Senam Kaki Diabetes No ratings yet.

Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah, memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki (deformitas).

Langkah-langkah Senam Kaki Diabetes sebagai berikut:
1. Latihan senam kaki dapat dilakukan dengan posisi berdiri, duduk, dan tidur
2. Senam kaki dapat dilakukan dengan cara menggerakan kaki dan sendi-sendi kaki misalnya berdiri dengan kedua tumir diangkat, mengangkat kaki dan menurunkan kaki
3. Gerakan dapat berupa gerakan menekuk, meluruskan, mengangkat memutar keluar atau kedalam. Selain itu, gerakan mencengkram dan meluruskan jari-jari kaki juga menjadi bagian dari senam kaki diabetes
4. Latihan senam kaki diabetes, dapat dilakukan setiap hari secara teratur, dimana saja. Bisa sambil bersantai bersama keluarga maupun menonton televisi. Ketika kaki terasa dingin, lakukan senam kaki diabetes

 

Informasi Pelayanan : 
Instalasi Rehabilitasi Medik
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Senin – Sabtu pk 07.00 – 16.00 WIB
Hari Minggu & tanggal merah tutup

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Pelayanan Geriatrik di RS Panti Rapih No ratings yet.

Geriatri adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan pada usia lanjut. Menurut UU RI no 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia menyebutkan bahwa individu usia lanjut adalah seseorang yang berumur  ≥ 60 tahun.

Pada usia lanjut disamping mempunyai berbagai penyakit degeneratif juga dampak proses menua semakin nyata pada tingkat organ, sistem, dan status fungsional. Pelayanan geriatrik meliputi 2 hal yaitu, pelayanan kesehatan (medical services) dan pelayanan aspek sosial (social services). Tujuan pelayanan geriatrik meliputi memperpanjang kehidupan (quantity of life) mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup (quality of life), dan mengantar pasien pada akhir kehidupan yang bermartabat (death in dignity).

Karakteristik Pasien Geriatrik
Pasien usia lanjut tidak sama dengan pasien geriatrik. Multipatologik (penyakit kronik multipel) yang kadang tumpang tindih dengan kondisi akut, polifarmasi yang berakibat kondisi medik kompleks, gejala penyakit tidak spesifik, hubungan perbaikan parameter klinik dengan perbaikan status fungsional yang tidak linier, mutlak perlu rehabilitasi mental dan fisik, terkadang ada masalah etiko–legal seperti kondisi setting limit, edukasi berita buruk (bad news), edukasi prognosis pasien. Kesemua ciri diatas adalah karakteristik pasien geriatrik.

Paradigma Pelayanan Geriatrik
Ada beberapa aspek penting yang disebut sebagai paradigma pelayanan geriatrik yaitu:
â—Ź Multidisiplin dengan pendekatan interdisiplin
â—Ź Setting priority artinya prioritas masalah dari kondisi klinik kompleks yang mengancam jiwa (life treatning), mengancam status fungsional (potential morbidity), dan pilihan pasien
â—Ź Lebih memperhatikan kualitas hidup dari pada kuantitas hidup
â—Ź Perawatan lanjutan dan berkesinambungan
● Elaborasi masalah etiko–legal

Aplikasi Klinik Praktis
Dalam pelayanan geriatrik di Rumah Sakit, aplikasi klinik dari aspek praktisnya adalah:
â—Ź Perlu kerjasama dengan disiplin lain dalam mengatasi problem klinik atau geriatrician melakukan pendekatan multidimensi sehingga tujuan (goals) perawatan geriatrik yang rasional
â—Ź Perlu dikembangkan jenis pelayanan lain seperti day car, homecare, chronic care, disamping jenis pelayanan konvensional yang sudah ada seperti poli klinik, rawat inap, dan intensive care
● Dalam beberapa kesempatan perlu adanya diskusi medika – etiko – legal untuk menyelesaikan problem yang kompleks misalnya: informasi penyakit kanker
dan lain-lain, kondisi setting limit, pemahaman dan penguatan keluarga dalam perawatan di rumah
● Perlu perkumpulan pasien lansia yang rutin tiap bulan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dalam rangka edukasi dan mengisi waktu luang

Baca juga link terkait:
https://pantirapih.or.id/rspr/klinik-geriatri/
https://pantirapih.or.id/rspr/telemedicine/

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Ida I Dewa Putu Pramantara Setiabudi, Sp.PD.,K.Ger

 

Klinik Golden Care RS Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 1 Gedung Lukas
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon : 0274-563333 ext 292
WA : 08112869710
Senin – Sabtu pk 07.00 – 14.00 WIB
Hari Minggu & Tanggal Merah Tutup

 

Mohon dapat memberikan rating

Bersahabat dengan Diabetes Mellitus dengan Pengaturan Makan yang Tepat No ratings yet.

Saat ini masyarakat sudah sering mendengar tentang penyakit Diabetes Melitus (DM) yang memang prevalensinya di Indonesia mulai meningkat.

Meningkatnya prevalensi diabetes melitus di beberapa negara berkembang akibat dari peningkatan kemakmuran di negara bersangkutan. Di Indonesia penyandang DM tipe I sangat jarang. Kasus DM tipe 1 mempunyai latar belakang berupa kurangnya insulin secara absolut akibat proses autoimun. Lain halnya dengan DM tipe 2 yang meliputi lebih 90% dari semua populasi diabetes. Pada tipe ini umumnya mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin.

Banyak pasien yang telah terdiagnosis diabetes tidak mengetahui apa yang harus dilakukan agar diabetes ini terkelola dengan baik dan kualitas hidup tetap terjaga. Yang banyak terjadi adalah pasien hanya mengandalkan sepenuhnya pada obat berkhasiat hipoglikemik, tanpa memperhatikan pilar lain yang juga berpengaruh
pada pengelolaan DM. Menurut konsensus PERKENI (Perhimpunan Endokrinologi Indonesia) tahun 2006, penanganan diabetes terdiri dari 4 pilar utama yaitu perencanaan makan, latihan jasmani, obat berkhasiat hipoglikemi, dan penyuluhan/edukasi.

Bagaimana merencanakan makan bagi diabetisi (penderita diabetes mellitus)?
Untuk merencanakan makan pada diabetisi, pasien dapat berkonsultasi gizi dengan ahli gizi yang mereka temui. Ahli Gizi akan memandu pasien mengatur makanan sesuai dengan kebutuhan gizi masing-masing individu. Sebelum merencanakan makan bagi diabetisi, pasien harus mengetahui tujuan dari perencanaan makan pada diabetisi. Tujuan dari perencanaan makan ini adalah mengendalikan atau mengatur kadar gula darah dan lipida darah pada kondisi normal sehingga dapat menghindari atau mengurangi resiko terjadinya komplikasi kronis, mendapatkan dan mempertahankan berat badan normal/ideal, dan mengusahakan status gizi yang baik. Ada 3 prinsip dalam merencanakan makan pada diabetisi yang biasa disebut prinsip tepat 3J yaitu, tepat Jadwal, tepat Jumlah, dan tepat Jenis.

1. Tepat Jadwal
Jadwal makan harus teratur yang terdiri dari 3 kali makanan utama dan 3 kali makanan selingan / cemilan dengan interval/ jarak waktu sekitar 3 jam. Jadwal makan ini
dapat bersifat fleksibel disesuaikan dengan kebiasaan pasien sehari-harinya.

2. Tepat Jumlah
Jumlah makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan energi masing-masing.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan energi adalah :
1) Jenis kelamin
Kebutuhan kalori basal untuk wanita adalah 25 kcal/kg BBI (berat badan ideal) dan untuk pria 30 kcal/kg BBI.
2) Umur
Ada penurunan kebutuhan kalori dari kalori basal sesuai umur,
yaitu umur 40-59 tahun dikurangi 5%, 60-69 tahun dikurangi 10%, dan ≥ 70 tahun dikurangi 20% dari kalori basal.
3) Aktivitas fisik atau pekerjaan
Ada penambahan kebutuhan kalori dari kalori basal sesuai jenis aktivitas, yaitu :
• Keadaan istirahat, ditambah 10%
• Aktivitas ringan seperti pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga, ditambah 20%
• Aktivitas sedang seperti pegawai di industri ringan, mahasiswa, militer yang tidak sedang perang, ditambah 30%
• Aktivitas berat seperti petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit, ditambah 40%
• Sangat berat seperti tukang becak, tukang gali, pandai besi, kebutuhan ditambah 50%
4) Kehamilan/menyusui
• Awal kehamilan ditambah 150 kcal/hari
• Pada trimester II dan III ditambah 350kcal/hari
• Menyusui ditambah 550 kcal/hari
5) Adanya komplikasi yang menyebabkan kenaikan suhu seperti demam memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat celsius.
6) Berat badan
Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambahan sekitar 20-30%. Untuk komposisi zat gizi dibagi menjadi 45-65 % dari karbohidrat, 10-20 % dari protein, dan 20-25% dari lemak.

3. Tepat Jenis
1) Jenis makanan yang dihindari adalah gula murni/sederhana seperti gula pasir (sukrosa), gula merah, gula aren, gula batu. Hindari juga makanan dan minuman yang dibuat dengan gula murni seperti selai, manisan, cake/bolu, wajik, sirup, susu kental manis, minuman mengandung gula. Sebagai pengganti gula murni dapat digunakan gula pengganti yang mengandung aspartam atau sukralose, tetapi penggunaannya tidak berlebihan.
Penggunaan gula murni sedikit dalam bumbu diperbolehkan yaitu tidak boleh lebih dari 5% energi.
2) Jenis makanan yang dibatasi seperti makanan pokok bisa bervariasi seperti nasi (lebih baik nasi beras tumbuk atau nasi beras merah karena kandungan serat tinggi), havermut, jagung rebus, roti gandum/bekatul, kentang, mie. Sumber karbohidrat ini dikonsumsi sesuai kebutuhan.
3) Pilih jenis cemilan atau selingan yang rendah kalori dan tinggi serat seperti cincau, camcau, agar-agar, puding, rumput laut, pisang rebus.
4) Sertakan rebusan sayuran dalam makanan seperti rebusan buncis, pare, labu siam atau sayur bening seperti terong, gambas/ oyong, karena tinggi serat larut airnya.
5) Pilih buah dan sayur yang mengandung air dan banyak serat seperti apel dan pear dengan kulitnya, jeruk dengan ampasnya, belimbing, melon, semangka (bagian putih dekat kulit disertakan, timun dan tomat.
6) Batasi asupan lemak dan kolesterol dengan membiasakan membuang lemak atau gajih pada daging sebelum dimasak. Gunakan minyak goreng dalam jumlah
terbatas dengan cara menghindari kebiasaan menggoreng makanan dengan minyak banyak tetapi biasakan memasak dengan cara menumis, memepes, mengukus,
merebus, dan memanggang. Setelah mengetahui prinsip 3 J tersebut, seorang diabetisi akan mudah menjalani diet DM. Tentu saja diabetisi masih harus rutin kontrol atau konsultasi gizi ulang mengenai diet yang sudah dijalankan. Melalui konsultasi gizi ini pasien dapat menjelaskan apa yang sudah dijalani dalam pengaturan diet ini, masalah apa yang timbul dalam menjalani diet ini, dan keberhasilan setelah menjalankan diet apakah sudah sesuai dengan tujuan dietnya. Ahli gizi akan mengevaluasi dan mendiskusikan kembali dengan pasien langkah atau komitmen selanjutnya agar masalah teratasi dan tujuan diet tercapai. Dengan pengaturan makan yang tepat, diabetisi akan lebih bersahabat dengan diabetesnya.

 

Artikel ini ditulis oleh:

E.Widi Risnawati, SST.
(Ahli Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta)

Info Pelayanan :
Klinik Gizi RS Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Risiko Jatuh Pada Pasien Lanjut Usia 5/5 (1)

Keseimbangan Postur

Tubuh memiliki mekanisme untuk mempertahankan postur tetap tegak saat anda duduk, berdiri, maupun beraktivitas. Mekanisme ini merupakan kerja sama antara organ mata, vestibuler dan proploseptif yang diatur oleh pusat keseimbangan di otak kita. Apabila terjadi kerusakan atau kelainan pada salah satu organ tersebut maka akan terjadi gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan mengakibatkan anda berisiko mudah jatuh. Kondisi lingkungan, seperti permukaan tanah tidak rata, lantai basah, atau banyak undakan, juga akan mempengaruhi sistem keseimbangan anda.

Apakah Anda Berisiko Mudah Jatuh?

Apabila anda memiliki satu atau lebih tanda-tanda di bawah ini, maka anda memiliki risiko gangguan keseimbangan dan mudah jatuh.

  • Gangguan pola berjalan: berjalan dengan diseret, menghentak, berayun
  • Gangguan pendengaran dan/atau penglihatan
  • Vertigo, mudah pusing, atau pingsan pada posisi tegak
  • Kelemahan otot sebagian atau seluruh tubuh, dengan/tanpa menggunakan alat bantu jalan
  • Buang air kecil atau besar yang tidak terkontrol
  • Sakit sedang atau berat
  • Delirium atau kebingungan terhadap kondisi sekitar
  • Konsumsi obat-obat berisiko tinggi (misal: obat penenang, obat hipertensi, obat diabetes, obat pencahar, obat deuretik)
  • Riwayat jatuh dalam waktu 12 bulan terakhir
  • Usia 70 tahun ke atas

 

Apa yang Harus Anda Lakukan untuk Mencegah Jatuh?

Saat di Rumah

  • Gunakan alas kaki yang tidak licin
  • Jaga lantai agar tidak licin atau basah
  • Gunakan alas pijakan karet di kamar mandi
  • Pasang hand rail di toilet atau kamar mandi
  • Pastikan pencahayaan di rumah cukup terang
  • Bila anda sedang sakit atau vertigo, jangan mengunci pintu di kamar mandi

Saat di Luar Rumah

  • Gunakan alas kaki yang tidak licin
  • Gunakan selalu alat bantu berjalan (tongkat, tripod/quadripod, walker, kursi roda, dll) sesuai yang telah direkomendasikan oleh dokter anda
  • Gunakan selalu alat bantu penglihatan dan/atau pendengaran sesuai yang telah direkomendasikan oleh dokter anda
  • Hindari jalan yang licin, basah, atau gelap
  • Minta keluarga atau teman anda mendampingi saat keluar rumah apabila gangguan keseimbangan anda cukup berat dan sangat mengganggu

Saat di Rumah Sakit

  • Perawat akan melakukan asesmen risiko jatuh setiap anda datang ke pelayanan geriatri
  • Apabila anda termasuk berisiko jatuh tinggi, perawat akan memasang stiker pada lengan bagian luar anda sebagai penanda anda berisiko jatuh tinggi
  • Stiker tanda risiko jatuh harus dipakai selama anda berada di lingkungan rumah sakit
  • Beritahukan dokter jenis obat-obatan yang rutin anda minum

 

 

Klinik Golden Care
Pelayanan Geriatri – Lantai 1 Gedung Lukas RS Panti Rapih
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon : 0274 – 514014, 514845, 563333 ext 292
Senin – Sabtu pk 07.00 – 14.00 WIB
Wa : 08112869710

Mohon dapat memberikan rating

Pelayanan Geriatri RS Panti Rapih No ratings yet.

Keberadaan lanjut usia (lansia) memegang peranan penting bagi pembangunan Indonesia. Hal ini mengingat bahwa salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup maka menyebabkan jumlah penduduk lansia semakin besar. Penduduk lansia sebagai modal pemerintah untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta menuntaskan target dan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015. Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia mengemukakan bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah penduduk lansia tahun 2013 sebesar 13,56% dari keseluruhan penduduk (BPS, 2013). Pemerintah mencatat Yogyakarta merupakan kota yang memiliki jumlah penduduk lanjut usia (lansia) tertinggi di Indonesia. Dari total penduduk di kota pelajar tersebut, diperkirakan, lansia mencapai 13,4 persen pada 2015, meningkat 14,7 persen (2020), dan 19,5 persen (2030).Besarnya jumlah penduduk lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta perlu menjadi perhatian tersendiri, mengingat di satu sisi semakin meningkatnya penduduk lansia berarti kualitas hidup semakin baik seiring semakin baiknya akses untuk mendapatkan fasilitas kesehatan sehingga usia harapan hidup meningkat.

Berbagai upaya harus dipersiapkan oleh lansia sendiri maupun keluarganya agar ke depan lansia tetap sehat, aktif, mandiri, dan produktif. Kesiapan lansia untuk tetap peduli pada masa depan dapat dilihat dari 5 (lima) dimensi, yaitu dimensi fisik, psikologis, mental spiritual, sosial kemasyarakatan, dan pengembangan potensi. Keluarga memiliki peranan penting dalam membina kesiapan lansia untuk tetap peduli masa depan, harapannya agar terwujud kualitas keluarga yang sejahtera lahir dan batin. Rumah Sakit Panti Rapih sebagai rumah sakit yang terus berinovasi juga merasa perlu adanya pelayanan kesehatan terpadu yang secara khusus berorientasi kepada pasien-pasien lanjut usia. Menurut survey di RS 7,9% pasien Rumah Sakit Panti Rapih adalah pasien lansia.

Peningkatan populasi lansia ini juga berimbas pada pembentukan kebijakan Permenkes nomor 79 tahun 2014 untuk menyelanggarakan pelayanan geriatri terpadu di Rumah Sakit dengan pendekatan multidisiplin yang bekerja secara interdisiplin yang bertujuan :

  1. Meningkatkan kualitas hidup, kualitas pelayanan dan keselamatan pasien lanjut usia di Rumah Sakit Panti Rapih.
  2. Rumah Sakit memiliki regulasi pelayanan untuk lanjut usia secara terpadu sesuai dengan tingkat pelayanan lanjut usia tingkat sempurna
  3. Rumah Sakit Panti Rapih mampu menyediakan layanan lanjut usia terpadu dengan pendekatan multi disiplin yang bekerja sama secara interdisiplin.
  4. Rumah Sakit Panti Rapih memberikan pelayanan secara bersahabat dengan lanjut usia di rawat jalan, rawat inap dan di masyarakat.
  5. Melaksanakan system monitoring dan evaluasi pelaksanaan pelayanan kepada lanjut usia secara terpadu.

Anggota tim inti dalam pelaksanaannya akan didukung oleh anggota terkait yang terdiri atas ahli berbagai bidang terait seperti Penyakit dalam, neurologi,gigi mulut, THT, kulit, orthopedi, bedah umum, bedah vaskuler, mata, obstetri dan gynekologi, urologi.

Pelayanan rawat jalan mengedepankan layanan one stop service, sehingga pasien usia lanjut akan mendapatkan pelayanan pada satu atap yang nyaman. Pelayanan rawat jalan ini akan ditunjang dengan beberapa pelayanan penunjang seperti radiologi, farmasi, dan laboratorium.

Produk layanan unggulan di RS Panti Rapih adalah Rawat jalan/poliklinik geriatri yang meliputi klinik assesment geriatri, klinik penyakit dalam geriatri, klinik rehabilitasi medik geriatri.

 

Informasi lebih lanjut hubungi:
Klinik Geriatri Golden Care Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 1 Gedung Lukas RS Panti Rapih
Jl Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Informasi : (0274) 514014 ext 292
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006
WhatsApp : 0811-2869-710

Mohon dapat memberikan rating

Stroke: Kenali dan Cegah Sejak Dini No ratings yet.

Stroke merupakan penyakit dengan gejala gangguan fungsi saraf otak yang disebabkan gangguan pembuluh darah otak. Gejala stroke ini yang berlangsung lebih dari 24 jam dan bukan disebabkan oleh sebab lain seperti tumor otak, infeksi otak atau trauma. Berdasarkan penyebabnya, stroke dibedakan menjadi 2 jenis yaitu stroke penyumbatan dan stroke perdarahan. Delapan puluh persen penderita stroke merupakan stroke penyumbatan, sedangkan stroke perdarahan sebanyak 20%. Selain itu, kita mungkin mengenal istilah TIA (transient iskemic attack) atau stroke mini. Walaupun gejalanya serupa dengan stroke, TIA ini tidak masuk dalam penyakit stroke karena gejalanya bisa pulih kembali dalam waktu 24 jam.

Angka kejadian stroke di Indonesia adalah sekitar 10,9 individu per 1000 individu. Angka kejadian stroke paling tinggi terdapat di provinsi Kalimantan Timur dengan 14,7 per 1000 individu. Di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, prevalensi stroke berdasarkan Riskesdas 2018 ini cukup tinggi yakni 14,6 per 1000 individu. Data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian utama dari seluruh penyebab kematian untuk semua kelompok umur yakni sebesar 21,1%.  Di samping itu, stroke juga menyebabkan kecacatan yang akan menurunkan status kesehatan dan kualitas hidup serta menambah beban biaya kesehatan yang ditanggung oleh keluarga dan negara.

Beberapa penelitian menunjukkan penderita stroke datang pertama kali ke klinik umum atau praktik rawat jalan. Bahkan, ada sebagian penderita yang sampai menunda ke rumah sakit apabila gejalanya tidak berat. Akibatnya, penanganan stroke spesifik pada masa hiperakut menjadi terlambat. Sebagian orang juga belum bisa mengenali gejala stroke sejak dini. Berikut ini adalah tips mudah untuk mengenali gejala dan tanda-tanda stroke yaitu dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yaitu

  • Senyum tidak simetris/moncong ke satu sisi, tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba,
  • Gerak anggota tubuh melemah tiba-tiba
  • BicaRapelo/tiba-tiba tidak dapat bicara/tidak mengerti berkata-kata/bicara tidak nyambung
  • Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuh
  • Rabun pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba,
  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah di rasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit di koordinasi.

Setelah mengenali gejala stroke di atas, apabila kita menjumpai orang yang mengalami gejala di atas secara tiba-tiba maka harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat rumah sakit.

Stroke merupakan kasus emergensi yang memerlukan penanganan segera. Penderita stroke akut harus mendapatkan penanganan secepat mungkin karena ada periode emas penanganan stroke agar penderita dapat tertolong dan risiko kematian atau kecacatan permanen dapat dikurangi. Periode emas ini merupakan waktu yang sangat berharga dalam penanganan stroke, yakni kurang dari 4,5 jam sejak gejala dan tanda stroke pertama kali muncul sampai dilakukan penanganan stroke di rumah sakit. Karena proses pemeriksaan sampai pengobatan membutuhkan waktu maksimal lebih kurang 2,5 jam maka penderita diharapkan sudah harus tiba di rumah sakit dalam waktu kurang dari 2 jam.

Lalu apakah stroke dapat dicegah?

Ya, Sembilan puluh persen stroke yang terkait dengan sepuluh perilaku berisiko yang dapat dicegah. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan stroke:

  • Kontrol tekanan darah
  • Lakukan olahraga ringan minimal selama 30 menit lima kali seminggu
  • Makan makanan yang seimbang dan sehat (kurangi garam, perbanyak buah dan sayuran)
  • Kontrol kadar kolesterol
  • Pertahankan berat badan yang seimbang
  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol
  • Periksa dan obati penyakit jantung
  • Kurangi risiko penyakit diabetes
  • Dapatkan pengetahuan tentang stroke

Bagaimana jika sudah terkena stroke?

Penderita stroke memiliki kemungkinan terkena stroke kedua, ketiga atau kesekian kalinya. Stroke berulang seringkali lebih berat dibandingkan dengan setroke yang terjadi sebelumnya karena kerusakan otak yang semakin banyak. Oleh karena itu, penderita stroke harus tetap berperilaku sehat dengan mengendalikan faktor-faktor risiko, modifikasi gaya hidup sehat, dan melakukan fisioterapi rutin.

Tanggal 29 Oktober 2020 kemarin merupakan hari stroke sedunia. Hari stroke sedunia tahun ini mengusung tema “Join the Movement”. Melalui tema ini, kita diingatkan untuk senantiasa tetap aktif bergerak walaupun dalam masa pandemi ini. Tetap aktif di sini dimaksudkan tidak hanya terkait olahraga saja, namun cukup di rumah saja dengan melakukan peregangan ringan minimal 30 menit sehari. Dengan melakukan hal itu, dapat menurunkan risiko terjadinya stroke pada satu dari empat orang. Untuk mengurangi risiko terkena stroke dianjurkan untuk setiap individu meningkatkan gaya hidup sehat dengan perilaku “CERDIK”, yaitu dengan Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Sudahkah kita melakukannya?

 

Ditulis oleh:
dr. Baruno Adi Christiantoro, Sp.S
(Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Gangguan Saraf Akibat Penyakit Gula 5/5 (1)

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Klinik Saraf Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Apa Itu Demensia? No ratings yet.

Lupa adalah hal yang manusiawi. Akan tetapi, terkadang kita menjumpai seseorang yang amat pelupa hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari dan mengganggu interaksinya dengan lingkungan sekitar. Masyarakat menyebut kondisi tersebut dengan istilah “pikun”. Dalam ilmu kedokteran, kepikunan ini disebut sebagai demensia. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan kepikunan atau demensia?

Demensia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pada “fungsi luhur” manusia, yang meliputi atensi/perhatian, bahasa, memori/daya ingat, pengenalan ruang dan waktu, serta fungsi eksekutif (perencanaan dan pengorganisasian). Gangguan “fungsi luhur” pada demensia tersebut pada akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan interaksi sosial. Orang yang mengalami demensia akan sering mengucapkan hal yang sama berulang-ulang, kesulitan untuk mengingat atau mempelajari hal baru, kesulitan dalam berkomunikasi atau merangkai kata, kebingungan terhadap waktu atau tempat, dan kesulitan dalam mengambil keputusan. Aktivitas sehari-hari yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah, seperti berpakaian, makan, dan mandi, menjadi hal yang lebih sulit bagi seseorang dengan demensia. Bahkan terkadang mereka dapat tersesat bahkan ketika sedang berjalan menuju rumahnya sendiri. Seseorang dengan demensia juga akan mengalami perubahan perilaku dan emosi, seperti mudah curiga, dan menjadi lebih sering menyendiri. Hal tersebut tidak disadari oleh penderitanya, tetapi dirasakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi ini akan semakin memburuk seiring waktu.

Demensia lebih sering muncul pada usia lanjut, sehingga tidaklah heran jika demensia sering disebut sebagai “penyakit tua”. Meningkatnya populasi lansia secara tidak langsung juga meningkatkan angka kejadian demensia secara umum. Demensia tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah. Gaya hidup sehat adalah kunci utama untuk mencegah demensia. Makan makanan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, dan mengelola stress adalah tiga hal yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia. Gaya hidup sehat akan menurunkan risiko penyakit hipertensi, memperbaiki keseimbangan lemak darah (kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL), mencegah obesitas, dan memperbaiki keseimbangan kadar gula darah, sehingga secara tidak langsung juga akan menurunkan risiko demensia. Bagi seseorang yang telah terdiagnosis demensia, upaya-upaya di atas tetap harus dilakukan untuk mencegah semakin memburuknya demensia yang dialami. Dukungan sosial adalah faktor lain yang sangat penting bagi penderita demensia. Pengabaian dari orang-orang di sekeliling akan semakin memperburuk demensia yang dialami.

Terdapat beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi dini demensia. Mini Mental Satte Examination dan Clock Drawing Test adalah dua pemeriksaan yang paling sering digunakan untuk mendeteksi demensia. Pada pemeriksaan tersebut, pasien akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan dan melakukan beberapa instruksi yang dipandu oleh dokter atau tenaga terlatih. Setiap jawaban yang disampaikan akan menentukan derajat kepikunan seseorang. Apabila kita menjumpai seseorang yang kita curigai mengalami demensia, segeralah bawa mereka ke dokter spesialis saraf atau ke klinik memori. Semakin lama tidak terdeteksi dan tidak tertangani, maka akan semakin buruk demensia yang dialami. Semakin buruk demensia yang dialami, maka akan semakin menurun kualitas hidup penderitanya.

 

di susun oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Rumah Sakit Panti Rapih)

Mohon dapat memberikan rating

Pelayanan Geriatrik di Rumah Sakit No ratings yet.

Geriatri adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan pada usia lanjut. Menurut UU RI no 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia menyebutkan bahwa individu usia lanjut adalah seseorang yang berumur ≥ 60 tahun. Pada usia lanjut disamping mempunyai berbagai penyakit degeneratif juga dampak proses menua semakin nyata pada tingkat organ, sistem, dan status fungsional. Pelayanan geriatrik meliputi 2 hal yaitu pelayanan kesehatan (medical services) dan pelayanan aspek sosial ( social services ). Tujuan pelayanan geriatrik meliputi memperpanjang kehidupan ( Quantity of life ) mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup ( Quality of life ), dan mengantar pasien pada akhir kehidupan yang bermartabat ( death in dignity ).

Karakteristik pasien geriatrik

Pasien usia lanjut tidak sama dengan pasien geriatrik. Multipatologik ( penyakit kronik multipel ) yang kadang tumpang tindih dengan kondisi akut, polifarmasi yang berakibat kondisi medik kompleks, gejala penyakit tidak spesifik, hubungan perbaikan parameter klinik dengan perbaikan status fungsional yang tidak linier, mutlak perlu rehabilitasi mental dan fisik, terkadang ada masalah etiko – legal seperti kondisi setting limit, edukasi berita buruk ( bad news ), edukasi prognosis pasien. Kesemua ciri diatas adalah karakteristik pasien geriatrik.

Paradigma pelayanan geriatrik

Ada beberapa aspek penting yang disebut sebagai paradigma pelayanan geriatrik yaitu :

  • Multidisiplin dengan pendekatan interdisiplin
  • Setting priority artinya prioritas masalah dari kondisi klinik kompleks yang mengancam jiwa ( life treatning ), mengancam status fungsional ( potential morbidity ), dan pilihan pasien.
  • Lebih memperhatikan kualitas hidup dari pada kuantitas hidup.
  • Perawatan lanjutan dan berkesinambungan.
  • Elaborasi masalah etiko – legal.

Aplikasi klinik praktis
Dalam pelayanan geriatrik di Rumah Sakit, aplikasi klinik dari aspek praktisnya adalah :

  • Perlu kerjasama dengan disiplin lain dalam mengatasi problem klinik atau geriatrician melakukan pendekatan multidimensi sehingga tujuan ( goals ) perawatan geriatrik yang rasional.
  • Perlu adanya Tim Geriatri Rumah Sakit inti yang terdiri dari konsultan geriatri, dokter umum yang berminat, perawat gerontik, Rehabilitasi Medik, pekerja sosial medik, Apoteker/ Farmasis.
  • Perlu dikembangkan jenis pelayanan lain seperti day-care , homecare, chronic care, disamping jenis pelayanan konvensional yang sudah ada seperti poli klinik, rawat – inap, intensive care.
  • Dalam beberapa kesempatan perlu adanya diskusi medika – etiko – legal untuk menyelesaikan problem yang kompleks misalnya : informasi penyakit kanker dan lain – lain, kondisi setting limit , pemahaman dan penguatan keluarga dalam perawatan di rumah.
  • Perlu perkumpulan pasien lansia yang rutin tiap bulan di Rumah Sakit dalam rangka edukasi dan mengisi waktu luang.

Problem kesehatan usia lanjut
Problem kesehatan yang terjadi pada usia lanjut meliputi :

  1. Penyakit kronik degeneratif ( DM, Penyakit paru kronik, Demensia, Osteoartritis, Menopause dan lain sebagainya )
  2. Sindroma geriatrik I14
    1. Immobility (kurang bergerak)
    2. Instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh)
    3. Incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar)
    4. Intelectual impairment (gangguan intelektual/dementia)
    5. Infection (infeksi)
    6. Irritable colon (gangguan nyeri perut, sembelit, diare)
    7. Isolation (depresi)
    8. Impairment of Vision & Hearing (gangguan pancaindera)
    9. Inanition (kurang gizi)
    10. Impectunity (tidak punya uang)
    11. Iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan)
    12. Insomnia (gangguan tidur)
    13. Immun deficiency (daya tahan tubuh yang menurun)
    14. Impotence (impotensi)
  3. Penguatan dukungan keluarga ( support system )
Kepustakaan
1. WHO ( 1989 ) : Healthin The Elderly, Geneva
2. Depkes ( 1997 ) : Pedoman pelayanan Kesehatan Usia lanjut dan rumah sakit

Kunjungi Klinik Geriatri Golden Care Rumah Sakit Panti Rapih untuk mengetahui informasi lebih lanjut seputar kesehatan kesehatan lansia / geriatri. Golden Care merupakan layanan khusus kesehatan Geriatri / Lansia di RS Panti Rapih yang meliputi Medical Check Up khusus lansia dan Day Care khusus lansia. Ditangani oleh dokter yang profesional, dan perawat yang berpengalaman. Berlokasi di Lantai 1 Gedung Lukas RS Panti Rapih.

Ditulis oleh:
dr. I Dewa Putu Pramantara, Sp.PD-KGer
Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Penyakit Geriatri Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

 

Informasi lebih lanjut hubungi:
Klinik Geriatri Golden Care Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 1 Gedung Lukas RS Panti Rapih
Jl Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Informasi : (0274) 514014 ext 292
Pendaftaran : (0274) 514004, 514006
WhatsApp : 0811-2869-710

Mohon dapat memberikan rating