Bersatu Melawan COVID-19 No ratings yet.

AKU SUDAH DIVAKSIN, DAN SIAP MELAYANI

Pelaksanaan Covid di negara kita, Indonesia, sudah dimulai Rabu, tanggal  13 Januari 2021. Vaksinasi dikedepankan agar laju kesakitan dan kematian akibat COVID-19 bisa ditekan seminimal mungkin, bisa timbul kekebalan kelompok (herd imunity) untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat,  serta produktivitas perekonomian diharap akan semakin menjadi lebih baik.

Periode awal Januari 2021 ini, prioritas  vaksinasi akan dimulai pada tenaga kesehatan dahulu, secara bertahap akan disuntikkan juga kepada tenaga kerja yang berhubungan dengan masyarakat seperti polisi, TNI, petugas pemerintahan / public, kemudian lansia, masyarakat kelompok rentan, serta akhirnya ke seluruh masyarakat secara luas dan umum.

Vaksin yang disuntikkan pada periode awal ini adalah vaksin yang sudah mendapatkan Persetujuan Penggunaan Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM, di mana dan sudah dipastikan mencakup kriteria aspek keadaruratan, kemanfaatan yang lebih besar dari resiko, khasiat dan mutu serta keamanan dan keselamatan pengguna.

Sebagai informasi, Vaksin awal yang disuntikkan adalah vaksin produksi SINOVAC, vaksin yang berbasis inactivated virus, di mana disuntikkan di otot lengan, dan diulang 14 hari ke depan.

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta mendukung program vaksinasi yang dicanangkan oleh pemerintah dengan mempersiapkan tempat yang aman, akses / alur yang nyaman dan tenaga yang terlatih untuk melakukan vaksinasi. Tenaga kesehatan RS Panti Rapih sudah bersedia divaksin, siap divaksin, dan sudah divaksin secara bertahap.

Dengan di vaksin, kami siap melayani anda lebih optimal, sebab your safety is number one priority, keselamatan anda adalah prioritas pertama kami.

Mohon dapat memberikan rating

Frozen Shoulder 5/5 (5)

Apakah itu?

Frozen shoulder disebut juga adhesive capsulitis adalah gangguan berupa rasa nyeri dan kaku di area bahu kadang menjalar sampai ke lengan; lengan sangat berat saat diangkat. Kondisi ini menyebabkan terbatasnya pergerakan bahu hingga terkadang tidak dapat digerakkan sama sekali. Nyeri bisa timbul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas dan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Bahkan hanya untuk menggaruk punggung atau merogoh kantong belakang, menyisir rambut, mengaitkan tali bra, menggosok badan saat mandi penderita akan sangat kesulitan. Pada beberapa orang, gejala akan cenderung memburuk, terutama di malam hari.

Frozen shoulder umumnya muncul dan memburuk secara bertahap, serta dapat berlangsung selama 1-3 tahun. Frozen shoulder juga diketahui merupakan kondisi dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Kondisi ini ditandai dengan proses bertahap terjadinya keterbatasan pergerakan bahu secara aktif maupun pasif. Padahal, disisi lain, tidak ditemukan adanya gangguan pada pemeriksaan radiologi.

Frozen shoulder dapat berkembang ketika kita berhenti menggunakan sendi karena sakit, cedera atau kondisi kesehatan kronis. Setiap masalah bahu dapat menyebabkan frozen shoulder jika tidak melatih lingkup gerak sendi.

Gejala frozen shoulder umumnya berkembang perlahan dalam tiga tahapan, yang setiap tahapannya bisa berlangsung selama beberapa bulan, yaitu

  1. Tahap pertama atau freezing stage yaitu bahu mulai terasa nyeri tiap digerakkan dan pergerakan bahu mulai terbatas. Periode ini bisa berlangsung 2-9 bulan.
  2. Tahap kedua atau frozen stage yaitu nyeri mulai berkurang, namun bahu menjadi semakin kaku atau tegang sehingga sulit digerakkan. Periode ini bisa berlangsung selama 4 bulan hingga 1 tahun.
  3. Tahap ketiga atau stawing stage yaitu gerakan bahu mulai membaik. Tahap ini umumnya terjadi dalam 1 hingga 3 tahun.

 

Apa penyebab frozen shoulder?

Bahu memiliki kapsul pelindung berupa jaringan yang saling berhubungan. Kapsul ini melindungi tulang, ligamen dan tendon pada bahu. Frozen shoulder terjadi karena jaringan parut membuat kapsul pelindung menebal dan menempel di sekitar sendi bahu, sehingga membatasi pergerakan bahu. Namun demikian, belum diketahui apa yang menyebabkan jaringan parut tersebut terbentuk. Penyebabnya kemungkinan karena tidak bergerak untuk waktu yang lama, seperti cedera, setelah operasi, atau patah lengan. Frozen shoulder juga lebih mungkin terjadi pada orang yang mengidap diabetes.

Beberapa kondisi yang bisa meningkatkan faktor resiko frozen shoulder:

  1. Usia: orang berusia 40 th atau lebih tua, terutama wanita lebih rentan terhadap frozen shoulder.
  2. Bahu tidak digerakkan/immobilisasi: terlalu lama istirahat di tempat tidur karena cedera bahu, berkurangnya mobilitas sendi bahu karena cedera, patah lengan, stroke, pasca operasi.
  3. Punya penyakit lain seperti diabetes, masalah kelenjar thyroid, TBC, parkinson atau stroke
  4. Trauma, misalnya karena pembedahan pada bahu, robekan tendon atau patah tulang lengan atas.

Bagaimana pengobatan frozen shoulder?

Penderita frozen shoulder umumnya diobati dengan fisioterapi, yang bertujuan untuk meregangkan otot bahu dan mengembalikan jangkauan gerakan lengan. Selama sesi fisioterapi dapat dilakukan TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation).  Apa itu TENS? TENS adalah terapi yang dilakukan dengan mengantarkan arus listrik kecil melalui elektroda yang ditempelkan pada kulit. Arus listrik tersebut akan merangsang pelepasan molekul penghambat nyeri (endorfin) sehingga menghalangi timbulnya nyeri. Fisioterapis biasanya juga akan memberikan latihan-latihan yang akan membantu untuk mengurangi nyeri dan menambah luas jangkauan gerak sendi bahu. Prinsip latihan untuk nyeri bahu adalah dengan selalu berusaha menggerakkan lengan meski sedang dalam proses pemulihan. Selalu gerakkan lengan meskipun gerakan terbatas tetapi jangan dengan beban. Hindari cedera dan menghindari aktifitas yang membebani sendi bahu secara berlebihan agar tidak memperberat keluhan. Latihan mandiri juga dapat dilakukan di rumah. Untuk meredakan nyeri bisa juga dilakukan kompres dingin saat di rumah. Pasien dapat meletakkan kompres dingin pada bahu selama 10 menit, beberapa kali dalam sehari. Selain fisioterapi, dokter biasanya akan memberikan obat pereda nyeri yang berguna untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Bila diperlukan, dokter akan memberi suntikan kortikosteroid langsung pada bahu.

Kunci untuk pemulihan frozen shoulder adalah mempertahankan gerakan bahu. Fisioterapi dan latihan di rumah dapat membantu mengurangi rasa sakit dan mempertahankan gerakan lengan.

 

Ditulis oleh:
Arie Widuri, AMF
(Fisioterapis  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Rehabilitasi Medik
Lantai 1 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Kanker Kolorektal: Deteksi Dini, Yuk! 5/5 (1)

Kanker kolorektal atau yang lebih sering disebut kanker usus besar merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar hingga ujung anus. Kanker kolorektal saat ini menjadi kanker terbanyak keempat di Indonesia, dan kanker terbanyak ketiga di dunia. Tingginya kejadian kanker kolorektal ini perlu menjadi perhatian. Kanker kolorektal dapat berasal dari polip di usus besar yang berkembang menjadi kanker. Apabila semakin berlanjut, kanker kolorektal dapat meluas ke bagian tubuh lain, terutama liver dan paru sehingga akan semakin sulit dalam terapinya.

Angka harapan hidup pasien tinggi bila kanker kolorektal terdeteksi sejak dini. Sayangnya, pasien  kanker kolorektal baru terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup menjadi sangat jauh berkurang. Maka dari itu deteksi dini serta tatalaksana yang tepat oleh ahli di bidang digestive dilakukan sedini mungkin dan hal ini merupakan kunci dari tatalaksana kanker kolorektal.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Peran genetik masih berperan penting dari terjadinya kanker kolorektal. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena kanker kolorektal, maka anggota keluarga lain berisiko terkena kanker kolorektal. Usia diatas 50 tahun menjadi salah satu faktor risiko dari kanker kolorektal. Namun, tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga terkena kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang dianut seperti merokok, konsumsi daging merah dan daging olahan yang berlebih, konsumsi alkohol, serta konsumsi rendah serat yang juga meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal. Riwayat penyakit saluran cerna seperti polip dan inflamasi usus juga menjadi faktor risiko terjadinya kanker kolorektal.

Tanda dan gejala awal dari kanker kolorektal memanglah tidak spesifik. Biasanya, pasien awalnya hanya merasa nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluhkan rasa sakit di perut dan rasa terbakar di ulu hati, yang sering kali dianggap sebagai gejala maag. Mual muntah, lemas, serta adanya penurunan berat badan yang relatif cepat (sekitar 5-10 kg) dalam 3 bulan terakhir juga dapat terjadi pada pasien kanker kolorektal. Gejala diare dan anemia lebih sering terjadi apabila kanker terjadi pada usus besar sisi kanan, sedangkan gejala sulit BAB dan BAB mringkil (bulat dan berukuran kecil-kecil) lebih sering terjadi pada kanker yang berlokasi di usus besar sisi kiri. Keluhan BAB bercampur darah menjadi spesifik mengarah ke kanker kolorektal.

Bila memiliki faktor risiko seperti: riwayat keluarga maupun gejala di atas, ada baiknya untuk lebih waspada dan sangat disarankan untuk dilakukan konsultasi ke dokter. Apabila belum memiliki tanda dan gejala yang khas, anda dapat melakukan skrining yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tinja di laboratorium secara berkala untuk mendeteksi adanya darah atau tidak pada tinja. Skrining lebih lanjut seperti kolonoskopi (melihat usus besar dengan alat) dan CT Scan (untuk mengetahui stadium dan penyebaran ke liver) dapat dilakukan pada pasien yang sudah memiliki gejala. Jika pada kolonoskopi ditemukan polip, maka polip tersebut dilakukan pengangkatan dan diperiksa ganas atau tidak. Jika ternyata ditemukan sel-sel ganas, maka tindakan operasi menjadi pilihan utama sebagai terapi definitif.

Dalam operasi kanker kolorektal, dilakukan pemotongan tumor pada usus yang juga meliputi kelenjar dan pembuluh darah yang terlibat, kemudian dilakukan penyambungan kembali yang biasanya dilakukan pada stadium awal. Teknik operasi lainnya juga dapat dilakukan pembuatan lubang pembuangan tinja (stoma) pada perut yang dapat bersifat sementara ataupun permanen. Stoma sementara (temporary) dibuat apabila saat operasi tidak dapat langsung dilakukan penyambungan usus karena kondisi pasien yang dapat menyebabkan kebocoran, sedangkan stoma permanen dibuat pada kondisi pasien yang sudah berada di stadium lanjut dimana sulit untuk dilakukan penyambungan. Setelah dilakukan operasi, tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah kemoterapi. Kemoterapi dilakukan untuk melengkapi tindakan operatif yang telah dilakukan sehingga terapi terhadap pasien lebih paripurna. Kemoterapi biasanya diberikan pada pasien yang berada pada stadium awal.

Pemahaman terhadap deteksi dini, penemuan penyakit pada stadium awal, serta terapi yang tepat dan paripurna (yang meliputi operatif dan kemoterapi) akan memberikan hasil yang maksimal dan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, sangat disarankan kepada anda yang memiliki tanda/gejala atau memiliki faktor-faktor risiko seperti yang telah disebutkan untuk melakukan deteksi dini.

 

Ditulis oleh:
Dr. dr. Adeodatus Yuda H, Sp.B – KBD
(Dokter  Bedah Konsultan Bedah Digestif  Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Bedah Digestif
Lantai 4 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Jantung Anak 5/5 (1)

Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 September. Bertujuan untuk menciptakan sebuah komunitas global pahlawan jantung (Heart Heroes). Pahlawan ini adalah setiap orang dari semua lapisan masyarakat, yang bertindak untuk hidup lebih lama, lebih nyaman dan lebih baik, karena memiliki jantung yang lebih sehat. Caranya adalah dengan membuat berbagai janji. Pertama, janji untuk keluarga kita masing-masing, yaitu akan memasak dan makan yang lebih sehat. Kedua janji untuk anak, yaitu akan mendampingi berolahraga lebih banyak dan lebih aktif, untuk mengatakan tidak kepada rokok dan membantu orang yang kita cintai untuk berhenti. Ketiga janji sebagai seorang profesional kesehatan untuk membantu pasien berhenti merokok dan menurunkan kadar kolesterol. Semuanya adalah sebuah janji sederhana untuk jantung kita.

Penyakit jantung terutama karena pola hidup yang tidak sehat adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini, tetapi pada bayi dan anak sedikit berbeda. Dr. Nikmah Salamiah, SpA (K), PhD dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan setiap insan, termasuk bayi dan anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Struktur dan fungsi jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh seorang anak. Sayangnya, 7 hingga 8 bayi per 1.000 kelahiran hidup dilahirkan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung, penyempitan atau sumbatan katup atau pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, ataupun abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah. Kelainan struktur tersebut dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebut dengan PJB biru (sianotik), yaitu jenis PJB yang menyebabkan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir terutama di daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah. Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak menimbulkan warna kebiruan pada anak. PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi.

Tergantung pada jenis dan kompleksitas kelainan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa. Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir. Untuk itu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya PJB. Deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat untuk tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan. Terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa. Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter (non-bedah).

Sejauh ini, penyebab PJB belum diketahui secara pasti, tetapi berdasarkan penelitian, diduga bersifat multifaktorial, yaitu melibatkan kerentanan genetik (bawaan) dan faktor lingkungan. Paparan rokok saat kehamilan (baik ibu perokok aktif maupun pasif), konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Down, dilaporkan meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi. Yang penting diperhatikan adalah pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat Ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

Nyeri dada adalah keluhan klinik tersering yang terkait dengan kelainan jantung, biasanya dipicu atau bertambah berat dengan aktivitas fisik (exertional chest pain), disertai keluhan jantung berdebar atau irama jantung tidak teratur. Anak agak besar sering melaporkan sebagai nyeri seperti ditekan, atau terdapat beban di atas dada dan mungkin menjalar, atau diikuti gejala pingsan atau hampir pingsan, dan pusing yang disertai mata berkunang-kunang. Untuk menyingkirkan kelainan jantung, pada umumnya dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung (elektrokardiografi atau EKG) dan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis, untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) 2019 mengingatkan kita, akan peran besar para pahlawan jantung (Heart Heroes), termasuk untuk Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Ditulis oleh: Dr. dr. FX. Wikan Indrarto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Kulit
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Kenali Penyebab Demam Berdarah Dengue pada Anak No ratings yet.

Demam berdarah dengue (DBD) masih jadi masalah kesehatan masyarakat saat ini. Kasus DBD meningkat di berbagai daerah khususnya di wilayah DIY. Ini artinya, orang tua diharapkan dapat lebih waspada untuk dapat mengenali tanda dan gejala penyakit ini.

DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Infeksi virus ini dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut. Secara teoritis, seseorang dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, karena virus ini mempunyai empat serotipe.

Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi dan bersifat terus menerus, hal ini yang sering kali dikuatirkan orangtua karena demam sulit turun meskipun sudah diberikan penurun panas.

Fase ini biasanya berlangsung selama 3-5 hari yang disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, serta kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing).

Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual dan muntah sering ditemukan. Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan DBD maupun antara penyakit berat dan tidak berat.

Bila dicek di laboratorium, biasanya terlihat penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan jumlah trombosit dan nilai hematrokit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal.

Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4 sampai ke-6. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan kondisi perburukan sampai kematian. Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Mendadak Dingin

Pada fase ini, badan terutama pada ujung lengan dan kaki mendadak dingin dan terlihat lemas. Hal ini merupakan bentuk tanda syok. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit (kekentalan darah) yang nyata.

Fase ini terjadi pada saat tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal. Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan.

Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

Fase pemulihan berlangsung secara bertahap 24-48 jam setelah melalui fase kritis, biasanya terjadi pada hari ke-7. Keadaan umum dan nafsu makan mulai membaik, evaluasi laboratorium mulai terjadi perbaikan, hematokrit (kekentalan darah) mulai stabil dan jumlah trombosit mulai terjadi peningkatan secara bertahap. Pada beberapa pasien dapat ditemukan ruam (kemerahan) di tangan dan kaki yang akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan mengenali gejala-gejala tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami salah satu atau lebih dari gejala tersebut.

Pencegahan

DBD dapat dicegah dengan penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti-nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan jentik nyamuk di bak mandi, penyemprotan cairan insektisida (fogging), dan gerakan 3M (mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi). Pada prinsipnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh:
dr. Maria Rulina YA, M.Sc., Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Anak
Lantai 3 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Kusta / Lepra 4/5 (2)

Kusta atau lepra adalah suatu penyakit infeksi kronik menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae atau M.leprae, dan menyerang kulit, selaput lendir  serta syaraf tepi. Penanganan yang buruk pada kasus kusta dapat menyebabkan kusta menjadi progresif sehingga terjadi kerusakan permanen pada kulit, syaraf dan mata,yang dapat menyebabkan berbagai masalah kompleks, baik medis, psikologis, sosial dan budaya.

Penyakit kusta atau lepra diperkirakan sudah mulai dikenal sejak 300 tahun sebelum masehi dengan ditemukannya bukti-bukti dari peninggalan sejarah kuno Mesir, India, Tiongkok dan Mesopotamia serta tertulis dalam kitab-kita keagamaan, di mana penderita diasingkan atau mengasingkan diri. Di abad pertengahan dibangunlah tempat-tempat pengasingan penderita kusta atau lepra yang disebut Leprosaria. Hingga akhirnya, di jaman modern, Gerhard A. Hansen menemukan Mycobacterium leprae sebagai penyebab penyakit kusta atau lepra ini.

Gejala yang timbul pada penderita kusta atau lepra sangat bervariasi/ dapat menyerupai berbagai gangguan kulit yang lain. Gejala dan tanda yang utama adalah adanya bercak merah atau putih yang berkurang rasa/mati rasa. Bila terjadi kerusakan syaraf, akan menimbulkan mati rasa disertai dengan kelemahan otot. Komplikasi lebih lanjut meliputi gangguan di mata, tulang, otot dan jaringan lainnya, dengan deformitas (gangguan bentuk) dan disabilitas. Facies leonina/wajah singa terjadi karena terbentuknya banyak lipatan akibat dari infiltrasi/timbunan kuman pada kulit wajah.

Diagnosis penyakit kusta atau lepra, ditegakkan berdasarkan tanda kardinal :

  1. Gejala klinis yang khas (ujud kelainan kulit dan gangguan sensorik/mati rasa)
  2. Pembesaran syaraf
  3. Usap/kerokan kulit dengan temuan BTA (bakteri tahan asam) +

Cara penularan belum diketahui secara pasti. Berdasarkan asumsi klasik, yaitu kontak langsung antara kulit dan kulit atau melalui udara yang dihisap (inhalasi). Masa inkubasi berkisar 40 hari hingga 40 tahun, dengan rata-rata 2 – 5 tahun. Penyakit kusta atau lepra bukanlah penyakit keturunan.M. Leprae dapat ditemukan di kulit, akar rambut, kelenjar keringat dan ASI. Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya penyakit kusta adalah patogenesis kuman, cara penularan, kondisi sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang terkai dengan kerentanan, perubahan kekebalan tubuh dan kemungkinan reservoir di luar manusia (binatang armadillo).

Penyakit kusta atau lepra diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu :

  1. Pausibasiler (PB)

Didapatkan 2 – 5 bercak putih atau merah di kulit, asimetris, dengan hilang/mati rasa dan disertai kerusakan satu serabut syaraf.

  1. Multibasiler (MB)

Didapatkan lebih dari 5 bercak, penyebaran lebih simetris, disertai hilang/mati rasa dan disertai kerusakan banyak serabut syaraf.

Pengobatan pada penyakit kusta atau lepra disebut MDT (Multi Drug Therapy) atau kombinasi yang terdiri dari Rifampisin, Klofasimin dan Dapson, (telah tersedia dalam kemasan dosis per bulan) serta Ofloksasin atau Minoksiklin. MDT tersedia dalam 2 kemasan berbeda, sesuai golongan penyakit kusta, MB dan PB. Untuk kusta MB, penderita diharuskan minum 12 dosis dalam waktu 12 – 18 bulan, sedangkan untuk kusta PB, penderita diharuskan minum 6 dosis dalam waktu 6 – 9 bulan. Penderita dinyatakan sembuh, apabila sudah menyelesaikan jumlah dosis dalam waktu yang telah ditentukan berdasarkan golongan kustanya, meski pun masih ada gejala sisa.

Pada penyakit kusta atau lepra, dikenal suatu kondisi yang disebut sebagai reaksi. Reaksi lepra adalah suatu episode aktivitas penyakit yang meningkat secara mendadak, berupa hipersensitivitas akut terhadap antigen M. Leprae, oleh karena adanya gangguan pada keseimbangan imunologis/perubahan status imunitas penderita. Keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan syaraf dan kecacatan. Terdapat 2 macam reaksi lepra :

  1. Reaksi tipe 1 (reaksi reversal)
  • Bercak kulit memerah dan bengkak
  • Nyeri dan bengkak pada serabut syaraf
  • Tanda kerusakan syaraf : Mati rasa dan lemah otot
  • Demam dan malaise (lemah, letih, lesu)
  • Bengkak pada kaki & tangan
  1. Reaksi tipe 2 (eritema nodosum leprosum)
  • Benjolan-benjolan merah dan nyeri di kulit
  • Demam, nyeri sendi dan malaise
  • Terkadang disertai nyeri dan bengkak di serabut syaraf
  • Gangguan di mata

Gejala sisa atau kecacatan yang dapat timbul pada penyakit kusta atau lepra, meliputi kondisi impairment (kerusakan struktur dan fungsi psikologis, fisiologis dan anatomis), disability (keterbatasan untuk melakukan kegiatan sehari-hari) dan handicap (ketidakmampuan yang membatasi kehidupan dalam masyarakat dan pekerjaan). Kecacatan tersebut mengenai tangan atau kaki dalam bentuk mati rasa, dengan atau tanpa deformitas (gangguan bentuk) atau kerusakan, dan pada mata berupa gangguan penglihatan, peradangan, lagoftalmus, dsb.

Kusta atau lepra masih memiliki stigma negatif di masyarakat dan kalangan petugas kesehatan sendiri. Hal ini karena kurangnya pengetahuan atau pemahaman serta keyakinan yang salah tentang kusta dan cacat yang diakibatkan. Mari hapus stigma dan hilangkan diskriminasi pada penderita kusta. Kita dukung dan wujudkan Indonesia eliminasi Kusta di tahun 2021.

 

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh:
dr. Radijanti Anggraheni, Sp.KK
(Dokter Spesialis Kulit Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

Informasi Pelayanan : 
Klinik Kulit
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Nyeri Kepala No ratings yet.

Nyeri kepala adalah salah satu jenis nyeri yang sering dirasakan dan membuat seseorang mencari pertolongan medis atau pengobatan. Masyarakat menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk menyebut nyeri kepala, seperti: pening, pusing, cekot-cekot, kliyengan, dll. Deskripsi dari nyeri kepala yang dirasakan sangat penting untuk menegakkan diagnosis dan menentukan pengobatan karena setiap jenis nyeri kepala memiliki karakteristik dan pengobatan yang berbeda.

Jenis Nyeri Kepala

Secara garis besar, nyeri kepala dapat dibedakan menjadi nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. Nyeri kepala primer adalah jenis nyeri kepala yang lebih sering dijumpai. Nyeri kepala primer meliputi nyeri kepala tipe tegang/tension type headache, migraine, dan nyeri kepala tipe kluster. Karakteristik dari nyeri kepala tipe tegang adalah sensasi kencang atau tegang pada seluruh kepala, terkadang menjalar ke tengkuk, dan nyeri yang dialami tidak diperberat dengan aktivitas fisik. Nyeri kepala pada migraine sering kali terjadi pada satu sisi kepala, diperberat dengan aktivitas fisik, dapat disertai keluhan lain seperti mual, muntah, dan lebih sensitif terhadap cahaya atau suara (mudah merasa silau atau bising). Nyeri kepala tipe kluster muncul pada satu sisi di area sekeliling mata atau wajah dan dapat disertai keluhan lain seperti mata berair dan merah, kelopak mata bengkak, hidung tersumbat, atau wajah berkeringat. Derajat nyeri pada tipe kluster ini sering kali berat hingga sangat berat sehingga pasien akan tampak tampak kesakitan dan gelisah.Nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang muncul akibat adanya penyakit lain yang mendasari, seperti infeksi otak, tumor otak, perdarahan otak, sumbatan pembuluh darah otak (trombosis vena serebral), dan peradangan pembuluh darah arteri (temporal arteritis). Karakteristik nyeri kepala sekunder akan berbeda-beda, menyesuaikan dari penyakit yang mendasari.

Apakah Nyeri Kepala Berbahaya?

Pada umumnya, nyeri kepala tidak berbahaya dan dapat ditangani dengan mudah. Namun, ada beberapa tanda dan gejala yang menjadi red flags atau tanda bahaya pada nyeri kepala, yaitu: keluhan nyeri kepala yang amat hebat yang pernah dirasakan, nyeri kepala di pagi hari yang persisten dan disertai mual, nyeri kepala pada pasien dengan riwayat penurunan imunitas tubuh (infeksi HIV) atau dengan riwayat kanker, nyeri kepala progresif/semakin lama semakin memberat, nyeri kepala yang pertama kali dirasakan pada usia lanjut (>50 tahun), dan nyeri kepala yang disertai dengan gangguan fungsi saraf lain, contoh: kelemahan anggota gerak. Apabila seseorang mengalami nyeri kepala dengan tanda dan gejala seperti tersebut di atas, maka diperlukan pemeriksaan dan penanganan khusus.

Penanganan Nyeri Kepala

Nyeri kepala sering kali terjadi berulang. Apabila tidak ditangani dengan baik, nyeri kepala dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penanganan nyeri kepala berbeda-beda tergantung dari jenis nyeri kepala yang dialami. Penanganan ini meliputi penanganan dengan obat dan tanpa obat. Nyeri kepala tipe tegang dapat diatasi dengan pemberian obat golongan anti inflamasi non steroid seperti asam mefenamat, ibuprofen, dan ketoprofen. Relaksasi dengan meditasi, pijat, dan akupunktur juga dapat dilakukan untuk mengatasi sekaligus mencegah nyeri kepala tipe tegang. Pada serangan migraine akut, obat sumatriptan, ergotamin, dan anti inflamasi non steroid menjadi pilihan. Pemberian oksigen adalah salah satu hal yang harus diberikan pada nyeri kepala tipe kluster dengan ditambah dengan pemberian obat sumatriptan atau ergotamin. Penanganan nyeri kepala sekunder akan menyesuaikan dengan penyakit yang mendasari.

Nyeri kepala adalah hal yang dapat terjadi pada siapapun tanpa memandang usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan status sosial. Nyeri kepala, terutama pada nyeri kepala berulang atau nyeri kepala dengan red flags, memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kenali jenis nyeri kepala yang Anda alami. Diagnosis yang tepat akan membawa pada penanganan yang tepat.

Ingin mengetahui informasi ini lebih lanjut dapat mengunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

Ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating

Hipertiroidisme dan Manifetasi Klinisnya 5/5 (3)

Suatu ketika datang kepada saya seorang wanita muda usia 24 tahun dengan keluhan berat badan yang menurun hampir 4 kg dalam 1 bulan dan cepat capai disertai frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari tanpa diare. Pasien merasa bahwa dirinya terkena penyakit kencing manis, tetapi pada saat dilakukan pemeriksaan gula darah sesaat, ternyata hanya 95 mg/dL. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium akhirnya didapatkan diagnose pasien tersebut adalah penderita Hipertiroid dan dengan penanganan yang tepat, gejala yang dirasakannya membaik dan berat badan kembali normal.

Kondisi seperti pasien tersebut banyak didapatkan dalam praktek sehari-hari. Hipertiroid adalah istilah yang menggambarkan adanya produksi hormone tiroid yang berlebihan sehingga menimbulkan gejala klinis. Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar hormone yang terletak di leher, berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang dikenal sebagai Free T4 dan Free T3 atas stimulasi dari Tiroid Stimulating Hormone (TSH) dari kelenjar hipofise. Hormon tiroid bertanggung jawab atas berbagai metabolisme dalam tubuh. Apabila tubuh mengalami kelebihan hormone ini disebut hipertiroid dan bila kekurangan disebut hipotiroid.

Penderita dengan hipertiroid akan menunjukkan gejala-gejala penurunan berat badan, tidak tahan terhadap cuaca panas, rambut rontok, jantung berdebar-debar, sering buang air besar, dan tangan gemetar. Mata yang tampak menonjol (exopthalmus) juga sering ditemukan pada penyakit Graves’ . Kondisi seperti ini disebabkan tertimbunnya jaringan lemak di belakang bola mata yang akan mendorong mata keluar sehingga batas atas kornea tidak tertutup kelopak mata. Sekilas terlihat seperti orang yang sedang marah.  Untuk menegakkan diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kadar Free T4 dan TSHs.  Apabila didapatkan kadar Free T4 yang meningkat dan kadar TSHs yang rendah, maka disebut Hipertiroidisme. Peningkatan kadar free T4 tidak selalu berkorelasi dengan besar-kecilnya kelenjar tiroid. Penyebab hipertiroidisme ini antara lain karena penyakit Graves’ atau autoimun dan  peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis). Pembesaran kelenjar tiroid pada penyakit Graves’ umumnya bersifat difus atau merata dan teraba lunak. Pada tumor tiroid benjolan teraba keras, bahkan tidak disertai kelainan fungsi tiroid.

Kegawatan yang terjadi pada kondisi hipertiroid disebab Krisis tiroid atau badai tiroid. Kasus ini jarang dijumpai, bahkan pengalaman penulis selama menjalani tugas sebagai dokter penyakit dalam baru dua kasus yang dijumpai. Krisi tiroid terjadi akibat pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan, biasanya dipicu oleh infeksi berat, tindakan operasi atau manipulasi kelenjar tiroid yang berlebihan. Kondisi ini memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif dan pasien selalu disertai demam.

Penanganan hipertiroid dapat dilakukan dengan obat-obatan, iodium radioaktif atau pembedahan. Obat yang sering digunakan adalah Propil Thyouracil atau Metimazole yang bisa diberikan sampai jangka waktu yang lama. Monitoring kadar free T4 secara periodik diperlukan untuk mengevaluasi dosis obat yang diberikan. Apabila dengan dosis terkecil, kadar Free T4 berada pada kisaran normal, obat bisa diberhentikan dulu tetapi monitoring kadar Free T4 tetap dilakukan karena ada kalanya kondisi tersebut relaps (kambuh). Pengobatan dengan Iodium radioaktif masih sering dikhawatirkan oleh sebagian pasien. Pengobatan ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada prinsipnya hanya memberikan Iodium radioaktif dengan dosis kecil di mana radioaktif tersebut akan mematikan sel-sel kelenjar tiroid yang memproduksi hormon secara berlebihan. Efek samping yang mungkin timbul apabila semua sel-sel kelenjar tiroid tidak berfungsi, maka akan timbul kondisi Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid dan harus minum Levothyroxin seumur hidup. Pengobatan ini menjadi kompetensi dokter spesialis kedokteran nuklir. Operasi atau pembedahan pada dasarnya hanya untuk mengurangi volume atau besarnya kelenjar tiroid, jadi lebih bersifat kosmetik. Berbeda pada tumor ganas tiroid, pembedahan sifatnya harus dilakukan dan secara radikal atau total dan semua jaringan tiroid akan diambil beserta kelenjar getah bening di sekitarnya,  selanjutnya juga dilakukan pengobatan dengan iodium radioaktif untuk mematikan sel-sel ganas yang masih tersisa.

Hal yang terpenting bagi pasien hipertiroid apapun sebabnya, minum obat secara teratur dan monitoring kadar hormone tiroid secara berkala sangat diperlukan. Konsultasi dengan dokter yang menangani akan membantu keberhasilan terapi.

Ditulis oleh:
dr. FX. Suharnadi, SpPD-KEMD
(Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Endokrinologi Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Penyakit Dalam
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (3)

Mohon dapat memberikan rating

Lingkungan Sehat Rumah Sakit dengan Manajemen Limbah yang Baik No ratings yet.

Fasilitas publik dan penyedia layanan jasa publik, merupakan penunjang untuk kehidupan masyarakat sehari-hari. Tentu tempat-tempat publik tersebut juga menghasilkan limbah yang perlu dimanajemen agar tidak mencemari lingkungan. Begitu juga dengan rumah sakit. Limbah rumah sakit sendiri ada banyak jenisnya dan berbeda – beda pula cara manajemennya.

Apakah yang dimaksud dengan limbah rumah sakit? Banyak pengertian dari limbah rumah sakit, yakni: semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. Ada pula yang mendefinisikan limbah rumah sakit sebagai semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis. Limbah rumah sakit yang berasal dari medis terdiri dari: limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. Termasuk di dalamnya yakni limbah infeksius merupakan limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.

Tidak hanya yang dihasilkan dari kegiatan medis, dikenal pula limbah padat non medis yang merupakan limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. Penilaian limbah padat non medis dilakukan untuk memilah limbah padat non medis antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu pemilahan juga dilakukan untuk memilah antara limbah basah dan limbah kering

Limbah padat non medis juga memiliki kontainer atau wadah dengan kriteria – kriteria yang harus dipenuhi pula yang dimaksudkan agar limbah non medis tidak mencemari lingkungan sekitar. Kontainer limbah nonmedis terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan. Wadah juga harus memiliki minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan. Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 1 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang penganggu. Setelah diangkut dari wadah, selanjutnya, pengelolaan limbah padat non medis berlanjut dengan menaruh sampahdi penampungan limbah sementara menggunakan troli tertutup.

Penampungan limbah non medis berada di tempat penampungan sementara yang dipisahkan antara limbah yang masih dapat dimanfaatkan kembali dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Tempat penampungan tersebut harus memiliki syarat yakni tidak boleh menimbulkan bau yang tidak sedap, dan sebagai tempat wadah bersarangnya lalat, serta dilengkapi saluran untuk cairan lindi. Selain itu, tempat penampungan sementara harus kedap air, memiliki tutup yang baik, dan harus selalu tertutup bila sedang tidak diisi, sehingga memudahkan untuk dibersihkan. Lokasi penampungan limbah harus mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut limbah padat dan dikosongkan serta dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.

Manajemen pengelolaan limbah padat non-medis RS Panti Rapih ini  dibuang di TPA Piyungan, sedangkan untuk pegangkutannya, rumah sakit bekerjasama dengan pihak swasta. Proses pengangkutan dilakukan dengan menggunakan truck tertutup sehingga meminimalkan risiko potensial terhadap masyarakat dan lingkungan di daerah pemukiman. Proses pembuangan adalah open dumping dengan frekuensi pengangkutan setiap hari satu kali pengangkutan. Pelabelan dan warna tempat sampah di rumah sakit sudah disesuaikan dengan jenis limbah medis maupun non medis, akan tetapi pada prakteknya, masyarakat terkadang tidak mencermati hal – hal tersebut sehingga kadang ditemukan sampah – sampah yang salah letak atau tidak pada tempat seharusnya.  Berikut ini merupakan contoh jenis limbah umum yang salah letak di RS Panti Rapih: sisa makanan masuk ke tempat sampah medis, tissue masuk sampah medis, gelas air mineral masuk sampah medis, botol minuman masuk sampah medis/botol, kertas masuk sampah medis, kardus bungkus obat.

Tanggung jawab pengelolaan limbah rumah sakit memang menjadi tanggung jawab dari pihak rumah sakit, tetapi membantu dan mendukung hal tersebut merupakan kewajiban bersama para pengguna fasilitas kesehatan rumah sakit. Hal ini dimaksudkan agar tercipta lingkungan sehat di rumah sakit yang dapat menjadi pendukung kesehatan pasien dan kesehatan bersama.

 

disusun oleh:
Bayu Nuriyanto Aulady, AMKL
(Penanggung Jawab Fasilitas Lingkungan RS Panti Rapih Yk)

 

Mohon dapat memberikan rating

Kelumpuhan Mendadak pada Wajah 4/5 (2)

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang wajahnya tampak “tidak simetris” atau mengeluh sulit menggerakkan separuh wajahnya? Atau Anda sendiri pernah mengalaminya?  Sebagian besar orang akan mengira bahwa kondisi tersebut merupakan tanda dan gejala dari stroke. Pada kenyataannya, gangguan yang terjadi pada area wajah tersebut tidak selalu disebabkan oleh penyakit stroke, melainkan juga dapat disebabkan oleh suatu kondisi yang disebut sebagai Bell’s Palsy.

Apa Itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf tepi wajah yang terjadi pada satu sisi wajah dan timbul secara mendadak. Tanda dan gejala Bell’s Palsy meliputi: kelumpuhan otot pada satu sisi wajah, tidak mampu menutup kelopak mata pada satu sisi, kesemutan pada satu sisi wajah, mengeluarkan air mata berlebih pada satu sisi mata, perubahan sensasi pengecapan, nyeri pada satu sisi wajah, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan. Seseorang yang mengalami Bell’s Palsy dapat mengalami satu atau lebih tanda dan gejala tersebut. Penyebab pasti dari Bell’s Palsy tidak diketahui secara pasti (idiopatik), akan tetapi Bell’s Palsy lebih sering muncul pada usia dewasa, wanita hamil, menderita penyakit diabetes melitus, hipertensi, infeksi virus herpes, dan memiliki riwayat paparan suhu dingin.

Cara Membedakan Bell’s Palsy dengan Stroke

Bell’s Palsy sering disalah artikan sebagai stroke. Padahal Bell’s Palsy dan stroke memiliki penanganan yang sangat berbeda. Oleh karena itu, membedakan Bell’s Palsy dengan stroke adalah hal yang penting. Penderita Bell’s Palsy akan mengalami kelemahan pada separuh wajah, mulai dari wajah bagian atas hingga wajah bagian bawah (dahi hingga dagu). Sedangkan penderita stroke akan mengalami kelemahan pada separuh wajah bagian bawah saja. Pada pemeriksaan pasien Bell’s Palsy, lipatan/kerutan dahi dan lipatan tepi mulut akan menghilang. Pasien akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis pada satu sisi dan kesulitan tersenyum, sehingga menimbulkan kesan wajah yang tidak simetris.

Pada pasien stroke, lipatan/kerutan dahi tersebut masih dapat terlihat. Pasien stroke juga tidak akan kesulitan untuk menaikkan/menggerakkan alis. Kelemahan otot hanya akan tampak pada area mulut, sehingga menimbulkan kesan bibir perot. Pasien stroke juga akan mengalami keluhan lainnya seperti pandangan dobel, nyeri kepala atau pusing, gangguan keseimbangan, pelo saat berbicara, kesulitan menelan, tampak kebingungan, sulit berkomunikasi, kelemahan atau kesemutan satu sisi tubuh, atau bahkan mengalami penurunan kesadaran.

Kelumpuhan pada satu sisi wajah juga dapat terjadi pada beberapa penyakit lain seperti tumor saraf tepi, tumor otak, pelebaran pembuluh darah otak/aneurisma. Kelumpuhan wajah akibat penyakit tersebut biasanya terjadi secara perlahan dan semakin memberat seiring waktu. Hal tersebut berbeda dengan penyakit Bell’s Palsy yang terjadi secara mendadak. Penyakit-penyakit tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan atau MRI kepala.

Penanganan Bell’s Palsy

Bell’s Palsy biasa ditangani oleh dokter spesialis saraf. Penanganan Bell’s Palsy meliputi penanganan dengan menggunakan obat dan penanganan tanpa obat. Obat anti peradangan atau steroid, seperti prednison, menjadi pilihan utama dalam menangani Bell’s Palsy. Apabila terdapat infeksi virus herpes, maka pengobatan dapat dikombinasikan dengan obat anti virus seperti asiklovir. Obat tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter.

Perawatan mata adalah salah satu penanganan yang penting pada kasus Bell’s Palsy, karena sebagian besar penderita Bell’s Palsy sulit memejamkan mata pada satu sisi dan mengalami penurunan produksi air mata. Hal tersebut dapat memicu kekeringan bola mata dan memicu infeksi mata. Penggunaan tetes air mata buatan dan penggunaan balut mata/eye patch dapat menjadi pilihan untuk menurunkan risiko tersebut.

Apakah Bell’s Palsy Berbahaya?

Bell’s Palsy tidak berbahaya. Pada umumnya,  Bell’s Palsy akan cepat membaik dalam waktu beberapa hari apabila ditangani dengan baik. Jika Anda mengalami tanda dan gejala yang tersebut di atas, segera periksa ke dokter terdekat. Pemeriksaan dan pemberian tindakan segera oleh tenaga medis sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah keluhan yang Anda derita merupakan Bell’s Palsy atau disebabkan oleh penyakit lain.

Ingin mengetahui informasi ini dapat mengkunjungi Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

ditulis oleh:
dr. Rosa De Lima Renita Sanyasi
(Dokter Umum Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta)

 

Informasi Pelayanan : 
Klinik Saraf
Lantai 5 Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta

Pendaftaran :
Pendaftaran 24 Jam (0274) 514004 / 514006
Aplikasi PantiRapihKU (Play Store dan App Store)

Mohon dapat memberikan rating