Tahukah Anda? Pentingnya Vaksin Hepatitis No ratings yet.

Hepatitis atau peradangan hati adalah salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyebab yang umum dan paling sering disebabkan oleh virus hepatitis. Selain virus faktor lain yang berpengaruh adalah penggunaan obat atau zat kimia yang sensitif dan berkepanjangan seperti alkohol, obat-obat tertentu, serta aflatoksin pada jamur dan penyakit autoimun. Ada 5 tipe virus hepatitis yaitu tipe A, B, C, D, dan E.

Seorang jika terkena virus hepatitis akan beresiko menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis atau menjadi kanker hati, jika terlambat diketahui atau penanganannya tak maksimal. Selain  fisik yang sakit akan memberi dampak juga pada psikis, sosial dan finansial karena pengobatan yang akut  dan parah atau lama berkepanjangan, bahkan memungkinkan kematian. Tipe B dan C adalah penyebab umum dari sirosis hati dan kanker hati.

Cara penularan hepatitis ke tubuh orang bisa melalui kontak dengan darah  atau cairan tubuh atau kotoran yang terinfeksi di makanan dan minuman yang tak bersih dari sanitasi yang tak baik (fecal oral), pemakaian jarum suntik yang tak steril dan berulang untuk pemberian obat kepada pasien yang berbeda, tindik, tattoo, tranfusi darah serta penularan dari ibu ke janinnya saat kehamilan (parenteral). Penularan virus hepatitis A dan E melalui fecal oral, Hepatitis B, C dan D melalui parenteral.

Hepatitis atau peradangan hati adalah salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyebab yang umum dan paling sering disebabkan oleh virus hepatitis. Selain virus faktor lain yang berpengaruh adalah penggunaan obat atau zat kimia yang sensitive dan berkepanjangan seperti alcohol, obat-obat tertentu, serta aflatoksin pada jamur dan penyakit autoimun. Ada 5 tipe virus hepatitis yaitu tipe A, B, C, D, dan E.

Seorang jika terkena virus hepatitis akan beresiko menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis atau menjadi kanker hati, jika terlambat diketahui atau penanganannya tak maksimal. Selain  fisik yang sakit akan memberi dampak juga pada psikis, sosial dan finansial karena pengobatan yang akut  dan parah atau lama berkepanjangan, bahkan memungkinkan kematian. Tipe B dan C adalah penyebab umum dari sirosis hati dan kanker hati.

Cara penularan hepatitis ke tubuh orang bisa melalui kontak dengan darah  atau cairan tubuh atau kotoran yang terinfeksi di makanan dan minuman yang tak bersih dari sanitasi yang tak baik (fecal oral), pemakaian jarum suntik yang tak steril dan berulang untuk pemberian obat kepada pasien yang berbeda, tindik, tattoo, tranfusi darah serta penularan dari ibu ke janinnya saat kehamilan (parenteral). Penularan virus hepatitis A dan E melalui fecal oral, Hepatitis B, C dan D melalui parenteral.

Gejala

Masa inkubasi adalah masa atau periode di mana paparan virus hepatitis masuk ke dalam tubuh hingga timbul tanda/gejala pertama yang di rasakan. Virus hepatitis A dan E  yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang terinfeksi karena sanitasi yang tak baik mempunyai masa inkubasi antara 2 sampai 6 minggu atau menyebabkan penyakit yang akut, sedangkan hepatitis B dan C yang ditularkan melalui darah akan memiliki masa inkubasi yang lebih panjang, 2 sampai 6 bulan, ini nanti yang akan menyebabkan fibrosis, sirosis, kanker hati, dan gagal hati karena bertahan lama/kronis di tubuh.

Adapun gejala hepatitis yang sering diraskan adalah Flu like syndrome artinya gejala seperti orang Flu saja tetapi berkepanjangan lebih dari 2 minggu, mudah cepat lelah, demam, mual dan muntah, urin akan berwarna gelap seperti air teh dan yang khas timbul warna kuning di conjungtiva mata, mukosa  dan kulit, sehingga dikenal sebagi “sakit Kuning”, jika tak terdeteksi dengan cepat akan bisa menimbulkan kerusakan  dan kegagalan fungsi hati dengan gejala khronis berupa perut membuncit, pembengkakan kaki, pelebaran pembuluh darah pada permukaan kulit.

 

Cara Pencegahan

A. Promosi kesehatan

  • Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang apa itu hepatitis dan mengetahui cara penularannya
  • Menghilangkan stigma/pandangan negative terhadap pasien hepatitis

B. Perlindungan khusus pada petugas, pasien dan keluarga dengan menggunakan alat pelindung diri APD saat bertugas, penggunaan jarum sekali pakai, penggunaan pengaman kondom saat berhubungan, tidak berbagi alat makan atau mandi dengan penderita.

C. Pengendalian Faktor Resiko

  • Tingkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan
  • Meningkatkan stamina tubuh dengan makan minum yang sehat dan higienis, istirahat cukup dan olahraga teratur
  • Screening terhadap darah donor dan organ transplantasi
  • Kebersihan dan sterilisasi terhadap alat-alat kesehatan yang berpotensi menularkan
  • Deteksi dini dan Medical Check Up rutin untuk mengendalikan resiko pencetus

D. Pemberian vaksinasi untuk mencegah virus hepatitis

Untuk saat ini di Indonesia baru tersedia vaksin untuk hepatitis A dan B baik untuk bayi, anak dan dewasa, sementara vaksin untuk tipe  C, D dan E masih dalam proses pengembangan.

Penderita yang terjangkit hepatitis akan mudah menularkan kepada orang-orang di sekitarnya, mulai dari janin sampai lanjut usia, dari suami, istri, anak, cucu, ayah, ibu, saudara-saudara dalam lingkungan keluarga,  sahabat-sahabat dalam satu pekerjaan atau instansi bahkan mungkin masyarakat disekeliling penderita hepatitis. Jadi kenali gejala hepatitis, hindari dan sekiranya memungkinkan, cegahlah dengan melakukan vaksinasi hepatitis.

 

Bersambung ke artikel selanjutnya… Perlukah Saya di Vaksin Hepatitis?

Dapat dilihat pada artikel berikut ini https://pantirapih.or.id/rspr/perlukah-saya-di-vaksin-hepatitis/

Medical Check Up merupakan pemeriksaan komprehensif terhadap diri seseorang untuk menentukan status kesehatan dan/atau menemukan penyakit secara dini. Manfaat Medical Check Up itu sendiri untuk mengetahui adanya penyakit secara dini sehingga penyakit tersebut dapat ditanggulangi seawal mungkin.

Segera deteksi kesehatan Anda sekarang juga di Medical Check Up RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Tandean Arif Wibowo, MPH
(
Dokter Medical Check Up – Home Care Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Medical Check Up
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : 0274 – 563333 ext 1125
Senin – Sabtu pukul 07.00-14.00. Hari Minggu & Tgl Merah Tutup.

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Ruptur ACL & PCL Lutut 5/5 (1)

Rupturligamentum regio lutut cukup sering kita dengar, baca, menyaksikan ataupun mungkin pernah mengalami kejadian ini. Kegiatan olahraga yang highimpact sering menjadi penyebab dari kasus cidera daerah lutut ini. Basket, Lari, Sepakbola, Beladiri adalah beberapa contohnya olahraga yang banyak peminatnya, tetapi dengan resiko tinggi kasus rupturligamentum daerah lutut.

 

Anatomi

Seperti kita ketahui, komponen utama sendi lutut manusia terdiri dari:

  • komponen tulang : tulangpatella (tempurung lutut), permukaan distal tulang femur (paha), permukaan proximal dari tulang tibia (tulang kering), permukaan proximal tulang fibula (betis)
  • komponen jaringan penunjang : ligamentum (patellae, cruciatum anterior dan posterior, ligamentumcollateral
    medial dan lateral), bagian meniscus (lateral dan medial), synovialmembrane dan cairan synovial (sendi), komponen musculatum (otot), subcutis (lemak bawah kulit) dan cutis (kulit)

Penyebab
Beberapa kondisi dari aktifitas-aktifitas yang kita sebutkan di atas bersumbangsih dalam menimbulkan suatu kejadian rupturligamentum lutut, seperti : kurangnya pemanasan, gerakan yang salah, jatuh/ mendarat dengan posisi yang tidak sempurna, struktur anatomi penunjang lutut yang tidak diperkuat, gerakan memutar (pivot), melompat, berhenti secara mendadak, gerakan eksplosif lainnya, sampai dengan benturan/ trauma langsung di daerah lutut yang cukup banyak terjadi. Secara spesifik, kita akan menyoroti pada ruptur Anterior Cruciatum Ligamen (ACL) dan Posterior Cruciatum Ligamen (PCL) yang lebih sering kasusnya ditemukan. Ruptur ACL merupakan kasus yang lebih sering dibahas, dikarenakan prevalensinya yang lebih sering ditemukan, sedang ruptur PCL lebh sedikit ditemukan, tetapi keduanya memberikan dampak yang signifikan pada stabilitas lutut, terutama untuk mengembalikan fungsinya untuk gerakan-gerakan kompleks yang banyak dalam olahraga. Struktur PCL yang lebih tebal dari ACL kemungkinan besar bersumbangsih pada lebih sedikitnya kasus robekan pada PCL dibandingkan ACL.

Gejala dan Tanda
Ruptur ACL lebih memberikan gambaran gejala klinis yang nyata dibandingkan PCL, dimana gejala bengkakan sendi dan rasa nyeri lebih mudah ditemukan pada kasus-kasus ruptur ACL. Perbedaan lain yang timbul pada gejala dan tanda ruptur ACL atau PCL adalah sensasi suara “pop” yang biasanya lebih sering ditemukan pada pasien dengan ruptur ACL dibandingkan PCL. Pemeriksaan fisik yang akan dilakukan oleh dokter untuk kasus ruptur ACL dapat meliputi tes Lachman, Anterior Drawer Test dan tes Pivot Shift. Tes Lachman merupakan tes yang dilakukan untuk menilai instabilitas gerak sendi lutut dengan menilai gerakan abnormal ke arah depan dari tibia. Anterior Drawertest merupakan pemeriksaan yang menyerupai Lachmantest dengan perbedaan pada sudut flexi lutut yang berada pada 90°. Tes Pivot Shift lebih sulit dilakukan, dengan memposisikan lutut pada posisi ekstensi, valgus dan rotasi 20-30°, dimana tes ini berusaha membuktikan gerakan abnormal sendi lutut jika dicurigai ruptur ACL. Lelli’s test juga digunakan untuk menilai ACL, dengan memberikan bantalan di bawah betis pasien, lalu memberikan tekanan di bagian depan distal femur, test positif(curiga rupptur ACL) jika ujung kaki ikut bergerak dengan ke atas saat diberikan penekanan tadi. Pada ruptur PCL, tes yang dapat dilakukan adalah tes Posterior Drawer, yang merupakan kontra dari tes Lachman, dimana pemeriksa mengecek instabilitas lutut dengan menekan tibia ke arah posterior untuk menilai fungsi PCL. Tes lain adalah tes Posterior Sag, yaitu mengecek kestabilan lutut dengan membandingkan kedua lutut dari arah samping dengan posisi flexi 90°.

Macam Pemeriksaan Fisik Ruptur ACL dan PCL:

  1. Lachman Test
  2. Anterior Drawer Test
  3. Pivot Test
  4. Posterior Drawer Test
  5. Posterior Sag Test
  6. Lelli’s Test

A. Rontgen
Rontgen/Xray polos pada lutut lebih bermanfaat dalam menilai struktur tulang, sehingga baik untuk menilai adakah fraktur pada tulang, sekaligus dapat digunakan untuk menilai struktur stabilitas anatomi dari tulang-tulang yang membentuk sendi lutut serta menjadi marker untuk prosedur repairrupturligamentum yang akan direncanakan lebih lanjut. Salah satu indikator yang dapat digunakan sebagai petanda adanya ruptur ACL adalah SegondFracture (fraktur avulsi pada bagian aspek plataeu/condyluslateralistibia). Sedang pada ruptur PCL, dapat dicurigai dengan menilai ada tidaknya peningkatan posterior sag dengan posisi stressed knee position xray.

B. MRI
MRI saat ini menjadi modalitas pemeriksaan yang paling valid dalam menilai kondisi jaringan lunak / penunjang di daerah lutut. Kita dapat menilai ligamentum, meniscus serta jaringan kartilago yang ada di area injury dari lutut. Pada kasus injury ACL, dapat digunakan beberapa petanda untuk melihat sebuah kondisi robekan ACL, yaitu, diskontinuitas jaringan ACL, irregularitas sinyal MRI pada ACL, perubahan sudut ACL, penebalan (buckling) PCL, memar pada tulang (lateral femoralcondylus, lateral tibiaplateau). Sedang tanda seperti lesi/edema subchondral dapat menjadi petanda sebuah robekan yang kronik

Tata Laksana
Tatalaksana non operatif umumnya pada ruptur parsial. Lutut yang ligamentumnya terkena pada fase akut,
disarankan untuk dilakukan pembebatan dengan perban elastik, serta menghindari gerakan-gerakan yang dapat
memacu nyeri timbul karena dikhawatirkan dapat memperberat cidera yang ada. Tindakan operatif sering menjadi pilihan dikarenakan memang dapat memberikan hasil keluaran dari fungsi lutut dan ligametum yang kembali baik, terutama pada kasus rupture total ACL ataupun PCL. Proses pergantian ligamentum ACL/PCL diawali dengan mengambil pengganti ligamentum yang putus dari tendon hamstring ataupun tendon pattelar.

 

Artikel terkait: https://pantirapih.or.id/rspr/mri-magnetic-resonance-imaging/

 

Artikel ini ditulis oleh:
dr.  John Hartono, Sp. KFR
(Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RS Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Ortopedi & Traumatologi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Minum 8 Gelas Air Perhari di Bulan Puasa No ratings yet.

Air putih bukan hanya berfungsi untuk membuat tubuh tetap terhidrasi, tetapi minum air putih yang cukup sangat bermanfaat bagi tubuh.

Apa saja manfaat minum air 8 gelas sehari? Yuk simak manfaatnya:

  • Dapat memelihara fungsi ginjal
  • Menghindari dehidrasi
  • Mengurangi risiko kanker kandung kemih
  • Memperlancar pencernaan
  • Perawatan kulit
  • Mengontrol kalori

Lalu, saat apa saja kita harus minum air putih supaya selama bulan puasa konsumsi air kita dapat terpenuhi?

  • 1 Gelas Setelah Bangun Sahur
  • 1 Gelas Selepas Sahur
  • 1 Gelas Saat Berbuka Puasa
  • 1 Gelas Setelah Sholat Maghrib
  • 1 Gelas Setelah Makan Malam
  • 1 Gelas Setelah Sholat Isya
  • 1 Gelas Setelah Sholat Tarawih
  • 1 Gelas Sebelum Tidur

Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan. Semoga Ibadah Puasa tahun ini membawa berkah bagi kita semua.

 

Artikel ini bersumber dari: Kementrian Kesehatan dan Germas

 

Mohon dapat memberikan rating

Agar Puasa Tetap Sehat di Saat Pandemi COVID-19 No ratings yet.

Halo Sahabat Sehat RS Panti Rapih!

Taukah anda menjaga kesehatan tubuh selama Pandemi COVID-19 sangat diperlukan untuk mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh kita lho. Yuk simak tips agar badan tetap sehat dan prima selama Pandemi COVID-19 berikut ini:

  • Waktu Sahur. Perbanyak konsumsi makanan berserat (sayur dan buah) yang kaya vitamin, mineral, serta lauk pauk sumber protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh
  • Pagi, Siang sampai Sore. Batasi aktivitas di luar rumah, bekerja, belajar dan olahraga, beribadah dilakukan di rumah
  • Waktu Berbuka Puasa. Mulai dengan segelas air hangat dan makanan manis alami dan berserat.
    Tidak merokok
  • Puasa Bukan Menambah Porsi Makan. Makan malam sesuai porsi dan bergizi seimbang, batasi makanan manis, asin dan berlemak, istirahat cukup untuk bersiap bangun sahur esok hari
  • Tidur Lebih Cepat. Coba untuk mengatur waktu tidur satu jam lebih awal karena kita akan bangun lebih awal dari biasanya
  • Perhatikan Lingkungan Sekitar. Untuk memastikan kualitas tidur, pastikan kamar dalam kondisi tenang dan minim cahaya. Jika diperlukan gunakan earplug atau masker mata
  • Mencoba Power Nap. Power nap adalah tidur selama 20 menit di sela kegiatan untuk mengembalikan stamina. Sebaiknya tidak lebih dari 20 menit karena tidur berisiko lebih nyenyak
  • Perhatikan Pola Makan. Saat berbuka sebaiknya hindari makanan yang kaya kalori, gula, terlalu pedas, atau digoreng dengan minyak terlalu banyak

Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan. Semoga Ibadah Puasa tahun ini membawa berkah bagi kita semua.

 

Artikel bersumber dari: Kementrian Kesehatan dan Germas

Mohon dapat memberikan rating

Cegah Diare No ratings yet.

Diare adalah penyebab utama kematian pada anak balita secara global yang mencapai sekitar 525.000 anak setiap tahunnya. Di Indonesia diare merupakan penyakit endemis dan juga merupakan penyakit potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sering disertai dengan kematian. Apa yang dapat kita lakukan?

Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare yang tersebar di 11 provinsi, 18 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 1. 213 orang dan kematian 30 orang. KLB diare sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, terlihat bahwa ‘Case Fatality Rate’ (CFR) masih cukup tinggi (>1%), bahkan tahun 2015 CFR diare mencapai 2,47%. Diare dapat berlangsung beberapa hari, dan dapat menyebabkan tubuh anak kehilangan air dan mineral atau garam yang diperlukan untuk bertahan hidup dan disebut dehidrasi. Di masa lalu, dehidrasi berat karena kehilangan cairan tubuh adalah penyebab utama kematian pada diare. Sekarang, penyebab lain seperti infeksi bakteri hebat atau septikemia akan menyebabkan peningkatan proporsi kematian terkait diare.

Diare didefinisikan sebagai buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja cair. Di negara berpenghasilan rendah, anak di bawah tiga tahun mengalami rata-rata tiga episode diare setiap tahunnya. Penyebab diare pada anak yang tersering adalah infeksi oleh bakteri, virus dan parasit, yang sebagian besar disebarkan oleh air yang terkontaminasi tinja. Infeksi lebih sering terjadi, bila sanitasi dan kebersihan lingkungan tidak memadai. Rotavirus dan bakteri Escherichia coli, adalah dua penyebab paling umum diare di negara berpenghasilan rendah. Selain infeksi, malnutrisi juga sering menyebabkan diare. Setiap episode diare berdampak menghilangkan nutrisi yang diperlukan anak untuk pertumbuhan. Akibatnya, diare merupakan penyebab utama malnutrisi, dan anak kurang gizi lebih cenderung jatuh sakit karena diare. Setiap episode diare pada gilirannya membuat malnutrisi mereka semakin parah dan diare adalah penyebab utama malnutrisi pada anak balita. Di Indonesia ditemukan sebanyak 26.518 balita gizi buruk secara nasional pada tahun 2015. Kasus gizi buruk yang dimaksud ditentukan berdasarkan perhitungan berat badan menurut tinggi badan balita Zscore < -3 standardeviasi atau balita sangat kurus. Sedangkan menurut hasil Riskesdas 2013 prevalensi gizi sangat kurus pada balita sebesar 5,3%. Jika diestimasikan terhadap jumlah balita 21.436.940 anak, maka perkiraan jumlah balita gizi buruk, sangat kurus, dan berisiko diare sebanyak sekitar 1,1 juta anak.

Langkah kunci dalam pengelolaan diare adalah lima langkah menuntaskan diare atau Lintas Diare. Pertama adalah rehidrasi dengan larutan gula garam rehidrasi oral atau oralit, berupa campuran air bersih, garam dan gula. Cairan akan diserap di usus halus anak dan segera menggantikan air dan elektrolit yang hilang selama diare. Rehidrasi mungkin diperlukan dengan cairan infus intravena, jika terjadi dehidrasi berat atau syok. Kedua adalah suplemen zinc 10-20 mg selama 10 hari yang akan mengurangi durasi episode diare sebesar 25% dan pengurangan 30% volume tinja. Ketiga adalah makanan kaya gizi, karena lingkaran setan malnutrisi dan diare dapat dipatahkan dengan terus memberi makanan kaya nutrisi, termasuk ASI, selama sebuah episode diare. Keempat adalah menghindari penggunaan antibiotika pada diare, kecuali ada indikasi medis yang kuat. Dan kelima adalah edukasi kepada orangtua anak balita dan rujukan kasus diare kepada dokter, terutama diare persisten, ada darah dalam tinja, atau ada tanda dehidrasi.

Intervensi medis untuk mencegah diare, termasuk penggunaan air minum yang aman, sanitasi yang lebih baik, dan cuci tangan memakai sabun, dapat mengurangi risiko penyakit. Selain itu, perlu penghindaran atas sumber air yang terkontaminasi kotoran manusia, misalnya dari septic tank dan jamban, atau kotoran hewan yang mengandung mikroorganisme penyebabkan diare. Penyebab diare lainnya adalah karena menyebar dari orang ke orang, yang dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Juga menghindari makanan yang merupakan penyebab utama diare, karena disiapkan atau disimpan dalam kondisi tidak higienis. Pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan bayi, berperan penting untuk pencegahan diare. Selain itu, juga pendidikan kesehatan kepada orangtua anak balita tentang bagaimana penyebaran infeksi penyebab diare dan vaksinasi rotavirus. Vaksin rotavirus tetes mulut diindikasikan untuk pencegahan diare yang disebabkan oleh Rotavirus serotipe G1 dan non-G1 (seperti G2, G3, G4, G9).

Pemberian vaksin ini yang bersamaan dengan vaksin polio tetes, tidak mempengaruhi respon imun dari antigen polio, namun menurunkan respon imun vaksin rotavirus. Oleh sebab itu, pemberian kedua jenis vaksin tersebut sebaiknya dalam jarak 2 minggu. Namun demikian, tidak akan terdapat interaksi apapun, jika vaksin rotavirus diberikan bersamaan dengan vaksin monovalen atau vaksin kombinasi lainnya, termasuk vaksin heksavalen (DTPa-HBV-IPV/Hib), vaksin difteri-tetanus-pertusis aselular (DTPa), vaksin Haemophillus influenza tipe b (Hib), vaksin polio yang dilemahkan (IPV), vaksin hepatitis B (HBV), dan vaksin pneumococcal. Dosis pemberian vaksin rotavirus yang hanya diberikan melalui mulut, satu paket terdiri dari dua dosis vaksin. Dosis pertama dapat diberikan sejak bayi berumur 6 minggu, dosis selanjutnya berjarak setidaknya 4 minggu setelah dosis pertama. Sebaiknya dosis vaksin diberikan secara lengkap sebelum bayi berusia 16 minggu, atau paling lama sudah lengkap pada saat bayi berusia 24 minggu. Dengan melakukan berbagai langkah pencegahan diare, diharapkan anak balita akan semakin terlindungi dari malnutrisi dan kematian terkait diare. Pemberian ASI eksklusif dan imunisasi rotavirus, adalah tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan.

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan yang mengindikasikan diare,  segera konsultasi ke dokter spesialis anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Wikan Indrarto
, SpA
Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Ultrasonografi (USG) 3/5 (2)

Ultrasonografi merupakan salah satu alat diagnostik di radiologi yang menggunakan dasar gelombang suara freuensi tinggi 2 sampai 13 megahertz, dimana gelombang suara tersebut dapat menghasilkan suatu gambar dari organtubuh manusia yang tidak terlihat dari luar. Alat ini salah satu dari alat-alat radiologi yang tidak menggunakan sinar x, selain MRI. Alat ini dikenal masyarakat umum pada awalnya untuk melihat kondisi janin seorang ibu hamil. Pemeriksaan ibu hamil yang semula hanya dilakukan dengan perabaan dari luar dan mendengar denyut jantung janin dengan alat dari luar, telah mengalami perubahan drastic dengan alat ultrasonoraphy ini. Karena janin langsung dapat periksa kondisinya secara langsung dan dapat penghasilkan gambar Janin dari layar alat ultrasonografi ini.

Setelah itu alat ini beranjak untuk pemeriksaan organ tubuh lainnya. Sehingga pemeriksaan dengan alat ini menjadi favorite untuk mendeteksi awal adanya kelainan dalam tubuh manusia tanpa harus terpapar sinar X dan juga cukup simple dan tidak menyakiti pasien karena hanya dengan mengoles jeli pada kulit yang berfungsi sebagai penghantar gelombang suara dan menaruh ujung alat USG (probe USG) ke kulit manusia maka dapat terlihat organ-organ tubuh yang hendak di evaluasi.

Keunggulan USG ini secara teknis adalah alatnya cukup simple, pada umumnya tidak terlalu berat, banyak model dari yang portable dapat ditenteng seperti laptop sampai yang cukup besar namun masih cukup mobile untuk di pindah dengan mudah. Sedangkan keunggulan secara medis hampir seluruh organ dapat diperiksa dengan alat USG ini. Mulai dari kondisi otak pada janin, mata, leher, jantung, paru-paru, perut, pembuluh darah bahkan otot-otot juga dapat dilakukan evaluasi. Kelemahan USG ini salah satunya adalah lapangan pandang pemeriksaan yang terbatas sehingga pemeriksaan yang ada biasanya dilakukan satu-satu per organ dan apabila terdapat kelainan yang cukup besar maka tidak akan cukup terevaluasi pada layar alat USG.

Kelemahan lain adalah udara, karena factor udara akan menghambat lajunya gelombang suara sehingga mengaburkan gambar yang dihasilkan. Selain itu juga keterbatasan kedalaman pemeriksaan, apabila lapisan kulit yang terlalu tebal atau kondisi lemak bawah kulit juga akan menghambat dalam menghasilkan gambar yang lebih jelas.Dengan perkembangan teknologi sekarang juga telah terdapat alat USG 4 dimensi, yaitu dapat menghasilkan gambar 3 dimensi dan bergerak sehingga memungkinkan melihat gerakan langsung janin selama pemeriksaan. Alat ini banyak digunakan pada evaluasi janin ibu hamil.

 

Informasi Pelayanan : 
Radiologi
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : 0274 – 563333 ext 1056
Senin – Sabtu, pk 07.00 – 20.00 WIB
Hari Minggu & tanggal merah tutup

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Peringatan Hari Kartini di RS Panti Rapih 5/5 (1)

Yogyakarta, 21 April 2021 – Hari ini merupakan hari yang istimewa bagi Indonesia karena pada tanggal ini telah lahir seorang perempuan hebat. Sosoknya dikenal melalui pemikirannya terhadap perjuangan hak perempuan. Beliau adalah Raden Ajeng Kartini, sang inspirator yang tak pernah mati bagi seluruh perempuan Indonesia. Keberanian, ide, dan gagasannya akan selalu hidup dan berkembang sepanjang zaman.

Bertepatan dengan peringatan hari lahirnya Raden Ajeng Kartini, Rumah Sakit Panti Rapih menggelar sebuah acara sederhana berupa pembukaan Panti Rapih Lounge and Coffee Shop. Ruangan tersebut berlokasi di Gedung Borromeus Lantai 2. Dilengkapi dengan sebuah piano serta beberapa kursi yang diatur sesuai standar protokol kesehatan. Beberapa dokter dan karyawan turut menyumbangkan lagu untuk menghibur para pasien dan pengunjung yang hadir saat itu.

Pelayanan di Rumah Sakit Panti Rapih juga tidak seperti hari biasanya. Pasalnya, frontliner yang bertugas saat itu terlihat unik dengan menggunakan busana tradisional. Meskipun demikian, pelayanan tidak terganggu dan berjalan seperti biasanya.

Direktur Utama Rumah Sakit panti Rapih, drg. Vincentius Triputro Nugroho, M. Kes berharap, Panti Rapih Lounge & Coffee Shop tersebut dapat memberikan kenyamanan bagi para pasien dan pengunjung. Selain menjawab kebutuhan para pengguna jasa pelayanan kesehatan di rumah sakit, lounge tersebut dapat digunakan juga bagi pasien, pengunjung ataupun karyawan untuk mengaktualisasikan kemampuan bermusik yang dapat dinikmati dan memberikan energi positif. Musik adalah salah satu sarana yang dinilai dapat membantu kesehatan otak bahkan tubuh secara keseluruhan. Musik dinilai dapat membantu meredakan stres, menambah semangat, bahkan dapat membantu meredakan nyeri.

 

               

 

Artikel ini ditulis oleh :

Humas RS Panti Rapih Yogyakarta

Informasi: 0274 563333, 514014, 514845 ext  1163

Email: humas@pantirapih.or.id

Mohon dapat memberikan rating

Computed Tomography Scan (CT Scan) No ratings yet.

CT Scan merupakan alat radiologi yang penggunaannya berbasis sinar X sehingga untuk pemeriksaan dengan alat ini benar-benar dilakukan dengan pertimbangan medis yang penting, karena sinar X yang diperlukan relative lebih besar dibandingkan dengan foto polos biasa, walau masih dalam nilai aman yang dapat diterima tubuh.

Keunggulan alat ini secara teknis dapat menghasilkan gambaran secara menyeluruh dari organ tubuh manusia sehingga dapat melihat kelainan yang besar yang tidak tercakup pada USG. Selain itu, alat CT Scan yang dimiliki oleh RS Panti Rapih adalah tipe generasi baru 64 slice yang berarti alat tersebut dapat menghasilkan gambar yang sangat detail dari organ tubuh manusia bahkan menghasilkan gambar 3 Dimensi.

Keunggulan alat ini adalah bentuknya yang sangat besar sehingga memerlukan persiapan ruangan khusus dan juga tenaga listrik yang memadai. Apabila pasien menggunakan alat logam yang permanen dalam tubuh seperti tambalan gigi amalgam, alat penyambung tulang, sendi palsu maka akan mengamburkan gambar disekitar organ yang terpasang logam tersebut.

Artikel ini ditulis oleh :
Unit Radiologi RS Panti Rapih

Informasi Pelayanan : 
Radiologi
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : 0274 – 563333 ext 1056
Senin - Sabtu, pk 07.00 - 20.00 WIB
Hari Minggu & tanggal merah tutup

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

RS Panti Rapih Siap Mendukung Instansi Pendidikan Dalam Menghadapi Persiapan Pembelajaran Tatap Muka 5/5 (1)

Dalam rangka menyambut baik wacana pembelajaran tatap muka oleh Pemerintah maka Rumah Sakit Panti Rapih siap mendukung Instansi Pendidikan dalam hal pelayanan kesehatan.

Pada tanggal 1 April 2021 RS Panti Rapih telah resmi bekerjasama dengan Yayasan Pangudi Luhur (SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan). Dari RS Panti Rapih diwakili oleh Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Usaha Henry Prasista Kurniawan, S.Si, Kepala Bidang Hukum dan Kesehatan B. Agung Sulistyo, SH dan dari Yayasan Pangudi Luhur (SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan) diwakili oleh Seksi Humas Elisabeth Emiliani Setyaningrum, S.Psi. RS Panti Rapih dapat memberikan pelayanan kesehatan dalam bentuk pemeriksaan kesehatan siswa (UKS) yang dilakukan dua kali dalam satu tahun yang ditangani oleh dokter umum, perawat, ahli gizi dan administrasi.  Selain itu, edukasi kesehatan yang dilakukan satu kali dalam satu tahun. Edukasi kesehatan dapat diperuntukkan bagi guru, siswa dan orang tua dengan tema edukasi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Kerjasama ini merupakan salah satu bentuk dukungan Rumah Sakit Panti Rapih terhadap instansi-instansi pendidikan terutama di Yogyakarta dan sekitarnya. Sangat mungkin juga RS Panti Rapih dapat menjalin kerjasama bersama mitra dari berbagai sektor. Hal ini dapat menjadi peluang untuk saling menjalin jejaring yang lebih luas.

 

Informasi lebih lanjut :
Pengembangan Usaha Kerjasama
WA :  08112975434

Mohon dapat memberikan rating

Peran Terapi Erythropoietin (EPO) Pada Tata Laksana Anemia Penyakit Ginjal Kronik No ratings yet.

Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa dalam tubuh serta memiliki fungsi hormonal contohnya pengaturan tekanan darah oleh renin dan eritropoesis atau keseimbangan oksigen oleh eritropoetin (Daugirdas, 2001). Anemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronik disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab primernya adalah defisiensi hormon eritropoetin. Sedangkan penyebab sekundernya antara lain adalah defisiensi nutrisi (besi, asam folat, dan vitamin B12), peradangan, dan terganggunya kerja sumsum tulang. Selain itu, anemia pada pasien penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan beberapa hal yang merugikan bagi pasien antara lain meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler (K/DOQI National Kidney Foundation, 2006).

Menurut Konsensus Perkumpulan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) tahun 2011, tujuan tata laksana anemia pada penyakit ginjal kronik adalah meningkatkan hemoglobin (Hb) sehingga menurunkan kebutuhan transfusi darah, menghilangkan gejala yang ditimbulkan dari anemia, mencegah komplikasi kardiovaskuler, menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat anemia, dan meningkatkan kualitas hidup. Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah dengan penggantian produksi endogenous erythropoietin (EPO) yang tidak mencukupi. Pasien yang mendapatkan perhatian pada terapi EPO adalah  pasien dengan hipertensi tak terkendali (sistolik ³180 mmHg, diastolik ³ 110 mmHg), hiperkoagulasi, dan beban cairan berlebih. Kontra indikasi untuk terapi EPO adalah pasien yang hipersensitif terhadap EPO.

Jika anda mengalami gangguan kesehatan, segera konsultasikan kesehatan anda ke dokter RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh:
Dra. A.M. Wara Kusharwanti, M.Si.,Apt,
Chr. Asri Wulandadari, S.Farm.,Apt,
M.Wulan Kurniasari, S.Farm.,Apt,

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Penyakit Ginjal
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : 0274 – 563333 ext 1050

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating