Mengenali Tanda Keganasan pada Anak Sejak Dini 5/5 (3)

Kanker pada anak merupakan masalah kesehatan serius yang sering kali terlambat dikenali. Meskipun jumlah kasusnya lebih kecil dibandingkan kanker pada orang dewasa, kanker termasuk salah satu penyebab kematian utama pada anak usia sekolah dan remaja. Permasalahan terbesar di Indonesia adalah sebagian besar anak dengan kanker datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan dan kualitas hidup menjadi jauh lebih rendah. Padahal, banyak jenis kanker pada anak memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi apabila ditemukan dan ditangani sejak dini.

Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, kanker pada anak tidak berkaitan dengan gaya hidup atau faktor perilaku. Penyebabnya sering kali tidak jelas dan gejalanya cenderung tidak khas. Anak, terutama usia kecil, juga belum mampu mengungkapkan keluhan secara baik. Oleh karena itu, peran orang tua, keluarga, guru, kader kesehatan, serta tenaga kesehatan di lini depan menjadi sangat penting dalam mengenali tanda-tanda awal keganasan pada anak.

Secara umum, keganasan pada anak dapat diawali oleh keluhan yang tampak ringan dan sering disalahartikan sebagai penyakit infeksi biasa. Anak dapat mengalami demam berulang atau berkepanjangan (> 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, tampak pucat, lemah, mudah lelah, dan kurang aktif dibandingkan biasanya. Penurunan nafsu makan dan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, keringat malam, serta nyeri tulang atau sendi yang menetap dan semakin memberat, khususnya bila mengganggu aktivitas berjalan, juga merupakan tanda yang perlu diwaspadai. Selain itu, perdarahan spontan seperti mimisan berulang, gusi berdarah, atau munculnya bintik merah pada kulit, serta pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri dan terus membesar (tidak mengecil setelah 4-6 minggu, ukuran >2.5 cm , keras tidak nyeri, terletak di daerah supraklavikula, dapat menjadi petunjuk adanya keganasan.

Beberapa jenis kanker anak memiliki tanda khas yang relatif mudah dikenali.

  • Leukemia, sebagai kanker tersering pada anak, sering ditandai dengan pucat, demam tanpa sebab jelas, perdarahan kulit atau mukosa, nyeri tulang hebat, serta pembesaran hati, limpa, atau testis.
  • Retinoblastoma, kanker mata pada anak, memiliki tanda khas berupa leukokoria, yaitu tampakan putih pada bagian hitam mata seperti mata kucing saat terkena cahaya, yang sering disadari pertama kali oleh orang tua. Retinablastoma juga berkaitan dengan faktor genetik.
  • Kanker tulang, terutama osteosarkoma, biasanya ditandai dengan nyeri tulang yang semakin berat pada malam hari, disertai pembengkakan lokal yang terasa hangat, bahkan dapat menyebabkan patah tulang setelah trauma ringan.
  • Neuroblastoma dapat muncul sebagai benjolan di perut, mata menonjol, atau lebam di sekitar mata tanpa riwayat cedera. Limfoma maligna sering menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau lipat paha yang tidak nyeri, disertai demam, keringat malam, dan penurunan berat badan.
  • Karsinoma nasofaring pada anak dapat diawali dengan hidung tersumbat lama, mimisan berulang, gangguan pendengaran satu sisi, atau benjolan di leher.

Keganasan pada sistem saraf pusat dapat berupa tanda sakit kepala yang baru muncul terutama pada pagi hari atau hingga membangunkan anak dari tidur, disertai muntah, gangguan penglihatan, kelemahan anggota gerak, penurunan prestasi sekolah, dan perubahan perilaku yang progresif. Dari tanda tanda tersebut kewaspadaan terhadap gejala yang menetap, progresif, tidak sesuai usia, atau tidak respons terhadap pengobatan perlu segera dievaluasi untuk adaya keganasan oleh tenaga medis.

Deteksi dini kanker pada anak sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Data menunjukkan bahwa keterlambatan diagnosis merupakan penyebab utama tingginya angka kematian kanker anak di Indonesia. Bila kanker dikenali pada stadium dini dan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai, peluang hidup anak meningkat secara signifikan dan komplikasi jangka panjang dapat diminimalkan

Sebagai penutup, penting untuk ditekankan bahwa kanker pada anak bukanlah penyakit yang selalu berakhir fatal. Kewaspadaan terhadap perubahan kondisi anak, terutama bila keluhan tidak membaik dengan pengobatan biasa, merupakan langkah awal yang sederhana namun sangat menentukan. Deteksi dini, rujukan tepat waktu, dan penanganan yang sesuai dapat menyelamatkan nyawa serta masa depan anak.

 

Sumber :

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak.2015

WHO. Childhood cancer. 2025. Diunduh dari : https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer-in-children

Frias VL, Lopez MH, Garcia IC, Navas PI. How to suspect cancer in Primary Care.Pediatr Integral 2021; XXV (6): 283 – 295

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Christo Darius Junendytya, Sp. A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Cacar Monyet No ratings yet.

Monkeypox (cacar monyet) disebabkan oleh virus monkeypox, anggota genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae adalah penyakit zoonosis virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat.

Cacar monyet biasanya memiliki gejala klinis demam, ruam kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis. Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu. Kasus yang parah dapat terjadi dengan rasio kasus kematian meningkat sekitar 3-6%. Apa yang mencemaskan?

Manifestasi klinis cacar monyet mirip dengan cacar, infeksi orthopoxvirus  yang telah dinyatakan dapat diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980. Cacar monyet kurang menular daripada cacar dan menyebabkan penyakit yang kurang parah. Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi rentan terhadap virus cacar monyet, yaitu tupai tali, tupai pohon, tikus, dormice, primata non-manusia dan spesies lainnya. Cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di wilayah di mana cacar telah dieliminasi pada tahun 1968. Sejak itu, kasus cacar monyet telah dilaporkan pada manusia di 11 negara Afrika, yaitu Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, Sierra Leone, dan Sudan Selatan.

Pada tahun 2003, wabah cacar monyet pertama di luar Afrika terjadi di Amerika Serikat dan dikaitkan dengan kontak dengan anjing padang rumput peliharaan yang terinfeksi. Hewan peliharaan ini telah ditempatkan dengan tikus berkantung Gambia dan dormice yang telah diimpor ke negara itu dari Ghana. Wabah ini menyebabkan lebih dari 70 kasus cacar monyet di AS. Cacar monyet juga telah dilaporkan pada pelancong dari Nigeria ke Israel pada September 2018, ke Inggris pada September 2018, Desember 2019, Mei 2021 dan Mei 2022, ke Singapura pada Mei 2019, dan ke Amerika Serikat pada bulan Juli dan November 2021. Pada Mei 2022, beberapa kasus cacar monyet diidentifikasi di beberapa negara non-endemik.

Penularan dari hewan ke manusia (zoonotik) dapat terjadi dari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa dari hewan yang terinfeksi. Makan daging yang tidak dimasak dengan baik dan produk hewani lainnya dari hewan yang terinfeksi merupakan faktor risiko yang mungkin. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekret pernapasan, lesi kulit orang yang terinfeksi, atau benda yang baru saja terkontaminasi. Penularan melalui partikel pernapasan biasanya memerlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan, yang menempatkan petugas kesehatan, anggota rumah tangga dan kontak dekat lainnya dari kasus aktif pada risiko yang lebih besar. Penularan juga dapat terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin (yang dapat menyebabkan cacar monyet bawaan) atau selama kontak dekat selama dan setelah kelahiran.

Masa inkubasi cacar monyet biasanya dari 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertama disebut periode invasi berlangsung antara 0-5 hari yang ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang hebat (kekurangan energi). Limfadenopati adalah ciri khas cacar monyet dibandingkan dengan penyakit lain yang awalnya mungkin tampak serupa (cacar air, campak, cacar). Periode kedua disebut periode erupsi kulit biasanya dimulai dalam 1-3 hari setelah munculnya demam. Ruam cenderung lebih terkonsentrasi di wajah dan ekstremitas daripada di badan. Ini mempengaruhi wajah (dalam 95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus). Juga terkena adalah selaput lendir mulut (dalam 70% kasus), alat kelamin (30%), dan konjungtiva (20%), serta kornea. Ruam berkembang secara berurutan dari makula (lesi dengan dasar rata) menjadi papula (lesi keras yang sedikit terangkat), vesikel (lesi berisi cairan bening), pustula (lesi berisi cairan kekuningan), dan krusta yang mengering dan rontok. Jumlah lesi bervariasi dari beberapa hingga beberapa ribu. Dalam kasus yang parah, lesi dapat menyatu sampai sebagian besar kulit terkelupas.

Pengelolaan medis untuk monkeypox harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Diperlukan pemberian cairan dan makanan bergizi untuk mempertahankan status gizi yang memadai. Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Obat antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar atau smallpox, dilisensikan oleh European Medical Association (EMA) untuk cacar monyet pada tahun 2022, tetapi sampai sekarang obat ini belum tersedia secara luas. Pada Juli tahun 2018, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah memberikan persetujuan kepada SIGA Technology untuk TPOXX (Tecovirimat), obat anti cacar pertama yang disetujui FDA. TPOXX (Tecovirimat) adalah obat penghambat protein pembungkus amplop ortopoxvirus VP37 dengan memblok interaksinya dengan seluler Rab9 GTPase dan TIP47, sehingga mencegah pembentukan bentuk ortopoxvirus kompoten yang diperlukan dalam penyebaran virus di dalam tubuh.

Pengobatan Tecovirimat diindikasikan pada orang dewasa dan pasien anak-anak dengan berat setidaknya 13 kg. Obat ini poten, spesifik, aman, mudah dibuat, stabil, tersedia secara oral, memiliki rejimen dosis langsung yang tidak memerlukan pengawasan medis dan tidak mengganggu vaksin. Sediaan dibuat oral dalam kapsul gelatin padat yang berisi zat aktif kristal tecovirimat monohidrat dan bahan tambahan lainnya.

Vaksinasi cacar dalam beberapa penelitian observasional sekitar 85% efektif dalam mencegah cacar monyet dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih ringan. Bukti vaksinasi sebelumnya terhadap cacar biasanya dapat ditemukan sebagai bekas luka di lengan atas. Saat ini, vaksin cacar (generasi pertama) yang asli tidak lagi tersedia untuk masyarakat umum. Vaksin yang masih lebih baru berdasarkan virus vaccinia yang dilemahkan dan dimodifikasi (strain Ankara) telah disetujui untuk pencegahan monkeypox pada tahun 2019. Ini adalah vaksin dua dosis yang ketersediaannya masih terbatas. Meningkatkan kesadaran akan faktor risiko dan mendidik masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk mengurangi paparan virus adalah strategi pencegahan utama cacar monyet.

Jumat, 20 Mei 2022 terjadi wabah cacar monyet yang dilaporkan di 11 negara yang tidak biasa, karena terjadi di negara-negara non-endemik di Eropa, Amerika dan Australia. Ada sekitar 80 kasus yang dikonfirmasi dan 50 kasus sedang dalam penyelidikan. Lebih banyak kasus kemungkinan akan dilaporkan saat pengawasan meluas.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Artikel ini ditulis oleh:
DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

IGD RS PANTI RAPIH
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta
Telepon : 0274 – 552118

Mohon dapat memberikan rating

Nutrisi Tepat, Anak Tumbuh Sehat dan Kuat No ratings yet.

Pertumbuhan (growth) adalah perubahan dan pematangan fungsi fisik meliputi pertambahan tinggi, berat badan, volume darah, pertumbuhan tulang, perubahan sistem saraf, dan perubahan-perubahan fisik lainnya. Sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dengan pola teratur, menyangkut diferensiasi sel-sel tubuh, organ dan sistem organ sehingga dapat menjalankan fungsinya masing-masing, serta perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Terdapat 3 faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:

  1. Faktor keturunan atau herediter, yaitu sifat atau kondisi bawaan yang diturunkan dari orang tua.
  2. Pertumbuhan dan pematangan fisik, yang sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi, perawatan kesehatan dan perawatan anak secara umum.
  3. Stimulasi lingkungan, berpengaruh terhadap aspek psikososial atau proses pembelajaran yang mendorong perkembangan anak. Keadaan gizi pada usia bayi dan anak memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan, pertumbuhan, serta perkembangan bayi dan anak pada waktu sekarang dan kelak setelah dewasa. Pada masa kanak kanak, proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat cepat.

Apabila asupan nutrisi tidak mencukupi kebutuhan maka akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak yang menyebabkan ketidakmampuan otak berfungsi secara normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan nutrisi menyebabkan pertumbuhan badan tergangggu, diikuti dengan ukuran otak yang juga kecil, jumlah sel darah otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan dan ketidaksempurnaan organisasi biokimia dalam otak yang dapat menimbulkan kelainan-kelainan fisik maupun mental. Oleh sebab itu, bayi dan anak-anak sangat membutuhkan nutrisi yang tepat untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya agar berjalan dengan sempurna. Sumber nutrisi yang paling tepat untuk bayi pada kehidupan pertamanya adalah ASI (Air Susu Ibu), karena memiliki nutrisi yang paling tinggi dan lengkap dibandingkan dengan makanan yang dibuat oleh manusia ataupun susu yang dihasilkan oleh hewan seperti sapi, kerbau, atau kambing. Menurut Depkes (2003), ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa diberi makanan dan minuman lain sejak dari lahir hingga usia 6 bulan, kecuali pemberian obat dan vitamin. Adapun nutrisi yang terkandung dalam ASI adalah sebagai berikut:

1. Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa (jumlahnya dua kali lipat daripada susu formula). Di dalam usus, laktosa akan mengalami fermentasi menjadi asam laktat yang memberikan keadaan yang menguntungkan bagi kesehatan saluran cerna bayi. Kandungan karbohidrat yang lain adalah glukosa, galaktosa, dan glukosamin. Galaktosa penting untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang untuk pembentukan system saraf. Glukosamin mampu memacu pertumbuhan Lactobacillus bifidus yang akan memberikan keuntungan bagi kesehatan bayi.

2. Protein
Protein dalam ASI lebih banyak mengandung whey dan lactalbumin yang lebih mudah diserap oleh usus bayi. Sedangkan protein susu sapi lebih banyak mengandung chasein yang lebih sukar dicerna oleh usus bayi.

3. Lemak
Lemak utama ASI adalah omega-3, omega-6, AA, dan DHA, merupakan komponen penting pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf. Pencernaan lemak secara baik dilakukan oleh lipase yang juga banyak terkandung di dalam ASI sehingga mampu menyediakan cukup energi untuk pertumbuhan bayi.

4. Vitamin
ASI juga kaya akan vitamin A dan beta karoten yang berfungsi menjaga kesehatan mata, mendukung pembelahan sel, meningkatkan sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, dan mendukung pertumbuhan. Selain itu, ASI juga mengandung vitamin B, C, D, E dan K dalam jumlah yang sesuai dengan perkembangan, kondisi, dan kebutuhan bayi.

5. Mineral
ASI memiliki mineral yang lengkap dan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan bayi. Mineral yang dikandung antara lain kalsium, magnesium, zink, Cu, zat besi, pospor, mangan, dan sebagainya sangat berperan dalam meningkatkan system daya tahan tubuh, menunjang pertumbuhan tulang, pembentukan sel darah merah, dan sebagainya.

6. Elektrolit
ASI mengandung elektrolit (natrium, kalium, dan klorida) dalam jumlah yang lebih rendah dibandingkan susu sapi sehingga tidak memberatkan kerja ginjal.

7. Enzim dan Hormon, serta Faktor Kekebalan
Hormon dan enzim dalam ASI sangat penting untuk sistem pencernaan dan proses pertumbuhan bayi. ASI juga mengandung faktor kekebalan yang berfungsi sebagai anti inflamasi, anti bakteri, anti virus, anti bakteri, dan anti parasit. Setelah melewati usia 6 bulan, ASI sudah tidak mampu lagi memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi sehingga bisa mulai dikenalkan dengan berbagai bahan makanan yang disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dengan tetap memberikan ASI hingga berusia 2 tahun. Usia 6-12 bulan merupakan titik awal bagi kemampuan bayi untuk mengkonsumsi berbagai bahan makanan untuk periode usia selanjutnya.

Pemberian makanan pada bayi harus bertahap, disesuaikan dengan perkembangan, kemampuan, dan ketrampilannya agar tidak menimbulkan masalah makan dimasa mendatang. Bayi dikatakan sudah siap menerima makanan pendamping  bila sudah mampu menggerakkan lidah dari depan ke belakang, mampu menahan kepalanya dengan stabil, mulai tertarik pada makanan dengan memasukkan apa saja ke dalam mulutnya, dan masih tampak lapar walaupun sudah minum ASI.

Agar MP-ASI untuk bayi dapat diberikan dengan tepat, maka harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Berikan sedikit demi sedikit dan bertahap sesuai dengan perkembangan ketrampilan dan perkembangan bayi.
2. Berbahan dasar bahan makanan lokal yang mudah didapat, misalnya beras merah, tepung beras, kentang, pisang, dan sebagainya. Mulai perkenalkan dengan aneka sayur dan buah segar.
3. Jangan menambahkan gula atau garam, agar bayi mengenali rasa asli dari setiap bahan makanan.
4. Jangan terlalu banyak mencampur bahan makanan dalam sekali pemberian. Amati tanda-tanda yang terjadi pada bayi jika ada gejala alergi makanan.
5. Perhatikan tekstur makanan dan jenis bahan makanan, berikan sesuai dengan perkembangan dan kemampuan bayi.
6. Usahakan memilih bahan makanan yang alami daripada instan. Hal ini untuk meminimalkan adanya bahan-bahan kimia sepertipengawet, penguat rasa, pewarna, pengental, dan sebagainya.
7. Perhatikan kebersihan bahan makanan dan alat yang digunakan untuk mengolah dan menyajikannya.

Anak adalah anugrah yang dititipkan Tuhan kepada orangtua. Oleh sebab itu, anak harus dirawat dan dijaga sebaik-baiknya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Salah satu caranya adalah dengan memberikan nutrisi dengan jumlah, jenis, dan cara yang tepat.

Artikel ini ditulis oleh:
Therecya Wulandari, S.Gz.

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gizi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Waspada Dengue No ratings yet.

Pada masa pandemi COVID-19 ini, sekitar 50 juta infeksi Dengue juga terjadi setiap tahun dan bahwa penyebaran geografis, insiden, dan tingkat keparahan Demam Berdarah Dengue (DBD) terus meningkat di daerah tropis, termasuk Indonesia.

Sampai saat ini infeksi Dengue tidak termasuk dalam algoritma Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yang digunakan luas di seluruh dunia, meskipun merupakan diagnosis banding yang penting untuk kasus demam pada anak, yang datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama di daerah tropis. MTBS adalah strategi petugas di fasilitas kesehatan tingkat pertama di negara berkembang, dalam manajemen lengkap anak balita sakit secara rawat jalan, agar tidak ada hal penting yang terlewat. Pada Pedoman MTBS, ada penilaian awal untuk Tanda Umum Penyakit Berbahaya, yaitu tidak dapat minum atau menyusui, muntah hebat, kejang, lesu atau tidak sadar, agar kondisi darurat medis dapat dikenali dan ditangani segera. Selanjutnya diikuti oleh penilaian, klasifikasi, dan pengobatan awal untuk ISPA, diare, malaria, campak, gangguan telinga, gizi buruk, dan bayi muda yang sakit.

Pada MTBS untuk setiap kondisi medis anak mengikuti skema kode warna, yaitu hijau untuk penyakit ringan, misalnya pilek atau diare tanpa dehidrasi, kuning untuk penyakit sedang, misalnya pneumonia yang membutuhkan obat antibiotik telan atau diare dengan dehidrasi yang memerlukan terapi rehidrasi oral. Selain itu adalah merah untuk penyakit parah yang memerlukan rujukan segera ke rumah sakit, misalnya pneumonia berat atau diare dengan dehidrasi berat.

Karena DBD dinyatakan sebagai masalah kesehatan yang signifikan, 13 negara telah memasukkan DBD ke dalam MTBS adaptasi. Ada variasi yang luas dalam adaptasi oleh setiap negara tentang algoritme DBD. Salah satu yang penting adalah daftar tanda bahaya nomer 1 DBD berupa syok, penurunan kesadaran, perdarahan hidung atau mulut dan bintik kemerahan di kulit atau petechiae. Tanda ke 1 ini memiliki sensitivitas 63% dan spesifisitas 92%, dengan nilai prediksi positif 32% dan nilai prediksi negatif 98%. Daftar tanda bahaya nomer 2 berupa ke 4 tanda bahaya 1 ditambah muntah. Untuk mengenali DBD, tanda ke 2 ini memiliki sensitivitas lebih tinggi menjadi 79% dan spesifisitas 64%, dengan nilai prediksi positif 12% dan nilai prediksi negatif 98%.

Penelitian di Indonesia dan Filipina menyimpulkan bahwa keuntungan dari daftar tanda bahaya nomer 2 adalah mengandung kurang dari setengah daftar jumlah tanda dan gejala yang selama ini telah digunaan secara luas. Penambahan tanda bahaya lain seperti sakit kepala, sakit perut dan nyeri tekan, demam tinggi selama tiga hari atau lebih, dan tes tourniquet ternyata tidak menambah sensitivitas yang signifikan untuk deteksi DBD. Data penelitian ini tidak termasuk peran tes laboratorium sederhana, yaitu hematokrit dan jumlah trombosit.

Pada anak demam berusia >2 bulan sampai lima tahun, secara khusus harus diwaspadai karena sifat DBD yang progresif. Mungkin saja tanda aman atau warna hijau dapat keliru, terutama selama beberapa hari pertama demam, karena anak mungkin tidak memiliki tanda bahaya apapun, seperti di kotak merah atau kuning, pada hal masih perlu ditindaklanjuti dengan hati-hati. Syok, rewel, penurunan kesadaran dan perdarahan mukosa, dengan atau tanpa penambahan bintik kemerahan pada kulit atau petechiae dan muntah, adalah tanda bahaya DBD yang penting. Sebaliknya, anak tanpa tanda bahaya ini boleh dianggap aman dan diminta kembali kontrol setiap hari. Setiap petugas kesehatan seharusnya juga mengenali banyak tanda syok lainnya, misalnya ekstremitas dingin, nadi radial lemah, atau waktu isi ulang kapiler memanjang.

Kelemahan potensial adalah rujukan ke RS yang berlebihan, jika hanya petechiae ringan sudah dianggap sebagai tanda bahaya DBD. Pedoman tentang bagaimana tindak lanjut harus dilakukan, dan apa yang harus merupakan tanda bahaya khusus DBD yang mudah dikenali dan diwaspadai oleh orang tua atau pengasuh anak, masih terus dikembangkan. Penelitian kualitatif juga sedang dilakukan, untuk melengkapi penentuan tanda klinis apakah pada anak yang dapat dikenali oleh orang tua di rumah.

Banyak negara ingin memasukkan temuan pemeriksaan fisik anak seperti pembesaran hati atau hepatomegali, bahkan juga hasil tes laboratorium sederhana (hematokrit dan jumlah trombosit) dalam algoritmadi MTBS, tetapi sampai sekarang masih diteliti manfaatnya. Memang layak untuk memeriksa hematokrit bahkan di fasilitas kesehatan primer, baik menggunakan pengambilan darah standar atau mikrokapiler yang mengambil darah dari tusukan jari. Tes ini berbiaya rendah dan membutuhkan peralatan dan keterampilan teknis yang minimal.

Penapisan atau uji saring anak balita dengan demam terkait kewaspadaan akan DBD sangat penting dilakukan, termasuk menggunakan MTBS. Selain agar tidak terlewat, tentunya juga agar tidak terjadi peningkatan beban penyakit, dampak sosial dan ekonomi yang tidak perlu, seperti rujukan ke RS yang berlebihan. Meskipun telah terjadi beberapa kemajuan yang dicapai dalam mengurangi tingkat fatalitas kasus DBD dan pengembangan vaksin dengue, tetapi kedua kemajuan ini belum terjadi merata dan tidak tersedia untuk penggunaan luas bagi masyarakat umum.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Artikel ini ditulis oleh :
DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Tumbuh Kembang Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal dan Memahami Patah Tulang Pada Anak 5/5 (1)

Pada saat ini animo masyarakat untuk menjaga kesehatan cukup tinggi, sehingga anak-anak pun ikut tertarik untuk melakukan aktifitas olahraga. Tapi sayang animo yang cukup besar tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup bagaimana melakukan olahraga yang benar, sehingga menyebabkan sering terjadi cedera, dan salah satu yang paling sering terjadi adalah patah tulang (fraktur). Patah tulang bisa mengenai semua umur, termasuk pada anak-anak. Patah tulang pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Hal ini sangat penting diketahui karena keberhasilan diagnostik dan terapi penyakit ortopedik pada kelompok usia ini berbeda. Bentuk patah tulang yang unik pada anak-anak adalah hasil dari perbedaan anatomis, biomekanis dan fisiologi antara anak-anak dengan dewasa.

KARAKTERISTIK TULANG ANAK

Salah satu perbedaan tulang anak-anak dengan orang dewasa ialah adanya Lempeng Pertumbuhan (growth plate/lempeng epifisis) pada tulang anak-anak. Lempeng pertumbuhan berbentuk tulang rawan dan melekat erat pada metafisis (bagian tulang yang sudah dewasa yang baru dibentuk oleh lempeng epifisis. Keduanya dibungkus oleh selubung (periosteum) yang sangat tebal dan kuat, serta mampu menghasilkan tulang baru dalam proses penyembuhan tulang yang patah. Lempeng tulang membuat tulang menjadi lebih besar dan lebih panjang seiring dengan kepadatan tulang yang juga meningkat. Struktur anatomis tulang pada anak mempunyai fleksibilitas yang tinggi sehingga ia mempunyai kemampuan seperti “biological plasticity”. Hal ini menyebabkan tulang anak-anak dapat membengkok tanpa patah atau hancur, sehingga dapat terjadi gambaran fraktur yang unik pada anak yang tidak dijumpai pada dewasa. Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodeling (kembali ke bentuk anatomi normal). Pertumbuhan diafisis (bagian tulang yang sudah dewasa) tulang panjang akan menghasilkan pertambahan panjang tulang. Secara spesifik, keberadaan lempeng pertumbuhan, periosteum yang tebal, serta kemampuan tulang anak-anak yang elastik seperti karet, dan kemampuan mengalami remodeling adalah dasar dari gambaran fraktur yang khas pada anak-anak.

FRAKTUR

Terdapat beberapa fraktur yang sering terjadi pada anak, antara lain fraktur garis rambut, fraktur green stick (seperti ranting patah) dimana tulang tampak membengkok tanpa adanya garis fraktur, dan fraktur buckle atau torus (kompresi). Fraktur-fraktur ini termasuk fraktur yang tidak berat dan stabil, dan sembuh dalam 2-3 minggu dengan immobilisasi. Sedangkan, fraktur intra-artikuler (di dalam sendi) atau fraktur melibatkan fisis (fisis, epfisis, metafisis) berpotensi lebih berbahaya dan dapat berakibat jelek di kemudian hari. Penyembuhan fraktur pada anak-anak mulai saat lahir sangat cepat dan berangsur-angsur berkurang setelah anak bertambah usianya. Sebagai contoh, fraktur femur (tulang paha) pada bayi baru lahir akan sembuh dalam waktu tiga minggu, pada anak usia 8 tahun akan sembuh dalam waktu 8 minggu, anak usia 12 tahun akan sembuh dalam 12 minggu, dan seterusnya.

GEJALA
Apabila anak mengalami cedera, orang tua bisa saja curiga ia mengalami patah tulang bila menemukan gejala-gejala seperti :
1. Adanya riwayat cedera/trauma
2. Timbul rasa sakit/nyeri dan terjadi pembengkakan, kemerahan/kebiruan serta terasa panas di daerah yang patah
3. Terjadinya perubahan bentuk/deformitas
4. Menurunnya fungsi hingga tidak dapat digerakkan daerah anggota gerak yang mengalami patah
5. Keterbatasan lingkup gerak sendi

PENATALAKSANAAN
Prinsip utama penanganan patah tulang pada anak adalah secara konservatif (tanpa operasi), baik dengan cara manipulasi tertutup atau pun traksi berkesinambungan. Sebagian besar fraktur pada anak-anak dan remaja akan ditangani dengan reduksi tertutup dan pembalutan dengan gips atau traksi. Satu-satunya cara untuk menahan reduksi adalah dengan menggunakan gips.
Fungsi utama gips adalah mencegah supaya tidak terjadi pergeseran pada tulang yang patah atau retak, mempertahankan kedudukan tulang yang patah dengan baik sehingga tidak terjadi angulasi (perubahan bentuk), dan menghilangkan rasa nyeri dengan menghambat pergerakan kedudukan tulang yang patah. Rata-rata gips dipasang selama 2-8 minggu, bergantung dari jenis patahnya dan timbulnya tulang baru yang disebut callus (lem tulang). Callus ini mulai timbul pada anak-anak dalam waktu 10 hari-2 minggu, adanya callus sebagai tanda bahwa penyembuhan sudah mulai terjadi. Untuk memastikannya, perlu dilakukan foto rontgen terlebih dahulu. Dalam kurun waktu 5-6 minggu patah tulang bisa sembuh total. Perlu dilakukan observasi klinis yang regular dan kompeten oleh dokter untuk mencegah terjadinya komplikasi pada kasus patah tulang pada usia anak, karena anak-anak belum dapat mendeskripsikan rasa nyeri, gangguan sensori, dan sirkulasi atau tanda-tanda komplikasi lainnya.

 

 

Artikel ini ditulis oleh :
dr. Alexander Mateus, Sp.OT.
(Dokter Spesialis Ortopedi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Bedah Tulang
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Dilema Anak Telat Bicara No ratings yet.

Apakah anak Anda agak terlambat bicaranya? Apakah bicaranya tidak beraturan walau kita tahu maksudnya?

Zaman sekarang memang sering kita menjumpai anak yang terlambat bicaranya dibanding teman-teman seusianya. Kira-kira apa penyebabnya? Mengapa zaman semakin maju namun malah banyak anak dengan kasus speech delay? Perlu kita lihat kembali sewaktu mereka masih bayi, sewaktu mereka baru lahir sampai sekarang yang sudah bisa lari ke sana sini namun bicara malah belum lancar. Apakah dulu mereka sering kita kasih liat gadget? handphone, tv, tab, dan sejenisnya atau Anda sebagai orang tua terlalu sibuk kerja sehingga anak tak ada teman bermain? Atau tinggal dengan baby sitter yang tidak cerewet di rumah? Atau di rumah kita sering memakai lebih dari satu jenis bahasa? Faktor ini juga menjadi salah satu penyebab anak Anda dapat menjadi telat bicara seperti sekarang ini.

Memang tidak mudah untuk mengasuh anak tanpa fasilitas-fasilitas yang sudah maju di zaman ini. Tuntutan ekonomi juga sering mengharuskan untuk kedua orang tua mempunyai penghasilan. Apalagi ditambah anak yang susah makan, tidak mau tenang ketika disuapin, tetapi ketika diberikan gadget langsung diam, suapan ini itu masuk mulut dengan lancar. Jika anak kita rewel, menangis dan berteriak, orangtua akan memberikan gadget supaya anak bisa lebih tenang. Memang solusi-solusi itu kelihatan sangat mudah dan instan namun itu, justru mengorbankan kemampuan anak untuk berkembang dalam hal berbicara. Bahkan banyak juga yang menjadi sulit untuk dipanggil, sering asik sendiri dan tidak peduli dengan orang sekitar. Hp, tv atau gadget lainnya yang memiliki gambar bergerak sering menjadi masalah utama dalam kasus speech delay (terlambat bicara). Kalau anak sudah terlanjur telat bicara karena ini, kita harus bagaimana? Sebetulnya tidak sulit untuk membantu anak kita untuk mengejar keterlambatan bicaranya. Hanya tidak boleh gadget lagi, temani dia bermain serta gunakan cukup satu bahasa dulu. “Kalau anak nangis gamau makan tanpa gadget gimana?” mencari aktivitas lain atau mainan anak anak selain gadget. Bahkan buku gambar juga boleh yang penting tidak boleh gadget dulu. “Tapi saya kerja, suami / istri juga kerja, pembantu di rumah juga pendiam gimana?”. Mencari Day Care, penitipan anak atau paud. Di sana banyak anak seusianya malah lebih bagus karena anak akan belajar untuk bersosialisasi. Bahkan ketika anak sudah mendapat kenalan teman yang cepat akrab dan sudah pintar bicara, anak kita pasti ketularan bicaranya dalam kata lain, dia terpancing untuk belajar berbicara. Sebagai orangtua hanya perlu siapkan hati kita untuk meninggalkan solusi instan pakai gadget untuk menghibur anak. Karena kita sebagai orang tua, juga berkewajiban untuk “mendidik” anak.

Dalam hal mendidik anak pun harus diperhatikan, ketegasan kita dan kekompakan pasangan hidup kita. Terkadang sang ibu tegas, tapi sang ayah tidak tegaan atau sebaliknya. Tegas di sini bukan berarti keras namun tegas itu konsisten, iya ya iya. tidak ya tidak. Lalu dalam hal bahasa yang digunakan juga penting. Jangan pakai dua atau lebih bahasa dalam keseharian di rumah dengan sang anak. Beri anak satu bahasa dulu sampai anak pandai bicara baru boleh belajar bahasa selanjutnya.  Dan berikan aturan kepada anak untuk no gadget, no tv. Kalau udah pandai bicara, dapat diberikan lagi. Jika masih kurang yakin dengan perkembangan sang anak, silakan konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak, Psikolog Anak, Terapis Wicara atau Terapis Okupasi.

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Tumbuh Kembang Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Hepatitis Misterius No ratings yet.

Sabtu, 23 April 2022 telah dilaporkan merebaknya penyakit hepatitis akut dan parah. Penyakit radang hati ini tidak diketahui penyebabnya dan menyerang banyak anak di beberapa negara secara sekaligus. Wabah hepatitis akut misterius ini mulai terjadi di Inggris dan Irlandia Utara pada 15 April 2022. Apa yang mencemaskan?

Pada 21 April 2022, setidaknya 169 kasus hepatitis akut misterius ini telah dilaporkan dari 11 negara di Eropa dan 1 negara di Amerika. Kasus telah dilaporkan di Inggris (114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9), Denmark (6), Irlandia (< 5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Prancis (2), Rumania (1), dan Belgia (1). Kasus hepatitis ini menyerang anak berusia 1 bulan hingga 16 tahun, 17 anak (sekitar 10%) membutuhkan tindakan transplantasi hati, dan setidaknya satu kematian telah dilaporkan.

Kementerian Kesehatan RI telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak. Kasus ini terjadi di Eropa, Amerika dan Asia, dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.

Kewaspadaan tersebut meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.

Hepatitis akut (peradangan hati) ini ditandai dengan peningkatan kadar enzim hati dalam darah yang nyata. Banyak kasus memiliki gejala sakit perut, diare dan muntah, dan peningkatan kadar enzim hati (aspartate transaminase (AST) atau alanine aminotransaminase (ALT) lebih besar dari 500 IU/L) dan kulit kuning (ikterus). Sebagian besar kasus tidak mengalami demam. Virus umum yang menyebabkan hepatitis virus akut (virus hepatitis A, B, C, D dan E) belum terdeteksi dalam kasus ini. Namun demikian, Adenovirus telah terdeteksi dalam setidaknya 74 kasus, dengan pengujian molekuler, 18 telah diidentifikasi sebagai tipe F 41. SARS-CoV-2 diidentifikasi dalam 20 kasus yang diuji. Selanjutnya, 19 terdeteksi dengan koinfeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

Pemeriksaan dan penelitian lebih lanjut sedang berlangsung di berbagai negara yang telah melaporkan adanya kasus hepatitis tersebut. Data yang dikumpulkan mencakup riwayat klinis dan paparan yang lebih rinci, pemeriksaan toksikologi, yaitu toksisitas lingkungan dan makanan, serta pemeriksaan virologi atau mikrobiologi tambahan.

Sementara ini adenovirus merupakan salah satu hipotesis utama sebagai penyebab hepatitis akut, tetapi tidak sepenuhnya mampu menjelaskan tingkat keparahan klinis. Hal ini karena infeksi adenovirus tipe 41 di manapun, sebelumnya tidak pernah menyebabkan keparahan klinis semacam ini. Adenovirus adalah virus umum yang biasanya hanya menyebabkan infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri (self-limited). Virus penyebab ini menyebar antar anak dan juga sering menyebabkan gangguan pernapasan, gastroenteritis (radang lambung atau usus), konjungtivitis (mata merah), dan sistitis (infeksi kandung kemih).

Faktor peningkatan kerentanan pada anak, terjadi setelah tingkat penularan adenovirus lebih rendah selama pembatasan sosial terkait pandemi COVID-19. Kondisi inilah yang merupakan potensi munculnya adenovirus mutasi baru, serta koinfeksi dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, perlu diselidiki lebih lanjut. Hipotesis yang terkait dengan efek samping dari vaksin COVID-19 saat ini tidak didukung, karena sebagian besar anak yang terkena hepatitis tidak menerima vaksinasi COVID-19.

Saat ini sedang diakukan pemantauan ketat lebih lanjut untuk mengidentifikasi kasus tambahan, baik di negara yang saat ini terkena dampak maupun di tempat lain. Prioritasnya adalah untuk menentukan penyebab kasus ini, dan untuk lebih menyempurnakan tindakan pengendalian maupun pencegahan. Langkah pencegahan umum untuk adenovirus dan infeksi umum lainnya adalah mencuci tangan secara teratur dan menjaga kebersihan lingkungan bermain anak.

