Insomnia atau bukan ya? 5/5 (8)

Sahabat Sehat, pernahkah kalian sulit untuk mulai tidur? Atau, mudah terbangun saat tidur dan akhirnya tidak bisa kembali tidur? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami insomnia. Sebetulnya, apa sih insomnia itu? Yuk, kita pelajari sama-sama!

Definisi Insomnia

Insomnia merupakan salah satu jenis gangguan tidur yang ditandai dengan :

  • Sulit mulai tidur
  • Sulit mempertahankan tidur (sering terbangun di tengah tidur)
  • Terbangun lebih awal dan sulit kembali tidur
  • Kualitas tidur buruk(non restorative)

Kondisi di atas akan menimbulkan berbagai dampak di siang hari. Penderitanya akan merasa tubuh tidak bugar, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, performa kerja menurun, dan masih banyak lagi. Insomnia jangka panjang yang tidak tertangani bisa memicu gangguan kecemasan dan depresi.

Jenis Insomnia

Insomnia bisa dibedakan berdasarkan durasinya. Insomnia jangka pendek (short-term insomnia) ditandai dengan munculnya gejala insomnia yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Insomnia jangka pendek biasa muncul pada seseorang yang baru saja mengalami stres, perubahan kebiasaan, atau perubahan lingkungan. Insomnia kronik ditandai dengan munculnya gejala insomnia selama setidaknya 3 kali per minggu selama 3 bulan atau lebih. Insomnia kronik biasa muncul pada seseorang yang memiliki penyakit medis, gangguan sistem saraf, atau gangguan mental.

Pemicu Insomnia

Ada banyak faktor yang dapat memicu insomnia. Penyalahgunaan obat dan alkohol, perubahan lingkungan, serta sleep hygiene yang buruk dapat memicu insomnia. Penyakit mental maupun fisik (gangguan jantung, nyeri, dll) juga dapat memicu timbulnya insomnia. Untuk dapat mengatasi insomnia secara efektif, pemicu insomnia ini harus segera diketahui terlebih dahulu.

Cara Mendeteksi Insomnia Secara Objektif

Banyak orang yang mengaku mengalami insomnia dan sering mendiagnosis diri sendiri (self diagnosis). Padahal belum tentu gejala yang dialaminya termasuk dalam kriteria insomnia. Ada beberapa cara untuk mendeteksi insomnia secara objektif, yaitu :

  • Mengisi kuesioner tentang insomnia

Ada beberapa kuesioner yang bisa digunakan untuk mendeteksi gangguan tidur, termasuk insomnia. Dengan mengisi kuesioner tersebut, Sahabat Sehat dapat mengetahui kualitas tidur dan juga bisa mengetahui apakah telah mengalami insomnia derajat ringan, sedang, atau berat.

  • Pemeriksaan Polisomnografi (PSG)

PSG adalah pemeriksaan untuk mendeteksi berbagai gangguan tidur. Beberapa alat akan ditempelkan di kepala, dada, perut, dan kaki Sahabat Sehat. Alat ini akan merekam aktivitas selama tidur, seperti gelombang otak, gelombang mata, gelombang otot, pola napas, posisi tubuh, kadar oksigen dalam darah, serta detak jantung. PSG dapat digunakan untuk memeriksa insomnia, apabila dokter mencurigai adanya kondisi lain yang memicu insomnia. Misalnya, gangguan pernapasan selama tidur (sleep related breathing disorder) dan gangguan kontraksi kaki selama tidur (periodic limb movement disorder).

Penanganan Insomnia

Penanganan insomnia sangat individual. Mencari penyebab utama insomnia sangatlah penting karena pengobatan insomnia harus sesuai dengan penyebabnya. Penyebab insomnia dibagi menjadi primer dan sekunder. Primer berarti tidak ada pemicu yang jelas, sedangkan sekunder berarti ada pemicu yang jelas, seperti penyakit mental, gangguan saraf, penyalahgunaan obat, atau perubahan lingkungan. Untuk menanganinya, pasien dapat diberikan tata laksana yang sesuai dengan kondisi dan memperbaiki sleep hygiene.

Sleep hygiene, atau kebersihan tidur, adalah serangkaian tindakan yang dapat meningkatkan kualitas tidur. Sleep hygine harus dilakukan oleh semua orang, tidak hanya dilakukan oleh penderita insomnia saja. Sleep hygiene ini meliputi :

  • Menjaga kamar tidur tetap bersih, rapi, dan tenang. Kamar tidur sebaiknya hanya digunakan untuk tidur dan aktivitas seksual saja. Bagi Sahabat Sehat yang tinggal dalam 1 kamar kos tanpa sekat, biasakan untuk menggunakan kasur hanya untuk tidur dan menata barang di sekitar kasur.
  • Hindari pajanan sinar berlebih sebelum jam tidur. Hal ini termasuk scrolling handphone, menonton TV, laptop, dan komputer.
  • Hindari banyak makan menjelang jam tidur. Sebaiknya Sahabat Sehat tidak makan sekitar 3 jam sebelum jam tidur.
  • Hindari konsumsi kafein berlebih terutama menjelang jam tidur.
  • Biasakan tidur dan bangun tidur di jam yang sama.
  • Kelola stres.
  • Rutin berolahraga

Nah, bagaimana Sahabat Sehat? Apakah Sahabat Sehat benar-benar mengalami insomnia? Kalau masih ragu, Sahabat Sehat bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi di Rumah Sakit Panti Rapih. Yuk tingkatkan kualitas tidur kita untuk hidup yang lebih baik!

 

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N

(Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Panti Rapih)

 

Info lebih lanjut :

Klinik Saraf RS Panti Rapih

Lantai 5, Gedung Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran 24 jam :

Telepon ; 0274 – 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Gangguan Tidur dan Polisomnografi 4.93/5 (14)

Pernahkah Sahabat Sehat merasa tidak segar meski telah tidur semalaman? Atau mungkin mengalami nyeri kepala dan kantuk berlebihan di siang hari? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami gangguan tidur lho!

Gangguan tidur sering kali tidak terdeteksi. Sebagian orang bahkan mengabaikan gangguan tidur tersebut dan menganggapnya sebagai kondisi yang tidak berbahaya. Padahal faktanya, gangguan tidur dapat mengganggu fungsi pembuluh darah, otak, jantung, dan menurunkan kualitas hidup dari penderitanya. Lalu, bagaimana cara kita mendeteksi gangguan tidur?

 

 

Pemeriksaan Polisomnografi

Polisomnografi (PSG) adalah alat untuk memeriksa kondisi seseorang saat tidur. Dengan menggunakan PSG, kita dapat menilai kualitas tidur dan mendeteksi gangguan tidur secara objektif. Beberapa alat akan dipasang di area kepala dan badan Anda. Alat tersebut akan merekam gelombang otak, otot, dan pernapasan selama Anda tidur. Setelah itu, dokter spesialis neurologi akan memeriksa apakah gelombang-gelombang tersebut normal atau tidak normal.

Ilustrasi Pemeriksaan PSG

 

Bagaimana pola tidur yang normal?

Ketika tidur, kita dapat mengalami beberapa fase, yaitu fase non – rapid eye movement (non-REM) dan fase REM.  Fase non-REM masih bisa dibedakan menjadi fase non-REM tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3.

Saat mengantuk dan mulai tertidur, kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 1. Apabila kita tidur tetapi masih mudah terbangun (tidur dangkal), kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 2. Sedangkan ketika kita tidur dan lebih sulit dibangunkan (tidur dalam), kita sudah masuk ke dalam fase non-REM tingkat 3. Fase non-REM tingkat 3 sering diikuti dengan fase REM, dimana pada fase ini kita dapat bermimpi. Seluruh fase tersebut merupakan 1 siklus tidur. Ketika 1 siklus sudah selesai, maka kita bisa masuk ke dalam siklus yang baru.

 

Siklus Tidur Normal

 

Apa saja jenis gangguan tidur?

Gangguan tidur ada banyak jenisnya. Menurut International Classification of Sleep Disorder III (ICSD III) , gangguan tidur dapat dibagi menjadi : insomnia, gangguan bernapas saat tidur, hipersomnia, gangguan irama tidur, parasomnia, gangguan gerak saat tidur, dan gangguan tidur lainnya.  Dari berbagai jenis gangguan tidur tersebut, Anda pasti lebih familiar dengan insomnia dan gangguan bernapas saat tidur (seperti mengorok).

Insomnia adalah gangguan tidur dimana penderitanya mengalami kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terjaga terlalu dini. Insomnia ini lebih sering dijumpai pada perempuan, memiliki gangguan psikiatri, atau sering mengonsumsi kopi dan rokok. Apabila insomnia tidak didiagnosis dengan tepat dan tidak ditangani, maka dapat menurunkan fungsi memori, memicu depresi, dan menurunkan performa dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda dan Gejala Insomnia

 

Pernahkah Anda melihat orang yang mengorok saat tidur, kemudian tampak berhenti bernapas sesaat? Kondisi itu disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Mengorok lebih sering dijumpai pada seseorang dengan obesitas, jenis kelamin laki-laki, usia lanjut, memiliki kelainan struktur anatomi hidung, rahang, dan dagu, memiliki pembesaran tonsil/amandel, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan rokok. Mengorok sering kali danggap sebagai hal yang wajar oleh banyak orang. Padahal kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung, seperti hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Ilustrasi OSA

 

Apa yang harus kita lakukan jika mengalami gangguan tidur?

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui jenis gangguan tidur dengan mengisi kuesioner terkait gangguan tidur dan/atau menjalani pemeriksaan PSG. Setiap jenis gangguan tidur memiliki penanganan yang berbeda-beda. Apabila tidak diperiksa secara objektif, kita tidak bisa menentukan penanganan yang sesuai. Penanganan gangguan tidur tidak hanya dengan pemberian obat, tetapi dapat berkolaborasi dengan psikolog/psikiater, dokter spesialis THT, dokter spesialis paru, rehabilitasi medik, dan ahli gizi. Konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dan hasil PSG Anda dengan dokter spesialis neurologi, agar bisa menentukan penanganan yang tepat.

Tidur yang berKualitas adalah kebutuhan bagi semua orang. Tidur yang berkualitas bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus mencegah berbagai penyakit. Jangan sepelekan gangguan tidur yang Anda alami. Yuk, periksa PSG di Rumah Sakit Panti Rapih!

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, AIFO-K, Sp.N

(Dokter Spesialis Saraf RS Panti Rapih)

 

Sumber :

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. In brief: What is “normal” sleep? [Updated 2024 Aug 1]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279322/

Islamiyah WR (ed.). 2018. Panduan Tatalaksana Gangguan Tidur. Jakarta : Sagung Seto.

Sleep Apnea: Types, Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment

Sleepapnea.sleep-disorders.net/types

Insomnia: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating