesak napas.

Superflu ini disebabkan oleh virus, maka antibiotik tidak bermanfaat. Antibiotik hanya diberikan oleh dokter bila ada infeksi bakteri tambahan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika demam tidak turun dalam 3 hari, bila ada tanda bahaya seperti di atas, atau jika anak memiliki riwayat asma atau penyakit kronis lainnya.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Galuh Martin Maytasari, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Tingkatkan Kualitas Layanan Ibu & Anak, RS Panti Rapih Gelar Penyegaran Konselor Laktasi 5/5 (9)

YOGYAKARTA, 22 Desember 2025 – Dalam upaya menjawab tantangan global di sektor kesehatan dan memperkuat kualitas layanan asuhan keperawatan, RS Panti Rapih menyelenggarakan Program Pengembangan Kapabilitas SDM melalui agenda “Penyegaran Konselor Laktasi”.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Antonius Besar Lantai 2 ini diikuti oleh 16 peserta yang terdiri dari perawat dan bidan konselor, Penanggung Jawab Asuhan (PPJA), serta perawat pelaksana dari ruang perawatan maternitas.

Di era transformasi teknologi dan tuntutan pelayanan yang semakin dinamis, Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi pilar utama bagi rumah sakit dalam memberikan jasa pelayanan yang berkualitas. Sebagai penyedia jasa kesehatan, RS Panti Rapih menyadari bahwa kompetensi staf adalah aset berharga yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat.

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Keperawatan RS Panti Rapih, Sr. Constansia Sri Hardjanti CB, M.Kep.Ns. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya evaluasi berkala terhadap kemampuan klinis staf agar tetap relevan dengan standar kesehatan terkini, terutama dalam mendukung program pemberian ASI eksklusif di Indonesia.

Dipandu oleh moderator Rosa Wulandari Tutik Priyani, S.Kep.,Ns., pelatihan ini menghadirkan narasumber ahli, Bidan Tri Murtini, Amd.Keb. Materi yang disampaikan mencakup aspek komprehensif, mulai dari kebijakan nasional hingga teknik praktis di lapangan, antara lain:

  • Kebijakan dukungan menyusui dalam program peningkatan pemberian ASI di Indonesia.
  • Pendalaman konsep dan evaluasi kegiatan menyusui.
  • Strategi menghadapi tantangan menyusui pada ibu dan bayi.
  • Teknik konseling dan dukungan psikologis bagi ibu menyusui.

Melalui metode ini, para peserta diharapkan tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki empati tinggi dalam mendampingi para ibu melewati masa-masa penting menyusui. Melalui program penyegaran ini, RS Panti Rapih membawa visi besar untuk masa depan layanan kesehatan ibu dan anak:

  • Bagi Peserta: Diharapkan para perawat dan bidan memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dan keterampilan yang lebih tajam dalam memberikan edukasi serta solusi bagi pasien. Konselor laktasi diharapkan menjadi jembatan keberhasilan ibu dalam memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya.
  • Bagi RS Panti Rapih: Kegiatan ini menjadi bukti komitmen rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan secara berkelanjutan. Dengan staf yang kompeten, RS Panti Rapih optimis dapat meningkatkan kepuasan pasien, mendukung angka capaian ASI Eksklusif nasional, dan tetap menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat yang unggul dalam pelayanan dan kasih.

Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk memastikan materi yang didapat segera diimplementasikan dalam pelayanan harian di ruang maternitas.

 

 

 

 

 

 

Artikel ditulis oleh :
Humas RS Panti Rapih Yogyakarta

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Instalasi Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian RS Panti Rapih
WA : 081128508877 (Jam layanan WA : pk 07.30 – 15.30 WIB, Senin – Jumat. Hari Minggu dan tanggal merah tutup)

Mohon dapat memberikan rating

Mengapa Saya Mudah Mengantuk? 5/5 (8)

Sudah tidur semalaman, tetapi merasa tidak bugar di pagi hari. Sudah minum kopi, tetapi masih mengantuk terus sepanjang hari. Tidak banyak kegiatan, tetapi merasa letih dan lesu. Pernahkah Sahabat Sehat mengalami hal tersebut? Apa sih yang salah?

 

Mengenal Excessive Daytime Sleepiness

Excessive daytime sleepiness (EDS) adalah rasa mengantuk yang disertai dorongan untuk tidur di waktu yang seharusnya tetap terjaga. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, performa kerja, dan kualitas hidup secara signifikan. EDS itu sendiri bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala dari kondisi atau penyakit lain.

EDS dapat disebut sebagai gejala yang normal apabila muncul pada seseorang yang terlalu lelah dan tidak memiliki tidur yang cukup. EDS tersebut akan menghilang jika mereka sudah beristirahat atau mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas. Apabila menetap, berarti EDS tersebut merupakan gejala dari penyakit lain seperti gangguan pernapasan saat tidur (sleep-related breathing disorder), gangguan gerak saat tidur (sleep related movement disorder), gangguan irama tidur (irama sirkadian), dan gangguan hipersomnia. Selain itu, EDS juga bisa menjadi gejala dari gangguan mental/psikiatri seperti depresi. EDS juga dapat muncul pada berbagai penyakit lain seperti demensia, pasca stroke, dan penyakit jantung kongestif.

 

 

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Mengalami EDS?

Penyebab munculnya EDS sangat bervariasi. Oleh karena itu, pasien yang mengalami EDS perlu berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kebiasaan tidur, mendeteksi gangguan fisik, atau gangguan psikiatri. Apabila dokter mencurigai pasien mengalami EDS akibat gangguan psikiatri, maka pasien perlu berkonsultasi dan berobat ke dokter spesialis kejiwaan. Apabila dokter mencurigai pasien mengalami EDS akibat gangguan tidur lainnya, maka pasien perlu menjalani pemeriksaan polisomnografi (PSG).

Pemeriksaan Polisomnografi pada Penderita EDS

Pemeriksaan PSG merupakan pemeriksaan baku emas (gold standard) untuk mendeteksi berbagai gangguan tidur yang memicu EDS, seperti gangguan pernapasan saat tidur (obstructive sleep apnea dan central sleep apnea), gangguan gerak saat tidur (restless legs syndrome dan periodic limb movement), serta hipersomnolen (misalnya narkolepsi). Beberapa alat akan dipasang di tubuh pasien. Alat tersebut berguna untuk mendeteksi gelombang otak, kontraksi otot, gerakan mata, detak jantung, hembusan napas, gerakan dada, gerakan perut, dan kadar oksigen dalam darah selama pasien tidur. Pasien harus tidur selama satu malam di rumah sakit sambil dilakukan monitoring oleh petugas yang telah terlatih.

 

 

Dokter spesialis neurologi akan menilai hasil pemeriksaan PSG tersebut. Dokter akan menganalisis jenis gangguan tidur yang dialami oleh pasien dan tindakan apa yang harus dilakukan. Setiap gangguan tidur akan memiliki penanganan yang berbeda.

Pasien dengan gangguan tidur yang disertai dengan EDS tidak boleh minum obat sembarangan. Oleh karena itu, Sahabat Sehat jangan ragu untuk berkonsultasi jika mengalami keluhan di atas. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani Sahabat Sehat untuk menangani berbagai gangguan tidur.

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih)

 

Mohon dapat memberikan rating

Diabetes Gestasional: Waspadai Kenaikan Gula Darah Selama Kehamilan 5/5 (3)

Apa Itu Diabetes Gestasional?

Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang muncul selama kehamilan dan biasanya menghilang setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi ketika tubuh ibu hamil tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan selama masa kehamilan, sehingga kadar gula darah meningkat.

Perubahan hormon yang terjadi saat hamil dapat membuat tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, dan pada sebagian wanita, hal ini menyebabkan gula darah naik hingga menimbulkan gejala atau komplikasi.

Siapa yang Berisiko?

Setiap ibu hamil berpotensi mengalami diabetes gestasional, namun risikonya lebih tinggi pada mereka yang memiliki faktor-faktor berikut:

  • – Usia di atas 25 tahun
  • – Berat badan berlebih atau obesitas sebelum hamil
  • – Riwayat keluarga dengan diabetes
  • – Pernah mengalami diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
  • – Melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4 kg
  • – Riwayat keguguran berulang atau bayi lahir mati
  • – Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Gejala dan Waktu Terjadi

Sebagian besar ibu hamil tidak merasakan gejala khas, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting. Namun, pada beberapa kasus dapat timbul keluhan seperti:

  • – Sering haus dan sering buang air kecil
  • – Cepat lelah
  • – Penglihatan kabur
  • – Berat badan bayi meningkat berlebihan pada pemeriksaan USG

Diabetes gestasional biasanya terdeteksi pada trimester kedua atau ketiga, saat tubuh mengalami perubahan metabolik yang lebih besar.

Bagaimana Diagnosisnya?

Pemeriksaan skrining awal dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar gula darah pada usia kehamilan 24-28 minggu. Apabila didapatkan hasil yang tidak normal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Pemeriksaan ini dilakukan di laboratorium, di mana pasien diminta meminum larutan gula, kemudian kadar glukosa darah diperiksa pada waktu tertentu. Kriteria diagnosis mengikuti panduan dari WHO atau Kementerian Kesehatan RI. Bila kadar glukosa melebihi batas normal, maka ibu hamil dinyatakan mengalami diabetes gestasional.

Dampak bagi Ibu dan Janin

  • – Bayi besar (makrosomia), sehingga berisiko saat persalinan
  • – Kelahiran prematur
  • – Hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) pada bayi setelah lahir
  • – Risiko bayi mengalami obesitas dan diabetes di kemudian hari
  • – Tekanan darah tinggi dan preeklampsia pada ibu
  • – Peningkatan resiko diabetes tipe 2 setelah melahirkan

Bagaimana Penanganannya?

Sebagian kasus dapat dikendalikan tanpa obat, dengan cara:

  • – Mengatur pola makan: makan lebih sering dengan porsi kecil, hindari makanan tinggi gula sederhana
  • – Aktivitas fisik ringan: seperti jalan kaki atau senam hamil sesuai anjuran dokter
  • – Pemantauan kadar gula darah secara teratur

Bila kadar gula darah tetap tinggi, dokter dapat memberikan insulin untuk menjaga agar kadar gula darah tetap aman. Obat oral biasanya tidak direkomendasikan selama kehamilan.

Bagaimana Mencegahnya?

  • – Menjaga berat badan ideal
  • – Mengonsumsi makanan sehat dan seimbang
  • – Rutin berolahraga
  • – Melakukan pemeriksaan kadar gula darah bila memiliki faktor risiko
  • – Kontrol antenatal secara teratur

Kesimpulan

Diabetes gestasional adalah kondisi serius namun dapat dikendalikan dengan baik bila terdeteksi dini. Pemeriksaan kehamilan rutin, pola makan sehat, dan gaya hidup aktif sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Setelah melahirkan, pemeriksaan gula darah tetap perlu dilakukan, karena sebagian wanita berisiko mengalami diabetes tipe 2 di masa depan.

Disclaimer

Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan umum. Untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis profesional.

Artikel ditulis oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

Referensi

  1. American Diabetes Association. Standards of Medical Care in Diabetes – 2025. Diabetes Care.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Gestasional. 2021.
  3. World Health Organization. Diagnostic criteria and classification of hyperglycaemia first detected in pregnancy. 2013.

 

Info Selanjutnya :

Klinik Penyakit Dalam

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Mendengkur Saat Tidur, Wajar atau Tidak? 5/5 (13)

Sahabat Sehat pasti pernah mendengar orang yang mendengkur saat tidur. Atau justru Sahabat Sehat sendiri yang mengalaminya? Mendengkur atau mengorok adalah suara kasar yang terdengar saat seseorang sedang tidur. Banyak orang yang menganggap mendengkur adalah hal yang wajar dan tidak berbahaya. Benarkah demikian?

Mengapa Seseorang Bisa Mendengkur?

Mendengkur terjadi karena saluran pernapasan bagian atas bergetar saat seseorang bernapas. Ketika tidur, otot di rongga mulut, lidah, dan tenggorokan akan menjadi rileks. Udara yang berhembus saat bernapas akan menggetarkan otot-otot di daerah tersebut dan suara mendengkur akan terdengar.

Tidak semua orang bisa mendengkur. Biasanya, seseorang dengan kelainan bentuk rongga mulut, leher yang pendek, dan obesitas akan lebih mudah mendengkur. Mendengkur juga lebih sering dijumpai ketika seseorang sedang tidur pulas/tidur dalam.

 

Apakah Mendengkur Berbahaya?

Pernahkah Sahabat Sehat melihat orang yang tampak berhenti bernapas setelah mendengkur? Beberapa saat kemudian, orang tersebut akan kembali bernapas atau bahkan sampai terbangun. Mendengkur bukan hal yang wajar meskipun sedang lelah dan dapat menjadi suatu kondisi yang berbahaya, karena sering terkait dengan suatu penyakit yang disebut sebagai Obstructive Sleep Apnea (OSA). Penderita OSA akan mendengkur saat tidur dan disertai dengan berhentinya napas sementara. OSA dapat terjadi secara berulang dalam satu malam. Semakin sering dan semakin lama durasi henti napas, maka semakin berat derajat keparahan penyakit OSA.

OSA sering tidak terdiagnosis. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kondisi ini membuat penderita OSA tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Padahal, kejadian OSA berhubungan dengan berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke. Selain itu, OSA juga dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan diabetes melitus.

Penderita OSA cenderung mengantuk di pagi dan siang hari meskipun sudah tidur semalaman. Sehingga, kemampuan mereka untuk berkonsentrasi dan performa kerja akan menurun. Penderita OSA yang berat dapat berisiko mengalami kecelakaan atau cedera karena mengalami microsleep. Microsleep adalah kondisi dimana seseorang mendadak tertidur sesaat di tengah kegiatan mereka.

Bagaimana Cara Mendeteksi Obstructive Sleep Apnea Secara Objektif?

Polisomnografi (PSG) merupakan pemeriksaan yang harus dilakukan pada penderita OSA.  Pada pemeriksaan PSG, beberapa alat akan dipasang di tubuh pasien. Alat tersebut berguna untuk mendeteksi gelombang otak, kontraksi otot, gerakan mata, detak jantung, hembusan napas, gerakan dada, gerakan perut, dan kadar oksigen dalam darah selama pasien tidur. Pasien harus tidur selama satu malam di rumah sakit sambil dilakukan monitoring oleh petugas yang telah terlatih.

Dengan melakukan pemeriksaan ini, kita dapat mengetahui tingkat keparahan OSA secara objektif. Kita juga dapat mengetahui posisi tubuh yang sering memicu OSA dan mendeteksi gangguan tidur lain yang menyertai OSA.

 

 

Bagaimana Penanganan Obstructive Sleep Apnea?

Penanganan OSA tergantung dari derajat keparahan OSA. Setiap derajat keparahan OSA memiliki penanganan yang berbeda. OSA derajat berat bahkan memerlukan alat khusus untuk membantu pernapasan selama tidur. Pemicu OSA juga harus dideteksi. Pasien OSA dengan obesitas, kelainan rongga hidung, kelainan rongga mulut, atau kelainan bentuk rahang memiliki penanganannya tersendiri.

Apabila Sahabat Sehat merasa memiliki kondisi di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter spesialis neurologi. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani Sahabat Sehat demi tidur yang lebih berkualitas.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih)

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating