Patahkah Tulang Saya? No ratings yet.

Kejadian trauma/benturan pada kasus kecelakaan lalu lintas banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di era padatnya lalu lintas, dengan jumlah kendaraan bermotor yang cenderung semakin meningkat yang digunakan masyarakat. Selain itu, bahkan setiap pilihan kegiatan tubuh kita semua memiliki risiko untuk terjadinya trauma dari yang ringan sampai ke yang berat, apalagi jika dilakukan dengan tidak tepat/aman.

Dalam hal ini, banyak sekali asumsi awal dari penderita/korban yang merasakan gejala pertama dari benturan berupa sakit/ nyeri yang timbul pasca sebuah benturan terjadi. Hampir rata-rata cepat untuk berpikir bahwa sudah timbul patah pada tulang di area benturan yang terjadi di tubuhnya, sehingga tidak sedikit pasien atau korban yang cenderung akan “mendesak” dokternya untuk keperluan pemeriksaan pencitraan/ imaging tulang untuk “membuktikan” rasa takut akan patah tulang pada dirinya.

Definisi Patah Tulang / Fraktur

Fraktur/patah tulang sendiri dapat diartikan sebagai proses terhentinya kontinuitas jaringan tulang yang disebabkan oleh proses trauma, meski begitu, tulang juga dapat menjadi lebih rentan patah dari biasanya karena gangguan lain /penyakit lain baik yang berasal dari tulang itu sendiri maupun merupakan kasus penyebaran dari penyakit di lokasi lain.

Mekanisme trauma/ sebuah benturan dapat menimbulkan patahnya sebuah tulang jika mampu melampaui ambang batas flexibilitas sebuah tulang, oleh sebab itu, sangatlah bervariasi terkait varibel usia, jenis tulang, lokasi benturan serta kekuatan mekanisme trauma, di mana semua menjadi faktor utama bagi seorang dokter memperkirakan risiko timbulnya fraktur.

Penyakit lain yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan tulang, misal osteoarthritis, osteoporosis, rheumathoid arthritis, osteomyelitis, sampai dengan penyakit keganasan/ neoplasma/ tumor/ kanker pada tulang tersebut, ataupun merupakan penyebaran/metastase dari keganasan di regio yang lain, juga dapat menjadi faktor pencetus terjadinya sebuah mekanisme patah tulang yang lebih dikaitkan dengan menurunnya flexibilitas tulang serta turunnya komposisi kepadatan/densitas sel tulang.

Tanda Patah Tulang
Paska sebuah benturan/trauma yang berpotensi patah tulang, tanda-tanda yang utama harus diperhatikan meliputi perubahan atau kelainan bentuk/ deformitas di regio yang dicurigai, rasa nyeri, gangguan fungsi/ gerak, bunyi krepitus tulang. Tiga dari empat tanda utama ini pasti dapat ditemukan pada kasus yang dicurigai Fraktur pada tulang.

Tanda-tanda lain, lebih cenderung digunakan oleh pada tenaga kesehatan untuk memprediksi lebih lanjut tingkat beratnya fraktur, ataupun gambaran kondisi jaringan di sekitar lokasi yang dicurigai patah tulang, misalnya, pada kecurigaan patah tulang iga, maka gerakan dinding dada pasien saat bernafas menjadi tanda khas yang harus diperhatikan oleh dokter, contoh lain, tanda terganggunya aliran darah ke tepi-tepi ekstremitas seperti nadi tangan dan nadi di kaki dapat menjadi indikasi beratnya sebuah kecurigaan Fraktur sehingga berpotensi melukai pembuluh darah yang berada di sekitarnya.

Perlu dibedakan antara timbulnya deformitas pada beberapa lokasi yang dapat saja tidak terkait dengan patah tulang misal pada daerah sendi mata kaki yang terkilir/ jatuh pada posisi yang tidak sempurna/baik, maka perlu dilakukan pemeriksaan medis dengan baik meliputi gerak pasif dan aktif sendi, nyeri yang timbul, palpasi
atau perabaan terhadap krepitasi atau nyeri yang timbul pada tulang-tulang yang membentuk sendi tersebut. Deformitas yang terjadi di area-area tersebut dapat saja hanya berupa gangguan jaringan lunak seperti tendo otot, otot ataupun kapsul sendi, serta hanya bekuan darah / hematoma yang muncul akibat pecahnya pembuluh darah dan terakumulasinya darah tersebut di bawah kulit tetapi tidak melibatkan jaringan tulang di regio tersebut.

Pemeriksaan Penunjang Fraktur
Seharusnya dengan sebuah pemeriksaan radiologi sederhana berupa rontgen / X Ray tulang sudah dapat menegakkan diagnosa fraktur, pada kasus khusus yang dicurigai bahwa sumber timbulnya kerapuhan tulang sehingga timbul Fraktur Patologis (Fraktur yang dipengaruhi kondisi sakit yang lain), maka modalitas pemeriksaan radiologi/pencitraan dapat bervariasi dari CT Scan tanpa/dengan kontras, dan MRI, umumnya tahapan pemeriksaan ini juga digunakan sebagai pelacakan terhadap sumber penyakit yang menimbulkan rapuhnya jaringan tulang, atau pelacakan tingkat penyebaran penyakit tersebut.

Penggunaan sinar X pada rontgen polos/ dasar,sebetulnya sudah pada takaran yang aman bagi tubuh manusia, sehingga dalam hal khusus memang dapat saja dilakukan serial pemeriksaan rontgen, misal pada fraktur beberapa ruas tulang iga yang berpotensi juga mengganggu paru-paru, sehingga jika pasien timbul gejala yang lebih lanjut, dokter dapat meminta dilakukan kembali evaluasi rontgen dada, bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam. Hanya saja, dunia kedokteran/medis itu juga menganut prinsip pemeriksaan fisik dasar yang sampai saat ini masih menjadi pemeriksaan utama, dibandingkan pemeriksaan yang sifatnya menunjang (tidak harus selalu dilakukan) seperti halnya pemeriksaan radiologi. Sehingga seorang petugas medis wajib melakukan pemeriksaan fisik dasar di area yang dicurigai potensial patah tulang tersebut dengan baik dan benar serta menyeluruh.

Dalam menentukan sebuah kecurigaan kasus fraktur, sebetulnya tanda-tanda yang dapat diobservasi mayoritas sudah dapat menunjukkan arah diagnosa tersebut, pada tahap ini, sebaiknya mempercayakan pada pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter, dalam hal keragu-raguan atau pembuktian kecurigaan patah tulang yang berdasarkan temuan pemeriksaan fisik seperti di atas, maka foto X-Ray sederhana/polos sudah cukup dalam membantu menegakkan diagnosa Fraktur sebagai pemeriksaan penunjang awal.

 

Artikel terkait: https://pantirapih.or.id/rspr/mri-magnetic-resonance-imaging/

Artikel ini ditulis oleh:
dr.  John Hartono, Sp. KFR
(Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RS Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Ortopedi & Traumatologi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Operasi Penggantian Sendi 4.76/5 (17)

Operasi penggantian sendi adalah operasi yang dilakukan untuk mengganti sendi yang telah rusak dengan sendi buatan yang disebut prostesis. Operasi penggantian sendi paling banyak dilakukan pada sendi lutut (Gambar 6) dan sendi pinggul (Gambar 7) karena kedua sendi tersebut paling sering mengalami kerusakan akibat pengapuran sendi.

Operasi penggantian sendi lutut tidak hanya menghilangkan rasa sakit sendi yang telah rusak akibat pengapuran sendi dan memungkinkan pasien beraktivitas tanpa rasa nyeri, tetapi juga membuat sendi lutut yang bengkok akibat pengapuran sendi menjadi lurus kembali setelah operasi (Gambar 8 dan 9).

Aman Bagi Orang Tua
Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul biasanya berlangsung selama sekitar 1,5 sampai 2 jam. Sama seperti jenis operasi yang lain, di jaman modern ini operasi penggantian sendi merupakan operasi yang tidak menyakitkan dan menakutkan. Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul juga merupakan operasi yang aman bahkan bagi orang tua (pada kenyataannya, sebagian besar penderita pengapuran sendi adalah para orang tua!). Dengan teknologi dan ilmu kedokteran yang modern, operasi penggantian lutut dan pinggul juga aman bagi penderita pengapuran sendi yang juga mengidap penyakit kencing manis, tekanan darah tinggi atau penyakit jantung.

Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul tidak memerlukan pembiusan umum, tetapi hanya pembiusan regional (separuh tubuh bagian bawah), di mana obat bius dimasukkan ke dalam rongga di sekitar sumsum tulang belakang melalui sebuah selang plastik kecil. Jenis pembiusan semacam ini disebut pembiuasan epidural. Selang plastik tersebut akan tetap dibiarkan di tempatnya untuk menghilangkan rasa nyeri setelah operasi selama beberapa hari sampai penderita mulai berlatih jalan, sehingga operasi penggantian sendi merupakan operasi yang tidak menyakitkan. Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul tidak membutuhkan rawat inap di rumah sakit yang lama. Tiga hari setelah operasi, pasien mulai dilatih berjalan dengan alat bantu penyangga yang disebut walker atau kruk. Setelah mampu berjalan dengan stabil, pasien diijinkan pulang sehingga lama perawatan di rumah sakit berkisar 4 sampai 5 hari. Pasien biasanya mampu berjalan seperti orang normal tanpa bantuan walker sekitar 3-4 minggu setelah operasi.

Dari penuturan para pasien setelah menjalani operasi penggantian sendi lutut atau pinggul, pasien tidak merasa
nyeri sama sekali pada lutut atau pinggul sehingga dapat melakukan aktivitas harian secara aktif bebas dari rasa nyeri yang sebelumnya sangat mengganggu. Menurut penelitian di negara barat, sendi buatan pada umumnya dapat bertahan digunakan selama sekitar 15-20 tahun, tergantung pada berat badan dan akitivitas fisik yang menggunakan dan teknik pemasangannya. Di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui ketahanan sendi buatan, namun jika dibandingkan dengan orang-orang di negara barat di mana berat badan dan aktivitas fisik orang Indonesia pada umumnya lebih ringan, dapat dianggap bahwa untuk orang Indonesia, ketahanan sendi buatan setidak-tidaknya juga 15-20 tahun atau bahkan lebih lama.

Komplikasi
Sama seperti operasi pada umumnya, pada operasi penggantian sendi juga dapat terjadi komplikasi. Salah satu
komplikasi yang serius adalah infeksi. Menurut banyak penelitian di banyak negara, komplikasi infeksi dapat terjadi pada sekitar 0-2% penderita. Artinya, dari 100 orang yang menjalani operasi, paling banyak sebanyak 2
penderita di antaranya mengalami infeksi.

Operasi penggantian sendi yang terinfeksi merupakan masalah yang serius karena untuk mengobatinya perlu dilakukan
operasi ulang pada sendi yang terinfeksi. Namun demikian, komplikasi ini sangat jarang terjadi dan dengan teknik operasi yang baik, resiko infeksi dapat dicegah seminimal mungkin. Di rumah sakit dengan fasilitas kamar operasi yang baik seperti RS Panti Rapih, kejadian infeksi pada pasien yang menjalani operasi penggantian sendi sangat rendah. Sejauh ini, hanya ada 1 pasien (0,3%) dari sekitar 350 pasien yang telah diganti lututnya di RS Panti Rapih.

Komplikasi kedua yang dapat terjadi adalah kekakuan sendi. Keadaan ini biasanya akan terjadi jika penderita takut menggerakgerakkan lututnya setelah operasi. Ketakutan tersebut biasanya didasari kekhawatiran bahwa sendi buatan akan terlepas jika lutut dilipat dan diluruskan, sehingga penderita tidak berani bergerak sama sekali. Sendi buatan yang sudah terpasang dengan benar tidak mungkin terlepas dari tempatnya. Oleh karena itu, kekuatiran seperti itu sama sekali tidak benar.

Untuk mencegah kekakuan, sendi lutut harus mulai digerak-gerakkan segera setelah operasi dan harus tetap dilatih selama beberapa minggu kemudian sampai sendi terasa nyaman dan tidak kaku. Semakin cepat dan semakin berani penderita menggerak-gerakkan lututnya, hasil yang diperoleh semakin baik. Demikian juga, semakin cepat dan berani penderita berlatih berjalan, semakin cepat penderita mampu berjalan tanpa bantuan alat bantu apapun.

Pencegahan

Karena sebagai bagian dari proses penuaan, pengapuran sendi sebenarnya tidak dapat dicegah. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi resiko timbulnya pengapuran sendi, dengan cara (1) menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan, (2) tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat, (3) segera memeriksakan diri jika menderita nyeri sendi agar pengapuran sendi stadium ringan dapat dicegah tidak bertambah buruk menjadi stadium berat.

Penutup
Pengapuran sendi merupakan penyebab utama nyeri sendi dan kerusakan sendi, bukan penyakit rematik atau asam urat seperti anggapan masyarakat awam. Pengapuran sendi derajad ringan dapat diobati dengan pengobatan non-operasi. Sementara untuk pengapuran sendi berat pilihan pengobatan yang tersedia adalah operasi penggantian sendi. Operasi penggantian sendi merupakan pengobatan terbaik untuk sendi lutut dan pinggul yang telah mengalami kerusakan akibat pengapuran sendi, khususnya stadium 3 dan 4. Operasi ini dapat memberikan kesembuhan yang permanen dan meningkatkan kualitas hidup penderita pengapuran sendi. Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul aman bagi para orang tua.

Ingin mengetahui informasi seputar tulang dan sendi, kunjungi Klinik Orthopaedi dan Traumatologi RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh:
dr. Bambang Kisworo, Sp.OT
Spesialis Ortopedi & Traumatologi, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Ortopedi (Bedah Tulang)
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.76/5 (17)

Mohon dapat memberikan rating

Pengapuran Sendi 5/5 (7)

Pengapuran sendi atau osteoartritis adalah suatu penyakit di mana tulang rawan sendi menipis. Tulang rawan berfungsi melapisi ujung tulang pembentuk sendi, sehingga sendi dapat bergerak bebas tanpa rasa nyeri. Fungsi tulang rawan sendi dapat diibaratkan seperti fungsi ban yang melapisi velg kendaraan sehingga mobil dapat bergerak bebas tanpa hambatan. Sama seperti ban mobil yang akan menipis karena aus akibat bergesekan dengan jalan, demikian juga tulang rawan sendi akan aus dan menipis karena saling bergesekan setiap kali sendi bergerak.

Tulang rawan yang normal berwarna putih kekuningan mengkilap, dengan permukaan yang halus dan rata (Gambar 1). Sementara tulang rawan yang rusak dan menipis akibat pengapuran sendi tampak berwarna kuning pucat kusam dengan permukaan yang kasar atau bahkan hilang sama sekali (Gambar 2).

Apabila tulang rawan sendi rusak dan menipis, ujung tulang pembentuk sendi akan saling bertemu dan bergesekan langsung tanpa pelapis tulang rawan, sehingga gerakan sendi menjadi terbatas (kaku) dan menimbulkan rasa nyeri. Seringkali juga terdengar suara “krek-krek” pada saat sendi digerakkan. Penyebab Penyebab penipisan tulang rawan pada pengapuran sendi tidak diketahui secara pasti dan dianggap sebagai bagian dari proses penuaan sama seperti proses penuaan pada bagian tubuh lainnya. Setiap orang tua akan mengalami pengapuran sendi dengan derajat yang berbeda-beda.

Selain sebagai bagian dari proses penuaan, pengapuran sendi dipandang sebagai akibat dari beberapa faktor resiko sebagai berikut:

  1. wanita berusia lebih dari 45 tahun;
  2. kelebihan berat badan;
  3. aktifitas fisik yang berlebihan, seperti para olahragawan dan pekerja kasar;
  4. menderita penyakit rematik;
  5. menderita kelemahan otot paha; atau
  6. pernah mengalami patah tulang di sekitar sendi yang tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Gejala-Gejala Pengapuran sendi dapat mengenai hampir semua sendi pada tubuh manusia, yaitu sendi di daerah tulang belakang, bahu, siku, jari-jari tangan dan kaki, pinggul, lutut, serta pergelangan tangan dan kaki. Namun demikian, penyakit ini paling sering menyerang sendi lutut dan pinggul karena kedua sendi tersebut merupakan sendi yang paling banyak menerima beban dari aktivitas harian manusia.

Gejala pengapuran sendi stadium dini biasanya berupa nyeri dan kekakuan sendi setelah lama tidak bergerak, seperti setelah bangun tidur di pagi hari atau setelah duduk dalam waktu yang lama. Sendi lutut juga terasa sakit
jika digunakan beraktivitas, seperti berjalan, naik-turun tangga, atau berjongkok. Sering terdengar bunyi “krek-krek” pada saat sendi lutut digerakkan.

Pada stadium yang lebih berat, rasa sakit tidak hanya dirasakan ketika beraktivitas, tetapi juga pada saat beristirahat. Tidur penderita juga seringkali terganggu akibat rasa sakit pada persendian. Pada stadium lanjut, selain rasa sakit yang semakin hebat, sendi lutut menjadi kaku (sehingga penderita tidak mampu berjongkok) dan lutut menjadi bengkok seperti huruf O atau huruf X (Gambar 3). Pada foto Rontgen, celah sendi lutut yang mengalami pengapuran sendi tampak lebih sempit dibanding celah sendi yang normal (Gambar 4).

Derajad penyempitan celah sendi pada foto Rontgen inilah yang digunakan untuk menentukan berat ringannya (stadium) pengapuran sendi. Ada 4 stadium pengapuran sendi, yaitu stadium 1 dan 2 dikategorikan sebagai pengapuran sendi ringan, sementara stadium 3 dan 4 sebagai pengapuran sendi berat (Gambar 5).

Pada stadium 1, celah sendi masih normal lebar, tetapi ada rasa nyeri pada sendi lutut. Celah sendi pada stadium 2 lebih sempit dibanding normal. Sementara pada stadium 3, celah sendi sangat sempit dan pada stadium 4, celah sendi menutup; keadaan ini disebabkan karena lapisan tulang rawan yang melapisi ujung tulang dan “mengisi” celah sendi telah hilang sama sekali. Pengobatan Pengobatan untuk pengapuran sendi berbeda-beda tergantung stadiumnya. Tujuan pengobatan pengapuran sendi adalah: (1) menghilangkan nyeri, (2) memperbaiki lingkup gerak sendi yang kaku, (3) meningkatkan kualitas hidup sehingga penderita dapat hidup bebas dari nyeri, dan (4) mencegah pengapuran sendi derajad ringan (stadium 1 dan 2) berlanjut semakin berat menjadi stadium 3 dan 4.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tersedia berbagai bentuk pengobatan tergantung pada stadium pengapuran sendi.
Pengobatan untuk pengapuran sendi derajad ringan (yaitu stadium 1 dan 2) terdiri atas (1) menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan; (2) latihan untuk menguatkan otot paha dan pinggul serta untuk menjaga kebugaran tubuh, seperti berenang dan naik sepeda; (3) obat anti-radang dan anti-nyeri, (4) suplemen yang mengandung glukosamin dan kondroitin sulfat untuk menumbuhkan tulang rawan, serta (5) obat nutrisi sendi yang mengandung asam hialuronat dan yang perlu disuntikkan ke dalam sendi. Orang awam sering menyebut obat yang terakhir tersebut sebagai penambah ”oli pelumas sendi”. Suntikan obat pelumas sendi hanya bermanfaat untuk pengapuran sendi ringan (stadium 1 dan 2). Untuk pengapuran sendi berat (stadium 3 dan 4) obat tersebut tidak bermanfaat karena tulang rawan sendi pada umumnya tidak hanya menipis, tetapi telah hilang sama sekali sehingga tidak ada lagi tulang rawan yang tersisa untuk dilumasi lagi. Cukup banyak pasien yang kecewa telah mendapat suntikan obat pelumas sendi, tetapi tidak sembuh. Banyak diantaranya mendapat suntikan 5 sampai 10 kali pada kedua lututnya, tetapi tetap terasa nyeri. Hal ini disebabkan karena mereka telah mengalami pengapuran sendi stadium 3 atau 4 sehingga obat pelumas sendi sama sekali tidak bermanfaat.

Oleh karena itu, bentuk pengobatan non-operasi tersebut di atas biasanya hanya bermanfaat untuk pengapuran sendi ringan (stadium 1 dan 2) dan tidak memberikan hasil yang memuaskan untuk derajad yang berat. Untuk pengapuran sendi berat (yaitu, stadium 3 dan 4), pilihan pengobatan terbaik yang tersedia adalah operasi penggantian
sendi.

Ingin mengetahui informasi seputar tulang dan sendi, kunjungi Klinik Orthopaedi dan Traumatologi RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh :
dr. Bambang Kisworo, Sp.OT
Spesialis Orthopaedi & Traumatologi, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Orthopedi (Bedah Tulang)
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Nyeri Sendi No ratings yet.

Sendi adalah tempat di mana tulang saling berhubungan. Sendi dibentuk oleh dua tulang atau lebih. Di dalam tubuh manusia terdapat sekitar 250 buah sendi. Sendi memungkinkan manusia dapat bergerak. Tanpa sendi, tubuh kita akan kaku seperti patung. Karena jumlahnya banyak, sendi cukup sering sakit. Kenyataannya, hampir semua orang pernah menderita nyeri sendi selama hidupnya. Sebagian besar masyarakat (dan bahkan beberapa dokter) memiliki anggapan yang keliru bahwa semua nyeri sendi diakibatkan oleh penyakit rematik atau asam urat. Penyakit lain yang sering dianggap secara salah sebagai penyebab nyeri sendi adalah kolesterol dan osteoporosis.

Penyakit rematik dan asam urat memang dapat menyebabkan nyeri sendi, akan tetapi sebenarnya tidak banyak nyeri sendi yang disebabkan oleh penyakit rematik dan asam urat. Atau dengan kata lain, sebagian besar nyeri sendi yang dialami oleh masyarakat tidak disebabkan oleh penyakit rematik atau asam urat. Kolesterol dan osteoporosis tidak pernah menyebabkan nyeri sendi. Sungguh memprihatinkan bahwa cukup banyak dokter (dan tentu masyarakat awam) yang beranggapan secara keliru bahwa kadar kolesterol yang tinggi dan osteoporosis dapat menyebabkan nyeri sendi.

Banyak dokter yang melakukan pemeriksaan kadar kolesterol dan trigliserid serta pemeriksaan osteoporosis pada pasien dengan keluhan nyeri sendi. Pemeriksaan semacam itu bukan saja tidak bermanfaat tetapi juga merugikan pasien. Anggapan yang salah akan menyebabkan salah diagnosis dan salah pengobatan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila cukup banyak nyeri sendi yang tidak sembuh meskipun telah memperoleh pengobatan dari dokter, karena didasarkan pada diagnosis dan pengobatan yang salah.

Penyebab utama nyeri sendi pada usia di atas 45 tahun, khususnya lutut dan pinggul, adalah pengapuran sendi. Pada usia di bawah 45 tahun, penyebab utama nyeri sendi adalah peradangan otot akibat aktivitas fisik yang lebih dari kebiasaan sehari-hari atau karena cidera olah raga. Penyakit rematik dan asam urat hanya menjadi penyebab pada sebagian kecil keluhan nyeri sendi.

Ingin mengetahui informasi seputar tulang dan sendi, kunjungi Klinik Orthopaedi dan Traumatologi RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh :
dr. Bambang Kisworo, Sp.OT
Spesialis Orthopaedi & Traumatologi, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

Informasi Pelayanan : 
Klinik Orthopedi (Bedah Tulang)
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal dan Memahami Patah Tulang pada Anak 4.87/5 (15)

Pada saat ini animo masyarakat untuk menjaga kesehatan cukup tinggi, sehingga anak-anak pun ikut tertarik untuk melakukan aktifitas olah raga. Tapi sayang animo yang cukup besar tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup bagaimana melakukan olah raga yang benar, sehingga menyebabkan sering terjadi cedera, dan salah satu yang paling sering terjadi adalah patah tulang (fraktur). Patah tulang bisa mengenai semua umur, termasuk pada anak-anak. Patah tulang pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Hal ini sangat penting diketahui karena keberhasilan diagnostik dan terapi penyakit ortopedik pada kelompok usia ini berbeda. Bentuk patah tulang yang unik pada anak-anak adalah hasil dari perbedaan anatomis, biomekanis dan fisiologi antara anak-anak dengan dewasa.

KARAKTERISTIK TULANG ANAK

Salah satu perbedaan tulang anak-anak dengan orang dewasa ialah adanya Lempeng Pertumbuhan (growth plate/lempeng epifisis) pada tulang anak-anak. Lempeng pertumbuhan berbentuk tulang rawan dan melekat erat pada metafisis (bagian tulang yang sudah dewasa yang baru dibentuk oleh lempeng epifisis. Keduanya dibungkus oleh selubung (periosteum) yang sangat tebal dan kuat, serta mampu menghasilkan tulang baru dalam proses penyembuhan tulang yang patah. Lempeng tulang membuat tulang menjadi lebih besar dan lebih panjang seiring dengan kepadatan tulang yang juga meningkat. Struktur anatomis tulang pada anak mempunyai fleksibilitas yang tinggi sehingga ia mempunyai kemampuan seperti “biological plasticity”. Hal ini menyebabkan tulang anak-anak dapat membengkok tanpa patah atau hancur, sehingga dapat terjadi gambaran fraktur yang unik pada anak yang tidak dijumpai pada dewasa. Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodeling (kembali ke bentuk anatomi normal). Pertumbuhan diafisis (bagian tulang yang sudah dewasa) tulang panjang akan menghasilkan pertambahan panjang tulang. Secara spesifik, keberadaan lempeng pertumbuhan, periosteum yang tebal, serta kemampuan tulang anak-anak yang elastik seperti karet, dan kemampuan mengalami remodeling adalah dasar dari gambaran fraktur yang khas pada anak-anak.

FRAKTUR (Patah Tulang)

Terdapat beberapa fraktur yang sering terjadi pada anak, antara lain fraktur garis rambut, fraktur green stick (seperti ranting patah) dimana tulang tampak membengkok tanpa adanya garis fraktur, dan fraktur buckle atau torus (kompresi). Fraktur-fraktur ini termasuk fraktur yang tidak berat dan stabil, dan sembuh dalam 2-3 minggu dengan immobilisasi. Sedangkan, fraktur intra-artikuler (di dalam sendi) atau fraktur melibatkan fisis (fisis, epfisis, metafisis) berpotensi lebih berbahaya dan dapat berakibat jelek di kemudian hari.
Penyembuhan fraktur pada anak-anak mulai saat lahir sangat cepat dan berangsur-angsur berkurang setelah anak bertambah usianya. Sebagai contoh, fraktur femur (tulang paha) pada bayi baru lahir akan sembuh dalam waktu tiga minggu, pada anak usia 8 tahun akan sembuh dalam waktu 8 minggu, anak usia 12 tahun akan sembuh dalam 12 minggu, dan seterusnya.

GEJALA

Apabila anak mengalami cedera, orang tua bisa saja curiga ia mengalami patah tulang bila menemukan gejala-gejala seperti :

  1. Adanya riwayat cedera/trauma.
  2. Timbul rasa sakit/nyeri dan terjadi pembengkakan, kemerahan/kebiruan serta terasa panas di daerah yang patah.
  3. Terjadinya perubahan bentuk/deformitas
  4. Menurunnya fungsi hingga tidak dapat digerakkan daerah anggota gerak yang mengalami patah.
  5. Keterbatasan lingkup gerak sendi.

PENATALAKSANAAN

Prinsip utama penanganan patah tulang pada anak adalah secara konservatif (tanpa operasi), baik dengan cara manipulasi tertutup atau pun traksi berkesinambungan. Sebagian besar fraktur pada anak-anak dan remaja akan ditangani dengan reduksi tertutup dan pembalutan dengan gips atau traksi. Satu-satunya cara untuk menahan reduksi adalah dengan menggunakan gips. Fungsi utama gips adalah mencegah supaya tidak terjadi pergeseran pada tulang yang patah atau retak, mempertahankan kedudukan tulang yang patah dengan baik sehingga tidak terjadi angulasi (perubahan bentuk), dan menghilangkan rasa nyeri dengan menghambat pergerakan kedudukan tulang yang patah. Rata-rata gips dipasang selama 2-8 minggu, bergantung dari jenis patahnya dan timbulnya tulang baru yang disebut callus (lem tulang). Callus ini mulai timbul pada anak-anak dalam waktu 10 hari-2 minggu, adanya callus sebagai tanda bahwa penyembuhan sudah mulai terjadi. Untuk memastikannya, perlu dilakukan foto rontgen terlebih dahulu. Dalam kurun waktu 5-6 minggu patah tulang bisa sembuh total.
Perlu dilakukan observasi klinis yang regular dan kompeten oleh dokter untuk mencegah terjadinya komplikasi pada kasus patah tulang pada usia anak, karena anak-anak belum dapat mendeskripsikan rasa nyeri, gangguan sensori, dan sirkulasi atau tanda-tanda komplikasi lainnya.

Kunjungi Klinik Ortopedi Rumah Sakit Panti Rapih untuk mengetahui informasi lebih lanjut seputar kesehatan kesehatan tulang.

ditulis oleh :
dr. Alexander Mateus, Sp.OT.

Dokter Spesialis Ortopedi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

Informasi Pelayanan : 
Klinik Orthopedi (Bedah Tulang)
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.87/5 (15)

Mohon dapat memberikan rating