WASPADA DEMAM BERDARAH PADA ANAK   5/5 (1)

Dengue masih menjadi tantangan masalah kesehatan publik. Pada musim hujan, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) mengalami kenaikan yang sangat bermakna. Curah hujan tinggi menimbulkan potensi genangan air dan meningkatkan populasi nyamuk, selain itu kelembaban tinggi memudahkan nyamuk berkembang biak. Proporsi penderita DBD menurut golongan umur paling besar adalah golongan usia 0 – 14 tahun pada tahun 2022, begitu pula dengan kematian terbanyak pada golongan usia tersebut.

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Terminologi DBD sebenarnya tidak tepat karena bila seseorang terinfeksi virus dengue tidak selamanya akan menjadi DBD. Payung besarnya dinamakan infeksi dengue. Msanifestasi infeksi dengue luas, mulai dari infeksi tanpa gejala (asimtomatik), demam tidak khas, demam dengue (dengue fever) dengan atau tanpa tanda bahaya (warning signs) dan severe dengue dengan kebocoran plasma yang berat, perdarahan hebat atau adanya keterlibatan organ.

Gejala DBD terbagi dalam tiga fase, yaitu:

  1. Fase demam (3-4 hari pertama demam), yang ditandai dengan
  • demam mendadak tinggi terus menerus,
  • nyeri kepala,
  • nyeri otot seluruh tubuh,
  • nyeri sendi, dan
  • wajah kemerahan.
  1. Fase kritis (hari ke-4 hingga 6 sejak mulai demam).

Pada fase ini suhu penderita mulai turun. Kebanyakan penderita mengira sudah sembuh, padahal kebocoran plasma terjadi di sini. Bila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat terjadi syok sampai kematian. Tanda bahaya (warning signs) yang perlu diwaspadai antara lain: muntah, nyeri perut, perdarahan kulit, hidung, gusi, muntah darah hingga buang air besar berdarah.

  1. Fase penyembuhan atau konvalesen (mulai hari ke-7), yang ditandai dengan
  • Perbaikan keadaan umum,
  • Nafsu makan anak pulih, dan
  • Anak lebih ceria.

Penegakan infeksi dengue adalah dengan pemeriksaan antigen NS1 dengue pada hari demam ke-1 dan 2, atau antibodi IgM Dengue pada hari demam ke-5 dan seterusnya.

Belum ada obat antivirus yang spesifik untuk DBD. Pengobatan yang utama adalah pemberian cairan. Pada fase demam, penderita dapat berobat rawat jalan bila tidak ada muntah dan mau minum. Cairan yang dianjurkan adalah cairan yang mengandung mineral seperti cairan isotonic kaleng, air putih dengan garam dan gula, atau oralit. Obat penurun demam, seperti Paracetamol, dapat diberikan bila suhu si kecil 38oC ke atas. Pemberian jus jambu, angkak, atau kurma pada penderita DBD belum terbukti bermanfaat secara ilmiah dan belum bisa dijadikan pedoman.

Pencegahan DBD adalah dengan 3M yaitu:

  1. menguras tempat penampungan air minimal 7 hari sekali;
  2. menutup rapat tempat penampungan air;
  3. mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Pencegahan lainnya antara lain menggunakan kelambu saat tidur, menghindari kebiasaan menggantung baju, mengoleskan lotion anti nyamuk, dan imunisasi dengue. Saat ini, vaksin dengue dapat diberikan mulai anak berumur 6 tahun hingga 45 tahun.

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Galuh Martin Maytasari, M.Sc., Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Penyebab Demam Berdarah Dengue pada Anak No ratings yet.

Demam berdarah dengue (DBD) masih jadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Kasus DBD meningkat di berbagai daerah khususnya di wilayah DIY. Ini artinya, orang tua diharapkan dapat lebih waspada untuk dapat mengenali tanda dan gejala penyakit ini.

DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Infeksi virus ini dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut. Secara teoritis, seseorang dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, karena virus ini mempunyai empat serotipe.

Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi dan bersifat terus menerus, hal ini yang sering kali dikuatirkan orangtua karena demam sulit turun meskipun sudah diberikan penurun panas.

Fase ini biasanya berlangsung selama 3-5 hari yang disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, serta kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing).

Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual dan muntah sering ditemukan. Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan DBD maupun antara penyakit berat dan tidak berat.

Bila dicek di laboratorium, biasanya terlihat penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan jumlah trombosit dan nilai hematrokit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal.

Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4 sampai ke-6. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan kondisi perburukan sampai kematian. Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Mendadak Dingin

Pada fase ini, badan terutama pada ujung lengan dan kaki mendadak dingin dan terlihat lemas. Hal ini merupakan bentuk tanda syok. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit (kekentalan darah) yang nyata.

Fase ini terjadi pada saat tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal. Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan.

Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

Fase pemulihan berlangsung secara bertahap 24-48 jam setelah melalui fase kritis, biasanya terjadi pada hari ke-7. Keadaan umum dan nafsu makan mulai membaik, evaluasi laboratorium mulai terjadi perbaikan, hematokrit (kekentalan darah) mulai stabil dan jumlah trombosit mulai terjadi peningkatan secara bertahap. Pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam (kemerahan) di tangan dan kaki yang akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan mengenali gejala-gejala tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami salah satu atau lebih dari gejala tersebut.

Pencegahan

DBD dapat dicegah dengan penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti-nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan jentik nyamuk di bak mandi, penyemprotan cairan insektisida (fogging), dan gerakan 3M (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi). Pada prinsipnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh:
dr. Maria Rulina YA, M.Sc., Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Pemeriksaan Laboratorium Penderita Demam Dengue (DF) dan Demam Berdarah Dengue (DHF) No ratings yet.

Demam Berdarah jenis ini ditemukan pertama kali pada tahun 1779 oleh David Bylon. Kemudian antara tahun 1953 sampai 1965, DHF dilaporkan terdapat di India, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Pada tahun 1959 flavovirus dengan tipe 2,3 dan 4 dapat diisolasi di Filipina dan tipe 1 dapat diisolasi di Thailand. Selama periode 1956 hingga 1992, di Indonesia telah dilaporkan sebanyak 255.980 kasus dan 9.980 diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Etiologi Virus Dengue
Jenis Virus : Virus dengue
Famili: flaviviridae
Genus: flavivirus
4 serotipe: DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4
Penularan: gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albofictus
Keempat serotipe ini mempunyai sifat antigen yang berbeda, sehingga bila terinfeksi dengan salah salah satu serotipe hanya akan memberikan kekebalan seumur hidup untuk serotipe tersebut, tetapi tidak memberikan kekebalan silang untuk serotipe lain

Diagnosis Laboratorium
A. Spesifik
1. Isolasi virus (Kultur)
Biakan sel dari nyamuk Aedes aegypti atau penderita, membutuhkan waktu 2 minggu, merupakan cara diagnosa laboratorium yang terbaik karena hasilnya langsung akan dapat diketahui sampai ada serotipenya (Gold Standard). Permasalahannya adalah tindakan sulit dan mahal biayanya.

2. Deteksi Antigen
identifikasi molekuler
a. Hibridisasi DNA-RNA dan atau amplifikasi segmen tertentu dengan metode PCR
- Mahal
- rumit
- membutuhkan peralatan khusus

b. Antigen NS1
Suatu glikoprotein non struktural dari gen virus dengue
- Mendeteksi semua jenis virus dengue
- Berhubungan dengan replikasi virus

c. Serologi:
Didasarkan atas timbulnya antibodi pada penderita yang terjadi setelah infeksi
- Haemagglutination Inhibition (HI)
- Complement Fixation
- Neutralization
- Enzyme Immuno Assay
- Ig M dan Ig G rapid

Ig M dan Ig G (Rapid)
- Rapid Captured Immunochromatographic Ig M dan Ig G
- Dapat mendeteksi infeksi dengue akut sekaligus membedakan infeksi primer – sekunder (15 menit)
- Membantu konfirmasi diagnosis klinis
- Dapat membedakan infeksi primer dan sekunder melalui penentuan (setting) cut-off level Ig M dan Ig G,
- Cut-off Ig M ditentukan untuk mendeteksi kadar antibodi yang secara khas muncul pada infeksi virus dengue primer dan sekunder.
- Cut-off antibodi Ig G ditentukan hanya mendeteksi antibodi kadar tinggi yang secara khas muncul pada infeksi virus dengue sekunder dan setara dengan titer HI > 1 : 2560 (tes HI sekunder)

B. Non Spesifik
Hematologi
Hitung trombosit (AT) -> menurun (trombositopenia)
- Virus secara langsung menyerang megakariosit dan mieloid & penghancuran trombosit oleh sistem retikuloendotelial
- mulai menurun pada fase demam (hari 2 - 3) mencapai jumlah terendah pada hari 5 akan meningkat kembali dengan cepat pada hari 6 –7 mencapai jumlah normal pada hari 7 – 10
- derajat terombositopenia berhubungan dengan beratnya penyakit

Hematokrit (Hmt) dan hemoglobin (Hb)
- Hmt meningkat > 20% -> hemokonsentrasi
- Hb -> bila terjadi perdarahan Hb menurun sehingga Hmt bisa menurun atau tetap meskipun terjadi hemokonsentrasi -> hati-hati bila Hmt untuk memonitor

Limfosit Plasma Biru (LPB) -> > 5%
Merupakan suatu limfosit reaktif karena adanya peningkatan DNAdalam nuleus dan RNA dalam itoplasma yang disebabkan oleh adanya respon imun terhadap virus

Jumlah lekosit (AL) dan Hitung jenis lekosit (HJL)
- Al menurun
- HJL ® monositosis
- Jumlah monosit absolut berbanding terbalik dngan jumlah trombosit
- Seakin tinggi jumlah monosit ® semakin banyak monosit yang terinfeksi -> penyakit semakin berat

Waktu prothrombin (PTT)
Untuk mengetahui adanya gangguan faktor ekstrinsik (faktor III dan faktor VII) -> memanjang

Activated prothrombin time (APTT)
Untuk mengetahui adanya gangguan faktor intrinsik (F XII, XI, IX, X, II dan I) -> memanjang

Fibrinogen -> turun
D-dimer, kalau meningkat menunjukkan adanya Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

Kimia
Transaminase (SGPT dan SGOT) -> meningkat

 

Pemeriksaan Laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah tubuh terkena Demam Berdarah Dengue atau tidak. Pemeriksaan yang sering dilakukan adalah Tes Darah Lengkap, NS1, dan Imunoglobulin.

 

Informasi Pelayanan : 
Laboratorium
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : 0274 563333 ext 1050 (24 jam)

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Ditulis oleh :
dr. Tri Djoko Endro Susilo
Kepala Instalasi Laboratorium RS Panti Rapih

Rating untuk artikel/halaman ini : No ratings yet.

Mohon dapat memberikan rating