Anak yang kurus belum tentu mengalami gizi buruk, dan anak yang pendek belum tentu mengalami stunting. Kedua kondisi ini sering dianggap sama, padahal memiliki pengertian, penyebab, dan penanganan yang berbeda. Penilaian pertumbuhan anak tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat penampilannya. Pemantauan berat badan (BB), panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB), lingkar lengan atas (LiLA),  serta pola pertumbuhan adalah yang terpenting. Deteksi dini menjadi kunci karena gangguan pertumbuhan sering berkembang secara perlahan. Ketika seorang anak sudah tampak sangat kurus atau jauh lebih pendek dibandingkan teman sebayanya, masalah mungkin telah berlangsung cukup lama. Sebaliknya, perubahan pada pola pertumbuhan dapat menjadi tanda awal yang memungkinkan intervensi dilakukan lebih cepat.
Gizi Buruk dan Stunting: Apa Bedanya?
Gizi buruk dan stunting sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki kriteria yang berbeda. Anak dapat mengalami salah satu atau keduanya.
Gizi buruk (severe wasting) pada balita usia 6–59 bulan ditandai oleh salah satu kondisi: edema pitting bilateral, BB/PB atau BB/TB < -3 SD, atau LiLA <11,5 cm. Gizi buruk tidak dapat dinilai hanya dari tampilan anak yang terlihat sangat kurus, tetapi memerlukan pemeriksaan klinis dan pengukuran antropometri yang tepat.
Sementara itu, stunting adalah kondisi ketika PB atau TB menurut usia dan jenis kelamin < -2 SD berdasarkan kurva pertumbuhan WHO. Namun, anak pendek tidak selalu mengalami stunting. Penilaian juga perlu mempertimbangkan pola dan laju pertumbuhan serta faktor genetik anak.
Apa Penyebab Gizi Buruk dan Stunting?
Gizi buruk dan stunting dapat terjadi akibat berbagai faktor, seperti asupan gizi yang tidak mencukupi, infeksi atau penyakit berulang, kondisi medis yang meningkatkan kebutuhan nutrisi, serta faktor lingkungan dan sosial. Pemberian ASI atau MPASI yang belum optimal, kesulitan makan, penyakit tertentu, serta keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, air bersih, dan sanitasi dapat saling berperan dalam mengganggu pertumbuhan anak.
Deteksi Dini: Kunci untuk Mencegah Masalah Menjadi Lebih Berat
Deteksi dini dilakukan melalui pemantauan rutin berat badan, panjang/ tinggi badan perkembangan anak. Perhatikan pola pertumbuhan dari waktu ke waktu, terutama bila berat badan tidak naik atau turun dan pertumbuhan tinggi badan melambat. Anak yang tampak sangat kurus, mengalami bengkak, sulit makan atau menyusu, sering sakit, atau mengalami keterlambatan perkembangan perlu diperiksakan. Pada balita usia 6–59 bulan, pengukuran LiLA juga dapat membantu mendeteksi risiko gizi buruk. Semakin dini gangguan ditemukan, semakin cepat penyebabnya dapat dicari dan ditangani.
Pencegahan Dimulai Sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Pencegahan gizi buruk dan stunting sebaiknya dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode penting ini, pertumbuhan perlu dipantau secara rutin, didukung dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan MPASI bergizi lengkap terutama mengandung protein hewani, serta pencegahan dan penanganan infeksi. Nutrisi yang optimal perlu disertai pemantauan tumbuh kembang secara menyeluruh agar gangguan pertumbuhan dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.
Bagaimana Tatalaksana Stunting dan Gizi Buruk?
Penanganan stunting dan gizi buruk harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing anak. Evaluasi meliputi riwayat pertumbuhan dan kesehatan, pemeriksaan fisik, pengukuran antropometri, serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Pada stunting, tata laksana berfokus pada perbaikan asupan gizi seimbang sesuai kebutuhan, terutama kecukupan protein hewani, penanganan penyakit penyerta, serta pemantauan pertumbuhan untuk mendukung catch-up growth. Imunisasi, pemantauan dan stimulasi perkembangan, kualitas tidur, serta aktivitas fisik sesuai usia juga perlu diperhatikan.
Sementara itu, pada gizi buruk, kondisi klinis dan adanya komplikasi harus segera dinilai. Anak dengan komplikasi seperti gangguan kesadaran, kesulitan makan atau minum, dehidrasi, atau infeksi berat memerlukan perawatan di rumah sakit, sedangkan anak tanpa komplikasi dapat ditangani melalui terapi nutrisi dan pemantauan teratur. Secara keseluruhan, tujuan tatalaksana adalah memperbaiki status gizi, mengatasi penyebab dan penyakit penyerta, serta mendukung kejar tumbuh agar anak dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
Pesan Penting untuk Orang Tua dan Tenaga Kesehatan
Jangan menunggu anak tampak sangat kurus atau pendek untuk mulai memperhatikan pertumbuhannya. Bukan hanya berat badan anak saat ini yang perlu diketahui, tetapi juga memantau pola pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Pemantauan rutin, nutrisi yang sesuai, pencegahan infeksi, stimulasi perkembangan, dan evaluasi medis bila diperlukan merupakan langkah penting agar setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Artikel ditulis oleh:
dr. Galuh Martin Maytasari, M.Sc., Sp.A
(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)
Referensi
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/1928/2022 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Stunting. Jakarta. 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita di Layanan Rawat Jalan, 2020.
WHO. WHO guideline on the prevention and management of wasting and nutritional oedema (acute malnutrition) in infants and children under 5 years. Geneva. 2023.
Informasi Pelayanan :Â
Klinik Tumbuh Kembang Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)
![]() |
![]() |


