Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta menuju Rumah Sakit Sehat Berwawasan Lingkungan

Yogyakarta, 20 Maret 2021 – Salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia adalah kesehatan. Rumah sakit memiliki peranan yang cukup penting dalam penyelenggaraan  pelayanan kesehatan. Salah satu rumah sakit yang tetap mempertahankan ruang terbuka hijau dalam bentuk taman adalah Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.  Ruang terbuka hijau tersebut berfungsi untuk menyembuhkan atau mengandung nilai-nilai pengobatan (terapeutik) secara holistik.

Sebelum pandemi, Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta telah secara rutin menggelar acara Healing Garden supaya para pasien dapat menikmati suasana di luar kamar perawatan. Fungsi ruang terbuka hijau tidak hanya memberikan manfaat bagi para pasien saja, namun keluarga, staf, dan pengunjung pun dapat menikmatinya.

Sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki, Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta berusaha untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat khususnya pelayanan kesehatan. Maka, bersinergi dengan Kagama Orchids (Salah satu komunitas dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada yang memiliki perhatian kepada anggrek spesies Indonesia), Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada Sabtu 20 Maret 2021 menyelenggarakan sebuah mini workshop.

Workshop yang digelar tersebut berupa pemeliharaan tanaman anggrek dengan pemanfaatan limbah dapur sebagai nutrisi. Kagama Orchids sebagai narasumber ahli yang memberikan materi mengenai cara rehabilitasi dan rekonstruksi tanaman anggrek yang sudah ada di area rumah sakit, cara tanam, ikat dan peletakkan tanaman anggrek yang tepat. Serta pembuatan eco enzym dan pupuk organik cair dengan memanfaatkan air cucian beras, kulit bawang merah dan bawang putih, air kelapa, potongan buah dan sayur.

Eco Enzyme adalah hasil fermentasi antara limbah dapur seperti kulit buah atau sayuran, dengan air dan molase yang memiliki aroma asam segar. Saat proses fermentasi, Eco Enzyme menghasilkan gas O3 yang mampu menyelamatkan kerusakan bumi. Hasil akhirnya adalah cairan yang mempunyai manfaat yang berlipat ganda  seperti sebagai pembersih alami, penjernih udara dan air, pestisida alami, antiseptik alami, mencegah saluran air tersumbat, untuk membersihkan diri, membersihkan buah dan sayuran, pupuk yang ramah lingkungan, serta banyak lagi manfaat lainnya.

Workshop dibuka oleh Ibu Ir. Valentina Dwi Yuli Siswianti, M.Kes (Direktur Pelayan Kesehatan dan Infrastruktur) dan dihadiri juga oleh Sr. Yosefine Kusuma Hastuti, CB (Direktur Keperawatan). Diikuti oleh 22 orang dari dalam rumah sakit serta 15 orang dari Kagama Orchids sebagai narasumber ahli dan pendamping workshop yang dipimpin oleh Ibu Ir. Wahju Wulandari, MBA., IAI. AA.

Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, workshop dibagi dalam dua lokasi. Lokasi pertama yakni lokasi penanaman anggrek sendiri berpusat di Taman Healing Garden (Utara Gedung Lukas) serta halaman depan dan area drop off lobby lantai 2 Gedung Borromeus. Sedangkan lokasi pembuatan eco enzym dan pupuk organik cair berada di area Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

 

Informasi lebih lanjut, hubungi:
Humas RS Panti Rapih Yogyakarta
ext 1116 / 1163
Email: humas@pantirapih.or.id

Lingkungan Sehat Rumah Sakit dengan Manajemen Limbah yang Baik

Fasilitas publik dan penyedia layanan jasa publik, merupakan penunjang untuk kehidupan masyarakat sehari-hari. Tentu tempat-tempat publik tersebut juga menghasilkan limbah yang perlu dimanajemen agar tidak mencemari lingkungan. Begitu juga dengan rumah sakit. Limbah rumah sakit sendiri ada banyak jenisnya dan berbeda – beda pula cara manajemennya.

Apakah yang dimaksud dengan limbah rumah sakit? Banyak pengertian dari limbah rumah sakit, yakni: semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. Ada pula yang mendefinisikan limbah rumah sakit sebagai semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis. Limbah rumah sakit yang berasal dari medis terdiri dari: limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. Termasuk di dalamnya yakni limbah infeksius merupakan limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.

Tidak hanya yang dihasilkan dari kegiatan medis, dikenal pula limbah padat non medis yang merupakan limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. Penilaian limbah padat non medis dilakukan untuk memilah limbah padat non medis antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu pemilahan juga dilakukan untuk memilah antara limbah basah dan limbah kering

Limbah padat non medis juga memiliki kontainer atau wadah dengan kriteria – kriteria yang harus dipenuhi pula yang dimaksudkan agar limbah non medis tidak mencemari lingkungan sekitar. Kontainer limbah nonmedis terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan. Wadah juga harus memiliki minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan. Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 1 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang penganggu. Setelah diangkut dari wadah, selanjutnya, pengelolaan limbah padat non medis berlanjut dengan menaruh sampahdi penampungan limbah sementara menggunakan troli tertutup.

Penampungan limbah non medis berada di tempat penampungan sementara yang dipisahkan antara limbah yang masih dapat dimanfaatkan kembali dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Tempat penampungan tersebut harus memiliki syarat yakni tidak boleh menimbulkan bau yang tidak sedap, dan sebagai tempat wadah bersarangnya lalat, serta dilengkapi saluran untuk cairan lindi. Selain itu, tempat penampungan sementara harus kedap air, memiliki tutup yang baik, dan harus selalu tertutup bila sedang tidak diisi, sehingga memudahkan untuk dibersihkan. Lokasi penampungan limbah harus mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut limbah padat dan dikosongkan serta dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.

Manajemen pengelolaan limbah padat non-medis RS Panti Rapih ini  dibuang di TPA Piyungan, sedangkan untuk pegangkutannya, rumah sakit bekerjasama dengan pihak swasta. Proses pengangkutan dilakukan dengan menggunakan truck tertutup sehingga meminimalkan risiko potensial terhadap masyarakat dan lingkungan di daerah pemukiman. Proses pembuangan adalah open dumping dengan frekuensi pengangkutan setiap hari satu kali pengangkutan. Pelabelan dan warna tempat sampah di rumah sakit sudah disesuaikan dengan jenis limbah medis maupun non medis, akan tetapi pada prakteknya, masyarakat terkadang tidak mencermati hal – hal tersebut sehingga kadang ditemukan sampah – sampah yang salah letak atau tidak pada tempat seharusnya.  Berikut ini merupakan contoh jenis limbah umum yang salah letak di RS Panti Rapih: sisa makanan masuk ke tempat sampah medis, tissue masuk sampah medis, gelas air mineral masuk sampah medis, botol minuman masuk sampah medis/botol, kertas masuk sampah medis, kardus bungkus obat.

Tanggung jawab pengelolaan limbah rumah sakit memang menjadi tanggung jawab dari pihak rumah sakit, tetapi membantu dan mendukung hal tersebut merupakan kewajiban bersama para pengguna fasilitas kesehatan rumah sakit. Hal ini dimaksudkan agar tercipta lingkungan sehat di rumah sakit yang dapat menjadi pendukung kesehatan pasien dan kesehatan bersama.

 

disusun oleh: Bayu Nuriyanto Aulady, AMKL