Waspada Hipoglikemia pada Penderita Diabetes Melitus 5/5 (2)

Apa itu Hipoglikemia?

Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah seseorang turun di bawah normal, umumnya di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini sering terjadi pada penderita diabetes melitus, terutama mereka yang menggunakan obat penurun gula darah atau insulin. Walau terlihat sepele, hipoglikemia bisa berbahaya jika tidak segera ditangani karena otak dan tubuh membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama.

Penyebab Hipoglikemia pada Penderita Diabetes

Beberapa hal yang dapat menyebabkan kadar gula darah turun terlalu rendah antara lain:
– Dosis obat atau insulin berlebih
– Terlambat makan atau melewatkan waktu makan setelah minum obat diabetes
– Aktivitas fisik berat tanpa penyesuaian asupan karbohidrat
– Konsumsi alkohol, terutama saat perut kosong
– Kombinasi beberapa obat yang meningkatkan efek penurunan gula darah.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Tanda-tanda awal hipoglikemia bisa muncul secara mendadak. Waspadai gejala berikut:
– Rasa lemas, gemetar, atau berkeringat dingin
– Jantung berdebar atau terasa cemas tanpa sebab
– Pusing, sulit konsentrasi, atau pandangan kabur
– Lapar berlebihan
– Pada kasus berat: bingung, kejang, bahkan penurunan kesadaran

Jika gejala-gejala ini muncul, penderita diabetes harus segera memeriksa kadar gula darah dan melakukan tindakan pertolongan pertama.

Pertolongan Pertama Saat Hipoglikemia

Langkah cepat untuk mengatasi hipoglikemia adalah dengan aturan 15–15:
1. Konsumsi 15 gram karbohidrat cepat serap, misalnya:
– 3–4 tablet glukosa
– 1 sendok makan gula pasir
– Β½ gelas (120 ml) jus buah atau minuman manis
2. Tunggu 15 menit, lalu periksa kembali kadar gula darah.
3. Jika masih rendah, ulang langkah tersebut.
4. Setelah kadar gula darah kembali normal, lanjutkan makan atau camilan sehat untuk mencegah gula darah turun kembali.

Jika penderita tidak sadar, jangan dipaksa makan atau minum. Segera bawa ke unit gawat darurat terdekat untuk penanganan medis.

Cara Mencegah Hipoglikemia

Penderita diabetes dapat mencegah hipoglikemia dengan langkah-langkah berikut:
– Makan secara teratur sesuai jadwal dan tidak melewatkan waktu makan
– Menyesuaikan dosis obat/insulin dengan aktivitas harian
– Selalu membawa camilan manis atau tablet glukosa
– Menghindari konsumsi alkohol
– Rutin memeriksa kadar gula darah, terutama sebelum dan sesudah aktivitas berat

Kesimpulan

Hipoglikemia adalah kondisi serius yang dapat terjadi pada penderita diabetes melitus, namun bisa dicegah dengan pengaturan makan, obat, dan gaya hidup yang baik. Penting bagi pasien dan keluarga untuk mengenali gejala sejak dini dan tahu cara menanganinya. Bila Β mengalami hipoglikemia, segera konsultasikan dengan dokter penyakit dalam atau klinik diabetes untuk evaluasi pengobatan.

Artikel ditulis oleh:

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Sumber: American Diabetes Association (ADA), 2024; PERKENI, 2023.

 

Info Selanjutnya :

Klinik Penyakit Dalam

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

DIABETES MELITUS 5/5 (1)

Apa yang dimaksud dengan Diabetes Melitus?

Diabetes melitus adalah penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi batas normal (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020), sedangkan menurut Perkeni 2021 diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (Perkeni, 2021)

Faktor risiko diabetes melitus

Faktor risiko diabetes mellitus menurut Kemenkes (2019) dibagi menjadi dua yaitu

1) Faktor risiko yang tidak bisa diubah

  1. Usia β‰₯ 40 tahun.
  2. Mempunyai riwayat keluarga penderita DM.
  3. Kehamilan dengan gula darah tinggi.
  4. Ibu dengan riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir > 4 kg.
  5. Bayi yang memiliki berat badan lahir < 2,5 kg

2) Faktor risiko yang bisa diubah

  1. Kegemukan (IMT > 23 kg/m2 ) dan lingkar perut laki-laki > 90 cm dan perempuan > 80 cm.
  2. Kurang aktivitas fisik.
  3. Hipertensi (> 140/90 mmHg).
  4. Dislipidemia (kolesterol HDL laki-laki ≀ 35 mg/dl dan perempuan ≀ 45 mg/dl, trigliserida β‰₯ 250 mg/dl).
  5. Riwayat penyakit jantung.
  6. Diet tidak seimbang.
  7. Merokok atau terpapar asap rokok

(Perkeni 2019)

Gejala pada Daibetes Mellitus

Gejala khas yang sering terjadi yaitu :

  • Sering haus dari biasanya
  • Sering kencing
  • Cepat lapar
  • Penurunan berat badan tanpa sebab

Selain itu bisa juga didapatkan gejala lainnya yaitu :

  • Mudah mengantuk dan lelah
  • Pandangan kabur
  • Luka susah sembuh
  • Kesemutan
  • Bisul yang hilang timbul
  • Impotensi
  • Gatal pada area kewanitaan

Kriteria Diagnosis Diabetes Mellitus (Perkeni 2019)

  • Pemeriksaan glukosa plasma puasa>126 mg/dl, puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam

Atau

  • Pemeriksaan glukosa plasma>200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram

Atau

  • Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu>200 mg/dl dengan keluhan klasik atau krisis hiperglikemia

Atau

  • Pemeriksaan Hb A1c > 6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP) dan Diabetes Control and Complications Trial assay (DCCT)

 

(Perkeni 2019)

Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan kedalam kelompok prediabetes yang mreliputi toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT)

  • Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100 – 125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2-jam < 140 mg/dl
  • Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2-jam setelah TTGO antara 140 – 199 mg/dl dan glukosa plasma puasa < 100 mg/dl
  • Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
  • Diabetes prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan Hb A1c yang menunjukkan angka 5,7 – 6,4%

 

Cara Pelaksanaan TTGO (WHO, 1994)

  • Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien tetap makan (dengan karbohidrat yang cukup) dan melakukan kegiatan jasmani seperti kebiasaan sehari-hari
  • Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa glukosa tetap diperbolehkan
  • Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa
  • Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 g/kg BB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum dalam waktu 5 menit
  • Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai
  • Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa
  • Selama proses pemeriksaan, subjek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Tri Djoko Endro Susilo, Sp.PK

(Dokter Spesialis Patologi Klinik RS Panti Rapih Yogyakarta)

Mohon dapat memberikan rating