Stroke: Kenali dan Cegah Sejak Dini

Stroke merupakan penyakit dengan gejala gangguan fungsi saraf otak yang disebabkan gangguan pembuluh darah otak. Gejala stroke ini yang berlangsung lebih dari 24 jam dan bukan disebabkan oleh sebab lain seperti tumor otak, infeksi otak atau trauma. Berdasarkan penyebabnya, stroke dibedakan menjadi 2 jenis yaitu stroke penyumbatan dan stroke perdarahan. Delapan puluh persen penderita stroke merupakan stroke penyumbatan, sedangkan stroke perdarahan sebanyak 20%. Selain itu, kita mungkin mengenal istilah TIA (transient iskemic attack) atau stroke mini. Walaupun gejalanya serupa dengan stroke, TIA ini tidak masuk dalam penyakit stroke karena gejalanya bisa pulih kembali dalam waktu 24 jam.

Angka kejadian stroke di Indonesia adalah sekitar 10,9 individu per 1000 individu. Angka kejadian stroke paling tinggi terdapat di provinsi Kalimantan Timur dengan 14,7 per 1000 individu. Di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, prevalensi stroke berdasarkan Riskesdas 2018 ini cukup tinggi yakni 14,6 per 1000 individu. Data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian utama dari seluruh penyebab kematian untuk semua kelompok umur yakni sebesar 21,1%.  Di samping itu, stroke juga menyebabkan kecacatan yang akan menurunkan status kesehatan dan kualitas hidup serta menambah beban biaya kesehatan yang ditanggung oleh keluarga dan negara.

Beberapa penelitian menunjukkan penderita stroke datang pertama kali ke klinik umum atau praktik rawat jalan. Bahkan, ada sebagian penderita yang sampai menunda ke rumah sakit apabila gejalanya tidak berat. Akibatnya, penanganan stroke spesifik pada masa hiperakut menjadi terlambat. Sebagian orang juga belum bisa mengenali gejala stroke sejak dini. Berikut ini adalah tips mudah untuk mengenali gejala dan tanda-tanda stroke yaitu dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yaitu

  • Senyum tidak simetris/moncong ke satu sisi, tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba,
  • Gerak anggota tubuh melemah tiba-tiba
  • BicaRapelo/tiba-tiba tidak dapat bicara/tidak mengerti berkata-kata/bicara tidak nyambung
  • Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuh
  • Rabun pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba,
  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah di rasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit di koordinasi.

Setelah mengenali gejala stroke di atas, apabila kita menjumpai orang yang mengalami gejala di atas secara tiba-tiba maka harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat rumah sakit.

Stroke merupakan kasus emergensi yang memerlukan penanganan segera. Penderita stroke akut harus mendapatkan penanganan secepat mungkin karena ada periode emas penanganan stroke agar penderita dapat tertolong dan risiko kematian atau kecacatan permanen dapat dikurangi. Periode emas ini merupakan waktu yang sangat berharga dalam penanganan stroke, yakni kurang dari 4,5 jam sejak gejala dan tanda stroke pertama kali muncul sampai dilakukan penanganan stroke di rumah sakit. Karena proses pemeriksaan sampai pengobatan membutuhkan waktu maksimal lebih kurang 2,5 jam maka penderita diharapkan sudah harus tiba di rumah sakit dalam waktu kurang dari 2 jam.

Lalu apakah stroke dapat dicegah?

Ya, Sembilan puluh persen stroke yang terkait dengan sepuluh perilaku berisiko yang dapat dicegah. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan stroke:

  • Kontrol tekanan darah
  • Lakukan olahraga ringan minimal selama 30 menit lima kali seminggu
  • Makan makanan yang seimbang dan sehat (kurangi garam, perbanyak buah dan sayuran)
  • Kontrol kadar kolesterol
  • Pertahankan berat badan yang seimbang
  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol
  • Periksa dan obati penyakit jantung
  • Kurangi risiko penyakit diabetes
  • Dapatkan pengetahuan tentang stroke

Bagaimana jika sudah terkena stroke?

Penderita stroke memiliki kemungkinan terkena stroke kedua, ketiga atau kesekian kalinya. Stroke berulang seringkali lebih berat dibandingkan dengan setroke yang terjadi sebelumnya karena kerusakan otak yang semakin banyak. Oleh karena itu, penderita stroke harus tetap berperilaku sehat dengan mengendalikan faktor-faktor risiko, modifikasi gaya hidup sehat, dan melakukan fisioterapi rutin.

Tanggal 29 Oktober 2020 kemarin merupakan hari stroke sedunia. Hari stroke sedunia tahun ini mengusung tema “Join the Movement”. Melalui tema ini, kita diingatkan untuk senantiasa tetap aktif bergerak walaupun dalam masa pandemi ini. Tetap aktif di sini dimaksudkan tidak hanya terkait olahraga saja, namun cukup di rumah saja dengan melakukan peregangan ringan minimal 30 menit sehari. Dengan melakukan hal itu, dapat menurunkan risiko terjadinya stroke pada satu dari empat orang. Untuk mengurangi risiko terkena stroke dianjurkan untuk setiap individu meningkatkan gaya hidup sehat dengan perilaku “CERDIK”, yaitu dengan Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Sudahkah kita melakukannya?

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Baruno Adi Christiantoro, Sp.S (Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Posted in Artikel Kesehatan and tagged , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *