Kenali Sindrome Ramsay Hunt 5/5 (1)

Beberapa hari yang lalu muncul kabar sedih bagi para fans Justin Bieber, karena konser di Indonesia yang terancam dibatalkan karena sang superstar menderita sakit yang membuatnya tidak mungkin memaksakan dirinya untuk konser. Sang superstar menderita penyakit yang disebut dengan Sindrom Ramsay Hunt.

Justin Bieber terkena Sindrom Ramsay Hunt

Apa sebenarnya Sindrom Ramsay Hunt?

Ramsay Hunt merupakan suatu gangguan saraf yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella Zoster pada liang telinga atau sering juga disebut sebagai Herpes Zoster Oticus.

James Ramsay Hunt adalah seorang dokter saraf asal Amerika yang pertama kali mendiskripsikan penyakit ini pada tahun 1907 yaitu adanya nyeri telinga akibat adanya infeksi Varicella Zoster. Bila kita pernah mendengar tentang cacar air yang biasanya mengenai anak-anak maka virus Varicella Zoster inilah penyebabnya. Pada saat sembuh dari cacar air virus tersebut tidak mati hanya saja tidak aktif dan pada saat kondisi badan yang lemah atau status imunitas yang menurun maka virus itu akan aktif kembali dan aktivasi dari virus ini kita kenal dengan herpes zoster atau dalam bahasa lokal dikenal dengan istilah “Dompo”.

Virus ini akan menyerang kulit dan saraf di area yang terkena, tidak hanya di telinga, herpes zoster ini dapat juga dialami di area badan atau anggota gerak seperti tangan dan kaki. Tanda dan gejala yang muncul adalah adanya bintil-bintil berair pada kulit dengan dasar kemerahan disertai rasa nyeri seperti terbakar atau disayat-sayat pada area tersebut. Beberapa saat yang lalu saya menuliskan sebuah artikel mengenai “Apa itu Neuropati?” maka Sindrom Ramsay Hunt (Herpes Zoster Oticus) inilah salah satu contoh kasus neuropati.

Mengapa Sindrom Ramsay Hunt lebih berat dibandingkan Herpes Zoster biasa?

Infeksi virus pada Sindrom Ramsay Hunt berada di liang telinga dan mengenai saraf wajah yang ada di dalam liang tersebut, yang berakibat ada gangguan saraf wajah pada sisi telinga yang mengalami infeksi, sehingga menyebabkan kelumpuhan setengah wajah berupa sulit menutup mata pada sisi yang terdampak, perot, dan sulit mengerakkan bibir. Sindrom Ramsay Hunt memiliki tanda dan gejala yang  khas yaitu nyeri telinga, bintil-bintil merah pada telinga yang nyeri, dan gangguan otot wajah pada sisi telinga yang nyeri.

Lalu Apakah Ramsay Hunt itu adalah gejala stroke?

Ramsay Hunt tidak ada hubungannya dengan Stroke karena Ramsay Hunt merupakan infeksi virus sedangkan stroke berhubungan dengan gangguan aliran darah di otak. Bagaimana dengan Bell Palsy? Bell palsy juga berbeda dengan Ramsay Hunt karena Bell palsy hanya memiliki gejala gangguan otot pada separuh wajah tanpa disertai nyeri maupun gangguan kulit yang paling sering disebabkan oleh iritasi udara. Jadi tanda dan gejala Sindrom Ramsay Hunt merupakan kombinasi antara Herpes Zoster dan Bell Palsy.

Sindrom Ramsay Hunt membutuhkan penanganan pemberian antivirus segera, untuk mencegah infeksi virus yang lebih luas yang dapat menimbulkan kerusakan saraf yang besar dan permanen. Nyeri pada Sindrom Ramsay Hunt merupakan suatu keluhan yang sangat dominan, karena nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan saraf akan sangat luar biasa sering kali ditandai dengan rasa nyeri terbakar, tersayat, tersengat petir atau disayat-sayat sehingga penanganan nyeri pada kasus ini membutuhkan perhatian khusus. Kelumpuhan otot wajah pada Sindrom Ramsay Hunt memerlukan tindakan fisioterapi yang intensif, sehingga fungsional otot dapat dikembalikan seperti semula, dan fisioterapi ini dapat memakan waktu 2-3 bulan bahkan lebih.

Artikel ini ditulis oleh: dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Kelumpuhan Mendadak pada Wajah 4/5 (2)

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang wajahnya tampak “tidak simetris” atau mengeluh sulit menggerakkan separuh wajahnya? Atau Anda sendiri pernah mengalaminya?  Sebagian besar orang akan mengira bahwa kondisi tersebut merupakan tanda dan gejala dari stroke. Pada kenyataannya, gangguan yang terjadi pada area wajah tersebut tidak selalu disebabkan oleh penyakit stroke, melainkan juga dapat disebabkan oleh suatu kondisi yang disebut sebagai Bell’s Palsy.

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf tepi wajah yang terjadi pada satu sisi wajah dan timbul secara mendadak. Tanda dan gejala Bell’s Palsy meliputi: kelumpuhan otot pada satu sisi wajah, tidak mampu menutup kelopak mata pada satu sisi, kesemutan pada satu sisi wajah, mengeluarkan air mata berlebih pada satu sisi mata, perubahan sensasi pengecapan, nyeri pada satu sisi wajah, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan. Seseorang yang mengalami Bell’s Palsy dapat mengalami satu atau lebih tanda dan gejala tersebut. Penyebab pasti dari Bell’s Palsy tidak diketahui secara pasti (idiopatik), akan tetapi Bell’s Palsy lebih sering muncul pada usia dewasa, wanita hamil, menderita penyakit diabetes melitus, hipertensi, infeksi virus herpes, dan memiliki riwayat paparan suhu dingin.

Cara Membedakan Bell’s Palsy dengan Stroke

Bell’s Palsy sering disalah artikan sebagai stroke. Padahal Bell’s Palsy dan stroke memiliki penanganan yang sangat berbeda. Oleh karena itu, membedakan Bell’s Palsy dengan stroke adalah hal yang penting. Penderita Bell’s Palsy akan mengalami kelemahan pada separuh wajah, mulai dari wajah bagian atas hingga wajah bagian bawah (dahi hingga dagu). Sedangkan penderita stroke akan mengalami kelemahan pada separuh wajah bagian bawah saja. Pada pemeriksaan pasien Bell’s Palsy, lipatan/kerutan dahi dan lipatan tepi mulut akan menghilang. Pasien akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis pada satu sisi dan kesulitan tersenyum, sehingga menimbulkan kesan wajah yang tidak simetris.

Pada pasien stroke, lipatan/kerutan dahi tersebut masih dapat terlihat. Pasien stroke juga tidak akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis. Kelemahan otot hanya akan tampak pada area mulut, sehingga menimbulkan kesan bibir perot. Pasien stroke juga akan mengalami keluhan lainnya seperti pandangan dobel, nyeri kepala atau pusing, gangguan keseimbangan, pelo saat berbicara, kesulitan menelan, tampak kebingungan, sulit berkomunikasi, kelemahan atau kesemutan satu sisi tubuh, atau bahkan mengalami penurunan kesadaran.

Kelumpuhan pada satu sisi wajah juga dapat terjadi pada beberapa penyakit lain seperti tumor saraf tepi, tumor otak, pelebaran pembuluh darah otak/aneurisma. Kelumpuhan wajah akibat penyakit tersebut biasanya terjadi secara perlahan dan semakin memberat seiring waktu. Hal tersebut berbeda dengan penyakit Bell’s Palsy yang terjadi secara mendadak. Penyakit-penyakit tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan atau MRI kepala.

Penanganan Bell’s Palsy

Bell’s Palsy biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Penanganan Bell’s Palsy meliputi penanganan dengan menggunakan obat dan penanganan tanpa obat. Obat anti peradangan atau steroid, seperti prednison, menjadi pilihan utama dalam menangani Bell’s Palsy. Apabila terdapat infeksi virus herpes, maka pengobatan dapat dikombinasikan dengan obat anti virus seperti asiklovir. Obat tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter.

Perawatan mata adalah salah satu penanganan yang penting pada kasus Bell’s Palsy, karena sebagian besar penderita Bell’s Palsy sulit memejamkan mata pada satu sisi dan mengalami penurunan produksi air mata. Hal tersebut dapat memicu kekeringan bola mata dan memicu infeksi mata. Penggunaan tetes air mata buatan dan penggunaan balut mata/eye patch dapat menjadi pilihan untuk menurunkan risiko tersebut.

Apakah Bell’s Palsy Berbahaya?

Bell’s Palsy tidak berbahaya. Pada umumnya,  Bell’s Palsy akan cepat membaik dalam waktu beberapa hari apabila ditangani dengan baik. Jika Anda mengalami tanda dan gejala yang tersebut di atas, segera periksa ke dokter terdekat. Pemeriksaan dan pemberian tindakan segera oleh tenaga medis sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah keluhan yang Anda derita merupakan Bell’s Palsy atau disebabkan oleh penyakit lain.

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating