Mengenal Gangguan Tidur dan Polisomnografi 4.93/5 (14)

Pernahkah Sahabat Sehat merasa tidak segar meski telah tidur semalaman? Atau mungkin mengalami nyeri kepala dan kantuk berlebihan di siang hari? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami gangguan tidur lho!

Gangguan tidur sering kali tidak terdeteksi. Sebagian orang bahkan mengabaikan gangguan tidur tersebut dan menganggapnya sebagai kondisi yang tidak berbahaya. Padahal faktanya, gangguan tidur dapat mengganggu fungsi pembuluh darah, otak, jantung, dan menurunkan kualitas hidup dari penderitanya. Lalu, bagaimana cara kita mendeteksi gangguan tidur?

 

 

Pemeriksaan Polisomnografi

Polisomnografi (PSG) adalah alat untuk memeriksa kondisi seseorang saat tidur. Dengan menggunakan PSG, kita dapat menilai kualitas tidur dan mendeteksi gangguan tidur secara objektif. Beberapa alat akan dipasang di area kepala dan badan Anda. Alat tersebut akan merekam gelombang otak, otot, dan pernapasan selama Anda tidur. Setelah itu, dokter spesialis neurologi akan memeriksa apakah gelombang-gelombang tersebut normal atau tidak normal.

Ilustrasi Pemeriksaan PSG

 

Bagaimana pola tidur yang normal?

Ketika tidur, kita dapat mengalami beberapa fase, yaitu fase non – rapid eye movement (non-REM) dan fase REM.  Fase non-REM masih bisa dibedakan menjadi fase non-REM tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3.

Saat mengantuk dan mulai tertidur, kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 1. Apabila kita tidur tetapi masih mudah terbangun (tidur dangkal), kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 2. Sedangkan ketika kita tidur dan lebih sulit dibangunkan (tidur dalam), kita sudah masuk ke dalam fase non-REM tingkat 3. Fase non-REM tingkat 3 sering diikuti dengan fase REM, dimana pada fase ini kita dapat bermimpi. Seluruh fase tersebut merupakan 1 siklus tidur. Ketika 1 siklus sudah selesai, maka kita bisa masuk ke dalam siklus yang baru.

 

Siklus Tidur Normal

 

Apa saja jenis gangguan tidur?

Gangguan tidur ada banyak jenisnya. Menurut International Classification of Sleep Disorder III (ICSD III) , gangguan tidur dapat dibagi menjadi : insomnia, gangguan bernapas saat tidur, hipersomnia, gangguan irama tidur, parasomnia, gangguan gerak saat tidur, dan gangguan tidur lainnya.  Dari berbagai jenis gangguan tidur tersebut, Anda pasti lebih familiar dengan insomnia dan gangguan bernapas saat tidur (seperti mengorok).

Insomnia adalah gangguan tidur dimana penderitanya mengalami kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terjaga terlalu dini. Insomnia ini lebih sering dijumpai pada perempuan, memiliki gangguan psikiatri, atau sering mengonsumsi kopi dan rokok. Apabila insomnia tidak didiagnosis dengan tepat dan tidak ditangani, maka dapat menurunkan fungsi memori, memicu depresi, dan menurunkan performa dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda dan Gejala Insomnia

 

Pernahkah Anda melihat orang yang mengorok saat tidur, kemudian tampak berhenti bernapas sesaat? Kondisi itu disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Mengorok lebih sering dijumpai pada seseorang dengan obesitas, jenis kelamin laki-laki, usia lanjut, memiliki kelainan struktur anatomi hidung, rahang, dan dagu, memiliki pembesaran tonsil/amandel, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan rokok. Mengorok sering kali danggap sebagai hal yang wajar oleh banyak orang. Padahal kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung, seperti hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Ilustrasi OSA

 

Apa yang harus kita lakukan jika mengalami gangguan tidur?

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui jenis gangguan tidur dengan mengisi kuesioner terkait gangguan tidur dan/atau menjalani pemeriksaan PSG. Setiap jenis gangguan tidur memiliki penanganan yang berbeda-beda. Apabila tidak diperiksa secara objektif, kita tidak bisa menentukan penanganan yang sesuai. Penanganan gangguan tidur tidak hanya dengan pemberian obat, tetapi dapat berkolaborasi dengan psikolog/psikiater, dokter spesialis THT, dokter spesialis paru, rehabilitasi medik, dan ahli gizi. Konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dan hasil PSG Anda dengan dokter spesialis neurologi, agar bisa menentukan penanganan yang tepat.

Tidur yang berKualitas adalah kebutuhan bagi semua orang. Tidur yang berkualitas bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus mencegah berbagai penyakit. Jangan sepelekan gangguan tidur yang Anda alami. Yuk, periksa PSG di Rumah Sakit Panti Rapih!

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, AIFO-K, Sp.N

(Dokter Spesialis Saraf RS Panti Rapih)

 

Sumber :

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. In brief: What is “normal” sleep? [Updated 2024 Aug 1]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279322/

Islamiyah WR (ed.). 2018. Panduan Tatalaksana Gangguan Tidur. Jakarta : Sagung Seto.

Sleep Apnea: Types, Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment

Sleepapnea.sleep-disorders.net/types

Insomnia: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating

Apa Itu Neuropati? 5/5 (2)

Setiap minggu ketiga Bulan Mei merupakan Neuropathy Awareness Week, merupakan minggu yang didedikasikan untuk kewaspadaan terhadap Neuropati, belum banyak orang yang tahu tentang neuropati sehingga banyak orang masih mengabaikan keluhan neuropati.

Neuropati atau kadang dikenal dengan Neuropati perifer merupakan gangguan di serabut saraf tepi, artinya saraf yang berada diluar otak dan sumsum tulang belakang. Saraf memiliki 3 fungsi utama yaitu motorik untuk bergerak, sensorik untuk merasakan/sensibilitas dan otonom untuk mengatur organ dalam tanpa kendali sadar (involunter), neuropati dapat mengenai ketiga jenis saraf tersebut.

Bila terkena neuropati maka gejalanya sangat beragam, keluhan umunya dirasakan di tangan atau kaki, gejala yang umum bila neuropati mengenai serabut saraf sensorik antara lain adalah rasa baal atau kebas, rasa kesemutan atau tertusuk-tusuk, rasa disayat, rasa terbakar, hipersensitif dengan sentuhan ringan dan kurangnya koordinasi. Bila neuropati mengenai serabut saraf motorik maka akan menimbulkan gejala berupa kelemahan otot.

Neuropati dapat mengenai serabut saraf otonom walaupun kasusnya tidak banyak, serabut saraf otonom ini berfungsi menjalankan organ dalam dari manusia maka keluhan yang dapat muncul bila terjadi neuropati adalah keringat berlebihan atau tidak bias berkeringat, gangguan pencernaan seperti gangguan BAB dan BAK dan  tekanan darah yang turun.

Keluhan gejala neuropati ini tidak menutup kemungkinan mengenai lebih dari 2 extremitas, sehingga dapat disebut dengan polineuropati. Keluhan neuropati ini kadang sering diabaikan karena kadang dirasakan hanya suatu keluhan yang ringan. Neuropati muncul karena berbagai macam kondisi medis antara lain Penyakit autoimun seperti Lupus, Rheumatoid Artritis, Gullain Barre. Penyakit Infeksi seperti Herpes zoster, lepra dan HIV. Penyakit keganasan terutama pada sindrom paraneoplastic, myeloma dan limfoma. Dan Gangguan endokrin seperti hipotiroid dan diabetes.

Neuropati diabetes merupakan neuropati yang paling banyak dari seluruh neuropati dan bias mencapai 60% dari seluruh kasus neuropati, hal ini dikarenakan jumlah penderita diabetes yang semakin banyak, kurang lebih 30-60% pasien diabetes mengalami neuropati.

Defisiensi vitamin B, paparan bahan kimia dan logam berat (timbal dan merkuri), penggunaan obat kemoterapi atau paparan radioterapi pada kasus kanker, cedera saraf karena trauma berat maupun trauma mekanik repetitif  semuanya dapat menjadi faktor eksternal yang menyebabkan neuropati

Neuropati membutuhkan kewaspadaan agar gejala yang muncul dapat segera ditangani dan tidak muncul progresifitas dari neuropati serta kompilkasinya, apabila neuropati ini tidak dikelola dengan baik maka akan muncul komplikasi yang lebih serius seperti trauma kulit (terbakar) karena tidak dapat merasakan permukaan yang panas, luka terbuka dan ulkus terutama pada pasien diabetes dan jatuh pada lansia. Neuropati tidak dapat diabaikan karena pengelolaan neuropati secara dini memberikan hasil yang baik dan kewaspadaan terhadap gejala neuropati sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang berat dan timbulnya kecacatan.

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N
(Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Klinik Penyakit Saraf Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (2)

Mohon dapat memberikan rating