Kesehatan Anak Paska Pandemi COVID-19 No ratings yet.

Selama dua dekade terakhir, epidemiologi kesehatan anak global telah berubah secara signifikan, termasuk dalam kesejahteraan anak. Ketika semua negara berusaha membangun kembali saat pulih dari ganasnya pandemi COVID-19, diperlukan evolusi substansial dalam berbagai program, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak yang berubah. Apa yang harus berubah?

Pola kematian dan penyakit pada masa anak berubah secara dramatis. Tren menunjukkan bahwa kematian yang dapat dicegah sekarang tertinggi pada periode bayi baru lahir. Namun demikian, sebnarnya pneumonia, diare dan malaria yang diperparah oleh malnutrisi, masih juga terus berdampak besar pada anak balita. Ini terutama terjadi di antara populasi yang paling terpinggirkan di wilayah Afrika sub-Sahara, di mana populasi anak justru diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa dekade mendatang.

Di beberapa negara kematian pada remaja (15-19 tahun) justru meningkat karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kekerasan fisik, dan melukai diri sendiri. Peningkatan jumlah anak dan remaja yang masih bertahan hidup, banyak yang dipengaruhi oleh kejadian cedera, gangguan perkembangan, penyakit tidak menular dan kesehatan mental yang buruk. Kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan remaja dengan cepat meningkat, sehingga banyak negara menghadapi beban ganda malnutrisi, baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi.

Tantangan ini cenderung diperparah oleh pergeseran demografis. Peningkatan jumlah anak yang tinggal di pusat kota pada tahun-tahun mendatang, membatasi kesempatan untuk mendapatkan udara bersih dan beraktivitas fisik, sehingga menyebabkan tekanan serius pada berbagai fasilitas layanan kesehatan di daerah, apabila tanpa intervensi khusus. Kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja harus menjadi pusat upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030. Dunia perlu mengubah orientasi program untuk mencapai SDG (reframing child and adolescent health for the SDG era).

Negara hanya dapat berkembang dan makmur jika negara berinvestasi untuk anak dan remaja, dan mengoptimalkan dukungan dalam momen penting pembentukan kesehatan anak di masa depan, dengan menggunakan apa yang disebut pendekatan alur kehidupan (lifecourse approach). Dengan pemikiran ini, meningkatkan kesehatan anak tidak boleh lagi hanya dianggap semata-mata sebagai masalah sektor kesehatan. Kebijakan, layanan, dan edukasi harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi oleh pemerintah dan masyarakat, untuk mendorong agenda kesehatan anak dan remaja global, regional dan nasional.

Hampir satu tahun setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, peningkatan luar biasa terlihat pada pembalikan risiko kelangsungan hidup anak dan remaja. Kerangka Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang diadopsi pada tahun 2015, memang telah mencakup pendekatan holistik untuk meningkatkan kesehatan anak dan remaja, tetap masih relevan setelah pandemi COVID-19 berakhir, tetapi perlu penajaman fokus.

Kerangka kerja tersebut dahulu disusun berdasarkan tren tingkat makro, sehingga saat ini membutuhkan perubahan besar dalam paradigma tentang kesehatan anak dan remaja. Hal ini memerlukan peralihan dari fokus (shift in thinking) yang sebelumnya hanya tentang kelangsungan hidup anak di bawah 5 tahun, menjadi keterkaitan kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja, dengan pemahaman tentang bagaimana alur kehidupan manusia, tidak hanya pada masa dini, tetapi harus berlanjut sepanjang kehidupan anak hingga dewasa.

Perubahan demografi dan beban penyakit telah memaksa setiap negara harus memperkuat sistem kesehatannya, agar lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan anak dan remaja. WHO dan UNICEF telah memulai upaya untuk mengarahkan kembali strategi kesehatan anak, mengalihkan perhatian ke perspektif alur kehidupan (life course perspective), dan menjauh dari fokus eksklusif sebelumnya, yaitu hanya terkait kelangsungan hidup bayi dan anak di bawah 5 tahun.

Prinsip pemrograman ulang (redesign) kesehatan anak, berupa program kesehatan anak dan remaja, serta implementasi kebijakannya yang harus mengikuti pendekatan alur kehidupan (life course perspective), yang didasarkan pada data tentang epidemiologi penyakit terbaru. Pemrograman ulang ini termasuk memastikan layanan kesehatan prakonsepsi yang baik, layanan kesehatan ibu hamil, serta intervensi medis yang berkualitas tinggi untuk anak sampai remaja, yang berusia 0 hingga 19 tahun.

Program baru harus berdasarkan hak dan adil (rights based and equitable), sehingga intervensi dan layanan medis penting harus disediakan untuk semua anak, di mana pun mereka tinggal. Selain itu, program harus mencakup layanan terpadu yang berpusat pada keluarga, anak, dan remaja, dalam bentuk mempromosikan kesehatan, pertumbuhan, dan kesejahteraan. Implementasinya meliputi pembentukan ketahanan atau imunitas, mencegah pajanan terhadap penyakit dan komplikasi selanjutnya, dan meminimalkan kerentanan atau faktor risiko sakit, dengan mempertimbangkan kebutuhan personal anak dan remaja.

Masyarakat dan keluarga harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam perancangan kebijakan pada anak dan remaja, untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas, paska pandemi COVID-19.

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Artikel ini ditulis oleh:

DR. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Sumber: https://dokterwikan.com/\

Info Pelayanan :
Klinik Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store

Mohon dapat memberikan rating

3 Tips Agar Anak 6-12 Tahun Siap Vaksin COVID-19 No ratings yet.

Anak usia 6-12 tahun perlu di suntik vaksin COVID-19, di samping memberikan kekebalan terhadap diri anak juga melindungi  penularan pada orang dewasa yang rentan dan orang lanjut usia yang belum atau tidak bisa di vaksin COVID-19. Rencana pemerintah akan mengadakan vaksinasi  untuk anak di awal tahun 2022. Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari pemberian vaksin Covid-19 pada anak. Dan juga masih ada waktu mempersiapkan diri beberapa hari atau bulan ke depan.  Maka diharapkan keluarga atau orang tua mengetahui 3 Tips ini, yaitu:

  1. Menjaga kondisi fisik dan psikis anak agar selalu sehat

Buatlah kebiasaan dan disiplin yang baik,  dengan cara;

  • Anak mendapatkan makan minum yang sehat dan bergizi seimbang
  • Mengatur pola istirahat /tidur dan aktivitas gerak /olah raga yang baik
  • Mengajak rileks dan bergembira bersama keluarga di rumah
  • Mengajar kebersihan diri (mandi, cuci tangan, memotong kuku, rambut) dan kebersihan lingkungan – menjaga tempat tetap bersih (membuang sampah pada tempatnya, menyapu dan membersihkan kamar masing-masing)
  • Memberikan pengetahuan dan pemahaman versi anak, tentang apa itu penyakit COVID-19 bagi anak dan keluarga dan teman teman sekolahnya

 

  1. Mengobati dan mengendalikan sakit, agar cepat sembuh, stabil dan tidak kambuh

Beberapa anak mungkin kurang beruntung, karena sampai hari ini masih dalam perawatan karena sakitnya, dan mungkin juga memerlukan waktu pengobatan yang lebih panjang.

Buatlah kebiasaan dan dsiplin yang baik, dengan cara;

  • Tataplah, peluklah dan sapalah, serta monitoring kesehatannya setiap hari
  • Lakukan pemeriksaan rutin (kontrol teratur) dan deteksi dini saat tidak kambuh
  • Konsultasikan keluhan yang semakin bertambah dan keluhan baru yang muncul dan mengganggu ke dokter keluarga atau dokter spesialis anak yang memberi obat rutin

 

  1. Lengkapi pemberian vaksin dasar dahulu, juga boosternya, dan berikan vaksin pendamping untuk menjaga stamina tubuh anak menjadi lebih kuat, di samping mencegah penyakit oleh vaksin tersebut  dan nanti saat akan divaksin COVID-19, anak tak dalam keadaan sakit

Catatan :

Vaksin pendamping ( vaksin influenza, pneumonia, thypoid, dengue, dll)

Beri jarak 28 hari  sebelum disuntik dengan vaksin COVID-19

 

2 November 2021, IDAI ( Ikatan Dokter Anak Indonesia) sudah mengeluarkan rekomendasi pemberian vaksin Covid-19 pada usia 6 tahun ke atas. Mari kita dukung dan sukseskan pemberian vaksin Covid-19 pada anak agar anak kita terlindungi, keluarga terlindungi, teman sekolah dan masyarakat sekolah terlindungi, masyarakat dan negara menjadi lebih sehat.

 

 

Artikel ini ditulis oleh:

dr. Tandean Arif Wibowo, MPH

(Dokter Umum – Medical Check Up – Home Care  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dan Dosen Pembimbing di STIKES RS Panti Rapih)

 

Next : CARA DAN ALUR VAKSIN COVID-19 ANAK  DI RUMAH SAKIT PANTI RAPIH

 

Info Pelayanan :
Klinik Medical Check Up Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Senin – Sabtu, pk 07.00 – 14.00 WIB
Hari Minggu atau tanggal merah tutup
WA : 08112945893

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store

 

Mohon dapat memberikan rating

Mengatasi Anak Susah Makan No ratings yet.

Salah satu masalah yang kerap dialami orangtua adalah anak susah makan. Hal ini akan memunculkan rasa khawatir berlebihan karena asupan nutrisi seimbang sangat dibutuhkan pada masa perkembangan si kecil. Banyak sekali masalah yang sering terjadi misalnya anak menolak makan, gerakan tutup mulut, hanya ingin mengkonsumsi makanan tertentu atau picky eater.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

1. Berikan makanan keluarga dengan tekstur lunak
2. Kenalkan aneka ragam bahan makanan sesuai umur. Variasikan jenis bahan makanan yang diberikan
3. Porsi disesuaikan dengan kebutuhan anak, porsi kecil tapi sering dan makanan bervariasi supaya anak tidak cepat bosan
4. Jadwal makan harus teratur, tapi luwes
5. Berikan makanan pada saat anak tidak lelah
6. Bila mencoba makanan yang baru, tunggu hingga anak lapar dan berikan bersama dengan makanan kesukaannya
7. Berikan susu secukupnya tidak berlebihan. Jangan memberikan susu sebelum jam makan, agar anak tidak kenyang oleh susu
8. Makanan selingan tidak berlebihan, tidak terlalu manis dan asin. Ganti dengan makanan lain atau buah yang bergizi lengkap

 

Bagaimana caranya meningkatkan nafsu makan pada anak?

1. Suasana menyenangkan, penuh kasih sayang dan jangan ada paksaan
2. Tambahkan hal-hal yang disukai anak seperi mainan, musik, TV atau dongeng
3. Ada teman seumuran yang menemani makan
4. Makan bersama di meja makan
5. Biarkan anak belajar makan sendiri dan tetap lakukan pengawasan
6. Jika ada penyakit tertentu segera konsultasi ke dokter
7.  Berikan pujian atau reward jika anak menghabiskan makanan
8. Tempatkan makanan di wadah menarik, kombinasikan warna dan bentuk anak supaya anak tertarik

Selalu perhatikan gizi anak anda terpenuhi ya moms supaya anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Info Pelayanan :
Klinik Tumbuh Kembang  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Mencegah Stunting pada Anak No ratings yet.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

Berikut tips untuk mencegah anak stunting:

  1. Memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil
  2. Beri ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan
  3. Dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat
  4. Terus memantau tumbuh kembang anak
  5. Selalu jaga kebersihan lingkungan
  6. Konsultasikan kesehatan anak anda ke dokter spesialis anak

Semoga bermanfaat yaa Ayah dan Bunda. Selalu perhatikan tumbuh kembang anak bersama RS Panti Rapih.

 

Info Pelayanan :
Klinik Tumbuh Kembang  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Cegah Diare No ratings yet.

Diare adalah penyebab utama kematian pada anak balita secara global yang mencapai sekitar 525.000 anak setiap tahunnya. Di Indonesia diare merupakan penyakit endemis dan juga merupakan penyakit potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang sering disertai dengan kematian. Apa yang dapat kita lakukan?

Pada tahun 2015 terjadi 18 kali KLB diare yang tersebar di 11 provinsi, 18 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 1. 213 orang dan kematian 30 orang. KLB diare sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2015, terlihat bahwa ‘Case Fatality Rate’ (CFR) masih cukup tinggi (>1%), bahkan tahun 2015 CFR diare mencapai 2,47%. Diare dapat berlangsung beberapa hari, dan dapat menyebabkan tubuh anak kehilangan air dan mineral atau garam yang diperlukan untuk bertahan hidup dan disebut dehidrasi. Di masa lalu, dehidrasi berat karena kehilangan cairan tubuh adalah penyebab utama kematian pada diare. Sekarang, penyebab lain seperti infeksi bakteri hebat atau septikemia akan menyebabkan peningkatan proporsi kematian terkait diare.

Diare didefinisikan sebagai buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja cair. Di negara berpenghasilan rendah, anak di bawah tiga tahun mengalami rata-rata tiga episode diare setiap tahunnya. Penyebab diare pada anak yang tersering adalah infeksi oleh bakteri, virus dan parasit, yang sebagian besar disebarkan oleh air yang terkontaminasi tinja. Infeksi lebih sering terjadi, bila sanitasi dan kebersihan lingkungan tidak memadai. Rotavirus dan bakteri Escherichia coli, adalah dua penyebab paling umum diare di negara berpenghasilan rendah. Selain infeksi, malnutrisi juga sering menyebabkan diare. Setiap episode diare berdampak menghilangkan nutrisi yang diperlukan anak untuk pertumbuhan. Akibatnya, diare merupakan penyebab utama malnutrisi, dan anak kurang gizi lebih cenderung jatuh sakit karena diare. Setiap episode diare pada gilirannya membuat malnutrisi mereka semakin parah dan diare adalah penyebab utama malnutrisi pada anak balita. Di Indonesia ditemukan sebanyak 26.518 balita gizi buruk secara nasional pada tahun 2015. Kasus gizi buruk yang dimaksud ditentukan berdasarkan perhitungan berat badan menurut tinggi badan balita Zscore < -3 standardeviasi atau balita sangat kurus. Sedangkan menurut hasil Riskesdas 2013 prevalensi gizi sangat kurus pada balita sebesar 5,3%. Jika diestimasikan terhadap jumlah balita 21.436.940 anak, maka perkiraan jumlah balita gizi buruk, sangat kurus, dan berisiko diare sebanyak sekitar 1,1 juta anak.

Langkah kunci dalam pengelolaan diare adalah lima langkah menuntaskan diare atau Lintas Diare. Pertama adalah rehidrasi dengan larutan gula garam rehidrasi oral atau oralit, berupa campuran air bersih, garam dan gula. Cairan akan diserap di usus halus anak dan segera menggantikan air dan elektrolit yang hilang selama diare. Rehidrasi mungkin diperlukan dengan cairan infus intravena, jika terjadi dehidrasi berat atau syok. Kedua adalah suplemen zinc 10-20 mg selama 10 hari yang akan mengurangi durasi episode diare sebesar 25% dan pengurangan 30% volume tinja. Ketiga adalah makanan kaya gizi, karena lingkaran setan malnutrisi dan diare dapat dipatahkan dengan terus memberi makanan kaya nutrisi, termasuk ASI, selama sebuah episode diare. Keempat adalah menghindari penggunaan antibiotika pada diare, kecuali ada indikasi medis yang kuat. Dan kelima adalah edukasi kepada orangtua anak balita dan rujukan kasus diare kepada dokter, terutama diare persisten, ada darah dalam tinja, atau ada tanda dehidrasi.

Intervensi medis untuk mencegah diare, termasuk penggunaan air minum yang aman, sanitasi yang lebih baik, dan cuci tangan memakai sabun, dapat mengurangi risiko penyakit. Selain itu, perlu penghindaran atas sumber air yang terkontaminasi kotoran manusia, misalnya dari septic tank dan jamban, atau kotoran hewan yang mengandung mikroorganisme penyebabkan diare. Penyebab diare lainnya adalah karena menyebar dari orang ke orang, yang dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Juga menghindari makanan yang merupakan penyebab utama diare, karena disiapkan atau disimpan dalam kondisi tidak higienis. Pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan bayi, berperan penting untuk pencegahan diare. Selain itu, juga pendidikan kesehatan kepada orangtua anak balita tentang bagaimana penyebaran infeksi penyebab diare dan vaksinasi rotavirus. Vaksin rotavirus tetes mulut diindikasikan untuk pencegahan diare yang disebabkan oleh Rotavirus serotipe G1 dan non-G1 (seperti G2, G3, G4, G9).

Pemberian vaksin ini yang bersamaan dengan vaksin polio tetes, tidak mempengaruhi respon imun dari antigen polio, namun menurunkan respon imun vaksin rotavirus. Oleh sebab itu, pemberian kedua jenis vaksin tersebut sebaiknya dalam jarak 2 minggu. Namun demikian, tidak akan terdapat interaksi apapun, jika vaksin rotavirus diberikan bersamaan dengan vaksin monovalen atau vaksin kombinasi lainnya, termasuk vaksin heksavalen (DTPa-HBV-IPV/Hib), vaksin difteri-tetanus-pertusis aselular (DTPa), vaksin Haemophillus influenza tipe b (Hib), vaksin polio yang dilemahkan (IPV), vaksin hepatitis B (HBV), dan vaksin pneumococcal. Dosis pemberian vaksin rotavirus yang hanya diberikan melalui mulut, satu paket terdiri dari dua dosis vaksin. Dosis pertama dapat diberikan sejak bayi berumur 6 minggu, dosis selanjutnya berjarak setidaknya 4 minggu setelah dosis pertama. Sebaiknya dosis vaksin diberikan secara lengkap sebelum bayi berusia 16 minggu, atau paling lama sudah lengkap pada saat bayi berusia 24 minggu. Dengan melakukan berbagai langkah pencegahan diare, diharapkan anak balita akan semakin terlindungi dari malnutrisi dan kematian terkait diare. Pemberian ASI eksklusif dan imunisasi rotavirus, adalah tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan.

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan yang mengindikasikan diare,  segera konsultasi ke dokter spesialis anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Wikan Indrarto
, SpA
Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Gangguan Sensory Integrasi (SI) pada Anak 5/5 (1)

Apakah anak anda susah untuk fokus saat diajak bicara, terlalu aktif (banyak gerak), cuek dengan lingkungan sekitar, sulit mengikuti pelajaran disekolah. Jika pernah, kemungkinan anak anda mengalami gangguan Sensory Integrasi. Apa itu gangguan Sensory Integrasi ?

Sensory Integrasi merupakan suatu proses neurologi dalam mengatur dan menterjemahkan input sensorik, untuk dapat memberikan respon yang sesuai dengan input tersebut. Dikarenakan adanya gangguan dalam fungsi otak yang menghambat kemampuan mengatur dan menterjemahkan informasi sensori motor. Mungkin menjadi penyebab dari adanya masalah seperti kesulitan bicara, kesulitan konsentrasi, kekacauan sosial emosional, gangguan perilaku, gangguan koordinasi, dan masalah lainnya. Ada beberapa gangguan Sensory Integrasi yang terlihat disekitar kita, diantaranya :

  • Gangguan vestibular (keseimbangan)
  • Gangguan tactil (raba)
  • Gangguan propioseptif (sendi)
  • Gangguan visual (penglihatan)
  • Gangguan auditory (pendengaran)
  • Gangguan olfactory (penciuman)
  • Gangguan gustatory (rasa)

Bila proses Sensory Integrasi ini berfungsi dengan baik, maka otak dapat berkembang dengan baik, sehingga pada usia sekolah anak mampu :

  1. Memberikan reaksi yang baik terhadap berbagai informasi sensorik yang biasa diterima oleh anak
  2. Menunjukkan tingkat perkembangan sensori motor , kognitif, emosi, dan sosialisasi yang sesuai dengan umurnya
  3. Menghadapi berbagai tuntutan akademis yang selalu bertambah sejalan dengan bertambahnya usia anak

Dilain pihak, anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan Sensory Integrasi, biasanya menunjukan berbagai masalah dalam belajar dan atau perilaku. Anak-anak ini mungkin memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala dibawah ini :

  • Hambatan prestasi sekolah
  • Kurang percaya diri
  • Masalah emosi sosial
  • Tampak terlalu aktif atau pendiam
  • Perhatiannnya mudah teralih
  • Kurang dapat mengontrol diri
  • Terlalu peka atau kurang peka terhadap sentuhan, gerakkan, suara, dsb
  • Gerakkannya tampak kikuk (tidak luwes) tampak serampangan
  • Hambatan pada perkembangan ketrampilan motorik, bicara, dan pengertian bahasa
  • Kadang-kadang tidak peduli dengan orang disekitarnya

Ada beberapa kondisi anak dengan gangguan Sensory Integrasi seperti :

  1. Autism Spectrum Disorder (ASD)
  2. Down Syndrome (DS)
  3. Attention Deficit / Hyperactivity Disorder (ADD / ADHD)
  4. Asperger’s Syndrome (AS)
  5. Retardasi Mental (RM)
  6. Learning Disability (LD)
  7. Speech Delay (SD)
  8. Cerebral Palsy (CP)
  9. Developmental Delay (DD) dll

Jika anak anda memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala gangguan perkembangan Sensory Integrasi diatas,  segera konsultasi ke dokter anak atau bisa langsung datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

 

Informasi Pelayanan : 
Instalasi Rehabilitasi Medik
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : 0274 – 563333 ext 1012
Senin – Sabtu, pk 07.00 – 16.00 WIB
Hari Minggu dan tanggal merah tutup
WhatsApp Instalasi Rehabilitasi Medik: 0821-3333-7052

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (1)

Mohon dapat memberikan rating

Mempersiapkan Generasi Anak Hebat Indonesia No ratings yet.

RS Panti Rapih menghadirkan pelayanan terbaru Klinik Yacinta. Apa itu Klinik Yacinta? Apa bedanya dengan Klinik Tumbuh Kembang dan Klinik Anak Sakit? Klinik Yacinta adalah poliklinik yang ditujukan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak dari sejak dalam kandungan sampai dengan anak-anak. Tujuannya untuk menjadikan generasi penurus bangsa yang hebat. Jadi bukan anak sakit saja yang harus ke rumah sakit, tetapi anak yang sehat sangat perlu dipantau pertumbuhan dan perkembangannya agar lebih optimal dan menjadi generasi anak hebat.

Mempersiapkan generasi bangsa anak sehat, dikelola sejak dalam kandungan, dan terus dikawal selama tumbuh kembang anak. Sejak dalam kandungan, pertumbuhan bayi dipantau dengan melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara rutin, sehingga dari sejak dini sudah terdeteksi apabila ada kelainan pada bayi. Pemeriksaan kehamilan juga bertujuan untuk mempersiapkan ibu dalam proses pemberian ASI Eksklusif, perawatan bayi, dan pemberian stimulasi pada bayi sejak dini.

Klinik Yacinta sudah mempersiapkan dokter spesialis anak, dan sub spesialis anak, serta berkolaborasi dengan tim medis yang lain, serta fasilitas penunjang lain untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila anak ada gangguan dalam perkembangannya, akan dikonsultasikan dengan dokter spesialis yang lain, melalui Klinik Anak Hebat. Klinik Yacinta menempati Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta, lantai 3 sisi sebelah Timur.

Untuk fasilitas penunjang Klinik Yacinta, antara lain:

  1. Klinik Laktasi

Klinik laktasi RS Panti Rapih memiliki konselor ASI terlatih, untuk membantu para ibu untuk memberikan ASI pada bayinya. Ibu boleh berkunjung ke Klinik Laktasi sejak hamil untuk mempersiapkan pemberian ASI Eksklusif, dilanjutkan setelah bayi lahir, dan apabila ibu mempunyai keluhan selama proses laktasi.

  1. Hypnobirthing

Hypnobrithing adalah layanan untuk ibu hamil untuk mempersiapkan kelahiran buah hati. Tujuannya untuk mempersiapkan mental ibu hamil, memberikan rasa nyaman dan tenang dalam proses persalinannya.

  1. Klinik Anak Sehat

Klinik dokter spesialis anak, khusus untuk memantau bertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila ada gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, dokter spesialis anak akan kolaborasi dengan dokter spesialis lain untuk memberikan treatment pada anak.

  1.  Baby Spa

Baby spa pada bayi dilakukan sejak bayi baru lahir, tujuannya memberikan rangsangan motorik anak. Rangkaian baby spa terdiri dari baby gym, baby swim, dan baby massage. Diberikan oleh tenaga kesehatan terlatih.

  1. Klinik Vaksinasi

Klinik vaksinasi khusus untuk pemberian vaksin pada anak. Saat ini, klinik vaksinasi dilayani setiap hari Senin sampai dengan hari Minggu.

  1. Fisioterapi

Apabila ada gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, dokter spesialis anak akan bekerjasama dengan fisioterapis untuk memberikan treatment pada anak yang membutuhkan tindakan fisioterapi.

Lalu, bagaimana kalau anak jatuh sakit? Bapak/ibu/saudara jangan khawatir, anak jatuh sakit adalah kondisi yang wajar dalam pertumbuhannya. Untuk anak sakit tetap diarahkan ke poliklinik anak sakit, apabila sudah kembali sehat, maka anak akan diarahkan kembali ke Klinik Anak Hebat. Untuk situasi pandemi saat ini, apabila ada faktor risiko terhadap paparan COVID-19, maka akan diarahkan ke klinik gabriel, dan dokter di sana akan berkolaborasi dengan dokter spesialis anak yang berjaga.

Klinik Yacinta menyediakan layanan yang berbeda dengan klinik reguler, pelayanan lebih lengkap,terpadu, dan ada potongan harga untuk tindakan vaksin. Pasien tidak perlu mendaftar, pasien langsung ke customer service, kemudian akan dipandu customer service. Ada paket yang bisa dipilih yaitu paket gold dan platinum. Layanan akan dilakukan seperti pasien VIP. Layanan teradu antara lain: pemeriksaan dokter, pemeriksaan fisik, THT, mata, Psikologi, Ahli Gizi, Klinik Laktasi, Baby Spa, Imunisasi, Cukur, dan Tindik. Ada fasilitas tambahan yaitu, fasilitas makan sesuai paket yang diambil dan makan akan disiapkan di lounge.

Link terkait:

https://pantirapih.or.id/rspr/klinik-anak-terpadu/

https://pantirapih.or.id/rspr/klinik-kandungan-anna/

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak Terpadu Yacinta 
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : 0274-563333 ext 1217/1205

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Jantung Anak 5/5 (1)

Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 September. Bertujuan untuk menciptakan sebuah komunitas global pahlawan jantung (Heart Heroes). Pahlawan ini adalah setiap orang dari semua lapisan masyarakat, yang bertindak untuk hidup lebih lama, lebih nyaman dan lebih baik, karena memiliki jantung yang lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat berbagai janji. Pertama, janji untuk keluarga kita masing-masing, yaitu akan memasak dan makan yang lebih sehat. Kedua janji untuk anak, yaitu akan mendampingi berolahraga lebih banyak dan lebih aktif, untuk mengatakan tidak kepada rokok dan membantu orang yang kita cintai untuk berhenti. Ketiga janji sebagai seorang profesional kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok dan menurunkan kadar kolesterol. Semuanya adalah sebuah janji sederhana untuk jantung kita.

Penyakit jantung terutama karena pola hidup yang tidak sehat adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini, tetapi pada bayi dan anak sedikit berbeda. Dr. Nikmah Salamiah, SpA (K), PhD dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap insan, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak. Sayangnya, 7 hingga 8 bayi per 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan struktur tersebut dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut dengan PJB biru (sianotik), yaitu jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB. Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter (non-bedah).

Sejauh ini, penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Paparan rokok saat kehamilan (baik ibu perokok aktif maupun pasif), konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat Ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

Nyeri dada adalah keluhan klinik tersering yang terkait dengan kelainan jantung, biasanya dipicu atau bertambah berat dengan aktivitas fisik (exertional chest pain), disertai keluhan jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur. Anak agak besar sering melaporkan sebagai nyeri seperti ditekan, atau terdapat beban di atas dada dan mungkin menjalar, atau diikuti gejala pingsan atau hampir pingsan, dan pusing yang disertai mata berkunang-kunang. Untuk menyingkirkan kelainan jantung, pada umumnya dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung (elektrokardiografi atau EKG) dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis, untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2019 mengingatkan kita, akan peran besar para pahlawan jantung (Heart Heroes), termasuk untuk Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Ditulis oleh: Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Kulit
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Penyebab Demam Berdarah Dengue pada Anak No ratings yet.

Demam berdarah dengue (DBD) masih jadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Kasus DBD meningkat di berbagai daerah khususnya di wilayah DIY. Ini artinya, orang tua diharapkan dapat lebih waspada untuk dapat mengenali tanda dan gejala penyakit ini.

DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Infeksi virus ini dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut. Secara teoritis, seseorang dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, karena virus ini mempunyai empat serotipe.

Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi dan bersifat terus menerus, hal ini yang sering kali dikuatirkan orangtua karena demam sulit turun meskipun sudah diberikan penurun panas.

Fase ini biasanya berlangsung selama 3-5 hari yang disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, serta kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing).

Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual dan muntah sering ditemukan. Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan DBD maupun antara penyakit berat dan tidak berat.

Bila dicek di laboratorium, biasanya terlihat penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan jumlah trombosit dan nilai hematrokit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal.

Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4 sampai ke-6. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan kondisi perburukan sampai kematian. Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Mendadak Dingin

Pada fase ini, badan terutama pada ujung lengan dan kaki mendadak dingin dan terlihat lemas. Hal ini merupakan bentuk tanda syok. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit (kekentalan darah) yang nyata.

Fase ini terjadi pada saat tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal. Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan.

Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

Fase pemulihan berlangsung secara bertahap 24-48 jam setelah melalui fase kritis, biasanya terjadi pada hari ke-7. Keadaan umum dan nafsu makan mulai membaik, evaluasi laboratorium mulai terjadi perbaikan, hematokrit (kekentalan darah) mulai stabil dan jumlah trombosit mulai terjadi peningkatan secara bertahap. Pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam (kemerahan) di tangan dan kaki yang akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan mengenali gejala-gejala tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami salah satu atau lebih dari gejala tersebut.

Pencegahan

DBD dapat dicegah dengan penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti-nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan jentik nyamuk di bak mandi, penyemprotan cairan insektisida (fogging), dan gerakan 3M (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi). Pada prinsipnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh:
dr. Maria Rulina YA, M.Sc., Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Penanganan Demam pada Anak di masa COVID-19 4/5 (1)

Anak dengan kondisi tak fit, cuaca yang ekstrem dan adanya pencetus mempermudah anak menjadi sakit influenza terlebih demam. Demam ini jika di tambah dengan adanya penurunan daya tubuh di masa COVID, akan mempermudah timbulnya kejang demam atau komplikasi infeksi organ tubuh terlebih jika ada riwayat sakit asma atau alergi.

Demam adalah kondisi suhu panas tubuh melebihi angka normal, bayi 36,5-37,5 C sedang anak 36,0-37,0 C di thermometer suhu. Penyebab demam sangat banyak dari non infeksi seperti tumbuh gigi, paska infeksi, dehidrasi, dll, infeksi oleh virus, bakteri, parasit dll juga penyebab tidak jelas karena terganggunya komunikasi anak, hanya rewel, , menangis terus. Pola demam dan tanda /gejala lain yang menyertai akan membantu menegakkan diagnosa penyakit pada anak.


Pastikan anak diukur suhu dengan benar menggunakan thermometer suhu tubuh, bisa di ketiak, di mulut di bawah lidah, di anus atau dengan sensor di telinga atau infra merah di dahi. Pertolongan pertama adalah pastikan anak mendapatkan cairan yang cukup, kompres dengan air hangat / gel plester kompres di dahi dan bagian lipatan tubuh, longgarkan pakaian agar lebih nyaman jika panas tinggi, berikan obat penurun panas sesuai dosis dan umur, jika panas tidak ada perubahan lebih 2 hari, sebaiknya bawa segera ke dokter terlebih jika panas lebih dari 39 C, dan ada tanda gejala kejang demam atau kegawatan lain seperti mulai tidak sadar dan ada gangguan nafas.
Harapannya di masa COVID ini, anak perlu diperhatikan kesehatannya dengan membandingkan perilaku kesehariannya, cukup makan minum yang bergizi, gerak yang cukup aktif, jika perlu diberikan suplemen vitamin tambahan


Materi sejenis ini pernah ditayangkan di Webinar RS Panti Rapih, Hari Jumat, 18 Desember 2020, Penanganan Demam pada Anak di Era Pandemi COVID-19, narasumber dr. Maria Rulina Y.A.,M.Sc.,Sp. A

Dapat dibuka di link Youtube

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating