SERANGAN TIDUR MENDADAK? WASPADA NARKOLEPSI 5/5 (14)

Sahabat Sehat, pernahkah merasa sangat ngantuk sampai mendadak tertidur, padahal sedang ngobrol atau kerja? Atau, pernahkah merasa “lumpuh” beberapa detik, padahal sadar penuh? Kalau iya, itu bukan cuma capek biasa. Bisa jadi itu tanda narkolepsi loh!

Mengenal Narkolepsi

Narkolepsi adalah gangguan neurologis kronis yang membuat otak tidak bisa mengatur siklus tidur-bangun dengan normal. Penderita narkolepsi bisa “masuk mode tidur” kapan saja dan dimana saja, bahkan saat mereka sedang beraktivitas. Kondisi ini bukan disebabkan oleh rasa malas atau kurang tidur, tetapi karena adanya gangguan pada sistem saraf yang disebut orexin. Kondisi ini cenderung lebih sering dialami oleh perempuan pada usia remaja atau dewasa muda.

 

Gejala Narkolepsi

Penderita narkolepsi memiliki beberapa gejala utama, yaitu :

  1. Excessive Daytime Sleepiness, rasa ngantuk yang sangat berat dan sulit untuk dilawan hingga dapat menimbulkan “serangan tidur mendadak”.
  2. Katapleksi, hilangnya kekuatan otot di seluruh tubuh secara mendadak hingga membuat penderitanya jatuh. Kondisi ini dapat muncul selama beberapa detik – menit. Biasanya katapleksi dipicu oleh peningkatan emosi, seperti tertawa terbahak-bahak, marah, atau sedih.
  3. Halusinasi hipnagogik, halusinasi yang muncul saat masa transisi antara tidur dan bangun. Orang Indonesia sering menyebut kondisi ini sebagai “tindihan”.

Oleh karena keluhan tersebut muncul sewaktu-waktu, kualitas hidup dan aktivitas dari penderitanya sangat terganggu. Sering kali penderita narkolepsi sulit bekerja, sulit berinteraksi sosial, dan bahkan mengalami kecelakaan. Stigma dari masyarakat juga semakin membuat penderita narkolepsi kesulitan dalam menjalani hidup sehari-hari.

 

 

Pemeriksaan dan Penanganan Narkolepsi

Pemeriksaan baku untuk mendeteksi narkolepsi secara pasti adalah PSG + MSLT, yaitu pemeriksaan polisomnografi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan Multiple Sleep Latency Test. Pasien tidur selama satu malam di rumah sakit untuk diamati gelombang tidurnya. Kemudian, keesokan harinya, pasien akan diberikan serangkaian instruksi dan pemeriksaan untuk mendeteksi serangan tidur mendadak yang sesuai dengan kriteria narkolepsi.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter spesialis saraf baru dapat menegakkan diagnosis dengan pasti apakah pasien benar-benar mengalami narkolepsi atau tidak. Jika pasien memang mengalami narkolepsi, pasien harus menjalani pengobatan rutin dengan dokter spesialis saraf.

 

 

Narkolepsi yang tidak ditangani dapat membahayakan penderitanya. Jika Sahabat Sehat merasa memiliki gejala narkolepsi atau mengenal seseorang yang mengalami hal tersebut, jangan ragu untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis saraf. Rumah Sakit Panti Rapih selalu siap mendampingi penderita narkolepsi.

 

 

Ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, Sp.N, RPSGT

(Dokter Spesialis Neurolog RS Panti Rapih Yogyakarta)

 

 

Informasi lebih lanjut :

Klinik Saraf

Lantai 5, Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih

Pendaftaran :

Pendaftaran 24 jam (0274) 514004/514006

Aplikasi PantiRapihKu (download di Google Play Store atau App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Mengenal Gangguan Tidur dan Polisomnografi 4.93/5 (14)

Pernahkah Sahabat Sehat merasa tidak segar meski telah tidur semalaman? Atau mungkin mengalami nyeri kepala dan kantuk berlebihan di siang hari? Wah, jangan-jangan Sahabat Sehat mengalami gangguan tidur lho!

Gangguan tidur sering kali tidak terdeteksi. Sebagian orang bahkan mengabaikan gangguan tidur tersebut dan menganggapnya sebagai kondisi yang tidak berbahaya. Padahal faktanya, gangguan tidur dapat mengganggu fungsi pembuluh darah, otak, jantung, dan menurunkan kualitas hidup dari penderitanya. Lalu, bagaimana cara kita mendeteksi gangguan tidur?

 

 

Pemeriksaan Polisomnografi

Polisomnografi (PSG) adalah alat untuk memeriksa kondisi seseorang saat tidur. Dengan menggunakan PSG, kita dapat menilai kualitas tidur dan mendeteksi gangguan tidur secara objektif. Beberapa alat akan dipasang di area kepala dan badan Anda. Alat tersebut akan merekam gelombang otak, otot, dan pernapasan selama Anda tidur. Setelah itu, dokter spesialis neurologi akan memeriksa apakah gelombang-gelombang tersebut normal atau tidak normal.

Ilustrasi Pemeriksaan PSG

 

Bagaimana pola tidur yang normal?

Ketika tidur, kita dapat mengalami beberapa fase, yaitu fase non – rapid eye movement (non-REM) dan fase REM.  Fase non-REM masih bisa dibedakan menjadi fase non-REM tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3.

Saat mengantuk dan mulai tertidur, kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 1. Apabila kita tidur tetapi masih mudah terbangun (tidur dangkal), kita mulai masuk ke dalam fase non-REM tingkat 2. Sedangkan ketika kita tidur dan lebih sulit dibangunkan (tidur dalam), kita sudah masuk ke dalam fase non-REM tingkat 3. Fase non-REM tingkat 3 sering diikuti dengan fase REM, dimana pada fase ini kita dapat bermimpi. Seluruh fase tersebut merupakan 1 siklus tidur. Ketika 1 siklus sudah selesai, maka kita bisa masuk ke dalam siklus yang baru.

 

Siklus Tidur Normal

 

Apa saja jenis gangguan tidur?

Gangguan tidur ada banyak jenisnya. Menurut International Classification of Sleep Disorder III (ICSD III) , gangguan tidur dapat dibagi menjadi : insomnia, gangguan bernapas saat tidur, hipersomnia, gangguan irama tidur, parasomnia, gangguan gerak saat tidur, dan gangguan tidur lainnya.  Dari berbagai jenis gangguan tidur tersebut, Anda pasti lebih familiar dengan insomnia dan gangguan bernapas saat tidur (seperti mengorok).

Insomnia adalah gangguan tidur dimana penderitanya mengalami kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terjaga terlalu dini. Insomnia ini lebih sering dijumpai pada perempuan, memiliki gangguan psikiatri, atau sering mengonsumsi kopi dan rokok. Apabila insomnia tidak didiagnosis dengan tepat dan tidak ditangani, maka dapat menurunkan fungsi memori, memicu depresi, dan menurunkan performa dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda dan Gejala Insomnia

 

Pernahkah Anda melihat orang yang mengorok saat tidur, kemudian tampak berhenti bernapas sesaat? Kondisi itu disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA). Mengorok lebih sering dijumpai pada seseorang dengan obesitas, jenis kelamin laki-laki, usia lanjut, memiliki kelainan struktur anatomi hidung, rahang, dan dagu, memiliki pembesaran tonsil/amandel, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan rokok. Mengorok sering kali danggap sebagai hal yang wajar oleh banyak orang. Padahal kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung, seperti hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Ilustrasi OSA

 

Apa yang harus kita lakukan jika mengalami gangguan tidur?

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui jenis gangguan tidur dengan mengisi kuesioner terkait gangguan tidur dan/atau menjalani pemeriksaan PSG. Setiap jenis gangguan tidur memiliki penanganan yang berbeda-beda. Apabila tidak diperiksa secara objektif, kita tidak bisa menentukan penanganan yang sesuai. Penanganan gangguan tidur tidak hanya dengan pemberian obat, tetapi dapat berkolaborasi dengan psikolog/psikiater, dokter spesialis THT, dokter spesialis paru, rehabilitasi medik, dan ahli gizi. Konsultasikan gangguan tidur yang Anda alami dan hasil PSG Anda dengan dokter spesialis neurologi, agar bisa menentukan penanganan yang tepat.

Tidur yang berKualitas adalah kebutuhan bagi semua orang. Tidur yang berkualitas bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus mencegah berbagai penyakit. Jangan sepelekan gangguan tidur yang Anda alami. Yuk, periksa PSG di Rumah Sakit Panti Rapih!

 

Artikel ditulis oleh :

dr. Rosa de Lima Renita Sanyasi, AIFO-K, Sp.N

(Dokter Spesialis Saraf RS Panti Rapih)

 

Sumber :

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. In brief: What is “normal” sleep? [Updated 2024 Aug 1]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279322/

Islamiyah WR (ed.). 2018. Panduan Tatalaksana Gangguan Tidur. Jakarta : Sagung Seto.

Sleep Apnea: Types, Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment

Sleepapnea.sleep-disorders.net/types

Insomnia: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment

 

 

 

Mohon dapat memberikan rating