Empty Sella Syndrome No ratings yet.

Sahabat Panti Rapih pasti akhir-akhir ini mengikuti berita dari seorang artis tanah air yang didiagnosis dengan Empty Sella Syndrome, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Empty Sella Syndrome?

Untuk memahaminya kita berawal dari mengenal otak kita, otak kita memiliki beberapa komponen salah satu komponen terpenting dikenal dengan kelenjar hipofise yang terletak dibagian dasar otak dan berbentuk seperti tonjolan bertangkai.

Kelenjar hipofise ini merupakan kelenjar super, Hipofise memiliki peran sangat penting dalam kontrol dalam hormonal dalam tubuh manusia, yang dikenal dengan Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis (HPA axis). Hipofise ini berperan dalam produksi hormon-hormon penting seperti hormon kortisol, hormon prolaktin, dan hormon pertumbuhan (growth hormone).

Hipofise yang sangat penting ini memiliki tempat untuk duduk di tulang tengkorak kita yang dikenal dengan Sella Turcica, Sella Turcica ini berbentuk seperti pelana cekung yang merupakan tempat kelenjar hipofise, dengan kata lain Sella Turcica tidak pernah kosong karena merupakan tempat duduk bagi kelenjar hipofise.

Syndrome memiliki arti kumpulan gejala maka Empty Sella Syndrome berarti kumpulan berbagai gejala karena kosongnya Sella Turcica atau tidak tampaknya hipofise. Empty Sella Syndrome dapat ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan CT Scan atau MRI otak. Seseorang dengan Empty Sella Syndrome mungkin tidak bergejala atau mungkin memiliki gejala akibat hilangnya sebagian atau seluruh fungsi hipofisis (contohnya sakit kepala, libido seks yang  rendah, dan impotensi)

Terdapat dua jenis Empty Sella Syndrome yaitu primer dan sekunder. Pada Empty Sella Syndrome primer terjadi bila terdapat kebocoran disekitar kelenjar pituitari sehingga cairan tulang belakang untuk mengisi sebagian atau seluruhnya sella tursika yang menyebabkan kelenjar mendatar di sepanjang dinding interior rongga sella tursika dapat mengganggu fungsi normal testis dan ovarium.

Empty Sella Syndrome sekunder disebabkan oleh gangguan kelenjar pituitari akibat cedera, pembedahan, atau radiasi. Gejala yang muncul mencerminkan hilangnya fungsi hipofisis, misalnya berhentinya periode menstruasi, infertilitas dan kelelahan

Pengobatan untuk disfungsi endokrin yang terkait dengan malfungsi hipofisis bersifat simtomatik dan suportif, pada beberapa kasus yang  menyebabkan masalah medis lainnya maka terapi pembedahan mungkin diperlukan.

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Sindrome Ramsay Hunt 5/5 (1)

Beberapa hari yang lalu muncul kabar sedih bagi para fans Justin Bieber, karena konser di Indonesia yang terancam dibatalkan karena sang superstar menderita sakit yang membuatnya tidak mungkin memaksakan dirinya untuk konser. Sang superstar menderita penyakit yang disebut dengan Sindrom Ramsay Hunt.

Justin Bieber terkena Sindrom Ramsay Hunt

Apa sebenarnya Sindrom Ramsay Hunt?

Ramsay Hunt merupakan suatu gangguan saraf yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella Zoster pada liang telinga atau sering juga disebut sebagai Herpes Zoster Oticus.

James Ramsay Hunt adalah seorang dokter saraf asal Amerika yang pertama kali mendiskripsikan penyakit ini pada tahun 1907 yaitu adanya nyeri telinga akibat adanya infeksi Varicella Zoster. Bila kita pernah mendengar tentang cacar air yang biasanya mengenai anak-anak maka virus Varicella Zoster inilah penyebabnya. Pada saat sembuh dari cacar air virus tersebut tidak mati hanya saja tidak aktif dan pada saat kondisi badan yang lemah atau status imunitas yang menurun maka virus itu akan aktif kembali dan aktivasi dari virus ini kita kenal dengan herpes zoster atau dalam bahasa lokal dikenal dengan istilah “Dompo”.

Virus ini akan menyerang kulit dan saraf di area yang terkena, tidak hanya di telinga, herpes zoster ini dapat juga dialami di area badan atau anggota gerak seperti tangan dan kaki. Tanda dan gejala yang muncul adalah adanya bintil-bintil berair pada kulit dengan dasar kemerahan disertai rasa nyeri seperti terbakar atau disayat-sayat pada area tersebut. Beberapa saat yang lalu saya menuliskan sebuah artikel mengenai “Apa itu Neuropati?” maka Sindrom Ramsay Hunt (Herpes Zoster Oticus) inilah salah satu contoh kasus neuropati.

Mengapa Sindrom Ramsay Hunt lebih berat dibandingkan Herpes Zoster biasa?

Infeksi virus pada Sindrom Ramsay Hunt berada di liang telinga dan mengenai saraf wajah yang ada di dalam liang tersebut, yang berakibat ada gangguan saraf wajah pada sisi telinga yang mengalami infeksi, sehingga menyebabkan kelumpuhan setengah wajah berupa sulit menutup mata pada sisi yang terdampak, perot, dan sulit mengerakkan bibir. Sindrom Ramsay Hunt memiliki tanda dan gejala yang  khas yaitu nyeri telinga, bintil-bintil merah pada telinga yang nyeri, dan gangguan otot wajah pada sisi telinga yang nyeri.

Lalu Apakah Ramsay Hunt itu adalah gejala stroke?

Ramsay Hunt tidak ada hubungannya dengan Stroke karena Ramsay Hunt merupakan infeksi virus sedangkan stroke berhubungan dengan gangguan aliran darah di otak. Bagaimana dengan Bell Palsy? Bell palsy juga berbeda dengan Ramsay Hunt karena Bell palsy hanya memiliki gejala gangguan otot pada separuh wajah tanpa disertai nyeri maupun gangguan kulit yang paling sering disebabkan oleh iritasi udara. Jadi tanda dan gejala Sindrom Ramsay Hunt merupakan kombinasi antara Herpes Zoster dan Bell Palsy.

Sindrom Ramsay Hunt membutuhkan penanganan pemberian antivirus segera, untuk mencegah infeksi virus yang lebih luas yang dapat menimbulkan kerusakan saraf yang besar dan permanen. Nyeri pada Sindrom Ramsay Hunt merupakan suatu keluhan yang sangat dominan, karena nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan saraf akan sangat luar biasa sering kali ditandai dengan rasa nyeri terbakar, tersayat, tersengat petir atau disayat-sayat sehingga penanganan nyeri pada kasus ini membutuhkan perhatian khusus. Kelumpuhan otot wajah pada Sindrom Ramsay Hunt memerlukan tindakan fisioterapi yang intensif, sehingga fungsional otot dapat dikembalikan seperti semula, dan fisioterapi ini dapat memakan waktu 2-3 bulan bahkan lebih.

Artikel ini ditulis oleh: dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Apa Itu Neuropati? 5/5 (2)

Setiap minggu ketiga Bulan Mei merupakan Neuropathy Awareness Week, merupakan minggu yang didedikasikan untuk kewaspadaan terhadap Neuropati, belum banyak orang yang tahu tentang neuropati sehingga banyak orang masih mengabaikan keluhan neuropati.

Neuropati atau kadang dikenal dengan Neuropati perifer merupakan gangguan di serabut saraf tepi, artinya saraf yang berada diluar otak dan sumsum tulang belakang. Saraf memiliki 3 fungsi utama yaitu motorik untuk bergerak, sensorik untuk merasakan/sensibilitas dan otonom untuk mengatur organ dalam tanpa kendali sadar (involunter), neuropati dapat mengenai ketiga jenis saraf tersebut.

Bila terkena neuropati maka gejalanya sangat beragam, keluhan umunya dirasakan di tangan atau kaki, gejala yang umum bila neuropati mengenai serabut saraf sensorik antara lain adalah rasa baal atau kebas, rasa kesemutan atau tertusuk-tusuk, rasa disayat, rasa terbakar, hipersensitif dengan sentuhan ringan dan kurangnya koordinasi. Bila neuropati mengenai serabut saraf motorik maka akan menimbulkan gejala berupa kelemahan otot.

Neuropati dapat mengenai serabut saraf otonom walaupun kasusnya tidak banyak, serabut saraf otonom ini berfungsi menjalankan organ dalam dari manusia maka keluhan yang dapat muncul bila terjadi neuropati adalah keringat berlebihan atau tidak bias berkeringat, gangguan pencernaan seperti gangguan BAB dan BAK dan  tekanan darah yang turun.

Keluhan gejala neuropati ini tidak menutup kemungkinan mengenai lebih dari 2 extremitas, sehingga dapat disebut dengan polineuropati. Keluhan neuropati ini kadang sering diabaikan karena kadang dirasakan hanya suatu keluhan yang ringan. Neuropati muncul karena berbagai macam kondisi medis antara lain Penyakit autoimun seperti Lupus, Rheumatoid Artritis, Gullain Barre. Penyakit Infeksi seperti Herpes zoster, lepra dan HIV. Penyakit keganasan terutama pada sindrom paraneoplastic, myeloma dan limfoma. Dan Gangguan endokrin seperti hipotiroid dan diabetes.

Neuropati diabetes merupakan neuropati yang paling banyak dari seluruh neuropati dan bias mencapai 60% dari seluruh kasus neuropati, hal ini dikarenakan jumlah penderita diabetes yang semakin banyak, kurang lebih 30-60% pasien diabetes mengalami neuropati.

Defisiensi vitamin B, paparan bahan kimia dan logam berat (timbal dan merkuri), penggunaan obat kemoterapi atau paparan radioterapi pada kasus kanker, cedera saraf karena trauma berat maupun trauma mekanik repetitif  semuanya dapat menjadi faktor eksternal yang menyebabkan neuropati

Neuropati membutuhkan kewaspadaan agar gejala yang muncul dapat segera ditangani dan tidak muncul progresifitas dari neuropati serta kompilkasinya, apabila neuropati ini tidak dikelola dengan baik maka akan muncul komplikasi yang lebih serius seperti trauma kulit (terbakar) karena tidak dapat merasakan permukaan yang panas, luka terbuka dan ulkus terutama pada pasien diabetes dan jatuh pada lansia. Neuropati tidak dapat diabaikan karena pengelolaan neuropati secara dini memberikan hasil yang baik dan kewaspadaan terhadap gejala neuropati sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang berat dan timbulnya kecacatan.

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Klinik Penyakit Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (2)

Mohon dapat memberikan rating

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) 4.91/5 (22)

Hampir semua orang pernah mengalami nyeri tulang belakang (back pain), baik di leher, punggung maupun pinggang. Nyeri tulang belakang dapat merupakan gejala awal Hernia Nukleus Pulposus atau saraf terjepit. Hal ini pastilah sangat menganggu, bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit, tapi juga menghambat produktivitas di kehidupan sehari-hari.

 

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau biasa dikenal masyarakat sebagai “saraf terjepit” adalah suatu keadaan dimana terjadi pergeseran cakram tulang rawan penyekat antar badan ruas tulang belakang (annulus fibrosus) beserta nukleus pulposus di dalam cakram bergeser keluar dan langsung menekan saraf (radik spinalis). HNP dapat terjadi pada seluruh ruas tulang belakang kita mulai dari tulang leher, dada (jarang) sampai tulang pinggang (cervical, thorakal, lumbal). HNP paling sering terjadi di daerah punggung bawah atau pinggang yang disebut HNP lumbalis (90%), mengenai diskus invertebralis L5-S1 dan L4-L5. HNP di daerah punggung atas sampai leher jarang terjadi hanya sekitar 8% dari seluruh kasus HNP.

Gejala Hernia Nucleus Pulposus (HNP)

Gejala HNP berbeda-beda tergantung lokasinya dan berat ringannya penjepitan. HNP di daerah leher menimbulkan gejala berupa nyeri saat leher digerakkan, nyeri leher atau di sekitar tulang belikat, dan nyeri yang menjalar ke arah bahu, lengan atas, lengan bawah dan jari-jari. Selain nyeri, juga dapat ditemukan rasa kesemutan dan tebal di daerah yang kurang lebih sama dengan rasa nyeri tersebut. Rasa nyeri pada HNP dapat bertambah dengan batuk, bersin atau mengejan. Pada HNP yang berat dapat dijumpai kelumpuhan anggota gerak. Gejala awal yang dirasakan kelemahan dalam menggenggam, selanjutnya kesulitan dalam mengangkat lengan misalnya mengancingkan baju atau saat menyisir rambut.

HNP di daerah punggung bawah atau pinggang, gejalanya menyerupai HNP leher. Rasa nyeri terasa di daerah pinggang, pantat dan menjalar ke arah betis dan kaki. Seringkali juga terasa sensasi kesemutan dan tebal pada salah satu atau kedua tungkai bawah. Seperti halnya pada HNP leher gejala HNP pinggang juga diperberat dengan batuk, bersin atau mengejan. Pada keadaan yang lebih berat rasa nyeri ini akan diperberat dengan berjalan atau duduk lama. HNP lumbal / pinggang juga dapat mengalami kelumpuhan.

Penyebab Hernia Nucleus Pulposus (HNP)

Penyebabnya HNP cukup beragam dan sangat dekat dengan kehidupan keseharian kita. Sebagai contoh cara tidur atau cara duduk yang salah. Berbagai faktor pekerjaan juga berisiko terjadinya HNP. Faktor pekerjaan yang berisiko terjadinya HNP adalah banyak duduk atau berdiri yang terlalu lama (posisi tubuh kerja statik), tubuh terpapar getaran seperti mengemudi (truk), mengoperasikan alat bergetar, sering mengangkat atau menarik beban berat, banyak membungkuk dan berputar. HNP pada umumnya terjadi pada usia lanjut, dan diduga disebabkan oleh suatu proses degenerasi. Walaupun demukian, pada kelompok usia muda trauma pada tulang vertebra dapat menjadi penyebab. Trauma yang terjadi dapat berupa trauma tunggal yang berat maupun akumulasi dari trauma yang berulang-ulang. Pada trauma tunggal, bila ditanyakan kepada pasien rasa nyeri yang dirasakan, biasanya pasien tahu dengan pasti, misalnya saat pasien sedang mencabut ketela pohon, mendorong mobil, mengangkat benda (berat), terpeleset, jatuh terduduk dan sebagainya. Jadi pada keadaan tersebut, terjadinya HNP dapat tanpa disertai trauma sebelumnya.

Diagnosis

Pada dasarnya metode terbaik pemeriksaan penunjang untuk diagnosis HNP dengan melakukan pemeriksaan MRI tulang belakang. MRI tulang belakang dapat menilai medulla spinalis dan radik spinalis, diskus intervertebralis dan ligament. Pemeriksaan lain yang bermanfaat untuk diagnosis HNP dan mengevaluasi kelemahan otot adalah dengan pemeriksaan electrodiagnostic studies (EMG).

Penatalaksanaan Hernia Nucleus Pulposus (HNP)

Terapi konservatif dianjurkan menjadi pilihan pada penanganan HNP, sedangkan terapi operatif menjadi pilihan terakhir.

Konservatif

a. Tirah baring
Merupakan cara yang paling lazim dianjurkan pada pasien HNP dan berguna untuk mengurangi rasa nyeri mekanik dan tekanan intradiskal

b. Medikamentosa / Obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan dapat berupa analgetik dan NSAID, muscle relaxant (pelemas otot), opioid, kortikosteroid oral, analgetik adjuvan

c. Terapi Fisik / Fisioterapi
Berupa fisioterapi, penggunaan ortose / korset, latihan dan modifikasi gaya hidup

Injeksi

Injeksi epidural atau selective nerve root block dapat mengurangi proses inflamasi pada nyeri yang berat dan sangat efektif bila dikombinasikan dengan program fisioterapi/ rehabilitasi.

Terapi operatif / bedah
Tindakan operasi bedah untuk HNP antara lain laminektomi dan disektomi. Kandidat untuk dilakukannya operasi adalah pasien dengan nyeri hebat yang menetap 2-3 bulan setelah on set yang setelah dilakukan terapi konservatif tidak ada perubahan, terjadi kelemahan anggota gerak.

Artikel ditulis oleh:

dr. Michael Agus Prasetyo, Sp.S, M.Si.Med

Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus – RS Panti Rapih
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.91/5 (22)

Mohon dapat memberikan rating