Keterlambatan Bicara (Speech Delayed) pada Anak No ratings yet.

Bicara dapat di artikan sebagai suatu bentuk komunikasi dengan artikulasi verbal dalam menyampaikan maksud. Oleh sebab itu, diperlukan segenap komponen organ anak yang berperan dalam membentuk suara, lewat komponen respirasi, fonasi dan artikulasi. Kejadian kasus keterlambatan bicara anak di Indonesia tercatat 5-8% pada rentang usia 2-4,5 tahun (2006).  Keterlambatan berbicara dalam fase perkembangan anak akan berdampak pada pola komunikasi anak.

Keterlambatan bicara sendiri juga erat kaitannya dengan bahasa, dimana perkembangannya sangat tergantung dengan faktor perkembangan fungsi anatomis fisiologis sistem saraf, organ audio visual, kemampuan atensi anak serta stimulus dari lingkungan anak (orangtua / caregiver). Pemantauan tumbuh kembang anak, deteksi dini faktor resiko terkait fungsi bicara ini akan menjadi pintu awal yang penting dalam mencegah ataupun meminimalisir dan mengkoreksi gangguan bicara pada anak-anak.

 

Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara Anak sesuai Usia

0-2 bulan

bayi merespon dengan menangis

2-3 bulan

bayi mulai membuat suara seperti aaah, uuu , eee, ooo (cooing)

3-6 bulan

bayi mulai babbling, dimanan mulai menggunakan suku kata tunggal yang diulang, misal papapapapap, dadadadadada, mamamamamama

6-9 bulan

mulai muncul mama, papa, meski kadang tanpa arti, mulai memahami konsep sederhana seperti ya/tidak, habis

9-12 bulan

panggilan lebih spesifik untuk orangtua atau yang caregiver utamanya,merespon panggilan namanya, serta mulai memahami perintah sederhana, serta mulai menggunakan isyarat (gerakan tangan) untuk meminta sesuatu. Bayi mulai membeo, menirukan kata-kata yang familiar

12-18 bulan

mulai membentuk kalimat 2 kata, memahami anggota tubuhnya, dapat menggeleng atau menganggukan kepala, melambaikan tangan, suara yang ditirukan menjadi lebih akurat, serta semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata.

18-24 bulan

dalam usia emas pertumbuhan ini, penambahan kosakata sangat pesat , berbicara dengan kalimat 2 kata dengan jelas, 50% bicaranya dapat dipahami,  dan dapat mengikuti perintah 2 langkah, serta anak senang mendengarkan cerita

2-3 tahun

semua kata-kata anak jelas dan dimengerti, serta mulai membuat kalimat tanya, mengenali benda-benda dan fungsinya, mengenal warna dan senang dengan nyanyian

3-4 tahun

mulai bercerita, bernyanyi, mulai membentuk kalimat 3-5 kata

4-5 tahun

memahami konsep arah (atas, belakang, kanan, kiri), memahami konsep lawan kata, mampu diarahkan untuk tugas terstruktur setidaknya 30 menit

 

Tanda-Tanda Deteksi Awal Adanya Gangguan Keterlambatan Bicara pada Anak bagi Orang Tua

Usia 0-6 bulan

  • Respon terhadap stimulus suara yang kurang (pertimbangkan gangguan pendengaran pada anak)
  • Tidak munculnya cooing, babbling serta terbatasnya suara konsonan anak
  • Anak kurang mampu menirukan bunyi atau suara dan selalu bergantung dengan perintah

Usia 6-12 bulan

  • Kurangnya gestur interaksi
  • Kurangnya atensi anak
  • Tidak merespon panggilan nama
  • Tidak memahami perintah sederhana

Usia 1-2 tahun

  • Perkembangan kosakata yang minim
  • Tidak terbentuk kalimat 2 kata
  • Tidak mampu menunjuk atau menyebutkan anggota tubuhnya

 

Peran Rehabilitasi Medik pada Gangguan Keterlambatan Bicara Anak

Deteksi dini menjadi penting agar dapat mengenali penyebab utama timbulnya keterlambatan bicara anak. Skrining tumbuh kembang anak yang akurat akan mendeteksi tanda-tanda keterlambatan, selain itu pemeriksaan medis mampu mendeteksi kelainan anatomis ataupun fungsi organ yang berdampak pada kemampuan bicara anak. Program Terapi Rehabilitasi Medik akan disesuaikan dengan faktor penyebab keterlambatan bicara yang ditemukan.

Beberapa kondisi medis yang erat kaitannya dengan keterlambatan bicara pada anak adalah Autisme, Gangguan pendengaran (otitis), Gangguan kognisi anak. Selain itu, faktor lingkungan juga perlu dideteksi sebagai penyebab, seperti pola asuh orang tua dengan bilingual (monolingual, keterikatan dengan gadget/ screen time anak (tidak boleh pada usia < 2 tahun).

Pada gangguan kondisi fungsi anatomis, tatalaksana dengan terapi Fisik oleh Fisioterapis dapat diprogramkan, seperti memperbaiki postur atau memperbaiki kemampuan respirasi anak akan membantu dalam memproduksi suara anak.

Faktor gangguan atensi, atau gangguan sensorik pada anak seperti halnya pada kasus Autisme anak, program rehabilitasi medik melibatkan terapi okupasi dalam memberikan koreksi dan stimulus sensorik. Dengan perbaikan di faktor ini, anak diharapkan mampu menangkap stimulus sensorik (visual, audio) dengan lebih baik dan fokus, sehingga dapat merangsang peningkatan interaksi dan kemampuan bicaranya.

Terapi wicara berperan dalam memberikan stimulasi dan koreksi pada gangguan keterlambatan bicara anak, dengan kolaborasi yang baik dan simultan bersama komponen terapi Rehabilitasi Medik lainnya (Terapi Fisik dan/ Terapi Okupasi), target terapi pada anak dengan keterlambatan bicara anak dapat lebih maksimal dalam hal fonasi, artikulasi, pengayaan kosakata, stimualsi oromotor, kemampuan sintaks (membentuk kalimat) sampai dengan semantic (pemahaman makna kata).

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. John Hartono, Sp.KFR
(Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi  :

Klinik Rehabilitasi Medik

Lantai 4, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus

Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Telepon: 0274-563333 ext 1204

Pendaftaran 24 jam : 0274 – 514004, 514006

Aplikasi PantiRapihKu di Google Play Store atau App Store

Mohon dapat memberikan rating

Talkshow Kesehatan “Ada Apa Dengan Stunting?” 4.71/5 (7)

Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Dikutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia. Masalah anak pendek (stunting) adalah salah satu permasalahan gizi yang menjadi fokus Pemerintah Indonesia saat ini. Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak sehingga perkembangan motorik terlambat dan terlambatnya pertumbuhan mental juga.

Selaras dengan tema nasional 2023, “Penguatan Pengasuhan Anak Menjadikan Anak Tumbuh Sehat Jiwa dan Raga”, RS Panti Rapih Yogyakarta pada tanggal 19 Januari 2023 menyelenggarakan talkshow kesehatan dengan judul “Ada Apa Dengan Stunting?”. Kegiatan dikemas secara offline di Lounge lantai 2 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus, dipandu oleh dr. Venanda Rian. Narasumber Talkhsow Kesehatan menghadirkan dr. Ratnaningsih, Sp. A (Spesialis Anak) dengan materi Mengenali Tanda – Tanda Stunting dan Apa Saja Yang Harus Dilakukan, serta Ibu B. Dwi Wahyunani, S.Tr. Gz., RD (Ahli Gizi) dengan materi Gizi untuk Pencegahan Stunting. Hadir dalam talkshow kesehatan tersebut para kader kesehatan bayi dan balita dari RS Panti Nugroho, RS Panti Rini, RS Elisabeth Ganjuran, Puskesmas dan Posyandu Sagan serta masyarakat umum/awam.

Tujuan dari kegiatan talkshow tersebut yaitu; mengenalkan stunting kepada masyarakat luas serta kepada para tenaga medis yang berada di faskes tingkat 1, memberikan edukasi pencegahan stunting, melalukan evaluasi kinerja tenaga kesehatan terkait dengan stunting.

Dengan talkshow kesehatan terkait stunting ini, pencegahan stunting dapat dilakukan sejak sebelum hamil, kehamilan, dan setelah anak dilahirkan.

 

 

Anjar Pintosasi

Humas RS Panti Rapih

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.71/5 (7)

Mohon dapat memberikan rating