Cegah Diare

Diare adalah penyebab utama kematian pada anak balita secara global yang mencapai sekitar 525.000 anak setiap tahunnya. Di Indonesia diare merupakan penyakit endemis dan juga merupakan penyakit potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sering disertai dengan kematian. Apa yang dapat kita lakukan?

Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare yang tersebar di 11 provinsi, 18 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 1. 213 orang dan kematian 30 orang. KLB diare sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, terlihat bahwa ‘Case Fatality Rate’ (CFR) masih cukup tinggi (>1%), bahkan tahun 2015 CFR diare mencapai 2,47%. Diare dapat berlangsung beberapa hari, dan dapat menyebabkan tubuh anak kehilangan air dan mineral atau garam yang diperlukan untuk bertahan hidup dan disebut dehidrasi. Di masa lalu, dehidrasi berat karena kehilangan cairan tubuh adalah penyebab utama kematian pada diare. Sekarang, penyebab lain seperti infeksi bakteri hebat atau septikemia akan menyebabkan peningkatan proporsi kematian terkait diare.

Diare didefinisikan sebagai buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja cair. Di negara berpenghasilan rendah, anak di bawah tiga tahun mengalami rata-rata tiga episode diare setiap tahunnya. Penyebab diare pada anak yang tersering adalah infeksi oleh bakteri, virus dan parasit, yang sebagian besar disebarkan oleh air yang terkontaminasi tinja. Infeksi lebih sering terjadi, bila sanitasi dan kebersihan lingkungan tidak memadai. Rotavirus dan bakteri Escherichia coli, adalah dua penyebab paling umum diare di negara berpenghasilan rendah. Selain infeksi, malnutrisi juga sering menyebabkan diare. Setiap episode diare berdampak menghilangkan nutrisi yang diperlukan anak untuk pertumbuhan. Akibatnya, diare merupakan penyebab utama malnutrisi, dan anak kurang gizi lebih cenderung jatuh sakit karena diare. Setiap episode diare pada gilirannya membuat malnutrisi mereka semakin parah dan diare adalah penyebab utama malnutrisi pada anak balita. Di Indonesia ditemukan sebanyak 26.518 balita gizi buruk secara nasional pada tahun 2015. Kasus gizi buruk yang dimaksud ditentukan berdasarkan perhitungan berat badan menurut tinggi badan balita Zscore < -3 standardeviasi atau balita sangat kurus. Sedangkan menurut hasil Riskesdas 2013 prevalensi gizi sangat kurus pada balita sebesar 5,3%. Jika diestimasikan terhadap jumlah balita 21.436.940 anak, maka perkiraan jumlah balita gizi buruk, sangat kurus, dan berisiko diare sebanyak sekitar 1,1 juta anak.

Langkah kunci dalam pengelolaan diare adalah lima langkah menuntaskan diare atau Lintas Diare. Pertama adalah rehidrasi dengan larutan gula garam rehidrasi oral atau oralit, berupa campuran air bersih, garam dan gula. Cairan akan diserap di usus halus anak dan segera menggantikan air dan elektrolit yang hilang selama diare. Rehidrasi mungkin diperlukan dengan cairan infus intravena, jika terjadi dehidrasi berat atau syok. Kedua adalah suplemen zinc 10-20 mg selama 10 hari yang akan mengurangi durasi episode diare sebesar 25% dan pengurangan 30% volume tinja. Ketiga adalah makanan kaya gizi, karena lingkaran setan malnutrisi dan diare dapat dipatahkan dengan terus memberi makanan kaya nutrisi, termasuk ASI, selama sebuah episode diare. Keempat adalah menghindari penggunaan antibiotika pada diare, kecuali ada indikasi medis yang kuat. Dan kelima adalah edukasi kepada orangtua anak balita dan rujukan kasus diare kepada dokter, terutama diare persisten, ada darah dalam tinja, atau ada tanda dehidrasi.

Intervensi medis untuk mencegah diare, termasuk penggunaan air minum yang aman, sanitasi yang lebih baik, dan cuci tangan memakai sabun, dapat mengurangi risiko penyakit. Selain itu, perlu penghindaran atas sumber air yang terkontaminasi kotoran manusia, misalnya dari septic tank dan jamban, atau kotoran hewan yang mengandung mikroorganisme penyebabkan diare. Penyebab diare lainnya adalah karena menyebar dari orang ke orang, yang dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Juga menghindari makanan yang merupakan penyebab utama diare, karena disiapkan atau disimpan dalam kondisi tidak higienis. Pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan bayi, berperan penting untuk pencegahan diare. Selain itu, juga pendidikan kesehatan kepada orangtua anak balita tentang bagaimana penyebaran infeksi penyebab diare dan vaksinasi rotavirus. Vaksin rotavirus tetes mulut diindikasikan untuk pencegahan diare yang disebabkan oleh Rotavirus serotipe G1 dan non-G1 (seperti G2, G3, G4, G9).

Pemberian vaksin ini yang bersamaan dengan vaksin polio tetes, tidak mempengaruhi respon imun dari antigen polio, namun menurunkan respon imun vaksin rotavirus. Oleh sebab itu, pemberian kedua jenis vaksin tersebut sebaiknya dalam jarak 2 minggu. Namun demikian, tidak akan terdapat interaksi apapun, jika vaksin rotavirus diberikan bersamaan dengan vaksin monovalen atau vaksin kombinasi lainnya, termasuk vaksin heksavalen (DTPa-HBV-IPV/Hib), vaksin difteri-tetanus-pertusis aselular (DTPa), vaksin Haemophillus influenza tipe b (Hib), vaksin polio yang dilemahkan (IPV), vaksin hepatitis B (HBV), dan vaksin pneumococcal. Dosis pemberian vaksin rotavirus yang hanya diberikan melalui mulut, satu paket terdiri dari dua dosis vaksin. Dosis pertama dapat diberikan sejak bayi berumur 6 minggu, dosis selanjutnya berjarak setidaknya 4 minggu setelah dosis pertama. Sebaiknya dosis vaksin diberikan secara lengkap sebelum bayi berusia 16 minggu, atau paling lama sudah lengkap pada saat bayi berusia 24 minggu. Dengan melakukan berbagai langkah pencegahan diare, diharapkan anak balita akan semakin terlindungi dari malnutrisi dan kematian terkait diare. Pemberian ASI eksklusif dan imunisasi rotavirus, adalah tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan.

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan yang mengindikasikan diare,  segera konsultasi ke dokter spesialis anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Artikel ini ditulis oleh:  dr. Wikan Indrarto, SpA

Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta

Posted in Artikel Kesehatan and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *