Exercise Untuk Meningkatkan Kebugaran Pada Obesitas No ratings yet.

Obesitas adalah suatu kejadian di mana adanya penumpukan lemak secara berlebihan yang lebih dari batas normal, penumpukan lemak yang secara berlebihan pada seseorang akan menyebabkan terjadinya penyakit. (WHO)

Obesitas kelas I : Indeks Massa Tubuh (IMT)  25 – 29,9

Obesitas kelas II :  Indeks Massa Tubuh (IMT) > 30 (kelas II)

(Skala Asia – Pacific)

Untuk mencapai penurunan berat badan dan memperoleh kebugaran fisik yang optimal, maka individu dengan obesitas wajib melakukan :

  • Pembatasan jumlah serta pengaturan jenis dan pola makan
  • Menambah pengeluaran kalori dengan melakukan aktivitas fisik dan exercise
  • Manajemen stress yang baik
  • Cukup istirahat

Aktivitas Fisik & Exercise

Exercise (olahraga) : suatu bentuk aktivitas fisik yang terdiri dari gerakan tubuh yang terencana, terstruktur dan berulang yang dilakukan untuk meningkatkan dan atau memelihara kebugaran fisik

METs (Metabolic Equivalent) perkiraan kebutuhan energi yang diperlukan dalam melakukan aktivitas fisik dan exercise,

Semakin tinggi METs semakin banyak energi yang diperlukan sehingga memerlukan kebugaran fisik yang semakin tinggi pula.

Individu dengan obesitas seringkali memiliki kebugaran fisik yang rendah, sehingga diperlukan penilaian awal untuk menentukan exercise yang aman dan efektif.

Six Minute Walking Test

Uji latih enam menit (six minute walking test/6MWT) digunakan untuk menilai kapasitas fungsional dan kardiovaskular seseorang dengan cara mengukur jarak tempuh dalam waktu enam menit. Uji latih ini mudah dilakukan tanpa peralatan khusus dan dapat memberikan informasi mengenai status kesehatan dan kemampuan sehari-hari seseorang.

Uji latih ini dilakukan di dalam ruangan dengan permukaan lantai datar dan keras, serta membutuhkan lintasan sepanjang 30 meter (atau 15 meter dengan modifikasi) yang lurus dan bebas hambatan.

Sebelum dan setelah tes dilakukan dilakukan pengukuran tekanan darah, denyut nadi, saturasi oksigen dan keluhan yang dirasakan partisipan. Dan selama tes akan dilakukan pemantauan kondisi dan keluhan partisipan.

Hasil akhir tes ini berupa angka VO2 max dan METS yang dapat digunakan sebagai perkiraan intensitas exercise yang aman.

 

Exercise pada Obesitas

Sebaiknya exercise dipandu oleh trainer akan menentukan jumlah (volume Latihan) berdasarkan hasil uji latih dan kemampuan masing – masing individu.

 

Prinsip dalam Exercise :

(American College of Sports Medicine – ACSM)

 

Frekuensi :

  • Latihan aerobicintensitas sedang : 5 hari per minggu, intensitas berat : 3 hari per minggu
  • Latihan beban / resistensi : 2-3 kali per minggu
  • Latihan fleksibilitas : 2-3 kali per minggu
  • Latihan keseimbangan / neuromotor : 2-3 kali per minggu

 

Intensitas :

  • Intensitas Ringan :denyut jantung < 60 % dari denyut jantung maksimal sesuai usia
  • Intensitas Sedang : denyut jantung mencapai 60 – 80 % dari denyut jantung maksimal sesuai usia
  • Intensitas Berat : denyut jantung mencapai 80-90 % dari denyut jantung maksimal sesuai usia
  • Intensitas Sangat Berat :denyut jantung mencapai 90-100% dari denyut jantung maksimal sesuai usia

Intensitas exercise harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.

Hasil uji latih, misal nya six minute walking test atau treadmill dapat dijadikan patokan untuk menentukan intensitas exercise yang aman namun tetap efektif dalam penurunan berat badan.

Exercise work zones (Fox and Haskell formula between 20 and 70-year-old):

red zone (VO2Max), anaerobic, aerobic, weight control and warming up.

 

Durasi / waktu :

  • Latihan aerobic

intensitas sedang : 30-60 menit per hari  ( ≥ 150 menit/minggu),

intensitas berat : 20-60 menit (≥ 75 menit/minggu)

  • Latihan beban / resistensi : sesuai dengan repetisi dan set yang ditentukan
  • Latihan fleksibilitas : 10-20 menit
  • Latihan keseimbangan/neuromotor : 10-20 menit

Jenis exercise :

  • Latihan aerobic / cardio: jalan cepat, lari, sepeda statis, berenang
  • Latihan beban / kekuatan otot/ resistensi : calisthenics exercise, angkat beban, resistance band
  • Latihan flexibilitas : stretching, yoga, Pilates
  • Latihan neuromotor : keseimbangan, koordinasi, agility, prorioseptif

Kombinasi jenis exercise yang dilakukan akan lebih efektif dalam mencapai kebugaran fisik yang optimal.

 

Contoh Peresepan Exercise untuk Individu dengan Obesitas, usia 30 tahun, dengan Hasil Six Minutes Walking Test 6 METs

HariJenis Latihan
SeninSepeda statis / lari / berenang dengan intensitas sedang (60-80% denyut jantung maksimal yaitu 114 s.d 152 detak per menit) selama 30-60 menit
Calisthenic exercise
SelasaSepeda statis dengan intensitas sedang selama 30-60 menit
Pilates / yoga
RabuLatihan dengan barbell dan gym equipment
Latihan flexibilitas dan neuromotor
KamisLari dengan treadmill dengan intensitas sedang (kecepatan 7 s.d 10 km /jam meningkat bertahap, tanpa inklinasi) selama 30-60 menit
JumatBerenang dengan intensitas sedang selama 30-60 menit
Latihan dengan dumbbell dan resistance band
SabtuSepeda statis / lari / berenang dengan intensitas sedang selama 30-60 menit
Pilates / yoga
MingguIstirahat

 

Yang harus diperhatikan dalam melakukan exercise :

  • Peralatan olahraga yang sesuai
  • Awali dengan pemanasan (warming up)& akhiri dengan pendinginan (cooling down)
  • Pemantauan kondisi dan keluhan selama exercise
  • Kebutuhan cairan tubuh

 

Faktor kunci untuk mencapai keberhasilan exercise dalam penurunan berat badan :

(The U.S. Office of Disease Prevention and Health Promotion)

  • Enjoyment
  • Self-efficacy
  • Social Support
  • Accountability
  • Integration into Daily Life

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Amelia Kartika, Sp.KFR

(Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Katarina
WhatsApp: 0811-2847-276
Telepon: (0274) 563333 ext. 1512
Lokasi: Lantai 6 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus, RS Panti Rapih

Pendaftaran 24 jam :

Telepon 0274 – 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Playstore atau App store)

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Obesitas No ratings yet.

Obesitas atau kegemukan merupakan keadaan bertambahnya lemak tubuh yang ditandai oleh kenaikan berat badan dan peningkatan penumpukan lemak pada bagian tertentu khususnya di daerah perut. Obesitas atau kegemukan terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar, sehingga terjadi peningkatan rasio lemak dan lean body tissue yang terlokalisir atau merata di seluruh tubuh.

Bagaimana Cara Menentukan Obesitas?

  1. Menghitung Indeks Massa Tubuh

Perhitungan umum yang sering digunakan tanpa mempetimbangkan berat otot adalah IMT  (Indeks Massa Tubuh) atau  BMI ( Body Mass Index ).

Rumus IMT = Berat badan (kg) / Tinggi badan x tinggi badan (m)

Bila berat badan seseorang adalah  68 kg dengan tinggi badan 155 cm, maka IMT -nya adalah  28, 3 kg/m2, artinya berdasarkan IMT termasuk obesitas.

2. Menghitung Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP)

Rasio lingkar pinggang dan panggul merupakan salah satu cara pengukuran antropometri yang dapat menilai obesitas sentral dan juga menilai risiko terkena penyakit kardiovaskuler. Cara mengukur lingkar pinggang yang paling mudah adalah dengan meletakkan satu jari di atas pusar Anda, setelah itu lingkari meteran pada daerah tersebut. Untuk mengukur lingkar panggul dapat dilakukan dengan cara menentukan daerah panggul yang paling menonjol dan gunakan metlin untuk mengukur.

Rumus RLPP = lingkar pinggang (cm) / lingkar panggul (cm)

Contoh: bila seorang laki-laki mempunyai lingkar pinggang 100 cm dengan lingkar pinggul 90 cm, maka RLPP-nya adalah 100 : 90 = 1,1. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa laki-laki ini mengalami obesitas sentral dan berisiko untuk menderita penyakit kardiovaskuler, sesuai dengan hasil penelitian prospektif yang menunjukkan bahwa rasio lingkar pinggang dan panggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler (Supariasa, 2002).

Tipe-tipe Obesitas

  1. Tipe Android (Tipe buah Apel)

Tipe android menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak yang terdapat pada bagian visceral dan bagian atas tubuh, seperti yang terlihat pada buah apel. Tipe ini banyak terjadi pada pria dan wanita yang telah mengalami menopause karena hormon estrogen tidak lagi diproduksi.

Jenis timbunan lemak pada bagian atas tubuh adalah asam  lemak jenuh. Seseorang dengan timbunan lemak jenuh tinggi dalam tubuh beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan metabolisme glukosa dan lemak seperti penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, stroke dan tekanan darah tinggi. Orang dengan tipe kegemukan seperti ini mempunyai kemungkinan terkena kanker payudara enam kali lebih besar dibandingkan orang yang memiliki berat tubuh normal. Lemak jenuh  merupakan lemak yang lebih  mudah dibakar. Bila seseorang memiliki timbunan lemak lebih banyak pada bagian atas ( lengan atas, belakang bra, pinggang dan perut) dianjurkan untuk segera melakukan diet dan olahraga secara teratur.

  1. Tipe Ginoid (Tipe buah Pir)

Tipe ginoid menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak pada bagian bawah tubuh yaitu, di daerah panggul dan paha. Tipe ini banyak terdapat pada wanita.

Jenis lemak yang tertimbun pada daerah panggul dan paha jenisnya adalah lemak tidak jenuh yang lebih sulit untuk dibakar. Kegemukan tipe ini lebih aman terhadap risiko penyakit kardiovaskuler. Pada kegemukan tipe ini, perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah lemak tubuh bagian atas sudah normal atau belum. Jika normal, untuk penurunan berat badan tidak dianjurkan untuk diet ketat karena akan semakin menghabiskan lemak bagian atas tubuh, yang kemungkinan akan menyebabkan antara lain pipi menjadi kempot dan payudara mengecil. Yang penting untuk dilakukan adalah, melatih otot-otot di sekitar panggul dan paha. Jika massa otot lebih besar dari lemak, penampilan panggul dan paha akan terkesan lebih langsing.

  1. Tipe Hiperplastik

Tipe ini biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe hiperplastik menunjukkan sel lemak berlebih, tetapi ukurannya sesuai dengan ukuran sel lemak normal. Jumlah sel lemak yang banyak pada anak-anak akan sulit untuk diturunkan ketika masa pertumbuhan telah berakhir. Anak-anak yang gemuk harus ditingkatkan aktifitas fisiknya secara teratur untuk menyeimbangkan dengan sel lemak yang banyak tadi dengan pertambahan tinggi badan.

  1. Tipe Hipertropik

Obesitas tipe ini biasanya terjadi pada orang dewasa, terutama pada wanita setelah hamil dan melahirkan atau pada pria yang mulai mapan dengan makan tidak terkontrol. Tipe hipertropik menunjukkan ukuran sel lemak tidak normal (berukuran besar), tetapi dengan jumlah sel lemak normal.

Ukuran sel lemak yang membesar dapat dikecilkan dengan meningkatkan penggunaan sel lemak sebagai energi, yaitu dengan mengurangi asupan energi total dan meningkatkan aktifitas fisik dan latihan fisik secara teratur.

Pengaturan Makan pada Obesitas

Pengaturan makan  dengan tujuan penurunan berat  badan, sebaiknya dapat menurunkan berat badan secara bertahap tanpa mengganggu keseimbangan metabolisme atau sampai menyiksa diri sendiri. Bahkan, diharapkan pengaturan  makan ini bisa menjadi suatu gaya hidup yang baik. Pengaturan makan yang bisa diterapkan untuk penurunan berat badan  adalah dengan diet rendah energi, seimbang dan teratur (REST). Diet REST ini dikembangkan oleh Rita Ramayulis DCN.,M.Kes.

Pada prinsipnya diet ini adalah menurunkan asupan energi total dengan tetap mengenyangkan. Seseorang dengan kegemukan, tetap dapat mengonsumsi makanan dengan volume yang sesuai, mengandung zat gizi lengkap dan seimbang, serta frekuensi makan minimal 3 kali sehari. Diet ini mengutamakan pemilihan bahan makanan dengan densitas energi rendah (DER). Densitas energi rendah adalah jumlah energi pada suatu hidangan makanan dalam berat atau volume tertentu. Suatu hidangan makanan dengan densitas energi rendah akan menyediakan energi relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang berdensitas energi lebih tinggi dalam berat yang sama. Konsumsi makanan dengan DER, telah dimasukkan dalam Dietary Guidelines for Americans 2005, sebagai strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Konsumsi makanan denagn DER dapat menurunkan berat badan secara bermakna. Penelitian dari Dewi, dkk (2013), menjelaskan bahwa kelompok yang mengonsumsi lebih  banyak makanan berdensitas energi rendah memiliki kualitas bahan makanan yang lebih baik dan indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi makanan berdensitas energi tinggi.

Pengelompokkan bahan makanan berdasarkan nilai densitas energi adalah sebagai berikut:

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sangat rendah. (0-60 kkal/100 gr)

Contoh: sari kedelai, telur ayam bagian putih, lobak, oyong, pare, terong, tomat, semangka, pepaya

  1. Bahan makanan dengan densitas energi rendah ( > 60 -150 kkal/100 gr)

Contoh: kentang, tahu, tempe, ikan bawal, ikan kakap, daun pepaya, pisang ambon, sirsak

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sedang ( > 150 – 400 kcal/100 gr)

Contoh: havermut,jagung, belut, daging sapi, ikan pindang, keju, selai, kopi, madu

  1. Bahan makanan dengan densitas energi tinggi ( > 400 – 900 kcal/100 gr)

Contoh: kacang tanah,ayam dengan kulit, kuning telur ayam, mentega, margarin, minyak kelapa

Sumber: Ramayulis R, 2014 Analisis Densitas Energi berdasarkan DKBM, Kemenkes 1996

 

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menurunkan berat badan adalah sebagai berikut:

  1. Gizi Seimbang

Dalam diet gizi seimbang tidak ada larangan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Dianjurkan  untuk mengonsumsi aneka ragam makanan sesuai kebutuhan dan bervariasi baik untuk kelompok makanan sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur dan buah.

  1. Cukup Minum

Dalam sehari kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter (8 gelas), tetapi saat menjalankan diet penurunan berat badan, kebutuhan air meningkat 50 cc untuk setiap kilogram berat badan.

  1. Aktifitas Fisik dan Lakukan Olahraga secara Teratur

Pada tahun 2002, WHO mencanangkan gerakan Move for Health, yang berisi rekomendasi utama untuk melakukan minimal 30 menit aktifitas fisik secara reguler dalam 5 hari seminggu. Jika seseorang melatih otot, setiap saat otot juga akan mempunyai kemampuan lebih untuk membakar lemak.

  1. Kelola Emotional Eating

Emotional Eating  yaitu. suatu kebiasaan makan berlebihan dalamjumlah  besar hanya karena nafsu dan perasaan yang disebabkan oleh emosi, bukan karena lapar. Seseorang yang mengalami emotional eating cenderung untuk makan dalam jumlah berlebihan dan banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, garam dan minyak.

 

Referensi

Ramayulis  R. 2014.   Slim is Easy.  Jakarta : Penebar Plus +

Sudargo, Toto, dkk. 2014.  Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta

Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta : Graha Ilmu

 

Artikel ini ditulis oleh:

Bernadeth Dwi Wahyunani, AMG, RD

(Kepala Instalasi Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 Instalasi Gizi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Senin – Jumat, pk 07.00 – 14.00 WIB
Hari Minggu & tanggal merah tutup
Telepon : 0274 – 563333 ext 238

Mohon dapat memberikan rating

Obesitas 5/5 (1)

Obesitas atau kegemukan merupakan keadaan bertambahnya lemak tubuh yang ditandai oleh kenaikan berat badan dan peningkatan penumpukan lemak pada bagian tertentu khususnya di daerah perut. Obesitas atau kegemukan terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar, sehingga terjadi peningkatan rasio lemak dan lean  body tissue yang terlokalisir atau merata di seluruh tubuh.

Bagaimana cara menentukan obesitas?

  1. Menghitung Indeks Massa Tubuh

Perhitungan umum yang sering digunakan tanpa mempetimbangkan berat otot adalah IMT  (Indeks Massa Tubuh) atau  BMI ( Body Mass Index ).

Rumus IMT =        Berat badan ( kg ) : Tinggi badan x tinggi badan (m)

IMT ( kg/m2) Klasifikasi

Risiko Kesakitan

< 18,5 Kurang Rendah
18,5 – 22,9 Normal Rata-rata
> 23 Overweight (kelebihan berat badan)
23,0 – 26,9 Pra obesitas Meningkat
≥ 27,0 Obesitas Tinggi

Sumber : WHO, 2004

Bila berat badan seseorang adalah  68 kg dengan tinggi badan 155 cm, maka IMT -nya adalah  28, 3 kg/m2, artinya berdasarkan IMT termasuk obesitas.

  1. Menghitung Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP)

Rasio lingkar pinggang dan panggul merupakan salah satu cara pengukuran antropometri yang dapat menilai obesitas sentral dan juga menilai risiko terkena penyakit kardiovaskuler. Cara mengukur lingkar pinggang yang paling mudah adalah dengan meletakkan satu jari di atas pusar Anda, setelah itu lingkari meteran pada daerah tersebut. Untuk mengukur lingkar panggul dapat dilakukan dengan cara menentukan daerah panggul yang paling menonjol dan gunakan metlin untuk mengukur.

Rumus RLPP =           lingkar pinggang (cm)  : lingkar panggul (cm)

Parameter Rasio Lingkar Pinggang  Panggul (RLPP)

Jenis kelamin Tidak Obes

Obes

Laki-laki ≤ 0,90 >0,90
Perempuan ≤ 0,80 >0,80

Sumber : Eston et al.,2009

Contoh : bila seorang laki-laki mempunyai lingkar pinggang 100 cm dengan lingkar pinggul 90 cm, maka RLPP-nya adalah 100 : 90 = 1,1. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa laki-laki ini mengalami obesitas sentral dan berisiko untuk menderita penyakit kardiovaskuler, sesuai dengan hasil penelitian prospektif yang menunjukkan bahwa rasio lingkar pinggang dan panggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler (Supariasa, 2002)

Tipe-tipe Obesitas

  1. Tipe Android (Tipe buah Apel)

Tipe android menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak yang terdapat pada bagian visceral dan bagian atas tubuh, seperti yang terlihat pada buah apel. Tipe ini banyak terjadi pada pria dan wanita yang telah mengalami menopause karena hormon estrogen tidak lagi diproduksi.

Jenis timbunan lemak pada bagian atas tubuh adalah asam  lemak jenuh. Seseorang dengan timbunan lemak jenuh tinggi dalam tubuh beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan metabolisme glukosa dan lemak seperti penyakit diabetes mellitus,penyakit jantung koroner, stroke dan tekanan darah tinggi. Orang dengan tipe kegemukan seperti ini mempunyai kemungkinan terkena kanker payudara enam kali lebih besar dibandingkan orang yang memiliki berat tubuh normal. Lemak jenuh  merupakan lemak yang lebih  mudah dibakar. Bila seseorang memiliki timbunan lemak lebih banyak pada bagian atas ( lengan atas, belakang bra, pinggang dan perut) dianjurkan untuk segera melakukan diet dan olah raga secara teratur.

  1. Tipe Ginoid ( Tipe buah Pir )

Tipe ginoid menunjukkan distribusi dan akumulasi dominan jaringan lemak pada bagian bawah tubuh, yaitu di daerah panggul dan paha. Tipe ini banyak terdapat pada wanita.

Jenis lemak yang tertimbun pada daerah panggul dan paha jenisnya adalah lemak tidak jenuh yang lebih sulit untuk dibakar. Kegemukan tipe ini lebih aman terhadap risiko penyakit kardiovaskuler. Pada kegemukan tipe ini,perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah lemak tubuh bagian atas sudah normal atau belum. Jika normal, untuk penurunan berat badan tidak dianjurkan untuk diet ketat karena akan semakin menghabiskan lemak bagian atas tubuh, yang kemungkinan akan menyebabkan antara lain pipi menjadi kempot dan payudara mengecil. Yang penting untuk dilakukan adalah, melatih otot-otot di sekitar panggul dan paha.Jika massa otot lebih besar dari lemak, penampilan panggul dan paha akan terkesan lebih langsing.

  1. Tipe Hiperplastik

Tipe ini biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe hiperplastik menunjukkan sel lemak berlebih, tetapi ukurannya sesuai dengan ukuran sel lemak normal. Jumlah sel lemak yang banyak pada anak-anak akan sulit untuk diturunkan ketika masa pertumbuhan telah berakhir. Anak-anak yang gemuk harus ditingkatkan aktifitas fisiknya secara teratur untuk menyeimbangkan dengan sel lemak yang banyak tadi dengan pertambahan tinggi badan.

  1. Tipe Hipertropik

Obesitas tipe ini biasanya terjadi pada orang dewasa, terutama pada wanita setelah hamil dan melahirkan atau pada pria yang mulai mapan dengan makan tidak terkontrol. Tipe hipertropik menunjukkan ukuran sel lemak tidak normal ( berukuran besar), tetapi dengan jumlah sel lemak normal.

Ukuran sel lemak yang membesar dapat dikecilkan dengan meningkatkan penggunaan sel lemak sebagai energi, yaitu  dengan mengurangi asupan energi total dan meningkatkan aktifitas fisik dan latihan fisik secara teratur.

 

Pengaturan Makan pada Obesitas

Pengaturan makan  dengan tujuan penurunan berat  badan, sebaiknya dapat menurunkan berat badan secara bertahap tanpa mengganggu keseimbangan metabolisme atau sampai menyiksa diri sendiri. Bahkan, diharapkan pengaturan  makan ini bisa menjadi suatu gaya hidup yang baik. Pengaturan makan yang bisa diterapkan untuk penurunan berat badan  adalah dengan diet rendah energi, seimbang dan teratur (REST). Diet REST ini dikembangkan oleh Rita Ramayulis DCN.,M.Kes.

Pada prinsipnya diet ini adalah menurunkan asupan energi total dengan tetap mengenyangkan,. Seseorang dengan kegemukan, tetap dapat mengonsumsi makanan dengan volume yang sesuai, mengandung zat gizi lengkap dan seimbang, serta frekuensi makan minimal 3 kali sehari. Diet ini mengutamakan pemilihan bahan makanan dengan densitas energi rendah (DER). Densitas energi rendah adalah jumlah energi pada suatu hidangan makanan dalam berat atau volume tertentu. Suatu hidangan makanan dengan densitas energi rendah akan menyediakan energi relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang berdensitas energi lebih tinggi dalam berat yang sama. Konsumsi makanan dengan DER, telah dimasukkan dalam Dietary Guidelines for Americans 2005, sebagai strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Konsumsi makanan denagn DER dapat menurunkan berat badan secara bermakna. Penelitian dari Dewi, dkk (2013), menjelaskan bahwa kelompok yang mengonsumsi lebih  banyak makanan berdensitas energi rendah memiliki kualitas bahan makanan yang lebih baik dan indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi makanan berdensitas energi tinggi.

Pengelompokkan bahan makanan berdasarkan nilai densitas energi

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sangat rendah. (0-60 kkal/100 gr)

Contoh sari kedelai, telur ayambagian putih, lobak,oyong, pare, terong, tomat, semangka, pepaya.

  1. Bahan makanan dengan densitas energi rendah ( > 60 -150 kkal/100 gr)

Contoh kentang, tahu, tempe, ikan bawal, ikan kakap, daun pepaya, pisang ambon, sirsak

  1. Bahan makanan dengan densitas energi sedang ( > 150 – 400 kcal/100 gr)

Contoh : havermut,jagung, belut, daging sapi, ikan pindang, keju, selai, kopi, madu

  1. Bahan makanan dengan densitas energi tinggi ( > 400 – 900 kcal/100 gr)

Contoh : kacang tanah,ayam dengan kulit, kuning telur ayam, mentega,margarin, minyak kelapa

Sumber  : Ramayulis R, 2014 Analisis Densitas Energi berdasarkan DKBM, Kemenkes 1996

 

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menurunkan berat badan adalah :

  1. Gizi seimbang

Dalam diet gizi seimbang tidak ada larangan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Dianjurkan  untuk mengonsumsi aneka ragam makanan sesuai kebutuhan dan bervariasi baik untuk kelompok makanan sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur dan buah

  1. Cukup minum

Dalam sehari kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter ( 8 gelas ), tetapi saat menjalankan diet penurunan berat badan, kebutuhan air meningkat 50 cc untuk setiap kilogram berat badan.

  1. Aktifitas fisik dan lakukan olah raga secara teratur

Pada tahun 2002, WHO mencanangkan gerakan Move for Health, yang berisi rekomendasi utama untuk melakukan minimal 30 menit aktifitas fisik secara reguler dalam 5 hari seminggu. Jika seseorang melatih otot, setiap saat otot juga akan mempunyai kemampuan lebih untuk membakar lemak.

  1. Kelola emotional eating

Emotional Eating  yaitu suatu kebiasaan makan berlebihan dalamjumlah  besar hanya karena nafsu dan perasaan yang disebabkan oleh emosi, bukan karena lapar. Seseorang yang mengalami emotioal eating cenderung untuk makan dalam jumlah berlebihan , dan banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, garam dan minyak

 

Referensi 

Ramayulis  R. 2014.   Slim is Easy.  Jakarta : Penebar Plus +

Sudargo, Toto, dkk. 2014.  Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta

Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta : Graha Ilmu

 

 

Artikel ini ditulis oleh:
Bernadeth Dwi Wahyunani, AMG, RD
(Kepala Instalasi Pelayanan Gizi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gizi
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating