Mengenal Penyakit Parkinson dalam Rangka World Parkinson Day 2026 5/5 (8)

Tubuh yang kaku, tangan yang tremor, dan gerakan yang melambat. Itulah kondisi yang sering kita jumpai pada pasien dengan Penyakit Parkinson. Tetapi, apa itu Penyakit Parkinson?

Apa itu Penyakit Parkinson?

Penyakit Parkinson, atau lebih dikenal dengan “buyutan”, adalah salah satu jenis penyakit yang terjadi pada sistem saraf. Kerusakan terjadi pada pusat koordinasi gerakan otot yang disebut ganglia basalis. Penyakit ini bersifat progresif, yang artinya semakin lama akan semakin memburuk.

Penyakit Parkinson tidak menular, namun cenderung lebih sering dijumpai pada usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, memiliki riwayat penyakit saraf lain seperti stroke dan benturan kepala berulang. Pada umumnya Penyakit Parkinson muncul pada usia 40-70 tahun, rata-rata di atas usia 55 tahun. Di Indonesia, diperkirakan 10 orang dari setiap tahunnya mengalami Penyakit Parkinson. Penderita Parkinson sampai saat ini sekitar 200.000-400.000 dan diperkirakan akan menyerang 876.665 orang di Indonesia dari total jumlah penduduk sebesar 238.452.952 (Sumber : Buku Panduan Tatalaksana Penyakit Parkinson Indonesia, 2024).

 

 

Tanda dan Gejala Penyakit Parkinson

Awal mula seseorang menderita Penyakit Parkinson sering kali tidak diketahui dengan tepat. Rata-rata penyakit Parkinson terdiagnosis pada usia 60 tahun. Namun, gejala Penyakit Parkinson mungkin sudah dimulai jauh sebelum seseorang terdiagnosis Penyakit Parkinson. Tahapan tersebut disebut dengan tahap pre-diagnosis, dimana pasien mengalami gejala-gejala tertentu yang tidak disadari hal itu merupakan bagian dari Penyakit Parkinson, antara lain: gangguan buang air, hipotensi dengan perubahan posisi tubuh dari duduk menjadi berdiri (hipotensi ortostatik), gangguan mata, gangguan penciuman, gangguan tidur, depresi dan gangguan fungsi luhur/kognitif.

Lama kelamaan, tanda dan gejala khas Penyakit Parkinson akan muncul yang disebut sebagai gejala motorik. Gejala motorik dari Penyakit Parkinson meliputi gerakan yang semakin melambat, gangguan keseimbangan, kekakuan pada tangan dan kaki, tremor, postur/posisi badan yang semakin membungkuk, gangguan menelan, dan ekspresi wajah yang semakin datar. Seluruh tanda dan gejala ini akan semakin memberat seiring waktu. Sering kali, pasien berobat ke dokter pada saat gejala motorik ini sudah dirasakan.

Tanda dan Gejala Penyakit Parkinson

 

Penanganan Penyakit Parkinson

Hingga saat ini, belum ada obat atau alat yang bisa menyembuhkan Penyakit Parkinson sepenuhnya. Obat yang diberikan pada pasien dengan Penyakit Parkinson bertujuan untuk meringankan gejala dan memperlambat perburukan kondisi. Beberapa tindakan operasi dapat dilakukan pada pasien yang memenuhi kriteria. Oleh karena itu, pasien yang diduga mengalami Penyakit Parkinson harus memeriksakan diri ke dokter spesialis neurologi agar dapat memeroleh penanganan yang tepat.

Pasien dengan Penyakit Parkinson yang juga mengalami berbagai penyakit lain, seperti stroke, hipertensi, atau diabetes melitus, juga harus menjalani pengobatan untuk penyakit-penyakit tersebut. Apabila penyakit penyerta tidak ditangani dengan baik, maka Penyakit Parkinson akan lebih cepat memburuk.

Menghadapi Penyakit Parkinson bukanlah suatu hal yang mudah. Pasien dan keluarga pasien sering mengalami frustasi dan lelah menjalani pengobatan. Oleh karena itu, dukungan sosial dan kondisi mental yang stabil juga sangat dibutuhkan. Makan makanan dengan gizi seimbang serta olahraga rutin terbukti dapat membantu memperlambat perburukan Penyakit Parkinson. Fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi juga perlu dilakukan secara rutin. Kombinasi dari seluruh tindakan tersebut akan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan Penyakit Parkinson.

 

Menderita Penyakit Parkinson bukanlah akhir dari segalanya. Penderita penyakit ini tetap dapat bekerja, berkarya, dan beraktivitas dengan baik. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani para pasien dengan Penyakit Parkinson.

 

 

Artikel ditulis oleh


dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N, FAAN, DFIDN, MHPM

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurologi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mendengkur dan Stroke: Apa Hubungannya? 5/5 (13)

Mendengkur adalah kondisi umum yang bisa dialami siapa saja, tetapi tahukah Sahabat Sehat bahwa mendengkur bisa memicu stroke? Mitos atau fakta? Mari kita kenali lebih dalam.

Apa itu Mendengkur?

Mendengkur terjadi ketika saluran napas terhambat selama tidur, sehingga aliran udara yang keluar-masuk selama bernapas menyebabkan getaran dan menghasilkan suara. Hambatan saluran napas muncul karena otot di saluran pernapasan bagian atas (termasuk langit-langit mulut dan lidah) menjadi lemas selama tidur. Sumbatan tersebut akan cenderung lebih berat jika seseorang tidur dalam posisi terlentang.

Mendengkur sering dialami oleh orang obesitas, memiliki pembesaran amandel, leher pendek, dan kelainan rongga mulut. Semakin keras suara mendengkur, berarti semakin berat sumbatan saluran napas yang terjadi. Sebagian orang yang mendengkur akan mengalami periode berhenti bernapas. Kondisi ini disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Pasien yang mengalami OSA dapat mengalami beberapa keluhan seperti merasa mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan nyeri kepala.

OSA merupakan kondisi yang sering dijumpai. Akan tetapi, banyak penderitanya tidak terdiagnosis dan tidak tertangani dengan baik. Padahal kondisi ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan pembuluh darah dan jantung.

 

 

Hubungan Mendengkur dengan Stroke

OSA merupakan faktor risiko untuk penyakit pembuluh darah dan jantung, termasuk stroke. Semakin berat OSA, maka akan semakin tinggi risiko terserang stroke. Pada OSA, episode henti napas (apnea) dan/atau napas dangkal (hipopnea) memicu proses peradangan di seluruh tubuh. OSA juga memicu penurunan kadar oksigen dalam darah dan mengganggu irama tidur, sehingga pasien sering terbangun dan metabolisme tubuh terganggu. Kombinasi dari berbagai mekanisme ini akan merusak lapisan dalam pembuluh darah, memicu gangguan irama jantung, dan diabetes melitus. Pada akhirnya, OSA akan memicu stroke.

 

 

Bagaimana cara mencegah stroke akibat OSA?

Langkah pertama dan yang utama untuk mencegah stroke akibat OSA adalah dengan mendeteksi OSA terlebih dahulu. Pemeriksaan polisomnografi (PSG) adalah pemeriksaan baku emas (gold standard) untuk mendeteksi OSA. Pada pemeriksaan PSG, pasien tidur selama satu malam di rumah sakit. Beberapa alat akan dipasang di kepala, leher, dada, perut, dan kaki pasien. Dokter spesialis neurologi akan membaca hasil rekaman PSG. Dari hasil rekaman tersebut, kita dapat mengetahui secara objektif apakah pasien benar-benar mengalami OSA atau tidak. Kita juga dapat mengetahui seberapa parah OSA yang dialami pasien dan dapat mendeteksi apakah terdapat gangguan tidur lainnya.

 

 

Setelah menegakkan diagnosis OSA dengan menggunakan PSG, dokter spesialis neurologi dapat menentukan tindakan apa yang paling tepat bagi pasien. Setiap pasien OSA bisa memiliki penanganan yang berbeda-beda. Mendeteksi dan menangani OSA sedini mungkin dapat mencegah kemunculan berbagai penyakit, khususnya stroke. Penanganan OSA juga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien menjadi lebih bugar, tidak mudah lelah, tidak mudah mengantuk, dan performa kerja meningkat.

Oleh karena itu, pemeriksaan PSG penting untuk dilakukan.  Yuk, jaga kesehatan tidurmu!
Mau info lebih lanjut? Sahabat Sehat dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi di Rumah Sakit Panti Rapih.

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurolog RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Gangguan Tidur dan Polisomnografi 4.93/5 (14)

Pernahkah Sahabat Sehat merasa tidak segar meski telah tidur semalaman? Atau mungkin mengalami nyeri kepala dan kantuk berlebihan di siang hari? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami gangguan tidur lho!

Gangguan tidur sering kali tidak terdeteksi. Sebagian orang bahkan mengabaikan gangguan tidur tersebut dan menganggapnya sebagai kondisi yang tidak berbahaya. Padahal faktanya, gangguan tidur dapat mengganggu fungsi pembuluh darah, otak, jantung, dan menurunkan kualitas hidup dari penderitanya. Lalu, bagaimana cara kita mendeteksi gangguan tidur?

 

 

Pemeriksaan Polisomnografi

Polisomnografi (PSG) adalah alat untuk memeriksa kondisi seseorang saat tidur. Dengan menggunakan PSG, kita dapat menilai kualitas tidur dan mendeteksi gangguan tidur secara objektif. Beberapa alat akan dipasang di area kepala dan badan Anda. Alat tersebut akan merekam gelombang otak, otot, dan pernapasan selama Anda tidur. Setelah itu, dokter spesialis neurologi akan memeriksa apakah gelombang-gelombang tersebut normal atau tidak normal.

Ilustrasi Pemeriksaan PSG

 

Bagaimana pola tidur yang normal?

Ketika tidur, kita dapat mengalami beberapa fase, yaitu fase non – rapid eye movement (non-REM) dan fase REM.  Fase non-REM masih bisa dibedakan menjadi fase non-REM tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3.

Saat mengantuk dan mulai tertidur, kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 1. Apabila kita tidur tetapi masih mudah terbangun (tidur dangkal), kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 2. Sedangkan ketika kita tidur dan lebih sulit dibangunkan (tidur dalam), kita sudah masuk ke dalam fase non-REM tingkat 3. Fase non-REM tingkat 3 sering diikuti dengan fase REM, dimana pada fase ini kita dapat bermimpi. Seluruh fase tersebut merupakan 1 siklus tidur. Ketika 1 siklus sudah selesai, maka kita bisa masuk ke dalam siklus yang baru.

 

Siklus Tidur Normal

 

Apa saja jenis gangguan tidur?

Gangguan tidur ada banyak jenisnya. Menurut International Classification of Sleep Disorder III (ICSD III) , gangguan tidur dapat dibagi menjadi : insomnia, gangguan bernapas saat tidur, hipersomnia, gangguan irama tidur, parasomnia, gangguan gerak saat tidur, dan gangguan tidur lainnya.  Dari berbagai jenis gangguan tidur tersebut, Anda pasti lebih familiar dengan insomnia dan gangguan bernapas saat tidur (seperti mengorok).

Insomnia adalah gangguan tidur dimana penderitanya mengalami kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terjaga terlalu dini. Insomnia ini lebih sering dijumpai pada perempuan, memiliki gangguan psikiatri, atau sering mengonsumsi kopi dan rokok. Apabila insomnia tidak didiagnosis dengan tepat dan tidak ditangani, maka dapat menurunkan fungsi memori, memicu depresi, dan menurunkan performa dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda dan Gejala Insomnia

 

Pernahkah Anda melihat orang yang mengorok saat tidur, kemudian tampak berhenti bernapas sesaat? Kondisi itu disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Mengorok lebih sering dijumpai pada seseorang dengan obesitas, jenis kelamin laki-laki, usia lanjut, memiliki kelainan struktur anatomi hidung, rahang, dan dagu, memiliki pembesaran tonsil/amandel, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan rokok. Mengorok sering kali danggap sebagai hal yang wajar oleh banyak orang. Padahal kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung, seperti hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Ilustrasi OSA

 

Apa yang harus kita lakukan jika mengalami gangguan tidur?

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui jenis gangguan tidur dengan mengisi kuesioner terkait gangguan tidur dan/atau menjalani pemeriksaan PSG. Setiap jenis gangguan tidur memiliki penanganan yang berbeda-beda. Apabila tidak diperiksa secara objektif, kita tidak bisa menentukan penanganan yang sesuai. Penanganan gangguan tidur tidak hanya dengan pemberian obat, tetapi dapat berkolaborasi dengan psikolog/psikiater, dokter spesialis THT, dokter spesialis paru, rehabilitasi medik, dan ahli gizi. Konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dan hasil PSG Anda dengan dokter spesialis neurologi, agar bisa menentukan penanganan yang tepat.

Tidur yang berKualitas adalah kebutuhan bagi semua orang. Tidur yang berkualitas bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus mencegah berbagai penyakit. Jangan sepelekan gangguan tidur yang Anda alami. Yuk, periksa PSG di Rumah Sakit Panti Rapih!

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, AIFO-K, Sp.N

(Dokter Spesialis Saraf RS Panti Rapih)

 

Sumber :

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. In brief: What is “normal” sleep? [Updated 2024 Aug 1]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279322/

Islamiyah WR (ed.). 2018. Panduan Tatalaksana Gangguan Tidur. Jakarta : Sagung Seto.

Sleep Apnea: Types, Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment

Sleepapnea.sleep-disorders.net/types

Insomnia: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Edukasi Stroke: “Semakin Tua, Semakin Waspada” 5/5 (1)

Yogyakarta, 17 Juli 2024 – Pada hari Rabu, 17 Juli 2024, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mengadakan acara edukasi kesehatan dengan topik “STROKE, Semakin Tua Semakin Waspada” di Kantor Kelurahan Purwokinanti. Acara ini menghadirkan narasumber ahli, dr. Esdras Ardi Pramudita, DFIDN, M.Sc, Sp.N, FAAN yang merupakan seorang spesialis neurologi.

Dalam sesi edukasi ini, dr. Esdras membahas berbagai aspek penting terkait stroke, mulai dari faktor risiko, gejala, hingga langkah-langkah pencegahan. Beliau menekankan pentingnya kesadaran dan kewaspadaan terhadap stroke, terutama pada usia lanjut, mengingat peningkatan risiko seiring bertambahnya usia.

 

“Dengan bertambahnya usia, risiko terkena stroke semakin tinggi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali gejala-gejalanya sejak dini dan melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat,” ujar dr. Esdras.

 

Acara ini dihadiri oleh warga dari berbagai kalangan, termasuk para lansia, keluarga, dan petugas kesehatan. Para peserta sangat antusias mengikuti paparan dan diskusi yang berlangsung interaktif guna memberikan kesempatan kepada peserta untuk lebih memahami informasi yang telah disampaikan.

Artikel ditulis oleh :

Maria Vita

(Humas RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Talkshow – “Fight for Golden Hour of Hyperacute Stroke and Code Stroke Activation” 5/5 (1)

Pada hari Sabtu, 28 Oktober 2023, bertempat di Lounge lantai 2 gedung rawat jalan terpadu Borromeus diselenggarakan kegiatan Talkshow bertajuk “Fight for Golden Hour of Hyperacute Stroke and Code Stroke Activation” diadakan dalam rangka peringatan World Stroke Day 2023. Acara ini diselenggarakan oleh Rumah Sakit Panti Rapih, yang telah lama menjadi rumah sakit rujukan untuk kasus stroke. Panti Rapih menerima rujukan dari berbagai instansi antara lain Rumah Sakit Unit Karya, Public Safety Center, dan Rumah Sakit Tipe C di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Kegiatan talkshow ini dibuka oleh drg. Vincentius Triputro Nugroho, M. Kes (Direktur Utama RS Panti Rapih). Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan komunikasi dengan jejaring rumah sakit dan layanan masyarakat. Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi yang lebih baik tentang layanan Stroke yang tersedia di RS Panti Rapih dan meningkatkan jumlah pasien yang dirujuk dengan kasus stroke.

 

Peningkatan komunikasi dengan jejaring rumah sakit akan memudahkan pasien stroke dalam mengakses layanan stroke akut di RS Panti Rapih. Namun, tujuan acara ini tidak hanya terbatas pada aspek tersebut. Kekuatan jejaring ini juga akan membantu dalam sosialisasi tentang edukasi pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi pasca stroke. Hal ini sejalan dengan tema World Stroke Day 2023, “Be #GreaterThan Stroke” yang fokus pada pengenalan faktor risiko stroke yang harus dikenali oleh masyarakat dan mendapatkan penanganan secepatnya.

 

Dalam talkshow ini, ada beberapa materi yang dibahas:

Materi I: “Fight for Golden Hour of Hyperacute Stroke and Code Stroke Activation” oleh dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N, DFIDN. Materi ini membahas tentang betapa pentingnya mengetahui golden hour (jam emas) dalam penanganan stroke hiperakut dan aktivasi kode stroke.

Materi II: “Alur Rujukan Stroke Hiperakut” oleh dr. David Budi Wibowo (Kepala IGD RS Panti Rapih). Materi ini akan menjelaskan alur rujukan yang harus diikuti untuk penanganan stroke hiperakut.

 

Materi III: “Comprehensif Stroke Center di RS. Panti Rapih” oleh LC. Retno Widowati, S.Kep., Ns. Materi ini terkait bagaimana RS Panti Rapih telah berkembang menjadi pusat penanganan stroke yang komprehensif.

Kegiatan talkshow akan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab, yang akan memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berinteraksi dan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya seputar stroke.

Melalui kegiatan ini, kami berharap kesadaran masyarakat seputar stroke dapat meningkat, dan pentingnya golden hour dalam penanganan stroke akan lebih dipahami. Dengan cara ini penanganan dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif, kemmapuan pemulihan pasien stroke akan meningkat, dan kasus stroke yang fatal dapat diminimalkan. Selain itu, upaya edukasi dan pencegahan akan membantu mengurangi risiko terjadinya stroke di masa depan. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan dunia medis dalam upaya melawan penyakit stroke.

 

 

Artikel ditulis oleh :

Anjar Pintosasi

(Humas RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating

Apa Itu Neuropati? 5/5 (2)

Setiap minggu ketiga Bulan Mei merupakan Neuropathy Awareness Week, merupakan minggu yang didedikasikan untuk kewaspadaan terhadap Neuropati, belum banyak orang yang tahu tentang neuropati sehingga banyak orang masih mengabaikan keluhan neuropati.

Neuropati atau kadang dikenal dengan Neuropati perifer merupakan gangguan di serabut saraf tepi, artinya saraf yang berada diluar otak dan sumsum tulang belakang. Saraf memiliki 3 fungsi utama yaitu motorik untuk bergerak, sensorik untuk merasakan/sensibilitas dan otonom untuk mengatur organ dalam tanpa kendali sadar (involunter), neuropati dapat mengenai ketiga jenis saraf tersebut.

Bila terkena neuropati maka gejalanya sangat beragam, keluhan umunya dirasakan di tangan atau kaki, gejala yang umum bila neuropati mengenai serabut saraf sensorik antara lain adalah rasa baal atau kebas, rasa kesemutan atau tertusuk-tusuk, rasa disayat, rasa terbakar, hipersensitif dengan sentuhan ringan dan kurangnya koordinasi. Bila neuropati mengenai serabut saraf motorik maka akan menimbulkan gejala berupa kelemahan otot.

Neuropati dapat mengenai serabut saraf otonom walaupun kasusnya tidak banyak, serabut saraf otonom ini berfungsi menjalankan organ dalam dari manusia maka keluhan yang dapat muncul bila terjadi neuropati adalah keringat berlebihan atau tidak bias berkeringat, gangguan pencernaan seperti gangguan BAB dan BAK dan  tekanan darah yang turun.

Keluhan gejala neuropati ini tidak menutup kemungkinan mengenai lebih dari 2 extremitas, sehingga dapat disebut dengan polineuropati. Keluhan neuropati ini kadang sering diabaikan karena kadang dirasakan hanya suatu keluhan yang ringan. Neuropati muncul karena berbagai macam kondisi medis antara lain Penyakit autoimun seperti Lupus, Rheumatoid Artritis, Gullain Barre. Penyakit Infeksi seperti Herpes zoster, lepra dan HIV. Penyakit keganasan terutama pada sindrom paraneoplastic, myeloma dan limfoma. Dan Gangguan endokrin seperti hipotiroid dan diabetes.

Neuropati diabetes merupakan neuropati yang paling banyak dari seluruh neuropati dan bias mencapai 60% dari seluruh kasus neuropati, hal ini dikarenakan jumlah penderita diabetes yang semakin banyak, kurang lebih 30-60% pasien diabetes mengalami neuropati.

Defisiensi vitamin B, paparan bahan kimia dan logam berat (timbal dan merkuri), penggunaan obat kemoterapi atau paparan radioterapi pada kasus kanker, cedera saraf karena trauma berat maupun trauma mekanik repetitif  semuanya dapat menjadi faktor eksternal yang menyebabkan neuropati

Neuropati membutuhkan kewaspadaan agar gejala yang muncul dapat segera ditangani dan tidak muncul progresifitas dari neuropati serta kompilkasinya, apabila neuropati ini tidak dikelola dengan baik maka akan muncul komplikasi yang lebih serius seperti trauma kulit (terbakar) karena tidak dapat merasakan permukaan yang panas, luka terbuka dan ulkus terutama pada pasien diabetes dan jatuh pada lansia. Neuropati tidak dapat diabaikan karena pengelolaan neuropati secara dini memberikan hasil yang baik dan kewaspadaan terhadap gejala neuropati sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang berat dan timbulnya kecacatan.

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Klinik Penyakit Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (2)

Mohon dapat memberikan rating

Gangguan Saraf Akibat Penyakit Gula 5/5 (1)

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

 

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Klinik Saraf Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Gangguan Saraf Akibat Penyakit Gula No ratings yet.

Diabetes mellitus (DM), atau disebut juga sebagai “penyakit gula” oleh masyarakat, merupakan salah satu jenis penyakit kronik yang sering dijumpai. DM ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Pemeriksaan kadar gula darah untuk mendeteksi penyakit ini ada 4 macam, yaitu: pemeriksaan kadar gula darah setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam, pemeriksaan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian asupan gula sebanyak kurang lebih 75 mg, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu, dan pemeriksaan kadar HbA1C. Peningkatan kadar gula darah tersebut sering kali disertai dengan beberapa gejala khas seperti: banyak makan atau peningkatan nafsu makan meskipun tidak ada peningkatan aktivitas, banyak minum atau sering merasa kehausan, sering kencing, memiliki luka yang tidak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan meskipun pola makan atau tingkat aktivitas tidak berubah. Penyakit DM yang tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi pada jantung, pembuluh darah, otak, dan saraf.

Neuropati diabetikum merupakan komplikasi yang terjadi pada saraf tepi akibat penyakit DM. Kondisi ini sering muncul pada pasien yang menderita DM jangka lama dan/atau kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Pasien yang berusia lanjut, merokok, dan memiliki penyakit penyerta seperti dislipidemia (kadar lemak darah tidak normal) dan hipertensi (tekanan darah tinggi) juga cenderung lebih sering mengalami neuropati diabetikum.

Pasien yang menderita kondisi ini dapat mengalami gejala-gejala sebagai berikut: rasa kesemutan, rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa panas atau sensasi terbakar, dan rasa tebal pada ujung tangan dan kaki yang memberikan kesan “seperti sedang menggunakan sarung tangan dan kaus kaki”. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala yang khas atau sering dijumpai pada neuropati diabetikum. Gejala lain yang tidak khas meliputi: kelemahan otot, gangguan tekanan darah (misalnya hipotensi ortostatik), gangguan irama jantung (misalnya aritmia), gangguan pencernaan (misalnya gastroparesis), dan gangguan berkemih (misalnya sulit mengeluarkan air seni).

Mengontrol kadar gula darah dengan menggunakan obat anti diabetes, berolah raga rutin, serta mengatur pola makan dan jenis makanan merupakan kunci utama dari penanganan neuropati diabetikum. Berolah raga rutin, selain bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah, juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan menstabilkan tekanan darah, yang secara tidak langsung juga mengatasi neuropati diabetikum.

Vitamin B kombinasi yang terdiri dari vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin B12 merupakan salah satu terapi yang diberikan pada pasien neuropati diabetikum. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pemberian vitamin tersebut menurunkan derajat keparahan gejala neuropati diabetikum dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Obat lain yang sering digunakan untuk menangani neuropati diabetikum adalah obat anti nyeri (misalnya ibuprofen dan capsaicin), obat anti depresi (mislanya amitriptilin dan duloxetin), dan obat anti kejang (misalnya gabapentin dan pregabalin).

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang berkompetensi memberikan obat anti diabetes pada pasien DM, sedangkan penanganan neuropati diabetikum dilakukan oleh dokter spesialis saraf. Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat dilakukan untuk menyusun pola dan menu diet sehari-hari. Penanganan yang baik pada DM maupun komplikasi akibat DM dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya, menurunkan angka kecacatan, dan kematian.

Kunjungi Klinik Saraf Rumah Sakit Panti Rapih untuk mengetahui informasi lebih lanjut seputar Demensia.

Ditulis oleh dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta
Klinik Penyakit Dalam
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating