Kenali Penyebab Demam Berdarah Dengue pada Anak

Demam berdarah dengue (DBD) masih jadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Kasus DBD meningkat di berbagai daerah khususnya di wilayah DIY. Ini artinya, orang tua diharapkan dapat lebih waspada untuk dapat mengenali tanda dan gejala penyakit ini.

DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Infeksi virus ini dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut. Secara teoritis, seseorang dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, karena virus ini mempunyai empat serotipe.

Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi dan bersifat terus menerus, hal ini yang sering kali dikuatirkan orangtua karena demam sulit turun meskipun sudah diberikan penurun panas.

Fase ini biasanya berlangsung selama 3-5 hari yang disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, serta kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing).

Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual dan muntah sering ditemukan. Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan DBD maupun antara penyakit berat dan tidak berat.

Bila dicek di laboratorium, biasanya terlihat penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan jumlah trombosit dan nilai hematrokit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal.

Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4 sampai ke-6. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan kondisi perburukan sampai kematian. Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Mendadak Dingin

Pada fase ini, badan terutama pada ujung lengan dan kaki mendadak dingin dan terlihat lemas. Hal ini merupakan bentuk tanda syok. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit (kekentalan darah) yang nyata.

Fase ini terjadi pada saat tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal. Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan.

Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

Fase pemulihan berlangsung secara bertahap 24-48 jam setelah melalui fase kritis, biasanya terjadi pada hari ke-7. Keadaan umum dan nafsu makan mulai membaik, evaluasi laboratorium mulai terjadi perbaikan, hematokrit (kekentalan darah) mulai stabil dan jumlah trombosit mulai terjadi peningkatan secara bertahap. Pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam (kemerahan) di tangan dan kaki yang akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan mengenali gejala-gejala tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami salah satu atau lebih dari gejala tersebut.

Pencegahan

DBD dapat dicegah dengan penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti-nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan jentik nyamuk di bak mandi, penyemprotan cairan insektisida (fogging), dan gerakan 3M (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi). Pada prinsipnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Maria Rulina YA, M.Sc., Sp.A (Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Kusta / Lepra

Kusta atau lepra adalah suatu penyakit infeksi kronik menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae atau M.leprae, dan menyerang kulit, selaput lendir  serta syaraf tepi. Penanganan yang buruk pada kasus kusta dapat menyebabkan kusta menjadi progresif sehingga terjadi kerusakan permanen pada kulit, syaraf dan mata,yang dapat menyebabkan berbagai masalah kompleks, baik medis, psikologis, sosial dan budaya.

Penyakit kusta atau lepra diperkirakan sudah mulai dikenal sejak 300 tahun sebelum masehi dengan ditemukannya bukti-bukti dari peninggalan sejarah kuno Mesir, India, Tiongkok dan Mesopotamia serta tertulis dalam kitab-kita keagamaan, di mana penderita diasingkan atau mengasingkan diri. Di abad pertengahan dibangunlah tempat-tempat pengasingan penderita kusta atau lepra yang disebut Leprosaria. Hingga akhirnya, di jaman modern, Gerhard A. Hansen menemukan Mycobacterium leprae sebagai penyebab penyakit kusta atau lepra ini.

Gejala yang timbul pada penderita kusta atau lepra sangat bervariasi/ dapat menyerupai berbagai gangguan kulit yang lain. Gejala dan tanda yang utama adalah adanya bercak merah atau putih yang berkurang rasa/mati rasa. Bila terjadi kerusakan syaraf, akan menimbulkan mati rasa disertai dengan kelemahan otot. Komplikasi lebih lanjut meliputi gangguan di mata, tulang, otot dan jaringan lainnya, dengan deformitas (gangguan bentuk) dan disabilitas. Facies leonina/wajah singa terjadi karena terbentuknya banyak lipatan akibat dari infiltrasi/timbunan kuman pada kulit wajah.

Diagnosis penyakit kusta atau lepra, ditegakkan berdasarkan tanda kardinal :

  1. Gejala klinis yang khas (ujud kelainan kulit dan gangguan sensorik/mati rasa)
  2. Pembesaran syaraf
  3. Usap/kerokan kulit dengan temuan BTA (bakteri tahan asam) +

Cara penularan belum diketahui secara pasti. Berdasarkan asumsi klasik, yaitu kontak langsung antara kulit dan kulit atau melalui udara yang dihisap (inhalasi). Masa inkubasi berkisar 40 hari hingga 40 tahun, dengan rata-rata 2 – 5 tahun. Penyakit kusta atau lepra bukanlah penyakit keturunan.M. Leprae dapat ditemukan di kulit, akar rambut, kelenjar keringat dan ASI. Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya penyakit kusta adalah patogenesis kuman, cara penularan, kondisi sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang terkai dengan kerentanan, perubahan kekebalan tubuh dan kemungkinan reservoir di luar manusia (binatang armadillo).

Penyakit kusta atau lepra diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu :

  1. Pausibasiler (PB)

Didapatkan 2 – 5 bercak putih atau merah di kulit, asimetris, dengan hilang/mati rasa dan disertai kerusakan satu serabut syaraf.

  1. Multibasiler (MB)

Didapatkan lebih dari 5 bercak, penyebaran lebih simetris, disertai hilang/mati rasa dan disertai kerusakan banyak serabut syaraf.

Pengobatan pada penyakit kusta atau lepra disebut MDT (Multi Drug Therapy) atau kombinasi yang terdiri dari Rifampisin, Klofasimin dan Dapson, (telah tersedia dalam kemasan dosis per bulan) serta Ofloksasin atau Minoksiklin. MDT tersedia dalam 2 kemasan berbeda, sesuai golongan penyakit kusta, MB dan PB. Untuk kusta MB, penderita diharuskan minum 12 dosis dalam waktu 12 – 18 bulan, sedangkan untuk kusta PB, penderita diharuskan minum 6 dosis dalam waktu 6 – 9 bulan. Penderita dinyatakan sembuh, apabila sudah menyelesaikan jumlah dosis dalam waktu yang telah ditentukan berdasarkan golongan kustanya, meski pun masih ada gejala sisa.

Pada penyakit kusta atau lepra, dikenal suatu kondisi yang disebut sebagai reaksi. Reaksi lepra adalah suatu episode aktivitas penyakit yang meningkat secara mendadak, berupa hipersensitivitas akut terhadap antigen M. Leprae, oleh karena adanya gangguan pada keseimbangan imunologis/perubahan status imunitas penderita. Keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan syaraf dan kecacatan. Terdapat 2 macam reaksi lepra :

  1. Reaksi tipe 1 (reaksi reversal)
  • Bercak kulit memerah dan bengkak
  • Nyeri dan bengkak pada serabut syaraf
  • Tanda kerusakan syaraf : Mati rasa dan lemah otot
  • Demam dan malaise (lemah, letih, lesu)
  • Bengkak pada kaki & tangan
  1. Reaksi tipe 2 (eritema nodosum leprosum)
  • Benjolan-benjolan merah dan nyeri di kulit
  • Demam, nyeri sendi dan malaise
  • Terkadang disertai nyeri dan bengkak di serabut syaraf
  • Gangguan di mata

Gejala sisa atau kecacatan yang dapat timbul pada penyakit kusta atau lepra, meliputi kondisi impairment (kerusakan struktur dan fungsi psikologis, fisiologis dan anatomis), disability (keterbatasan untuk melakukan kegiatan sehari-hari) dan handicap (ketidakmampuan yang membatasi kehidupan dalam masyarakat dan pekerjaan). Kecacatan tersebut mengenai tangan atau kaki dalam bentuk mati rasa, dengan atau tanpa deformitas (gangguan bentuk) atau kerusakan, dan pada mata berupa gangguan penglihatan, peradangan, lagoftalmus, dsb.

Kusta atau lepra masih memiliki stigma negatif di masyarakat dan kalangan petugas kesehatan sendiri. Hal ini karena kurangnya pengetahuan atau pemahaman serta keyakinan yang salah tentang kusta dan cacat yang diakibatkan. Mari hapus stigma dan hilangkan diskriminasi pada penderita kusta. Kita dukung dan wujudkan Indonesia eliminasi Kusta di tahun 2021.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Radijanti Anggraheni, Sp.KK (Dokter Spesialis Kulit Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Nyeri Kepala

Nyeri kepala adalah salah satu jenis nyeri yang sering dirasakan dan membuat seseorang mencari pertolongan medis atau pengobatan. Masyarakat menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk menyebut nyeri kepala, seperti: pening, pusing, cekot-cekot, kliyengan, dll. Deskripsi dari nyeri kepala yang dirasakan sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan menentukan pengobatan karena setiap jenis nyeri kepala memiliki karakteristik dan pengobatan yang berbeda.

Jenis Nyeri Kepala

Secara garis besar, nyeri kepala dapat dibedakan menjadi nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. Nyeri kepala primer adalah jenis nyeri kepala yang lebih sering dijumpai. Nyeri kepala primer meliputi nyeri kepala tipe tegang/tension type headache, migraine, dan nyeri kepala tipe kluster. Karakteristik dari nyeri kepala tipe tegang adalah sensasi kencang atau tegang pada seluruh kepala, terkadang menjalar ke tengkuk, dan nyeri yang dialami tidak diperberat dengan aktivitas fisik. Nyeri kepala pada migraine sering kali terjadi pada satu sisi kepala, diperberat dengan aktivitas fisik, dapat disertai keluhan lain seperti mual, muntah, dan lebih sensitif terhadap cahaya atau suara (mudah merasa silau atau bising). Nyeri kepala tipe kluster muncul pada satu sisi di area sekeliling mata atau wajah dan dapat disertai keluhan lain seperti mata berair dan merah, kelopak mata bengkak, hidung tersumbat, atau wajah berkeringat. Derajat nyeri pada tipe kluster ini sering kali berat hingga sangat berat sehingga pasien akan tampak tampak kesakitan dan gelisah.Nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang muncul akibat adanya penyakit lain yang mendasari, seperti infeksi otak, tumor otak, perdarahan otak, sumbatan pembuluh darah otak (trombosis vena serebral), dan peradangan pembuluh darah arteri (temporal arteritis). Karakteristik nyeri kepala sekunder akan berbeda-beda, menyesuaikan dari penyakit yang mendasari.

Apakah Nyeri Kepala Berbahaya?

Pada umumnya, nyeri kepala tidak berbahaya dan dapat ditangani dengan mudah. Namun, ada beberapa tanda dan gejala yang menjadi red flags atau tanda bahaya pada nyeri kepala, yaitu: keluhan nyeri kepala yang amat hebat yang pernah dirasakan, nyeri kepala di pagi hari yang persisten dan disertai mual, nyeri kepala pada pasien dengan riwayat penurunan imunitas tubuh (infeksi HIV) atau dengan riwayat kanker, nyeri kepala progresif/semakin lama semakin memberat, nyeri kepala yang pertama kali dirasakan pada usia lanjut (>50 tahun), dan nyeri kepala yang disertai dengan gangguan fungsi saraf lain, contoh: kelemahan anggota gerak. Apabila seseorang mengalami nyeri kepala dengan tanda dan gejala seperti tersebut di atas, maka diperlukan pemeriksaan dan penanganan khusus.

Penanganan Nyeri Kepala

Nyeri kepala sering kali terjadi berulang. Apabila tidak ditangani dengan baik, nyeri kepala dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penanganan nyeri kepala berbeda-beda tergantung dari jenis nyeri kepala yang dialami. Penanganan ini meliputi penanganan dengan obat dan tanpa obat. Nyeri kepala tipe tegang dapat diatasi dengan pemberian obat golongan anti inflamasi non steroid seperti asam mefenamat, ibuprofen, dan ketoprofen. Relaksasi dengan meditasi, pijat, dan akupunktur juga dapat dilakukan untuk mengatasi sekaligus mencegah nyeri kepala tipe tegang. Pada serangan migraine akut, obat sumatriptan, ergotamin, dan anti inflamasi non steroid menjadi pilihan. Pemberian oksigen adalah salah satu hal yang harus diberikan pada nyeri kepala tipe kluster dengan ditambah dengan pemberian obat sumatriptan atau ergotamin. Penanganan nyeri kepala sekunder akan menyesuaikan dengan penyakit yang mendasari.

Nyeri kepala adalah hal yang dapat terjadi pada siapapun tanpa memandang usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan status sosial. Nyeri kepala, terutama pada nyeri kepala berulang atau nyeri kepala dengan red flags, memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kenali jenis nyeri kepala yang Anda alami. Diagnosis yang tepat akan membawa pada penanganan yang tepat.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Penanganan Demam pada Anak di masa COVID-19

Anak dengan kondisi tak fit, cuaca yang ekstrem dan adanya pencetus mempermudah anak menjadi sakit influenza terlebih demam. Demam ini jika di tambah dengan adanya penurunan daya tubuh di masa COVID, akan mempermudah timbulnya kejang demam atau komplikasi infeksi organ tubuh terlebih jika ada riwayat sakit asma atau alergi.

Demam adalah kondisi suhu panas tubuh melebihi angka normal, bayi 36,5-37,5 C sedang anak 36,0-37,0 C di thermometer suhu. Penyebab demam sangat banyak dari non infeksi seperti tumbuh gigi, paska infeksi, dehidrasi, dll, infeksi oleh virus, bakteri, parasit dll juga penyebab tidak jelas karena terganggunya komunikasi anak, hanya rewel, , menangis terus. Pola demam dan tanda /gejala lain yang menyertai akan membantu menegakkan diagnosa penyakit pada anak.


Pastikan anak diukur suhu dengan benar menggunakan thermometer suhu tubuh, bisa di ketiak, di mulut di bawah lidah, di anus atau dengan sensor di telinga atau infra merah di dahi. Pertolongan pertama adalah pastikan anak mendapatkan cairan yang cukup, kompres dengan air hangat / gel plester kompres di dahi dan bagian lipatan tubuh, longgarkan pakaian agar lebih nyaman jika panas tinggi, berikan obat penurun panas sesuai dosis dan umur, jika panas tidak ada perubahan lebih 2 hari, sebaiknya bawa segera ke dokter terlebih jika panas lebih dari 39 C, dan ada tanda gejala kejang demam atau kegawatan lain seperti mulai tidak sadar dan ada gangguan nafas.
Harapannya di masa COVID ini, anak perlu diperhatikan kesehatannya dengan membandingkan perilaku kesehariannya, cukup makan minum yang bergizi, gerak yang cukup aktif, jika perlu diberikan suplemen vitamin tambahan


Materi sejenis ini pernah ditayangkan di Webinar RS Panti Rapih, Hari Jumat, 18 Desember 2020, Penanganan Demam pada Anak di Era Pandemi COVID-19, narasumber dr. Maria Rulina Y.A.,M.Sc.,Sp. A

Dapat dibuka di link Youtube

Hipertiroidisme dan Manifetasi Klinisnya

Suatu ketika datang kepada saya seorang wanita muda usia 24 tahun dengan keluhan berat badan yang menurun hampir 4 kg dalam 1 bulan dan cepat capai disertai frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari tanpa diare. Pasien merasa bahwa dirinya terkena penyakit kencing manis, tetapi pada saat dilakukan pemeriksaan gula darah sesaat, ternyata hanya 95 mg/dL. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium akhirnya didapatkan diagnose pasien tersebut adalah penderita Hipertiroid dan dengan penanganan yang tepat, gejala yang dirasakannya membaik dan berat badan kembali normal.

Kondisi seperti pasien tersebut banyak didapatkan dalam praktek sehari-hari. Hipertiroid adalah istilah yang menggambarkan adanya produksi hormone tiroid yang berlebihan sehingga menimbulkan gejala klinis. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar hormone yang terletak di leher, berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang dikenal sebagai Free T4 dan Free T3 atas stimulasi dari Tiroid Stimulating Hormone (TSH) dari kelenjar hipofise. Hormon tiroid bertanggung jawab atas berbagai metabolisme dalam tubuh. Apabila tubuh mengalami kelebihan hormone ini disebut hipertiroid dan bila kekurangan disebut hipotiroid.

Penderita dengan hipertiroid akan menunjukkan gejala-gejala penurunan berat badan, tidak tahan terhadap cuaca panas, rambut rontok, jantung berdebar-debar, sering buang air besar, dan tangan gemetar. Mata yang tampak menonjol (exopthalmus) juga sering ditemukan pada penyakit Graves’ . Kondisi seperti ini disebabkan tertimbunnya jaringan lemak di belakang bola mata yang akan mendorong mata keluar sehingga batas atas kornea tidak tertutup kelopak mata. Sekilas terlihat seperti orang yang sedang marah.  Untuk menegakkan diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kadar Free T4 dan TSHs.  Apabila didapatkan kadar Free T4 yang meningkat dan kadar TSHs yang rendah, maka disebut Hipertiroidisme. Peningkatan kadar free T4 tidak selalu berkorelasi dengan besar-kecilnya kelenjar tiroid. Penyebab hipertiroidisme ini antara lain karena penyakit Graves’ atau autoimun dan  peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis). Pembesaran kelenjar tiroid pada penyakit Graves’ umumnya bersifat difus atau merata dan teraba lunak. Pada tumor tiroid benjolan teraba keras, bahkan tidak disertai kelainan fungsi tiroid.

Kegawatan yang terjadi pada kondisi hipertiroid disebab Krisis tiroid atau badai tiroid. Kasus ini jarang dijumpai, bahkan pengalaman penulis selama menjalani tugas sebagai dokter penyakit dalam baru dua kasus yang dijumpai. Krisi tiroid terjadi akibat pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi berat, tindakan operasi atau manipulasi kelenjar tiroid yang berlebihan. Kondisi ini memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif dan pasien selalu disertai demam.

Penanganan hipertiroid dapat dilakukan dengan obat-obatan, iodium radioaktif atau pembedahan. Obat yang sering digunakan adalah Propil Thyouracil atau Metimazole yang bisa diberikan sampai jangka waktu yang lama. Monitoring kadar free T4 secara periodik diperlukan untuk mengevaluasi dosis obat yang diberikan. Apabila dengan dosis terkecil, kadar Free T4 berada pada kisaran normal, obat bisa diberhentikan dulu tetapi monitoring kadar Free T4 tetap dilakukan karena ada kalanya kondisi tersebut relaps (kambuh). Pengobatan dengan Iodium radioaktif masih sering dikhawatirkan oleh sebagian pasien. Pengobatan ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada prinsipnya hanya memberikan Iodium radioaktif dengan dosis kecil di mana radioaktif tersebut akan mematikan sel-sel kelenjar tiroid yang memproduksi hormon secara berlebihan. Efek samping yang mungkin timbul apabila semua sel-sel kelenjar tiroid tidak berfungsi, maka akan timbul kondisi Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dan harus minum Levothyroxin seumur hidup. Pengobatan ini menjadi kompetensi dokter spesialis kedokteran nuklir. Operasi atau pembedahan pada dasarnya hanya untuk mengurangi volume atau besarnya kelenjar tiroid, jadi lebih bersifat kosmetik. Berbeda pada tumor ganas tiroid, pembedahan sifatnya harus dilakukan dan secara radikal atau total dan semua jaringan tiroid akan diambil beserta kelenjar getah bening di sekitarnya,  selanjutnya juga dilakukan pengobatan dengan iodium radioaktif untuk mematikan sel-sel ganas yang masih tersisa.

Hal yang terpenting bagi pasien hipertiroid apapun sebabnya, minum obat secara teratur dan monitoring kadar hormone tiroid secara berkala sangat diperlukan. Konsultasi dengan dokter yang menangani akan membantu keberhasilan terapi.

Ingin mengetahui informasi ini seputar Penyakit Dalam dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: Dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD (Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Endokrinologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Lingkungan Sehat Rumah Sakit dengan Manajemen Limbah yang Baik

Fasilitas publik dan penyedia layanan jasa publik, merupakan penunjang untuk kehidupan masyarakat sehari-hari. Tentu tempat-tempat publik tersebut juga menghasilkan limbah yang perlu dimanajemen agar tidak mencemari lingkungan. Begitu juga dengan rumah sakit. Limbah rumah sakit sendiri ada banyak jenisnya dan berbeda – beda pula cara manajemennya.

Apakah yang dimaksud dengan limbah rumah sakit? Banyak pengertian dari limbah rumah sakit, yakni: semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. Ada pula yang mendefinisikan limbah rumah sakit sebagai semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis. Limbah rumah sakit yang berasal dari medis terdiri dari: limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. Termasuk di dalamnya yakni limbah infeksius merupakan limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.

Tidak hanya yang dihasilkan dari kegiatan medis, dikenal pula limbah padat non medis yang merupakan limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. Penilaian limbah padat non medis dilakukan untuk memilah limbah padat non medis antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu pemilahan juga dilakukan untuk memilah antara limbah basah dan limbah kering

Limbah padat non medis juga memiliki kontainer atau wadah dengan kriteria – kriteria yang harus dipenuhi pula yang dimaksudkan agar limbah non medis tidak mencemari lingkungan sekitar. Kontainer limbah nonmedis terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan. Wadah juga harus memiliki minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan. Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 1 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang penganggu. Setelah diangkut dari wadah, selanjutnya, pengelolaan limbah padat non medis berlanjut dengan menaruh sampahdi penampungan limbah sementara menggunakan troli tertutup.

Penampungan limbah non medis berada di tempat penampungan sementara yang dipisahkan antara limbah yang masih dapat dimanfaatkan kembali dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Tempat penampungan tersebut harus memiliki syarat yakni tidak boleh menimbulkan bau yang tidak sedap, dan sebagai tempat wadah bersarangnya lalat, serta dilengkapi saluran untuk cairan lindi. Selain itu, tempat penampungan sementara harus kedap air, memiliki tutup yang baik, dan harus selalu tertutup bila sedang tidak diisi, sehingga memudahkan untuk dibersihkan. Lokasi penampungan limbah harus mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut limbah padat dan dikosongkan serta dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.

Manajemen pengelolaan limbah padat non-medis RS Panti Rapih ini  dibuang di TPA Piyungan, sedangkan untuk pegangkutannya, rumah sakit bekerjasama dengan pihak swasta. Proses pengangkutan dilakukan dengan menggunakan truck tertutup sehingga meminimalkan risiko potensial terhadap masyarakat dan lingkungan di daerah pemukiman. Proses pembuangan adalah open dumping dengan frekuensi pengangkutan setiap hari satu kali pengangkutan. Pelabelan dan warna tempat sampah di rumah sakit sudah disesuaikan dengan jenis limbah medis maupun non medis, akan tetapi pada prakteknya, masyarakat terkadang tidak mencermati hal – hal tersebut sehingga kadang ditemukan sampah – sampah yang salah letak atau tidak pada tempat seharusnya.  Berikut ini merupakan contoh jenis limbah umum yang salah letak di RS Panti Rapih: sisa makanan masuk ke tempat sampah medis, tissue masuk sampah medis, gelas air mineral masuk sampah medis, botol minuman masuk sampah medis/botol, kertas masuk sampah medis, kardus bungkus obat.

Tanggung jawab pengelolaan limbah rumah sakit memang menjadi tanggung jawab dari pihak rumah sakit, tetapi membantu dan mendukung hal tersebut merupakan kewajiban bersama para pengguna fasilitas kesehatan rumah sakit. Hal ini dimaksudkan agar tercipta lingkungan sehat di rumah sakit yang dapat menjadi pendukung kesehatan pasien dan kesehatan bersama.

 

disusun oleh: Bayu Nuriyanto Aulady, AMKL

 

Kelumpuhan Mendadak pada Wajah

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang wajahnya tampak “tidak simetris” atau mengeluh sulit menggerakkan separuh wajahnya? Atau Anda sendiri pernah mengalaminya?  Sebagian besar orang akan mengira bahwa kondisi tersebut merupakan tanda dan gejala dari stroke. Pada kenyataannya, gangguan yang terjadi pada area wajah tersebut tidak selalu disebabkan oleh penyakit stroke, melainkan juga dapat disebabkan oleh suatu kondisi yang disebut sebagai Bell’s Palsy.

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf tepi wajah yang terjadi pada satu sisi wajah dan timbul secara mendadak. Tanda dan gejala Bell’s Palsy meliputi: kelumpuhan otot pada satu sisi wajah, tidak mampu menutup kelopak mata pada satu sisi, kesemutan pada satu sisi wajah, mengeluarkan air mata berlebih pada satu sisi mata, perubahan sensasi pengecapan, nyeri pada satu sisi wajah, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan. Seseorang yang mengalami Bell’s Palsy dapat mengalami satu atau lebih tanda dan gejala tersebut. Penyebab pasti dari Bell’s Palsy tidak diketahui secara pasti (idiopatik), akan tetapi Bell’s Palsy lebih sering muncul pada usia dewasa, wanita hamil, menderita penyakit diabetes melitus, hipertensi, infeksi virus herpes, dan memiliki riwayat paparan suhu dingin.

Cara Membedakan Bell’s Palsy dengan Stroke

Bell’s Palsy sering disalah artikan sebagai stroke. Padahal Bell’s Palsy dan stroke memiliki penanganan yang sangat berbeda. Oleh karena itu, membedakan Bell’s Palsy dengan stroke adalah hal yang penting. Penderita Bell’s Palsy akan mengalami kelemahan pada separuh wajah, mulai dari wajah bagian atas hingga wajah bagian bawah (dahi hingga dagu). Sedangkan penderita stroke akan mengalami kelemahan pada separuh wajah bagian bawah saja. Pada pemeriksaan pasien Bell’s Palsy, lipatan/kerutan dahi dan lipatan tepi mulut akan menghilang. Pasien akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis pada satu sisi dan kesulitan tersenyum, sehingga menimbulkan kesan wajah yang tidak simetris.

Pada pasien stroke, lipatan/kerutan dahi tersebut masih dapat terlihat. Pasien stroke juga tidak akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis. Kelemahan otot hanya akan tampak pada area mulut, sehingga menimbulkan kesan bibir perot. Pasien stroke juga akan mengalami keluhan lainnya seperti pandangan dobel, nyeri kepala atau pusing, gangguan keseimbangan, pelo saat berbicara, kesulitan menelan, tampak kebingungan, sulit berkomunikasi, kelemahan atau kesemutan satu sisi tubuh, atau bahkan mengalami penurunan kesadaran.

Kelumpuhan pada satu sisi wajah juga dapat terjadi pada beberapa penyakit lain seperti tumor saraf tepi, tumor otak, pelebaran pembuluh darah otak/aneurisma. Kelumpuhan wajah akibat penyakit tersebut biasanya terjadi secara perlahan dan semakin memberat seiring waktu. Hal tersebut berbeda dengan penyakit Bell’s Palsy yang terjadi secara mendadak. Penyakit-penyakit tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan atau MRI kepala.

Penanganan Bell’s Palsy

Bell’s Palsy biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Penanganan Bell’s Palsy meliputi penanganan dengan menggunakan obat dan penanganan tanpa obat. Obat anti peradangan atau steroid, seperti prednison, menjadi pilihan utama dalam menangani Bell’s Palsy. Apabila terdapat infeksi virus herpes, maka pengobatan dapat dikombinasikan dengan obat anti virus seperti asiklovir. Obat tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter.

Perawatan mata adalah salah satu penanganan yang penting pada kasus Bell’s Palsy, karena sebagian besar penderita Bell’s Palsy sulit memejamkan mata pada satu sisi dan mengalami penurunan produksi air mata. Hal tersebut dapat memicu kekeringan bola mata dan memicu infeksi mata. Penggunaan tetes air mata buatan dan penggunaan balut mata/eye patch dapat menjadi pilihan untuk menurunkan risiko tersebut.

Apakah Bell’s Palsy Berbahaya?

Bell’s Palsy tidak berbahaya. Pada umumnya,  Bell’s Palsy akan cepat membaik dalam waktu beberapa hari apabila ditangani dengan baik. Jika Anda mengalami tanda dan gejala yang tersebut di atas, segera periksa ke dokter terdekat. Pemeriksaan dan pemberian tindakan segera oleh tenaga medis sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah keluhan yang Anda derita merupakan Bell’s Palsy atau disebabkan oleh penyakit lain.

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Mengenal Sindrom Terowongan Karpal

Pernahkah jari-jari tangan Anda terasa tebal/baal? Atau terasa kesemutan yang akan membaik apabila tangan Anda dikibas-kibaskan? Jika keluhan tersebut Anda rasakan berulang kali, maka sangat mungkin Anda mengalami sindrom terowongan karpal.

Apa itu sindrom terowongan karpal?

Sindrom terowongan karpal/carpal tunnel syndrome merupakan sekumpulan gejala yang muncul akibat adanya jepitan pada salah satu saraf di tangan yang disebut sebagai saraf medianus. Terowongan karpal adalah sebuah terowongan yang berada di pergelangan tangan. Terowongan tersebut tersusun dari tulang-tulang tangan dan jaringan ikat tulang/ligamen. Saraf medianus, pembuluh darah, dan jaringan ikat otot/tendo adalah struktur-struktur yang melewati terowongan tersebut. Kondisi apapun yang menyebabkan pembengkakan atau penyempitan pada terowongan karpal akan menimbulkan jepitan pada berbagai struktur yang melewati terowongan tersebut.

Gejala sindrom terowongan karpal

Gejala awal yang khas pada penyakit ini adalah rasa baal atau kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan separuh jari manis tangan. Keluhan tersebut cenderung memburuk pada malam hari dan dipicu oleh aktivitas tertentu pada pergelangan tangan (misalnya: mengemudi, merajut, atau memasak). Keluhan cenderung membaik apabila tangan dikibas-kibaskan. Kelemahan pada telapak tangan adalah keluhan lain yang sering muncul pada sindrom terowongan karpal, sehingga pasien akan mengatakan tidak dapat menggenggam dengan kuat atau mengeluh sering menjatuhkan barang yang dipegang. Gejala-gejala tersebut sering muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas.

Penyebab sindrom terowongan karpal

Sindrom terowongan karpal lebih sering muncul pada usia lanjut dan wanita. Cedera pada pergelangan tangan, baik cedera berat (patah tulang pergelangan tangan) maupun cedera ringan yang berulang pada pergelangan tangan (sering kali terkait dengan pekerjaan: mengemudi, memasak, atlet) akan memicu sindrom terowongan karpal. Seseorang dengan penyakit diabetes mellitus, obesitas, dan wanita hamil juga akan lebih  mudah mengalami kondisi ini.

Penanganan sindrom terowongan karpal

Prinsip dari penanganan sindrom terowongan karpal dibedakan menjadi 2, yaitu tanpa pembedahan dan dengan pembedahan. Penggunaan bebat/splinting tangan pada malam hari serta pengobatan dengan obat steroid tablet maupun steroid yang disuntikkan pada pergelangan tangan adalah dua tata laksana yang sering diberikan pada pasien dengan kondisi ini. Obat lain yang digunakan untuk menangani kondisi ini adalah obat dari golongan anti kejang (misalnya: gabapentin dan pregabalin), obat dari golongan anti inflamasi non steroid, dan diuretik. Apabila dengan pengobatan tersebut keluhan tidak membaik atau justru semakin berat, maka tindakan pembedahan yang disebut sebagai carpal tunnel release dapat dipilih.

Sindrom terowongan karpal adalah kondisi yang sering muncul di masyarakat, tetapi jarang dikenali. Sindrom ini cenderung muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas, sehingga dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderitanya. Dengan mengenali gejala sindrom terowongan karpal, kondisi ini dapat ditangani dengan baik.

 

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Gangguan Saraf Akibat Penyakit Gula

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Klinik Saraf Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh: dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Operasi Caesar, Bius Total atau Regional?

Ketika seorang ibu sudah melalui masa kehamilan sampai trimester ketiga, kelahiran sang jabang bayi sangatlah dinanti-nantikan. Tetapi ketika persalinan normal tidak memungkinkan dan dokter kandungan memutuskan untuk melakukan operasi caesar, maka akan muncul berbagai pertanyaan.  Apakah ini sudah merupakan keputusan yang tepat? Apakah nanti akan terasa sakit pada saat dioperasi? Apakah aman untuk ibu dan bayi?

Supaya tidak terasa nyeri pada saat dilakukan operasi caesar, ibu harus mendapatkan pembiusan yang adekuat. Terdapat dua pilihan jenis pembiusan yaitu pembiusan umum atau total dan pembiusan regional.  Manakah yang lebih baik?  Sebagai orang awam, melihat ruang operasi dan tetap sadar saat dilakukan tindakan operasi bukanlah pengalaman yang menyenangkan, sehingga memilih tidur pada saat operasi sepertinya lebih menyenangkan.  Tetapi manakah yang lebih aman?

Sebelum dokter ahli anestesi melakukan pembiusan, keputusan jenis pembiusan akan diambil setelah dilakukan anamnesa (wawancara), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (laboratorium, EKG (Elektro Kardiografi)).  Baik pembiusan total maupun regional, masing-masing disesuaikan dengan indikasi klinis pasien.  Dalam Cochrane Database Review (2012) disampaikan bahwa tidak ada evidens atau bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pembiusan regional lebih baik dibandingkan dengan pembiusan total dalam hal outcome untuk ibu dan bayi.  Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri.

Dengan pembiusan regional, ibu tidak akan merasakan nyeri pada area operasi meskipun ibu masih sadar.  Obat anestesi lokal yang dipakai pada pembiusan regional bekerja dengan memblok aliran saraf di tingkat saraf tulang belakang saja.  Disini ibu diuntungkan karena dapat langsung melihat bayinya dan dapat melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) bila kondisi ibu dan bayi memungkinkan.  Selain itu pada teknik epidural, dapat dilakukan pemasangan kateter epidural yang dapat digunakan sebagai alat memasukkan obat pengurang nyeri setelah operasi dengan prinsip kerja sama seperti pembiusan regional, hanya dengan dosis yang lebih kecil, sehingga diharapkan ibu lebih cepat bebas nyeri dan lebih cepat mobilisasi.  Obat anestesi lokal yang dipakai tidak masuk ke aliran darah plasenta sehingga tidak masuk ke janin.

Dalam British Journal of Anesthesia tahun 2009 disebutkan bahwa pembiusan total pada operasi caesar umumnya karena indikasi urgensi (35%), ibu menolak pembiusan regional (20%), pembiusan regional gagal atau tidak adekuat (22%), dan kontraindikasi medis karena fungsi pembekuan darah yang tidak normal atau bentuk tulang belakang yang tidak normal (6%).  Pada pembiusan total, ibu akan tertidur dan terbius segera setelah obat dimasukkan lewat jalur infus.  Obat bius bekerja langsung di susunan saraf pusat di otak.  Kesulitan pemasangan alat bantu nafas karena perubahan bentuk tubuh ibu, risiko aspirasi cairan lambung yang menyebabkan infeksi paru-paru ibu, dan risiko terjadinya gangguan nafas pada bayi akibat penggunaan obat-obatan, menjadi alasan mengapa pada akhirnya pembiusan total bukan menjadi pilihan utama.

Jadi, pembiusan regional atau pembiusan umum? Anda dapat menanyakan lebih lanjut kepada dokter anestesi anda, terkait prosedur, keuntungan dan kerugian serta pertimbangan-pertimbangan dari dokter anestesi saat menyarankan salah satu teknik pembiusan untuk operasi anda.  Utamanya adalah, pembiusan yang dipilih oleh dokter anestesi akan disesuaikan dengan indikasi yang ada, karena yang paling penting adalah keselamatan pasien dalam hal ini keselamatan ibu dan bayinya.

Ingin mengetahui informasi seputar kandungan dapat berkunjung ke Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

Artikel ini ditulis oleh: dr. E. Inggita Dyah Perbatasari, Sp.An

(Dokter Spesialis Anestesi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)