WHO merekomendasikan bahwa pemeriksaan darah, urin, tinja, dan sampel pernapasan, serta sampel biopsi hati (bila tersedia) harus dilakukan, untuk menentukan virus penyebab infeksi. Juga penyebab non-infeksi lainnya perlu diselidiki secara menyeluruh. Saat ini WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan dan atau perdagangan dengan Inggris atau negara lain mana pun tempat kasus teridentifikasi, berdasarkan informasi yang tersedia saat ini.

Hepatitis misterius ini mengingatkan kita akan pneumonia Wuhan China, yang ternyata penyebabnya adalah coronavirus baru. WHO awalnya menamai 2019 novel coronavirus (2019-nCoV) pada 12 Januari 2020 dan kemudian secara resmi mengubahnya menjadi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) pada 12 Februari 2020. Sejak COVID-19 pertama kali muncul di China pada 1 Desember 2019, dalam 4 bulan virus dengan cepat menyebar ke negara lain di seluruh dunia sebagai ancaman global. Pada 11 Maret 2020, WHO akhirnya membuat penilaian bahwa COVID-19 dapat dikategorikan sebagai pandemi, menyusul flu Spanyol 1918 (H1N1), flu Asia 1957 (H2N2), flu Hong Kong 1968 (H3N2), dan flu Pandemi 2009 (H1N1), yang masing-masing menyebabkan sekitar 50 juta, 1,5 juta, 1 juta, dan 300.000 kematian manusia.

Hepatitis misterius di Inggris ini juga mengingatkan kita akan wabah Hepatitis A di Pacitan dan Trenggalek Jawa Timur pada Minggu, 30 Juni 2019 lalu dengan jumlah penderita penyakit kuning itu nyaris menembus angka 1.000 orang. Kita diingatkan agar terus mengikuti perkembangan berita, mencermati penularan, dan melakukan tindakan pencegahan dengan mempromosikan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, dan vaksinasi Hepatitis sesuai jadwal, untuk semua anak di sekitar kita.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Baca juga link terkait:
https://pantirapih.or.id/rspr/klinik-anak-terpadu/
https://pantirapih.or.id/rspr/layanan-klinik-ibu-dan-anak-rs-panti-rapih/
https://pantirapih.or.id/rspr/perlukah-saya-di-vaksin-hepatitis/
https://pantirapih.or.id/rspr/tahukah-anda-pentingnya-vaksin-hepatitis/

Artikel ini ditulis oleh:
DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Klinik Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Pekan Imunisasi Dunia No ratings yet.

Sabtu, 16 April 2022 menandai dimulainya Pekan Imunisasi Dunia 2022, di tengah pandemi COVID-19 yang masih terus meningkat di beberapa wilayah. Dengan tema ‘Vaksin membawa kita lebih dekat’  (vaccines bring us closer), momentum ini menunjukkan bagaimana vaksinasi menghubungkan kita dengan banyak orang, tujuan, dan membantu meningkatkan kesehatan semua orang, dimana pun sepanjang hidup.

Pada hari tersebut juga diluncurkan rencana baru yang berani, yaitu Agenda Imunisasi 2030, yang merupakan strategi global baru yang ambisius, untuk memaksimalkan dampak penyelamatan nyawa manusia dengan vaksin. Jika dilaksanakan sepenuhnya, Agenda Imunisasi 2030 dapat mencegah lebih dari 50 juta kematian selama dekade berikutnya.
Vaksin adalah salah satu penemuan paling hebat, kuat dan transformatif dalam sejarah ilmu kedokteran. Berkat vaksin, penyakit cacar sekarang sudah ada dalam buku sejarah dan tinggal menjadi kenangan, penyakit polio telah didorong ke ambang pemberantasan, dan penyakit yang dulu ditakuti karena mematikan seperti difteri, tetanus, dan meningitis, sekarang mudah dicegah. Selain itu, jenis vaksin baru terus mampu menekan angka kejadian penyakit. Dalam 15 tahun terakhir, vaksin baru telah disetujui digunakan untuk mencegah kanker serviks, malaria dan Ebola. Dan sekarang vaksin COVID-19 yang aman dan efektif telah dikembangkan dalam sangat waktu singkat, untuk membawa kita lebih dekat dalam mengakhiri pandemi.

Pada hari Rabu, 13 April 2022 lalu Yayasan WHO meluncurkan kampanye penggalangan dana global baru yang disebut Go GiveOne, untuk memberi setiap orang kesempatan dalam memainkan peran mereka untuk membantu memvaksinasi warga dunia. Go GiveOne bertujuan untuk melibatkan 50 juta orang dalam berkontribusi, dan terbuka untuk semua orang, individu dan organisasi dari semua negara. Uang yang terkumpul akan disumbangkan ke COVAX untuk membeli vaksin COVID-19 bagi warga dunia, dimulai dari mereka yang paling membutuhkannya.

Pada saat pandemi COVID-19 ini sekitar 60 program kampanye imunisasi ditangguhkan di 50 negara. Itu berarti sekitar 228 juta anak saat ini menjadi rentan terhadap penyakit mematikan non COVID-19, yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin seperti campak, demam kuning, dan polio. Program kampanye campak adalah yang paling terpengaruh, mencapai 23 program kampanye yang ditunda, bahkan selama lebih dari satu tahun. Selain program kampanye yang ditargetkan untuk mencegah atau menanggapi pandemi COVID-19, layanan imunisasi rutin anak juga terus terganggu di lebih dari sepertiga negara pada kuartal pertama tahun 2021. Gangguan ini merupakan peningkatan yang signifikan dari tahun lalu dan kesenjangan dalam cakupan vaksinasi sudah memiliki konsekuensi serius di dunia nyata. Wabah campak yang mematikan telah terjadi di beberapa negara, termasuk Republik Demokratik Kongo, Pakistan dan Yaman. Dan risiko wabah campak meningkat di tempat lain, karena semakin banyak anak yang kehilangan vaksin yang sangat mereka butuhkan.

WHO, UNICEF, Gavi, dan mitra lainnya bekerjasama dengan berbagai negara untuk memastikan bahwa layanan imunisasi rutin harus dipulihkan dengan cepat dan aman. Namun demikian, kita tidak boleh lupa bahwa sebelum pandemi COVID-19, hampir 20 juta anak kehilangan kesempatan mendapatkan vaksin yang menyelamatkan jiwa setiap tahun. Dengan demikian kita tidak hanya harus mengembalikan layanan imunisasi kembali ke jalurnya, tetapi melakukan lebih baik dari sebelumnya.

Agenda Imunisasi 2030 adalah strategi global baru yang ambisius untuk memaksimalkan dampak penyelamatan nyawa dengan vaksin selama dekade berikutnya. Tujuannya adalah untuk mempertahankan hasil yang diperoleh dengan susah payah dalam program imunisasi, menghindari kemunduran, dan mencapai lebih banyak lagi, dengan tidak meninggalkan seorang anakpun, dalam situasi apapun atau pada tahap kehidupan apapun. Jika dilaksanakan sepenuhnya, Agenda Imunisasi 2030 dapat mencegah lebih dari 50 juta kematian selama dekade berikutnya, 75 persen di antaranya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.

Terdapat 4 hal penting yang hartus dilakukan. Pertama, meminta para pemimpin dunia, komunitas kesehatan, dan pembangunan global untuk membuat komitmen baru yang berani untuk memajukan strategi ini. Kedua, menyerukan kepada semua negara untuk mengembangkan dan mengimplementasikan rencana nasional yang sejalan dengan Agenda Imunisasi 2030, dan meningkatkan investasi untuk membuat imunisasi dapat diakses oleh semua warga negara. Ketiga, meminta lembaga donor dan pemerintah untuk meningkatkan investasi dalam penelitian, pengembangan, dan pengiriman vaksin, yang berfokus pada kebutuhan populasi yang kurang terlayani. Dan keempat, menyerukan kepada industri vaksin dan ilmuwan untuk terus mempercepat penelitian dan pengembangan, memastikan pasokan vaksin yang terjangkau secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan global, dan menerapkan pelajaran dari pandemi COVID-19 ke penyakit menular lain.

Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia menjadi rendah. Untuk mengejar kekurangan cakupan tersebut pemerintah menyelenggarakan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia 2022.

Sekitar 800 ribu anak di seluruh Indonesia berisiko lebih besar tertular penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti difteri, tetanus, campak, rubella, dan polio. Berdasarkan data rutin terbaru Kementerian Kesehatan RI cakupan imunisasi dasar lengkap telah menurun secara signifikan sejak awal pandemi COVID-19, dari 84,2% pada tahun 2020 menjadi 79,6% pada tahun 2021.

Penurunan cakupan imunisasi rutin baru-baru ini disebabkan oleh berbagai faktor termasuk gangguan rantai pasokan, aturan pembatasan kegiatan, dan berkurangnya ketersediaan tenaga kesehatan, yang menyebabkan penghentian sebagian layanan vaksinasi pada puncak pandemi COVID-19.

Agenda Imunisasi 2030 telah dikembangkan oleh WHO, UNICEF, Gavi dan banyak mitra lainnya, dapat menutupi kekurangan dalam program layanan imunisasi rutin, mendukung pemulihan global dari pandemi COVID-19, dan memastikan tidak ada anak yang terlewat, untuk menerima kehebatan vaksin yang mampu menyelamatkan nyawa anak di sekitar kita.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Baca juga link terkait: https://pantirapih.or.id/rspr/klinik-anak-terpadu/
https://pantirapih.or.id/rspr/layanan-klinik-ibu-dan-anak-rs-panti-rapih/

Artikel ini ditulis oleh:
DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Klinik Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Memahami Kejang pada Anak 5/5 (4)

Kejang Demam merupakan bentuk kejang akut, yang sering dijumpai. Kejang demam terjadi pada 2 – 4 % anak usia 6 bulan – 5 tahun. Kejadian kejang ini sering menakutkan bagi orang tua. Sebenarnya dalam 25 tahun terakhir diketahui bahwa kejang demam tidaklah menakutkan. Kejang Demam tidak berhubungan dengan adanya kerusakan otak dan hanya sebagian kecil saja yang akan berkembang menjadi epilepsi.

Kejang Demam adalah kejang yang disebabkan oleh kenaikan suhu tubuh minimal 37,8 derajat Celcius atau lebih dari 38,4 derajat Celcius tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit pada anak berusia 6 bulan – 5 tahun, dan tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Kejang demam diklasifikasikan sebagai Kejang Demam Kompleks bila bersifat fokal, berlangsung lama (>10 – 15 menit), atau berulang (> 1 kali serangan selama 24 jam demam). Sebaliknya Kejang Demam Sederhana adalah kejang yang berlangsung satu kali, singkat, dan bersifat umum. Anak dapat saja normal atau mempunyai kelainan neurologis. Anak biasanya berusia antara 6 bulan sampai 3 tahun dan paling sering pada usia 18 bulan. Bila kejang demam berlangsung terus sampai diatas usia 6 tahun atau pernah mengalami kejang tanpa demam maka dapat diklasifikasikan sebagai epilepsi.

Penyebab demam tersering pada anak-anak adalah infeksi saluran pernafasan, radang telinga, diare, infeksi saluran kemih, dll. Penyebab kejang demam tidak diketahui, faktor genetik memegang peranan penting. Menurut Berg et all, 24% anak yang menderita kejang demam, di keluarga dekatnya juga ada yang menderita kejang demam dan hanya 20% yang di keluarga dekatnya tidak menderita kejang demam.

Apakah kejang demam mempengaruhi kognitif ? Anak yang mengalami kejang demam jarang yang mengalami gangguan intelek dan belajar. IQ pada 42 anak dengan kejang demam tidak berbeda dengan saudara kandungnya (Ellenberg & Nelson). Tetapi kejang demam lama mengakibatkan IQ lebih rendah, dan kasus retardasi mental kali lebih sering terjadi bila diikuti kejang tanpa demam.

Faktor risiko berulangnya kejang demam, adalah (1) riwayat kejang dalam keluarga; (2) usia kurang dari 18 bulan; (3) temperatur tubuh saat kejang, dimana makin rendah temperatur saat kejang makin sering berulang; dan (4) lamanya kejang sebelum kejang.

Adapun faktor risiko terjadinya Epilepsi dikemudian hari adalah (1) sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau perkembangan; (2) adanya riwayat kejang tanpa demam (epilepsi) pada orang tua atau saudara kandung; (3) kejang berlangsung > 15 menit atau fokal.

Pada umumnya kejang akan berlangsung singkat, kurang dari 5 menit, dan berhenti sendiri. Pengobatan saat kejang adalah suntikan diazepam intravena atau diazepam per rectal. Oleh karena demam merupakan pencetus terjadinya kejang, maka pencegahan kenaikan suhu tubuh adalah pendekatan yang utama. Pengobatan yang dianjurkan saat ini adalah pemberian antipiretik dan diazepam oral atau diazepam rectal pada saat demam diatas 38,5 derajat Celcius.

Pengobatan jangka panjang telah ditinggalkan akan tetapi pengobatan jangka panjang dapat dipertimbangkan pada keadaan pasien dengan kelainan neurologis yang menetap, kejang fokal, kejang demam sering berulang, atau tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Obat yang digunakan adalah fenobarbital atau asam valproat.

Serangan kejang sangat menakutkan bagi orangtua pasien, oleh karenanya edukasi dan dukungan empati yang cukup pada orang tua sangatlah diperlukan. Orang tua sebaiknya mengenali pada suhu berapa anak mulai kejang, menyediakan termometer pengukur suhu badan, obat penurun panas, dan obat penghenti kejang. Tindakan pada saat anak kejang perlu dipahami pada anak dan keluarga.

Kapan anak dibawa ke rumah sakit? Ketika kejang berlangsung lebih dari 10 menit, kejang fokal, kejang berulang dalam 24 jam, demam tinggi lebih dari 39 derajat Celcius, jenis kejang lain dari biasanya, atau setelah kejang berhenti anak menjadi tidak sadar.

Tips atasi kejang demam untuk orang tua, meliputi:
1. Segera beri penurun panas pada anak yang demam
2. Suhu tubuh normal adalah 36-37 derajat C
3. Dinyatakan demam apabila suhu melalui termometer ketika >37,2 derajat C, melalui mulut/telinga >37,8 derajat C dan melalui anus >38 derajat C
4. Kompres dengan air hangat
5. Jangan diselimuti dengan selimut yang tebal
6. Bila terjadi kejang jangan panik, segera longgarkan pakaiannya, buang semua yang menghambat saluran napas, miringkan posisi tubuh anak agar tidak tersedak,  berikan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak pernah riwayat kejang

Bila terjadi gangguan pada anak Anda segera konsultasi ke dokter Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

IGD Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon : 0274 – 552118

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Kanker Pada Anak No ratings yet.

Setiap tanggal 15 Februari dirayakan Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD), sebuah kampanye kolaboratif global untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker pada anak. Selain itu, juga untuk menggalang dukungan bagi para penyintas dan keluarga mereka. Tema tahun 2022 adalah ‘Kelangsungan Hidup Lebih Baik dengan dukungan Anda (Better Survival’ is achievable #throughyourhands). Apa yang menarik?

Setiap tahun, diperkirakan 400.000 anak dan remaja berusia 0-19 tahun mengidap kanker. Jenis kanker anak yang paling umum adalah kanker darah atau leukemia, kanker otak, kelenjar getah bening atau limfoma, dan tumor padat, seperti saraf atau neuroblastoma dan ginjal atau tumor Wilms. Di negara berpenghasilan tinggi, di mana layanan komprehensif umumnya dapat diakses, lebih dari 80% anak penderita kanker sembuh. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya kurang dari 30% yang sembuh. Kanker anak umumnya tidak dapat dicegah dan dikenali melalui proses skrining.

Kematian yang dapat dihindari akibat kanker pada anak di negara berkembang diakibatkan oleh kurang, salah atau terlambat didiagnosis. Juga adanya hambatan untuk mengakses pengobatan standar, selain kematian akibat toksisitas obat dan kekambuhan kanker. Hanya 29% negara berpenghasilan rendah melaporkan bahwa obat kanker umumnya tersedia untuk populasi anak di negara tersebut, dibandingkan dengan 96% negara berpenghasilan tinggi. Sistem register atau data kanker anak nasional diperlukan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan dalam kualitas perawatan, dan untuk menginformasikan keputusan kebijakan.

Kanker terjadi pada segala usia dan setiap bagian dari tubuh manusia. Proses ini dimulai dengan perubahan genetik dalam sel tunggal, yang kemudian tumbuh menjadi benjolan atau massa (disebut tumor), yang mendesak bagian lain dari tubuh, sehingga akan menyebabkan kerusakan dan kematian, jika tidak ditangani. Tidak seperti kanker pada orang dewasa, sebagian besar kanker pada anak tidak diketahui penyebabnya. Banyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi penyebab kanker pada anak, tetapi sangat sedikit kanker pada anak yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau gaya hidup. Upaya pencegahan kanker pada anak harus difokuskan pada perbaikan perilaku, yang akan mencegah anak mengalami kanker yang dapat dicegah, saat mereka menjadi dewasa.

Beberapa penyakit infeksi, seperti HIV, virus Epstein-Barr dan malaria, merupakan faktor risiko kanker pada anak, di berbagai negara berkembang. Sebaliknya, beberapa infeksi lain pada anak dapat meningkatkan risiko anak tersebut akan terkena kanker saat dewasa. Untuk pencegahan kanker ini, penting sekali anak untuk divaksinasi, misalnya imunisasi hepatitis B untuk membantu mencegah kanker hati dan imunisasi HPV atau Human Papilloma Virus untuk mencegah kanker serviks.

Sekitar 10% dari semua anak dengan kanker memiliki kecenderungan terkait faktor genetik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kanker pada anak. Karena umumnya tidak mungkin untuk mencegah kanker pada anak, strategi paling efektif untuk mengurangi beban kanker pada anak dan meningkatkan hasil luaran klinis adalah berfokus pada diagnosis yang tepat dan cepat, diikuti dengan terapi berbasis bukti yang efektif dengan perawatan suportif yang disesuaikan.

Ketika didiagnosis lebih awal, kanker lebih mungkin untuk merespon pengobatan yang efektif dan menghasilkan kemungkinan yang lebih besar untuk bertahan hidup, lebih sedikit penderitaan, dan seringkali lebih murah, dibandingkan pengobatan tahap lanjut. Perbaikan signifikan dapat dilakukan dalam kehidupan anak penderita kanker, dengan mendeteksi kanker sejak dini dan menghindari keterlambatan pengobatan. Diagnosis yang benar sangat penting untuk mengobati kanker pada anak, karena setiap kanker memerlukan rejimen tatalaksana khusus, termasuk pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

Diagnosis dini kanker pada anak terdiri dari 3 komponen utama. Pertama, kesadaran akan gejala oleh keluarga dan tenaga kesehatan. Kedua, evaluasi, diagnosis, dan penentuan stadium klinis yang akurat dan tepat waktu (menentukan sejauh mana kanker telah menyebar). Ketiga, akses ke pengobatan segera. Program diagnosis dini kanker pada anak telah berhasil diterapkan di berbagai negara dari semua tingkat pendapatan, seringkali melalui upaya kolaboratif pemerintah, masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah. Kanker anak dapat dikenali dengan berbagai gejala klinis sebagai peringatan awal, seperti demam berulang, sakit kepala parah dan persisten, nyeri tulang atau penurunan berat badan, yang dapat dikenali oleh keluarga dan tenaga kesehatan yang terlatih.

Program skrining umumnya tidak membantu untuk deteksi kanker anak, tetapi dalam beberapa kasus tertentu, hal ini dapat dipertimbangkan pada populasi berisiko tinggi. Misalnya, beberapa kanker mata pada anak dapat disebabkan oleh mutasi yang diturunkan. Jika mutasi terjadi dalam keluarga anak dengan retinoblastoma, konseling genetik dapat ditawarkan dan saudara kandung dipantau dengan pemeriksaan mata secara teratur sejak dini. Tidak ada bukti berkualitas tinggi untuk mendukung program skrining berbasis populasi pada anak-anak.

Diagnosis yang benar sangat penting untuk memberikan terapi yang tepat untuk jenis dan luasnya penyakit kanker pada anak. Terapi standar kanker pada anak meliputi kemoterapi, pembedahan dan atau radioterapi. Namun demikian, anak juga membutuhkan perhatian khusus dalam proses pertumbuhan fisik dan kognitif mereka yang berkelanjutan. Selain itu, mempertahankan status gizi agar tetap baik, membutuhkan tim multi-disiplin yang berdedikasi. Akses ke diagnosis yang efektif, obat kanker esensial, pemeriksaan patologi, produk darah, terapi radiasi, teknologi baru, perawatan psikososial dan suportif sangat bervariasi, tetapi tidak merata tersedia di seluruh dunia.

Penyembuhan dapat mencapai lebih dari 80% anak dengan kanker, ketika layanan kanker anak dapat diakses dengan tepat. Terapi farmakologis, termasuk obat generik murah yang masuk dalam Daftar Obat Esensial WHO untuk Anak, sangat besar perannya. Anak yang mampu menyelesaikan paket pengobatan kanker, tetap memerlukan perawatan berkelanjutan, untuk memantau kekambuhan kanker dan untuk mengelola kemungkinan dampak buruk pengobatan jangka panjang.

Perawatan paliatif bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri yang disebabkan oleh kanker dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Tidak semua anak penderita kanker dapat disembuhkan, tetapi meringankan penderitaan dari keluhan nyeri hebat adalah keharusan kita bagi semua anak. Perawatan paliatif anak dianggap sebagai komponen inti dari perawatan komprehensif, dimulai ketika penyakit didiagnosis dan berlanjut selama perawatan dan pengobatan, terlepas dari tujuan kuratif atau tidak. Perawatan paliatif dapat diberikan di rumah pasien, memberikan pereda nyeri dan dukungan psikososial kepada pasien dan keluarga mereka. Akses yang memadai ke morfin oral dan obat nyeri lainnya harus disediakan untuk pengobatan nyeri kanker derajat sedang hingga berat, yang mempengaruhi lebih dari 80% pasien kanker anak pada fase terminal.

Momentum Hari Kanker Anak Internasional atau International Childhood Cancer Day (ICCD) Selasa, 15 Februari 2022 mengingatkan kita untuk memberikan perhatian dan lebih peduli pada anak dengan kanker.

Sumber: https://dokterwikan.com/

Artikel ini ditulis oleh :

DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating