Kusta / Lepra

Kusta atau lepra adalah suatu penyakit infeksi kronik menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae atau M.leprae, dan menyerang kulit, selaput lendir  serta syaraf tepi. Penanganan yang buruk pada kasus kusta dapat menyebabkan kusta menjadi progresif sehingga terjadi kerusakan permanen pada kulit, syaraf dan mata,yang dapat menyebabkan berbagai masalah kompleks, baik medis, psikologis, sosial dan budaya.

Penyakit kusta atau lepra diperkirakan sudah mulai dikenal sejak 300 tahun sebelum masehi dengan ditemukannya bukti-bukti dari peninggalan sejarah kuno Mesir, India, Tiongkok dan Mesopotamia serta tertulis dalam kitab-kita keagamaan, di mana penderita diasingkan atau mengasingkan diri. Di abad pertengahan dibangunlah tempat-tempat pengasingan penderita kusta atau lepra yang disebut Leprosaria. Hingga akhirnya, di jaman modern, Gerhard A. Hansen menemukan Mycobacterium leprae sebagai penyebab penyakit kusta atau lepra ini.

Gejala yang timbul pada penderita kusta atau lepra sangat bervariasi/ dapat menyerupai berbagai gangguan kulit yang lain. Gejala dan tanda yang utama adalah adanya bercak merah atau putih yang berkurang rasa/mati rasa. Bila terjadi kerusakan syaraf, akan menimbulkan mati rasa disertai dengan kelemahan otot. Komplikasi lebih lanjut meliputi gangguan di mata, tulang, otot dan jaringan lainnya, dengan deformitas (gangguan bentuk) dan disabilitas. Facies leonina/wajah singa terjadi karena terbentuknya banyak lipatan akibat dari infiltrasi/timbunan kuman pada kulit wajah.

Diagnosis penyakit kusta atau lepra, ditegakkan berdasarkan tanda kardinal :

  1. Gejala klinis yang khas (ujud kelainan kulit dan gangguan sensorik/mati rasa)
  2. Pembesaran syaraf
  3. Usap/kerokan kulit dengan temuan BTA (bakteri tahan asam) +

Cara penularan belum diketahui secara pasti. Berdasarkan asumsi klasik, yaitu kontak langsung antara kulit dan kulit atau melalui udara yang dihisap (inhalasi). Masa inkubasi berkisar 40 hari hingga 40 tahun, dengan rata-rata 2 – 5 tahun. Penyakit kusta atau lepra bukanlah penyakit keturunan.M. Leprae dapat ditemukan di kulit, akar rambut, kelenjar keringat dan ASI. Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya penyakit kusta adalah patogenesis kuman, cara penularan, kondisi sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang terkai dengan kerentanan, perubahan kekebalan tubuh dan kemungkinan reservoir di luar manusia (binatang armadillo).

Penyakit kusta atau lepra diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu :

  1. Pausibasiler (PB)

Didapatkan 2 – 5 bercak putih atau merah di kulit, asimetris, dengan hilang/mati rasa dan disertai kerusakan satu serabut syaraf.

  1. Multibasiler (MB)

Didapatkan lebih dari 5 bercak, penyebaran lebih simetris, disertai hilang/mati rasa dan disertai kerusakan banyak serabut syaraf.

Pengobatan pada penyakit kusta atau lepra disebut MDT (Multi Drug Therapy) atau kombinasi yang terdiri dari Rifampisin, Klofasimin dan Dapson, (telah tersedia dalam kemasan dosis per bulan) serta Ofloksasin atau Minoksiklin. MDT tersedia dalam 2 kemasan berbeda, sesuai golongan penyakit kusta, MB dan PB. Untuk kusta MB, penderita diharuskan minum 12 dosis dalam waktu 12 – 18 bulan, sedangkan untuk kusta PB, penderita diharuskan minum 6 dosis dalam waktu 6 – 9 bulan. Penderita dinyatakan sembuh, apabila sudah menyelesaikan jumlah dosis dalam waktu yang telah ditentukan berdasarkan golongan kustanya, meski pun masih ada gejala sisa.

Pada penyakit kusta atau lepra, dikenal suatu kondisi yang disebut sebagai reaksi. Reaksi lepra adalah suatu episode aktivitas penyakit yang meningkat secara mendadak, berupa hipersensitivitas akut terhadap antigen M. Leprae, oleh karena adanya gangguan pada keseimbangan imunologis/perubahan status imunitas penderita. Keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan syaraf dan kecacatan. Terdapat 2 macam reaksi lepra :

  1. Reaksi tipe 1 (reaksi reversal)
  • Bercak kulit memerah dan bengkak
  • Nyeri dan bengkak pada serabut syaraf
  • Tanda kerusakan syaraf : Mati rasa dan lemah otot
  • Demam dan malaise (lemah, letih, lesu)
  • Bengkak pada kaki & tangan
  1. Reaksi tipe 2 (eritema nodosum leprosum)
  • Benjolan-benjolan merah dan nyeri di kulit
  • Demam, nyeri sendi dan malaise
  • Terkadang disertai nyeri dan bengkak di serabut syaraf
  • Gangguan di mata

Gejala sisa atau kecacatan yang dapat timbul pada penyakit kusta atau lepra, meliputi kondisi impairment (kerusakan struktur dan fungsi psikologis, fisiologis dan anatomis), disability (keterbatasan untuk melakukan kegiatan sehari-hari) dan handicap (ketidakmampuan yang membatasi kehidupan dalam masyarakat dan pekerjaan). Kecacatan tersebut mengenai tangan atau kaki dalam bentuk mati rasa, dengan atau tanpa deformitas (gangguan bentuk) atau kerusakan, dan pada mata berupa gangguan penglihatan, peradangan, lagoftalmus, dsb.

Kusta atau lepra masih memiliki stigma negatif di masyarakat dan kalangan petugas kesehatan sendiri. Hal ini karena kurangnya pengetahuan atau pemahaman serta keyakinan yang salah tentang kusta dan cacat yang diakibatkan. Mari hapus stigma dan hilangkan diskriminasi pada penderita kusta. Kita dukung dan wujudkan Indonesia eliminasi Kusta di tahun 2021.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh: dr. Radijanti Anggraheni, Sp.KK (Dokter Spesialis Kulit Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)