RS Panti Rapih, sebuah rumah sakit yang didirikan oleh para Suster CB di Yogyakarta, memiliki sejarah panjang yang penuh dengan pengabdian dan dedikasi terhadap masyarakat Indonesia, terutama di masa-masa sulit menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia. Salah satu momen penting dalam sejarah rumah sakit ini adalah keterlibatannya dalam merawat Jenderal Soedirman, seorang tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia

Pemihakan RS Panti Rapih pada Republik Indonesia
Setelah kekalahan Jepang pada akhir Perang Dunia II, suasana politik di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Dua hari setelah Jepang menyerah, Republik Indonesia (RI) diproklamasikan. Semangat rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan mereka begitu membara, dan dalam perjuangan ini, semua lapisan masyarakat ikut terlibat, termasuk para Suster CB di RS Panti Rapih (RSPR). Meskipun awalnya tidak mudah, karena RSPR sebelumnya menerima bantuan dari orang-orang Katolik di Negeri Belanda, namun akhirnya RSPR memutuskan untuk memihak RI dan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pimpinan Gereja di Jawa Tengah, yang dipimpin oleh Mgr. A. Soegijapranata, SJ, secara terbuka menyatakan dukungan penuh kepada Republik Indonesia. Gereja melihat pentingnya kemerdekaan dan kebebasan tanah air Indonesia, dan dalam upaya ini, Gereja memutuskan untuk berpihak kepada RI. Sikap tegas ini mendorong umat Katolik, termasuk para Suster CB di RSPR, untuk segera melibatkan diri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Namun, dukungan ini tidak selalu mudah. Ada ketegangan di dalam RSPR, terutama di kalangan para Suster CB berkebangsaan Belanda yang merasa cemas dengan situasi politik yang sedang berubah. Mereka belum melihat sepenuhnya manfaat dari perubahan politik di Indonesia. Meskipun demikian, pimpinan Gereja yang sejak awal mendukung RI berhasil menanamkan pengaruh positif bagi kelanjutan pengabdian RSPR. Para Suster Belanda tetap melanjutkan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab dan cinta kasih, terutama kepada mereka yang menderita.

Hubungan RSPR dengan Pak Dirman
Pada tanggal 4 Januari 1946, ibu kota RI dipindahkan ke Yogyakarta, yang mempererat hubungan antara pemimpin RI dengan RSPR. Pada masa itu, Jenderal Soedirman, yang dikenal sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia, jatuh sakit parah. Beliau memutuskan untuk dirawat di RSPR, sebuah keputusan yang menandakan kepercayaan penuh kepada rumah sakit ini dan para pengurusnya.

Selama masa perawatannya, Soedirman sangat terkesan dengan dedikasi dan pelayanan penuh kasih dari para Suster dan staf medis di RSPR. Mereka tidak membeda-bedakan pasien berdasarkan latar belakang bangsa atau agama, sebuah sikap luhur yang semakin menambah keyakinan rakyat Indonesia terhadap RSPR. Bagi Soedirman, RSPR bukan hanya tempat untuk memulihkan kesehatan fisiknya, tetapi juga tempat di mana ia merasakan semangat persaudaraan dan kemanusiaan yang tulus.

Pada bulan Oktober 1948, kondisi kesehatan Jenderal Soedirman kembali memburuk, dan beliau harus menjalani perawatan di RSPR. Meskipun dalam situasi yang sulit, para dokter dan perawat di RSPR, dengan sumber daya yang sangat terbatas, berusaha memberikan perawatan terbaik. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Asikin yang sengaja didatangkan dari Jakarta, dipertimbangkan untuk melakukan usaha pengobatan dengan phycological surgery yang disebut frenicotomi, yaitu suatu operasi dengan pemotongan atau pelepasan nerves frenicus dari kedudukan dan fungsinya. Tindakan ini diambil untuk menyembuhkan penyakit TBC Pak Dirman agar penyakit tidak menjalar, maka paru-paru yang satu terpaksa dibuat tidak bekerja. Operasi dilakukan oleh dr. Picauly dengan dibantu oleh dr. Suwondo, dr. Kusen, dan dr. Sumatri.

Pada bulan November 1948, Pak Dirman kembali menjalani perawatan di RSPR. Beliau dirawat dengan baik oleh para dokter dan perawat, khususnya Sr. Benvenuto (seorang suster Belanda). Sebagai ucapan terimakasih kepada Sr. Benvenuto yang telah merawatnya, Panglima Besar Soedirman menghadiahkan sebuah sajakk yang dibuatnya sendiri tepat pada hari Pesta Perak membiara Sr. Benvenuto yaitu 11 November 1948. Sajak itu juga ditujukan untuk memperingati berdirinya RSPR yang pada tanggal 14 September 1948 tepat berusia 19 tahun. Sajak itu berbunyi sebagai berikut:

Rumah Nan Bahagia

Seperempat abad lamanya,
Tegak berdirinya hingga kini
Panti Rapih rumah nan bahagia
Naungan putra pertiwi

Orang sakit nan menderita
Gering tiba, sehatlah pergi
Berkat kegiatan usaha
Beserta kesucian hati

Selama tegak berdiri
Besar jasanya hingga kini
Seluruh pengurus pegawainya
Ikhlas serta jujur pekerti

Sambil baring aku berdoa
Tuhan Allah Yang Maha Suci
Limpahkanlah berkat kurnia
Atas rumah bahagia ini

Moga kiranya t'rus berjasa
Dulu, kini dan hari nanti
'tuk masyarakat Indonesia
Yang tetap Merdeka abadi

Yogyakarta, 11 November 1948
Orang Rawatan

Warisan RS Panti Rapih dalam Perjuangan Kemerdekaan
RS Panti Rapih menjadi salah satu pilar penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perannya dalam merawat Jenderal Soedirman selama masa-masa kritis dan dukungannya terhadap Republik Indonesia adalah bukti nyata dari komitmen rumah sakit ini terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kemerdekaan.

Puisi β€œRumah Nan Bahagia” yang ditulis oleh Soedirman menjadi simbol dari hubungan erat antara sang Jenderal dengan RSPR, sebuah hubungan yang didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepercayaan. Hingga hari ini, RS Panti Rapih tetap menjadi simbol dari semangat pengabdian tanpa pamrih, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Dengan keberpihakan yang jelas dan dedikasi yang tulus, RS Panti Rapih bukan hanya berperan sebagai tempat perawatan medis, tetapi juga sebagai benteng moral yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sikap dan tindakan yang ditunjukkan selama masa perjuangan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus memperjuangkan nilai-nilai yang sama dalam membangun bangsa yang merdeka, adil, dan bermartabat.

Sumber :
Dari Onder de Bogen ke Panti Rapih
14 September 1999

 

Rating untuk artikel/halaman ini : 5/5 (21)

Mohon dapat memberikan rating