Tips Hilangkan Bau Mulut 5/5 (3)

Halitosis adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan bau tidak sedap yang berasal dari rongga mulut. Bau mulut dapat disebabkan oleh faktor intraoral (dalam rongga mulut) dan faktor ekstraoral (luar rongga mulut). Walaupun penyebab bau mulut sangat beragam, namun penyebab bau mulut paling  banyak  berasal  dari  rongga  mulut. Bau mulut dapat  dapat menjadi suatu masalah yang dapat memengaruhi kualitas hidup karena menurunkan kepercayaan diri dan terganggunya hubungan sosial penderita.

Bau mulut yang tidak sedap dapat disebabkan karena adanya Volatile Sulfur Compounds (VSCs). VSCs adalah senyawa sulfur hasil produksi bakteri anaerob di rongga mulut yang bersifat mudah menguap dan berbau tidak sedap.

Bau mulut atau halitosis dikategorikan menjadi 2 kelompok yaitu delusional halitosis  dan genuine halitosis.

Delusional Halitosis

  • Pseudohalitosis: Bau mulut semu, dimana pasien mengeluhkan adanya bau mulut namun tidak dirasakan oleh orang lain, dan secara klinis tidak ditemukan adanya bau mulut.
  • Halitophobia: Tingkatan yang lebih berat dari pseudohalitosis. Ini adalah rasa takut berlebihan atau fobia bahwa pasien memiliki bau mulut, meskipun sudah dinyatakan sehat oleh dokter.

Genuine Halitosis

  • Halitosis Fisiologis
    Halitosis fisiologis adalah bau mulut  yang bersifat sementara misalnya terjadi pada saat bangun tidur atau karena mengonsumsi makanan dan minuman yang memiliki aroma yang tajam misalnya bawang, durian, alkohol, dan kebiasaan  merokok.
  • Halitosis Patologis
    Penyebab halitosis patologis dibagi menjadi dua kategori yaitu disebabkan oleh faktor  intraoral dan faktor ekstraoral.

Penyebab Intraoral (Dalam rongga mulut)

Karang gigi (kalkulus) adalah plak bakteri yang mengalami mineralisasi dan mengeras, dapat menempel pada gigi, gusi dan gigi tiruan. Jika dibiarkan, kalkulus yang menumpuk dapat menyebabkan bau mulut karena hal- hal berikut:

Struktur Berpori sebagai “Rumah” Bakteri

Kalkulus memiliki struktur yang kasar dan berpori-pori sehingga bakteri dan sisa makanan mudah terperangkap dan sulit dibersihkan hanya dengan sikat gigi biasa. Bakteri tersebut akan melakukan proses pembusukan terhadap sisa makanan dan menghasilkan gas VSCs sehingga mengeluarkan aroma khas bau mulut yang tidak sedap.

Peradangan Jaringan Pendukung Gigi (Gingivitis & Periodontitis)

Kalkulus yang menumpuk mengiritasi jaringan pendukung gigi seperti gusi dan tulang sehingga menyebabkan peradangan.

Saku Gusi (Pocket)

Peradangan tersebut menyebabkan gusi lepas sedikit demi sedikit dari perlekatannya dengan gigi dan tulang, menciptakan saku dalam.

Nanah dan Darah

Saku gusi ini menjadi tempat bagi bakteri untuk berkembang biak, terjadi infeksi, menghasilkan nanah, dan menyebabkan gusi mudah berdarah. Hal ini juga berkontribusi besar pada bau mulut.

Faktor-faktor lain yang menyebabkan bau mulut adalah kebersihan rongga mulut yang  buruk, sariawan, Sindrom Sjorgen, gigi berlubang yang belum dirawat, area celah gigi yang besar sehingga terjadi penumpukan sisa makanan, gigi yang tidak sejajar, kematian saraf gigi, sisa akar gigi, tambalan gigi yang kurang baik, gigi palsu dan alat ortodontik yang tidak pas, serta infeksi jamur.

Penurunan produksi air liur akibat penyakit tertentu maupun efek samping obat-obatan dapat memicu kondisi mulut kering. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab munculnya bau mulut.

Penyebab Ekstraoral (Luar rongga mulut)

Bau mulut dapat dipicu oleh penyakit seperti diabetes mellitus, gangguan pencernaan, penyakit ginjal, infeksi saluran pernapasan, infeksi amandel, sinusitis, atau penyakit sistemik lainnya.

 

Pengobatan / Penanganan

Pemeriksaan dan Perawatan Rongga Mulut secara Menyeluruh

Dokter gigi akan melakukan pemeriksaan dan perawatan pada gigi dan rongga mulut secara keseluruhan, antara lain:

  • Pembersihan Karang Gigi(Scaling root planing): Kalkulus tidak dapat di hilangkan hanya dengan sikat gigi dan obat kumur. Satu- satunya cara aman untuk membersihkannya adalah melalui prosedur scaling yang dilakukan secara profesional oleh dokter gigi. Dokter gigi akan membersihkan karang gigi baik yang menempel pada permukaan gigi, gusi, di bawah garis gusi, dan gigi tiruan dengan bantuan alat ultrasonik. Setelah itu dilanjutkan dengan prosedur penghalusan permukaan akar gigi.
  • Lapisan Lidah (Tongue Biofilm):Membersihkan tumpukan bakteri dan sisa makanan pada permukaan lidah.
  • Lubang Gigi:Melakukan restorasi pada gigi yang berlubang.
  • Retensi Makanan:Pembersihan sisa makanan yang terjebak di sela gigi yang luas atau gigi tidak rata.
  • Kematian saraf gigi (Nekrosis):Melakukan perawatan saluran akar atau pencabutan pada gigi yang telah mengalami kematian saraf.
  • Masalah pada Gigi Tiruan:Memperbaiki posisi kawat gigi atau gigi tiruan yang tidak pas sehingga mudah terselip kotoran dan sisa makanan.

 

Pembersihan Rongga Mulut

Penyebab halitosis yang paling umum adalah kebersihan rongga mulut yang buruk. Penting untuk menyikat gigi dan lidah secara teratur minimal 2 kali sehari pagi setelah sarapandan malam sebelum tidur. Pembersihan lidah dapat dilakukan dengan pengerok lidah (tongue scraper). Setelah itu dilanjutkan dengan penggunaan benang gigi (dental floss) untuk membersihkan area sela- sela gigi agar bebas dari plak dan sisa makanan.

Obat Kumur

Konsultasi ke dokter gigi mengenai obat kumur yang secara klinis telah terbukti efektivitasnya melawan bakteri yang menyebabkan bau mulut.

Hindari Konsumsi Makanan dan Minuman Penyebab Bau Mulut

Beberapa makanan yang beraroma tajam, seperti bawang- bawangan dan rempah-rempah bisa meninggalkan bau tidak sedap di mulut, begitu juga dengan kopi dan minuman beralkohol. Oleh karena itu, hindarilah mengonsumsi makanan atau minuman tersebut. Bila ingin mengonsumsi makan dan minuman tersebut, segera berkumur atau sikat gigi setelahnya.

Konsumsi Makanan Berserat

Makanan tinggi serat seperti buah-buahan dan sayuran dapat membantu menyegarkan mulut dan mengurangi bau tidak sedap. Selain merangsang produksi air liur, buah-buahan dan sayuran ini juga mengandung antioksidan yang dapat mengurangi bakteri di dalam mulut.

Berhenti Merokok

Selain karena bau dari asap rokok, bau mulut pada perokok juga disebabkan oleh bahan kimia di dalam rokok yang memudahkan terjadinya peradangan dan infeksi pada gigi dan gusi. Selain itu, merokok juga dapat menyebabkan mulut kering.

Tingkatkan Asupan Cairan

Bau mulut dapat disebabkan oleh kondisi mulut yang kering. Minumlah air putih sebanyak 8-10 gelas sehari, tujuannya untuk menjaga rongga mulut selalu basah dan metabolisme tubuh tetap stabil. Selain itu mengunyah permen karet bebas gula setelah makan dapat memicu air liur dalam proses self cleansing rongga mulut.

Bau mulut dapat diatasi dengan menghilangkan faktor penyebabnya serta meningkatkan kebersihan rongga mulut secara menyeluruh. Perlu diingat bahwa bau mulut juga dapat menjadi tanda adanya penyakit sistemik di dalam tubuh. Oleh karena itu, pemeriksaan yang komprehensif dan diagnosis yang akurat penting untuk menentukan penanganan bau mulut dengan tepat.

 

Artikel ditulis oleh :

drg. Lidya Restu Utami

(Dokter Gigi RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Referensi:

Alzoman H. (2021). The association between periodontal diseases and halitosis among Saudi patients. Saudi Dent J. 33(1):34-38

Hounganian R. M., Alasmari O. N., Aldosari M.M,. Alghanemi N.M. (2023). Causes and Management of Halitosis: A Narrative Review. Cureus Journal of Medical Science. 15(8): e43742.

Kapoor, U., Sharma, G., Juneja, M., Nagpal, A. (2016). Halitosis: Current concepts on etiology, Diagnosis and Management. European Journal of Dentistry. 10(2):292-300.

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Cara Mencegah dan Menghilangkan Bau Mulut., Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Halitosis (Bau Mulut). Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

Newman, M., Elangovan, S., Dragan, I., Karan, A. K. (2022). Newman and Carranza’s Eseentials of Clinical Periodontology: An Integrated Study Compantion. Elsevier., Missouri. 67

Tungare, S., Zafar, N., Paranjpe, A. G. (2023). Halitosis. StatPearls Publishing LLC., Florida.

 

Informasi Pelayanan :
Klinik Gigi
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus Terpadu RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : (0274) 514004, 514006, 521409

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Panoramic No ratings yet.

Menjelajahi Kesehatan Gigi dengan Panoramic! 🦷

Pemeriksaan Panoramic adalah kunci untuk gambaran lengkap mulut dan gigi Sahabat Sehat Panti Rapih.

Harga: Rp 338.000,-*
*) – Harga hanya untuk tindakan Panoramic
– Tarif berlaku tahun 2023

Informasi Pelayanan :
Instalasi Radiologi
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus Terpadu RS Panti Rapih Yogyakarta
Telepon : (0274) 563333 ext 1056
Waktu Layanan : Senin – Sabtu, pk 07.00 – 20.00 WIB (hari Minggu dan tanggal merah tutup)

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Perawatan Gigi pada Anak No ratings yet.

Gigi susu (gigi decidui) seperti halnya gigi permanen mempunyai beberapa fungsi yaitu fungsi pengunyahan (mastikasi), fungsi pengucapan (fonetik), fungsi kecantikan (estetik), fungsi mempertahankan ruang dalam lengkung gigi (space maintainer).

Mengingat pentingnya fungsi dari gigi susu bila terdapat penyakit/kelainan pada gigi susu harus segera dirawat karena kondisi gigi susu saat ini sangat menentukan keadaan gigi-gigi permanen penggantinya. Beberapa kelainan gigi dan mulut yang sering terjadi pada anak-anak adalah:
1. Gigi berlubang (karies gigi)
Proses terjadinya karies gigi dipengaruhi oleh 4 faktor penyebab utama yang terjadi dalam waktu bersamaan.
Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Kuman. Secara normal kuman ada dan diperlukan di rongga mulut, tetapi apabila terdapat sisa makan yang melekat pada gigi, maka kuman akan menfermentasi sisa makanan tersebut menjadi asam.
b. Sisa makanan, terutama golongan karbohidrat seperti gula dan roti. Sisa makanan yang melekat pada gigi akan diubah oleh kuman menjadi asam yang dapat melarutkan email (lapisan terluar) gigi.
c. Gigi. Dengan bentuk anatomi yang berlekuk (pit dan fissure dalam) kadang sulit untuk dapat membersihkan seluruh permukaan gigi secara sempurna.
d. Waktu. Dari ke 3 faktor diatas diperlukan proses dalam waktu yang bersamaan.

â—Ź Jika kedalaman lubang gigi pada permukaan email/dentin maka biasanya hanya diperlukan satu/dua kali kunjungan untuk dapat ditambal secara permanen.
â—Ź Jika kedalaman lubang gigi sudah mengenai saraf gigi (pulpa) maka perlu dilakukan perawatan untuk mematikan saraf gigi (devitalisasi) dan dilanjutkan dengan perawatan saluran akar yang akan memerlukan beberapa kali kunjungan sebelum dapat ditambal secara permanen.

2. Pembengkakan gusi
Infeksi yang terjadi pada gigi dapat menjalar menjadi pembengkakan pada gusi bahkan dapat sampai ke pipi/dagu. Perawatan yang dapat dilakukan adalah menghilangkan pembengkakan tersebut dengan pemberian antibiotik dan anti radang, kemudian dilanjutkan dengan perawatan saluran akar pada gigi tersebut.

3. Kesundulan (persistensi gigi susu)
Yaitu kondisi dimana gigi susu belum tanggal, sementara gigi permanen penggantinya telah tumbuh. Hal ini mengakibatkan gigi permanen tumbuh pada posisi di luar lengkung gigi, sehingga susunan gigi geligi menjadi tidak teratur. Perawatan yang dapat dilakukan adalah melakukan pencabutan pada gigi susu tersebut.

4. Gigi susu tanggal sebelum waktunya (premature loss)
Gigi susu yang tanggal sebelum waktunya dikhawatirkan menyebabkan gigi disampingnya akan mundur/maju menempati ruang yang kosong sehingga gigi permanen pengganti akan kehilangan ruang atau juga dapat mengakibatkan gigi permanen pengganti kehilangan arah ketika akan tumbuh. Perawatan yang dapat dilakukan adalah pembuatan space maintainer.

Mengingat pentingnya peran gigi susu dan akibat yang mungkin ditimbulkan dari kelainan gigi susu yang tidak dirawat maka orang tua dapat mengkonsultasikan keadaan gigi anaknya ke dokter gigi sedini mungkin. Kontrol ke dokter gigi diharapkan dilakukan setiap 6 bulan. Dokter gigi akan melakukan pencegahan terjadinya karies gigi dengan Dental Health Education, fissure sealant (melapisi lekukan gigi yang dalam dengan bahan tambal), pemberian fluor pada gigi anak-anak dan pencegahan terjadinya kesundulan gigi dengan melakukan pencabutan pada gigi susu yang sudah goyah atau dengan usia dan foto rontgen dokter gigi dapat memperkirakan waktu tanggalnya gigi susu.

Pendaftaran via PantiRapihKu: https://pantirapih.or.id/rspr/jadwalkan-kunjungan-anda-dengan-aplikasi-pantirapihku/

Artikel ini ditulis oleh:
drg. Julie Christine Limantara, Sp.KGA.
(Dokter Spesialis Kedokteran Gigi Anak  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gigi
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating

Kenapa Gigi yang Sakit Tidak Bisa Langsung di Cabut atau di Tambal? 4.95/5 (44)

Rasa sakit pada gigi yang berlubang merupakan hal yang paling sering dikeluhkan pasien saat datang ke dokter gigi untuk memeriksakan giginya. Kerapkali pasien sangat ingin menghilangkan rasa sakit tersebut dengan cara mencabut atau menambal gigi yang berlubang tersebut. Tetapi, dokter gigi seringkali tidak bisa langsung mencabut atau menambal gigi tersebut dan hal tersebut sering membuat pasien bingung. Berikut ini adalah beberapa alasan kenapa dokter gigi tidak bisa langsung mencabut atau menambal gigi yang sedang sakit tersebut.

  1. Syaraf Gigi yang Terbuka

Pada gigi berlubang dan terasa sangat sakit biasanya disebabkan oleh kondisi syaraf gigi yang terbuka. Kondisi tersebut akan membuat syaraf gigi menjadi over reaktif, juga menyebabkan syaraf membuka lebih banyak reseptor rasa sakit, sehingga rasa sakit menjadi lebih kuat dan akan membutuhkan pembiusan yang lebih banyak daripada biasanya saat akan dicabut. Selain itu, kondisi syaraf yang terbuka tersebut justru akan terasa semakin sakit bila langsung dilakukan penambalan, karena bahan tambal yang mengandung berbagai bahan kimia akan langsung bersentuhan pada syaraf yang terbuka. Itu sebabnya seringkali dokter gigi akan memberikan obat terlebih dahulu atau mematikan syaraf gigi tersebut agar rasa sakit berkurang, sehingga akan memudahkan saat perawatan berikutnya untuk mempertahankan gigi atau saat akan dilakukan pencabutan.

  1. Kondisi Gigi yang Sedang Infeksi

Gigi yang sakit bisa disebabkan oleh kondisi infeksi yang sedang terjadi pada gigi tersebut. Kondisi infeksi juga bisa merubah tingkat keasaman (pH) rongga mulut menjadi lebih asam. Pada saat akan dilakukan pencabutan maka diperlukan pembiusan, sedangkan bius tersebut tidak dapat bekerja dengan baik pada kondisi pH yang asam. Bila tetap dipaksa dicabut, bisa-bisa pencabutan akan terasa sakit karena bius yang tidak bekerja dengan baik. Selain itu, pada gigi yang sedang infeksi, banyak mengandung produk-produk yang dihasilkan oleh bakteri penyebab infeksi. Bila dalam kondisi tersebut dilakukan penambalan, produk-produk bakteri tersebut akan terjebak di dalam gigi dan akan mencari jalan keluar, sehingga akan membentuk pembengkakan pada sekitar gigi. Itu sebabnya dokter gigi biasanya menunda pencabutan atau penambalan dan mengobati infeksi tersebut terlebih dahulu, agar lebih mudah saat akan dilakukan perawatan untuk mempertahankan gigi atau pencabutan gigi.

Beberapa faktor di atas merupakan alasan kenapa gigi yang sakit tidak bisa langsung dilakukan penambalan atau pencabutan. Adapun kondisi gigi yang sakit tetap harus diperiksakan ke dokter gigi untuk bisa diketahui penyebab sakitnya dan bisa dirawat sesuai dengan penyebab sakit tersebut, sehingga rasa sakit akan segera hilang. Tetap lakukan pemeriksaan gigi secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, agar dapat mengetahui dan merawat kondisi kesehatan gigi dan mulut sebelum terlambat dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

 

Artikel ini ditulis oleh:
drg. Rizka Dindarini, Sp.Perio.
(Dokter Spesialis Gigi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gigi
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 4.95/5 (44)

Mohon dapat memberikan rating

Cara Menyikat Gigi yang Baik & Benar 5/5 (3)

Kesehatan mulut dan gigi harus selalu kita jaga untuk menghindari terjadinya beberapa penyakit mulut dan gigi. Gigi yang jarang dibersihkan juga dapat memicu timbulnya bau mulut, sariawan, gusi bengkak dan bahkan yang lebih parah bisa memicu terjadinya penyakit pada gigi dan rongga mulut. Oleh karena itu, membersihkan gigi dan mulut sudah menjadi sebuah keharusan.

Salah satu cara untuk menjaga kebersihan mulut yaitu, dengan menggososk gigi secara teratur. Namun tahukah anda, meskipun kebiasaan ini hampir dilakukan setiap orang diseluruh dunia namun hanya sekitar 20% saja yang mengetahui cara menyikat gigi yang baik dan benar, akibatnya meskipun anda rajin menggosok gigi namun tetap saja timbul masalah seperti bau mulut.

Berikut Cara Menyikat Gigi yang Benar

  1. Pegang sikat gigi senyaman mungkin, oleskan pasta gigi. Sikat atau sapukan sikat gigi depan secara naik turun dan pelan-pelan. Menyikat gigi dengan cara yang kasar atau terlalu keras bisa menipiskan lapisan gusi dan gigi menjadi sensitif. Pelan-pelan saja dan pastikan semua kotoran bagian-bagian mulut telah dibersihkan dengan baik
  2. Setelah bagian depan selesai, pindah ke bagian gigi kanan kemudian gigi kiri, cara menyikatnya sama seperti di bagian depan yaitu, dengan cara naik turun dari atas ke bawah
  3. Setelah bagian depan, kanan dan kiri sudah selesai dibersihkan sekarang menuju ke bagian gigi geraham. Sapukan secara pelan-pelan dan pastikan semua kotoran tersapu bersih oleh bulu sikat dan tidak ada kotoran yang tertinggal
  4. Setelah gigi geraham selesai dibersihkan, kita menuju gigi bagian dalam atas dan bawah. Sikat secara pelan dan merata
  5. Selain membersihkan gigi, jangan lupa juga bersihkan lidah dan langit-langit lidah serta bagian pipi samping kanan dan kiri. Lakukan dengan pelan saja. Memberihkan gigi dan lidah ini juga bisa mengurangi bau mulut hingga 80%
  6. Dalam menyikat gigi sebaiknya gunakan sikat yang berbulu lembut, tangkai lurus, kepala sikat kecil agar dapat menjangkau seluruh permukaan gigi dan jangan dengan tekanan yang keras karena dapat mengikis email dan gusi, terutama untuk gigi yang sensitif.
  7. Ritme menggosok gigi yang baik adalah dari 8-10 gosokan dan jeda waktunya 2-3 menit
  8. Untuk hasil yang maksimal juga bisa menggunakan obat kumur bilamana perlu untuk membersihkan secara menyeluruh bakteri yang menempel di gigi dan gusi
  9. Simpan sikat gigi di tempat yang bersih untuk menghindari sikat yang terinfeksi bakteri luar. Jangan lupa ganti juga sikat gigi setiap 3 bulan sekali. Gunakan sikat gigi untuk satu orang saja dan jangan bergantian karena dapat menyebabkan perpindahan bakteri dari orang satu ke orang yang lainnya
  10. Untuk pasien yang sedang dalam perawatan merapikan gigi (orthodonsi) dapat menggunakan sikat gigi khusus
  11. Gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sisa makanan yang terselip pada sela-sela gigi. Tidak dianjurkan menggunakan tusuk gigi karena dapat mengiritasi gusi

Informasi Pelayanan : 
Klinik Gigi
Lantai 5 Gedung Onder De Bogen RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

 

Mohon dapat memberikan rating