Ultrasonografi (USG)

Ultrasonografi merupakan salah satu alat diagnostik di radiologi yang menggunakan dasar gelombang suara freuensi tinggi 2 sampai 13 megahertz, dimana gelombang suara tersebut dapat menghasilkan suatu gambar dari organtubuh manusia yang tidak terlihat dari luar. Alat ini salah satu dari alat-alat radiologi yang tidak menggunakan sinar x, selain MRI. Alat ini dikenal masyarakat umum pada awalnya untuk melihat kondisi janin seorang ibu hamil. Pemeriksaan ibu hamil yang semula hanya dilakukan dengan perabaan dari luar dan mendengar denyut jantung janin dengan alat dari luar, telah mengalami perubahan drastic dengan alat ultrasonoraphy ini. Karena janin langsung dapat periksa kondisinya secara langsung dan dapat penghasilkan gambar Janin dari layar alat ultrasonografi ini.

Setelah itu alat ini beranjak untuk pemeriksaan organ tubuh lainnya. Sehingga pemeriksaan dengan alat ini menjadi favorite untuk mendeteksi awal adanya kelainan dalam tubuh manusia tanpa harus terpapar sinar X dan juga cukup simple dan tidak menyakiti pasien karena hanya dengan mengoles jeli pada kulit yang berfungsi sebagai penghantar gelombang suara dan menaruh ujung alat USG (probe USG) ke kulit manusia maka dapat terlihat organ-organ tubuh yang hendak di evaluasi.

Keunggulan USG ini secara teknis adalah alatnya cukup simple, pada umumnya tidak terlalu berat, banyak model dari yang portable dapat ditenteng seperti laptop sampai yang cukup besar namun masih cukup mobile untuk di pindah dengan mudah. Sedangkan keunggulan secara medis hampir seluruh organ dapat diperiksa dengan alat USG ini. Mulai dari kondisi otak pada janin, mata, leher, jantung, paru-paru, perut, pembuluh darah bahkan otot-otot juga dapat dilakukan evaluasi. Kelemahan USG ini salah satunya adalah lapangan pandang pemeriksaan yang terbatas sehingga pemeriksaan yang ada biasanya dilakukan satu-satu per organ dan apabila terdapat kelainan yang cukup besar maka tidak akan cukup terevaluasi pada layar alat USG.

Kelemahan lain adalah udara, karena factor udara akan menghambat lajunya gelombang suara sehingga mengaburkan gambar yang dihasilkan. Selain itu juga keterbatasan kedalaman pemeriksaan, apabila lapisan kulit yang terlalu tebal atau kondisi lemak bawah kulit juga akan menghambat dalam menghasilkan gambar yang lebih jelas.Dengan perkembangan teknologi sekarang juga telah terdapat alat USG 4 dimensi, yaitu dapat menghasilkan gambar 3 dimensi dan bergerak sehingga memungkinkan melihat gerakan langsung janin selama pemeriksaan. Alat ini banyak digunakan pada evaluasi janin ibu hamil.

Computed Tomography Scan (CT Scan)

CT Scan merupakan alat radiologi yang penggunaannya berbasis sinar X sehingga untuk pemeriksaan dengan alat ini benar-benar dilakukan dengan pertimbangan medis yang penting, karena sinar X yang diperlukan relative lebih besar dibandingkan dengan foto polos biasa, walau masih dalam nilai aman yang dapat diterima tubuh.

Keunggulan alat ini secara teknis dapat menghasilkan gambaran secara menyeluruh dari organ tubuh manusia sehingga dapat melihat kelainan yang besar yang tidak tercakup pada USG. Selain itu, alat CT Scan yang dimiliki oleh RS Panti Rapih adalah tipe generasi baru 64 slice yang berarti alat tersebut dapat menghasilkan gambar yang sangat detail dari organ tubuh manusia bahkan menghasilkan gambar 3 Dimensi.

Keunggulan alat ini adalah bentuknya yang sangat besar sehingga memerlukan persiapan ruangan khusus dan juga tenaga listrik yang memadai. Apabila pasien menggunakan alat logam yang permanen dalam tubuh seperti tambalan gigi amalgam, alat penyambung tulang, sendi palsu maka akan mengamburkan gambar disekitar organ yang terpasang logam tersebut.

Artikel ini ditulis oleh Unit Radiologi RS Panti Rapih

 

Peran Terapi Erythropoietin (EPO) Pada Tata Laksana Anemia Penyakit Ginjal Kronik

Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa dalam tubuh serta memiliki fungsi hormonal contohnya pengaturan tekanan darah oleh renin dan eritropoesis atau keseimbangan oksigen oleh eritropoetin (Daugirdas, 2001). Anemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronik disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab primernya adalah defisiensi hormon eritropoetin. Sedangkan penyebab sekundernya antara lain adalah defisiensi nutrisi (besi, asam folat, dan vitamin B12), peradangan, dan terganggunya kerja sumsum tulang. Selain itu, anemia pada pasien penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan beberapa hal yang merugikan bagi pasien antara lain meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler (K/DOQI National Kidney Foundation, 2006).

Menurut Konsensus Perkumpulan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) tahun 2011, tujuan tata laksana anemia pada penyakit ginjal kronik adalah meningkatkan hemoglobin (Hb) sehingga menurunkan kebutuhan transfusi darah, menghilangkan gejala yang ditimbulkan dari anemia, mencegah komplikasi kardiovaskuler, menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat anemia, dan meningkatkan kualitas hidup. Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah dengan penggantian produksi endogenous erythropoietin (EPO) yang tidak mencukupi. Pasien yang mendapatkan perhatian pada terapi EPO adalah  pasien dengan hipertensi tak terkendali (sistolik ³180 mmHg, diastolik ³ 110 mmHg), hiperkoagulasi, dan beban cairan berlebih. Kontra indikasi untuk terapi EPO adalah pasien yang hipersensitif terhadap EPO.

Jika anda mengalami gangguan kesehatan, segera konsultasikan kesehatan anda ke dokter RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh: Dra. A.M. Wara Kusharwanti, M.Si.,Apt, Chr. Asri Wulandadari, S.Farm.,Apt, M.Wulan Kurniasari, S.Farm.,Apt

Manfaat Kesehatan Jalan Kaki

Untuk menjaga kesehatan tubuh, jalan kaki merupakan salah satu kegiatan fisik yang disarankan, terutama di pagi hari karena pada saat tersebut udara masih segar, tidak ada polusi, tidak panas dan jalanan tidak macet. Namun sayangnya dengan berbagai alasan, sebagian besar diantara masyarakat kita masih banyak yang jarang melakukannya, misalnya saja karena susah bangun pagi, malas, dan sebagainya.

Ada sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa olahraga jalan kaki bisa memberikan banyak manfaat kesehatan selama dilakukan setidaknya 20 hingga 25 mil dalam 1 minggu, dimana mereka yang melakukannya cenderung memiliki usia yang lebih lama jika dibandingkan dengan mereka yang jarang berjalan kaki.

Berikut ini adalah Manfaat Kesehatan Jalan Kaki, diantaranya :

  • Mencegah osteoporosis

Untuk menjaga kesehatan tulang, tubuh tidak hanya membutuhkan vitamin D dan kalsium namun juga gerakan kaki yang dilakukan setidaknya 1.000 langkah dalam setiap hari dan tubuh yang terkena sinar matahari setidaknya 15 menit dalam setiap harinya. Bilamana anda rutin berjalan kaki maka tulang anda akan memiliki resiko yang kecil untuk terkena masalah osteoporosis.

  • Menguatkan otot

Ketika anda berjalan kaki, badan dan otot anda akan bergerak yang bisa memperkuat otot paha, kaki dan bokong.

  • Menurunkan Berat badan

Seseorang yang memiliki berat badan yang berlebihan selain bisa merusak penampilan tubuh juga bisa meningkatkan resiko yang tinggi untuk terkena penyakit. Untuk mencegah masalah tersebut anda bisa membiasakan diri untuk berjalan kaki setiap pagi dimana kebiasaan ini bisa membakar kalori.

  • Melancarkan sirkulasi darah

Ketika anda berjalan kaki, detak jantung anda akan berdetak lebih cepat yang akan memompa darah ke seluruh tubuh sehingga akibatnya akan membuat sirkulasi darah dalam tubuh tetap terjaga dengan baik.

  • Mengontrol gula darah

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Medical Association menyebutkan bahwa sering melakukan latihan jalan kaki setiap pagi hasilnya akan meningkatkan kemungkinan untuk menjaga kestabilan gula darah dalam tubuh.

  • Menjaga kesehatan jantung

Bila anda ingin supaya kesehatan jantung anda tetap terjaga dengan baik maka anda bisa mulai membiasakan diri untuk berjalan kaki setiap hari. Kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi disebutkan bisa mencegah serangan jantung. Dengan demikian anda tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk menjaga kesehatan jantung karena anda bisa melakukannya dengan hanya memiliki kebiasaan berjalan kaki.

  • Menyehatkan paru-paru

Berjalan kaki dengan irama yang cepat disebutkan baik untuk kesehatan fungsi organ paru-paru, terutama ketika dilakukan di pagi hari dimana udara masih segar dan masih bebas dari asap polusi.

  • Mencegah Diabetes

Dengan terjaganya kadar gula darah dalam tubuh maka secara tidak langsung akan mencegah resiko penyakit diabetes. Menurut hasil penelitian dari National Institute of Diabetes and Gigesive and Kidney Diseases, disebutkan bahwa berjalan kaki dengan kecepatan 6 km/ jam dan dilakukan selama 50 menit saja bisa menekan resiko penyakit diabetes.

  • Menurunkan Tekanan Darah

Berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi bisa membuat tekanan darah menjadi turun dan bisa mengurangi tingkat kepekatan darah.

Dengan demikian kebiasaan berjalan kaki bisa mencegah terjadinya penggumpalan darah yang bisa menyebabkan pembuluh darah menjadi tersumbat.

  • Menurunkan Kolesterol

Ketika anda berjalan kaki di pagi hari maka jenis kolesterol yang baik akan berfungsi sebagai penyerap jenis kolesterol yang jahat.

  • Mencegah Stroke

Dalam hasil penelitian yang terbaru disebutkan bahwa memiliki kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setidaknya 20 jam dalam 1 minggu bisa menurunkan resiko penyakit stroke sebanyak 2-3 kali. Dengan demikian wajar saja jika orang-orang pada jaman dahulu jarang ada yang memiliki penyakit stroke karena di masa tersebut sebagian besar masyarakat memiliki kebiasaan berjalan kaki ketika bepergian kemana-mana.

  • Menjaga kebugaran dan Kekebalan Tubuh

Memiliki kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setidaknya 3 kali dalam 1 minggu bisa meningkatkan kebugaran tubuh dan menjaga sistem pernapasan yang pada akhirnya bisa menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit.

  • Meningkatkan metabolisme tubuh

Seseorang yang terbiasa berjalan kaki setiap pagi cenderung memiliki peningkatan terhadap metabolisme meskipun dirinya tidak bergerak.

  • Membakar lemak dalam tubuh

Berjalan kaki setidaknya 20 menit dalam setiap harinya disebutkan bisa membakar setidaknya 7 pounds lemak dalam tubuh.

  • Membantu Otak melepaskan hormon endorfin

Endorfin merupakan hormon yang mengandung senyawa kimia yang bisa memicu seseorang untuk merasa bahagia. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituitary yang letaknya berada di bagian bawah otak. Endorfin disebutkan bisa memberikan efek yang setara dengan 200 kali dari efek yang diberikan oleh morfin, yaitu menimbulkan perasaan bahagia, nyaman dan memberikan energi tambahan.

  • Meningkatkan kekuatan konsentrasi

Dengan berjalan kaki maka anda akan menjadi lebih waspada sehingga akan mengoptimalkan kekuatan otak untuk semakin berkonsentrasi.

  • Seperti Melakukan Meditasi

Berjalan kaki yang dilakukan di pagi hari bisa memberikan manfaat yang setara dengan yoga dimana angin segar yang mengenai tubuh akan mengeluarkan energi positif dan bisa menghilangkan masalah yang berhubungan dengan mental, misalnya depresi.

  • Mencegah Pikun

Seseorang yang sudah memasuki usia lanjut di atas 65 tahun memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mudah mengalami pikun. Kebiasaan berjalan kaki yang dilakukan setiap pagi bisa mengurangi resiko pikun sebesar 40% dan bahkan bisa menjaga fungsi otak.

  • Menjaga kualitas tidur yang baik

Penelitian yang dilakukan oleh Fred Hutchison Cancer Research Center di Seattle, menyebutkan bahwa olah raga yang dilakukan pada pagi hari seperti berjalan kaki bisa meningkatkan kemungkinan untuk tidur nyenyak pada malam hari.

Dengan demikian berjalan kaki bukan hanya suatu kegiatan interaksi serta aktivitas yang bisa mengantarkan anda ke suatu tempat tujuan, namun juga bisa membantu menjaga kesehatan.

 

Reaksi Transfusi

Reaksi transfusi adalah kejadian tidak diinginkan yang terjadi pada saat atau setelah transfusi. Reaksi transfusi untuk sebagian besar terjadi selama transfusi berlangsung atau sesaat sesudahnya, sedangkan sebagian lagi mamakan waktu lebih lama, dengan gejala-gejala yang tidak nyata dan efek terapeutik yang diharapkan tidak tercapai.

Berdasarkan waktu timbulnya gejala, reaksi transfusi dibedakan menjadi reaksi transfusi segera dan tertunda.

  • Reaksi transfusi segera adalah reaksi transfusi dengan gejala yang timbul selama transfusi sampai kira-kira 2 jam sesudahnya.
  • Reaksi transfusi tertunda apabila gejalanya timbul beberapa lama setelah transfusi selesai yaitu mulai dari beberapa hari, bulan sampai beberapa tahun berikutnya.

 

Pedoman untuk penegakan diagnosis dan penatalaksanaan reaksi transfusi yang segera.

Kategori 1 : Reaksi Ringan

  • Ditandai dengan reaksi kulit yang terbatas yaitu urtikaria atau ruam.
  • Gejalanya adalah pruritus atau gatal-gatal dengan kemungkinan penyebab hipersensitivitas (ringan).

Penatalaksanaan segera:

  • Perlambat transfusi.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen).
  • Jika dalam waktu 30 menit tidak tampak perbaikan klinis atau bila tanda dan gejalanya memburuk, lakukan penanganan seperti kategori 2.

 

Kategori 2 : Reaksi yang cukup berat

  • Ditandai dengan flusing, urtikaria, rigor, febris, gelisah dan takikardia.
  • Gejalanya adalah kecemasan, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan sakit kepala.
  • Kemungkinan penyababnya hipersinsitivitas (sedang-berat); reaksi transfusi febris non hemolitik (antibodi terhadap sel darah putih atau trombosit, antibodi terhadap protein termasuk Ig A) ; kemungkinan kontaminasi dengan pirogen dan/atau bakteri.

Penatalaksanaan segera:

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan dengan tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen) dan berikan preparat antipiretik oral atau rektal (misalnya parasetamol 10 mg/kg : 500 mg – 1 g pada pasien dewasa). Hindari pemakaian aspirin pada pasien yang mengalami trombositopenia.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Kumpulkan urin selama 24 jam berikutnya untuk bukti hemolisis dan kirimkan sampel urin tersebut ke laboratorium.
  • Jika terjadi perbaikan klinis, mulailah kembali transfusi secara perlahan-lahan dengan unit darah yang baru dan lakukan observasi yang cermat.
  • Jika tidak terjadi perbaikan dalam waktu 15 menit atau jika tanda dan gejalanya bertambah, lakukan penanganan seperti kategori 3.

 

Kategori 3 : Reaksi yang mengancam jiwa pasien

  • Ditandai dengan rigor, febris, gelisah, hipotensi (penurunan tekanan darah sistolik sebesar 20 %), takikardia (kenaikan frekwensi jantung sebesar 20%), hemoglobinuria (urin berwarna merah), perdarahan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (DIC).
  • Gejalanya adalah kecemasan, nyeri dada, nyeri di dekat tempat transfusi, gawat pernafasan/ sesak nafas, nyeri pada pinggang/punggung, sakit kepala, dipsnea.
  • Kemungkinan penyebabnya adalah hemolisis akut intravaskular, kontaminasi bakteri dan syok septik, kelebihan muatan cairan, anafilaksis, cidera paru akut yang berkaitan dengan cidera.

 

Penatalaksanaan segera :

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Berikan infus larutan salin normal (dosis inisial 20 – 30 ml/kgBB) untuk mempertahanankan tekanan darah sistolik. Jika pasien mengalami hipotensi, berikan infus tersebut selama lima menit dan tinggikan kedua tungkai pasien.
  • Pertahankan saluran nafas pasien dan berikan oksigen dengan kecepatan aliran yang tinggi lewat masker oksigen.
  • Suntikan adrenalin (dalam bentuk larutan 1 : 1000) dengan takaran 0,01 mg/kgBB secara intramuskular.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Berikan preparat diuretik: misalnya furosemid 1 mg / kgBB IV atau preparat yang ekuivalen.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin yang harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) yang diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan denban tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Lakukan pengecekan terhadap spesimen urin yang baru untuk menemukan tanda-tanda hemoglobinuria.
  • Mulai pengumpulan urin 24 jam dan mengisi kartu keseimbangan cairan serta mencatat semua asupan serta keluaran urin.
  • Pertahankan keseimbangan cairan.
  • Perhatikan perdarahan yang terjadi pada tempat tusukan atau luka. Jika terdapat bukti klinis atau laboratorium yang menunjukkan koagulasi intravaskular disseminata (DIC), berikan preparat konsentrat trombosit (disis dewasa 12 unit) atau plasma beku segar (dosis dewasa 3 unit).
  • Lakukan pengakajian ulang, jika pasien dalam keadaan hipotermia:
    • Ulangi pemberian infus larutan salin dengan takaran 20 – 30 ml / kgBB dalam waktu 5 menit.
    • Berikan inotrope jika preparat ini tersedia.
  • Jika keluaran urinnya menurun atau pemeriksaan laboratorium membuktikan adanya gagal ginjal akut (kadar kalium, ureum dan kreatinin meningkat):
    • Pertahankan keseimbangan cairan secara akurat.
    • Ulangi suntikan furosemid.
    • Pertimbangkan pemberian dopamin jika preparat ini tersedia.
    • Mintalah bantuan dokter spesialis karena pasien mungkin memerlukan dialisis renal.
  • Jika terdapat kecurigaan bakterimia (gejala rigor/menggigil, febris, kolap tanpa adanya bukti reaksi hemolitik), mulailah menyuntikan antibiotik berspektrum luas secara IV.

Beberapa penyakit yang dapat ditularkan lewat transfusi meliputi :

  • Hepatitis B
  • Hepatitis C
  • HIV/AIDS
  • Syphilis
  • Malaria
  • CMV
  • Epstein-Barr virus
  • Filariasis
  • Toxoplasmosis
  • Infeksi bakteri lainnya

 

Artikel ini ditulis oleh: Sapti Pudyandari FY

 

Pra-Analitik Pemeriksaan Cairan Otak

PENDAHULUAN

Cairan tubuh merupakan bahan pemeriksaan yang sering diminta untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit. Cairan otak adalah salah satu dari cairan tubuh selain urin, cairan serosa, cairan sendi, cairan tubulus seminalis atau semen. Cairan otak memiliki karakteristik yang berbeda dengan cairan tubuh yang lain, sehingga diperlukan persiapan, cara pengambilan dan penanganan bahan pemeriksaan yang berbeda juga dari cairan tubuh yang lain. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang benar dan dapat dipercaya, diperlukan tahap pra – analitik yang baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap pra – analitik adalah indikasi pemeriksaan, cara pengambilan, penyimpanan dan pengiriman bahan pemeriksaan. Di samping itu perlu diketahui juga hal – hal yang harus diperhatikan dan dicatat pada saat pengambilan bahan, yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan atau dapat memberi petunjuk awal terhadap hasil pemeriksaan. Diharapkan dengan pra – analitik yang baik, akan dapat memberikan hasil pemeriksaan yang benar dan dapat dipercaya.

FISIOLOGI

Otak dilindungi oleh tiga lapis membran dari luar ke dalam yaitu duramater, arachnoid dan piamater. Lapisan piamater melekat erat pada otak, sedangkan lapisan arachnoid  diliputi oleh banyak pembuluh darah otak. Cairan otak terletak dalam rongga/ruang subarachnoid yaitu antara lapisan arachnoid dan piamater. Cairan ini diproduksi oleh kapiler – kapiler pada piamater yang membentuk plexus choroideus. Cairan akan bersikulasi melingkari otak dan medula spinalis. Resorbsi dilakukan oleh villi pada membran arachnoid.

Fungsi cairan otak tersebut untuk membawa nutrisi bagi jaringan saraf, mengangkut sisa metabolisme dan sebagai pertahanan terhadap trauma bagi otak dan medula spinalis. Pada orang normal jumlah cairan otak 90 – 150 ml, pada anak 60 – 100 ml, dan neonatus 10 – 60 ml. Pada keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan resorbsi, jumlah cairan otak akan meningkat.

PRA – ANALITIK

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada tahap pra – analitik yaitu persiapan penderita, pengambilan bahan pemeriksaan berupa cairan otak, serta penanganan setelah bahan diambil termasuk penyimpanan dan pengiriman ke laboratorium.

1. Persiapan Penderita

Dalam pengambilan cairan otak, penjelasan harus diberikan dengan jelas dan baik, karena tindakan pungsi cairan otak merupakan tindakan yang invasif dan lebih beresiko jika dibandingkan dengan tindakan pengambilan darah. Selain itu, dokter yang merawat hendaknya juga memberitahukan kepada penderita dan keluarganya kapan tindakan akan dilakukan, karena bahan pemeriksaan yang sudah diambil harus segera dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.

2. Pengambilan Bahan

Sebelum dilakukan pengambilan bahan pemeriksaan, disiapkan dahulu formulir permintaan pemeriksaan, wadah/tabung penampung yang berlabel identitas penderita serta semprit/tabung dan jarum yang sesuai. Pada formulir diisi lengkap : identitas pasien (nama, nomor register, nomor rekam medis, ruangan), keterangan klinik/diagnosis, jenis cairan tubuh, dan pemeriksaan yang diminta.

Wadah/tabung penampung untuk cairan otak adalah 3 buah tabung yang diberi nomor urut sesuai dengan urutan yang digunakan. Tabung untuk pemeriksaan mikrobiologi harus steril. Antikoagulan yang digunakan untuk pemeriksaan cairan tubuh adalah K3EDTA cair atau sodium heparin.

Cairan otak diambil dengan cara pungsi. Daerah yang akan dipungsi dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian dilakukan pungsi menggunakan semprit/tabung dan jarum yang sesuai. Cairan otak diambil dengan pungsi lumbal pada L3 – L4 atau L4 – L5.

3. Penanganan Bahan

Untuk cairan otak setelah diambil dan ditampung dalam tabung yang telah disiapkan, pada masing – masing tabung dicantumkan tanggal dan jam saat pengambilan cairan. Hal ini sangat penting karena analisis cairan otak harus dilakukan segera setelah bahan diambil. Keterlambatan dalam pengiriman bahan pemeriksaan ke laboratorium akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Sebagai contoh, kadar glukosa akan menurun secara signifikan setelah 1 jam pengambilan, serta kadar protein akan meningkat akibat destruksi sel. Oleh sebab itu cairan otak sebaiknya dikirim ke laboratorium segera setelah dilakukan pengambilan.

Apabila cairan tidak dapat segera diperiksa, harus disimpan pada suhu 40C.

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Laksmita Wahyu Kurniawati

Pemeriksaan Kultur Darah dengan Alat Otomatis

Kultur mikrobiologi, adalah suatu metoda memperbanyak mikroba pada media kultur dengan pembiakan di laboratorium yang terkendali. Microbial cultures atau kultur mikrobiologi digunakan untuk menentukan jenis dari organisme tersebut, keberlimpahannya, atau keduanya. Ini adalah metode diagnostik utama dari mikrobiologi dan digunakan sebagai alat untuk menentukan penyebab dari penyakit infeksi dengan membiarkannya berkembangbiak di medium tertentu. Sebagai contoh, kultur tenggorokan mengambil contoh dengan menyapu bagian ujung dalam tenggorokan dengan cotton bud yang panjang dan membiakkannya pada cawan petri dengan agar, sehingga dapat diketahui mikroba yang berbahaya, misalnya Streptococcus pyogenes, yang menyebabkan penyakit strep throat. Selanjutnya, terma kultur lebih umum digunakan secara tak resmi untuk “pengembangbiakan secara selektif (selectively growing)” mikroba tertentu di laboratorium.

Untuk melakukan pemeriksaan kultur darah, dokter akan mengambil sampel darah dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Dimana hasilnya baru dapat diketahui dalam beberapa hari. Jika seorang sakit parah, dokter mungkin akan memulai perawatan sebelum mendapatkan hasil lengkap kultur darah, pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab infeksi.

yang paling mungkin atau kalau dirumah sakit memakai pedoman pola kuman. Kemudian setelah hasil kultur keluar pengobatannya dapat diubah disesuaikan dengan hasil pemeriksaan kultur dan sensitivitas.

Secara ideal untuk pemeriksaan kultur darah dibutuhkan dua atau lebih sampel darah yang diambil pada interval waktu tertentu dari tempat pengambilan yang terpisah (biasanya vena lengan yang berbeda). Hal ini dilakukan supaya pemeriksaan masih dapat mendeteksi mikroorganisme yang mungkin ada dalam jumlah yang sedikit dan atau dilepaskan ke dalam aliran darah secara intermiten, juga membantu memastikan bahwa mikroorganisme yang terdeteksi adalah yang menyebabkan infeksi dan bukan hanya sebagai kontaminan.

Tiga tujuan utama kultur darah yaitu :

  • Mengetahui penyebab dari infeksi
  • Mengidentifikasi agen penyebab
  • Menentukan pemberian terapi antibiotik

Kenapa dilakukan kultur darah?

Selama perjalanan penyakit, beberapa bakteri dan jamur penyebab infeksi dapat menyerang aliran darah dan menyebar ke bagian lain dari tubuh, jauh dari lokasi infeksi aslinya. Tujuan kultur darah adalah untuk mengungkapkan sejumlah infeksi atau adanya masalah, seperti endokarditis, masalah berat dan berpotensi mengancam nyawa yang terjadi ketika bakteri dalam aliran darah ke katup jantung.

Kultur darah mungkin juga mendeteksi organisme penyebab infeksi lain seperti osteomyelitis, infeksi tulang sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus, dan selulitis, suatu infeksi kulit yang melibatkan jaringan tepat di bawah permukaan kulit.

Bagaimana proses mengambil kultur darah?

Idealnya kulit harus dibersihkan dengan sabun dan dibilas dengan air steril yang diikuti pemberian cairan yodium berbasis solusi. Kemudian dicuci dengan larutan alkohol 70% dan dikeringkan sekitar 30 detik. Setiap usaha untuk menggunakan teknik aseptik harus dilakukan, misalnya Betadine dan / atau alkohol semprot dan sarung tangan. Beberapa studi menunjukkan tingkat kontaminasi mungkin tergantung pada jenis larutan antiseptik digunakan.

Sterilisasi kulit harus dilakukan dengan hati-hati karena penting untuk mencegah kontaminasi dari darah yang sedang ditarik. Dengan begini dapt membunuh bakteri yang mungkin berada di permukaan kulit sehingga mereka tidak muncul dalam kultur darah dan mengganggu identifikasi kuman penyebab infeksi.

Kadang-kadang terlihat seperti banyak darah diambil untuk dilakukan kultur, tetapi penting bahwa darah cukup untuk mendapatkan hasil yang akurat. Darah yang diambil mungkin kurang lebih 5 mL  pada bayi dan sekitar 5-10 mL pada anak-anak yang lebih tua. Jumlah darah yang diambil sangat kecil dibandingkan dengan jumlah darah dalam tubuh, dan itu akan diperbaharui dalam waktu 24-48 jam. Setelah kultur darah yang diambil, harus diberi label dan dikirim ke laboratorium tanpa penundaan. Kultur dasar diinkubasi selama 14 hari dan blind culture dilakukan setelah 3, 7 dan 14 hari atau segera setelah ada tandatanda pertumbuhan (misalnya kekeruhan, hemolisis, koloni di lereng agar dalam wadah. Cara pemeriksaan kultur darah dengan mencari hasil positif, dilakukan minimal dua kali sehari saat menggunakan sistem manual.

Sistem otomatis yang dipakai di laboratorium rumah sakit Panti Rapih adalah BacT/Alert Blood Culture System di mana pertumbuhan positif melepaskan CO2 yang dideteksi oleh sensor yang memberitahu staf laboratorium (wadah ditempatkan dalam lemari khusus dan terkait dengan barcode pasien). Jika dideteksi adanya pertumbuhan, wadah dilakukan subkultur dan stain Gram. Dari sini, sensitivitas yang relevan dapat ditentukan. Dalam beberapa kasus organisme dapat diidentifikasi dalam hitungan jam untuk mendeteksi hasil yang positif dengan menggunakan tes pewarnaan Gram dan tes lebih lanjut.

Pemeriksaan lebih lanjut yang mungkin dilakukan langsung pada biakan darah untuk mempercepat identifikasi seperti pengelompokan streptokokus, tes koagulasi, tes antigen untuk pneumococcus dan meningococcus, dll. Metode modern seperti di laboratorium dilakukan secara otomatic dengan alat Vitek telah membantu dalam mempercepat identifikasi organisme dan dapat dilakukan langsung dari wadah kaldu. Biasanya, jika harus ada pertumbuhan, umumnya hanya ada satu organisme, namun sangat jarang, mungkin ada lebih dari satu organisme dan laboratorium akan melakukan tes kepekaan dan tes lanjutan untuk semuanya.

Fitur dan Keuntungan dengan Alat Otomatic

  • Pengerjaannya sangat mudah digunakan, sehingga menghemat waktu, membantu mencegah kesalahan, sehingga bisa mengurangi lama rawat inap
  • Sistem ini menggunakan botol langsung, sehingga mengurangi kontaminasi pada pekerjanya atau menjaga keselamatan pada pekerja
  • Bisa dilakukan kontrol kualitas
  • Bisa mengeliminasi antibiotik yang sudah diberikan oleh dokter yang merawatnya sebelum dilakukan pemeriksaan mikrobiologi, sehingga angka kepositipannya lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan manual. Untuk neutralisasi antimikrobial disini digunakan Adsorbent Polymetric  Beads (APB)
  • Bisa mendeteksi beberpa mikroba secara langsung, misalnya bakteri dan jamur  bisa langsung diperiksa bersama-sama
  • Bisa sekalian memeriksa kuman salmonella typhi langsung bersamaan dengan kuman lain

Sampel yang digunakan:

  • Darah
  • Cairan tubuh yang steril

 

Artikel ditulis oleh: Ririn Maretawati

Produk Darah

Adalah setiap substansi terapeutik yang dibuat dari darah manusia.

Macam-macam produk darah:

  • Darah Lengkap
  • Komponen eritrosit
  • Komponen trombosit
  • Komponen plasma
  • Komponen granulosit

Darah Lengkap (WB):

Donor darah lengkap sebanyak 450 ml mengandung:

  • Volume total dapat mencapai 510 ml (volume bervariasi menurut kebijakan setempat).
  • 450 ml darah donor.
  • 63 ml pengawet antikoagulan.
  • Hemoglobin kurang lebih 12 g/ml
  • Hematokrit 35 – 45 %
  • Tidak ada faktor koagulasi yang labil.
  • Satuan pemberian : satu donor yang juga disebut sebagai “unit” atau “pak”.

Risiko infeksi:

Menularkan mikroorganisme yang belum terdeteksi oleh pemeriksaan skrining.

Penyimpanan :

  • Antara suhu 2 – 6 0C, selama penyimpanan pada suhu tersebut terjadi perubahan komposisi yang disebabkan oleh metabolisme sel darah merah.
  • Transfusi harus dimulai dalam waktu 30 menit setelah darah dikeluarkan dari lemari es.

Kerusakan komponen darah berhubung masa simpan WB dalam suhu 2-6oC dengan larutan ACD sebagai pengawet

Masa Simpan (hr) Kerusakan Komponen Darah
Terdapat kerusakan eritrosit 1-15% akibat proses pengambilan
1 Granulosit, kehilangan daya fagositosis
3 Trombosit
4 – 6 Faktor V dan Faktor VIII
21 30% protein
26 Plasma protein
21 – 28 Limfosit

Indikasi :

  • Penggantian sel darah merah pada kehilangan darah akut dan disertai hipovolemia.
  • Pasien yang memerlukan transfusi sel darah merah ketika tidak tersedia konsentrat atau suspensi sel darah merah.

Kontraindikasi :

Risiko kelebihan muatan volume pada pasien anemia kronis dan gagal jantung insipien.

Pemberian :

  • harus Rh D dan ABO kompatibel dengan resipien
  • jangan menambahkan obat dalam unit darah
  • transfusi harus sudah selesai dalam waktu empat jam sejak transfusi dimulai

Komponen Eritrosit

Tujuan :  meningkatkan kapasitas angkut oksigen darah

  1. Konsentrat Sel Darah Merah ( PRC / Darah Dengan Plasma Kurang)
  • Sel darah merah dengan volume 150 – 200 ml, sebagian besar plasmanya telah dikeluarkan.
  • Kadar Hb + 20 g / 100 ml (tidak kurang dari 45 g per unit)
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan sama seperti darah lengkap
  • Indikasi :

Anemia

  • Pemberian :

Sama seperti darah lengkap, dapat ditambahkan larutan salin normal (50 – 100 ml) dengan set infus berbentuk Y.

  1. Suspensi Sel Darah Merah
  • 150 – 200 ml sel darah merah dengan sisa plasma yang minimal dan ke dalamnya ditambahkan kurang lebih 100 ml larutan salin normal, adenin, glukosa, larutan manitol (SAG-M) atau larutan nutrien sel darah merah dengan jumlah yang sama.
  • Kadar Hb + 15 g / 100 ml (tidak < 45 g per unit)
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan:

Sama seperti darah lengkap.

  • Indikasi

Sama seperti PRC

  • Kontra indikasi :

Tidak dianjurkan untuk transfusi tukar pada neonatus.

  • Pemberian :

Sama seperti darah lengkap, dihasilkan kecepatan aliran darah yang lebih baik jika dibandingkan dengan konsentrat sel darah merah atau dengan darah lengkap.

  1. Sel Darah Merah yang telah dihilangkan Lekositnya
  • Suspensi atau konsentrat sel darah merah, mengandung < 5 x 106 ml sel darah putih per paknya, dipersiapkan dengan cara filtrasi melewati filter yang menyingkirkan lekosit.
  • Kadar Hb dan nilai Hmt tergantung apakah produk tersebut merupakan darah lengkap, konsentrasi sel darah merah ataukah suspensi sel darah merah.
  • Deplesi leukosit secara signifikan mengurangi risiko penularan sitomegalovirus (CMV).
  • Satuan pemberian : satu donor
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Penyimpanan :

Bergantung pada metode produksi, konsultasikan pada bank darah.

Indikasi:

  • Mengurangi immunisasi sel darah putih pada pasien yang mendapatkan transfusi berkali-kali; namun untuk menghasilkan keadaan ini, semua komponen darah yang diberikan kepada pasien harus bebas leukosit.
  • Mengurangi infeksi CMV pada situasi yang khusus.
  • Pasien yang pernah mengalami dua kali reaksi febris atau lebih terhadap transfusi sel darah merah.

Pemberiannya sama seperti darah lengkap.

  1. Eritrosit Cuci (Washed Red Cells)
  • Sajian eritrosit yang sudah dicuci dengan larutan garan fisiologik 2 – 3 kali untuk menyisihkan semua konstituen darah kecuali eritrosit.
  • Dengan pencucian ini ikut tersisihkan pula 93% lekosit.
  • Usia eritrosit hanya 24 jam setelah pencucian.

Indikasi :

  • Pasien yang masih menderita febris walaupun sudah mendapat sel darah merah yang telah dihilangkan Lekositnya.
  • Penderita penyakit alergi atau anafilaksi yang terpaksa harus ditransfusi, termasuk penderita asma bronkiale, penderita dengan defisiensi Ig A, hipersensitivitas terhadap protein plasma dan Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria.

Komponen Trombosit

Tujuan : Untuk pencegahan maupun pengobatan penderita trombositopenia atau trombositopatia.

  • Trombositopenia akibat kekurangan produksi trombosit yang paling sering adalah pada anemia aplastika, malignitas primer pada darah seperti lekemia, infiltrasi pada sumsum tulang misalnya limfoma atau carsinoma dan hipoplasi sumsum tulang baik yang sementara maupun yang menetap akibat kemoterapi atau radioterapi.
  • Untuk kasus-kasus tersebut seringkali memerlukan transfusi trombosit yaitu untuk pencegahan karena bila sudah terjadi perdarahan akan mempunyai angka kematian yang tinggi.
  • Transfusi pencegahan ini untuk mempertahankan jumlah trombosit antara 15.000 – 20.000 / ml. Biasanya diperlukan 4 – 6 unit.
  • Bila terjadi komplikasi febris, sepsis atau splenomegali maka diperlukan dosis yang lebih besar 12 – 16 unit.

Petunjuk menghadapi penderita trombositopenia dengan indikasi transfusi trombosit adalah :

    • Jumlah trombosit < 5.000 / ml dengan atau tanpa perdarahan adalah indikator mutlak.
    • Jumlah trombosit <20.000 / ml dengan disertai gejala perdarahan.
    • Jumlah trombosit <50.000 / ml pada operasi besar.
    • Penderita penyakit gangguan fungsi trombosit dengan perdarahan atau waktu perdarahan > 15 menit
    • Jumlah trombosit <100.000 / ml atau waktu perdarahan >15 menit, pada penderita pasca operasi cardiopulmonary bypass.
  1. Konsentrasi Trombosit (Trombosit Pekat / Platelet Concentrate)
  • Unit donor tunggal dalam volume 50 – 60 ml plasma, mengandung paling sedikit 55 x 109 trombosit, < 1,2 x 109 darah merah, < 1,2 x 109 lekosit.
  • Satuan pemberian dapat diberikan sebagai:
  • Unit donor tunggal, dibuat dari satu donor.
  • Unit yang dikumpulkan, dibuat dari 4 – 6 orang donor agar mengandung dosis dewasa, yaitu sedikitnya 240 x 109 trombosit.
  • Risiko infeksi sama seperti darah lengkap
  • Dapat disimpan hingga 72 jam pada suhu 20 – 24 0C (dengan pengguncangan).
  • Penyimpanan yang lama akan meningkatkan risiko profilasi bakteri dan septikemia.

Indikasi :

  • Perdarahan akibat trombositopenia maupun efek fungsi trombosit
  • Pencegahan perdarahan akibat trombositopenia, seperti pada kegagalan sumsum tulang

Kontraindikasi :

  • Tidak digunakan untuk profilaksi pada pasien bedah, kecuali jika pasien tersebut menderita defisiensi trombosit prabedah yang signifikan.
  • Bukan merupakan indikasi pada :
  • ITP, TTP, DIC yang tidak ditangani
  • Trombositopenia yang menyertai septikemia sampai sesudah terapi dimulai atau pada kasus hipersplenisme

Dosis :

Satu unit konsentrat trombosit tiap 10 kg berat badan.

Pada orang dewasa dengan berat badan 60 – 70 kg, pemberian 4 – 6 unit donor tunggal yang mengandung sedikitnya 240 x 109 trombosit seharusnya menaikkan jumlah trombosit sebesar 20 – 40 x 109 /L.

Kenaikkan jumlah trombosit tidak begitu besar jika terdapat splenomegali, DIC, septikemia.

  1. Plasma Kaya Trombosit (Platelet Rich Plasma)

Adalah plasma yang masih mengandung trombosit. Diberikan untuk kasus-kasus trombositopenia yang juga memerlukan faktor-faktor lain yang terdapat di dalam plasma seperti faktor-faktro koagulasi dan protein plasma sendiri sebagai volume expander.

  1. Trombosit Mampat (Pooled/Packed Platelet)

Dari trombosit pekat, masih dipusingkan lagi 5000 RPM dalam 5 menit untuk memisahkan plasma sebanyak mungkin dan kemudian diencerkan lagi sehingga volume semula 30 ml menjadi 50 ml. Sajian ini diberikan khusus untuk anak-anak yang mampu menerima volume plasma yang banyak.

  1. Trombosit Cuci (Washet Platelet)

Sajian dari trombosit pekat yang dicuci dengan larutan garam fisiologik sehingga bebas dari protein plasma. Ditujukan untuk kasus-kasus yang pernah mengalami reaksi transfusi berat.

  1. Trombosit Miskin Monosit (Monocyte Poor Platelet)

Disajikan darai trombosit pekat setelah diputar lagi 750 RPM 3 menit, dan diambil suspensi trombosit yang bebas monosit. Diberikan pada kasus-kasus yang ada riwayat alloimmunisasi terhadap antigen lekosit.

  1. Trombosit beku (Frozen Platelet)
  • Berguna untuk masa-masa dimana donor trombosit sukar diperoleh.
  • Dapat juga dipakai untuk kasus-kasus yang telah refrakter terhadap pemberian trombosit.
  • Trombosit dari Donor Tunggal (Siple Donor Platelet)
  • Diperoleh dengan cara apheresis dan ditujukan untuk penderita trombositopenia yang memerlukan multi transfusi dan telah mengalami refrakter terhadap random donor. Keuntungan dari donor tunggal ini adalah disamping kemungkinan allo immunisasi dan tertular hepatitis lebih kecil.

Komponen Plasma

Plasma adalah bagian darah yang berbentuk cair dan telah tercampur dengan antikoagulan. Plasma digunakan untukkasus-kasus hipovolumia misalnya karena luka bakar, perdarahan karena koagulopati,  pada transfusi tukar dan penyakit immunitas.

Macam Sajian :

  1. Plasma Segar (Fresh Plasma)

Plasma dimana faktor pembekuan yang labil yaitu faktor V, faktor VIII, trombosit dan faktor pembekuan yang lain masih berfungsi. Dapat dipakai sebagai volume expander.

  1. Plasma Segar beku (Fresh Frozen Plasma)

Plasma segar yang dibekukan dalam waktu 6 jam setelah penyumbangan dan disimpan pada suhu – 20 0C, atau lebih baik pada < 30 0C. Dipakai untuk kasus-kasus koagulopati pada penyakit hati akut dan kronis, koagulopati pada DIC, transfusi masif dan kadang-kadang berhasil baik pada Thrombotic Thrombocytopenia Purpura.

  1. Plasma Beku (Frozen Plasma)

Plasma dibekukan setelah lebih dari 6 jam penyumbangan. Faktor-faktor pembekuan yang masih berfungsi tergantung lamanya waktu antara pengambilan dan pembekuan.

  1. Plasma Miskin Trombosit (Platelet Poor Plasma)

Plasma dimana trombosit telah dipisahkan sebelumnya. Dipergunakan pada kasus-kasus yang memang tidak memerlukan trombosit dan untuk mengurangi reaksi panas akibat antigen trombosit.

Komponen Granulosit

Konsentrat Granulosit

Konsentrat granulosit dapat dibuat dari darah lengkap yang dibuat buffy coat atau dengan separator sel (leukoferesis), dimana biaya cara pertama lebih rendah bila dibandingkan dengan cara kedua. Indikasi transfusi granulosit terbatas untuk kasus yang terpilih sekali; saat manfaat terjadi lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkan; misal pada neutropenia persisten dan infeksi berat, fungsi neutrofil abnormal dan infeksi persisten, sepsis neonatus. Efek yang merugikan yaitu: aloimmunisasi, penularan infeksi, infiltrasi paru.

 

 

Artikel ini ditulis oleh: Sapti Pudyandari FY

Peran Procalsitonin dalam Diagnosa Sepsis

Sepsis adalah tanggap tubuh terhadap infeksi. Infeksi bisa disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh dan terbatas dibagian tubuh atau menyebar keseluruh peredaran darah.  Sepsis sering terjadi di rumah sakit, dimana sampai saat ini sepsis masih merupakan masalah di dunia medis dan sering menyebabkan kematian, karena itu perlu diketahui dan dipahami keberadaan petandanya yang bertujuan untuk menemukannya sedini mungkin. Petanda diagnosis sepsis yang ideal adalah: sangat khas dan peka, mudah penggunaanya, cepat dan murah serta berbanding lurus dengan kegawatannya. Sampai sekarang standart baku untuk diagnosis infeksi adalah kultur, tetapi ada beberapa kelemahan dari pemeriksaan kultur, yaitu dibutuhkannya waktu yang lama, sehingga diagnosis sepsis sering terlambat penentuannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, PCT (procalcitonin) telah diakui sebagai petanda sensitif dan spesifik yang membantu dokter dalam deteksi dan terapi pemantauan awal infeksi bakteri yang berat atau sepsis. Selain itu pemeriksaan ini dapat pula digunakan untuk memantau hasil pengobatan.
Procalcitonin merupakan protein fase akut yang konsentrasinya meningkat pada penderita sepsis. Procalcitonin meningkat juga pada keadaan Systemic Inflammantory Response Syndrome (SIRS) pada penderita trauma yang mengalami disfungsi organ, akan tetapi kadarnya jauh lebih rendah dari pada penderita SIRS dengan infeksi (sepsis).

Procalcitonin merupakan penanda yang memungkinkan diferensiasi secara spesifik antara infeksi bakteri dengan sebab-sebab lain dari reaksi inflamasi untuk diagnosis laboratorium.

PROCALSITONIN

Procalsitonin merupakan prohormon cakcitonin, mengandung 3 fragmen, yaitu:

  1. fragmen N terminal aminoprocalcitonin (57 asam amino)
  2. calcitonin (32asam amino) terletak pada pusat peptida
  3. calcitonin caarboxyterminal peptide-1 (CG-1) atau katacalcin (21 asam amino) pada ujung terminal karboksil.

 

Gambar 1. Struktur molekul procalcitonin

Sejak awal tahun 1990-an procalcitonin pertama kali digambarkan sebagai tanda spesifik infeksi bakteri. Kepekaan serum procalcitonin meningkat saat infeksi sistemik, khususnya ketika hal tersebut disebabkan oleh infeksi bakteri. Procalcitonin ialah prohormon calcitonin, kadarnya meningkat saat sepsis dan sudah dikenali sebagai petanda penyakit infeksi yang berat. Kadar procalcitonin dapat mencapai 1000 ng/ml saat sepsis berat dan syok sepsis. Pada keadaan fisiologis, kadar procalcitonin rendah dan bahkan tidak terdeteksi (dalam ng/ml), tetapi akan meningkat bila terjadi bakteriemia atau fungimia yang timbul sesuai dengan beratnya infeksi.

Pelepasan procalcitonin kedalam sirkulasi dengan kadar yang tinggi dalam berbagai keadaan penyakit tidak disertai dengan peningkatan kadar calcitonin secara bermakna. Waktu paruh procalcitonin adalah 25 sampai 35 jam dan secara signifikan tidak berubah pada gagal ginjal, oleh karena itu kadar dalam serum dapat digunakan untuk tujuan diagnostik pada penderita yang fungsi ginjalnya terganggu. Procalcitonin diinduksi oleh endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri selama terjadi infeksi sistemik. Infeksi yang disebabkan oleh protozoa, infeksi non bakteri  (virus) dan penyakit autoimun tidak menginduksi procalcitonin. Kadar procalcitonin muncul cepat dalam 2 jam setelah rangsangan, mencapai puncaknya setelah 12 sampai 48 jam dan secara perlahan menurun dalam waktu 48 sampai 72 jam.

Peran Procalcitonin terhadap sepsis adalah menghambat prostaglandin dan sintesis trmboksan pada limfosit in vitro dan mengurangi hubungan stimulasi LPS terhadap produksi TNF pada kultur darah. Menurut Whicher, pemberian rekombinan human procalcitonin terhadap sepsis pada tupai menghasilkan peningkatan mortalitas yang berbanding terbalik dengan pemberian netralisasi antibodi. Kemungkinan procalcitonin mempunyai peran dalam fisiologi sepsis yang didukung oleh untaian antara procalcitonin dan sitokin seperti TNF, IL-6 dan granulocyte colony-stimulaating factor.

Kegunaan Pemeriksaan Procalcitonin

  • Mendiagnosis sepsis lebih dini atau dapat mebedakan antara infeksi dan non infeksi pada SIRS. Karena seringkali diagnosis sepsis sulit ditetapkan karena tanda-tanda awal sulit dikenali dan serupa dengan berbagai proses non infeksi. Sulitnya penegakan diagnosis menyebabkan diagnosis menjadi terlambat, pemberian antibiotika menjadi tidak efektif, angka mortalitas dan kebutuhan biaya perawatan tetap tinggi serta lama perawatan (mondok) lebih lama.
  • Pengamatan kadar Procalcitonin bermanfaat untuk menilai perlu tidaknya biakan darah dilakukan serta penetapan penggunaan antibiotik.
  • Mengetahui prognosis dari sepsis
  • mengevaluasi hasil pengobatan.
  • Pemeriksaan Procalcitonin meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas dalam mendiagnosis sepsis akibat bakteri.

 

Waktu Pemeriksaan Procalcitonin
Pemerksaan Procalcitonin direkomendasikan sesegera mungkin dilakukan untuk semua pasien dengan dugaan SIRS atau sepsis.

Indikasi Pemeriksaan Procalcitonin

  • Pasien di rumah sakit baik di UGD, ICU maupun diruangan dengan kecurigaan SIRS atau sepsis.
  • Pasien Sepsis yang diterapi antibiotik, untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan juga mengetahui prognosis penyakit.

Informasi Teknis
Nama Pemeriksaan : Procalcitonin
Metode Pemeriksaan : Enzyme Linked
Jenis Sampel : Serum atau Plasma
Stabilitas : 48 jam pada 2-8°C atau 6 bulan pada -25 ± 6°C
Nilai Rujukan : <0,05 ng/mL

  • Pembekuan dan pencairan dari plasma atau serum yang disimpan/dibekukan difreezer pada pemeriksaan procalcitonin tidak mempengaruhi kadarnya, tetapi sesudah penyimpanan plasma selama 24 jam pada suhu ruang akan mengurangi kadarnya sampai 12,4% dan bila disimpan pada suhu 4o C akan mengurangi kadarnya sampai 6,3%.
  • Kepekatan kadar procalcitonin dari sampel darah arteri dan vena tidak ada perbedaan, paling baik menggunakan plasma EDTA. Untuk pemeriksaan procalcitonin ini sebaiknya dilakukan sebelum 4 jam setalah penngambilan sampel.
  • Pemeriksaan ini tidak dipengaruhi noleh kadar hemoglobin, bilirubin ataupun trigliserida, tetapi untuk kasus hemolisis berat tidak disarankan.

Keterangan Hasil dan Intepretasi

  • Hasil < 0,5 ng/mL menunjukan bukan sepsis, tetapi tidak menyingkirkan adanya infeksi lokal
  • Hasil 0,5-2 ng/mL harus diinterpretasi bersamaan dengan riwayat pasien
  • Pemeriksaan Procalcitonin harus diulang dalam 6-24 jam kemudian jika diperoleh hasil < 2 ng/mL
  • Hasil > 2 ng/mL menunjukkan risiko tinggi adanya sepsis
  • Hasil > 2 sampai dengan 10 menggambarkan adanya sepsis yang berat
  • Hasil > 10 kemungkinan sudah terjadi shock septic

Pada infeksi lokal, tidak ada peningkatan kadar procalcitonin, penurunan yang tajam terhadap terapi antibiotika tidak secara langsung menyatakan penghilangan infeksi, tetapi semata-mata merupakan reaksi sistemik yang terkendali

Artikel ini ditulis oleh dr Tri Djoko Endro Susilo, Sp.PK

 

Pemeriksaan Antinuclear Antibody Test (ANA Test) untuk Penyakit Autoimun

Kita secara normal mempunyai antibodi-antibodi dalam darah kita yang menolak/mengusir penyerbu-penyerbu kedalam tubuh kita, seperti mikroba-mikroba virus dan bakteri. Anti-nuklir antibodi (juga dikenal sebagai anti-nuclear factor atau ANF) adalah autoantibodi yang mempunyai kemampuan mengikat pada struktur-struktur tertentu didalam inti (nukleus) dari sel-sel lekosit. ANA yang merupakan imunoglobulin (IgM, IgG, dan IgA) bereaksi dengan inti lekosit menyebabkan terbentuknya antibodi, yaitu anti-DNA dan anti-D-nukleoprotein (anti-DNP). Anti-DNA dan anti-DNP hampir selalu dijumpai pada penderita SLE. Temuan anti-DNA akan berfluktuasi bergantung pada proses penyakit ini, yang disertai dengan remisi dan eksaserbasi. Anti-DNA 95% dapat ditemukan pada penderita nefritis lupus.

Uji ANA merupakan skrining untuk lupus eritematosus sistemik (SLE) dan penyakit kolagen lainnya. Kadar total ANA juga dapat meningkat pada penyakit skleroderma, rheumatoid arthritis, sirosis, leukemia, mononukleosis infeksiosa, dan malignansi. Untuk mendiagnosis lupus, temuan uji ANA harus dibandingkan dengan hasil uji lupus lainnya.


Masalah Klinis

Penyakit-penyakit autoimun adalah kondisi-kondisi dimana ada suatu kelainan dari sistim imun yang dikarakteristikan oleh produksi yang abnormal dari antibodi-antibodi (auto-antibodies) yang diarahkan terhadap jaringan-jaringan tubuh. Penyakit-penyakit autoimun secara khas mencirikan peradangan dari beragam jaringan-jaringan tubuh. ANAs ditemukan pada pasien-pasien dengan suatu jumlah dari penyakit-penyakit autoimun yang berbeda, seperti  systemic lupus erythematosus, Sjogren’s syndrome, rheumatoid arthritis, polymyositis, scleroderma, Hashimoto’s thyroiditis, juvenile diabetes mellitus, Addison disease, vitiligo, pernicious anemia, glomerulonephritis, dan pulmonary fibrosis.

ANAs dapat juga ditemukan pada pasien-pasien dengan kondisi-kondisi yang tidak dipertimbangkan sebagai penyakit-penyakit autoimun yang klasik, seperti infeksi-infeksi kronis dan kanker.
Banyak obat yang bisa merangsang produksi ANA, seperti prokainamid (Procan SR), antihipertensi (hidralazin), dilantin, antibiotik (penisilin, streptomisin, tetrasiklin), metildopa, anti-TB (asam p-aminosalisilat, isoniazid), diuretik (asetazolamid, tiazid), kontrasepsi oral, trimetadion, fenitoin. ANA yang dipicu oleh obat-obatan disebut sebagai drug-induced ANA.

Prosedur
Untuk mendeteksi ANA dapat menggunakan tes ANA. Tes ANA ini dapat mendeteksi auto-antibodies yang ada dalam serum darah penderita. Ada beberapa metode tes yang digunakan untuk mendeteksi dan menghitung banyaknya ANA dalam tubuh penderita, diantaranya immunoflurescence dan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Saat ini metode ELISA adalah metode yang paling sering digunakan, karena metode ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibanding immunoflurescence.

Metode ELISA melibatkan interaksi antibodi dalam serum penderita dengan antigen yang ada kemudian akan membentuk reaksi kompleks yang ditunjukkan dengan adanya perubahan warna. Hasil yang diperoleh adalah sebuah nilai Optical Density dari pengukuran fotometer. Pembacaan hasil akan dibaca sebagai positif, negative atau equivocal.

Tes ANA diakatakan negative apabila hasil yang didapat kurang dari 20 Unit, yang berarti tidak terdeteksi penyakit autoimun. Sebaliknya, tes ANA dikatakan positif apabila hasil yang didapat >60 Unit yang berarti adanya penyakit autoimun. Tes ANA yang positif tidak mendiagnosa penyakit secara spesifik, dikarenakan ada bebrapa kondisi yang membuat hasil tersebut menjadi positif, diantaranya SLE, chronic liver disease, rheumatoid arthtritis, collagen vascular disease, Sjogren syndrome, scleroderma, dan thyroid disease.

Tes ANA dapat ,menjadi suatu pilihan yang terutama dalam mendukung diagnose penyakit SLE. Sebab menurut According to the American College of Rheumatology, lenih dari 95% penderita penyakit SLE akan memberikan hasil positif pada tes ini. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua hasil tes ANA yang positif akan menunjukkan bahwa terdapat penyakit SLE, dan yidak smeua orang yang menderita penyakit SLE memberikan hasil yang positif. Oleh karena itu, tes ini tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya diagnosis untuk penyakit SLE, tetapi dapat menjadi penunjang yang utama untuk mendeteksi adanya penyakit autoimun.

Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium

• Obat-obatan tertentu yang mempengaruhi hasil pengujian (lihat pengaruh obat)
• Proses penuaan dapat menyebabkan peningkatan kadar ANA

 

Artikel ini ditulis oleh: Rosalina Dwi Astuti