Lingkungan Sehat Rumah Sakit dengan Manajemen Limbah yang Baik No ratings yet.

Fasilitas publik dan penyedia layanan jasa publik, merupakan penunjang untuk kehidupan masyarakat sehari-hari. Tentu tempat-tempat publik tersebut juga menghasilkan limbah yang perlu dimanajemen agar tidak mencemari lingkungan. Begitu juga dengan rumah sakit. Limbah rumah sakit sendiri ada banyak jenisnya dan berbeda – beda pula cara manajemennya.

Apakah yang dimaksud dengan limbah rumah sakit? Banyak pengertian dari limbah rumah sakit, yakni: semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. Ada pula yang mendefinisikan limbah rumah sakit sebagai semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis. Limbah rumah sakit yang berasal dari medis terdiri dari: limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. Termasuk di dalamnya yakni limbah infeksius merupakan limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.

Tidak hanya yang dihasilkan dari kegiatan medis, dikenal pula limbah padat non medis yang merupakan limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. Penilaian limbah padat non medis dilakukan untuk memilah limbah padat non medis antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu pemilahan juga dilakukan untuk memilah antara limbah basah dan limbah kering

Limbah padat non medis juga memiliki kontainer atau wadah dengan kriteria – kriteria yang harus dipenuhi pula yang dimaksudkan agar limbah non medis tidak mencemari lingkungan sekitar. Kontainer limbah nonmedis terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan. Wadah juga harus memiliki minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan. Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 1 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang penganggu. Setelah diangkut dari wadah, selanjutnya, pengelolaan limbah padat non medis berlanjut dengan menaruh sampahdi penampungan limbah sementara menggunakan troli tertutup.

Penampungan limbah non medis berada di tempat penampungan sementara yang dipisahkan antara limbah yang masih dapat dimanfaatkan kembali dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Tempat penampungan tersebut harus memiliki syarat yakni tidak boleh menimbulkan bau yang tidak sedap, dan sebagai tempat wadah bersarangnya lalat, serta dilengkapi saluran untuk cairan lindi. Selain itu, tempat penampungan sementara harus kedap air, memiliki tutup yang baik, dan harus selalu tertutup bila sedang tidak diisi, sehingga memudahkan untuk dibersihkan. Lokasi penampungan limbah harus mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut limbah padat dan dikosongkan serta dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.

Manajemen pengelolaan limbah padat non-medis RS Panti Rapih ini  dibuang di TPA Piyungan, sedangkan untuk pegangkutannya, rumah sakit bekerjasama dengan pihak swasta. Proses pengangkutan dilakukan dengan menggunakan truck tertutup sehingga meminimalkan risiko potensial terhadap masyarakat dan lingkungan di daerah pemukiman. Proses pembuangan adalah open dumping dengan frekuensi pengangkutan setiap hari satu kali pengangkutan. Pelabelan dan warna tempat sampah di rumah sakit sudah disesuaikan dengan jenis limbah medis maupun non medis, akan tetapi pada prakteknya, masyarakat terkadang tidak mencermati hal – hal tersebut sehingga kadang ditemukan sampah – sampah yang salah letak atau tidak pada tempat seharusnya.  Berikut ini merupakan contoh jenis limbah umum yang salah letak di RS Panti Rapih: sisa makanan masuk ke tempat sampah medis, tissue masuk sampah medis, gelas air mineral masuk sampah medis, botol minuman masuk sampah medis/botol, kertas masuk sampah medis, kardus bungkus obat.

Tanggung jawab pengelolaan limbah rumah sakit memang menjadi tanggung jawab dari pihak rumah sakit, tetapi membantu dan mendukung hal tersebut merupakan kewajiban bersama para pengguna fasilitas kesehatan rumah sakit. Hal ini dimaksudkan agar tercipta lingkungan sehat di rumah sakit yang dapat menjadi pendukung kesehatan pasien dan kesehatan bersama.

 

disusun oleh:
Bayu Nuriyanto Aulady, AMKL
(Penanggung Jawab Fasilitas Lingkungan RS Panti Rapih Yk)

 

Mohon dapat memberikan rating

Kelumpuhan Mendadak pada Wajah 4/5 (2)

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang wajahnya tampak “tidak simetris” atau mengeluh sulit menggerakkan separuh wajahnya? Atau Anda sendiri pernah mengalaminya?  Sebagian besar orang akan mengira bahwa kondisi tersebut merupakan tanda dan gejala dari stroke. Pada kenyataannya, gangguan yang terjadi pada area wajah tersebut tidak selalu disebabkan oleh penyakit stroke, melainkan juga dapat disebabkan oleh suatu kondisi yang disebut sebagai Bell’s Palsy.

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf tepi wajah yang terjadi pada satu sisi wajah dan timbul secara mendadak. Tanda dan gejala Bell’s Palsy meliputi: kelumpuhan otot pada satu sisi wajah, tidak mampu menutup kelopak mata pada satu sisi, kesemutan pada satu sisi wajah, mengeluarkan air mata berlebih pada satu sisi mata, perubahan sensasi pengecapan, nyeri pada satu sisi wajah, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan. Seseorang yang mengalami Bell’s Palsy dapat mengalami satu atau lebih tanda dan gejala tersebut. Penyebab pasti dari Bell’s Palsy tidak diketahui secara pasti (idiopatik), akan tetapi Bell’s Palsy lebih sering muncul pada usia dewasa, wanita hamil, menderita penyakit diabetes melitus, hipertensi, infeksi virus herpes, dan memiliki riwayat paparan suhu dingin.

Cara Membedakan Bell’s Palsy dengan Stroke

Bell’s Palsy sering disalah artikan sebagai stroke. Padahal Bell’s Palsy dan stroke memiliki penanganan yang sangat berbeda. Oleh karena itu, membedakan Bell’s Palsy dengan stroke adalah hal yang penting. Penderita Bell’s Palsy akan mengalami kelemahan pada separuh wajah, mulai dari wajah bagian atas hingga wajah bagian bawah (dahi hingga dagu). Sedangkan penderita stroke akan mengalami kelemahan pada separuh wajah bagian bawah saja. Pada pemeriksaan pasien Bell’s Palsy, lipatan/kerutan dahi dan lipatan tepi mulut akan menghilang. Pasien akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis pada satu sisi dan kesulitan tersenyum, sehingga menimbulkan kesan wajah yang tidak simetris.

Pada pasien stroke, lipatan/kerutan dahi tersebut masih dapat terlihat. Pasien stroke juga tidak akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis. Kelemahan otot hanya akan tampak pada area mulut, sehingga menimbulkan kesan bibir perot. Pasien stroke juga akan mengalami keluhan lainnya seperti pandangan dobel, nyeri kepala atau pusing, gangguan keseimbangan, pelo saat berbicara, kesulitan menelan, tampak kebingungan, sulit berkomunikasi, kelemahan atau kesemutan satu sisi tubuh, atau bahkan mengalami penurunan kesadaran.

Kelumpuhan pada satu sisi wajah juga dapat terjadi pada beberapa penyakit lain seperti tumor saraf tepi, tumor otak, pelebaran pembuluh darah otak/aneurisma. Kelumpuhan wajah akibat penyakit tersebut biasanya terjadi secara perlahan dan semakin memberat seiring waktu. Hal tersebut berbeda dengan penyakit Bell’s Palsy yang terjadi secara mendadak. Penyakit-penyakit tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan atau MRI kepala.

Penanganan Bell’s Palsy

Bell’s Palsy biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Penanganan Bell’s Palsy meliputi penanganan dengan menggunakan obat dan penanganan tanpa obat. Obat anti peradangan atau steroid, seperti prednison, menjadi pilihan utama dalam menangani Bell’s Palsy. Apabila terdapat infeksi virus herpes, maka pengobatan dapat dikombinasikan dengan obat anti virus seperti asiklovir. Obat tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter.

Perawatan mata adalah salah satu penanganan yang penting pada kasus Bell’s Palsy, karena sebagian besar penderita Bell’s Palsy sulit memejamkan mata pada satu sisi dan mengalami penurunan produksi air mata. Hal tersebut dapat memicu kekeringan bola mata dan memicu infeksi mata. Penggunaan tetes air mata buatan dan penggunaan balut mata/eye patch dapat menjadi pilihan untuk menurunkan risiko tersebut.

Apakah Bell’s Palsy Berbahaya?

Bell’s Palsy tidak berbahaya. Pada umumnya,  Bell’s Palsy akan cepat membaik dalam waktu beberapa hari apabila ditangani dengan baik. Jika Anda mengalami tanda dan gejala yang tersebut di atas, segera periksa ke dokter terdekat. Pemeriksaan dan pemberian tindakan segera oleh tenaga medis sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah keluhan yang Anda derita merupakan Bell’s Palsy atau disebabkan oleh penyakit lain.

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Sindrom Terowongan Karpal No ratings yet.

Pernahkah jari-jari tangan Anda terasa tebal/baal? Atau terasa kesemutan yang akan membaik apabila tangan Anda dikibas-kibaskan? Jika keluhan tersebut Anda rasakan berulang kali, maka sangat mungkin Anda mengalami sindrom terowongan karpal.

Apa itu sindrom terowongan karpal?

Sindrom terowongan karpal/carpal tunnel syndrome merupakan sekumpulan gejala yang muncul akibat adanya jepitan pada salah satu saraf di tangan yang disebut sebagai saraf medianus. Terowongan karpal adalah sebuah terowongan yang berada di pergelangan tangan. Terowongan tersebut tersusun dari tulang-tulang tangan dan jaringan ikat tulang/ligamen. Saraf medianus, pembuluh darah, dan jaringan ikat otot/tendo adalah struktur-struktur yang melewati terowongan tersebut. Kondisi apapun yang menyebabkan pembengkakan atau penyempitan pada terowongan karpal akan menimbulkan jepitan pada berbagai struktur yang melewati terowongan tersebut.

Gejala sindrom terowongan karpal

Gejala awal yang khas pada penyakit ini adalah rasa baal atau kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan separuh jari manis tangan. Keluhan tersebut cenderung memburuk pada malam hari dan dipicu oleh aktivitas tertentu pada pergelangan tangan (misalnya: mengemudi, merajut, atau memasak). Keluhan cenderung membaik apabila tangan dikibas-kibaskan. Kelemahan pada telapak tangan adalah keluhan lain yang sering muncul pada sindrom terowongan karpal, sehingga pasien akan mengatakan tidak dapat menggenggam dengan kuat atau mengeluh sering menjatuhkan barang yang dipegang. Gejala-gejala tersebut sering muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas.

Penyebab sindrom terowongan karpal

Sindrom terowongan karpal lebih sering muncul pada usia lanjut dan wanita. Cedera pada pergelangan tangan, baik cedera berat (patah tulang pergelangan tangan) maupun cedera ringan yang berulang pada pergelangan tangan (sering kali terkait dengan pekerjaan: mengemudi, memasak, atlet) akan memicu sindrom terowongan karpal. Seseorang dengan penyakit diabetes mellitus, obesitas, dan wanita hamil juga akan lebih  mudah mengalami kondisi ini.

Penanganan sindrom terowongan karpal

Prinsip dari penanganan sindrom terowongan karpal dibedakan menjadi 2, yaitu tanpa pembedahan dan dengan pembedahan. Penggunaan bebat/splinting tangan pada malam hari serta pengobatan dengan obat steroid tablet maupun steroid yang disuntikkan pada pergelangan tangan adalah dua tata laksana yang sering diberikan pada pasien dengan kondisi ini. Obat lain yang digunakan untuk menangani kondisi ini adalah obat dari golongan anti kejang (misalnya: gabapentin dan pregabalin), obat dari golongan anti inflamasi non steroid, dan diuretik. Apabila dengan pengobatan tersebut keluhan tidak membaik atau justru semakin berat, maka tindakan pembedahan yang disebut sebagai carpal tunnel release dapat dipilih.

Sindrom terowongan karpal adalah kondisi yang sering muncul di masyarakat, tetapi jarang dikenali. Sindrom ini cenderung muncul pada tangan yang sering digunakan untuk beraktivitas, sehingga dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderitanya. Dengan mengenali gejala sindrom terowongan karpal, kondisi ini dapat ditangani dengan baik.

 

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Gangguan Saraf Akibat Penyakit Gula 5/5 (1)

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Klinik Saraf Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Operasi Caesar, Bius Total atau Regional? No ratings yet.

Ketika seorang ibu sudah melalui masa kehamilan sampai trimester ketiga, kelahiran sang jabang bayi sangatlah dinanti-nantikan. Tetapi ketika persalinan normal tidak memungkinkan dan dokter kandungan memutuskan untuk melakukan operasi caesar, maka akan muncul berbagai pertanyaan.  Apakah ini sudah merupakan keputusan yang tepat? Apakah nanti akan terasa sakit pada saat dioperasi? Apakah aman untuk ibu dan bayi?

Supaya tidak terasa nyeri pada saat dilakukan operasi caesar, ibu harus mendapatkan pembiusan yang adekuat. Terdapat dua pilihan jenis pembiusan yaitu pembiusan umum atau total dan pembiusan regional.  Manakah yang lebih baik?  Sebagai orang awam, melihat ruang operasi dan tetap sadar saat dilakukan tindakan operasi bukanlah pengalaman yang menyenangkan, sehingga memilih tidur pada saat operasi sepertinya lebih menyenangkan.  Tetapi manakah yang lebih aman?

Sebelum dokter ahli anestesi melakukan pembiusan, keputusan jenis pembiusan akan diambil setelah dilakukan anamnesa (wawancara), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (laboratorium, EKG (Elektro Kardiografi)).  Baik pembiusan total maupun regional, masing-masing disesuaikan dengan indikasi klinis pasien.  Dalam Cochrane Database Review (2012) disampaikan bahwa tidak ada evidens atau bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pembiusan regional lebih baik dibandingkan dengan pembiusan total dalam hal outcome untuk ibu dan bayi.  Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri.

Dengan pembiusan regional, ibu tidak akan merasakan nyeri pada area operasi meskipun ibu masih sadar.  Obat anestesi lokal yang dipakai pada pembiusan regional bekerja dengan memblok aliran saraf di tingkat saraf tulang belakang saja.  Disini ibu diuntungkan karena dapat langsung melihat bayinya dan dapat melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) bila kondisi ibu dan bayi memungkinkan.  Selain itu pada teknik epidural, dapat dilakukan pemasangan kateter epidural yang dapat digunakan sebagai alat memasukkan obat pengurang nyeri setelah operasi dengan prinsip kerja sama seperti pembiusan regional, hanya dengan dosis yang lebih kecil, sehingga diharapkan ibu lebih cepat bebas nyeri dan lebih cepat mobilisasi.  Obat anestesi lokal yang dipakai tidak masuk ke aliran darah plasenta sehingga tidak masuk ke janin.

Dalam British Journal of Anesthesia tahun 2009 disebutkan bahwa pembiusan total pada operasi caesar umumnya karena indikasi urgensi (35%), ibu menolak pembiusan regional (20%), pembiusan regional gagal atau tidak adekuat (22%), dan kontraindikasi medis karena fungsi pembekuan darah yang tidak normal atau bentuk tulang belakang yang tidak normal (6%).  Pada pembiusan total, ibu akan tertidur dan terbius segera setelah obat dimasukkan lewat jalur infus.  Obat bius bekerja langsung di susunan saraf pusat di otak.  Kesulitan pemasangan alat bantu nafas karena perubahan bentuk tubuh ibu, risiko aspirasi cairan lambung yang menyebabkan infeksi paru-paru ibu, dan risiko terjadinya gangguan nafas pada bayi akibat penggunaan obat-obatan, menjadi alasan mengapa pada akhirnya pembiusan total bukan menjadi pilihan utama.

Jadi, pembiusan regional atau pembiusan umum? Anda dapat menanyakan lebih lanjut kepada dokter anestesi anda, terkait prosedur, keuntungan dan kerugian serta pertimbangan-pertimbangan dari dokter anestesi saat menyarankan salah satu teknik pembiusan untuk operasi anda.  Utamanya adalah, pembiusan yang dipilih oleh dokter anestesi akan disesuaikan dengan indikasi yang ada, karena yang paling penting adalah keselamatan pasien dalam hal ini keselamatan ibu dan bayinya.

Ingin mengetahui informasi seputar kandungan dapat berkunjung ke Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

Artikel ini ditulis oleh:
dr. E. Inggita Dyah Perbatasari, Sp.An

(Dokter Spesialis Anestesi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Kandungan & Kebidanan
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : No ratings yet.

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Toksoplasmosis pada Kehamilan Sejak Dini No ratings yet.

Toksoplasmosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii. Kita sering mengira kucing sebagai penyebab toxoplasmosis, padahal kucing hanya sebagai hospes definitif tempat perkembangbiakan protozoa secara seksual yang menghasilkan ookista.

Perkembangan parasit dalam usus kucing menghasilkan ookista yang dikeluarkan bersama tinja lalu mencemari tanah dan tumbuh-tumbuhan.

Ookista menjadi matang dan infektif dalam waktu tiga sampai lima hari di tanah. Ookista yang matang dapat hidup setahun dalam tanah yang lembab dan panas, yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Ookista yang matang bila tertelan tikus, burung, babi, kambing, sapi atau manusia yang merupakan hospes perantara, dapat hidup pada tubuh dalam bentuk kista.

Lalat atau kecoa dapat memindahkan ookista dari tinja kucing ke tempat lain. Seperti contoh jika Anda makan daging sapi setengah matang maka Anda akan terinfeksi toksoplasma. Jadi bukan kucing yang menyebabkan toksoplasmosis.

Semakin tua umur kehamilan semakin mudah untuk terkena toksoplasmosis namun berbanding terbalik dengan beratnya derajat kelainan klinis, dimana semakin muda janin yang terkena infeksi semakin berat manifestasi klinisnya.

Tanda dan gejala pada ibu hamil tidak spesifik, bisa menyerupai flu, demam, sakit kepala, kelelahan, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening leher unilateral. Sedangkan janin yang terinfeksi dapat tanpa gejala sama sekali atau dijumpai tanda-tanda hidrosefalus dan pertumbuhan janin terhambat.

Infeksi kongenital toksoplasmosis dapat menyebabkan gejala sisa yang serius seperti kebutaan, keterbelakangan mental, defisit neurologis dan tuli.

Diagnosis toksoplasmosis akut pada ibu hamil apabila titer IgG meninggi pada pemeriksaan kedua kali dengan jangka waktu tiga pekan atau lebih atau bila ada konversi dari negatif ke positif.  Diagnosis juga dapat dipastikan bila ditemukan titer IgM positif. Diagnosis prenatal umumnya dilakukan pada usia kehamilan ≥ 18 pekan melalui pemeriksaan amniosentesis (mengambil sampel cairan ketuban).

Pemeriksaan USG terutama difokuskan pada otak. Kelainan yang terbanyak ditemukan adalah hidrosefalus (74%), klasifikasi intrakranial (18%), atrofi otak, dan hidranensefali.

Pengobatan pada wanita hamil harus diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan terutama pada awal kehamilan. Obat yang digunakan adalah spiramisin, bertujuan untuk mengurangi transmisi toksoplasma melalui plasenta (sebesar 70%) sehingga dapat mencegah cacat kongenital. Obat ini diberikan pada usia kehamilan <18 pekan dan dikonsumsi terus-menerus sampai persalinan. Kombinasi obat pirimetamin, sulfadiazin dan asam folat diberikan pada usia kehamilan ≥ 18 pekan atau usia kehamilan ≤ 18 pekan dengan tanda janin positif terinfeksi. Obat ini juga tetap dikonsumsi sampai persalinan.

Pencegahan toksoplasmosis meliputi screening pemeriksaan darah sebelum merencanakan kehamilan, pemeriksaan kehamilan secara rutin, edukasi pencegahan penularan serta pengobatan segera pada ibu hamil yang terinfeksi.

Vaksin untuk mencegah infeksi toksoplasmosis pada manusia belum tersedia sampai saat ini. Pencegahan penularan di antaranya menggunakan sarung tangan saat berkebun atau memegang tanah, menghindari konsumsi daging mentah atau setengah matang, mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang makanan, mencuci tangan dan semua peralatan dapur dengan sabun sampai bersih setelah mengolah daging mentah, menutup rapat makanan matang supaya tidak dihinggapi lalat atau kecoa. Selain itu selalu cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi, menghindari meminum susu kambing non-pasterurisasi atau produk-produk olahannya.

Ingin mengetahui informasi seputar kandungan, kunjungi Klinik Obsygn Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Lia Fankania
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Kandungan & Kebidanan
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Operasi Penggantian Sendi 4.76/5 (17)

Operasi penggantian sendi adalah operasi yang dilakukan untuk mengganti sendi yang telah rusak dengan sendi buatan yang disebut prostesis. Operasi penggantian sendi paling banyak dilakukan pada sendi lutut (Gambar 6) dan sendi pinggul (Gambar 7) karena kedua sendi tersebut paling sering mengalami kerusakan akibat pengapuran sendi.

Operasi penggantian sendi lutut tidak hanya menghilangkan rasa sakit sendi yang telah rusak akibat pengapuran sendi dan memungkinkan pasien beraktivitas tanpa rasa nyeri, tetapi juga membuat sendi lutut yang bengkok akibat pengapuran sendi menjadi lurus kembali setelah operasi (Gambar 8 dan 9).

Aman Bagi Orang Tua
Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul biasanya berlangsung selama sekitar 1,5 sampai 2 jam. Sama seperti jenis operasi yang lain, di jaman modern ini operasi penggantian sendi merupakan operasi yang tidak menyakitkan dan menakutkan. Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul juga merupakan operasi yang aman bahkan bagi orang tua (pada kenyataannya, sebagian besar penderita pengapuran sendi adalah para orang tua!). Dengan teknologi dan ilmu kedokteran yang modern, operasi penggantian lutut dan pinggul juga aman bagi penderita pengapuran sendi yang juga mengidap penyakit kencing manis, tekanan darah tinggi atau penyakit jantung.

Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul tidak memerlukan pembiusan umum, tetapi hanya pembiusan regional (separuh tubuh bagian bawah), di mana obat bius dimasukkan ke dalam rongga di sekitar sumsum tulang belakang melalui sebuah selang plastik kecil. Jenis pembiusan semacam ini disebut pembiuasan epidural. Selang plastik tersebut akan tetap dibiarkan di tempatnya untuk menghilangkan rasa nyeri setelah operasi selama beberapa hari sampai penderita mulai berlatih jalan, sehingga operasi penggantian sendi merupakan operasi yang tidak menyakitkan. Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul tidak membutuhkan rawat inap di rumah sakit yang lama. Tiga hari setelah operasi, pasien mulai dilatih berjalan dengan alat bantu penyangga yang disebut walker atau kruk. Setelah mampu berjalan dengan stabil, pasien diijinkan pulang sehingga lama perawatan di rumah sakit berkisar 4 sampai 5 hari. Pasien biasanya mampu berjalan seperti orang normal tanpa bantuan walker sekitar 3-4 minggu setelah operasi.

Dari penuturan para pasien setelah menjalani operasi penggantian sendi lutut atau pinggul, pasien tidak merasa
nyeri sama sekali pada lutut atau pinggul sehingga dapat melakukan aktivitas harian secara aktif bebas dari rasa nyeri yang sebelumnya sangat mengganggu. Menurut penelitian di negara barat, sendi buatan pada umumnya dapat bertahan digunakan selama sekitar 15-20 tahun, tergantung pada berat badan dan akitivitas fisik yang menggunakan dan teknik pemasangannya. Di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui ketahanan sendi buatan, namun jika dibandingkan dengan orang-orang di negara barat di mana berat badan dan aktivitas fisik orang Indonesia pada umumnya lebih ringan, dapat dianggap bahwa untuk orang Indonesia, ketahanan sendi buatan setidak-tidaknya juga 15-20 tahun atau bahkan lebih lama.

Komplikasi
Sama seperti operasi pada umumnya, pada operasi penggantian sendi juga dapat terjadi komplikasi. Salah satu
komplikasi yang serius adalah infeksi. Menurut banyak penelitian di banyak negara, komplikasi infeksi dapat terjadi pada sekitar 0-2% penderita. Artinya, dari 100 orang yang menjalani operasi, paling banyak sebanyak 2
penderita di antaranya mengalami infeksi.

Operasi penggantian sendi yang terinfeksi merupakan masalah yang serius karena untuk mengobatinya perlu dilakukan
operasi ulang pada sendi yang terinfeksi. Namun demikian, komplikasi ini sangat jarang terjadi dan dengan teknik operasi yang baik, resiko infeksi dapat dicegah seminimal mungkin. Di rumah sakit dengan fasilitas kamar operasi yang baik seperti RS Panti Rapih, kejadian infeksi pada pasien yang menjalani operasi penggantian sendi sangat rendah. Sejauh ini, hanya ada 1 pasien (0,3%) dari sekitar 350 pasien yang telah diganti lututnya di RS Panti Rapih.

Komplikasi kedua yang dapat terjadi adalah kekakuan sendi. Keadaan ini biasanya akan terjadi jika penderita takut menggerakgerakkan lututnya setelah operasi. Ketakutan tersebut biasanya didasari kekhawatiran bahwa sendi buatan akan terlepas jika lutut dilipat dan diluruskan, sehingga penderita tidak berani bergerak sama sekali. Sendi buatan yang sudah terpasang dengan benar tidak mungkin terlepas dari tempatnya. Oleh karena itu, kekuatiran seperti itu sama sekali tidak benar.

Untuk mencegah kekakuan, sendi lutut harus mulai digerak-gerakkan segera setelah operasi dan harus tetap dilatih selama beberapa minggu kemudian sampai sendi terasa nyaman dan tidak kaku. Semakin cepat dan semakin berani penderita menggerak-gerakkan lututnya, hasil yang diperoleh semakin baik. Demikian juga, semakin cepat dan berani penderita berlatih berjalan, semakin cepat penderita mampu berjalan tanpa bantuan alat bantu apapun.

Pencegahan

Karena sebagai bagian dari proses penuaan, pengapuran sendi sebenarnya tidak dapat dicegah. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi resiko timbulnya pengapuran sendi, dengan cara (1) menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan, (2) tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat, (3) segera memeriksakan diri jika menderita nyeri sendi agar pengapuran sendi stadium ringan dapat dicegah tidak bertambah buruk menjadi stadium berat.

Penutup
Pengapuran sendi merupakan penyebab utama nyeri sendi dan kerusakan sendi, bukan penyakit rematik atau asam urat seperti anggapan masyarakat awam. Pengapuran sendi derajad ringan dapat diobati dengan pengobatan non-operasi. Sementara untuk pengapuran sendi berat pilihan pengobatan yang tersedia adalah operasi penggantian sendi. Operasi penggantian sendi merupakan pengobatan terbaik untuk sendi lutut dan pinggul yang telah mengalami kerusakan akibat pengapuran sendi, khususnya stadium 3 dan 4. Operasi ini dapat memberikan kesembuhan yang permanen dan meningkatkan kualitas hidup penderita pengapuran sendi. Operasi penggantian sendi lutut dan pinggul aman bagi para orang tua.

Ingin mengetahui informasi seputar tulang dan sendi, kunjungi Klinik Orthopaedi dan Traumatologi RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh:
dr. Bambang Kisworo, Sp.OT
Spesialis Ortopedi & Traumatologi, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Ortopedi (Bedah Tulang)
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.76/5 (17)

Mohon dapat memberikan rating

Pengapuran Sendi 5/5 (7)

Pengapuran sendi atau osteoartritis adalah suatu penyakit di mana tulang rawan sendi menipis. Tulang rawan berfungsi melapisi ujung tulang pembentuk sendi, sehingga sendi dapat bergerak bebas tanpa rasa nyeri. Fungsi tulang rawan sendi dapat diibaratkan seperti fungsi ban yang melapisi velg kendaraan sehingga mobil dapat bergerak bebas tanpa hambatan. Sama seperti ban mobil yang akan menipis karena aus akibat bergesekan dengan jalan, demikian juga tulang rawan sendi akan aus dan menipis karena saling bergesekan setiap kali sendi bergerak.

Tulang rawan yang normal berwarna putih kekuningan mengkilap, dengan permukaan yang halus dan rata (Gambar 1). Sementara tulang rawan yang rusak dan menipis akibat pengapuran sendi tampak berwarna kuning pucat kusam dengan permukaan yang kasar atau bahkan hilang sama sekali (Gambar 2).

Apabila tulang rawan sendi rusak dan menipis, ujung tulang pembentuk sendi akan saling bertemu dan bergesekan langsung tanpa pelapis tulang rawan, sehingga gerakan sendi menjadi terbatas (kaku) dan menimbulkan rasa nyeri. Seringkali juga terdengar suara “krek-krek” pada saat sendi digerakkan. Penyebab Penyebab penipisan tulang rawan pada pengapuran sendi tidak diketahui secara pasti dan dianggap sebagai bagian dari proses penuaan sama seperti proses penuaan pada bagian tubuh lainnya. Setiap orang tua akan mengalami pengapuran sendi dengan derajat yang berbeda-beda.

Selain sebagai bagian dari proses penuaan, pengapuran sendi dipandang sebagai akibat dari beberapa faktor resiko sebagai berikut:

  1. wanita berusia lebih dari 45 tahun;
  2. kelebihan berat badan;
  3. aktifitas fisik yang berlebihan, seperti para olahragawan dan pekerja kasar;
  4. menderita penyakit rematik;
  5. menderita kelemahan otot paha; atau
  6. pernah mengalami patah tulang di sekitar sendi yang tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Gejala-Gejala Pengapuran sendi dapat mengenai hampir semua sendi pada tubuh manusia, yaitu sendi di daerah tulang belakang, bahu, siku, jari-jari tangan dan kaki, pinggul, lutut, serta pergelangan tangan dan kaki. Namun demikian, penyakit ini paling sering menyerang sendi lutut dan pinggul karena kedua sendi tersebut merupakan sendi yang paling banyak menerima beban dari aktivitas harian manusia.

Gejala pengapuran sendi stadium dini biasanya berupa nyeri dan kekakuan sendi setelah lama tidak bergerak, seperti setelah bangun tidur di pagi hari atau setelah duduk dalam waktu yang lama. Sendi lutut juga terasa sakit
jika digunakan beraktivitas, seperti berjalan, naik-turun tangga, atau berjongkok. Sering terdengar bunyi “krek-krek” pada saat sendi lutut digerakkan.

Pada stadium yang lebih berat, rasa sakit tidak hanya dirasakan ketika beraktivitas, tetapi juga pada saat beristirahat. Tidur penderita juga seringkali terganggu akibat rasa sakit pada persendian. Pada stadium lanjut, selain rasa sakit yang semakin hebat, sendi lutut menjadi kaku (sehingga penderita tidak mampu berjongkok) dan lutut menjadi bengkok seperti huruf O atau huruf X (Gambar 3). Pada foto Rontgen, celah sendi lutut yang mengalami pengapuran sendi tampak lebih sempit dibanding celah sendi yang normal (Gambar 4).

Derajad penyempitan celah sendi pada foto Rontgen inilah yang digunakan untuk menentukan berat ringannya (stadium) pengapuran sendi. Ada 4 stadium pengapuran sendi, yaitu stadium 1 dan 2 dikategorikan sebagai pengapuran sendi ringan, sementara stadium 3 dan 4 sebagai pengapuran sendi berat (Gambar 5).

Pada stadium 1, celah sendi masih normal lebar, tetapi ada rasa nyeri pada sendi lutut. Celah sendi pada stadium 2 lebih sempit dibanding normal. Sementara pada stadium 3, celah sendi sangat sempit dan pada stadium 4, celah sendi menutup; keadaan ini disebabkan karena lapisan tulang rawan yang melapisi ujung tulang dan “mengisi” celah sendi telah hilang sama sekali. Pengobatan Pengobatan untuk pengapuran sendi berbeda-beda tergantung stadiumnya. Tujuan pengobatan pengapuran sendi adalah: (1) menghilangkan nyeri, (2) memperbaiki lingkup gerak sendi yang kaku, (3) meningkatkan kualitas hidup sehingga penderita dapat hidup bebas dari nyeri, dan (4) mencegah pengapuran sendi derajad ringan (stadium 1 dan 2) berlanjut semakin berat menjadi stadium 3 dan 4.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tersedia berbagai bentuk pengobatan tergantung pada stadium pengapuran sendi.
Pengobatan untuk pengapuran sendi derajad ringan (yaitu stadium 1 dan 2) terdiri atas (1) menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan; (2) latihan untuk menguatkan otot paha dan pinggul serta untuk menjaga kebugaran tubuh, seperti berenang dan naik sepeda; (3) obat anti-radang dan anti-nyeri, (4) suplemen yang mengandung glukosamin dan kondroitin sulfat untuk menumbuhkan tulang rawan, serta (5) obat nutrisi sendi yang mengandung asam hialuronat dan yang perlu disuntikkan ke dalam sendi. Orang awam sering menyebut obat yang terakhir tersebut sebagai penambah ”oli pelumas sendi”. Suntikan obat pelumas sendi hanya bermanfaat untuk pengapuran sendi ringan (stadium 1 dan 2). Untuk pengapuran sendi berat (stadium 3 dan 4) obat tersebut tidak bermanfaat karena tulang rawan sendi pada umumnya tidak hanya menipis, tetapi telah hilang sama sekali sehingga tidak ada lagi tulang rawan yang tersisa untuk dilumasi lagi. Cukup banyak pasien yang kecewa telah mendapat suntikan obat pelumas sendi, tetapi tidak sembuh. Banyak diantaranya mendapat suntikan 5 sampai 10 kali pada kedua lututnya, tetapi tetap terasa nyeri. Hal ini disebabkan karena mereka telah mengalami pengapuran sendi stadium 3 atau 4 sehingga obat pelumas sendi sama sekali tidak bermanfaat.

Oleh karena itu, bentuk pengobatan non-operasi tersebut di atas biasanya hanya bermanfaat untuk pengapuran sendi ringan (stadium 1 dan 2) dan tidak memberikan hasil yang memuaskan untuk derajad yang berat. Untuk pengapuran sendi berat (yaitu, stadium 3 dan 4), pilihan pengobatan terbaik yang tersedia adalah operasi penggantian
sendi.

Ingin mengetahui informasi seputar tulang dan sendi, kunjungi Klinik Orthopaedi dan Traumatologi RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh :
dr. Bambang Kisworo, Sp.OT
Spesialis Orthopaedi & Traumatologi, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Orthopedi (Bedah Tulang)
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Nyeri Sendi No ratings yet.

Sendi adalah tempat di mana tulang saling berhubungan. Sendi dibentuk oleh dua tulang atau lebih. Di dalam tubuh manusia terdapat sekitar 250 buah sendi. Sendi memungkinkan manusia dapat bergerak. Tanpa sendi, tubuh kita akan kaku seperti patung. Karena jumlahnya banyak, sendi cukup sering sakit. Kenyataannya, hampir semua orang pernah menderita nyeri sendi selama hidupnya. Sebagian besar masyarakat (dan bahkan beberapa dokter) memiliki anggapan yang keliru bahwa semua nyeri sendi diakibatkan oleh penyakit rematik atau asam urat. Penyakit lain yang sering dianggap secara salah sebagai penyebab nyeri sendi adalah kolesterol dan osteoporosis.

Penyakit rematik dan asam urat memang dapat menyebabkan nyeri sendi, akan tetapi sebenarnya tidak banyak nyeri sendi yang disebabkan oleh penyakit rematik dan asam urat. Atau dengan kata lain, sebagian besar nyeri sendi yang dialami oleh masyarakat tidak disebabkan oleh penyakit rematik atau asam urat. Kolesterol dan osteoporosis tidak pernah menyebabkan nyeri sendi. Sungguh memprihatinkan bahwa cukup banyak dokter (dan tentu masyarakat awam) yang beranggapan secara keliru bahwa kadar kolesterol yang tinggi dan osteoporosis dapat menyebabkan nyeri sendi.

Banyak dokter yang melakukan pemeriksaan kadar kolesterol dan trigliserid serta pemeriksaan osteoporosis pada pasien dengan keluhan nyeri sendi. Pemeriksaan semacam itu bukan saja tidak bermanfaat tetapi juga merugikan pasien. Anggapan yang salah akan menyebabkan salah diagnosis dan salah pengobatan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila cukup banyak nyeri sendi yang tidak sembuh meskipun telah memperoleh pengobatan dari dokter, karena didasarkan pada diagnosis dan pengobatan yang salah.

Penyebab utama nyeri sendi pada usia di atas 45 tahun, khususnya lutut dan pinggul, adalah pengapuran sendi. Pada usia di bawah 45 tahun, penyebab utama nyeri sendi adalah peradangan otot akibat aktivitas fisik yang lebih dari kebiasaan sehari-hari atau karena cidera olah raga. Penyakit rematik dan asam urat hanya menjadi penyebab pada sebagian kecil keluhan nyeri sendi.

Ingin mengetahui informasi seputar tulang dan sendi, kunjungi Klinik Orthopaedi dan Traumatologi RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh :
dr. Bambang Kisworo, Sp.OT
Spesialis Orthopaedi & Traumatologi, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

Informasi Pelayanan : 
Klinik Orthopedi (Bedah Tulang)
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Sadari 5/5 (1)

World Breast Cancer Day, merupakan suatu peringatan yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat dunia untuk mendukung pasien dan survivor kanker payudara. Peringatan ini jatuh pada Oktober.

Masyarakat begitu memberikan perhatian pada World Breast Cancer Day lantaran kanker payudara merupakan kanker paling umum terjadi baik di negara berkembang maupun negara maju.

Survei WHO pada 2013 menyatakan sekitar 8%-9% wanita mengalami kanker payudara. Bahkan, di Eropa tercatat setiap tahunnya ada lebih dari 250.000 kasus atau 28 kasus baru ditemukan setiap jam dan di Amerika tercatat 175.000 kasus atau 19 kasus ditemukan setiap jam. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut catatan Kementerian Kesehatan Indonesia pada 2010, diperkirakan terdapat 100 penderita baru setiap 100.000 penduduk. Begitu pedulinya masyarakat menggalakkan visi Indonesia Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut pada 2030.

Guna mengantisipasi hal ini, masyarakat dapat mulai memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila menemukan tanda dan gejala kelainan pada payudara, baik itu bersifat lokal maupun yang sudah sistemik. Banyak cara untuk melakukan deteksi dini agar masyarakat dapat mencegah dan memberikan perhatian lebih pada kasus ini, salah satunya adalah pemeriksaan payudara  sendiri atau lebih dikenal dengan Sadari.

Sadari merupakan salah satu pemeriksaan yang lahir sebagai bentuk kepedulian kaum wanita terhadap payudara sendiri. Pemeriksaan ini tergolong sangat murah dan tidak memerlukan biaya yang mahal dan dapat dilakukan sendiri. Sadari dilakukan antara waktu tujuh hingga 10 hari pertama setelah hari pertama selesai menstruasi. Perlu diingat jika Sadari tidak menggantikan peran medis terlatih untuk pemeriksaan fisik secara klinis. Pada pemeriksaan ini, beberapa hal yang harus dicermati antara lain perubahan  bentuk dan ukuran payudara; nyeri; penebalan kulit; benjolan yang teraba; cekungan kulit seperti lesung pipit; pengerutan kulit payudara; cairan yang keluar dari puting susu; penarikan puting susu ke dalam hingga muncul luka pada payudara yang tidak kunjung sembuh.

Pemeriksaan Sadari ini dapat dilakukan pada saat mandi, pada saat berdiri di hadapan cermin maupun saat berbaring dengan langkah-langkah. Caranya, pada saat beridir di depan cermin besar, Anda dapat membuka pakaian dari pinggang ke atas kemudian lakukan inspeksi atau melihat payudara. Perhatikanlah, apakah bentuk payudara simetris? Apakah payudara membesar atau mengeras? Apakah arah puting berubah arah, tertarik ke dalam atau ada luka? Apakah ada perubahan warna kulit payudara? Apakah nampak kulit payudara menebal dengan pori-pori melebar menyerupai kulit jeruk? Adakah kerutan atau cekungan yang tidak normal?

Setelah Anda menginspeksi, ulangi pengamatan tersebut dengan kedua tangan lurus ke atas, kemudian kedua tangan memegang pinggang dengan dada dibusungkan dan siku ditarik ke belakang. Setelah itu Anda dapat menjilat payudara anda dari tepi menuju arah puting.  Pada tahap ini perhatikanlah! Apakah ada cairan atau darah yang keluar dari puting susu? Kemudian berlanjut ke tahap akhir yakni meraba payudara satu persatu dengan posisi berbaring. Saat berbaring, anda dapat melakukan langkah-langkah seperti meletakkan bantal atau handuk yang dilipat dibawah salah satu bahu, lengan dari sisi payudara yang akan diperiksa, direntangkan di samping kepala atau diletakkan di bawah kepala.

Kemudian rabalah dengan gerakan memutar, naik dan turun dari tepi payudara hingga puting susu, dan pada perabaan ini dilakukan dengan tiga tingkatan tekanan, yakni ringan untuk meraba adanya benjolan di tengah jaringan payudara dan tekanan kuat/dalam untuk meraba benjolan di dasar payudara.

Apabila ditemukan sesuatu pada saat pemeriksaan tersebut, sebaiknya dikonsultasikan dengan memeriksakan diri anda ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini merupakan langkah awal kepedulian kaum wanita terhadap kesehatan payudara, sehingga ada baiknya dilakukan paling tidak setiap satu bulan sekali untuk menjaga kesehatan payudara anda. Mari cegah kanker dengan Sadari.

 

disusun oleh:
dr. Stefanus Venanda Rian Chrismasto
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih)

Mohon dapat memberikan rating