Kenali Faktor Risiko dan Cara Mengatasi Perlemakan Hati (Fatty Liver) 5/5 (1)

Perlemakan hati atau fatty liver adalah kondisi ketika lemak menumpuk berlebihan di dalam sel-sel hati. Dalam dunia medis, kondisi ini sering disebut sebagai fatty liver disease atau steatotic liver disease. Hati sebenarnya memang mengandung sedikit lemak, tetapi jika jumlahnya terlalu banyak maka fungsi hati dapat terganggu. Perlemakan hati cukup sering ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak. Namun, orang dengan berat badan normal pun tetap bisa mengalami kondisi ini.

 

Pada tahap awal, perlemakan hati sering tidak menimbulkan gejala sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Sebagian penderita hanya merasa cepat lelah, perut kanan atas terasa tidak nyaman, atau tubuh terasa kurang bugar. Karena gejalanya samar, kondisi ini sering baru diketahui saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin atau USG abdomen. Meski tampak ringan, perlemakan hati tidak boleh dianggap sepele karena pada sebagian orang dapat berkembang menjadi peradangan hati, kerusakan jaringan hati, bahkan sirosis atau gagal hati dalam jangka panjang.

Selain merusak hati, perlemakan hati juga berkaitan erat dengan gangguan metabolik lainnya. Orang dengan fatty liver memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Oleh karena itu, perlemakan hati bukan hanya masalah pada hati saja, tetapi juga menjadi tanda bahwa metabolisme tubuh sedang tidak sehat. Semakin dini kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika seseorang memiliki faktor risiko seperti obesitas, lingkar perut besar, diabetes, kolesterol atau trigliserida tinggi, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan. Pemeriksaan juga dianjurkan bila hasil tes fungsi hati meningkat tanpa penyebab yang jelas. Dokter biasanya akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes darah, dan USG hati. Pada kondisi tertentu, mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk menilai apakah sudah terjadi peradangan atau kerusakan hati yang lebih lanjut.

Kabar baiknya, perlemakan hati sering kali dapat membaik dengan perubahan gaya hidup. Penanganan utama bukanlah obat khusus, melainkan memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik. Penurunan berat badan secara bertahap terbukti dapat mengurangi kadar lemak di hati. Mengurangi konsumsi minuman manis, makanan cepat saji, gorengan, dan karbohidrat berlebihan juga sangat membantu. Selain itu, olahraga rutin minimal 30 menit sebanyak 3–5 kali seminggu dapat memperbaiki kesehatan hati dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Bagi orang yang sudah mengalami perlemakan hati, ada beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari. Perbanyak konsumsi sayur, buah, protein sehat, dan air putih. Hindari kebiasaan begadang karena kualitas tidur juga berpengaruh terhadap metabolisme tubuh. Batasi konsumsi alkohol dan hindari penggunaan obat atau suplemen tanpa anjuran dokter karena beberapa zat dapat memperberat kerja hati. Jika memiliki diabetes atau kolesterol tinggi, usahakan penyakit tersebut terkontrol dengan baik karena sangat memengaruhi kondisi hati.

Pencegahan perlemakan hati sebenarnya dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menjaga berat badan ideal, aktif bergerak, makan dengan pola seimbang, dan membatasi gula berlebih merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Pemeriksaan kesehatan rutin juga membantu mendeteksi masalah lebih awal sebelum muncul kerusakan yang serius. Dengan gaya hidup yang lebih sehat, hati dapat tetap bekerja optimal dan risiko berbagai penyakit metabolik pun ikut menurun.

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rendhy Wisnugroho Santoso, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Mohon dapat memberikan rating

Diabetes Gestasional: Waspadai Kenaikan Gula Darah Selama Kehamilan 5/5 (3)

Apa Itu Diabetes Gestasional?

Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang muncul selama kehamilan dan biasanya menghilang setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi ketika tubuh ibu hamil tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan selama masa kehamilan, sehingga kadar gula darah meningkat.

Perubahan hormon yang terjadi saat hamil dapat membuat tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, dan pada sebagian wanita, hal ini menyebabkan gula darah naik hingga menimbulkan gejala atau komplikasi.

Siapa yang Berisiko?

Setiap ibu hamil berpotensi mengalami diabetes gestasional, namun risikonya lebih tinggi pada mereka yang memiliki faktor-faktor berikut:

  • – Usia di atas 25 tahun
  • – Berat badan berlebih atau obesitas sebelum hamil
  • – Riwayat keluarga dengan diabetes
  • – Pernah mengalami diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
  • – Melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4 kg
  • – Riwayat keguguran berulang atau bayi lahir mati
  • – Menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Gejala dan Waktu Terjadi

Sebagian besar ibu hamil tidak merasakan gejala khas, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting. Namun, pada beberapa kasus dapat timbul keluhan seperti:

  • – Sering haus dan sering buang air kecil
  • – Cepat lelah
  • – Penglihatan kabur
  • – Berat badan bayi meningkat berlebihan pada pemeriksaan USG

Diabetes gestasional biasanya terdeteksi pada trimester kedua atau ketiga, saat tubuh mengalami perubahan metabolik yang lebih besar.

Bagaimana Diagnosisnya?

Pemeriksaan skrining awal dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar gula darah pada usia kehamilan 24-28 minggu. Apabila didapatkan hasil yang tidak normal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Pemeriksaan ini dilakukan di laboratorium, di mana pasien diminta meminum larutan gula, kemudian kadar glukosa darah diperiksa pada waktu tertentu. Kriteria diagnosis mengikuti panduan dari WHO atau Kementerian Kesehatan RI. Bila kadar glukosa melebihi batas normal, maka ibu hamil dinyatakan mengalami diabetes gestasional.

Dampak bagi Ibu dan Janin

  • – Bayi besar (makrosomia), sehingga berisiko saat persalinan
  • – Kelahiran prematur
  • – Hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) pada bayi setelah lahir
  • – Risiko bayi mengalami obesitas dan diabetes di kemudian hari
  • – Tekanan darah tinggi dan preeklampsia pada ibu
  • – Peningkatan resiko diabetes tipe 2 setelah melahirkan

Bagaimana Penanganannya?

Sebagian kasus dapat dikendalikan tanpa obat, dengan cara:

  • – Mengatur pola makan: makan lebih sering dengan porsi kecil, hindari makanan tinggi gula sederhana
  • – Aktivitas fisik ringan: seperti jalan kaki atau senam hamil sesuai anjuran dokter
  • – Pemantauan kadar gula darah secara teratur

Bila kadar gula darah tetap tinggi, dokter dapat memberikan insulin untuk menjaga agar kadar gula darah tetap aman. Obat oral biasanya tidak direkomendasikan selama kehamilan.

Bagaimana Mencegahnya?

  • – Menjaga berat badan ideal
  • – Mengonsumsi makanan sehat dan seimbang
  • – Rutin berolahraga
  • – Melakukan pemeriksaan kadar gula darah bila memiliki faktor risiko
  • – Kontrol antenatal secara teratur

Kesimpulan

Diabetes gestasional adalah kondisi serius namun dapat dikendalikan dengan baik bila terdeteksi dini. Pemeriksaan kehamilan rutin, pola makan sehat, dan gaya hidup aktif sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Setelah melahirkan, pemeriksaan gula darah tetap perlu dilakukan, karena sebagian wanita berisiko mengalami diabetes tipe 2 di masa depan.

Disclaimer

Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan umum. Untuk diagnosis dan penanganan lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis profesional.

Artikel ditulis oleh :

dr. Levina Prima Rosalia, Sp.PD

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Panti Rapih Yogyakarta)

Referensi

  1. American Diabetes Association. Standards of Medical Care in Diabetes – 2025. Diabetes Care.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Gestasional. 2021.
  3. World Health Organization. Diagnostic criteria and classification of hyperglycaemia first detected in pregnancy. 2013.

 

Info Selanjutnya :

Klinik Penyakit Dalam

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating