RS Panti Rapih Yogyakarta Lakukan Pendampingan Kinerja Puskesmas PONED di Fakfak dan Teluk Bintuni 5/5 (3)

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta bersama BP Tangguh Public Health telah sukses melaksanakan kegiatan Supervisi Fasilitatif (Sufas) lanjutan bagi Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Pendampingan ini berlangsung selama dua pekan, mulai 8 hingga 18 Juni 2026, dan merupakan kelanjutan dari kegiatan strategis sebelumnya yang telah dilaksanakan pada 15 hingga 27 Juni 2025.

Kegiatan pendampingan ini difokuskan pada upaya konkret penurunan angka kematian ibu dan bayi di total empat Puskesmas dan dua Rumah Sakit Umum Daerah yang tersebar di wilayah Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Teluk Bintuni. Melalui kerja sama lintas sektor, program ini menyasar penguatan kompetensi klinis serta sistem rujukan kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Tim Pendamping RS Panti Rapih Yogyakarta:

  • Suryo Nugroho, MPH– Kepala Instalasi Diklit & Asesor Internal (Ketua Tim Sufas)
  • Lusiana Irene W, Sp. OG– Ketua KSM Obsgyn RS Panti Rapih
  • Christo Darius Junendytya, Sp.A– KSM Anak RS Panti Rapih
  • Theresia Heni Lestari, S.Tr.Keb., Bdn– Kepala Ruang Bersalin RS Panti Rapih Yogyakarta

Cakupan Wilayah Pendampingan

Intervensi supervisi fasilitatif kali ini mencakup beberapa fasilitas kesehatan rujukan dan dasar berikut:

Kabupaten Fakfak:

  • Puskesmas Bomberay
  • Puskesmas Kokas
  • Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak

Kabupaten Teluk Bintuni:

  • Puskesmas Babo
  • Puskesmas Aranday
  • Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teluk Bintuni

Rangkaian Kegiatan dan Persiapan Daring

Rangkaian kegiatan pendampingan dimulai sejak awal Juni 2026 dengan sejumlah persiapan berbasis daring. Tim Supervisi Fasilitatif (Sufas) dari RS Panti Rapih dan BP Tangguh Public Health mengadakan konsolidasi internal melalui email untuk menyelaraskan agenda dan strategi pelaksanaan di lapangan.

Dilanjutkan pada 4 Juni 2026, tim melakukan pertemuan pra-pendampingan secara virtual dengan Puskesmas Bomberay dan Kokas dari Kabupaten Fakfak. Dalam sesi ini, masing-masing fasilitas memaparkan hasil self-assessment serta mengevaluasi tindak lanjut dari rekomendasi program tahun sebelumnya. Keesokan harinya, 5 Juni 2026, agenda serupa digelar bersama Puskesmas Babo dan Aranday dari Kabupaten Teluk Bintuni guna memastikan kesiapan teknis sebelum tim turun ke lapangan.

Implementasi Lapangan di Kabupaten Fakfak

Kegiatan lapangan resmi dimulai pada 8 hingga 18 Juni 2026, di mana tim pendamping bertolak menuju Fakfak, Papua Barat. Pendampingan teknis intensif dimulai pada 9 Juni 2026 di Puskesmas Bomberay. Selanjutnya, pada 10 Juni 2026, kegiatan bergeser ke Puskesmas Kokas, yang juga mencakup pelaksanaan audit kasus kematian maternal sebagai upaya reflektif untuk peningkatan mutu layanan yang berkesinambungan.

Pada 11 Juni, tim melanjutkan kunjungan ke RSUD Fakfak untuk meninjau kesiapan integrasi rujukan, serta mengadakan forum evaluasi komprehensif sekaligus perumusan langkah lanjutan strategis bertempat di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak.

 

[FOTO] Dokumentasi 1: Sesi foto bersama tim pendamping, manajemen, dan staf medis dalam rangkaian Kegiatan di Puskesmas Bomberay.

[FOTO] Dokumentasi 2: Diskusi panel dan pemaparan materi orientasi pada pelaksanaan Kegiatan di Puskesmas Bomberay.

[FOTO] Dokumentasi 3: Kunjungan lapangan dan koordinasi tim klinis dalam Kegiatan di Puskesmas Kokas.

[FOTO] Dokumentasi 4: Forum koordinasi lintas program dan Kegiatan evaluasi bersama jajaran di Dinkes Kabupaten Fakfak.

Aksi Nyata di Kabupaten Teluk Bintuni

Setelah menyelesaikan seluruh agenda di Fakfak, tim melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Teluk Bintuni pada 13 hingga 14 Juni 2026. Pendampingan teknis di wilayah ini dimulai di Puskesmas Babo pada 15 Juni dan dilanjutkan di Puskesmas Aranday pada 16 Juni. Metode pendampingan meliputi simulasi penanganan kedaruratan (emergency drill) serta diskusi interaktif mengenai hasil pencapaian Alat Pantau Kinerja Klinis (APKK).

Kegiatan berlanjut pada 17 Juni dengan kunjungan ke RSUD Teluk Bintuni untuk meninjau secara langsung alur penerimaan rujukan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) yang masuk dari berbagai Puskesmas wilayah sekitarnya. Seluruh rangkaian kegiatan di Teluk Bintuni ditutup secara resmi pada siang hari tanggal 17 Juni 2026 melalui pertemuan evaluasi dan penyusunan rekomendasi strategis di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni. Tim pendamping akhirnya melakukan perjalanan kembali ke Yogyakarta pada 18 Juni 2026.

[FOTO] Dokumentasi 5: Foto bersama seluruh staf dan tenaga kesehatan dalam rangkaian Foto Kegiatan di Puskesmas BABO.

[FOTO] Dokumentasi 6: Perjalanan tim melewati jembatan kayu ikonik menuju lokasi kegiatan di Puskesmas Aranday (Distrik Tomu, Papua Barat).

[FOTO] Dokumentasi 7: Sesi foto bersama dengan latar belakang hutan mangrove dalam rangkaian kegiatan luar ruang di Puskesmas Aranday.

[FOTO] Dokumentasi 8: Sesi koordinasi dan foto bersama jajaran Manajemen RSUD Teluk Bintuni.

[FOTO] Dokumentasi 9: Suasana pemaparan dan diskusi interaktif dalam acara Penyampaian hasil Sufas di Dinas Kesehatan Teluk Bintuni.

Membangun Budaya Mutu Kesehatan di Wilayah 3T

Membangun Budaya Mutu Kesehatan di Wilayah 3T

Dalam seluruh kegiatan tersebut, tim pendamping melakukan verifikasi hasil tindak lanjut pendampingan tahun lalu, audit kasus, simulasi (emergency drill), serta mengukur capaian peningkatan mutu menggunakan instrumen APKK/R (Alat Pantau Kinerja Klinis/Rujukan).

“Pendampingan ini mengedepankan strategi sistemik untuk membangun budaya mutu layanan kesehatan ibu dan bayi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) dengan menambahkan pelatihan teknis terkait penanganan kgawatdaruratan maternal dan Neonatal.”β€” Suryo Nugroho, MPH (Ketua Tim Supervisi Fasilitatif RS Panti Rapih)

Dukungan penuh dari Dinas Kesehatan beserta pemerintah daerah setempat turut menguatkan komitmen keberlanjutan dampak kegiatan ini. Dalam pertemuan evaluasi akhir, disepakati pembentukan program tindak lanjut berupa pemantapan Supervisi Fasilitatif Daerah secara mandiri melalui peran strategis Dinas Kesehatan setempat.

Dengan hasil yang dicapai, RS Panti Rapih Yogyakarta berharap kegiatan pendampingan ini dapat menjadi praktik baik (best practice) yang konsisten dan dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia demi menekan angka kematian ibu dan bayi secara nasional.

 

 

Artikel ditulis oleh :

Humas RS Panti Rapih Yogyakarta

Mohon dapat memberikan rating

RS Panti Rapih Dukung Peningkatan Mutu Layanan PONED di Papua Barat No ratings yet.

RS Panti Rapih Yogyakarta Lakukan Pendampingan Kinerja Puskesmas PONED di Fakfak dan Teluk Bintuni

Papua Barat, 27 Juni 2025 – Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta bersama BP Tangguh Public Health telah sukses melaksanakan kegiatan Supervisi Fasilitatif (Sufas) lanjutan bagi Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Pendampingan ini berlangsung selama dua pekan, mulai 15 hingga 27 Juni 2025, dan merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang telah dilaksanakan pada 30 November – 13 Desember 2024.

Rangkaian kegiatan pendampingan dimulai sejak awal Juni 2025 dengan sejumlah persiapan berbasis daring. Pada 10 Juni 2025, tim Supervisi Fasilitatif (Sufas) dari RS Panti Rapih dan BP Tangguh Public Health mengadakan konsolidasi internal melalui Zoom untuk menyelaraskan agenda dan strategi pelaksanaan di lapangan. Dilanjutkan pada 12 Juni 2025, tim melakukan pertemuan pra-pendampingan secara virtual dengan Puskesmas Bomberay dan Kokas dari Kabupaten Fakfak, di mana masing-masing fasilitas memaparkan hasil self-assessment dan tindak lanjut dari rekomendasi sebelumnya. Keesokan harinya, 13 Juni 2025, agenda serupa digelar dengan Puskesmas Babo dan Aranday dari Kabupaten Teluk Bintuni.

Kegiatan lapangan dimulai pada 15 hingga 16 Juni 2025, saat tim pendamping melakukan perjalanan menuju Fakfak, Papua Barat. Di sana, pada 17 Juni, dilangsungkan initial meeting bersama jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak untuk menyelaraskan visi, rencana kunjungan, serta menegaskan komitmen kolaboratif. Pendampingan teknis dimulai keesokan harinya, 18 Juni 2025, di Puskesmas Bomberay, dilanjutkan pada 19 Juni di Puskesmas Kokas, yang juga mencakup kegiatan audit kasus kematian maternal sebagai upaya reflektif peningkatan mutu. Kemudian pada 20 Juni, tim melakukan kunjungan ke RSUD Fakfak serta mengadakan forum evaluasi dan perumusan langkah lanjutan di Kantor Wakil Bupati Fakfak bersama para pemangku kepentingan daerah.

Kegiatan bersama jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Fak-Fak

Β 

Pendampingan Sufas puskesmas PONED di Puskesmas Bomberay

Pendampingan Sufas Puskesmas PONED di Puskesmas Kokas

 

Setelah menyelesaikan agenda di Fakfak, tim melanjutkan perjalanan menuju Teluk Bintuni pada 21 hingga 22 Juni 2025. Kegiatan di wilayah ini diawali dengan initial meeting dan kunjungan ke RSUD Teluk Bintuni pada 23 Juni untuk meninjau kesiapan sistem layanan darurat maternal-neonatal.

 

Pendampingan teknis berlanjut di Puskesmas Babo pada 24 Juni dan di Puskesmas Aranday pada 25 Juni, termasuk simulasi (emergency drill) serta diskusi interaktif mengenai hasil self-assessment dan capaian APKK.

 

Kegiatan ditutup pada 26 Juni 2025 melalui pertemuan evaluasi dan penyusunan rekomendasi strategis di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni. Seluruh rangkaian ditutup dengan perjalanan kembali ke Yogyakarta pada 27 Juni 2025.

 

Penyampaian Hasil Pendampingan dan Perumusan Sufas
di aula pertemuan kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni

Dalam seluruh kegiatan tersebut, tim pendamping melakukan verifikasi hasil tindak lanjut pendampingan sebelumnya, audit kasus, simulasi (emergency drill), serta mengukur capaian peningkatan mutu dengan instrumen APKK/R (Alat Pantau Kinerja Klinis/Rujukan).

Hasilnya, sejumlah indikator menunjukkan peningkatan signifikan. Misalnya, Puskesmas Kokas mengalami lonjakan capaian standar penanganan kegawatdaruratan bayi baru lahir dari hanya 14% di Desember 2024 menjadi 86% di Juni 2025. Di Puskesmas Aranday, skor proses penanganan kegawatdaruratan neonatal juga meningkat tajam dari 7% menjadi 64%.

β€œPendampingan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi strategi sistemik untuk membangun budaya mutu layanan kesehatan ibu dan bayi di wilayah 3T,” tegas Agnes Nurlita Esti Rahayu, S.Tr.TLM, Ketua Tim Supervisi Fasilitatif RS Panti Rapih.

Dukungan dari Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah pun turut menguatkan dampak kegiatan. Dalam pertemuan evaluasi, disepakati pembentukan Tim Supervisi Fasilitatif Daerah melalui SK resmi serta penganggaran tahunan untuk pelaksanaan supervisi rutin, minimal dua kali dalam setahun.

Dengan hasil ini, RS Panti Rapih berharap kegiatan serupa dapat menjadi praktik baik (best practice) yang direplikasi di wilayah lain dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi secara nasional.

 

Artikel ditulis oleh :

Humas RS Panti Rapih Yogyakarta

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Instalasi Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian RS Panti Rapih
WA : 081128508877
Jam layanan WA : pk 07.30 – 15.30 WIB,
Senin – Jumat. Hari Minggu dan tanggal merah tutup

 

 

Mohon dapat memberikan rating