Menjaga Masa Depan yang Lebih Baik : Mengenal dan Mengatasi Polio 5/5 (1)

Poliomyelitis, atau yang lebih dikenal dengan sebutan polio, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio. Penyakit ini dapat menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal dalam waktu singkat. Meskipun kasus polio telah berhasil ditekan sejak ditemukannya vaksin, namun masih ada beberapa wilayah yang rentan terhadap wabah penyakit ini.

Poliomyelitis terutama mengincar anak-anak di bawah usia lima tahun yang belum mendapatkan imunisasi polio secara lengkap. Pada awal abad ke-20, polio merupakan salah satu penyakit paling ditakuti yang melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahunnya. Oleh karena itu, imunisasi polio menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan anak-anak dan mencegah penyebaran penyakit ini.

Gejala Polio :

  • Gejala awal polio meliputi demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher, dan nyeri di tungkai.
  • Munculnya gejala biasanya terjadi 7-10 hari setelah terinfeksi virus, namun bisa juga dalam rentang waktu 4-35 hari.
  • Selanjutnya jika gejala memberat dapat terjadi kelumpuhan yang bersifat lemas (bukan kaku) pada anggota gerak. Karena itu, jika ada anak usia di bawah 15 tahun yang mengalami lumpuh layuh mendadak, segera bawa anak tersebut ke puskesmas atau RS terdekat.

 

 

Penularan Polio :

Polio dapat menyebar melalui kontak langsung dengan feses orang yang terinfeksi atau melalui percikan dahak dan lendir. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan merupakan langkah penting untuk mencegah penularan polio.

 

Cara Pencegahan Melalui Imunisasi :

  • Pencegahan polio hanya dapat dilakukan melalui imunisasi
  • Vaksin aman dan efektif
  • Vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio yang tidak aktif (IPV)

Kementerian Kesehatan menyediakan imunisasi polio secara gratis di seluruh fasilitas kesehatan pemerintah. Terdapat dua jenis vaksin polio yang digunakan, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio yang tidak aktif (IPV). Anak-anak diimbau untuk menerima vaksin polio tetes (OPV) sebanyak 4 kali, pertama kali pada usia 0-1 bulan, dan 3 kali di usia 2 sampai 4 bulan. Vaksin polio suntik (IPV) diberikan satu kali pada usia 4 bulan. Penting bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi polio atau terlambat mendapatkannya untuk segera melengkapi status imunisasi hingga usia 5 tahun.

Outbreak Response Immunization (ORI)

Outbreak Response Immunization (ORI) merupakan strategi pemberian imunisasi dalam menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit, termasuk polio. Tujuan dari ORI adalah mencapai kekebalan individu dan komunitas sebesar 90-95%, membantu menghentikan penyebaran virus, dan melindungi yang rentan terhadap penyakit.

Dalam memerangi polio, kunci utamanya adalah kesadaran akan pentingnya imunisasi dan kebersihan lingkungan. “Mari Kita Berantas Polio Demi Masa Depan yang Lebih Baik”. Pemberantasan polio adalah tanggung jawab bersama dengan imunisasi polio sesuai jadwal serta menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan masa depan yang lebih baik. Mari bersama-sama mendukung program imunisasi pemerintah dan berperan aktif dalam upaya pemberantasan polio.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Anastasia Ratnaningsih, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Mohon dapat memberikan rating

IPM dan Radiofrequency, Teknologi Mengatasi Nyeri tanpa Operasi 5/5 (4)

Apa itu terapi Radiofrequency (RF)?
Radiofrequency (RF) adalah suatu teknik untuk menciptakan medan listrik yang terkontrol dan aman di sekitar elektroda yang ditempatkan pada saraf. Pada terapi nyeri, elektroda ini dibuat dalam bentuk dan ukuran sebuah jarum.
Radiofrequency memberikan energi pada elektroda secara bertahap dengan mempertahankan suhu yang rendah sehingga tidak merusak jaringan saraf pada saat dilakukan ablasi saraf untuk menghilangkan nyeri. Hasil penelitian menemukan bahwa saat medan listrik yang diciptakan oleh RF diaplikasikan pada saraf, medan listrik tersebut secara selektif hanya akan mempengaruhi bagian saraf tertentu yang berfungsi dalam mengirim sinyal nyeri.

Kasus apa saja yang bisa diterapi dengan RF?
RF digunakan untuk kasus-kasus nyeri kronik (lebih dari 3 bulan):

  • Nyeri kepala dan leher: Cervicogenic headache (sakit kepala akibat nyeri leher), trigeminal neuralgia (nyeri wajah sebelah), dan cervical facet pain (nyeri sendi leher), HNP Cervical (saraf kejepit pada leher)
  • Nyeri bahu, siku, dan tangan: Frozen shoulder (kaku dan nyeri bahu).
  • Nyeri punggung/low back pain: Hernia
    Nucleus Pulposus/HNP (saraf terjepit di pinggang) dan lumbar facet joint pain (nyeri sendi facet di punggung), Sacroiliaka Join Pain
  • Nyeri akibat kanker: kanker payudara, kanker rahim, kanker pankreas, dan sejenisnya.
  • Nyeri akibat herpes
  • CRPS (Complex Pain Regional Syndrome)
  • Phantom pain
  • Nyeri akibat cedera olahraga/sport injury
  • Nyeri lutut/knee osteoarthritis.
  • Nyeri kronik pasca operasi

Bagaimana prosedur terapi RF?

Setelah diputuskan bahwa terapi dengan RF sesuai dengan keluhan anda, pemeriksaan laboratorium terutama fungsi koagulasi darah perlu
dilakukan. Selama prosedur tindakan, tanda vital anda seperti irama jantung, tekanan darah, saturasi oksigen akan dimonitor dengan ketat.

Obat anestesi lokal akan diberikan sebelum injeksi sesungguhnya dilakukan untuk memberikan kenyamanan saat jarum radiofrequency diinjeksikan. Dokter akan menggunakan alat bantu fluoroscopy (x-ray) dengan jumlah dosis radiasi yang aman untuk pasien untuk memposisikan elektroda RF sedekat mungkin dengan saraf yang dituju.

Setelah elektroda berada pada posisi yang tepat kemudian prosedur RF dilakukan. Prosedur berlangsung kurang lebih sekitar 30 menit sampai 1 jam.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan nyeri?
Anda akan merasakan rasa tebal atau nyeri menghilang sampai 6 jam pasca injeksi, hal ini karena efek obat anestesi lokal. Efek hilangnya keluhan nyeri karena pemberian kortikosteroid umumnya mulai dirasakan 2-4 hari setelah injeksi. Efek dari radiofrequency sendiri baru akan dirasakan dan mencapai puncaknya setelah 1-2 minggu, efek penurunan nyeri karena radiofrequency akan dirasakan perlahan-lahan dan semakin hari akan dirasakan semakin membaik.

Apa risiko prosedur tindakan RF?
Secara umum prosedur RF sangat aman. Akan tetapi semua prosedur tindakan medis selalu mempunyai risiko, efek samping, dan kemungkinan komplikasi. Efek samping tersering adalah nyeri yang bersifat hanya sementara. Terkadang juga terjadi memar atau perubahan warna kulit pada lokasi injeksi. Ada kemungkinan kecil terjadi infeksi, namun bila ini terjadi dapat diatasi dengan pemberian antibiotik. Disarankan untuk istirahat baring selama 3 jam setelah tindakan, boleh miring kanan – kiri selanjutnya mobilisasi secara bertahap.

Hal-hal yang harus diperhatikan setelah dilakukan tindakan RF?

Mempertahankan posisi tubuh tetap tegak (tidak membungkuk bahkan memutar tubuh saat beraktivitas).

  • Hindari peregerakan mendadak yang dapat menimbulkan cedera tulang belakang
  • Hindari merokok karena nikotin yang terkandung dalam rokok dapat melemahkan jaringan bantalan tulang belakang
  • Menjaga berat badan karena obesitas akan membebani vertebra
  • Melakukan olahraga teratur sesuai anjuran dokter

 

Informasi Pelayanan :
Cathlab
Jl. Cik Di Tiro No 30 RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : (0274) 563333 ext 589, 596

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Workshop Sitohistoteknologi No ratings yet.

Pada Sabtu 28 Oktober dan Minggu 29 Oktober 2023, di Auditorium lantai 6 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus, Instalasi Laboratorium RS Panti Rapih bekerjasama dengan Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI) menyelenggarakan Workshop Sitohistoteknologi yang dihadiri 33 orang dari berbagai kota dan provinsi (Bintuni Papua Barat, Makassar, Kalimantan Timur, Waingapu, Purbalingga, Bogor, Semarang, NTB, DIY).

 

Workshop ini dibuka oleh dr. Djati Prasodjo, Sp. Rad-KRI (Direktur Pelayanan Medik RS Panti Rapih), kegiatan ini menjadi ajang berbagi pengetahuan seputar Sitohistoteknologi dalam konteks pelayanan kesehatan, terutama di rumah sakit dan laboratorium klinik. Peran Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) dalam Laboratorium Patologi Anatomi tidak dapat diremehkan. Mereka memiliki peran strategis dalam menegakkan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium Patologi Anatomi.

 

ATLM adalah salah satu unsur tenaga kesehatan yang berperan dalam menegakkan diagnosis penyakit dengan melakukan pemeriksaan atau penelitian sampel yang diambil dari pasien. Oleh karena itu, perlu adanya jaminan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sesuai dengan kewenangan, kompetensi, dan standar profesi yang dimiliki dalam menjalankan pelayanan.

 

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi profesionalisme ATLM, terutama dalam bidang Sitohistoteknologi, dan untuk mewujudkan pelayanan laboratorium Patologi Anatomi yang bermutu. Selama dua hari, peserta workshop mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka dalam berbagai aspek Sitohistoteknologi.

 

Hari Pertama: Sabtu, 28 Oktober 2023

Pada hari pertama, para peserta mendapat paparan mengenai etika profesi ATLM, berbagai jenis pemeriksaan Patologi Anatomi, dan peran ATLM di laboratorium Patologi Anatomi. Para pembicara dan topik yang dihadirkan adalah:

Materi 1 : Etika Profesi ATLM oleh Joko Budiyono, S.ST

 

Materi 2 : Macam-macam Pemeriksaan PA dan Pengembangannya oleh dr. Emilia Theresia, Sp.PA

 

Materi 3 : Peran ATLM di Laboratorium PA oleh Agnes Nurlita Esti Rahayu

Materi 4 :Fiksasi dan Prosesing Sediaan Histologi dan Sitologi oleh Prof. Dr. dr. Irianiwati Widodo, Sp.PA(K)

Materi 5 : Pra Analitik, Analitik, dan Post Analitik pada Pelayanan Lab Histopatologi Rutin oleh Bowo Yuniarto, AMd.AK

Materi 6 : Teknik Pembuatan Blok Sel pada Sediaan Sitopatologi oleh Bowo Yuniarto, AMd.AK

Materi 7 : Histokimia PAS, Mason Trichrome, dan Fite Faraco oleh Agustina Supriyanti, AMd.AK

Materi 8 : Persiapan Prosesing Sampel Histopatologi dan Sitopatologi oleh Agustina Supriyanti, AMd.AK

 

Hari Kedua:

Minggu, 29 Oktober 2023

Pada hari kedua, para peserta berkesempatan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama  sesi praktikum Histopatologi dan Sitopatologi. Ini merupakan langkah konkrit untuk memastikan pemahaman mereka tentang proses dan teknik terkait sitohistoteknologi.

Workshop Sitohistoteknologi ini merupakan wadah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan di bidang ATLM, serta memastikan bahwa layanan laboratorium Patologi Anatomi tetap berkualitas. Dengan begitu, pelayanan medis yang diberikan kepada masyarakat akan semakin unggul dan diagnosis yang akurat dapat ditegakkan. Hal Ini merupakan contoh nyata kerjasama antara lembaga kesehatan dan organisasi profesi untuk meningkatkan standar pelayanan kesehatan.

 

 

Artikel ditulis oleh :

Anjar Pintosasi

(Humas RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Talkshow – “Fight for Golden Hour of Hyperacute Stroke and Code Stroke Activation” 5/5 (1)

Pada hari Sabtu, 28 Oktober 2023, bertempat di Lounge lantai 2 gedung rawat jalan terpadu Borromeus diselenggarakan kegiatan Talkshow bertajuk “Fight for Golden Hour of Hyperacute Stroke and Code Stroke Activation” diadakan dalam rangka peringatan World Stroke Day 2023. Acara ini diselenggarakan oleh Rumah Sakit Panti Rapih, yang telah lama menjadi rumah sakit rujukan untuk kasus stroke. Panti Rapih menerima rujukan dari berbagai instansi antara lain Rumah Sakit Unit Karya, Public Safety Center, dan Rumah Sakit Tipe C di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Kegiatan talkshow ini dibuka oleh drg. Vincentius Triputro Nugroho, M. Kes (Direktur Utama RS Panti Rapih). Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan komunikasi dengan jejaring rumah sakit dan layanan masyarakat. Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi yang lebih baik tentang layanan Stroke yang tersedia di RS Panti Rapih dan meningkatkan jumlah pasien yang dirujuk dengan kasus stroke.

 

Peningkatan komunikasi dengan jejaring rumah sakit akan memudahkan pasien stroke dalam mengakses layanan stroke akut di RS Panti Rapih. Namun, tujuan acara ini tidak hanya terbatas pada aspek tersebut. Kekuatan jejaring ini juga akan membantu dalam sosialisasi tentang edukasi pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi pasca stroke. Hal ini sejalan dengan tema World Stroke Day 2023, “Be #GreaterThan Stroke” yang fokus pada pengenalan faktor risiko stroke yang harus dikenali oleh masyarakat dan mendapatkan penanganan secepatnya.

 

Dalam talkshow ini, ada beberapa materi yang dibahas:

Materi I: “Fight for Golden Hour of Hyperacute Stroke and Code Stroke Activation” oleh dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N, DFIDN. Materi ini membahas tentang betapa pentingnya mengetahui golden hour (jam emas) dalam penanganan stroke hiperakut dan aktivasi kode stroke.

Materi II: “Alur Rujukan Stroke Hiperakut” oleh dr. David Budi Wibowo (Kepala IGD RS Panti Rapih). Materi ini akan menjelaskan alur rujukan yang harus diikuti untuk penanganan stroke hiperakut.

 

Materi III: “Comprehensif Stroke Center di RS. Panti Rapih” oleh LC. Retno Widowati, S.Kep., Ns. Materi ini terkait bagaimana RS Panti Rapih telah berkembang menjadi pusat penanganan stroke yang komprehensif.

Kegiatan talkshow akan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab, yang akan memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berinteraksi dan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya seputar stroke.

Melalui kegiatan ini, kami berharap kesadaran masyarakat seputar stroke dapat meningkat, dan pentingnya golden hour dalam penanganan stroke akan lebih dipahami. Dengan cara ini penanganan dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif, kemmapuan pemulihan pasien stroke akan meningkat, dan kasus stroke yang fatal dapat diminimalkan. Selain itu, upaya edukasi dan pencegahan akan membantu mengurangi risiko terjadinya stroke di masa depan. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan dunia medis dalam upaya melawan penyakit stroke.

 

 

Artikel ditulis oleh :

Anjar Pintosasi

(Humas RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Penanganan Kegawatan Maternal Neonatal Rumah Sakit Panti Rapih No ratings yet.

Yogyakarta, 25 Oktober 2023 — RS Panti Rapih telah menyelenggarakan Seminar dan Workshop dengan tema Penanganan Kegawatan Maternal Neonatal yang dilaksanakan pada Rabu, 25 Oktober 2023, dan dilaksanakan di Auditorium Lantai 6 Gedung Rawat Jalan Terpadu Brorromeus.

Adapun peserta Seminar dan Workshop ini berasal dari Rumah Sakit, Puskesmas dan Klinik yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan total 140, terdiri atas Dokter, Bidan dan Perawat. Kegiatan Seminar dan Workshop dibuka oleh Direktur Utama RS Panti Rapih, drg. V. Triputro Nugroho, M. Kes dan sambutan dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Seksi Mutu dan Akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, Rujukan dan Fasilitas Kesehatan Lain, Febri Utami, S.Si, Apt. Kegiatan Seminar dan Workshop ini merupakan salah satu dari rangkaian acara peringatan HUT ke 94 RS Panti Rapih Yogyakarta. Hadir sebagai narasumber, antara lain: dr. Maria Silvia Merry, M.Sc, Sp. MK, dr. Anastasia Ratnaningsih, Sp. A, dr. Lusiana Irene, Sp. OG , dr. Estya Dewi Widyasari, Sp. OG, dr. Sandhie Prasetya, L, Sp. An-KIC, M. Sc, dr. Juliani, M. Kes, Sp. A (K), dan dr. Vincentia Merry, Sp. OG.

Dalam wawancaranya kepada media, drg. V. Triputro Nugroho, M. Kes mengungkapkan bahwa kegiatan saat ini merupakan upaya RS Panti Rapih dalam memberikan layanan komprehensif  bekerjasama dengan Dinas Kesehatan. Fasilitas Kesehatan yang hadir sebagai peserta memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan Ibu dan Anak supaya dapat melakukan deteksi dini, jangan sampai kasus yang dirujuk ke merupakan kasus yang telah berat. Tindakan preventif perlu dilakukan, demikian imbuhnya.

Hal tersebut ditegaskan kembali oleh dr. Yolenta Marganingsih (Koordinator Sub. Seksi Fokus Pelanggan HUT ke-94 RS Panti Rapih) bahwa Seminar dan Workshop Penanganan Kegawatan Maternal Neonatal tersebut dilaksanakan dengan melibatkan Rumah Sakit Jejaring, Klinik Jejaring dan Pukesmas Jejaring. Peningkatan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak dilaksanakan dalam upaya penurunan angka kematian Ibu dan bayi.

Para peserta mendapatkan materi pertama yang dipaparkan oleh dr. Maria Silvia Merry, M.Sc, Sp.MK, (Ketua Komite Etik dan Hukum RS Panti Rapih) tentang Etik Merujuk Pasien dengan Kegawatan Maternal-Neonatal. Dalam paparannya, dokter Silvi menyampaikan 4 prinsip umum etik dalam layanan kesehatan, yaitu Autonomy, Beneficence, Justice, dan Non-Maleficence. Penerapan prinsip-prinsip etika dalam layanan kesehatan membantu menciptakan lingkungan perawatan yang berorientasi pada pasien, adil, dan berdasarkan prinsip-prinsip moral yang kuat. Ini membantu memastikan bahwa pasien menerima perawatan yang sesuai, aman, dan sesuai dengan kepentingan terbaik mereka, sambil menjaga prinsip keadilan dalam distribusi sumber daya kesehatan.

Materi kedua dipaparkan oleh dr. Anastasia Ratnaningsih, Sp. A (Dokter Spesialias Anak dan Ketua KSM Anak RS Panti Rapih) mengenai Profil Rujukan Maternal Neonatal RS Panti Rapih. RS Panti Rapih sendiri pada tahun 2023 hingga triwulan ketiga menerima 69 pasien rujukan neonatal dengan kasus asfiksia, BBLR, gangguan nafas, kelainan kongenital dan penyakit jantung bawaan. Sedangkan terkait kasus maternal, rujukan yang tertinggi terkait umur kehamilan pretem KPD (kehamilan yang berakhir lebih awal dari yang diharapkan atau sebelum mencapai usia kehamilan 37 minggu).

dr. Lusiana Irene, Sp.OG (Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Panti Rapih) memaparkan materi ketiga dengan topik Deteksi Dini Ibu Hamil Resiko Tinggi dan Penanganan Terkini Eklamsia dan Preeklamsia. Dokter Lusi demikian biasa disapa menyampaikan bahwa ibu hamil dengan risiko tinggi dapat mengganggu proses kehamilan sampai persalinan, dan hal tersebut dapat mengancam jika ibu dan janin.

Pada materi keempat yang dipaparkan oleh dr. Estya Dewi Widyasari, Sp.OG (Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Panti Rapih) mengangkat tentang Tatalaksana Kegawatan Maternal (Perdarahan Antepartum dan Post-Partum) mencakup pengelolaan situasi gawat darurat yang melibatkan perdarahan maternal, yang dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah persalinan.Perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab terbanyak kematian ibu di Indonesia.

Narasumber kelima, dr. Sandhie Prasetya, L. Sp. An-KIC, M. Sc memaparkan materi dengan topik Tatalaksana dan Stabilisasi Pasien Syok Pada Kasus Kegawatan Maternal-Neonatal,  mencakup pengelolaan situasi gawat darurat seperti perdarahan berat, pre-eklampsia, kegagalan jantung, atau masalah lain yang dapat muncul selama kehamilan, persalinan, atau pasca persalinan.

Setelah itu dilanjutkan dengan materi keenam terkait Kegawatan Neonatal : Deteksi Dini dan Tatalaksana Asfiksia Neonatorum yang dipaparkan oleh dr. Juliani, M. Kes, Sp.A (K). Hal ini berperan penting dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan bayi yang baru lahir. Hal ini mencakup identifikasi dan penanganan segera pada bayi yang mengalami asfiksia neonatorum (kondisi kekurangan oksigen yang signifikan pada bayi yang baru lahir) untuk mencegah konsekuensi serius dan potensial mengancam nyawa.

Setelah pemaparan materi pada simposium, dilanjutkan dengan workshop resusitasi neonatus (resusitasi bayi yang baru lahir) dan penanganan perdarahan post partum (perdarahan yang terjadi setelah persalinan). Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam merespon terhadap situasi darurat dalam perawatan maternal dan neonatal, yang dapat berkontribusi pada peningkatan keselamatan dan kualitas perawatan.

Dengan seminar dan workshop ini, segenap peserta diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) dalam melakukan deteksi dini risiko tinggi dan penatalaksanaan kegawatan maternal neonatal. Kecepatan dan ketepatan dalam penatalaksanaan kegawatan maternal dan neonatal merupakan kunci dari pencegahan kematian Ibu dan bayi. PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatus Emergency Komprehensif) yang berkualitas, memberikan input positif untuk tercapainya tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah.

 

Artikel ditulis oleh :

Maria Vita

(Kepala Humas RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

“Current Update On Sports Injury Symposium” – Rumah Sakit Panti Rapih 5/5 (1)

Yogyakarta, 21 Oktober 2023 — Masih dalam rangka memperingati hari jadi ke 94, RS Panti Rapih mengadakan Simposium Kesehatan dengan tajuk “Current Update On Sports Injury Symposium”.  Simposium ini bertujuan untuk memberikan informasi terkini/lanjutan mengenai cedera olahraga dan penanganannya kepada praktisi pelayanan kesehatan, profesional kesehatan, praktisi olahraga baik atlet itu sendiri, pelatih, pelatih kebugaran, penggemar olahraga, dan masyarakat umum.

Simposium dihadiri oleh 135 orang yang hadir langsung di Auditorium Lantai 6 Gedung Rawat Jalan Terpadu RS Panti Rapih dan 75 orang yang mengikuti secara daring melalui zoom. Acara dibuka oleh, Direktur Utama RS Panti Rapih, drg. V. Triputro Nugroho, M.Kes. Melalui sambutannya, drg. Nuki demikian beliau biasa disapa, menyampaikan apresiasi dan pengahargaa bagi semua pihak yang telah berupaya menghadirkan para profesional kesehatan dari multi disiplin keilmuan sehingga harapannya, kegiatan simposium kesehatan ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Profesor Dr. H. Djoko Pekik Irianto, M.Kes., Ketua Komite Olahraga Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta (KONI DIY), hadir secara langsung dan menyampaikan Keynote Speach dalam simposium tersebut. Profesor Djoko menekankan hubungan erat antara olahraga performa tinggi dan cedera olahraga, dengan mengatakan bahwa atlet Olimpiade menginvestasikan begitu banyak waktu dan tenaga sehingga cedera hampir tidak bisa dihindari. Dia menekankan pentingnya memahami dan mengatasi ambang rasa sakit atlet dan menerapkan ilmu olahraga dalam program pelatihan mereka.

Beliau juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan simposiun sehingga peserta dapat lebih memahami tentang penanganan cedera olahraga yang tidak dapat dihindari oleh para atlet. Dalam kesempatan itu, Profesor Djoko Pekik juga mencontohkan berbagai resiko cedera yang dialami olah atlit sehingga beliau menekankan bahwa para pelatih perlu memahami tindakan preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang perlu dilakukan. Secara preventif, pelatih perlu menerapkan sport science, termasuk menghindari latihan berlebihan dan mengenali ambang batas nyeri yang dialami atlet, sedangkan tindakan kuratif mencakup pemberian pertolongan pertama segera jika terjadi cedera, serta secara rehabilitatif, pelatih diharapkan memahami manajemen cedera.

Sesi simposium pertama bertajuk “Current Update on Sports Injury and their Management” dengan narasumber dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO, seorang anggota Tim Medis Kontingen Olimpiade Indonesia). dr. Andi berbagi pengalamannya menangani atlet Indonesia dan mengapresiasi perkembangan layanan kesehatan yang disediakan RS Panti Rapih yang kini dapat diakses oleh masyarakat luas.

Beliau juga menyampaikan tentang pentingnya mengatasi psikologis atlet yang tengah mengalami cedera, karena cedera dapat menjadi hambatan besar bagi kesuksesan mereka. Pendekatan multidisiplin dalam manajemen cedera di garis bawahi sepanjang simposium.

Kegiatan Simposium dilanjutkan dengan Soft Opening Sport Injury Clinic dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh Profesor Dr. H. Djoko Pekik Irianto, M.Kes., dr. John Hartono, Sp.KFR, dan dr. Djati Prasodjo, Sp. Rad-KRI (Direktur Pelayanan Medis RS Panti Rapih). Kehadiran Sport Injury Clinic yang akan memberikan penanganan dan perawatan secara komprehensif sehingga para pasien mampu mencapai pemulihan secara maksimal.

Setelah soft opening dilanjutkan dengan sesi kedua dengan narasumber dr. Bambang Kisworo, Sp.OT.(K), seorang dokter spesialis ortopedi dan traumatologi konsultan rekontruksi dewasa/sendi panggul & lutut RS Panti Rapih, dengan topik “Tata Laksana Cedera ACL: Advance and minimal invasive management. dr. Bambang demikian sering disapa, berbagi wawasan mengenai diagnosis, keluhan pasien, efek jangka panjang, dan tujuan pengobatan terkait cedera ACL. Ia menekankan pentingnya metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) dalam menangani cedera ACL dan merinci metode rekonstruksi arthroscopi yang digunakan di RS Panti Rapih.

Beliau menyampaikan bahwa pemulihan pasien dari cedera ACL dapat memakan waktu 6-12 bulan, dengan kemungkinan dilakukannya operasi revisi untuk mencegah cedera kembali. Manajemen cedera yang efektif memerlukan kolaborasi erat antara atlet, pelatih, dan profesional kesehatan dari berbagai disiplin ilmu.

Sesi simposium ketiga disampaikan oleh dr. Tedjo Rukmoyo, SpOT.(K), seorang dokter spesialis ortopedi & traumatologi konsultan RS Panti Rapih), yang mengeksplorasi topik terkait “Sports-Related Spine Injury”. Beliau membahas mengenai penyebab cedera olahraga, lokasi cedera yang umum, dan strategi pengobatan awal, menyoroti pentingnya pendekatan POLISI (Protect, Optimal, Loading, Ice, Compression, Elevation) dalam manajemen cedera.

Simposium diakhiri dengan pemaparan dari dr. Amelia Kartika, Sp, KFR, seorang dokter spesialis kedokteran fisik rehabilitasi medik RS Panti Rapih yang menyoroti tentang “Update Rehabilitasi pada Cedera Olahraga”. dr Amelia menyampaikan bahwa rehabilitasi pasca cedera olahraga tidak terlepas dari proses pemulihan jaringan sebagai respon alami tubuh. Rehabilitasi aktif dengan therapeutic exercise dan penggunaan modalitas memegang peran penting untuk dapat mengembalikan fungsional jaringan yang cedera. Proses rehabilitasi meliputi assesmen, prescription & planning, supervision, evaluation. Juga adanya 1 tim yang meliputi dokter spesialis kedokteran fisik rehabilitasi, fisioterapis sport, dokter ahli gizi dan psikolog jika diperlukan.

Dalam simposium tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada para narasumber serta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Hospital Tour di akhir acara.

RS Panti Rapih terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat serta dukungan bagi para atlit nasional, hal tersebut ditunjukkan melalui penyelenggaraan Simposium dan Sport Injury Clinic yang akan dihadirkan. RS Panti Rapih berharap cedera olahraga yang tak terhindarkan sebagai sebuah resiko yang mungkin dapat dialami oleh para atlet nasional kebanggaan Indonesia dapat tertangani secara komprehensif. Dan melalui simposium kesehatan ini  seluruh pelaku dan pemerhati olahraga dapat memetik poin-poin penting dari narasumber profesional yang dihadirkan.

 

Artikel ditulis oleh :

Maria Vita

(Kepala Humas RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Adenovirus 5/5 (1)

Rayyanza Malik Ahmad, putra bungsu Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, pernah menjalani rawat inap di rumah sakit dengan gejala awal demam tinggi. Awalnya, Rayyanza yang biasa disapa Cipung diduga mengidap penyakit pneumonia yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Akhirnya dokter memberikan antibiotik kepada adik Rafathar. Namun setelah mendapat hasil serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan Cipung mengidap virus di tubuhnya. Putra bungsu Raffi Ahmad dikabarkan terjangkit adenovirus.

 

“ADENOVIRUS

Adenovirus dapat menyebabkan berbagai infeksi sistem pernapasan dengan gejala seperti pilek, demam atau flu, baik yang bersifat ringan, maupun yang berat. Infeksi adenovirus paling sering terjadi pada anak balita. Dari sekitar 50 jenis adenovirus yang dapat menginfeksi manusia, yang paling umum adalah Adenovirus tipe 3, 4 dan 7.

Perlu diketahui bahwa adenovirus dapat menyebar melalui beberapa cara. Misalnya kontak dekat, udara, permukaan benda dan air. Virus dapat menyebar dari orang ke orang melalui berjabat tangan, berciuman, atau berpelukan. Virus dapat juga menyebar melalui droplet (percikan air liur) yang dikeluarkan saat bersin dan batuk. Setelah menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi, seseorang bisa terpapar virus ini dengan menyentuh mata, hidung, atau mulutnya sebelum mencuci tangan. Virus juga dapat menyebar melalui tinja orang yang terinfeksi dan air yang tidak mengandung klorin di kolam renang. Gejala klinis infeksi adenovirus adalah mirip dengan pilek atau flu biasa. Juga terjadi batuk, demam, pilek, sakit tenggorokan, mata merah muda, sakit pada telinga, pembengkakan kelenjar getah bening leher, sulit bernapas dan radang paru-paru. Selain itu, juga sakit perut, diare, mual dan muntah.

Diagnosis Infeksi adenovirus berat memerlukan beberapa jenis tes laboratorium dan radiologi. Meliputi tes darah rutin, urine rutin, tes swab lendir dari hidung, tes feses, dan rontgen dada. Pengobatan infeksi adenovirus bersifat simtomatik dan suportif, bukan pemberian obat antivirus.

Beberapa cara berikut penting untuk meredakan gejala. Konsumsi banyak cairan, termasuk jus buah dan elektrolit, untuk mencergah dan mengatasi dehidrasi. Atasi hidung mampet dengan mengajari anak etika membuang ingus atau cairan lendir dari hidung. Untuk bayi dapat diberikan semprotan beberapa tetes air garam ke hidungnya dan kemudian disedot lendir dengan spuit. Kelembaban udara yang baik dapat meredakan hidung mampet dan membantu bernapas lebih mudah. Turunkan demam dengan obat turun demam yang sesuai. Pencegahan penyebaran infeksi adenovirus dilakuan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan air, atau membersihkan tangan dengan hand sanitizer berbasis alkohol yang mengandung minimal 60 persen etanol.

Hindari menyentuh mulut, hidung, atau mata jika belum mencuci tangan. Jauhkan dari orang yang sedang sakit dan menghindari kerumunan. Bersihkan dan disinfeksi mainan anak sesering mungkin. Bersihkan meja, bak cuci dan permukaan keras lainnya dengan campuran pemutih dan air. Jika gejala infeksi adenovirus pulih dalam beberapa hari, sebenarnya anak tidak perlu diperiksakan ke dokter. Namun demikian, jika gejala yang dirasa seperti batuk, demam, pilek, dan sakit tenggorokan semakin parah, segeralah periksakan anak ke dokter, karena perawatan di rumah sakit atau opname kadang diperlukan untuk membantu proses pemulihan dengan tindakan medis yang tepat, seperti yang dijalani oleh Rayyanza Malik Ahmad.

 

Artikel ditulis oleh :

Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

 

Informasi :

Klinik Anak Sakit

Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pelayanan dilakukan setiap hari, termasuk hari Minggu dan libur nasional

Pendaftaran dokter 24 jam :

0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

 

Mohon dapat memberikan rating

RS Panti Rapih berkolaborasi dengan Rotary International untuk Program Kesadaran Polio dan Pengelolaan Limbah ”End Polio & End Waste” No ratings yet.

Pada Minggu, 15 Oktober 2023, RS Panti Rapih Yogyakarta berkolaborasi dengan Rotary International, mengambil langkah signifikan dalam mengatasi wabah polio yang mengkhawatirkan di Indonesia dan mempromosikan pengelolaan limbah melalui Sunday Talkshow. Acara ini diadakan di Sleman City Hall dengan tujuan meningkatkan kesadaran tentang bahaya polio dan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak tentang menjalani gaya hidup sehat.

Dengan kasus polio yang terkonfirmasi dilaporkan di berbagai wilayah Indonesia sejak November 2022, termasuk di Banda Aceh dan Purwakarta, Rotary Club sangat prihatin dengan situasi tersebut. Sebagai respon, Rotary Club Distrik 3410 berkolaborasi dengan RS Panti Rapih untuk mengatasi wabah polio yang mengkhawatirkan sekaligus mempromosikan praktik hidup sehat dalam masyarakat.

Sambutan penuh motivasi dari drg. Vincentius Triputro Nugroho, M. Kes, Direktur Utama RS panti Rapih memperkuat komitmen rumah sakit terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam 94 tahun pelayanan RS Panti Rapih. Beliau juga menekankan dedikasi rumah sakit untuk bekerja erat dengan masyarakat dan berkolaborasi dengan lembaga guna menciptakan masa depan yang lebih sehat bagi semua.

Talkshow yang memberi wawasan dipandu oleh dua orang profesional dari RS Panti Rapih, yakni dr. Anastasia Ratnaningsih, Sp. A, seorang dokter spesialis anak , dan Dr. Dr. Jodi Visnu, MPH. Kedua pembicara berbagi wawasan berharga tentang pentingnya menjaga gaya hidup sehat dan higienis, terutama bagi anak-anak.

Acara ini berhasil menyoroti kebutuhan melawan wabah polio dengan segera dan masalah pengelolaan limbah di Yogyakarta. Kolaborasi antara Rotary International dan RS Panti Rapih menjadi contoh inspiratif tentang kerja bersama demi kebaikan masyarakat.

Dengan bergandengan tangan, organisasi-organisasi ini berharap dapat mempercepat pencapaian SDGs dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bersih bagi warga Yogyakarta. Komitmen yang ditunjukkan oleh RS Panti Rapih dan Rotary International adalah perwujudan dari tekad masyarakat untuk mengatasi tantangan-tantangan yang mendesak ini.

Para peserta yang hadir dapat membawa pulang  pengetahuan yang berharga dan rasa tanggung jawab baru terhadap kesehatan mereka sendiri dan lingkungan. RS Panti Rapih tetap berkomitmen pada misi mereka untuk melayani masyarakat dan membangun kemitraan demi masa depan yang lebih baik. Hal ini merupakan komitmen yang dibangun untuk kesejahteraan warga Yogyakarta.

Dengan upaya yang dilakukan oleh RS Panti Rapih dan Rotary International, ada harapan untuk masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk bebas dari polio dan peduli terhadap masalah limbah.

 

Artikel ini ditulis oleh :

Dr. dr. Jodi Visnu, MPH

(Hospital Representative RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

“Panti Rapih Hospital Collaborates with Rotary International

for Polio and Waste Awareness Program”

Yogyakarta, Indonesia – On Sunday, October 15, 2023, Panti Rapih Hospital in Yogyakarta, in collaboration with Rotary International, took a significant step towards addressing the alarming polio outbreak in Indonesia and promoting waste management through a Sunday Talkshow. The event, held at Sleman City Hall in Yogyakarta, aimed to raise awareness about the dangers of polio and educate the audience, particularly children, about leading a healthy lifestyle.

With confirmed polio cases reported in various parts of Indonesia since November 2022, including Banda Aceh and Purwakarta, Rotary Club expressed deep concern about the situation. As a response, Rotary Club District 3410 joined hands with Panti Rapih Hospital to combat the alarming polio outbreak and simultaneously promote healthy living practices within the community.

The event commenced with an empowering speech from Dr. Vincentius Triputro Nugroho, the Director General of Panti Rapih Hospital, who reinforced the hospital’s commitment to the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) through their 94 years of service. Dr. Nugroho emphasized the hospital’s dedication to working closely with the community and collaborating with institutions to create a healthier future for all.

The enlightening talk show was led by two esteemed professionals, Dr. Anastasia Ratnaningsih, a renowned pediatrician, and Dr. Jodi Visnu, a representative from Panti Rapih Hospital. Both speakers shared valuable insights on the importance of maintaining a healthy and hygienic lifestyle, particularly for children.

The event successfully highlighted the need for immediate action against the polio outbreak and waste management issues in Yogyakarta. The collaboration between Rotary International and Panti Rapih Hospital served as an inspiring example of working together for the greater good of the community.

By joining hands, these organizations hope to accelerate the achievement of SDGs and create a healthier, cleaner environment for the people of Yogyakarta. The commitment displayed by Panti Rapih Hospital and Rotary International is an embodiment of the community’s determination to overcome these pressing challenges.

As the event concluded, the audience left equipped with valuable knowledge and a renewed sense of responsibility towards their own health and the environment. Panti Rapih Hospital remains dedicated to its mission of serving the community and fostering partnerships for a better future, demonstrating their unwavering commitment to the well-being of Yogyakarta’s residents.

With the efforts of organizations like Panti Rapih Hospital and Rotary International, there is hope for a polio-free and waste-conscious society in Yogyakarta and beyond.


This artcle wa written by:

Dr. dr. Jodi Visnu, MPH

(Representative of Panti Rapih Hospital, Yogyakarta)

 

Mohon dapat memberikan rating

Menjaga Kesehatan Jantung Sejak Usia Muda No ratings yet.

Jantung merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh kita dengan tugas utama memompa darah untuk mengirimkan oksigen dan nutrisi ke seluruh bagian tubuh. Kondisi di mana terjadi gangguan pada komponen-komponen jantung yang memengaruhi fungsi normalnya disebut sebagai penyakit jantung. Jenis-jenis penyakit jantung dapat meliputi penyakit jantung koroner, gagal jantung, aritmia, dan kelainan jantung bawaan. Adanya penyakit jantung dapat menyebabkan gangguan kemampuan jantung dalam memompa darah secara efisien dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi kesehatan individu.

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, dan jumlah kasusnya menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Semakin banyak kasus penyakit jantung juga muncul sejak usia muda. Selaras dengan tema Hari Jantung Sedunia tahun 2023 ini yaitu “Use Heart, Know Heart”, penting bagi kita untuk memahami berbagai faktor risiko yang dapat membahayakan kesehatan jantung antara lain tekanan darah tinggi, kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan gula darah puasa tinggi, kelebihan berat badan atau obesitas, rendahnya aktivitas fisik, merokok, dan polusi udara. Berita baiknya, banyak dari faktor risiko penyakit jantung dapat dikendalikan atau dicegah dengan langkah-langkah yang tepat. Gaya hidup sehat, terutama jika dimulai sejak usia muda, dapat berperan penting dalam mencegah penyakit jantung.

  1. Menjaga Berat Badan Ideal

Salah satu faktor risiko utama penyakit jantung adalah berat badan berlebih. Kondisi kelebihan berat badan (overweight) atau obesitas ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dari kondisi normal, yaitu >25–27,0 kg/m2 untuk kelebihan berat badan atau gemuk dan >27,0 kg/m2 untuk obesitas. Untuk mencapai berat badan yang dianggap normal, penting untuk menjaga IMT dalam kisaran 18,5 hingga 25 kg/m2. IMT dapat diukur dengan rumus berikut:

Selain IMT, lingkar perut juga dapat menandakan adanya obesitas yang dapat memicu berbagai masalah untuk jantung. Untuk laki-laki, batas aman lingkar perut adalah 90 cm. Sedangkan batas aman lingkar perut untuk perempuan adalah 80 cm. Berat badan yang sehat dan ideal dapat dicapai dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang teratur.

  1. Pola Makan Sehat

Makanan adalah salah satu faktor kunci dalam menjaga kesehatan jantung. Makan makanan dengan gizi seimbang yang kaya akan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan sumber protein yang rendah lemak dapat membantu mengontrol berat badan, tekanan darah, dan kadar kolesterol. Hindarilah makanan olahan yang tinggi garam, gula, dan lemak jenuh hingga makanan cepat saji yang tidak sehat.

Penting juga untuk memahami berapa banyak asupan kalori yang seharusnya Anda konsumsi untuk menjaga berat badan Anda. Biasanya, informasi tentang gizi dan kalori pada label makanan didasarkan pada kebutuhan energi harian sekitar 2.150 kalori. Namun, kebutuhan kalori Anda dapat berbeda, tergantung pada berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik Anda.

  1. Aktivitas Fisik Teratur

Aktivitas fisik adalah kunci lainnya dalam menjaga kesehatan jantung. Untuk mencapai manfaat aktivitas fisik yang optimal, penting untuk menerapkan prinsip BBTT yaitu Baik, Benar, Terukur, dan Teratur. Ini mencakup pemilihan aktivitas fisik aerobik dengan intensitas sedang-berat yang dilakukan dengan durasi minimal 150–300menit/minggu atau idealnya minimal 30 menit/hari dalam 5 hari/minggu. Jenis aktivitas fisik aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau latihan kardiovaskular lainnya dapat dilakukan. Aktivitas fisik yang dilakukan secara benar dan rutin dapat membantu menjaga berat badan yang sehat, meningkatkan sirkulasi darah, mengontrol tekanan darah, memperkuat jantung, dan mengurangi risiko penyakit jantung.

  1. Hindari Merokok dan Minuman Beralkohol Berlebihan

Merokok adalah salah satu kebiasaan yang paling berbahaya bagi kesehatan jantung Anda. Rokok—baik rokok konvensional, vape, maupun produk tembakau atau nikotin lainnya—mengandung berbagai zat kimia beracun yang dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan meningkatkan risiko pembentukan plak aterosklerosis yang dapat menyumbat arteri jantung. Merokok juga mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah dengan efisien dan menurunkan kadar oksigen dalam darah. Selain itu, konsumsi alkohol berlebihan juga dapat memperbesar risiko terkena penyakit jantung. Oleh karena itu, langkah terbaik yang dapat Anda ambil untuk menjaga kesehatan jantung Anda adalah dengan menghindari merokok sepenuhnya atau berhenti merokok jika Anda seorang perokok serta untuk mengonsumsi alkohol secara bijak.

  1. Kelola Stres dengan Baik

Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan darah, meningkatkan peradangan dalam tubuh, dan memicu perilaku yang tidak sehat seperti merokok atau konsumsi makanan tidak sehat sehingga berdampak negatif pada kesehatan jantung Anda. Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan baik melalui teknik-teknik seperti meditasi, yoga, olahraga, atau bahkan hanya menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga dan teman-teman. Stres yang terkontrol akan membantu menjaga tekanan darah Anda tetap stabil, menjaga kesehatan jantung, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

  1. Periksakan Kesehatan Secara Rutin

Terakhir, penting untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin oleh tenaga medis profesional. Pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi faktor risiko jantung seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak seimbang, atau diabetes secara dini. Dengan pemantauan yang tepat, Anda dapat mengidentifikasi masalah kesehatan jantung lebih awal dan mengambil tindakan preventif yang diperlukan. Berkonsultasilah dengan dokter Anda untuk melakukan pemeriksaan jantung dan penilaian risiko kardiovaskular Anda, serta untuk mendiskusikan gaya hidup dan kebiasaan makan sehat yang sesuai.

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Vita Yanti, M.SC., PH.D., Sp.PD.,Sp.JP

(Dokter Spesialis Jantung RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Lokasi Pelayanan :
Klinik Jantung
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Mitos dan Fakta Tentang Rabies: Memahami Penyakit yang Berbahaya ini 5/5 (1)

Rabies atau yang lebih kita kenal dengan penyakit “anjing gila” merupakan penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies (Lyssavirus), dan seringkali dianggap sebagai salah satu penyakit mematikan bagi manusia dan hewan. Virus ini dapat menginfeksi otak dan sistem saraf, sehingga harus ditangani dengan cepat agar tidak berakibat fatal. Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang penyakit rabies, gejala, penyebaran, pencegahan, dan pengobatannya.

Penyebab dan Penyebaran

Rabies disebabkan oleh virus rabies yang termasuk dalam genus Lyssavirus. Virus ini biasanya ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, dengan anjing dan kelelawar sering menjadi penyebab utama penularan rabies pada manusia. Virus juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka atau selaput lendir. Begitu masuk ke dalam tubuh, virus menyebar melalui saraf tepi menuju sistem saraf pusat, yang pada akhirnya menyebabkan gejala neurologis yang parah.

Gejala

Setelah terinfeksi virus rabies, gejala awalnya mirip dengan flu atau infeksi virus lainnya. Namun, setelah beberapa hari hingga berminggu-minggu, gejalanya berkembang menjadi lebih serius. Gejala rabies bisa dibagi menjadi 4 fase yaitu:

  1. Stadium Permulaan (Prodormal) ditandai dengan keluhan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, sulit tidur, demam, muntah, sakit kepala yang berat, nyeri di tenggorokan dan mual.
  2. Stadium Rangsangan (Sensoris) ditandai dengan rasa nyeri dan panas disertai kesemutan pada luka gigitan, cemas,dan reaksi berlebih terhadap rangsang sensorik.
  3. Stadium Gila (ekstasi) ditandai dengan berteriak-teriak, menjambak-jambak rambut, berlari-lari dan melompat-lompat, takut air, takut cahaya, takut suara, berlebihan air liur, dan berlebihan air mata
  4. Stadium Lumpuh (paralisis) ditandai dengan mulut menganga, lumpuh mulai dari kaki, dan kelumpuhan otot-otot pernafasan (susah bernafas)

Pencegahan dan Perawatan Luka Rabies

Pencegahan merupakan Langkah paling efektif, sebab tidak ada pengobatan yang efektif untuk rabies setelah gejala muncul. Beberapa langkah pencegahan termasuk vaksinasi memegang peranan penting.

  • Profilaksis pra pajanan (PrEP) dengan vaksin rabies direkomendasikan untuk individu yang berisiko tinggi terpapar, seperti dokter hewan, petugas hewan, dan wisatawan yang tinggal di wilayah dimana rabies sering terjadi.
  • Profilaksis Paska Pajanan (PEP): Jika digigit atau terkena hewan yang diduga mengidap rabies, perhatian medis segera diperlukan. PEP melibatkan serangkaian vaksinasi rabies dan, dalam beberapa kasus diperlukan immunoglobulin rabies untuk menetralisir virus.

Perawatan luka gigitan rabies harus sangat serius dan segera. Langkah-langkah perawatan termasuk:

  1. Bersihkan luka: Segera cuci luka dengan air bersih dan sabun selama setidaknya 15 menit. Gunakan air mengalir jika mungkin. Ini membantu menghilangkan kotoran, bakteri, dan potensi virus rabies.
  2. Desinfeksi luka: Setelah dicuci, gunakan antiseptik seperti betadine atau nacl untuk membersihkan luka. Ini membantu mengurangi risiko infeksi.
  3. Berhentikanluka berdarah (jika ada): Jika luka mengeluarkan darah, gunakan kain bersih atau kasa steril untuk menekan perdarahan. Hindari menggunakan perban yang terlalu ketat.
  4. Tutup luka: Tutup luka dengan perban steril atau kasa bersih setelah membersihkan dan mendesinfeksi luka. Ini membantu mencegah infeksi sekunder.
  5. Konsultasi medis segera: Segera cari bantuan medis profesional. Dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut, memberikan vaksinasi rabies, dan mungkin imunoglobulin rabies. Pengobatan harus dimulai sesegera mungkin untuk mencegah penularan rabies yang mematikan.

Kesimpulan

Rabies tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di daerah yang tidak memiliki akses yang memadai ke vaksinasi hewan peliharaan dan perawatan medis. Pengetahuan akan penyakit ini, vaksinasi hewan peliharaan yang rutin, dan tindakan cepat setelah paparan dapat membantu mengurangi risiko rabies pada manusia.

Memahami penyebab, gejala, dan tindakan pencegahan sangatlah penting dalam menjaga kesehatan manusia dan hewan. Melalui pendidikan, vaksinasi, dan pengendalian hewan yang bertanggung jawab, kita dapat berupaya mengurangi kejadian rabies dan pada akhirnya menghilangkan virus mematikan ini.

 

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Andreas Avellini Krishnaputra Tandelilin, Ph.D., Sp. B

(Dokters Spesialis Bedah Umum RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

IGD RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon : 0274 – 552118

 

 

Mohon dapat memberikan rating