Tes DNA HPV untuk Deteksi Virus HPV Penyebab Kanker Serviks

Penyakit kanker serviks merupakan jenis kanker yang terjadi paling banyak kedua di Indonesia. Kondisi itu bisa disebabkan oleh infeksi virus HPV yang ditularkan dari pasangan seksual yang sudah terpapar terlebih dulu. Untuk mendeteksi kanker serviks, skrining pemeriksaan bisa dilakukan melalui pap smear dan tes DNA HPV.

Tes DNA HPV bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus HPV (Human Papilloma Virus) yang berisiko menyebabkan penyakit menular seksual (seperti kutil kelamin) serta kanker serviks. Namun, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya menderita infeksi HPV karena minimnya gejala.

Indikasi Pemeriksaan HPV DNA

Wanita berusia 30–65 tahun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Tes DNA HPV secara rutin setiap 3 sampai 5 tahun sekali, dikombinasikan dengan prosedur pap smear. Selain pada wanita dengan rentang usia tersebut, pemeriksaan DNA HPV juga dianjurkan pada wanita yang memiliki faktor risiko kanker serviks di bawah ini:

– Menderita HIV
– Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
– Terkena paparan diethylstilbestrol (DES) sebelum lahir
– Mendapatkan hasil abnormal (lesi prakanker) tingkat tinggi pada pemeriksaan pap smear

Umumnya, infeksi HPV tidak menimbulkan gejala atau tanda apa pun, sehingga penderita tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi HPV. Oleh karena itu, pemeriksaan HPV DNA perlu dilakukan secara rutin dengan tujuan sebagai berikut:

– Mendeteksi kelainan sel serviks dan infeksi HPV pada wanita usia 30 tahun ke atas
– Mendeteksi lebih jauh keberadaan HPV tipe risiko tinggi pada pasien dengan hasil pap smear yang menunjukkan sel serviks abnormal
– Memeriksa ada tidaknya sel-sel serviks abnormal setelah pengobatan terhadap infeksi HPV

Sebelum Pemeriksaan HPV DNA

Sebelum pemeriksaan HPV DNA dimulai, pasien akan diminta untuk buang air kecil guna mengosongkan kandung kemih. Hal ini dilakukan demi kenyamanan pasien saat pemeriksaan berlangsung dan kelancaran proses pemeriksaan.

Selain itu, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari selama 24 jam sebelum pemeriksaan HPV DNA, yaitu:

– Melakukan hubungan seksual
– Melakukan douching yaitu, membersihkan vagina menggunakan produk perawatan – kewanitaan yang disemprotkan ke vagina
– Menggunakan obat-obatan vagina, seperti krim atau sabun pembersih
– Memasukkan apapun ke dalam vagina, seperti menggunakan tampon

Liquid Based Cytologi (LBC)

Pap smear atau pemeriksaan rutin terhadap leher rahim sebagai tindak preventif kanker serviks umumnya dilakukan setiap 1 atau 2 kali setahun. Namun, seiring dengan kemajuan dibidang medis pap smear dapat di lakukan hingga 2 atau 3 tahun sekali. Metode ini dikenal dengan Liquid Based Cytologi (LBC) yang dikombinasikan dengan pemeriksaan Human Papilloma Virus (HPV).

Liquid Based Cytologi (LBC) memiliki beberapa keunggulan lain dibandingkan pap smear metode konvensional sebagai bahan yang dapat digunakan dalam studi molekuler, seperti deteksi infeksi HPV. Selain itu, dalam jangka panjang, LBC juga hemat biaya dalam skrining kanker serviks massal, karena LBC diperlukan lebih jarang daripada pap smear konvensional apabila digabung dengan pemeriksaan DNA HPV. Oleh karena itu, kami merekomendasikan penggunaan LBC secara luas untuk skrining kanker serviks pada populasi.

Pemeriksaan Liquid Based Cytologi (LBC) dan DNA HPV sudah dapat dilakukan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Pemeriksaan ini didukung oleh Dokter Spesialis Obgin, Dokter Spesialis Patologi Anatomi, dan tenaga medis yang profesional.

Sumber:
https://www.honestdocs.id/hpv-test
https://www.alodokter.com/pemeriksaan-hpv-dna-ini-yang-harus-anda-ketahui
https://health.detik.com/
https://isotekindo.com/article/details/60

Kunjungi Klinik Obgin Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514004, 514006, 521009 (24 jam)

Posted in Artikel Kesehatan and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *