Flu Singapura ( Hand, Foot, and Mouth Disease / HFMD) 5/5 (2)

Flu Singapura adalah penyakit yang sering mengenai anak anak,  terutama di usia 1-5 th  yang disebabkan oleh virus, atau dalam medis disebut  Hand, foot, and mouth disease (HFMD), penyakit tangan kaki mulut. Virus ini dari golongan  Enterovirus dan  paling sering adalah Coxsackievirus dan Human Enterovirus 71 (HEV 71).

Gejala HFMD

  • HFMD umumnya diawali dengan demam dalam 24-48 jam , tetapi beberapa kasus tidak disertai dengan demam.
  • nyeri tenggorokan/ menelan dan sering kali pada anak yang lebih kecil ditandai dengan adanya air liur yang berlebihan dan sulit makan.
  • Bintik bintik merah di rongga mulut atau langit langit mulut bagian belakang
  • Kemerahan ditelapak tangan dan telapak kaki, dan bisa juga ditemui hingga tungkai, lengan, pantat dan di sekitar kemaluan, yang pada umumnya muncul di hari ke 3- 6.
  • Orang dewasa dan orang dengan sistem kekebalan tubuh baik mungkin saja terinfeksi virus HFMD namun tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimtomatik), atau menunjukkan gejala ringan. Keluhan yang seringkali muncul dari HFMD setelah beberapa minggu fase akut adalah lepasnya kuku jari tangan dan kaki atau dapat  berupa kulit yang mengelupas pada ujung jari tangan dan kaki, kelainan  ini bersifat sementara dan akan membaik kembali

 

Penularan HFMD

Penyakit ini mudah sekali menular. Penderita HFMD dapat menyebarkan virus melalui sekret/cairan hidung (ingus), tenggorokan (ludah, dahak), lesi kulit yang pecah, dan dari kotorannya. Penyebaran ini mudah terjadi bila terdapat kontak erat dengan penderita (berbicara, memeluk, mencium), melalui udara (bersin, batuk), kontak dengan kotoran pasien, dan kontak dengan objek atau permukaan yang tercemar oleh virus HFMD (memegang gagang pintu, permukaan meja, mainan, perabotan yang tercemar virus tersebut, dll). Penderita HFMD umumnya sangat menularkan virus pada minggu pertama sakit, beberapa kasus masih bisa menularkan virus beberapa hari atau minggu setelah gejala atau tanda infeksi menghilang.

Pengobatan dan Pencegahan

Tidak ada pengobatan khusus untuk HFMD, pengobatan bersifat simptomatik untuk mengatasi keluhan yang ditimbulkannya. Obat yang dengan kandungan Parasetamol dapat diberikan untuk mengatasi demam dan nyeri. Kompres hangat dan pemberian minum yang lebih sering juga membantu menurunkan demam anak. Pada anak yang lebih besar, diberikan obat kumur untuk mengurangi nyeri akibat luka di mulut dan dapat diberikan multivitamin, saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah HFMD, sehingga  perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu dipraktekkan untuk mencegah penularan.

HFMD umumnya dapat sembuh dalam 7-10 hari. Dengan perawatan yang tepat, anak akan segera pulih dan kembali beraktivitas. Bila kondisi anak tampak sakit berat atau kondisi yang meragukan, segeralah untuk dibawa  periksa.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Maria Rulina Yudi Artanti, MSc, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

REFERENSI
IDAI. Hand, foot, and mouth disease (HFMD). 2016.

 

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

 

 

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating

WASPADA DEMAM BERDARAH PADA ANAK   5/5 (1)

Dengue masih menjadi tantangan masalah kesehatan publik. Pada musim hujan, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) mengalami kenaikan yang sangat bermakna. Curah hujan tinggi menimbulkan potensi genangan air dan meningkatkan populasi nyamuk, selain itu kelembaban tinggi memudahkan nyamuk berkembang biak. Proporsi penderita DBD menurut golongan umur paling besar adalah golongan usia 0 – 14 tahun pada tahun 2022, begitu pula dengan kematian terbanyak pada golongan usia tersebut.

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Terminologi DBD sebenarnya tidak tepat karena bila seseorang terinfeksi virus dengue tidak selamanya akan menjadi DBD. Payung besarnya dinamakan infeksi dengue. Msanifestasi infeksi dengue luas, mulai dari infeksi tanpa gejala (asimtomatik), demam tidak khas, demam dengue (dengue fever) dengan atau tanpa tanda bahaya (warning signs) dan severe dengue dengan kebocoran plasma yang berat, perdarahan hebat atau adanya keterlibatan organ.

Gejala DBD terbagi dalam tiga fase, yaitu:

  1. Fase demam (3-4 hari pertama demam), yang ditandai dengan
  • demam mendadak tinggi terus menerus,
  • nyeri kepala,
  • nyeri otot seluruh tubuh,
  • nyeri sendi, dan
  • wajah kemerahan.
  1. Fase kritis (hari ke-4 hingga 6 sejak mulai demam).

Pada fase ini suhu penderita mulai turun. Kebanyakan penderita mengira sudah sembuh, padahal kebocoran plasma terjadi di sini. Bila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat terjadi syok sampai kematian. Tanda bahaya (warning signs) yang perlu diwaspadai antara lain: muntah, nyeri perut, perdarahan kulit, hidung, gusi, muntah darah hingga buang air besar berdarah.

  1. Fase penyembuhan atau konvalesen (mulai hari ke-7), yang ditandai dengan
  • Perbaikan keadaan umum,
  • Nafsu makan anak pulih, dan
  • Anak lebih ceria.

Penegakan infeksi dengue adalah dengan pemeriksaan antigen NS1 dengue pada hari demam ke-1 dan 2, atau antibodi IgM Dengue pada hari demam ke-5 dan seterusnya.

Belum ada obat antivirus yang spesifik untuk DBD. Pengobatan yang utama adalah pemberian cairan. Pada fase demam, penderita dapat berobat rawat jalan bila tidak ada muntah dan mau minum. Cairan yang dianjurkan adalah cairan yang mengandung mineral seperti cairan isotonic kaleng, air putih dengan garam dan gula, atau oralit. Obat penurun demam, seperti Paracetamol, dapat diberikan bila suhu si kecil 38oC ke atas. Pemberian jus jambu, angkak, atau kurma pada penderita DBD belum terbukti bermanfaat secara ilmiah dan belum bisa dijadikan pedoman.

Pencegahan DBD adalah dengan 3M yaitu:

  1. menguras tempat penampungan air minimal 7 hari sekali;
  2. menutup rapat tempat penampungan air;
  3. mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Pencegahan lainnya antara lain menggunakan kelambu saat tidur, menghindari kebiasaan menggantung baju, mengoleskan lotion anti nyamuk, dan imunisasi dengue. Saat ini, vaksin dengue dapat diberikan mulai anak berumur 6 tahun hingga 45 tahun.

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Galuh Martin Maytasari, M.Sc., Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Menggali Lebih Dalam tentang Leukimia pada Anak-Anak 5/5 (1)

Pada Tanggal 15 Februari, diberikan sebagai hari Kanker Anak Sedunia. Kanker merupakan suatu penyakit tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan di dunia. Diperkirakan, setiap tahunnya 400.000 anak dan remaja berusia 0-19 tahun menderita kanker. Data dari Global Cancer Statistic (GLOBOCAN) pada tahun 2020, diestimasikan terdapat 11.156 kasus baru kanker anak pada usia 0-19 tahun di Indonesia. Leukemia merupakan keganasan terbanyak pada anak, yakni sekitar 30% sampai dengan 40 % dari seluruh pasien kanker anak, dimana kanker ini memiliki puncak kejadian pada anak dengan usia 2- 5 tahun.

Leukemia sendiri merupakan kanker darah yang berasal dari sumsum tulang belakang, yang ditandai dengan proliferasi (proses pembentukan sel yang disebabkan oleh pembelahan sel) secara berlebihan dari sel darah yang abnormal, sehingga terjadi gangguan produksi sel darah normal. Pendeteksian dini pada kasus kanker anak serta menghindari keterlambatan dalam perawatan menjadi salah satu kunci penting dalam penanggulangan kanker pada anak .

Leukemia sendiri dibagi menjadi dua yaitu Leukemia akut ( AML dan ALL) dan leukemia kronis (CML). Gejala dan tanda awal yang dapat dikenali oleh orang tua adalah sebagai berikut : anak pucat, lemah, rewel, terjadi penurunan nafsu makan, demam berulang atau demam lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas, adanya perdarahan, nyeri tulang, pembesaran kelenjar getah bening dan bagian perut, serta nyeri tulang. Apabila orang tua menemukan tanda-tanda tersebut, makan anak dianjurkan untuk dibawa ke dokter spesialis anak, untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pada pemeriksaan fisik pasien anak dapat ditemukan tanda-tanda seperti anemia, pembengkakan kelenjar getah bening, tanda perdarahan (seperti bintik-bintik perdarahan pada kulit, perdarahan gusi, mimisan, bab berdarah, maupun bak berdarah), pembesaran organ hati dan limpa, serta pembesaran testis. Setelah itu, akan dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium darah, pencitraan, dan pemeriksaan sumsum tulang guna menegakkan diagnosis. Setelah terdiagnosis, makan pasien akan diberikan tatalaksana berupa kemoterapi dan penanganan suportif yang berupa pemberian transfusi komponen darah yang diperlukan, pemberian nutrisi yang baik dan memadai, pemberian antibiotik, anti jamur, dan anti virus bila diperlukan, serta pendekatan psikososial serta dukungan keluarga.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Natasha

(Dokter Umum RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Mohon dapat memberikan rating

Menjaga Masa Depan yang Lebih Baik : Mengenal dan Mengatasi Polio 5/5 (1)

Poliomyelitis, atau yang lebih dikenal dengan sebutan polio, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio. Penyakit ini dapat menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal dalam waktu singkat. Meskipun kasus polio telah berhasil ditekan sejak ditemukannya vaksin, namun masih ada beberapa wilayah yang rentan terhadap wabah penyakit ini.

Poliomyelitis terutama mengincar anak-anak di bawah usia lima tahun yang belum mendapatkan imunisasi polio secara lengkap. Pada awal abad ke-20, polio merupakan salah satu penyakit paling ditakuti yang melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahunnya. Oleh karena itu, imunisasi polio menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan anak-anak dan mencegah penyebaran penyakit ini.

Gejala Polio :

  • Gejala awal polio meliputi demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher, dan nyeri di tungkai.
  • Munculnya gejala biasanya terjadi 7-10 hari setelah terinfeksi virus, namun bisa juga dalam rentang waktu 4-35 hari.
  • Selanjutnya jika gejala memberat dapat terjadi kelumpuhan yang bersifat lemas (bukan kaku) pada anggota gerak. Karena itu, jika ada anak usia di bawah 15 tahun yang mengalami lumpuh layuh mendadak, segera bawa anak tersebut ke puskesmas atau RS terdekat.

 

 

Penularan Polio :

Polio dapat menyebar melalui kontak langsung dengan feses orang yang terinfeksi atau melalui percikan dahak dan lendir. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan merupakan langkah penting untuk mencegah penularan polio.

 

Cara Pencegahan Melalui Imunisasi :

  • Pencegahan polio hanya dapat dilakukan melalui imunisasi
  • Vaksin aman dan efektif
  • Vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio yang tidak aktif (IPV)

Kementerian Kesehatan menyediakan imunisasi polio secara gratis di seluruh fasilitas kesehatan pemerintah. Terdapat dua jenis vaksin polio yang digunakan, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio yang tidak aktif (IPV). Anak-anak diimbau untuk menerima vaksin polio tetes (OPV) sebanyak 4 kali, pertama kali pada usia 0-1 bulan, dan 3 kali di usia 2 sampai 4 bulan. Vaksin polio suntik (IPV) diberikan satu kali pada usia 4 bulan. Penting bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi polio atau terlambat mendapatkannya untuk segera melengkapi status imunisasi hingga usia 5 tahun.

Outbreak Response Immunization (ORI)

Outbreak Response Immunization (ORI) merupakan strategi pemberian imunisasi dalam menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit, termasuk polio. Tujuan dari ORI adalah mencapai kekebalan individu dan komunitas sebesar 90-95%, membantu menghentikan penyebaran virus, dan melindungi yang rentan terhadap penyakit.

Dalam memerangi polio, kunci utamanya adalah kesadaran akan pentingnya imunisasi dan kebersihan lingkungan. “Mari Kita Berantas Polio Demi Masa Depan yang Lebih Baik”. Pemberantasan polio adalah tanggung jawab bersama dengan imunisasi polio sesuai jadwal serta menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan masa depan yang lebih baik. Mari bersama-sama mendukung program imunisasi pemerintah dan berperan aktif dalam upaya pemberantasan polio.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Anastasia Ratnaningsih, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Keterlambatan Bicara (Speech Delayed) pada Anak No ratings yet.

Bicara dapat di artikan sebagai suatu bentuk komunikasi dengan artikulasi verbal dalam menyampaikan maksud. Oleh sebab itu, diperlukan segenap komponen organ anak yang berperan dalam membentuk suara, lewat komponen respirasi, fonasi dan artikulasi. Kejadian kasus keterlambatan bicara anak di Indonesia tercatat 5-8% pada rentang usia 2-4,5 tahun (2006).  Keterlambatan berbicara dalam fase perkembangan anak akan berdampak pada pola komunikasi anak.

Keterlambatan bicara sendiri juga erat kaitannya dengan bahasa, dimana perkembangannya sangat tergantung dengan faktor perkembangan fungsi anatomis fisiologis sistem saraf, organ audio visual, kemampuan atensi anak serta stimulus dari lingkungan anak (orangtua / caregiver). Pemantauan tumbuh kembang anak, deteksi dini faktor resiko terkait fungsi bicara ini akan menjadi pintu awal yang penting dalam mencegah ataupun meminimalisir dan mengkoreksi gangguan bicara pada anak-anak.

 

Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara Anak sesuai Usia

0-2 bulan

bayi merespon dengan menangis

2-3 bulan

bayi mulai membuat suara seperti aaah, uuu , eee, ooo (cooing)

3-6 bulan

bayi mulai babbling, dimanan mulai menggunakan suku kata tunggal yang diulang, misal papapapapap, dadadadadada, mamamamamama

6-9 bulan

mulai muncul mama, papa, meski kadang tanpa arti, mulai memahami konsep sederhana seperti ya/tidak, habis

9-12 bulan

panggilan lebih spesifik untuk orangtua atau yang caregiver utamanya,merespon panggilan namanya, serta mulai memahami perintah sederhana, serta mulai menggunakan isyarat (gerakan tangan) untuk meminta sesuatu. Bayi mulai membeo, menirukan kata-kata yang familiar

12-18 bulan

mulai membentuk kalimat 2 kata, memahami anggota tubuhnya, dapat menggeleng atau menganggukan kepala, melambaikan tangan, suara yang ditirukan menjadi lebih akurat, serta semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata.

18-24 bulan

dalam usia emas pertumbuhan ini, penambahan kosakata sangat pesat , berbicara dengan kalimat 2 kata dengan jelas, 50% bicaranya dapat dipahami,  dan dapat mengikuti perintah 2 langkah, serta anak senang mendengarkan cerita

2-3 tahun

semua kata-kata anak jelas dan dimengerti, serta mulai membuat kalimat tanya, mengenali benda-benda dan fungsinya, mengenal warna dan senang dengan nyanyian

3-4 tahun

mulai bercerita, bernyanyi, mulai membentuk kalimat 3-5 kata

4-5 tahun

memahami konsep arah (atas, belakang, kanan, kiri), memahami konsep lawan kata, mampu diarahkan untuk tugas terstruktur setidaknya 30 menit

 

Tanda-Tanda Deteksi Awal Adanya Gangguan Keterlambatan Bicara pada Anak bagi Orang Tua

Usia 0-6 bulan

  • Respon terhadap stimulus suara yang kurang (pertimbangkan gangguan pendengaran pada anak)
  • Tidak munculnya cooing, babbling serta terbatasnya suara konsonan anak
  • Anak kurang mampu menirukan bunyi atau suara dan selalu bergantung dengan perintah

Usia 6-12 bulan

  • Kurangnya gestur interaksi
  • Kurangnya atensi anak
  • Tidak merespon panggilan nama
  • Tidak memahami perintah sederhana

Usia 1-2 tahun

  • Perkembangan kosakata yang minim
  • Tidak terbentuk kalimat 2 kata
  • Tidak mampu menunjuk atau menyebutkan anggota tubuhnya

 

Peran Rehabilitasi Medik pada Gangguan Keterlambatan Bicara Anak

Deteksi dini menjadi penting agar dapat mengenali penyebab utama timbulnya keterlambatan bicara anak. Skrining tumbuh kembang anak yang akurat akan mendeteksi tanda-tanda keterlambatan, selain itu pemeriksaan medis mampu mendeteksi kelainan anatomis ataupun fungsi organ yang berdampak pada kemampuan bicara anak. Program Terapi Rehabilitasi Medik akan disesuaikan dengan faktor penyebab keterlambatan bicara yang ditemukan.

Beberapa kondisi medis yang erat kaitannya dengan keterlambatan bicara pada anak adalah Autisme, Gangguan pendengaran (otitis), Gangguan kognisi anak. Selain itu, faktor lingkungan juga perlu dideteksi sebagai penyebab, seperti pola asuh orang tua dengan bilingual (monolingual, keterikatan dengan gadget/ screen time anak (tidak boleh pada usia < 2 tahun).

Pada gangguan kondisi fungsi anatomis, tatalaksana dengan terapi Fisik oleh Fisioterapis dapat diprogramkan, seperti memperbaiki postur atau memperbaiki kemampuan respirasi anak akan membantu dalam memproduksi suara anak.

Faktor gangguan atensi, atau gangguan sensorik pada anak seperti halnya pada kasus Autisme anak, program rehabilitasi medik melibatkan terapi okupasi dalam memberikan koreksi dan stimulus sensorik. Dengan perbaikan di faktor ini, anak diharapkan mampu menangkap stimulus sensorik (visual, audio) dengan lebih baik dan fokus, sehingga dapat merangsang peningkatan interaksi dan kemampuan bicaranya.

Terapi wicara berperan dalam memberikan stimulasi dan koreksi pada gangguan keterlambatan bicara anak, dengan kolaborasi yang baik dan simultan bersama komponen terapi Rehabilitasi Medik lainnya (Terapi Fisik dan/ Terapi Okupasi), target terapi pada anak dengan keterlambatan bicara anak dapat lebih maksimal dalam hal fonasi, artikulasi, pengayaan kosakata, stimualsi oromotor, kemampuan sintaks (membentuk kalimat) sampai dengan semantic (pemahaman makna kata).

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. John Hartono, Sp.KFR
(Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi  :

Klinik Rehabilitasi Medik

Lantai 4, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus

Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1204

Pendaftaran 24 jam : 0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

Mohon dapat memberikan rating

Pneumonia pada Anak di Tiongkok No ratings yet.

Belum genap setahun status pandemi COVID-19 yang berasal dari Wuhan, Hubei Tiongkok tengah dicabut oleh WHO, sekarang terjadi lagi lonjakan kasus pneumonia atau radang paru-paru pada anak di Tiongkok utara. Apa yang perlu dicemaskan?

Sejak pertengahan Oktober 2023, Tiongkok bagian utara, terutama di Beijing dan Liaoning, telah melaporkan peningkatan penyakit mirip influenza dibandingkan periode yang sama pada tiga tahun sebelumnya. Sebulan kemudian pada Selasa, 21 November 2023, media massa dan jurnal ilmiah ProMED melaporkan pneumonia yang tidak terdiagnosis (undiagnosed pneumonia) pada anak di Tiongkok utara. Hari berikutnya, yaitu Rabu, 22 November 2023, WHO secara resmi meminta informasi epidemiologi dan data klinis tambahan, serta hasil laboratorium dari anak yang dilaporkan ini, melalui mekanisme resmi (the International Health Regulations).

Data menunjukkan peningkatan kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap anak karena pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma Pneumoniae (MP) sejak Mei 2023, dan RSV, adenovirus, dan virus influenza sejak Oktober 2023. Tidak ada perbedaan dalam gambaran klinis penyakit yang baru dilaporkan dengan yang selama ini terjadi, belum ada bukti patogen yang tidak biasa atau baru. Namun demikian, hanya terjadi peningkatan kejadian penyakit pernafasan yang disebabkan oleh beberapa patogen yang telah diketahui, tetapi tidak mengakibatkan jumlah pasien sampai melebihi kapasitas rumah sakit.

Sejak pertengahan Oktober 2023, selain meningkatkan pengawasan penyakit di fasilitas layanan kesehatan dan lingkungan masyarakat, pihak berwenang Tiongkok telah menekankan perlunya memperkuat kapasitas sistem kesehatan dalam menangani pasien. Tiongkok mempunyai sistem untuk mendapatkan informasi tentang tren influenza, penyakit mirip influenza (influenza-like illness atau ILI), RSV, SARS-CoV-2, pneumonia, dan infeksi saluran pernapasan akut parah lainnya (severe acute respiratory infections atau SARI), dan melaporkan deteksi influenza ke platform global (the Global Influenza Surveillance and Response System atau GISRS).

Mensikapi kejadian di Tiongkok tersebut, telah dikeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Nomor : PM.03.01/C/4732/2023, Tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia Di Indonesia. Terkait adanya peningkatan kasus pneumonia di Tiongkok sejak Mei 2023, ¾ pasien di diagnosis sebagai infeksi MP, sedangkan lainnya adalah influenza, SARS COV-2 dan lain-lain. MP merupakan bakteri penyebab paling umum terjadinya infeksi jalan napas sebelum pandemi COVID-19, dengan insidensi 8,6% dan pernah turun menjadi 0,7% di tahun 2021-2022. Bakteri patogen ini memiliki periode inkubasi yang cukup lama dan penyebaran memerlukan waktu yang juga lama, sehingga disebut sebagai ‘Walking Pneumonia’. MP merupakan salah satu penyebab penyakit pneumonia di masyarakat, yang paling banyak menyerang anak.

Gambaran klinis pada pneumonia akibat MP sering mirip dengan pneumonia akibat patogen atipik lainnya, khususnya bakteri Chlamydia pneumonia. Pneumonia akibat MP dapat terjadi bersamaan dengan patogen lain, atau bahkan mendahului infeksi pernapasan akibat virus dan bakteri termasuk Streptococcus pyogenes serta Neisseria meningitidides. Infeksi MP biasanya dapat sembuh sendiri dan jarang fatal. Infeksi ini dapat melibatkan infeksi saluran napas atas maupun bawah, dengan gambaran klinisnya dapat bervariasi pada berbagai kelompok usia. Pasien anak usia di bawah 2 tahun cenderung terjadi infeksi saluran napas atas, sedangkan pada usia 6 sampai 9 tahun cenderung terjadi infeksi saluran napas bawah, yaitu pneumonia.

Masa inkubasi infeksi MP sekitar 2-4 minggu dan karakteristik pada pneumonia akibat MP adalah usia yang lebih muda, lebih sedikit faktor komorbidnya, lebih pendek masa rawat di rumah sakit dan angka kematian yang lebih rendah, dibanding kelompok pasien pneumonia akibat patogen lain. Gejala awitan infeksi pneumonia akibat MP terjadi secara bertahap, mulai dari batuk, demam, sakit kepala dan lemah atau malaise. Beberapa kasus tertentu batuk kering terjadi selama fase awal pneumonia MP, namun tetap ada untuk waktu yang lama sebagai gejala atipik. Suhu tubuh rata-rata pada pneumonia MP adalah 37,7 0C dan sekitar 29,2% pasien suhu tubuhnya tidak lebih dari 37,0 0C atau tidak demam sama sekali.

Pada pemeriksaan fisik dengan stetoskop menunjukan bahwa lebih dari separoh pasien dengan pneumonia MP tidak terdengar ronki, atau kemungkinan besar terdengar ronki pada akhir inspirasi, bila dibandingkan dengan pasien yang terinfeksi patogen khas (pneumonia tipik). Japanese Respiratory Society (JRS) mengusulkan enam tanda dan gejala pneumonia MP yang dapat membedakan dengan pneumonia akibat patogen lain. Keenam tanda dan gejala tersebut adalah usia kurang dari 15 tahun, tidak terdapat atau hanya sebagian kecil terdapat penyakit yang mendasari, batuk yang persisten, terdapat bunyi napas tambahan pada saat auskultasi dengan stetoskop, tidak terdapat produksi dahak atau sputum, ditemukannya patogen penyebab melalui uji diagnostik dan jumlah lekosit tidak meningkat, bahkan kurang dari 10.000/μL. Jika terdapat empat dari enam tanda dan gejala tersebut, maka dapat dicurigai ke arah pneumonia akibat MP, maka penggunaan obat antibiotik golongan makrolid dan obat lama tetrasiklin dapat disarankan. Namun demikian, jika kriteria tersebut ridak terpenuhi maka dapat dicurigai infeksi yang terjadi akibat bakteri Streptococcus pneumonia dan disarankan menggunakan antibiotik golongan beta laktam sebagai terapinya. MP adalah bakteri patogen pernapasan yang umum, penyebab umum pneumonia pada anak, dan cukup mudah diobati dengan antibiotik.

Setiap dokter yang menangani pasien pneumonia anak wajib berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Rujukan, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan dalam pengelolaan spesimen (pengambilan dan pengiriman spesimen) kasus MP. Juga melaksanakan surveilans ketat dengan melaporkan penemuan kasus melalui Pelaporan rutin ISPA dan ILI-SARI melalui link: https://bit.ly/ILISARI dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) melalui link https://skdr.surveilans.org atau nomor WhatsApp (WA) Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC) : 0877-7759-1097 atau email: poskoklb@yahoo.com, dan ditembuskan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.

Vaksin adalah tindakan pencegahan pneumonia paling penting bagi anak, agar juga membantu keluarga terhindar dari biaya pengobatan dan beban keuangan lainnya akibat anak sakit. Pneumonia memiliki banyak patogen penyebab, tetapi sebagian besar yang paling mematikan sudah dapat dicegah dengan vaksin terhadap patogen ganas Streptococcus pneumoniae (vaksin pneumokokus), Haemophilus influenzae tipe b (vaksin Hib), pertusis (vaksin DPT), dan campak (MR). Semua vasin tersebut sudah tersedia di Indonesia, dan direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bahkan masuk dalam program imunisasi dasar nasional.

Obat antibiotik amoksisilin saat ini merupakan satu-satunya pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk pneumonia secara umum, kalau MP belum dipastikan. Obat ini dapat menyelamatkan nyawa dalam kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri, dan dapat mencegah sebagian besar kematian akibat pneumonia, dengan biaya hanya sekitar USD $ 0,21-0,42 per paket pengobatan. Tablet dispersi amoksisilin adalah obat yang terjangkau dan sesuai untuk digunakan pada anak kecil. Namun waktu adalah esensi, karena pengobatan yang tertunda mungkin tidak memadai untuk mencegah dampak yang menghancurkan dari pneumonia, yaitu kematian anak. Perang melawan pneumonia harus dipertimbangkan juga untuk memerangi resistensi antimikroba. Pemberian antibiotik secara tepat untuk mengobati infeksi bakteri yang didiagnosis dengan benar, dapat membantu mengatasi pneumonia agar tidak menjadi masalah global. Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa lebih banyak anak meninggal karena kurangnya akses ke antibiotik, daripada karena resistensi antibiotik.

Perubahan musim dan pelonggaran aktivitas masyarakat pasca pandemi COVID-19 seperti di Tiongkok utara, mengingatkan kita akan pentingnya meningkatkan kewaspadaan akan pneumonia karena MP dan cakupan imunisasi pneumokokus, Hib, DPT, dan MR dalam melawan pneumonia sebagai penyakit infeksi mematikan yang tersering pada anak.

Sudahkah kita bijak mendampingi anak dari bahaya pneumonia?

 

Artikel Edukasi ditulis oleh :

DR. dr. Fx. Wikan Indrarto, Sp.A. (Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

 

Informasi :
Klinik Vaksin Dewasa di Medical Check Up
Lantai 2 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1125
WhatsApp MCU: 0811-2945-893 (pk 07.30 – 14.00 WIB)

Klinik Vaksin Anak di Klinik Tumbuh Kembang
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1204

Pendaftaran 24 jam :

0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Adenovirus 5/5 (1)

Rayyanza Malik Ahmad, putra bungsu Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, pernah menjalani rawat inap di rumah sakit dengan gejala awal demam tinggi. Awalnya, Rayyanza yang biasa disapa Cipung diduga mengidap penyakit pneumonia yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Akhirnya dokter memberikan antibiotik kepada adik Rafathar. Namun setelah mendapat hasil serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan Cipung mengidap virus di tubuhnya. Putra bungsu Raffi Ahmad dikabarkan terjangkit adenovirus.

 

“ADENOVIRUS

Adenovirus dapat menyebabkan berbagai infeksi sistem pernapasan dengan gejala seperti pilek, demam atau flu, baik yang bersifat ringan, maupun yang berat. Infeksi adenovirus paling sering terjadi pada anak balita. Dari sekitar 50 jenis adenovirus yang dapat menginfeksi manusia, yang paling umum adalah Adenovirus tipe 3, 4 dan 7.

Perlu diketahui bahwa adenovirus dapat menyebar melalui beberapa cara. Misalnya kontak dekat, udara, permukaan benda dan air. Virus dapat menyebar dari orang ke orang melalui berjabat tangan, berciuman, atau berpelukan. Virus dapat juga menyebar melalui droplet (percikan air liur) yang dikeluarkan saat bersin dan batuk. Setelah menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi, seseorang bisa terpapar virus ini dengan menyentuh mata, hidung, atau mulutnya sebelum mencuci tangan. Virus juga dapat menyebar melalui tinja orang yang terinfeksi dan air yang tidak mengandung klorin di kolam renang. Gejala klinis infeksi adenovirus adalah mirip dengan pilek atau flu biasa. Juga terjadi batuk, demam, pilek, sakit tenggorokan, mata merah muda, sakit pada telinga, pembengkakan kelenjar getah bening leher, sulit bernapas dan radang paru-paru. Selain itu, juga sakit perut, diare, mual dan muntah.

Diagnosis Infeksi adenovirus berat memerlukan beberapa jenis tes laboratorium dan radiologi. Meliputi tes darah rutin, urine rutin, tes swab lendir dari hidung, tes feses, dan rontgen dada. Pengobatan infeksi adenovirus bersifat simtomatik dan suportif, bukan pemberian obat antivirus.

Beberapa cara berikut penting untuk meredakan gejala. Konsumsi banyak cairan, termasuk jus buah dan elektrolit, untuk mencergah dan mengatasi dehidrasi. Atasi hidung mampet dengan mengajari anak etika membuang ingus atau cairan lendir dari hidung. Untuk bayi dapat diberikan semprotan beberapa tetes air garam ke hidungnya dan kemudian disedot lendir dengan spuit. Kelembaban udara yang baik dapat meredakan hidung mampet dan membantu bernapas lebih mudah. Turunkan demam dengan obat turun demam yang sesuai. Pencegahan penyebaran infeksi adenovirus dilakuan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan air, atau membersihkan tangan dengan hand sanitizer berbasis alkohol yang mengandung minimal 60 persen etanol.

Hindari menyentuh mulut, hidung, atau mata jika belum mencuci tangan. Jauhkan dari orang yang sedang sakit dan menghindari kerumunan. Bersihkan dan disinfeksi mainan anak sesering mungkin. Bersihkan meja, bak cuci dan permukaan keras lainnya dengan campuran pemutih dan air. Jika gejala infeksi adenovirus pulih dalam beberapa hari, sebenarnya anak tidak perlu diperiksakan ke dokter. Namun demikian, jika gejala yang dirasa seperti batuk, demam, pilek, dan sakit tenggorokan semakin parah, segeralah periksakan anak ke dokter, karena perawatan di rumah sakit atau opname kadang diperlukan untuk membantu proses pemulihan dengan tindakan medis yang tepat, seperti yang dijalani oleh Rayyanza Malik Ahmad.

 

Artikel ditulis oleh :

Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih)

 

Informasi :

Klinik Anak Sakit

Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pelayanan dilakukan setiap hari, termasuk hari Minggu dan libur nasional

Pendaftaran dokter 24 jam :

0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

 

Mohon dapat memberikan rating

Kanker Anak Dapat Disembuhkan 5/5 (5)

Pada tanggal 15 Februari 2023 diperingati sebagai hari Kanker Anak Sedunia. Kanker bisa menyerang siapa saja dari berbagai kalangan usia maupun jenis kelamin. Batasan yang disebut anak adalah sejak lahir sampai umur 18 tahun. Kanker anak dapat terjadi sejak janin dalam kandungan sampai dengan usia 18 tahun. Orang tua memiliki peran penting dalam memperhatikan kesehatan anak, menyadari tanda dan gejala awal pada anak, serta memberikan dukungan kepada anak penderita kanker.

Dalam istilah kedokteran sendiri arti umum tumor merupakan suatu benjolan. Dimana benjolan atau tumor sendiri dibagi menjadi dua macam. Pertama, tumor jinak atau tidak ganas; dan kedua tumor ganas atau yang biasa disebut kanker. Contoh tumor jinak seperti tahi lalat di kulit dan jaringan lunak yang tumbuh dalam hidung (polip hidung). Contoh tumor ganas seperti kanker darah (leukemia).

Menurut perkiraan International Agency for Research on Cancer (IARC) Global Cancer Observatory, pada tahun 2020 sekitar 280.000 anak dan remaja di seluruh dunia terdiagnosis kanker. Dimana, jenis kanker yang paling umum adalah kanker darah atau biasa disebut leukemia, kanker pada sel saraf yang belum matang (neuroblastoma), kanker kelenjar getah bening (limfoma), kanker ginjal, dan kanker mata.

Dengan adanya kemajuan dalam ilmu pengobatan kanker kala ini, maka tingkat kesembuhan pada kanker anak pun meningkat.  WHO dan Organisasi yang peduli dengan kanker anak mencanangkan : ”Kanker anak dapat disembuhkan”. Seperti kanker darah, kanker kelenjar getah bening, kanker mata, kanker ginjal angka kesembuhan sudah mencapi lebih dari 80%, dengan kata lain delapan  dari sepuluh kanker anak tersebut dapat disembuhkan.

Dalam penanganan kanker, dibutuhkan diagnosa yang cepat dan benar, diikuti dengan terapi berbasis bukti yang efektif dan sesuai, serta perawatan suportif bagi anak. Ketika diidentifikasi lebih awal, kanker cenderung dapat memiliki memiliki angka kesembuhan yang lebih tinggi, karena belum menjalar keman-mana, respon terhadap pengobatan yang lebih efektif, kemungkinan bertahan hidup yang lebih tinggi, penderitaan yang lebih sedikit, serta perawatan yang kurang intensif.

 

Diagnosis dini diperlukan  kesadaran akan gejala oleh keluarga dan orang disekitar pasien (disini penting sekali peran pos pelayanan terpadu), pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan di sekitar dan penyedia layanan primer (misalnya di Puskesmas), pemeriksaa pasien sampai dengan pemeriksaan laboratorium yang komplit di rumah sakit rujukan.

 

Tanda dan gejala awal tergantung asal mula kanker.

Seperti contohnya:

  • Kanker darah anak terlihat pucat, kelenjar getah bening membesar, sering demam, anak lemah.
  • Kanker kelenjar getah bening di awali dengan kelenjar etah bening yang membesar semakin lama semakin bertambah besar.
  • Kanker otak gejala yang dialami pusing, mata kabur, mual, muntah menyemprot, anak rewel atau terjadi perubahan perilaku.
  • Kanker mata dimulai di mata ada tanda seperti  mata kucing (terlihatnya manik putih), juling, hilangnya penglihatan, pembengkakan warna biru gelap tiba-tiba di sekitar mata
  • Kanker ginjal biasanya ditemukan benjolan sesuai letaknya pada saat orang tua memandikan anak.
  • Kanker hati ada benjolan di perut sebelah kanan waktu anak dimandikan.
  • Kanker tulang dimulai dengan benjolan di ujung tulang atau dibagian tengahnya.
  • Kanker anak yang paling sering diderita anak yang jumlahnya sekitar 30-an. Tanda dan gejala awal tergantung dari asal organ yang terkena.

Setelah menemukan gejala-gejala awal tersebut, orang tua diharapkan untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan pertama untuk dilakukan pemeriksaan segera. Dokter pada fasilitas kesehatan pertama akan segera merujuk ke fasilitas kesehatan kedua, dan kalau perlu ke fasilitas kesehatan ketiga. Setelah anak terdiagnosis kanker, maka dokter akan menentukan tatalaksana menggunakan protokol kanker sesuai dengan jenis kanker yang diderita anak. Kecepatan diagnosis dan terapi sangat membantu kecepatan kesembuhan. Untuk pemeriksaan laboratorium dan terapi peran BPJS sangat penting karena semua itu memerluan biaya mahal. Karena itu harus ikut BPJS.

Peran keluarga terutama bapak – ibu, ibu-ibu dasawisma dan posyandu, bidan desa, kalau sudah sekolah peran guru dan UKS, sangat penting. Puskesmas dan layanan kesehatan primer sangat penting dalam meningkatan angka kesembuhan dan pemahaman terhadap kanker anak. Pemahaman kanker anak harus di kerjakan oleh tiga pusat pendidikan secara bersama-sama  yaitu di keluarga, di masyarakat, dan di sekolahan.   Momentum Hari Kanker Anak Sedunia pada 15 Februari 2023 ini mengingatkan kita untuk lebih peduli kepada anak dengan kanker. Mari kita bersama-sama sebarkan semangat kepada anak penderita kanker. Kanker anak dapat disembuhkan.

 

Artikel ini ditulis oleh :

Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A(K) (Dokter Spesialis Anak – Konsultan Hematologi Anak)

&

dr Natasha Sutedja (Dokter Umum) RS Panti Rapih Yogyakarta

 

Info Pelayanan :
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Rabu pk 12.00 – 14.00 WIB

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Bahayakah Hernia Pada Bayi dan Anak? 5/5 (1)

Sebagai orang tua, tentu bapak dan ibu sekalian sangat memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan buah hati kita. Dalam prosesnya orang tua pasti mengamati tanda-tanda atau perubahan yang muncul pada tubuh bayi kita, baik itu adanya perubahan secara normal maupun keadaan yang abnormal. Beberapa kondisi yang dapat membuat orang tua khawatir adalah tiba-tiba munculnya benjolan pada daerah perut buah hati kita, dan pasti membuat bapak dan ibu ingin mengetahui lebih lanjut mengenai apa penyebabnya dan penanganannya.

Kondisi yang paling sering terjadi pada bayi dan anak dengan adanya benjolan di sekitar perut dan alat kelamin adalah Hernia. Hernia pada bayi dan anak muncul dengan ditandai oleh benjolan atau tonjolan yang terjadi di daerah perut (khususnya pusar) dan daerah sekitar alat kelamin, namun bisa saja kejadian hernia ini muncul di lain tempat sekitar perut, tergantung jenis dan dimana lokasi spesifik terjadinya benjolan tersebut.

Hernia tersebut terjadi karena adanya organ atau jaringan tubuh (dalam hal ini organ usus) keluar atau mendesak lapisan jaringan lunak dan otot yang lemah, yang seharusnya jaringan lunak dan otot tersebut mampu menahan organ atau jaringan tersebut dalam posisinya.

Jenis Hernia yang sering terjadi pada bayi dan anak adalah hernia umbilikalis (yang terjadi pada daerah pusar) dan hernia inguinalis (yang terjadi pada daerah sekitar alat kelamin).

Pada kondisi hernia inguinalis yang ringan, massa organ atau jaringan tubuh tersebut bisa keluar masuk , jika massa organ atau jaringan tubuh keluar maka terjadi benjolan (biasanya akan terjadi saat anak menangis, mengedan dan beraktifitas. Sedangkan dalam saat anak tenang benjolan akan berkurang atau menghilang. Sedangkan pada kondisi yang berat atau lanjut, benjolan akan menetap (ireponibilis), dapat menyebabkan sumbatan pada organ atau jaringan (organ usus) terjepit (inkarserata), atau bahkan sampai kepada kondisi tersumbatnya aliran darah ke bagian organ atau jaringan yang menyebabkan kematian jaringan organ (strangulata).

Pada kondisi yang berat ini anak akan menangis, rewel karena nyeri perut, muntah, tidak bisa buang air besar atau buang air besar bercampur darah, tidak bisa kentut, demam, tidak mau makan, perut akan kembung atau menjadi besar. Jika terjadi kondisi ini bayi atau anak harus segera diperiksa dan ditangani karena usus yang terjepit akan kekurangan aliran darah yang akan membuat jaringan usus menjadi mati (nekrosis), infeksi pada seluruh rongga perut dan usus mengalami kebocoran (perforasi).

Dalam penegakan diagnosis hernia pada bayi atau anak ini dapat dilakukan dengan anamnesis (keluhan yang diberitahukan kepada dokter), pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter dan pemeriksaan penunjang radiologi untuk mendapatkan gambaran pencitraan usus atau organ yang mengalami gangguan seperti ultrasonografi (USG) dan lainnya.

Penatalaksanaan Hernia Pada Bayi dan Anak

Jika bapak ibu sekalian menemukan tanda yang telah disebutkan diatas, segara bapak ibu dapat memeriksakan buah hatinya ke rumah sakit, dengan bertemu dokter spesialis bedah anak. Tindakan yang akan dilakukan adalah dengan metode operasi.

Metode operasi yang dilakukan adalah operasi herniotomi, yang bertujuan untuk mengembalikan organ atau jaringan ke tempat semula dan mencegah resiko sumbatan pada organ atau jaringan (organ usus) terjepit (inkarserata) atau bahkan strangulasi yang pada akhirnya menyebabkan rusaknya organ atau jaringan usus tersebut.

Pada umumnya dengan kondisi tanpa penyulit dan atau komorbid, tingkat keberhasilan tindakan operasi ini tinggi dengan tingkat residif (berulang) yang rendah.

Lokasi Pelayanan :
Klinik Tumbuh Kembang
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Artikel oleh:

dr. I Dewa Gde Rainey Chrisananta Putra
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Perawatan Gigi pada Anak No ratings yet.

Gigi susu (gigi decidui) seperti halnya gigi permanen mempunyai beberapa fungsi yaitu fungsi pengunyahan (mastikasi), fungsi pengucapan (fonetik), fungsi kecantikan (estetik), fungsi mempertahankan ruang dalam lengkung gigi (space maintainer).

Mengingat pentingnya fungsi dari gigi susu bila terdapat penyakit/kelainan pada gigi susu harus segera dirawat karena kondisi gigi susu saat ini sangat menentukan keadaan gigi-gigi permanen penggantinya. Beberapa kelainan gigi dan mulut yang sering terjadi pada anak-anak adalah:
1. Gigi berlubang (karies gigi)
Proses terjadinya karies gigi dipengaruhi oleh 4 faktor penyebab utama yang terjadi dalam waktu bersamaan.
Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Kuman. Secara normal kuman ada dan diperlukan di rongga mulut, tetapi apabila terdapat sisa makan yang melekat pada gigi, maka kuman akan menfermentasi sisa makanan tersebut menjadi asam.
b. Sisa makanan, terutama golongan karbohidrat seperti gula dan roti. Sisa makanan yang melekat pada gigi akan diubah oleh kuman menjadi asam yang dapat melarutkan email (lapisan terluar) gigi.
c. Gigi. Dengan bentuk anatomi yang berlekuk (pit dan fissure dalam) kadang sulit untuk dapat membersihkan seluruh permukaan gigi secara sempurna.
d. Waktu. Dari ke 3 faktor diatas diperlukan proses dalam waktu yang bersamaan.

● Jika kedalaman lubang gigi pada permukaan email/dentin maka biasanya hanya diperlukan satu/dua kali kunjungan untuk dapat ditambal secara permanen.
● Jika kedalaman lubang gigi sudah mengenai saraf gigi (pulpa) maka perlu dilakukan perawatan untuk mematikan saraf gigi (devitalisasi) dan dilanjutkan dengan perawatan saluran akar yang akan memerlukan beberapa kali kunjungan sebelum dapat ditambal secara permanen.

2. Pembengkakan gusi
Infeksi yang terjadi pada gigi dapat menjalar menjadi pembengkakan pada gusi bahkan dapat sampai ke pipi/dagu. Perawatan yang dapat dilakukan adalah menghilangkan pembengkakan tersebut dengan pemberian antibiotik dan anti radang, kemudian dilanjutkan dengan perawatan saluran akar pada gigi tersebut.

3. Kesundulan (persistensi gigi susu)
Yaitu kondisi dimana gigi susu belum tanggal, sementara gigi permanen penggantinya telah tumbuh. Hal ini mengakibatkan gigi permanen tumbuh pada posisi di luar lengkung gigi, sehingga susunan gigi geligi menjadi tidak teratur. Perawatan yang dapat dilakukan adalah melakukan pencabutan pada gigi susu tersebut.

4. Gigi susu tanggal sebelum waktunya (premature loss)
Gigi susu yang tanggal sebelum waktunya dikhawatirkan menyebabkan gigi disampingnya akan mundur/maju menempati ruang yang kosong sehingga gigi permanen pengganti akan kehilangan ruang atau juga dapat mengakibatkan gigi permanen pengganti kehilangan arah ketika akan tumbuh. Perawatan yang dapat dilakukan adalah pembuatan space maintainer.

Mengingat pentingnya peran gigi susu dan akibat yang mungkin ditimbulkan dari kelainan gigi susu yang tidak dirawat maka orang tua dapat mengkonsultasikan keadaan gigi anaknya ke dokter gigi sedini mungkin. Kontrol ke dokter gigi diharapkan dilakukan setiap 6 bulan. Dokter gigi akan melakukan pencegahan terjadinya karies gigi dengan Dental Health Education, fissure sealant (melapisi lekukan gigi yang dalam dengan bahan tambal), pemberian fluor pada gigi anak-anak dan pencegahan terjadinya kesundulan gigi dengan melakukan pencabutan pada gigi susu yang sudah goyah atau dengan usia dan foto rontgen dokter gigi dapat memperkirakan waktu tanggalnya gigi susu.

Pendaftaran via PantiRapihKu: https://pantirapih.or.id/rspr/jadwalkan-kunjungan-anda-dengan-aplikasi-pantirapihku/

Artikel ini ditulis oleh:
drg. Julie Christine Limantara, Sp.KGA.
(Dokter Spesialis Kedokteran Gigi Anak  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gigi
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating