Pernahkah Sahabat Sehat merasa tidak segar meski telah tidur semalaman? Atau mungkin mengalami nyeri kepala dan kantuk berlebihan di siang hari? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami gangguan tidur lho!
Gangguan tidur sering kali tidak terdeteksi. Sebagian orang bahkan mengabaikan gangguan tidur tersebut dan menganggapnya sebagai kondisi yang tidak berbahaya. Padahal faktanya, gangguan tidur dapat mengganggu fungsi pembuluh darah, otak, jantung, dan menurunkan kualitas hidup dari penderitanya. Lalu, bagaimana cara kita mendeteksi gangguan tidur?
Pemeriksaan Polisomnografi
Polisomnografi (PSG) adalah alat untuk memeriksa kondisi seseorang saat tidur. Dengan menggunakan PSG, kita dapat menilai kualitas tidur dan mendeteksi gangguan tidur secara objektif. Beberapa alat akan dipasang di area kepala dan badan Anda. Alat tersebut akan merekam gelombang otak, otot, dan pernapasan selama Anda tidur. Setelah itu, dokter spesialis neurologi akan memeriksa apakah gelombang-gelombang tersebut normal atau tidak normal.

Ilustrasi Pemeriksaan PSG
Bagaimana pola tidur yang normal?
Ketika tidur, kita dapat mengalami beberapa fase, yaitu fase non – rapid eye movement (non-REM) dan fase REM.  Fase non-REM masih bisa dibedakan menjadi fase non-REM tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3.
Saat mengantuk dan mulai tertidur, kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 1. Apabila kita tidur tetapi masih mudah terbangun (tidur dangkal), kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 2. Sedangkan ketika kita tidur dan lebih sulit dibangunkan (tidur dalam), kita sudah masuk ke dalam fase non-REM tingkat 3. Fase non-REM tingkat 3 sering diikuti dengan fase REM, dimana pada fase ini kita dapat bermimpi. Seluruh fase tersebut merupakan 1 siklus tidur. Ketika 1 siklus sudah selesai, maka kita bisa masuk ke dalam siklus yang baru.
Siklus Tidur Normal
Apa saja jenis gangguan tidur?
Gangguan tidur ada banyak jenisnya. Menurut International Classification of Sleep Disorder III (ICSD III) , gangguan tidur dapat dibagi menjadi : insomnia, gangguan bernapas saat tidur, hipersomnia, gangguan irama tidur, parasomnia, gangguan gerak saat tidur, dan gangguan tidur lainnya.  Dari berbagai jenis gangguan tidur tersebut, Anda pasti lebih familiar dengan insomnia dan gangguan bernapas saat tidur (seperti mengorok).
Insomnia adalah gangguan tidur dimana penderitanya mengalami kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terjaga terlalu dini. Insomnia ini lebih sering dijumpai pada perempuan, memiliki gangguan psikiatri, atau sering mengonsumsi kopi dan rokok. Apabila insomnia tidak didiagnosis dengan tepat dan tidak ditangani, maka dapat menurunkan fungsi memori, memicu depresi, dan menurunkan performa dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda dan Gejala Insomnia
Pernahkah Anda melihat orang yang mengorok saat tidur, kemudian tampak berhenti bernapas sesaat? Kondisi itu disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Mengorok lebih sering dijumpai pada seseorang dengan obesitas, jenis kelamin laki-laki, usia lanjut, memiliki kelainan struktur anatomi hidung, rahang, dan dagu, memiliki pembesaran tonsil/amandel, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan rokok. Mengorok sering kali danggap sebagai hal yang wajar oleh banyak orang. Padahal kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung, seperti hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Ilustrasi OSA
Apa yang harus kita lakukan jika mengalami gangguan tidur?
Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui jenis gangguan tidur dengan mengisi kuesioner terkait gangguan tidur dan/atau menjalani pemeriksaan PSG. Setiap jenis gangguan tidur memiliki penanganan yang berbeda-beda. Apabila tidak diperiksa secara objektif, kita tidak bisa menentukan penanganan yang sesuai. Penanganan gangguan tidur tidak hanya dengan pemberian obat, tetapi dapat berkolaborasi dengan psikolog/psikiater, dokter spesialis THT, dokter spesialis paru, rehabilitasi medik, dan ahli gizi. Konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dan hasil PSG Anda dengan dokter spesialis neurologi, agar bisa menentukan penanganan yang tepat.
Tidur yang berKualitas adalah kebutuhan bagi semua orang. Tidur yang berkualitas bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus mencegah berbagai penyakit. Jangan sepelekan gangguan tidur yang Anda alami. Yuk, periksa PSG di Rumah Sakit Panti Rapih!
Artikel ditulis oleh :
dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, AIFO-K, Sp.N
(Dokter Spesialis Saraf RS Panti Rapih)
Sumber :
InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. In brief: What is “normal” sleep? [Updated 2024 Aug 1]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279322/
Islamiyah WR (ed.). 2018. Panduan Tatalaksana Gangguan Tidur. Jakarta : Sagung Seto.
Sleep Apnea: Types, Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment
Sleepapnea.sleep-disorders.net/types
Insomnia: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment