Peran Terapi Erythropoietin (EPO) Pada Tata Laksana Anemia Penyakit Ginjal Kronik

Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa dalam tubuh serta memiliki fungsi hormonal contohnya pengaturan tekanan darah oleh renin dan eritropoesis atau keseimbangan oksigen oleh eritropoetin (Daugirdas, 2001). Anemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronik disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab primernya adalah defisiensi hormon eritropoetin. Sedangkan penyebab sekundernya antara lain adalah defisiensi nutrisi (besi, asam folat, dan vitamin B12), peradangan, dan terganggunya kerja sumsum tulang. Selain itu, anemia pada pasien penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan beberapa hal yang merugikan bagi pasien antara lain meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler (K/DOQI National Kidney Foundation, 2006).

Menurut Konsensus Perkumpulan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) tahun 2011, tujuan tata laksana anemia pada penyakit ginjal kronik adalah meningkatkan hemoglobin (Hb) sehingga menurunkan kebutuhan transfusi darah, menghilangkan gejala yang ditimbulkan dari anemia, mencegah komplikasi kardiovaskuler, menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat anemia, dan meningkatkan kualitas hidup. Salah satu terapi yang dapat digunakan adalah dengan penggantian produksi endogenous erythropoietin (EPO) yang tidak mencukupi. Pasien yang mendapatkan perhatian pada terapi EPO adalah  pasien dengan hipertensi tak terkendali (sistolik ³180 mmHg, diastolik ³ 110 mmHg), hiperkoagulasi, dan beban cairan berlebih. Kontra indikasi untuk terapi EPO adalah pasien yang hipersensitif terhadap EPO.

Jika anda mengalami gangguan kesehatan, segera konsultasikan kesehatan anda ke dokter RS Panti Rapih.

 

Artikel ini ditulis oleh: Dra. A.M. Wara Kusharwanti, M.Si.,Apt, Chr. Asri Wulandadari, S.Farm.,Apt, M.Wulan Kurniasari, S.Farm.,Apt