Diabetes Gestasional: Waspadai Kenaikan Gula Darah Selama Kehamilan 5/5 (3)

Apa Itu Diabetes Gestasional?

Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang muncul selama kehamilan dan biasanya menghilang setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi ketika tubuh ibu hamil tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan selama masa kehamilan, sehingga kadar gula darah meningkat.

Perubahan hormon yang terjadi saat hamil dapat membuat tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, dan pada sebagian wanita, hal ini menyebabkan gula darah naik hingga menimbulkan gejala atau komplikasi.

Siapa yang Berisiko?

Setiap ibu hamil berpotensi mengalami diabetes gestasional, namun risikonya lebih tinggi pada mereka yang memiliki faktor-faktor berikut:

  • – Usia di atas 25 tahun
  • – Berat badan berlebih atau obesitas sebelum hamil
  • – Riwayat keluarga dengan diabetes
  • – Pernah mengalami diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
  • – Melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4 kg
  • – Riwayat keguguran berulang atau bayi lahir mati
  • – Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Gejala dan Waktu Terjadi

Sebagian besar ibu hamil tidak merasakan gejala khas, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting. Namun, pada beberapa kasus dapat timbul keluhan seperti:

  • – Sering haus dan sering buang air kecil
  • – Cepat lelah
  • – Penglihatan kabur
  • – Berat badan bayi meningkat berlebihan pada pemeriksaan USG

Diabetes gestasional biasanya terdeteksi pada trimester kedua atau ketiga, saat tubuh mengalami perubahan metabolik yang lebih besar.

Bagaimana Diagnosisnya?

Pemeriksaan skrining awal dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar gula darah pada usia kehamilan 24-28 minggu. Apabila didapatkan hasil yang tidak normal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Pemeriksaan ini dilakukan di laboratorium, di mana pasien diminta meminum larutan gula, kemudian kadar glukosa darah diperiksa pada waktu tertentu. Kriteria diagnosis mengikuti panduan dari WHO atau Kementerian Kesehatan RI. Bila kadar glukosa melebihi batas normal, maka ibu hamil dinyatakan mengalami diabetes gestasional.

Dampak bagi Ibu dan Janin

  • – Bayi besar (makrosomia), sehingga berisiko saat persalinan
  • – Kelahiran prematur
  • – Hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) pada bayi setelah lahir
  • – Risiko bayi mengalami obesitas dan diabetes di kemudian hari
  • – Tekanan darah tinggi dan preeklampsia pada ibu
  • – Peningkatan resiko diabetes tipe 2 setelah melahirkan

Bagaimana Penanganannya?

Sebagian kasus dapat dikendalikan tanpa obat, dengan cara:

  • – Mengatur pola makan: makan lebih sering dengan porsi kecil, hindari makanan tinggi gula sederhana
  • – Aktivitas fisik ringan: seperti jalan kaki atau senam hamil sesuai anjuran dokter
  • – Pemantauan kadar gula darah secara teratur

Bila kadar gula darah tetap tinggi, dokter dapat memberikan insulin untuk menjaga agar kadar gula darah tetap aman. Obat oral biasanya tidak direkomendasikan selama kehamilan.

Bagaimana Mencegahnya?

  • – Menjaga berat badan ideal
  • – Mengonsumsi makanan sehat dan seimbang
  • – Rutin berolahraga
  • – Melakukan pemeriksaan kadar gula darah bila memiliki faktor risiko
  • – Kontrol antenatal secara teratur

Kesimpulan

Diabetes gestasional adalah kondisi serius namun dapat dikendalikan dengan baik bila terdeteksi dini. Pemeriksaan kehamilan rutin, pola makan sehat, dan gaya hidup aktif sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Setelah melahirkan, pemeriksaan gula darah tetap perlu dilakukan, karena sebagian wanita berisiko mengalami diabetes tipe 2 di masa depan.

Disclaimer

Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan umum. Untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis profesional.

Artikel ditulis oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

Referensi

  1. American Diabetes Association. Standards of Medical Care in Diabetes – 2025. Diabetes Care.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Gestasional. 2021.
  3. World Health Organization. Diagnostic criteria and classification of hyperglycaemia first detected in pregnancy. 2013.

 

Info Selanjutnya :

Klinik Penyakit Dalam

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

DIABETES MELITUS 5/5 (1)

Apa yang dimaksud dengan Diabetes Melitus?

Diabetes melitus adalah penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi batas normal (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020), sedangkan menurut Perkeni 2021 diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (Perkeni, 2021)

Faktor risiko diabetes melitus

Faktor risiko diabetes mellitus menurut Kemenkes (2019) dibagi menjadi dua yaitu

1) Faktor risiko yang tidak bisa diubah

  1. Usia ≥ 40 tahun.
  2. Mempunyai riwayat keluarga penderita DM.
  3. Kehamilan dengan gula darah tinggi.
  4. Ibu dengan riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir > 4 kg.
  5. Bayi yang memiliki berat badan lahir < 2,5 kg

2) Faktor risiko yang bisa diubah

  1. Kegemukan (IMT > 23 kg/m2 ) dan lingkar perut laki-laki > 90 cm dan perempuan > 80 cm.
  2. Kurang aktivitas fisik.
  3. Hipertensi (> 140/90 mmHg).
  4. Dislipidemia (kolesterol HDL laki-laki ≤ 35 mg/dl dan perempuan ≤ 45 mg/dl, trigliserida ≥ 250 mg/dl).
  5. Riwayat penyakit jantung.
  6. Diet tidak seimbang.
  7. Merokok atau terpapar asap rokok

(Perkeni 2019)

Gejala pada Daibetes Mellitus

Gejala khas yang sering terjadi yaitu :

  • Sering haus dari biasanya
  • Sering kencing
  • Cepat lapar
  • Penurunan berat badan tanpa sebab

Selain itu bisa juga didapatkan gejala lainnya yaitu :

  • Mudah mengantuk dan lelah
  • Pandangan kabur
  • Luka susah sembuh
  • Kesemutan
  • Bisul yang hilang timbul
  • Impotensi
  • Gatal pada area kewanitaan

Kriteria Diagnosis Diabetes Mellitus (Perkeni 2019)

  • Pemeriksaan glukosa plasma puasa>126 mg/dl, puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam

Atau

  • Pemeriksaan glukosa plasma>200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram

Atau

  • Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu>200 mg/dl dengan keluhan klasik atau krisis hiperglikemia

Atau

  • Pemeriksaan Hb A1c > 6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP) dan Diabetes Control and Complications Trial assay (DCCT)

 

(Perkeni 2019)

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan kedalam kelompok prediabetes yang mreliputi toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT)

  • Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100 – 125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2-jam < 140 mg/dl
  • Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2-jam setelah TTGO antara 140 – 199 mg/dl dan glukosa plasma puasa < 100 mg/dl
  • Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
  • Diabetes prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan Hb A1c yang menunjukkan angka 5,7 – 6,4%

 

Cara Pelaksanaan TTGO (WHO, 1994)

  • Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien tetap makan (dengan karbohidrat yang cukup) dan melakukan kegiatan jasmani seperti kebiasaan sehari-hari
  • Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa glukosa tetap diperbolehkan
  • Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa
  • Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 g/kg BB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum dalam waktu 5 menit
  • Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai
  • Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa
  • Selama proses pemeriksaan, subjek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Tri Djoko Endro Susilo, Sp.PK

(Dokter Spesialis Patologi Klinik RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating