Reaksi Transfusi

Reaksi transfusi adalah kejadian tidak diinginkan yang terjadi pada saat atau setelah transfusi. Reaksi transfusi untuk sebagian besar terjadi selama transfusi berlangsung atau sesaat sesudahnya, sedangkan sebagian lagi mamakan waktu lebih lama, dengan gejala-gejala yang tidak nyata dan efek terapeutik yang diharapkan tidak tercapai.

Berdasarkan waktu timbulnya gejala, reaksi transfusi dibedakan menjadi reaksi transfusi segera dan tertunda.

  • Reaksi transfusi segera adalah reaksi transfusi dengan gejala yang timbul selama transfusi sampai kira-kira 2 jam sesudahnya.
  • Reaksi transfusi tertunda apabila gejalanya timbul beberapa lama setelah transfusi selesai yaitu mulai dari beberapa hari, bulan sampai beberapa tahun berikutnya.

 

Pedoman untuk penegakan diagnosis dan penatalaksanaan reaksi transfusi yang segera.

Kategori 1 : Reaksi Ringan

  • Ditandai dengan reaksi kulit yang terbatas yaitu urtikaria atau ruam.
  • Gejalanya adalah pruritus atau gatal-gatal dengan kemungkinan penyebab hipersensitivitas (ringan).

Penatalaksanaan segera:

  • Perlambat transfusi.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen).
  • Jika dalam waktu 30 menit tidak tampak perbaikan klinis atau bila tanda dan gejalanya memburuk, lakukan penanganan seperti kategori 2.

 

Kategori 2 : Reaksi yang cukup berat

  • Ditandai dengan flusing, urtikaria, rigor, febris, gelisah dan takikardia.
  • Gejalanya adalah kecemasan, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan sakit kepala.
  • Kemungkinan penyababnya hipersinsitivitas (sedang-berat); reaksi transfusi febris non hemolitik (antibodi terhadap sel darah putih atau trombosit, antibodi terhadap protein termasuk Ig A) ; kemungkinan kontaminasi dengan pirogen dan/atau bakteri.

Penatalaksanaan segera:

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan dengan tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Suntikkan antihistamin intarmuskular (misalnya klorfeniramin 0,1 mg/kg atau preparat yang ekuivalen) dan berikan preparat antipiretik oral atau rektal (misalnya parasetamol 10 mg/kg : 500 mg – 1 g pada pasien dewasa). Hindari pemakaian aspirin pada pasien yang mengalami trombositopenia.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Kumpulkan urin selama 24 jam berikutnya untuk bukti hemolisis dan kirimkan sampel urin tersebut ke laboratorium.
  • Jika terjadi perbaikan klinis, mulailah kembali transfusi secara perlahan-lahan dengan unit darah yang baru dan lakukan observasi yang cermat.
  • Jika tidak terjadi perbaikan dalam waktu 15 menit atau jika tanda dan gejalanya bertambah, lakukan penanganan seperti kategori 3.

 

Kategori 3 : Reaksi yang mengancam jiwa pasien

  • Ditandai dengan rigor, febris, gelisah, hipotensi (penurunan tekanan darah sistolik sebesar 20 %), takikardia (kenaikan frekwensi jantung sebesar 20%), hemoglobinuria (urin berwarna merah), perdarahan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (DIC).
  • Gejalanya adalah kecemasan, nyeri dada, nyeri di dekat tempat transfusi, gawat pernafasan/ sesak nafas, nyeri pada pinggang/punggung, sakit kepala, dipsnea.
  • Kemungkinan penyebabnya adalah hemolisis akut intravaskular, kontaminasi bakteri dan syok septik, kelebihan muatan cairan, anafilaksis, cidera paru akut yang berkaitan dengan cidera.

 

Penatalaksanaan segera :

  • Hentikan transfusi, ganti set transfusi dan pertahankan jalur infus agar tetap terbuka dengan pemberian salin normal.
  • Berikan infus larutan salin normal (dosis inisial 20 – 30 ml/kgBB) untuk mempertahanankan tekanan darah sistolik. Jika pasien mengalami hipotensi, berikan infus tersebut selama lima menit dan tinggikan kedua tungkai pasien.
  • Pertahankan saluran nafas pasien dan berikan oksigen dengan kecepatan aliran yang tinggi lewat masker oksigen.
  • Suntikan adrenalin (dalam bentuk larutan 1 : 1000) dengan takaran 0,01 mg/kgBB secara intramuskular.
  • Suntikan preparat kortikosteroid dan bronkodilator secara IV jika timbul gejala anafilaktis (misalnya bronkospasme, stridor).
  • Berikan preparat diuretik: misalnya furosemid 1 mg / kgBB IV atau preparat yang ekuivalen.
  • Beritahukan segera pada dokter yang merawat pasien dan bank darah.
  • Kirimkan unit darah dengan set transfusinya, urin yang harus diambil dan sampel darah baru (satu sampel yang dibekukan dan satu lagi diberi antikoagulan) yang diambil dari pembuluh darah vena yang berlawanan denban tempat infus. Pengiriman ini bersama formulir permintaan yang sesuai dari bank darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Lakukan pengecekan terhadap spesimen urin yang baru untuk menemukan tanda-tanda hemoglobinuria.
  • Mulai pengumpulan urin 24 jam dan mengisi kartu keseimbangan cairan serta mencatat semua asupan serta keluaran urin.
  • Pertahankan keseimbangan cairan.
  • Perhatikan perdarahan yang terjadi pada tempat tusukan atau luka. Jika terdapat bukti klinis atau laboratorium yang menunjukkan koagulasi intravaskular disseminata (DIC), berikan preparat konsentrat trombosit (disis dewasa 12 unit) atau plasma beku segar (dosis dewasa 3 unit).
  • Lakukan pengakajian ulang, jika pasien dalam keadaan hipotermia:
    • Ulangi pemberian infus larutan salin dengan takaran 20 – 30 ml / kgBB dalam waktu 5 menit.
    • Berikan inotrope jika preparat ini tersedia.
  • Jika keluaran urinnya menurun atau pemeriksaan laboratorium membuktikan adanya gagal ginjal akut (kadar kalium, ureum dan kreatinin meningkat):
    • Pertahankan keseimbangan cairan secara akurat.
    • Ulangi suntikan furosemid.
    • Pertimbangkan pemberian dopamin jika preparat ini tersedia.
    • Mintalah bantuan dokter spesialis karena pasien mungkin memerlukan dialisis renal.
  • Jika terdapat kecurigaan bakterimia (gejala rigor/menggigil, febris, kolap tanpa adanya bukti reaksi hemolitik), mulailah menyuntikan antibiotik berspektrum luas secara IV.

Beberapa penyakit yang dapat ditularkan lewat transfusi meliputi :

  • Hepatitis B
  • Hepatitis C
  • HIV/AIDS
  • Syphilis
  • Malaria
  • CMV
  • Epstein-Barr virus
  • Filariasis
  • Toxoplasmosis
  • Infeksi bakteri lainnya

 

Artikel ini ditulis oleh: Sapti Pudyandari FY

 

Posted in Artikel Kesehatan and tagged , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *