Petunjuk Gizi Usia Lanjut untuk Demensia

Demensia merupakan satu kumpulan gejala terjadi gangguan fungsi kognitif seperti gangguan daya ingat, kecerdasan dan nilai moral. Usia lanjut adalah faktor resiko pertama terjadinya demensia, lansia berusia diatas 60 tahun beresiko 5% dan meningkat menjadi 20% diatas 80 tahun.

Penderita demensia beresiko tinggi mengalami malnutrisi dan dehidrasi. Pada awal dimensia lansia memiliki masalah pada penyediaan makanan, mungkin lupa apakah mereka sudah makan. Kebiasaan makan mungkin berubah dan berakibat berkurangnya variasi makanan sehingga asupan gizi tidak seimbang. Penderita demensia mungkin mengalami peningkatan napsu makan, makan cepat dan berulang kali meminta makanan.

Ketika penyakit semakin berat pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk mandiri, kesulitan makan dan minum, penurunan rasa haus dan kemampuan untuk mengunyah.

Apakah Tujuan Diet pada Usia Lanjut?

  1. Memberi makanan sesuai kebutuhan tubuh yaitu dalam jumlah tidak kurang/berlebihan
  2. Menjaga dan mencapai berat badan normal sehingga dapat melaksanakan aktifitas sehari-hari dengan baik
  3. Mencegah terjadinya malnutrisi geriatrik dan timbulnya beberapa penyakit yang tidak dapat dihindari
  4. Memperpanjang usia dengan menigkatkan kualitas hidup yang baik

Apakah Prinsip Diet Demensia?

  1. Kebutuhan energi pada lansia 25-30 kkal/kg BB/hari.Kebutuhan akan meningkat 30-35 kkal/kg BB/hari jika dengan kondisi luka bakar, kanker, ulkus dekubitus dan infeksi sejenisnya
  2. Kebutuhan protein pada lansia lebih tinggi dari dewasa muda yaitu 1,0 -1,2 gr. Untuk lansia dengan malnutrisi, protein dianjurkan 1,2 – 1,5 g/kg BB/hari
  3. Karbohidrat sebesar 45-65 % dari total kalori
  4. Lemak sebesar 20-35% dari total kalori
  5. Kebutuhan cairan harus diperhatikan 25 -30 ml/kg/hari
  6. Vitamin dan mineral sesuai dengan angka kecukupan gizi
  7. Konsistensi makanan disesuaikan dengan kemampuan pasien

Bagaimana Cara Mencegah Terjadinya Malnutrisi?

  1. Saat makan harus santai dan tidak tergesa-gesa
  2. Jika pasien gelisah atau tertekan jangan paksa mereka untuk makan atau minum. Tunggu sampai pasien tenang untuk menghindari pasien tersedak
  3. Pastikan pasien nyaman dan duduk tegak saat makan bila terbaring di tempat tidur, dudukan pasien antara 30-45°
  4. Hati-hati memberikan makanan atau minuman yang panas karena penderita demensia kehilangan kemampuan menilai suhu
  5. Jika sulit menggunakan alat makan tawarkanlah makanan yang bisa di pegang oleh tangan
  6. Jika kesulitan menelan berikanlah makanan dengan konsistensi yang dapat mereka toleransi
  7. Pasien dimensia stadium akhir memerlukan pemasangan selang makan untuk mempetahankan berat badan

Bagaimana Cara Memasak yang Terbaik?

  1. Cara memasak yang terbaik adalah menumis, memanggang, membakar, mengungkep, merebus, mengukus
  2. Hindarkan menggoreng dan penggunaan santan kental
  3. Gunakan minyak dengan lemak tidak jenuh seperti: minyak jagung, kedele, biji matahari, zaitun, dll

 

CONTUH MENU SEHARI:

PAGI:

  • Nasi
  • Semur telur
  • Tahu bumbu bali
  • Oseng-oseng buncis
  • Teh manis

PUKUL 10.00:  Pepaya

SIANG:

  • Nasi
  • Pepes fillet ikan
  • Tempe bacem
  • Lalapan timun
  • Sayur asem
  • Semangka

PUKUL 16.00:  Pisang rebus

MALAM:

  • Nasi
  • Rolade ayam kukus
  • Ca tahu
  • Tumis bayam, wortel
  • Jeruk

JAM 21.00:   Susu skim hangat

 

🏥 Klinik Gizi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Jl Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223

📲 Informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0274-514014, 514845 ext 256

Apa Itu Demensia?

Lupa adalah hal yang manusiawi. Akan tetapi, terkadang kita menjumpai seseorang yang amat pelupa hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari dan mengganggu interaksinya dengan lingkungan sekitar. Masyarakat menyebut kondisi tersebut dengan istilah “pikun”. Dalam ilmu kedokteran, kepikunan ini disebut sebagai demensia. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan kepikunan atau demensia?

Demensia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pada “fungsi luhur” manusia, yang meliputi atensi/perhatian, bahasa, memori/daya ingat, pengenalan ruang dan waktu, serta fungsi eksekutif (perencanaan dan pengorganisasian). Gangguan “fungsi luhur” pada demensia tersebut pada akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan interaksi sosial. Orang yang mengalami demensia akan sering mengucapkan hal yang sama berulang-ulang, kesulitan untuk mengingat atau mempelajari hal baru, kesulitan dalam berkomunikasi atau merangkai kata, kebingungan terhadap waktu atau tempat, dan kesulitan dalam mengambil keputusan. Aktivitas sehari-hari yang biasanya dapat dilakukan dengan mudah, seperti berpakaian, makan, dan mandi, menjadi hal yang lebih sulit bagi seseorang dengan demensia. Bahkan terkadang mereka dapat tersesat bahkan ketika sedang berjalan menuju rumahnya sendiri. Seseorang dengan demensia juga akan mengalami perubahan perilaku dan emosi, seperti mudah curiga, dan menjadi lebih sering menyendiri. Hal tersebut tidak disadari oleh penderitanya, tetapi dirasakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi ini akan semakin memburuk seiring waktu.

Demensia lebih sering muncul pada usia lanjut, sehingga tidaklah heran jika demensia sering disebut sebagai “penyakit tua”. Meningkatnya populasi lansia secara tidak langsung juga meningkatkan angka kejadian demensia secara umum. Demensia tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah. Gaya hidup sehat adalah kunci utama untuk mencegah demensia. Makan makanan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, dan mengelola stress adalah tiga hal yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia. Gaya hidup sehat akan menurunkan risiko penyakit hipertensi, memperbaiki keseimbangan lemak darah (kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL), mencegah obesitas, dan memperbaiki keseimbangan kadar gula darah, sehingga secara tidak langsung juga akan menurunkan risiko demensia. Bagi seseorang yang telah terdiagnosis demensia, upaya-upaya di atas tetap harus dilakukan untuk mencegah semakin memburuknya demensia yang dialami. Dukungan sosial adalah faktor lain yang sangat penting bagi penderita demensia. Pengabaian dari orang-orang di sekeliling akan semakin memperburuk demensia yang dialami.

Terdapat beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi dini demensia. Mini Mental Satte Examination dan Clock Drawing Test adalah dua pemeriksaan yang paling sering digunakan untuk mendeteksi demensia. Pada pemeriksaan tersebut, pasien akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan dan melakukan beberapa instruksi yang dipandu oleh dokter atau tenaga terlatih. Setiap jawaban yang disampaikan akan menentukan derajat kepikunan seseorang. Apabila kita menjumpai seseorang yang kita curigai mengalami demensia, segeralah bawa mereka ke dokter spesialis saraf atau ke klinik memori. Semakin lama tidak terdeteksi dan tidak tertangani, maka akan semakin buruk demensia yang dialami. Semakin buruk demensia yang dialami, maka akan semakin menurun kualitas hidup penderitanya.

 

di susun oleh:

dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi (Dokter Rumah Sakit Panti Rapih)