Mengenali Tanda Keganasan pada Anak Sejak Dini 5/5 (3)

Kanker pada anak merupakan masalah kesehatan serius yang sering kali terlambat dikenali. Meskipun jumlah kasusnya lebih kecil dibandingkan kanker pada orang dewasa, kanker termasuk salah satu penyebab kematian utama pada anak usia sekolah dan remaja. Permasalahan terbesar di Indonesia adalah sebagian besar anak dengan kanker datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan dan kualitas hidup menjadi jauh lebih rendah. Padahal, banyak jenis kanker pada anak memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi apabila ditemukan dan ditangani sejak dini.

Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, kanker pada anak tidak berkaitan dengan gaya hidup atau faktor perilaku. Penyebabnya sering kali tidak jelas dan gejalanya cenderung tidak khas. Anak, terutama usia kecil, juga belum mampu mengungkapkan keluhan secara baik. Oleh karena itu, peran orang tua, keluarga, guru, kader kesehatan, serta tenaga kesehatan di lini depan menjadi sangat penting dalam mengenali tanda-tanda awal keganasan pada anak.

Secara umum, keganasan pada anak dapat diawali oleh keluhan yang tampak ringan dan sering disalahartikan sebagai penyakit infeksi biasa. Anak dapat mengalami demam berulang atau berkepanjangan (> 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, tampak pucat, lemah, mudah lelah, dan kurang aktif dibandingkan biasanya. Penurunan nafsu makan dan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, keringat malam, serta nyeri tulang atau sendi yang menetap dan semakin memberat, khususnya bila mengganggu aktivitas berjalan, juga merupakan tanda yang perlu diwaspadai. Selain itu, perdarahan spontan seperti mimisan berulang, gusi berdarah, atau munculnya bintik merah pada kulit, serta pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri dan terus membesar (tidak mengecil setelah 4-6 minggu, ukuran >2.5 cm , keras tidak nyeri, terletak di daerah supraklavikula, dapat menjadi petunjuk adanya keganasan.

Beberapa jenis kanker anak memiliki tanda khas yang relatif mudah dikenali.

  • Leukemia, sebagai kanker tersering pada anak, sering ditandai dengan pucat, demam tanpa sebab jelas, perdarahan kulit atau mukosa, nyeri tulang hebat, serta pembesaran hati, limpa, atau testis.
  • Retinoblastoma, kanker mata pada anak, memiliki tanda khas berupa leukokoria, yaitu tampakan putih pada bagian hitam mata seperti mata kucing saat terkena cahaya, yang sering disadari pertama kali oleh orang tua. Retinablastoma juga berkaitan dengan faktor genetik.
  • Kanker tulang, terutama osteosarkoma, biasanya ditandai dengan nyeri tulang yang semakin berat pada malam hari, disertai pembengkakan lokal yang terasa hangat, bahkan dapat menyebabkan patah tulang setelah trauma ringan.
  • Neuroblastoma dapat muncul sebagai benjolan di perut, mata menonjol, atau lebam di sekitar mata tanpa riwayat cedera. Limfoma maligna sering menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau lipat paha yang tidak nyeri, disertai demam, keringat malam, dan penurunan berat badan.
  • Karsinoma nasofaring pada anak dapat diawali dengan hidung tersumbat lama, mimisan berulang, gangguan pendengaran satu sisi, atau benjolan di leher.

Keganasan pada sistem saraf pusat dapat berupa tanda sakit kepala yang baru muncul terutama pada pagi hari atau hingga membangunkan anak dari tidur, disertai muntah, gangguan penglihatan, kelemahan anggota gerak, penurunan prestasi sekolah, dan perubahan perilaku yang progresif. Dari tanda tanda tersebut kewaspadaan terhadap gejala yang menetap, progresif, tidak sesuai usia, atau tidak respons terhadap pengobatan perlu segera dievaluasi untuk adaya keganasan oleh tenaga medis.

Deteksi dini kanker pada anak sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Data menunjukkan bahwa keterlambatan diagnosis merupakan penyebab utama tingginya angka kematian kanker anak di Indonesia. Bila kanker dikenali pada stadium dini dan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai, peluang hidup anak meningkat secara signifikan dan komplikasi jangka panjang dapat diminimalkan

Sebagai penutup, penting untuk ditekankan bahwa kanker pada anak bukanlah penyakit yang selalu berakhir fatal. Kewaspadaan terhadap perubahan kondisi anak, terutama bila keluhan tidak membaik dengan pengobatan biasa, merupakan langkah awal yang sederhana namun sangat menentukan. Deteksi dini, rujukan tepat waktu, dan penanganan yang sesuai dapat menyelamatkan nyawa serta masa depan anak.

 

Sumber :

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Pedoman Penemuan Dini Kanker pada Anak.2015

WHO. Childhood cancer. 2025. Diunduh dari : https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer-in-children

Frias VL, Lopez MH, Garcia IC, Navas PI. How to suspect cancer in Primary Care.Pediatr Integral 2021; XXV (6): 283 – 295

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Christo Darius Junendytya, Sp. A

(Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Apa itu Leukemia? 5/5 (3)

Kanker darah atau Leukemia merupakan suatu keadaan dimana sel darah putih diproduksi tidak normal dalam sumsum tulang. Keadaan ini dapat dialami oleh orang dewasa, maupun anak-anak. Leukemia ini merupakan suatu bentuk keganasan yang ditemukan dalam darah dan sumsum tulang.

Dalam prosesnya manusia akan terdapat 3 jenis sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih ( leukosit) dan trombosit. Yang mana setiap sel darah tersebut mempunyai fungsinya masing-masing. Sumsum tulang akan memproduksi sel darah, dimana komposisinya sudah di atur sedemikian rupa pada nilai normalnya. Mekanisme ini pun sangat dikontrol dan diawasi, sehingga produksi sel darah dapat dengan baik berjalan sesuai dengan nilai normalnya. Namun ada kalanya proses ini pun terganggu, dimana adanya ketidakseimbangan pembuatan sel darah. Keadaan yang dimaksud adalah Sel darah putih diproduksi jauh lebih banyak, melebihi yang diperlukan tubuh, dan leukosit ini pun tidak dapat bekerja dengan baik,  yang mana kerja dari sel leukosit ini untuk melawan infeksi.

Leukemia ini juga mempunyai beberapa jenis yang berbeda. Perbedaan jenis leukemia ini pun dapat dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu berdasarkan kecepatan perkembangannya dan berdasarkan jenis sel darah putih tersebut yang mengalami masalah.

Berdasarkan kecepatan perkembangannya, leukemia ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu leukemia akut dan leukemia kronis. Yang dimaksud dalam leukemia akut disini adalah perjalanan penyakit dari leukemia ini berlangsung cepat, sehingga diperlukan suatu penanganan yang cepat pula. Kebalikan dari keadaan leukemia akut, leukemia kronis merupakan kondisi yang perjalanan penyakit ini tidak secepat leukemia akut. Dalam kategori kedua adalah berdasarkan jenis sel darah putihnya, yaitu leukemia myelogenus dan leukemia limfositik.

Leukemia myelogenus, dapat menimbulkan gangguan yang erat kaitannya dengan trombosit, sel darah merah dan sel darah putih. Sedangkan leukemia limfositik akan berdampak, dimana sel-sel limfosit akan mengalami gangguan sehingga imun manusia dapat terganggu.

Dari penjelasan diatas, kita dapat mengetahui ada 4 jenis besar leukemia yaitu;

  • Acute lymphocytic leukemia (ALL)
  • Acute myelogenous leukemia (AML)
  • Chronic myelogenous leukemia (CML)
  • Chronic lymphocytic leukemia (CLL)

Pada prinsipnya leukemia dapat terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. Jenis Acute lymphocytic leukemia atau ALL adalah leukemia yang umunya ditemukam pada anak-anak dan Acute myelogenous leukemia (AML)  adalah yang paling umum kedua. Dua leukemia yang umum ditemukan pada orang dewasa adalah Acute myelogenous leukemia (AML) dan Chronic lymphocytic leukemia (CLL).

Gejala Pada Leukemia 

Gejala pada leukemia merupakan gejala umum yang tidak khas dan sangat bervariasi, tergantung pada jenis dan sejauh mana staging dari leukemia itu sendiri, maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan diagnosa yang tepat.

Gejala yang umumnya dialami adalah :

  • Demam, keringat pada malam hari dan gejala yang menyerupai flu
  • Penurunan berat badan tidak normal
  • Terlihat pucat
  • Nyeri kepala dan nyeri tulang
  • Kelelahan dan kelemahan berkepanjangan
  • Muncul tanda perdarahan atau mudah berdarah, seperti juga munculnya bintik metah pada kulit, gusi yang mudah bengkak dan berdarah
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Rasa tidak nyaman di perut yang berkepanjangan dikarenakan adanya pembesaran organ
  • Mudah terserang infeksi

Faktor resiko penyebab Leukemia adalah

  • Herediter atau keturunan dari keluarga yang pernah menderita keganasan sebelumnya
  • Paparan radiasi atau zat kimia tertentu seperti benzene
  • Orang yang menerima kemoterapi
  • Down syndrome

Diagnosa Leukemia dapat dilakukan dengan :

  • Pengkajian mendalam dan Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan laboraturium seperti darah lengkap
  • Pemeriksaan penunjang radiologi
  • Biopsi sumsum tulang

Tatalaksana dalam kasus Leukemia secara garis besar dapat dilakukan dengan :

  • Kemoterapi
  • Terapi Radiasi
  • Terapi Stem Cell
  • Terapi Target
  • Pengobatan supportif seperti mengobati Infeksi, Transfusi dan pemberian obat lainnya

Bagi sahabat Panti Rapih yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut dan berkonsultasi langsung, maka dapat menghubungi RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

Sumber : American Society of Hematology

 

Artikel ini ditulis oleh :

dr. Dian Pratiwi, M. Sc., Sp. PD – KHOM

(Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi – Onkologi Medik)

 

Info Pelayanan :
Klinik Penyakit Darah & Kanker
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl. Cik Di Tiro 30 Yogyakarta 55223
Senin dan Rabu pk 15.00 – 17.00 WIB
Jumat pk 12.00 – 14.00 WIB

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating