Mengenal Penyakit Parkinson dalam Rangka World Parkinson Day 2026 5/5 (8)

Tubuh yang kaku, tangan yang tremor, dan gerakan yang melambat. Itulah kondisi yang sering kita jumpai pada pasien dengan Penyakit Parkinson. Tetapi, apa itu Penyakit Parkinson?

Apa itu Penyakit Parkinson?

Penyakit Parkinson, atau lebih dikenal dengan “buyutan”, adalah salah satu jenis penyakit yang terjadi pada sistem saraf. Kerusakan terjadi pada pusat koordinasi gerakan otot yang disebut ganglia basalis. Penyakit ini bersifat progresif, yang artinya semakin lama akan semakin memburuk.

Penyakit Parkinson tidak menular, namun cenderung lebih sering dijumpai pada usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, memiliki riwayat penyakit saraf lain seperti stroke dan benturan kepala berulang. Pada umumnya Penyakit Parkinson muncul pada usia 40-70 tahun, rata-rata di atas usia 55 tahun. Di Indonesia, diperkirakan 10 orang dari setiap tahunnya mengalami Penyakit Parkinson. Penderita Parkinson sampai saat ini sekitar 200.000-400.000 dan diperkirakan akan menyerang 876.665 orang di Indonesia dari total jumlah penduduk sebesar 238.452.952 (Sumber : Buku Panduan Tatalaksana Penyakit Parkinson Indonesia, 2024).

 

 

Tanda dan Gejala Penyakit Parkinson

Awal mula seseorang menderita Penyakit Parkinson sering kali tidak diketahui dengan tepat. Rata-rata penyakit Parkinson terdiagnosis pada usia 60 tahun. Namun, gejala Penyakit Parkinson mungkin sudah dimulai jauh sebelum seseorang terdiagnosis Penyakit Parkinson. Tahapan tersebut disebut dengan tahap pre-diagnosis, dimana pasien mengalami gejala-gejala tertentu yang tidak disadari hal itu merupakan bagian dari Penyakit Parkinson, antara lain: gangguan buang air, hipotensi dengan perubahan posisi tubuh dari duduk menjadi berdiri (hipotensi ortostatik), gangguan mata, gangguan penciuman, gangguan tidur, depresi dan gangguan fungsi luhur/kognitif.

Lama kelamaan, tanda dan gejala khas Penyakit Parkinson akan muncul yang disebut sebagai gejala motorik. Gejala motorik dari Penyakit Parkinson meliputi gerakan yang semakin melambat, gangguan keseimbangan, kekakuan pada tangan dan kaki, tremor, postur/posisi badan yang semakin membungkuk, gangguan menelan, dan ekspresi wajah yang semakin datar. Seluruh tanda dan gejala ini akan semakin memberat seiring waktu. Sering kali, pasien berobat ke dokter pada saat gejala motorik ini sudah dirasakan.

Tanda dan Gejala Penyakit Parkinson

 

Penanganan Penyakit Parkinson

Hingga saat ini, belum ada obat atau alat yang bisa menyembuhkan Penyakit Parkinson sepenuhnya. Obat yang diberikan pada pasien dengan Penyakit Parkinson bertujuan untuk meringankan gejala dan memperlambat perburukan kondisi. Beberapa tindakan operasi dapat dilakukan pada pasien yang memenuhi kriteria. Oleh karena itu, pasien yang diduga mengalami Penyakit Parkinson harus memeriksakan diri ke dokter spesialis neurologi agar dapat memeroleh penanganan yang tepat.

Pasien dengan Penyakit Parkinson yang juga mengalami berbagai penyakit lain, seperti stroke, hipertensi, atau diabetes melitus, juga harus menjalani pengobatan untuk penyakit-penyakit tersebut. Apabila penyakit penyerta tidak ditangani dengan baik, maka Penyakit Parkinson akan lebih cepat memburuk.

Menghadapi Penyakit Parkinson bukanlah suatu hal yang mudah. Pasien dan keluarga pasien sering mengalami frustasi dan lelah menjalani pengobatan. Oleh karena itu, dukungan sosial dan kondisi mental yang stabil juga sangat dibutuhkan. Makan makanan dengan gizi seimbang serta olahraga rutin terbukti dapat membantu memperlambat perburukan Penyakit Parkinson. Fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi juga perlu dilakukan secara rutin. Kombinasi dari seluruh tindakan tersebut akan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan Penyakit Parkinson.

 

Menderita Penyakit Parkinson bukanlah akhir dari segalanya. Penderita penyakit ini tetap dapat bekerja, berkarya, dan beraktivitas dengan baik. Rumah Sakit Panti Rapih siap melayani para pasien dengan Penyakit Parkinson.

 

 

Artikel ditulis oleh


dr. Esdras Ardi Pramudita, M.Sc, Sp.N, FAAN, DFIDN, MHPM

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Neurologi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Penyakit Parkinson 5/5 (1)

Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit yang timbul akibat adanya gangguan pada salah satu pusat di otak yang mengatur pergerakan tubuh atau pusat motorik. Pusat motorik tersebut bernama substansia nigra pars compacta dan disertai kekurangan salah satu senyawa kimia yaitu dopamin.

Parkinson lebih sering dialami oleh laki-laki dan berusia lanjut atau di atas 60 tahun. Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam kejadian Parkinson. Penyakit ini mulai banyak dikenal setelah salah satu petinju professional terkenal mengalami penyakit ini, yaitu Muhammad Ali. Faktor risiko utama Muhammad Ali mengalami PP adalah adanya riwayat benturan kepala berulang.

Riwayat paparan terhadap pestisida dan herbisida jangka panjang juga meningkatkan risiko PP. Selain itu, faktor genetik juga memiliki peranan penting dalam kejadian PP khususnya apabila PP muncul pada usia dini. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan PP akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami PP di kemudian hari.

Penyakit parkinson memiliki tanda dan gejala yang khas. Oleh karena bagian otak yang terganggu adalah bagian motorik, maka sebagian besar tanda dan gejala PP melibatkan otot dan tampak pada anggota gerak. Tremor adalah gejala yang paling sering dikeluhkan pertama kali oleh pasien. Tremor tersebut biasa muncul pada satu tangan terlebih dahulu dan tampak jelas saat pasien sedang diam (resting tremor). Tremor juga dapat muncul pada wajah dan tungkai.

Gejala PP yang lain meliputi; kekakuan tubuh, gerakan tubuh semakin melambat dan gangguan keseimbangan tubuh. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan pasien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Cara berjalan pasien akan tampak tidak normal. Saat berjalan, tangan pasien tampak tidak mengayun dengan leluasa, tidak dapat mengangkat kaki tinggi dan langkah kaki menjadi pendek-pendek sehingga menimbulkan kesan berjalan seperti diseret atau seperti robot.

Ekspresi wajah pasien juga menurun atau tidak banyak berekspresi sehingga memberikan kesan seperti wajah topeng. Kondisi ini disebut sebagai hipomimia. Ketika pasien diminta untuk menulis, tulisan pasien menjadi semakin kecil. Hal ini disebut sebagai mikrografia.

Saat berbicara, volume suara pasien semakin lama semakin mengecil yang disebut sebagai hipofonia dan terdengar monoton (nada suara terdengar sama). Pasien juga mudah kehilangan keseimbangan dan mengalami penurunan reflex sehingga mudah terjatuh.

Pada kondisi lain, pasien dengan PP dapat mengalami gangguan mental seperti depresi, demensia, gangguan berkemih seperti retensi urine, gangguan pencernaan seperti konstipasi, gangguan fungsi seksual (disfungsi ereksi), dan gangguan tidur atau insomnia.

Pada kondisi tertentu pasien juga dapat mengalami gangguan pada sistem indera berupa penurunan fungsi penciuman yang disebut sebagai hiposmia, rasa kesemutan dan penurunan fungsi penglihatan.

Gejala dari PP muncul secara perlahan dan semakin lama semakin memberat seiring waktu. Oleh karena itu, pasien biasanya tidak menyadari kapan awal mulanya timbul gejala PP dan datang dalam kondisi yang sudah lanjut. Penegakan diagnosis PP adalah secara klinis, yaitu dengan melakukan pengkajian riwayat penyakit pada pasien dan dengan pemeriksaan fisik.

PP tidak dapat disembuhkan. Tujuan utama dari penanganan PP adalah untuk mengendalikan tanda dan gejala PP agar tidak semakin memberat. Obat yang biasa diberikan pada pasien PP adalah obat yang mengandung levodopa, agonis dopamin,  monoamine oxidase B inhibitor, contohnya selegilin dan rasagilin, serta obat antikolinergik (triheksifenidil).

Penanganan lain yang dapat diberikan kepada pasien PP melalui operasi dengan deep brain stimulation. Penanganan ini diberikan kepada pasien dengan PP yang tidak menunjukkan respons yang baik terhadap obat.

Ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf 
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating